Recent Posts

28 November, 2011

Kristen "Indomie"

"Dari Sabang sampai Merauke, dari Jakarta sampai ke Sydney, Indomie seleraku"

Memang tragis sekali, semasa kuliah saya menkonsumsi Indomie banyak sekali, dua hal yang menjadi alasan adalah dikarenakan lebih mudahnya mempersiapkan makanan tersebut dan tentu lebih murah juga dibandingkan dengan makanan-makanan yang lainnya.

Indomie adalah mie instant (siap saji), karena hanya diperlukan beberapa menit untuk memasaknya. Bukan hanya mie instant, sekarang dunia dipengaruhi dengan segala sesuatu yang bersifat instant, contohnya:

1. Menjahit instant dalam waktu 7 hari
2. Menguasai komputer instant dalam waktu 3 hari
3. Pandai dalam bahasa pemrograman instant dalam waktu 24 jam
4. Sale 50% - harga promosi sampai hari ini saja! Cepat Beli!
5. Pakai Sayuran yang di Frozen - Anda tidak perlu mempersiapkan lagi. Anda akan 'save' waktu.
6. Daftar ini dapat panjang sekali tapi karena saya "cepat-cepat" dan waktu saya sedikit saya berhenti di bagian ini...

Mentalitas serba instant sedikit banyak mempengaruhi kehidupan orang Kristen, salah satunya adalah menunggu pertolongan Tuhan, seringkali kita maunya serba cepat, sesuai dengan waktu kita. Jikalau kita meminta sesuatu, lalu tidak dikabulkan pada waktu tertentu, kita mulai menggerutu bahkan tidak sedikit yang sampai meninggalkan Tuhan.

Contoh yang lain dalam hal mengenal Tuhan, kita maunya dengan instant, seperti ikut KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani), lalu berharap setelah pulang dari kebaktian tersebut kita langsung mengerti tentang siapakah Dia tanpa mau benar-benar menggali lebih dalam lagi Firman Tuhan di hari-hari berikutnya. Bahkan yang lebih ironis adalah banyak dari kita yang datang ke gereja dan berharap ketika kita "dijamah" Roh Kudus, kita langsung dirubah tanpa mau melakukan beratnya Disiplin Rohani.

Selain daripada kehidupan orang Kristen yang pribadi, gerejapun banyak yang terjebak dalam hal ini. Banyak gereja yang  hanya untuk menambah jumlah kehadiran, mereka mulai membuat segala sesuatu yang dengan instant dapat menjangkau orang, tanpa memikirkan strategi-strategi, bahan-bahan pengajaran yang mungkin lebih membutuhkan waktu untuk mempersiapkannya tetapi lebih berguna untuk pertumbuhan iman orang-orang yang akan dijangkau ataupun yang sudah dijangkau.

Jangan miliki mentalitas Indomie yang mau segala sesuatu dengan mudah dan cepat tanpa ada harga yang harus dibayar dan salib yang dipikul. Jangan berjalan di jalan yang lebar yang mungkin kita berpikir dengan instant dapat membawa kita kepada kehidupan ternyata berakhir kepada kebinasaan. Mari berjalan di jalan yang sesak yang menuju kepada kehidupan, walaupun tidak instant, walaupun membutuhkan waktu, membutuhkan energi, membutuhkan pikiran, membutuhkan harga yang harus dibayar, membutuhkan segala sesuatu yang harus kita "korbankan", membutuhkan seluruh keberadaan kita untuk Kristus.

14 November, 2011

Melakukan 'kehendak Bapa' tetapi tidak masuk Sorga

Matius 7:21-23 
21. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku:Tuhan, Tuhan! akan masuk Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

22. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?

23. Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!


Beberapa orang 'Kristen' percaya bahwa pengakuan secara mulut sudah cukup membuat kita masuk sorga tanpa ada satu kerinduan untuk melakukan kehendak Bapa di sorga. Di perikop injil Matius sangat jelas bahwa pengakuan kita tentang Tuhan tidak menjadi jaminan kita akan masuk sorga.

Namun bagaimana dengan ayat yang ke-22, bukankah mereka seolah-olah melakukan kehendak Bapa di sorga dengan bernubuat, mengusir setan, serta mengadakan mujizat? Ternyata hal-hal seperti itu pun tidak menjamin kita akan masuk sorga, karena bukan dari berapa banyak nubuatan yang kita lakukan demi nama Tuhan, bukan dari berapa banyak setan yang kita usir demi nama Tuhan, serta bukan dari berapa banyak mujizat yang kita lakukan demi nama Tuhan yang akan membuat kita masuk ke dalam kerajaan sorga.

