Beberapa bulan ini saya diberikan kesempatan berteman dengan seseorang yang bersekolah mengenai nutrisi makanan. Sehingga kerap kali percakapan yang dibicarakan adalah mengenai nutrisi sebuah makanan serta implikasinya dalam kesehatan tubuh kita jikalau kita mengkonsumsikannya.
Adapun melalui percakapan-percakapan yang diperbincangkan, saya menarik kesimpulan bahwa makanan yang sehat hampir rata-rata tidaklah terasa enak di lidah kita, karena kita sudah terbiasa dengan makanan-makanan yang tidak sehat. Kita sudah terbiasa mengkonsumsi makanan yang mungkin akan membahayakan kesehatan tubuh kita baik dalam rentang waktu yang dekat maupun yang jauh.
Demikian dengan halnya makanan rohani, seringkali mungkin kita sudah terbiasa dengan makanan-makanan rohani yang kurang sehat, dalam hal ini pengajaran yang tidak sehat namun terasa manis di mulut hati kita. Makanan-makanan tersebut ketika disajikan memang membuat kita tertawa tetapi kita tidak menyadari bahwa sebenarnya kita sedang dibawa ke dalam suatu penyesatan melalui makanan-makanan tersebut.
Memang bukan berarti semua makanan rohani yang membuat kita tertawa adalah makanan yang tidak sehat. Intinya adalah janganlah makan makanan rohani yang hanya terasa enak di telinga dan di hati, kalau makanan rohani tersebut tidak enak maka kita tidak mau memakannya, padahal kita menyadari bahwa justru makanan-makanan yang "tidak enak" itulah makanan rohani yang sehat.
Namun hal ini juga menjadi tantangan bagi hamba Tuhan yang menyajikan makanan rohani tersebut, bagaimana dengan tetap setia dalam menyajikan makanan rohani yang sehat dengan cara-cara penyajian yang "menarik". Selain daripada itu jemaat sebagai pendengar juga harus belajar untuk memakan makanan rohani yang bukan hanya enak di dengar tetapi yang tidak enak di dengar juga, yang terpenting adalah apakah makanan rohani itu mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik kita di dalam kebenaran.
0 comments:
Post a Comment