I was visiting one of the biggest church in Jakarta on Christmas Eve service 24 December 2011. Everything was awesome except one thing: I saw two people were playing with their Blackberry during the sermon. Are you kidding me? Playing with your phone during a sermon where God's word being preached?
Of course I cannot and should not judge people based on their actions, by what they do or don't do. But imagine for a second if you have a chance to meet the President, would you do that? Would you send a message to your Blackberry friends talking about Mr. President or worse about something that has nothing to do with him in front of him?
Now, I myself often tempted to check my iPhone (sorry I don't have Blackberry) - not my bible app - during the sermon. I regretted. I hope you would feel the same if you ever done that.
Why is that? Is it because I will look holier than others for not checking my iPhone during the sermon? That is not the point, the point is to respect God, who sent His only begotten Son to died for us, so we may be made alive again. Playing our Smartphone during the sermon is not inherently wrong but I plead with you, don't take that grace for granted, Christ died for people who check their iPhone also people who don't check their Blackberry during the sermon.
Respect your God. Stop playing with your iPhone or Blackberry, except if you use them to read your bible, let me make it clear enough if it's not already: to read not to play! Not only during the sermon also in corporate worship where we gather and sing together.
Recent Posts
26 December, 2011
21 December, 2011
Beda jauh banget...
Posted by
Anton Triyanto
Sudah 2 minggu saya berada di Indonesia, kota-kota yang saya sudah kunjungi adalah Jakarta dan Semarang, jika Tuhan berkehendak saya akan pergi ke Bogor, Bandung, Bromo, Surabaya.
Selama saya di Indonesia saya melihat perbedaan sosial dan ekonomi yang sangat mencolok, ketika saya di dalam mal Grand Indonesia, saya tidak merasakan di Indonesia, tapi terasa seperti masih di luar negeri, karena gemerlapan lampu yang indah, dan orang-orang yang berpakaian necis berlalu lalang di dalam mal tersebut.
Saya sempat ngobrol-ngobrol dengan banyak jenis orang, baik dari supir sampai CEO sebuah perusahaan besar. Contohnya Pak W (saya samarkan), beliau adalah supir yang bekerja di Jakarta, tetapi karena beliau sudah mempunyai keluarga, beliau mengatakan tinggal di Jakarta sangat mahal sekali, jadi beliau dan keluarganya tinggal di Bogor.
Beda jauh banget, kalau makan foodcourt di mal sekitar 30 ribuan, bahkan saya juga mencicipi makan yang berkisar 100 - 200 ribu. Sedangkan makan pinggiran mungkin hanya 10 ribu sudah kenyang, bahkan kalo di pelosok yang lebih kumuh bisa mendapatkan harga yang lebih murah. Memang semua ini tergantung dari gaya hidup kita, tapi seringkali kita menaikkan gaya hidup kita, karena kita merasa kita layak menerima semua hal itu dengan usaha dan kerja keras kita sampai tidak memperdulikan orang-orang yang berada di bawah kita yang untuk menghidupi dirinya saja sudah sulit apalagi menghidupi sanak saudaranya.
Sedih seringkali melihat negara sendiri belum mengatasi atau setidaknya memperkecil jarak kesenjangan antara yang miskin dan yang kaya. Entah budaya dari Indonesianya sendiri atau memang tidak ada 'awareness' dari orang-orang yang kaya terhadap orang-orang yang miskin, yah memang tidak semuanya orang kaya menindas orang miskin, tetapi tidak sedikit juga, mereka merasa dengan uang, mereka dapat melakukan segalanya sesuai dengan kehendak mereka bahkan kehendak yang mereka pandang tidak baik maupun yang masyarakat pandang tidak baik.
Mari, jika kita mempunyai uang lebih tidak salahnya memberikan bonus yang lebih tinggi untuk orang-orang yang kita pekerjakan atau yang kita memakai jasanya dengan harga yang sangat murah, terlepas dari apakah orang-orang tersebut akan melunjak terhadap kita.
Selama saya di Indonesia saya melihat perbedaan sosial dan ekonomi yang sangat mencolok, ketika saya di dalam mal Grand Indonesia, saya tidak merasakan di Indonesia, tapi terasa seperti masih di luar negeri, karena gemerlapan lampu yang indah, dan orang-orang yang berpakaian necis berlalu lalang di dalam mal tersebut.
Saya sempat ngobrol-ngobrol dengan banyak jenis orang, baik dari supir sampai CEO sebuah perusahaan besar. Contohnya Pak W (saya samarkan), beliau adalah supir yang bekerja di Jakarta, tetapi karena beliau sudah mempunyai keluarga, beliau mengatakan tinggal di Jakarta sangat mahal sekali, jadi beliau dan keluarganya tinggal di Bogor.