Kita bisa dengan rajin melakukan kegiatan rohani, melayani Tuhan dengan giat, seolah-olah kita sedang melakukan kehendak Bapa di sorga, di hadapan manusia kita bisa kelihatan suci, tetapi di hadapan Tuhan terbukalah segala motivasi jahat yang mungkin mendasari pekerjaan Tuhan yang selama ini kita giat melakukannya.

Mungkin orang lain tidak tahu, atau kita pun seringkali terjebak dan menjadi tidak tahu, tetapi Tuhan tahu apa yang menjadi motivasi terdalam di relung hati manusia - mari periksalah hati kita kembali apakah kita melayani Tuhan hanya untuk diri kita atau melakukan kehendak Bapa di sorga?

Kalau kita tanya kepada hati kita masing-masing siapakah yang mejadi tujuan akhir, apakah diri kita atau Tuhan? Apakah kita diselamatkan hanya supaya kita lepas dari panasnya api neraka? Apakah itu yang mejadi satu-satunya tujuan kita diselamatkan? Hanya untuk kenyamanan diri sendiri? Atau supaya semakin kemuliaan Tuhan terpancar melalui hidup kita yang sudah diselamatkan, dengan melakukan pekerjaan yang baik yang sudah Tuhan sediakan bagi kita, sebagai bukti kita diselamatkan?

08 November, 2011

Iman dan Perbuatan adalah mati

Tentu kita sudah pernah mendengar atau membaca bahwa iman yang tidak disertai dengan perbuatan adalah mati pada hakekatnya. Hal ini memang diterangkan oleh Yakobus karena beberapa orang menganggap mereka mempunyai iman, tetapi ternyata iman tersebut tidak disertai oleh perbuatan, menjadi nyata bahwa hal tersebut bukanlah iman, karena jikalau memang itu adalah iman tentu akan disertai oleh perbuatan, sebagai bukti bahwa iman itu pada hakekatnya adalah hidup.

Perbuatan yang kita lakukan bukanlah yang akan menyelamatkan kita, tetapi melalui imanlah kepada Yesus Kristus kita diselamatkan, tetapi bukan berarti perbuatan itu tidak penting, kembali kepada argumen pertama kalau kita tidak peduli terhadap perbuatan kita, tentu sudah menjadi nyata bahwa kita tidak mempunyai iman.

Bagaimana dengan iman dan perbuatan? Jika kita percaya iman dan perbuatanlah yang menyelamatkan kita, tentu hal keselamatan bukanlah didasarkan oleh kasih karunia lagi, karena kasih karunia adalah sesuatu yang secara cuma-cuma diberikan kepada kita, bahkan ketika kita menerima kasih karunia tersebut itu adalah kasih karunia.

Manusia bisa mempunyai perbuatan, tetapi tidak beriman, tetapi mustahil jikalau kita mempunyai iman tetapi tidak mempunyai perbuatan, namun perbuatan oleh karena iman tersebut bukanlah hasil yang kita lakukan, supaya kita tidak memegahkan diri.

Jikalau kita percaya iman dan perbuatan; artinya bahwa iman tidak cukup untuk keselamatan harus ditambah dengan perbuatan juga, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati, karena iman tersebut bukanlah iman, seolah-olah kekuatan iman itu ditentukan oleh perbuatan kita, bahwa tidak cukup hanya beriman, kita harus sertai juga dengan perbuatan kita supaya iman itu menjadi efektif.

Iman yang sejati pastilah iman yang akan menghasilkan perbuatan bukan perbuatan yang menghasilkan iman tersebut. Yakobus dan Paulus tidak berkontradiksi dalam hal ini.

Yakobus 2:17
Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.

Efesus 2:8-9
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu jangan ada orang yang memegahkan diri.

Roma 11:6
Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia. 
When we gain everything except Him, that is never enough.

03 November, 2011

God answered my prayer even the one that I forgot I had already prayed before.

02 November, 2011

We want everything to be instant, but in the end of the days anything instant will not have a quality.
I'm not a cat. I'm just a human. I only have one life. To waste it or not to waste it. That is the question.

01 November, 2011

Designers: Don't judge the book by its cover. Judge by its paper and the typeface.