Recent Posts

Showing posts with label my writings. Show all posts
Showing posts with label my writings. Show all posts

29 July, 2012

Makanan Jasmani VS Makanan Rohani


Beberapa bulan ini saya diberikan kesempatan berteman dengan seseorang yang bersekolah mengenai nutrisi makanan. Sehingga kerap kali percakapan yang dibicarakan adalah  mengenai nutrisi sebuah makanan serta implikasinya dalam kesehatan tubuh kita jikalau kita mengkonsumsikannya.

Adapun melalui percakapan-percakapan yang diperbincangkan, saya menarik kesimpulan bahwa makanan yang sehat hampir rata-rata tidaklah terasa enak di lidah kita, karena kita sudah terbiasa dengan makanan-makanan yang tidak sehat. Kita sudah terbiasa mengkonsumsi makanan yang mungkin akan membahayakan kesehatan tubuh kita baik dalam rentang waktu yang dekat maupun yang jauh.

Demikian dengan halnya makanan rohani, seringkali mungkin kita sudah terbiasa dengan makanan-makanan rohani yang kurang sehat, dalam hal ini pengajaran yang tidak sehat namun terasa manis di mulut hati kita. Makanan-makanan tersebut ketika disajikan memang membuat kita tertawa tetapi kita tidak menyadari bahwa sebenarnya kita sedang dibawa ke dalam suatu penyesatan melalui makanan-makanan tersebut.

Memang bukan berarti semua makanan rohani yang membuat kita tertawa adalah makanan yang tidak sehat. Intinya adalah janganlah makan makanan rohani yang hanya terasa enak di telinga dan di hati, kalau makanan rohani tersebut tidak enak maka kita tidak mau memakannya, padahal kita menyadari bahwa justru makanan-makanan yang "tidak enak" itulah makanan rohani yang sehat.

Namun hal ini juga menjadi tantangan bagi hamba Tuhan yang menyajikan makanan rohani tersebut, bagaimana dengan tetap setia dalam menyajikan makanan rohani yang sehat dengan cara-cara penyajian yang "menarik". Selain daripada itu jemaat sebagai pendengar juga harus belajar untuk memakan makanan rohani yang bukan hanya enak di dengar tetapi yang tidak enak di dengar juga, yang terpenting adalah apakah makanan rohani itu mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik kita di dalam kebenaran.

23 June, 2012

Hamba Tuhan juga manusia

Kerap kali kita menganggap Hamba Tuhan sebagai seseorang yang patut memberi contoh, seseorang yang "lebih rohani" dibandingkan dengan orang-orang Kristen pada umumnya. Sehingga tidak jarang Hamba Tuhan selalu dituntut mengenai perbuatan moralitasnya, dia harus baik, harus pengertian, harus dapat mengasihi jemaat, harus dapat hidup sesuai dengan Firman Tuhan, tidak curang, dan masih banyak hal yang lainnya yang tidak akan cukup kalau saya paparkan di sini.

Memang baik ketika kita meninjau "hal-hal moralitas" dalam kehidupan seorang Hamba Tuhan. Namun kalau kita tidak hati-hati kita akan jatuh ke dalam dosa legalisme yang hanya menitikberatkan kepada perbuatan semata-mata. Hamba Tuhan masih seorang manusia, dia masih seorang yang bergumul dengan dosanya.

Kita akan merasa kecewa kalau kita terlalu menganggap hamba Tuhan adalah "tuhan" ataupun "penyelamat" di dalam hidup kita, apalagi setelah melihat "sisi jelek" hamba Tuhan tersebut, bisa-bisa kita akan meninggalkan apa yang kita percaya, atau mungkin sebelumnya kita memang belum percaya, yang ada hanyalah "percaya yang semu". Karena kita terlalu melihat kepada moralitas ketimbang melihat karya Kristus di dalam hidup kita dan di dalam hidup Hamba Tuhan tersebut.

"Hamba Tuhan harus pakai software yang asli, jangan pakai software yang bajakan" salah satu contoh pernyataan dari seorang Kristen. Memang tidak salah dengan pernyataan tersebut, tetapi apakah hanya Hamba Tuhan yang harus memakai software asli? Bagaimana dengan orang Kristen biasa, jadi apakah orang Kristen biasa boleh pake software bajakan?

"Hamba Tuhan harus rendah hati" Betul! Tetapi apakah hanya hamba Tuhan yang harus rendah hati, kalau kita Kristen yang "biasa-biasa" saja tidak apa-apa kalau kita tidak rendah hati.

Tetapi di lain pihak hamba Tuhan yang tidak mau ditegur akan dosanya akan berkata "Hamba Tuhan kan juga manusia jadi bisa satu ke dalam dosa". Sehingga sebutan "hanya seorang manusia" dipakai untuk melegalkan segala dosa yang kita lakukan.

Memang hamba Tuhan tetaplah manusia yang masih terus berjuang dengan dosanya sendiri, tapi kita juga tetap bisa menghormati mereka namun tidak di atas kebenaran Firman Tuhan itu sendiri.

14 May, 2012

Hidup di masa lalu

Di dunia serba digital ini, segala perlengkapan electronik membutuhkan memori yang cukup besar khususnya jika kita berurusan dengan data-data seperti video, 3D games ataupun yang lainnya. Contoh  barang elektronik seperti iPhone, kapasitas ber-giga-giga ditawarkan oleh perusahan Apple kepada konsumen yang membutuhkannya, namun kerap kali kalaupun kita tidak terlalu membutuhkannya kita tetap selalu ingin memori yang paling tinggi.

