Matius 5:44a
Tetapi Aku (Yesus) berkata kepadamu (kita): Kasihilah musuhmu...
Perkataan Yesus ini membuat saya merenung, bagaimana kita dapat mengasihi musuh kita? Pertanyaannya bukanlah bagaimana namun mengapa kita dapat mengasihi musuh kita?
Cara-cara manusia berusaha untuk melupakannya dengan cara tidak pernah mau untuk mengingat-ingat kejadian buruk yang orang lain lakukan terhadap kita, seolah-olah dengan menjalankan hal tersebut kita akan berangsur-angsur mengampuni musuh kita dan mengasihinya. Bahkan ada pepatah mengatakan hanya waktulah yang akan menyembuhkan luka. Saya agak skeptis dengan pernyataan tersebut, karena fakta berbicara banyak orang yang masih mempunyai musuh setelah bertahun-tahun lamanya.
Dalam Jumat Agung tahun ini kembali kita diingatkan untuk mengampuni orang lain sama seperti Allah telah mengampuni kita melalui AnakNya, Yesus Kristus yang mati menjadi tebusan bagi kita.
Pertanyaan berikutnya adalah, apakah kita benar-benar yakin bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah karena kasih karunia Allah semata-mata, tidak ada satupun dari kita yang dapat luput dari murka Allah, tanpa melalui penebusan Kristus.
Namun bagi sebagian besar orang pengampunan Kristus untuk kita tidak terlalu terkait dengan pengampunan kita terhadap orang yang telah bersalah kepada kita. Ketika saya tidak bisa mengampuni, saya akan bertanya kepada diri sendiri benarkah pengampunan Allah yang menurut saya ada dalam diri saya adalah pengampunan yang sejati?
Jika memang demikian, seharusnya tidak ada lagi kata 'musuh' di dalam kamus kita, manusia bukanlah musuh kita. Ketika Tuhan mengajarkan kita untuk mengasihi musuh kita, hanya melalui kasih Kristus sajalah kita bisa mengasihi mereka, secara otomatis bagi kita, mereka bukanlah 'musuh' kita lagi. Mengapa masih dikatakan musuh? Jika mereka adalah orang percaya kepada Kristus tentu mereka tidak akan menganggap kita musuh lagi, tetapi justru karena mereka belum mengalami pengampunan tersebut untuk itulah mereka akan selalu menganggap kita 'musuh'.
Di Jumat Agung ini baiklah kita bertanya kepada diri sendiri, benarkah kita sudah mengalami pengampunan yang sejati itu? Jika sudah, mengapa kita masih menganggap 'musuh' kepada orang yang berbuat buruk kepada kita?
Selidiki hati kami, ya Tuhan. Biarlah kami mengalami pengampunan sejati tersebut, dan terus mengingat betapa Engkau telah menyatakan kasihMu kepada kami, oleh karena Kristus telah mati untuk kami, ketika kami masih berdosa.
Recent Posts
Showing posts with label indonesian. Show all posts
Showing posts with label indonesian. Show all posts
22 April, 2011
24 October, 2010
Move On
Posted by
Anton Triyanto
Ketika kita mengalami masalah dan setelah keluar dari masalah tersebut pun kita sering mendengar kata-kata seperti ini "You have to move on" - mungkin bisa diartikan sebagai "Maju terus" - Lupakanlah masa lalu, lihat ke masa depan yang lebih cerah dan jangan berhenti dan meratapi nasib. Kebanyakan kata-kata ini dipakai jika misalnya, ketika kita berpisah dengan pasangan kita.
Tapi bagi kebanyakan orang 'move on' itu berarti sudah harus mencari sesuatu yang lebih baik dari apa yang sudah kehilangan dalam hal ini pasangan yang baru, pengertian 'move on' seperti ini kurang bijak, bagaimana kita tahu bahwa pasangan yang baru itu lebih baik daripada pasangan yang lama? Apakah ketika kita tidak mendapatkan pasangan baru berarti kita belum 'move on'? Apakah ketika kita tidak ingin mencari penganti pasangan lama tersebut kita dapat dikategorikan bahwa kita belum 'move on'. Seolah-olah kata 'move on' ini disamakan dengan kita melupakan masa lalu kita dengan cara mendapatkan pasangan yang baru dalam hal ini.