Beda jauh banget, kalau makan foodcourt di mal sekitar 30 ribuan, bahkan saya juga mencicipi makan yang berkisar 100 - 200 ribu. Sedangkan makan pinggiran mungkin hanya 10 ribu sudah kenyang, bahkan kalo di pelosok yang lebih kumuh bisa mendapatkan harga yang lebih murah. Memang semua ini tergantung dari gaya hidup kita, tapi seringkali kita menaikkan gaya hidup kita, karena kita merasa kita layak menerima semua hal itu dengan usaha dan kerja keras kita sampai tidak memperdulikan orang-orang yang berada di bawah kita yang untuk menghidupi dirinya saja sudah sulit apalagi menghidupi sanak saudaranya.
Sedih seringkali melihat negara sendiri belum mengatasi atau setidaknya memperkecil jarak kesenjangan antara yang miskin dan yang kaya. Entah budaya dari Indonesianya sendiri atau memang tidak ada 'awareness' dari orang-orang yang kaya terhadap orang-orang yang miskin, yah memang tidak semuanya orang kaya menindas orang miskin, tetapi tidak sedikit juga, mereka merasa dengan uang, mereka dapat melakukan segalanya sesuai dengan kehendak mereka bahkan kehendak yang mereka pandang tidak baik maupun yang masyarakat pandang tidak baik.
Mari, jika kita mempunyai uang lebih tidak salahnya memberikan bonus yang lebih tinggi untuk orang-orang yang kita pekerjakan atau yang kita memakai jasanya dengan harga yang sangat murah, terlepas dari apakah orang-orang tersebut akan melunjak terhadap kita.
11 December, 2011
Selamat Pagi Bapa
Posted by
Anton Triyanto
"Selamat Pagi Bapa" adalah salah satu sapaan yang sering terlontar baik dari dalam mulut kita maupun dari hati kita, mungkin ketika kita memulai doa kita pagi-pagi saat kita bersekutu dengan Tuhan, sapaan ini terdengar begitu hangat sekali, melukiskan betapa dekatnya Bapa kita, sampai-sampai kita dapat mengucapkan "Selamat Pagi Bapa"
Memang pada dasarnya tidak ada yang membuat sapaan itu salah, karena selama motivasi dari orang yang mengucapkan hal tersebut hanya untuk mengambarkan "keakraban' dengan Tuhan.
Namun mari kita secara sejenak berpikir, jika kita di Sydney pada waktu pagi hari dan menghubungi sanak saudara kita di Amerika pada waktu malam, apakah kita akan mengatakan "Selamat Pagi", tentu kita mengatakan "Selamat Malam" karena sapaan itu kita tujukan dan sesuaikan dengan waktu orang yang kita sapa.
Demikian dengan Tuhan, memang bagi Tuhan, Dia tidak terikat dengan waktu, jadi ketika kita menyapa Selamat Pagi, Siang dan Malam, hal tersebut tidaklah terlalu menjadi hal yang harus dipikirkan. Tetapi, apakah dengan mengatakan "Selamat Pagi Bapa" kita mulai "memanusiakan Tuhan", "menarik" Dia masuk dalam kehidupan kita yang terikat oleh waktu?
Bacaan Rekomendasi selanjutnya
Mentuhankan Tuhan
Memang pada dasarnya tidak ada yang membuat sapaan itu salah, karena selama motivasi dari orang yang mengucapkan hal tersebut hanya untuk mengambarkan "keakraban' dengan Tuhan.
Namun mari kita secara sejenak berpikir, jika kita di Sydney pada waktu pagi hari dan menghubungi sanak saudara kita di Amerika pada waktu malam, apakah kita akan mengatakan "Selamat Pagi", tentu kita mengatakan "Selamat Malam" karena sapaan itu kita tujukan dan sesuaikan dengan waktu orang yang kita sapa.
Demikian dengan Tuhan, memang bagi Tuhan, Dia tidak terikat dengan waktu, jadi ketika kita menyapa Selamat Pagi, Siang dan Malam, hal tersebut tidaklah terlalu menjadi hal yang harus dipikirkan. Tetapi, apakah dengan mengatakan "Selamat Pagi Bapa" kita mulai "memanusiakan Tuhan", "menarik" Dia masuk dalam kehidupan kita yang terikat oleh waktu?
Bacaan Rekomendasi selanjutnya
Mentuhankan Tuhan