Memori adalah tempat menyimpan data-data kita, memori mempunyai kapasitas tertentu, kalau kita meng-install aplikasi-aplikasi yang banyak dan cukup besar maka kemungkinan kita kekurangan memori akan sangat mungkin sekali.

Setiap bulan saya memeriksa iPhone saya, ternyata banyak aplikasi-aplikasi yang saya install tapi tidak pernah digunakan sehingga itu membuat kapasitas memori di iPhone saya berkurang, akhirnya saya berinisiatif untuk membuang aplikasi-aplikasi tersebut, tetapi aplikasi-aplikasi yang saya sudah hapus dari iPhone saya, masih ada membekas di iTunes store saya, sehingga di kemudian hari saya masih dapat mengaksesnya kembali.

Demikian dengan halnya masa lalu, masa lalu tidak akan pernah hilang bukan? Tetapi pertanyaannya sudahkah Anda menghapus masa lalu tersebut di hidup sehari-hari Anda, atau mungkin Anda masih membiarkan masa lalu tersebut menghidupi keseharian Anda, sehingga kapasitas pikiran Anda seringkali "berkurang" karena adanya hal-hal yang sebenarnya sudah tidak penting lagi dan tidak relevan dengan hidup Anda sekarang.

Apakah Anda masih hidup di masa lalu atau masa lalu itu telah menghidupkan Anda untuk menjadi orang yang lebih baik lagi?

02 May, 2012

God is not like an apple buyer

Last week I had a chance to do some shopping at Coles just because my sister has gone for 5 weeks holiday, kinda miss her though. I bought some apples, interestingly as normal person would do when they buy apples, they would basically pick and choose which apple is better than the other one.

I arrived at home, I was going to have a perfect looking apple, only then did I realise there was a  black spot underneath the label. I think God is like that, we as human is trying to hide our deficiencies by doing some good deeds, anything...you name them, we want to feel good because we are doing the right thing, hoping there won't be any convictions in our heart about bad stuff that we've done. But God sees underneath our skin, he sees right into the deepest of our heart. The issue is buried under our heart. That's what we call sin, sin isn't always about doing bad things, you can do the good and righteous things but before Him are still like a filthy rags.


I'm thanking God, he is not like an apple buyer, he didn't "choose" me because I'm good or perfect, he chose me just because he chose me. Can I try to be good so he can choose me based on my performance? No! He chose me because he has the right to choose on whom he would choose. He will have mercy on whom he will have mercy.

Is it my will then? Well if I can't really choose him, how can I have a will to choose him at the first place? The question is not whether I have my will or not, but whether why I will what I will?


22 April, 2012

Memberi atau Mengembalikan?

"Mari kita memberikan persembahan kita kepada Tuhan", kalimat seperti ini sering dilontarkan oleh seorang pemimpin pujian ketika kita sedang beribadah bersama-sama pada saat menjalankan persembahan, memang mungkin pemimpin pujian tersebut yang secara tidak sengaja dan tidak bermaksud lain, secara tulus mengucapkan kata-kata seperti tersebut, dan memang tidak terlalu menjadi hal penting yang perlu dibicarakan. Tetapi kalau kita bisa lebih berkata-kata lebih baik lagi, mengapa tidak?


Mari kita berpikir, persembahan itu punya siapa? Uang yang kita taruh di kantong kolekte? Punya kitakah? Atau memang uang-uang tersebut punya Tuhan? Tuhan yang memberikan kepada kita, masa kita memberikan kepada Tuhan?


Bagaimana dengan "Mari kita mengembalikan sebagian yang menjadi milik Tuhan"? Hmm...apakah ada bagian-bagian tertentu yang menjadi milik Tuhan dan bagian-bagian tertentu yang menjadi milik kita? Tentu kita percaya semua yang kita punya adalah milik Tuhan semata-mata.


Nah, saya mengusulkan untuk pemimpin pujian dengan kalimat seperti ini "Mari kita mengembalikan sebagian kecil dari milik Tuhan yang dipercayakan kepada kita"


11 April, 2012

Why I became a Christian

#Christ2012

I was born in the Confucian family, it is not an official religion that exists in Indonesia, so our family is often considered ourselves as Buddhist on the paper.

When I went go to primary public school, there was no Buddhist religion, only Christianity and Islam. I did try both religions, although I can hardly remember why I "chose" Christianity over Islam at that time. Having a religion is a must in our country, so in order to graduate you must have a good grade in religion class.

I was really active in the church, serving God, and doing ministry diligently just for the sake of getting a good grade in the school. I thought I didn't do too many bad things in my life, that's why I deserve God's grace, I thought I can earn God's favour by doing good deeds, only then to realise that I will never be perfect before Him, but through the atonement of Christ on the cross, from which my turning point to believe in Christ wholeheartedly, not by my will but because by the Amazing Grace of God - I was blind but now I see.

07 April, 2012

Heteroseksual dan masuk surga?

Saya ingat pertama kali teman saya yang bukan orang percaya bertanya kepada saya, "Kamu Kristen?" dan kemudian dia membuat pernyataan, "Saya benci kepada orang Kristen yang extrimis dengan menghakimi orang-orang homoseksual masuk ke neraka", dengan sedikit tersenyum saya menjawabnya "Kita bisa berbuat baik, tiap hari berdoa, tiap minggu ke gereja dan pelayanan tetapi tetap masuk ke neraka"

Memang dosa homoseksual tersebut kelihatannya lebih "besar" dibanding dosa-dosa yang lainnya, tetapi bukan karena kita tidak melakukan dosa tersebut sehingga kita masuk ke surga, secara gamblang saya mengatakan "Kita masuk ke surga bukan karena kita seorang yang heteroseksual"

Kerapkali kita "menghakimi" lebih daripada Tuhan menghakimi manusia dan kita mengampuni tidak sebanyak Tuhan mengampuni orang berdosa. Kita kadang-kadang terjebak di dalam pemikiran bahwa dosa saya lebih sedikit, atau saya lebih baik secara moral daripada orang-orang tersebut. Tanpa menyadari sebenarnya tidak ada perbedaan dosa kecil dan dosa besar, pada esensinya, dosa itu sama.