Kata 'move on' memang bisa menjadi satu dorongan agar kita tidak tenggelam dengan masa lalu kita, namun kita harus hati-hati jangan sampai kata ini hanya menjadi cliche dalam pengunaannya.
Tapi bagi kebanyakan orang 'move on' itu berarti sudah harus mencari sesuatu yang lebih baik dari apa yang sudah kehilangan dalam hal ini pasangan yang baru, pengertian 'move on' seperti ini kurang bijak, bagaimana kita tahu bahwa pasangan yang baru itu lebih baik daripada pasangan yang lama? Apakah ketika kita tidak mendapatkan pasangan baru berarti kita belum 'move on'? Apakah ketika kita tidak ingin mencari penganti pasangan lama tersebut kita dapat dikategorikan bahwa kita belum 'move on'. Seolah-olah kata 'move on' ini disamakan dengan kita melupakan masa lalu kita dengan cara mendapatkan pasangan yang baru dalam hal ini.
Kata 'move on' memang bisa menjadi satu dorongan agar kita tidak tenggelam dengan masa lalu kita, namun kita harus hati-hati jangan sampai kata ini hanya menjadi cliche dalam pengunaannya.
15 September, 2010
Kamu Sombong
Posted by
Anton Triyanto
"Kamu Sombong!" - memang terkadang kalau kita terlalu membanggakan diri orang akan berkata kepada kita kalau kita sombong, memang tidak seharusnya kita membanggakan diri seolah-olah apa yang kita kerjakan adalah pekerjaan kita semata. Paulus sendiri berkata, bahwa dia bermegah di dalam Kristus (Roma 15:17) - dengan menyadari hal seperti ini maka apapun yang kita megahkan semata-mata karena di dalam Kristus, tanpa Kristus tidak ada yang dapat kita lakukan, memang sepertinya 'kita melakukan' -- namun kenyataannya tidak ada sesuatupun yang kita lakukan akan diterima oleh Bapa kalau bukan hanya di dalam Kristus.
Seringkali kita berkata, pendeta A sombong sekali, dia selalu 'membanggakan diri', membanggakan pelayanannya. Yah memang itu satu hal yang harus dia intropeksi, selama ketika Kristus ditinggikan ketika pendeta A itu membanggakan pelayanannya maka saya rasa tidak apa-apa. Hanya seringkali kita mulai tidak mau menerima ajaran pendeta A, hanya karena dia sering 'membanggakan diri'.
Di lain pihak, mungkinkah karena kita hanya bisa mengritik orang lain, apakah kita ternyata sombong juga ketika kita berkata kepada orang lain bahwa orang lain itu sombong? Atau adakah unsur iri hati karena kita tidak bisa seperti orang lain tersebut, sehingga kita sembarangan berkata bahwa orang itu sombong.
Kesombongan memang harus terus diberantas, hari lepas hari, manusia tidak akan pernah lepas dari kesombongan, baik dalam intensitas yang sedikit maupun banyak. Jadi bukan berarti kita bisa menuduh dengan sembarangan kalau orang lain sombong (walaupun semua manusia ada sifat sombong), karena hal itu sudah menunjukkan seolah-olah kita lebih baik dari orang lain. Baiklah sama-sama mengintropeksi diri, sudahkah kita berantas dosa kesombongan di dalam hati kita?
ESV:1 Corinthians15:10
But by the grace of God I am what I am, and his grace toward me was not in vain. On the contrary, I worked harder than any of them, though it was not I, but the grace of God that is with me.
Artikel terkait:Nilai manusia di hadapan Allah
Seringkali kita berkata, pendeta A sombong sekali, dia selalu 'membanggakan diri', membanggakan pelayanannya. Yah memang itu satu hal yang harus dia intropeksi, selama ketika Kristus ditinggikan ketika pendeta A itu membanggakan pelayanannya maka saya rasa tidak apa-apa. Hanya seringkali kita mulai tidak mau menerima ajaran pendeta A, hanya karena dia sering 'membanggakan diri'.
