Tono: "Ko, saya butuh kerjaan nih!"
Komuda: "Ok, nanti saya doain"
Setelah berjalan 1 minggu...
Tono: "Ko, terima kasih yah saya dapat pekerjaannya, terima kasih buat doanya yah"
Komuda: "Puji Tuhan, iya ngak apa-apa"
Komuda (dalam hati):" Padahal saya ngak mendoakan kamu loh"
Berapa banyak sering kali kita menawarkan untuk mendoakan orang lain ketika mungkin orang tersebut sedang membutuhkan sesuatu atau menginginkan sesuatu, tidak sedikit juga yang secara blak-blakan mereka meminta kita untuk mendoakan mereka. Seringkali mulut ini tidak dapat mengatup dan otak tidak berpikir sejenak, seolah-olah yang menjadi jawaban atas permintaan tersebut selalu "Yah nanti saya akan doakan".
Pada kenyataannya kita tidak mendoakan orang tersebut. Jadi apakah tawaran untuk mendoakan hanya untuk basa-basi? Hanya untuk terlihat lebih rohanikah? Atau apa? Tentu kita berhutang bukan ketika kita berjanji akan mendoakan tetapi tidak mendoakannya.
Tidak sedikit dari kita jatuh ke jebakan seperti ini, bahkan ada saat di mana hal ini terjadi dalam hidup saya. Jebakan tersebut hanya untuk kelihatan lebih rohani maka semua hal yang dapat orang nilai secara rohani melalui mata mereka, kita lebih rela melakukannya dibandingkan untuk mempertanggunjawabkan hal tersebut di hadapan Tuhan yang melihat kedalaman relung hati kita. Kita rela menipu mereka dan menipu Tuhan hanya untuk sebuah status, yaitu status harga diri sebagai orang yang kelihatan lebih rohani.
Mari, jangan cepat-cepat menawarkan doa jika kita tidak dapat melakukannya, jangan hanya untuk kelihatan lebih rohani. Tetapi kalau memang kita diminta mendoakan, mari kita mendisiplinkan diri untuk mendoakan kebutuhan-kebutuhan mereka, terutama kebutuhan rohani mereka.
Recent Posts
0 comments:
Post a Comment