Bahkan dalam suratan Paulus untuk jemaat Korintus, Paulus menempatkan dosa banci dan pemburit bersama dengan dosa kikir, penipu (1 Korintus 6:9-10). Coba ingat kapan terakhir kali kita kikir? Kapan terakhir kali kita menipu?

Mari di Jumat Agung tahun ini kita mengingat kembali, bahwa kita diselamatkan semata-mata oleh karena pengorbanan Kristus di atas kayu salib, bukan karena usaha kita, sedikitpun perbuatan baik moral kita tidak menambahi upaya Kristus menyelamatkan kita, dan sebanyak apapun perbuatan dosa kita, Kristus tetap mampu untuk menyelamatkan kita.

Untuk itulah Injil bukan hanya untuk orang homoseksual tetapi untuk orang heteroseksual juga, Injil bukanlah hanya untuk orang yang belum percaya tetapi juga untuk orang yang sudah percaya, Injil harus terus berkumandang di hati kita, agar kita tidak akan pernah dapat menyombongkan diri di hadapan Tuhan kita, Yesus Kristus.

01 April, 2012

Sama-sama makan nasi

Pernahkah Anda mendengar pernyataan seperti ini "Selama orang itu makan nasi dan saya juga, maka saya juga bisa melakukan apa yang dia lakukan", karena hal tersebut akhirnya kita juga bisa jatuh ke jebakan: Selama kita makan nasi dan orang lain juga, orang lain juga dapat sama seperti kita, melakukan apa yang bisa kita lakukan.

Seringkali dalam hal berkomunitas di dalam sebuah gereja hal ini dapat terjadi juga, ketika si A melayani lebih dari si B, maka A bisa jatuh ke jebakan merasa lebih "hebat" dari si B, karena dia bisa melakukan apa yang si B tidak bisa ataupun tidak mau lakukan, dengan pandangan si B itu malas, tidak mau melakukan, tidak berusaha atau kurang rohani, tanpa ingin mengetahui lebih jauh lagi tentang kapasitas si B yang berbeda dengan si A.

Dan sudah tentu kita tidak bisa menilai kerohanian seseorang dari banyaknya pelayanan yang mereka lakukan di dalam gereja khususnya. Dan setiap orang mempunyai kapasitas yang berbeda, bukan karena ada orang-orang tertentu tidak bisa melakukan seperti apa yang kita lakukan berarti kita bisa men-cap mereka adalah yang kurang rohani.

Mari yang melayani agak "kurang" karena keterbatasan kapasitas talenta dalam melayani, mengucap syukurlah dan tetaplah setia melayani Tuhan seberapa banyakpun yang Tuhan percayakan di dalam hidup kita, dan jangan rendah diri.

Mari yang melayani agak "banyak" karena banyaknya  kapasitas talenta dalam melayani, ingatlah bahwa segala sesuatu adalah pemberian Tuhan, siapakah kita ini, hamba yang tidak berguna. Janganlah sekali-kali menyombongkan diri.

25 March, 2012

Jemaat Banyak = Pertumbuhan Gereja?

Tidak sedikit dari kita yang selalu menilai pertumbuhan gereja melalui meningkatnya orang yang hadir setiap minggunya untuk beribadah di gereja, jemaat yang hadir di pendalaman Alkitab, di persekutuan doa, banyaknya kelompok sel yang ada, segala sesuatu dinilai dari "angka", entah itu jumlah orang yang hadir bahkan sampai jumlah persembahan yang diterima oleh sebuah gereja.

Dengan demikian banyak juga kita sering terjebak dalam "meningkatkan" jumlah orang yang hadir gereja dengan cara-cara yang menurut kita dapat berhasil meningkatkan jumlah tersebut.  Baik dari segi musik, segi komunitas maupun segi-segi lain yang kita anggap dapat lebih cepat untuk "menarik" orang-orang baru memenuhi ke gereja. Tanpa peduli apakah orang-orang tersebut sudah mempunyai tempat ibadah atau belum, atau sudah percaya atau tidak percaya

Seringkali kita "merekayasa" dengan cara mengiming-imingkan bagusnya gereja kita, baik secara langsung maupun tidak langsung.

"Ayo ke gereja saya saja, orangnya ramah-ramah"
"Ayo ke gereja saya saja, orangnya banyak yang cakep-cakep"
"Ayo ke gereja saya saja, musiknya keren banget loh"
"Ayo ke gereja saya saja, Firman Tuhannya benar-benar dahsyat"
"Ayo ke gereja saya saja, Hamba Tuhannya diurapi"

"Ayo ke gereja saya saja, ada makanannya habis selesai ibadah"
"Ayo ke gereja saya saja, kursinya empuk enak kalau buat dengar khotbah"
"Ayo ke gereja saya saja, ada kelas fotografi, kelas bahasa inggris, kelas-kelas lain"

Masih banyak lagi contoh-contoh seperti di atas. Kita merasa dengan kita melakukan A sampai Z, maka secara otomatis jumlah itu akan bertambah, tidak peduli apakah bertambah itu benar-benar bertambah orang-orang yang tadinya bukan orang Kristen ataupun orang yang hanya berpindah dari satu gereja ke gereja yang lain.