Di lain pihak, mungkinkah karena kita hanya bisa mengritik orang lain, apakah kita ternyata sombong juga ketika kita berkata kepada orang lain bahwa orang lain itu sombong? Atau adakah unsur iri hati karena kita tidak bisa seperti orang lain tersebut, sehingga kita sembarangan berkata bahwa orang itu sombong.
Kesombongan memang harus terus diberantas, hari lepas hari, manusia tidak akan pernah lepas dari kesombongan, baik dalam intensitas yang sedikit maupun banyak. Jadi bukan berarti kita bisa menuduh dengan sembarangan kalau orang lain sombong (walaupun semua manusia ada sifat sombong), karena hal itu sudah menunjukkan seolah-olah kita lebih baik dari orang lain. Baiklah sama-sama mengintropeksi diri, sudahkah kita berantas dosa kesombongan di dalam hati kita?
ESV:1 Corinthians15:10
But by the grace of God I am what I am, and his grace toward me was not in vain. On the contrary, I worked harder than any of them, though it was not I, but the grace of God that is with me.
Artikel terkait:Nilai manusia di hadapan Allah
08 September, 2010
Manusia tidak pernah puas
Posted by
Anton Triyanto
Waktu kita sibuk, kita menggerutu, waktu kita tidak sibuk kita menggerutu juga. Jadi maunya apa sih?
Memang manusia tidak pernah puas dengan keadaannya, karena kecenderungan hati manusia akan selalu membandingkan keadaannya dengan orang lain, seolah-olah orang lain lebih 'beruntung' dari pada keadaan dia pada saat dia mulai menggerutu.
Jelas sekali di luar Tuhan tidak akan pernah ada kepuasan, kita bisa mencoba mencari kepuasan dari makanan, minuman, pakaian, pekerjaan, uang, kekuasaan, atau apapun. Tapi setelah kita memiliki semua hal itu ternyata kita masih belum puas. Kita akan selalu mau memiliki lebih dari apa yang kita punya. Uang yang lebih banyak, makanan yang lebih enak, pacar yang lebih cantik, akhirnya kita akan mengerti bahwa kita sudah hidup ditipu oleh segala sesuatu yang seolah-olah, atau kelihatannya bisa memuaskan kita, tetapi ternyata tidak ada yang bisa memuaskan kita selain daripada Allah.
Sebelum Kristus sebagai air hidup menjadi Tuhan atas hidup, kita akan selalu merasa tidak puas akan hidup ini. Memang bukan hal yang mudah, seperti halnya orang bangun pagi dan akhirnya seluruh hidupnya langsung akan berubah - hidupnya akan menjadi puas. Tapi biarlah setiap hari kita menyadari dan selalu memeriksa hati kita apakah kita tidak puas karena kita merasa ada banyak yang belum kita dapatkan dalam hidup ini, sehingga seolah-olah hal itu dapat mengantikan Allah, dan bahwa Allah tidak sanggup mengantikan keinginan untuk memiliki hal tersebut dengan Allah itu sendiri.
Jadi kepuasan itu apa? Kepuasan adalah hidup di dalam Kristus yang menjadi sumber segala sesuatu yang akan melampaui keinginan kita untuk memiliki segala hal di dalam dunia ini yang sedikit pun kita tidak bawa ketika kita lahir dan sedikitpun tidak kita akan bawa ketika kita meninggal.
Puaslah akan apa yang Tuhan sudah berikan dalam kehidupan kita, bahkan kalau pemberian Tuhan hanyalah makanan untuk kita makan dan pakaian untuk kita pakai.
1 Timothy 6:6-8 (ESV)
Now there is great gain in godliness with contentment, for we brought nothing into the world, and we cannot take anything out of the world. But if we have food and clothing, with these we will be content.
Memang manusia tidak pernah puas dengan keadaannya, karena kecenderungan hati manusia akan selalu membandingkan keadaannya dengan orang lain, seolah-olah orang lain lebih 'beruntung' dari pada keadaan dia pada saat dia mulai menggerutu.
