Recent Posts

07 October, 2009

Segala sesuatu mendatangkan kebaikan

Roma 8:28-32

8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
8:29 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.
8:30 Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.


Ayat 28 tentunya sudah tidak asing lagi di telinga kita, khususnya ayat ini seringkali mengingatkan kita kembali akan janji Allah ketika kita mengalami penderitaan dan kesusahan yang berat sehingga menjadi jaminan kalau semua hal tersebut kita percaya dan yakin akan membawa kebaikan kepada kita, walaupun seringkali kelihatannya 'buruk' di mata jasmani kita. Kita seringkali tidak mampu melihat apa yang Tuhan mau kerjakan di dalam hidup kita, tentu ada hal-hal tertentu yang Tuhan ungkapkan melalui pengalaman-pengalaman kita, namun saya percaya ada juga yang tidak akan pernah Tuhan ungkapkan dalam hidup kita, yang kita harus pegang dan percaya adalah bahwa Dia mendatangkan kebaikan bagi hidup kita menurut kacamata Allah.

Namun janji ini tidak berlaku bagi setiap orang, kalau kita melihat akhir dari ayat 28 dan seterusnya tentu kita akan mengerti kalau janji ini hanyalah untuk orang-orang pilihan Allah dan Allah sudah menetapkannya. Demikianlah kita dipilih Allah sehingga kita dapat mengasihi Allah sebagaimana Allah mau kita mengasihi Dia, kasih kita kepada Allah sangat berbeda dengan kasih terhadap sesama. Maka bukanlah berarti kalau kita kadang kurang mengasihi Dia atau tidak mengasihi Dia, berarti ada kalanya waktu kasih kita kepada Dia berkurang maka segala sesuatu 'mungkin' tidak akan selalu mendatangkan kebaikan bagi hidup kita.

Mengasihi Tuhan bukanlah untuk memenuhi kebutuhan Dia, karena Dia Allah yang tidak mempunyai kebutuhan, jikalau Dia adalah sumber dari segala sesuatu bagaimana mungkin Dia masih kekurangan sesuatu sehingga memerlukan manusia untuk memenuhi kekuranganNya? Hal ini dibahas dalam Kisah 17:25. Allah tidak akan pernah mengalami kekurangan dalam diriNya sehingga membutuhkan manusia untuk mencukupinya. Kita tidak bisa mengasihi Allah dengan memenuhi kebutuhanNya. Dia tidak mempunyai kebutuhan. Jadi kasih kita kepada Allah sudah tentu adalah perihal kita dalam hal menerima. Karena Allah mengasihi kita terlebih dahulu, maka kita akan dapat mengasihi Allah.

Mengasihi Tuhan bukanlah mengasihi akan pemberianNya. Pemberian seperti damai sejahtera, pengampunan, keselamatan, kebangkitan, kesembuhan, berkat dan lain-lain. Justru karena kita mengasihi Allah, kita tahu bersyukur karena tanpa Allah maka semuanya itu tidak ada. PemberianNya adalah sangat berharga namun hanya sebatas membawa kita dekat kepada Allah dan memperlihatkan lebih lagi mengenai Allah. Ketika kita mengasihi Tuhan, Tuhanlah yang menjadi pusat dari segala sesuatu bukan pemberianNya.

Mengasihi Tuhan bukanlah berarti taat akan Firman Tuhan. Taat akan Firman Tuhan adalah bukti dari kasih itu sendiri. Tuhan berkata "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku." inipun bukan berarti essensi dari kasih akan Tuhan adalah ketika kita menuruti serta menjalankan perintahNya. Mengasihi Tuhan adalah memiliki hati yang mendorong kita untuk melakukan serta menaati perintahNya. Ketika Petrus ditanya Tuhan, apakah engkau mengasihi Aku, Petrus menjawab 'ya', dan Tuhan membalas dengan "Gembalakan domba-dombaKu" -- Tuhan tidak berkata "Taatilah firmanKu", karena Tuhan mau ketika kita berkata mengasihi Allah, maka Tuhan mau kita melakukannya bukan hanya di kata-kata belaka. Mengembalakan domba-domba Tuhanpun menjadi salah satu bukti dari kasih tapi bukan menjadi essensi dari kasih.

Essensi kasih kita kepada Allah adalah karena kita telah dikasihi oleh Allah, yang seharusnya mendapatkan hukuman namun terlebih Yesus mati menebus dosa kita, sehingga memampukan kita mengasihi Dia, bukan supaya kita mendapatkan segala kebaikan dalam kehidupan kita, namun karena untuk menikmati Allah sendiri.

0 comments:

Post a Comment