Sistem dan metode pun diterapkan dengan harapan untuk meningkatkan jumlah orang yang hadir dalam sebuah gereja yang menjadi satu bukti apakah gereja itu bertumbuh atau tidak. Definisi pertumbuhan gereja pun sudah menjadi rancu, karena hanya terbatas di dalam kuantitas yang hadir tanpa melihat faktor-faktor lain yang mungkin menjadi salah satu indikasi pertumbuhan gereja tersebut.

Sistem dan metode tersebut tidak sedikit ditiru dari gereja-gereja yang sudah banyak kuantitas jemaatnya, jika gereja besar, katakan Gereja A, bertambah 10% setiap tahunnya dalam hal jumlah orang yang hadir karena mereka melakukan Program B, maka gereja C mulai dan mempelajari serta menerapkan Program B dengan satu harapan akan berhasil di gereja C, sedangkan kita tahu pada kenyataannya tidak selalu hasilnya sama, karena hasil kembali hanya dari Tuhan saja yang memberikan, tidak ada yang mutlak dalam hal sistem dan metode tersebut, walaupun tidak berarti kita tidak usah memikirkan sistem dan metode.

Jadi bagaimana menilai pertumbuhan gereja? Apakah semata-mata hanya melalui kuantitas saja? Jika kuantitas apakah hanya kuantitas orang-orang Kristen yang baru percaya atau dicampur-adukkan dengan orang-orang Kristen pindahan gereja lain?

17 March, 2012

Menunggu tetapi pasti

Hari Jumat 16 Maret 2012, jam 6 pagi saya ikutan dalam mengantri di Apple Store untuk membeli iPad yang baru. Setiba saya di sana mungkin sudah sekitar 100 orang berkumpul untuk membeli iPad yang baru.

Walaupun toko dibuka pada jam 8 pagi, tetapi barisan antrian tidak maju-maju, sampai sekitar 10 - 15 menit baru maju. Sampai sekitar 8.30 saya masih belum masuk ke dalam Apple Store, jadi saya memutuskan memberikan Kartu Stock saya kepada teman saya, dan saya langsung berangkat ke kantor.

Kartu stock ini dibagikan sebelumnya, untuk memberitahu Apple, jenis iPad apa yang ingin kita ambil, setelah kartu stock itu habis berarti tidak ada iPad yang tersedia lagi. Semua orang yang mengantri tetap sabar dan percaya kalau mereka sudah mempunyai kartu stock itu maka mereka akan mendapatkan iPad yang baru, dan juga karena reputasi Apple dari kejadian-kejadian masa lampau di mana Apple selalu menepati janjinya.

Demikian dengan perjalanan kekristenan kita, seringkali kita menunggu dan menunggu pertolongan Tuhan, tetapi kita tidak pernah tahu kapan kita akan menerima pertolongan itu. Tetapi kita tahu Tuhan akan menolong kita tepat pada waktunya, karena Dia sudah pernah menolong kita di masa yang lampau, bahkan karena Dia sudah pernah mati untuk kita sebelum kita lahir.

Dia Allah yang tidak pernah lalai dan Dia Allah yang selalu menepati janjiNya bagi kita umatNya. Menunggulah terus dan lihatlah karya Tuhan di dalam hidupmu.

14 March, 2012

TUHAN yang memberi dan mengambil

Manusia memang tidak pernah puas, kita terus harus bergumul untuk hal ini. Jangan sampai kita tidak mengucap syukur atas apa yang Tuhan sudah berikan dalam hidup kita. Walaupun kita sudah puas pun, kita tetap harus mengingat bahwa apa yang kita miliki hanyalah titipan Tuhan dalam kehidupan kita, tidak sepatutnya kita membanggakan diri.

Pergumulan di dalam dunia berkisar antara 2 hal:

1. Sesuatu yang belum kita miliki tetapi kita ingin sekali memilikinya hanya untuk memuaskan diri kita sendiri.
2. Sesuatu yang sudah kita miliki dan menganggapnya sebagai hasil kerja keras kita semata-mata sehingga kita menjadi sombong.


For all that is in the world—the desires of the flesh and the desires of the eyes and pride in possessions—is not from the Father but is from the world.
1 John 2:16 ESV

Biarlah kita belajar dari Ayub yang mengatakan dengan telanjang aku keluar dari rahim ibuku, dengan telanjang juga aku kembali. TUHAN yang memberi dan TUHAN yang mengambil. Jikalau kita belum menerima apa yang kita belum miliki baiklah kita percaya TUHAN yang memberikan pada waktunya (ataupun tidak), dan biarlah ketika kita memiliki sesuatu ingatlah bahwa satu saat TUHAN akan "mengambilnya".

And he said, “Naked I came from my mother’s womb, and naked shall I return. The LORD gave, and the LORD has taken away; blessed be the name of the LORD.”
Job 1:21

05 March, 2012

Displin oh...Disiplin

Saya belum pernah menyelesaikan pembacaan Alkitab secara keseluruhan. Salah satu resolusi tahun ini adalah menyelesaikannya. Saya meng-install aplikasi YouVersion di iPhone saya, aplikasi tersebut mempunyai fitur untuk membaca Alkitab selama setahun dengan reminder setiap harinya kalau-kalau saya lupa ataupun sedang “malas”.

Saya sudah memasuki hari ke 58. Namun sudah sekitar 3 hari saya terlambat karena tidak membacanya, disebabkan oleh kesibukan-kesibukan di dalam pekerjaan, pelayanan, sekolah. Saya mulai “membenarkan diri” melalui hal-hal tersebut, seraya berkata “Ah tidak apa-apa, nanti saya kejar”, yang menjadi hal yang terpenting adalah bukan hanya untuk menyelesaikan pembacaan tersebut, tetapi displin, saya harus lebih belajar mendisplinkan diri dalam mengikuti jadual yang telah ditentukan.

