Recent Posts

20 February, 2011

Mentuhankan Tuhan

1. Mentuhankan Tuhan
Pernyataan ini sering kita dengar. "Mentuhankan Tuhan" - Jadi apakah selama ini Dia bukan Tuhan? Seolah-olah Dia membutuhkan manusia untuk "Mentuhankan" Dia. Apakah selama ini kita tidak memperlakukan Dia sebagai Tuhan, sehingga kita harus "Mentuhankan" Dia. Betul kita sering kali tidak menempatkan Tuhan di posisi Tuhan, tetapi tanpa hal itu pun Dia tetap Tuhan.

2. Mentuhankan manusia
Seringkali Manusia mentuhankan diri sendiri, dalam arti memilih yang baik dan jahat sesuai dengan pikiran diri sendiri, jika saya bilang baik yah baik, jika tidak yah tidak. Ketika Adam dan Hawa memakan buah tentang pengetahuan yang baik dan jahat, bukan berarti sebelum mereka memakan buah tersebut mereka tidak mengenal yang baik dan yang jahat. Baik: Tidak memakan buah tersebut - Jahat: Memakan buah tersebut. Namun, kejatuhan mereka karena mereka menjadi "tuhan" atas diri mereka dan menentukan menurut pemikiran mereka.

3. Memanusiakan Tuhan
Tuhan Allah yang besar seringkali dianggap seperti manusia biasa, memang Dia telah menjelma menjadi manusia dan telah menderita di atas kayu salib. Namun seringkali di lain pihak kita memperlakukan Tuhan seperti manusia, misalnya: Jika Tuhan tidak kasih saya pekerjaan ini, saya tidak akan melayani, seperti kita mengancam seseorang ketika tidak membayar hutang kita. Tapi apakah Tuhan berhutang kepada kita? Seringkali kita merasa Tuhan berhutang kepada kita karena belum melakukan sesuatu yang berdasarkan keinginan kita.

4. Memanusiakan manusia
Kita harus sadar bahwa kita ini manusia yang berdosa, ketika kita berkata: "Memanusiakan manusia" berarti kita berusaha senantiasa kembali kepada dasar yang paling mendasar bahwa kita ini manusia yang telah mati dan terlepas dari Allah dan hanya oleh Kasih Karunia yang dapat menghidupkan kita kembali bersama dengan Allah.

0 comments:

Post a Comment