Saya ingat pertama kali teman saya yang bukan orang percaya bertanya kepada saya, "Kamu Kristen?" dan kemudian dia membuat pernyataan, "Saya benci kepada orang Kristen yang extrimis dengan menghakimi orang-orang homoseksual masuk ke neraka", dengan sedikit tersenyum saya menjawabnya "Kita bisa berbuat baik, tiap hari berdoa, tiap minggu ke gereja dan pelayanan tetapi tetap masuk ke neraka"
Memang dosa homoseksual tersebut kelihatannya lebih "besar" dibanding dosa-dosa yang lainnya, tetapi bukan karena kita tidak melakukan dosa tersebut sehingga kita masuk ke surga, secara gamblang saya mengatakan "Kita masuk ke surga bukan karena kita seorang yang heteroseksual"
Kerapkali kita "menghakimi" lebih daripada Tuhan menghakimi manusia dan kita mengampuni tidak sebanyak Tuhan mengampuni orang berdosa. Kita kadang-kadang terjebak di dalam pemikiran bahwa dosa saya lebih sedikit, atau saya lebih baik secara moral daripada orang-orang tersebut. Tanpa menyadari sebenarnya tidak ada perbedaan dosa kecil dan dosa besar, pada esensinya, dosa itu sama.
Bahkan dalam suratan Paulus untuk jemaat Korintus, Paulus menempatkan dosa banci dan pemburit bersama dengan dosa kikir, penipu (1 Korintus 6:9-10). Coba ingat kapan terakhir kali kita kikir? Kapan terakhir kali kita menipu?
Mari di Jumat Agung tahun ini kita mengingat kembali, bahwa kita diselamatkan semata-mata oleh karena pengorbanan Kristus di atas kayu salib, bukan karena usaha kita, sedikitpun perbuatan baik moral kita tidak menambahi upaya Kristus menyelamatkan kita, dan sebanyak apapun perbuatan dosa kita, Kristus tetap mampu untuk menyelamatkan kita.
Untuk itulah Injil bukan hanya untuk orang homoseksual tetapi untuk orang heteroseksual juga, Injil bukanlah hanya untuk orang yang belum percaya tetapi juga untuk orang yang sudah percaya, Injil harus terus berkumandang di hati kita, agar kita tidak akan pernah dapat menyombongkan diri di hadapan Tuhan kita, Yesus Kristus.
Recent Posts
0 comments:
Post a Comment