Kerapkali saya jatuh di dalam jebakan sesuatu hal yang penting tidak saya kerjakan atau saya tunda, sedangkan hal yang kurang penting malahan saya kerjakan lebih dahulu. Selain daripada itu seringkali membaca Alkitab di iPhone lebih sulit dibandingkan membaca di Alkitab biasa karena keinginan untuk bermain games, menjelajah situs, melihat facebook lebih tinggi ketika iPhone di depan mata.

Tuhan tolong beri kekuatan untuk saya mendisiplinkan diri.

28 February, 2012

Mencari tempat ibadah

Alasan-alasan dalam hal pencarian tempat beribadah zaman ini semakin memburuk, hal-hal yang tidak terlalu penting di dipenting-pentingkan, sedangkan hal yang sangat penting sekali dikesampingkan. Muncul satu fenomena di mana mencari tempat ibadah yang penting banyak orangnya, komunitas yang baik, yang musiknya bagus, yang pelayanan dari pendetanya memuaskan kita.

Banyak dari kita jatuh ke dalam jebakan gereja adalah sebuah produk dan kita adalah konsumer, selama kita puas dengan produk tersebut kita akan terus di dalam produk tersebut, ketika sudah tidak puas maka kita mencari produk yang baru – gereja dalam hal ini.

Gereja pun bisa jatuh ke jebakan, untuk meningkatkan jumlah jemaat, maka apapun dapat dilakukan untuk mencapai hal tersebut, bahkan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan tetapi dikompromikan hanya untuk membuat orang lebih tertarik akan apa yang gereja dapat sajikan untuk mereka.

Latar belakang teologia pendeta tidak menjadi hal yang penting, apakah gereja mengajarkan Firman Tuhan secara alkitabiah pun sudah bukan menjadi hal yang utama dalam hal memilih gereja. Kerap kali akhirnya orang-orang yang datang hanya untuk satu kepuasan untuk dirinya sendiri tidak pernah menyelidiki Firman Tuhan seperti orang-orang di Berea. Mereka hanya percaya dengan apa yang dikatakan pendeta di gereja tersebut, seolah-olah hal itu sudah menjadi yang paling benar.

Kebanyakan alasan yang kita utarakan selalu berpusat kepada diri sendiri - apakah saya akan dipuaskan, apakah saya akan mendapatkan komunitas yang baik, apakah saya akan diterima, apakah musiknya baik, apakah tempatnya enak, dan lain sebagainya - memang hal-hal tersebut sedikit banyak menjadi bahan pertimbangan tetapi bukan menjadi hal yang paling utama, seharusnya yang kita tanyakan adalah apakah gereja tersebut mengajar Firman Tuhan secara bertanggung jawab, dan juga di manakah Tuhan mau kita melayani Dia dengan baik sehingga nama Tuhan dipermuliakan.

Kalau alasan ke gereja untuk kepuasan diri sendiri, maka tidaklah susah payah pergi ke gereja, kita akan bisa mendapatkan di tempat lain, walaupun sering kali akhirnya kita tetap datang ke gereja karena kita tidak mau dipersalahkan juga jikalau kita mencari kepuasan di tempat lain. Seolah-olah jikalau mendapatkan kepuasan di gereja, hal itu menjadi hal yang lebih rohani dan benar.

Mari pikirkan lebih jauh apa yang perlu kita perhatikan dalam mencari tempat beribadah, pikirkan apa yang sebenarnya menjadi hal yang penting dan yang kurang penting dalam hal memilih tempat ibadah.

19 February, 2012

Pembajak Kristen

Tono: “Asyik saya sudah ada koleksi MP3, artis rohani Kristen A yang terbaru”
Tini: “Kamu dapatnya dari mana”
Tono: “Saya dapat dari internet”
Tini: “Wah itu kan illegal”
Tono: “Gak apa-apa kan saya pakai untuk pelayanan”

Berapa sering kita mendengar percakapan seperti di atas, ini adalah pembenaran diri dari sesuatu yang salah dengan mengungkapkan hal yang rohani untuk menutupi kesalahan tersebut, sehingga kesalahan tersebut  bukan menjadi kesalahan lagi.

Berapa banyak entah itu software, MP3 atau film mudah sekali untuk didapatkan di internet, seringkali kita tidak tahu juga apakah itu melanggar hukum atau tidak, ketika kita mengunduh semua itu. Seringkali kita mengatakan karena semua orang sudah banyak melakukan maka hal tersebut bukan menjadi satu kejahatan lagi, atau karena sangsi yang diberikan kepada pelaku, walaupun kelihatan besar namun sangat sulit sekali untuk pihak yang berwajib mengenakan sangsi kepada si pelaku. Melalui pandangan seperti itu kita mulai membenarkan diri untuk melakukan hal tersebut, tidak ada pemikiran lebih jauh lagi tentang mengapa kita melakukan hal tersebut.

Tentu di lain pihak, banyak orang-orang Kristen yang tidak memiliki software, MP3 dan film bajakan dapat jatuh kepada perangkap legalisme, dengan berpandangan karena saya tidak mengunduh software dan MP3 bajakan, maka saya lebih benar dari pada orang-orang yang mengunduhnya, tentu ini hal yang salah. Tetapi bukan karena kita takut akan bahaya legalisme, itu menjadi alasan kalau mengunduh software, film dan MP3 bajakan tidak apa-apa.

Dahulu saya berpikir karena saya tidak mempunyai uang yang cukup untuk membeli software, MP3 dan film bajakan, tetapi walaupun saya sudah memiliki uangpun, sangat sulit bagi saya untuk membeli software asli, karena kita merasa uang yang dipakai itu dapat dipakai untuk hal yang lain, atau kita merasa tidak adil karena orang lain bisa mendapatkan secara “gratis” mengapa saya harus membayar. Ternyata masalah utamanya bukanlah karena kita kekurangan uang, tetapi kita lebih mencintai uang daripada melakukan apa yang benar, yaitu membeli  software, MP3 dan film yang asli.

Memang di Negara-negara yang sedang berkembang, perusahaan software membiayai harga yang terlalu tinggi untuk masyarakat, sehingga masyarakat lebih memilih bajakan dibandingkan yang asli. Tetapi kembali pertanyaannya apakah memang software itu diperlukan, adakah software open source (free) yang dapat dipakai dan sama fungsinya dengan software asli?

Dengan menulis artikel ini bukan berarti saya sudah bebas dari pembajakan software dan pengunduhan film maupun MP3 di dunia Internet, tetapi saya mengajak kita semua berpikir bahwa bukan karena kita sudah melakukan atau semua orang melakukannya maka pembajakan tersebut adalah menjadi sesuatu yang benar di hadapan Tuhan, bahkan ketika alasan tersebut kedengarannya sangat rohani sekali.

Saran saya, sebisa-bisanya mulailah berhenti mengunduh software, film dan MP3 bajakan dari Internet dan mulailah untuk menghapus file-file tersebut sebisa mungkin. Atau setidaknya berpikirlah bahwa hal itu adalah yang salah, jangan sampai karena kita tidak mau dianggap salah maka kita mulai merasionalisasikan pemikiran kita bahwa hal itu tidak apa-apa.

Sampai saat ini saya masih mempunyai software, film dan MP3 bajakan di samping yang asli, yang mulai saya beli. Tetapi saya masih berhutang untuk menghapus bajakan tersebut di kemudian hari. Bagaimana menurut Anda?

11 February, 2012

Menikah hanya sekali

Seringkali kita mendengar pernyataan ini bukan, bahwa menikah hanya satu kali. Saya akan mengecewakan Anda sebagai pembaca, karena yang akan saya bahas di sini bukanlah mengenai prinsip-prinsip menikah hanya sekali - maafkan saya.

Jika Anda sudah menikah atau akan menikah, tentu Anda ingat atau sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan hari pernikahan Anda, entah itu dari baju, kue pernikahan, bunga, restoran, acara, bahkan sampai ke hal-hal kecil seperti buku tamu yang akan dipakai untuk mencatat tamu-tamu Anda.

Ketika Anda sedang memilih kue contohnya, penjaga toko tahu Anda sedang mencari kue pernikahan, dan kue-kue yang ditawarkan tentu yang mahal-mahal karena penjaga toko itu mungkin akan mendapatkan komisi lebih tinggi, kata-kata yang dilontarkan adalah seperti ini: “Wah, pilih yang ini aja yang paling bagus, kan kamu menikah hanya sekali”, tentu tidak ada salahnya untuk memilih yang terbaik di hari pernikahan kita, tetapi sadar atau tidak sadar hal itu setidaknya mempengaruhi kita dalam hal memilih segala sesuatu yang berhubungan dengan pernikahan kita “Pilih yang paling bagus karena menikah hanya satu kali”, walaupun kita tidak sanggup, kita berusaha untuk mendapatkan yang terbaik itu, tetapi walaupun kita sanggup bukan berarti garis antara kebutuhan dan kemauan sudah tidak ada.

Seringkali kita tidak adil dengan hidup kita, kita dapat memakai satu pernyataan hanya untuk membenarkan diri kita ketika kita melakukan sesuatu yang akan “menguntungkan” kita, dalam hal pernikahan setidaknya mungkin orang yang akan datang ke pernikahan kita akan membandingkan dengan pernikahan yang mereka sudah datangi di bulan yang lalu.

Tetapi di lain pihak kita tidak mau memakai pernyataan itu ketika hal itu tidak “menguntungkan” kita.  

Renungkan hal ini: Bayangkan Anda terbang menggunakan pesawat terbang, lalu ada seorang asing duduk di samping kita, bukankah kita hanya akan bertemu orang asing itu satu kali dan mungkin tidak akan bertemu lagi, tetapi bisakah kita mengatakan “Bertemu orang asing ini hanya satu kali, sebaiknya saya mengabarkan sesuatu yang terbaik untuk orang ini, yaitu Injil Tuhan.”, terlepas mungkin karakter manusia berbeda satu sama lain.

Yesus tidak membawa damai

Matius 10:34-39
34 "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. 35 Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, 36 dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. 37 Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. 38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. 39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.


Perikop Alkitab di atas tentu sudah tidak asing di telinga Anda bukan? Tetapi bukankah Yesus justru datang untuk membawa damai? Mengapa Yesus datang untuk memisahkan kita dari keluarga kita? Apa? Yesus mau kita mengasihi Dia lebih daripada kita mengasihi keluarga kita?

Damai yang di bawa ke dalam dunia, adalah damai antara kita dengan Allah, melalui Yesus kita diperdamaikan dengan Allah. Sedangkan “tidak membawa damai” di sini lebih ke arah adanya satu pemisahan antara orang-orang percaya dan bukan, antara pengikut Kristus atau bukan. Pemisahan ini lebih dimaksudkan mengenai ketika kita mengikuti Yesus mungkin kita akan mengalami penyangkalan terhadap keluarga kita sendiri, kita mungkin harus “membenci” keluarga kita sendiri.

Hubungan dengan Yesus harus menjadi sesuatu yang utama di atas hubungan yang lain, bahkan hubungan keluarga sekalipun. Walaupun demikian ketika kita mengasihi Tuhan maka kita akan mengasihi sesama kita juga, termasuk keluarga kita, namun bukan sebaliknya, kita bisa mengasihi keluarga kita lebih daripada kita mengasihi Tuhan, jikalau seperti hal itu terjadi maka keluarga telah menjadi “berhala”. Segala sesuatu ataupun seseorang yang kita cintai lebih daripada Tuhan adalah “berhala”.

Jadi bisa kita katakan memikul salib kita dan mengikuti Yesus adalah mengasihi Dia lebih dari segala sesuatu ataupun seseorang di dunia ini.

05 February, 2012

Sekali selamat tetap selamat VS Keselamatan itu bisa hilang

Pertanyaan ini sering muncul di kalangan orang-orang Kristen mengenai kedua pandangan yang berbeda di bawah ini.

1.    Keselamatan itu tidak bisa hilang, sekali selamat tetap selamat.
2.    Keselamatan itu bisa hilang, untuk itu kita harus mengerjakan keselamatan

Seringkali kita ditanya oleh orang lain, posisi mana yang kita pegang apakah kita pegang entah itu posisi pertama ataupun kedua, dan memang ada baiknya kita terus ditanya dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, walaupun tidak selalu semua pertanyaan-pertanyaan dapat dijawab dengan logis, tetapi kita tidak dapat mengenyampingkan logika kalau memang sesuatu hal itu dapat dijelaskan secara logis walaupun pada batas tertentu juga.

Saya percaya kedua hal tersebut bahwa sekali selamat tetap selamat, dan kita tetap harus mengerjakan keselamatan.

Kita diselamatkan untuk terus mengerjakan keselamatan tersebut sebagai bukti bahwa kita sudah diselamatkan bukan karena kita mengerjakan keselamatan maka keselamatan tersebut tidak akan hilang. Mengerjakan keselamatan bukanlah suatu jaminan tetapi suatu bukti. (Baca: Filipi 2:12 – Work out your salvation not work out for your salvation)

Kalau kita menganggap kita sudah diselamatkan tetapi kita tidak mengerjakan keselamatan tersebut, keselamatan itu tidak hilang atau mungkin keselamatan itu seolah-olah hilang, tetapi kita memang tidak pernah mendapatkan keselamatan tersebut dari semula, keselamatan yang seperti itu adalah keselamatan yang semu. Ketika kita tidak mengerjakan keselamatan tersebut, hal itu menjadi bukti bahwa kita tidak pernah diselamatkan (Baca: 1 Yohanes 2:19)

31 January, 2012

Saya (tidak) akan doakan

Tono: "Ko, saya butuh kerjaan nih!"
Komuda: "Ok, nanti saya doain"

Setelah berjalan 1 minggu...
Tono: "Ko, terima kasih yah saya dapat pekerjaannya, terima kasih buat doanya yah"
Komuda: "Puji Tuhan, iya ngak apa-apa"
Komuda (dalam hati):" Padahal saya ngak mendoakan kamu loh"

Berapa banyak sering kali kita menawarkan untuk mendoakan orang lain ketika mungkin orang tersebut sedang membutuhkan sesuatu atau menginginkan sesuatu, tidak sedikit juga yang secara blak-blakan mereka meminta kita untuk mendoakan mereka. Seringkali mulut ini tidak dapat mengatup dan otak tidak berpikir sejenak, seolah-olah yang menjadi jawaban atas permintaan tersebut selalu "Yah nanti saya akan doakan".

Pada kenyataannya kita tidak mendoakan orang tersebut. Jadi apakah tawaran untuk mendoakan hanya untuk basa-basi? Hanya untuk terlihat lebih rohanikah? Atau apa? Tentu kita berhutang bukan ketika kita berjanji akan mendoakan tetapi tidak mendoakannya.

Tidak sedikit dari kita jatuh ke jebakan seperti ini, bahkan ada saat di mana hal ini terjadi dalam hidup saya. Jebakan tersebut hanya untuk kelihatan lebih rohani maka semua hal yang dapat orang nilai secara rohani melalui mata mereka, kita lebih rela melakukannya dibandingkan untuk mempertanggunjawabkan hal tersebut di hadapan Tuhan yang melihat kedalaman relung hati kita. Kita rela menipu mereka dan menipu Tuhan hanya untuk sebuah status, yaitu status harga diri sebagai orang yang kelihatan lebih rohani.

Mari, jangan cepat-cepat menawarkan doa jika kita tidak dapat melakukannya, jangan hanya untuk kelihatan lebih rohani. Tetapi kalau memang kita diminta mendoakan, mari kita mendisiplinkan diri untuk mendoakan kebutuhan-kebutuhan mereka, terutama kebutuhan rohani mereka.

28 January, 2012

Hari Orientasi di sekolah teologi

Entah saya mau memulai dari mana, hari orientasi yang saya takutkan akhirnya berakhir juga pada jam 5 sore ini, yang tadinya saya berkeinginan untuk tidak datang, setelah selesai hari orientasi hari ini, saya malah berpikir akan menyesal kalau tidak datang. Saya diberkati sekali dan memberikan kembali semangat terus untuk melakukan studi ini.

Saya akan merangkum secara singkat kejadian dan pengalaman apa saja yang terjadi dan yang saya dapat di hari orientasi hari ini namun tidak secara kronological.

1. Pengalaman yang tidak pernah saya alami masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi oleh murid-murid baru yang ingin belajar Alkitab baik itu 1, 3 ataupun 4 tahun, mungkin sekitar 100 orang lebih, tetapi yang lebih uniknya 90% dari mereka adalah orang Australia, atau mungkin tidak semua dari 90% itu adalah orang Australia, setidaknya mereka orang bule. Sebelumnya ada satu stereotype kepada orang bule bahwa mereka ateis, tetapi ternyata tidak semua orang bule adalah ateis, ini adalah pengalaman yang menarik.

2. Berlanjut dari pengalaman yang pertama, murid-murid baru ini berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, saya akan mencoba mengingat siapa saja mereka.
•    Ada pengacara
•    Ada direktur
•    Ada yang tidak pernah kuliah di Universitas
•    Ada engineer
•    Ada pendeta
•    Ada businessman
•    Ada petani
•    Ada guru
•    Ada politician
•    Ada yang bekeluarga
•    Ada yang bekeluarga tetapi hanya salah satu yang studi
•    Ada yang bercerai
•    Ada yang punya anak
•    Ada yang single
Ternyata tidak ada batasan dan kriteria tertentu untuk studi mengenai Tuhan, Anda bisa menjadi siapa saja, kalau Tuhan “memanggil” dalam keadaan apapun dan pekerjaan apapun, Tuhan dapat dan akan melakukan kehendakNya di dalam hidup Anda.

3. Pengalaman berikutnya adalah bertemu dengan satu pendeta yang tidak begitu lancar dalam berbahasa inggris, tetapi kerinduan dia untuk mengambil studi di Moore College membuat saya mengangkat jempol, tadinya saya berpikir inggris saya pas-pasan, Tuhan membukakan mata saya bahwa yang terpenting bukanlah hal tersebut.

4. Saya sempat ngobrol dengan beberapa orang, kebanyakan dari mereka orang-orang pintar, tetapi kepala sekolah dari sekolah tersebut membuat satu pernyataan bahwa studi di Moore College bukanlah satu kompetisi, mendapatkan nilai yang paling baik bukanlah segalanya, kita mungkin bisa mendapatkan nilai yang baik tetapi tidak benar-benar mengenal Tuhan.

5. Delapan hal yang penting yang John Woodhouse (Principal of Moore College) utarakan kepada murid-murid baru yang harus diperhatikan:

a. Mengenal Tuhan, rencanaNya dan tujuanNya di dalam hidup kita. Hati-hati terhadap bahaya pragmatis. Mengenal dan mengasihi Tuhan adalah tujuan.

b. Mengenal Tuhan adalah ideNya Tuhan bukan kita. Mengenal Tuhan dimulai dari tahu bahwa Tuhan yang mengenal kita terlebih dahulu.

c. Mengenal Tuhan bukan hanya mengetahui fakta-fakta. Mengenal Tuhan terkait erat sekali dengan kesalehan kita. Kita bisa baik dari segi akademis tetapi tidak benar-benar mengenal Tuhan

d. Mengenal Tuhan melibatkan intelektual

e. Di Moore College, kami diminta untuk belajar dengan sunguh-sungguh kerja keras, bukan hanya di pikiran semata tetapi menjalankannya di kehidupan sehari-hari.

f. Maksud point yang diatas ini adalah bahwa Moore College sama seperti gereja bukan universitas

g. Murid-murid yang sudah berkeluarga adalah penting, Moore College menyediakan satu komunitas di mana membantu murid-murid yang sudah bekeluarga untuk saling menopang satu sama lain.

h. Bertanggung jawab di dalam satu komunitas.

6. Menarik ketika John Woodhouse menerangkan hal terakhir (Bertanggung jawab di dalam satu komunitas) lebih mendalam lagi, berikut penjelasannya:

20 tahun yang lalu ada tembok pemisah ketika kita harus pergi ke toko untuk mengambil majalah porno sedangkan di dunia internet tidak ada, tembok pemisahnya hanyalah satu klik mouse. Untuk inilah Moore College menyediakan satu piranti lunak bernama Covenant Eyes untuk membantu murid-murid menciptakan tembok pemisah menuju internet pornografi, dengan cara memilih teman-teman yang dimana kita bisa percaya dan bertanggung jawab untuk memantau situs-situs yang kita lihat. Menggunakan program ini bukanlah sesuatu yang diharuskan tetapi dianjurkan, dan bukan hanya orang yang pernah bergumul akan masalah pornografi, tetapi juga orang yang sedang bahkan orang yang tidak pernah sama sekali jatuh dalam dosa pornografi di internet khususnya.

7. Ada dua lagu yang membuat saya meneteskan air mata sedikit ketika kami bersama-sama menyembah Tuhan. Amazing Grace (My Chains are gone) dan How deep the Father’s love for us.






Ketujuh hal tersebut di atas sangat mendorong saya, menyemangati  dan mengingatkan kembali akan keputusan yang saya ambil ini untuk di kemudian hari menjadi pelayan Tuhan penuh waktu.

Tuhan memberkati Moore College, dosen-dosen pengajar, murid-murid yang baru, murid-murid yang masih belajar, dan murid-murid yang sudah lulus.

27 January, 2012

Mitos tentang Pendeta

Pendeta tidak berdosa (baca: dosanya dikit)
Pendeta lebih kudus
Pendeta doanya lebih ampuh
Pendeta adalah penyembuh
Pendeta harus kaya
Pendeta tidak boleh kaya
Pendeta harus lebih rohani
Pendeta tidak gampang marah
Pendeta lepas dari dosa seksual
Pendeta lebih dekat dengan Tuhan
Pendeta bisa menjadi pengantara ke Tuhan
Pendeta terlalu serius
Pendeta ...