Jelas sekali di luar Tuhan tidak akan pernah ada kepuasan, kita bisa mencoba mencari kepuasan dari makanan, minuman, pakaian, pekerjaan, uang, kekuasaan, atau apapun. Tapi setelah kita memiliki semua hal itu ternyata kita masih belum puas. Kita akan selalu mau memiliki lebih dari apa yang kita punya. Uang yang lebih banyak, makanan yang lebih enak, pacar yang lebih cantik, akhirnya kita akan mengerti bahwa kita sudah hidup ditipu oleh segala sesuatu yang seolah-olah, atau kelihatannya bisa memuaskan kita, tetapi ternyata tidak ada yang bisa memuaskan kita selain daripada Allah.
Sebelum Kristus sebagai air hidup menjadi Tuhan atas hidup, kita akan selalu merasa tidak puas akan hidup ini. Memang bukan hal yang mudah, seperti halnya orang bangun pagi dan akhirnya seluruh hidupnya langsung akan berubah - hidupnya akan menjadi puas. Tapi biarlah setiap hari kita menyadari dan selalu memeriksa hati kita apakah kita tidak puas karena kita merasa ada banyak yang belum kita dapatkan dalam hidup ini, sehingga seolah-olah hal itu dapat mengantikan Allah, dan bahwa Allah tidak sanggup mengantikan keinginan untuk memiliki hal tersebut dengan Allah itu sendiri.
Jadi kepuasan itu apa? Kepuasan adalah hidup di dalam Kristus yang menjadi sumber segala sesuatu yang akan melampaui keinginan kita untuk memiliki segala hal di dalam dunia ini yang sedikit pun kita tidak bawa ketika kita lahir dan sedikitpun tidak kita akan bawa ketika kita meninggal.
Puaslah akan apa yang Tuhan sudah berikan dalam kehidupan kita, bahkan kalau pemberian Tuhan hanyalah makanan untuk kita makan dan pakaian untuk kita pakai.
1 Timothy 6:6-8 (ESV)
Now there is great gain in godliness with contentment, for we brought nothing into the world, and we cannot take anything out of the world. But if we have food and clothing, with these we will be content.
06 September, 2010
Kesusahan besok
Posted by
Anton Triyanto

Apakah Tuhan itu ada? Apakah Aku percaya Tuhan itu ada?
Posted by
Anton Triyanto
Berikut adalah pernyataan pernyataan yang mungkin.
1.
a. Aku tahu Tuhan itu ada
b. Aku tidak tahu Tuhan itu ada
c. Aku tahu Tuhan itu tidak ada
d. Aku tidak tahu Tuhan itu tidak ada
2.
a. Aku percaya Tuhan itu ada
b. Aku tidak percaya Tuhan itu ada
c. Aku percaya Tuhan itu tidak ada
d. Aku tidak percaya Tuhan itu tidak ada
1.
a. Aku tahu Tuhan itu ada
b. Aku tidak tahu Tuhan itu ada
c. Aku tahu Tuhan itu tidak ada
d. Aku tidak tahu Tuhan itu tidak ada
2.
a. Aku percaya Tuhan itu ada
b. Aku tidak percaya Tuhan itu ada
c. Aku percaya Tuhan itu tidak ada
d. Aku tidak percaya Tuhan itu tidak ada
03 September, 2010
Waktu kita merasa tidak seperti "tuhan"
Posted by
Anton Triyanto
“Man approaches God most nearly when he is in one sense least like God” CS. Lewis.
Ini kalimat bagus banget dari C.S. Lewis dalam bukunya "The Four Loves", waktu kita masih menganggap diri kita seperti 'tuhan' tentu kita tidak perlu menghampiri Tuhan karena kita masih dapat melakukan apa yang bisa kita lakukan, tetapi ketika kita sudah putus asa, seolah-olah kita tidak bisa melakukan apa-apa, barulah kita menyadari ternyata kita bukanlah 'tuhan', barulah kita mencari Tuhan yang sesungguhnya.
Namun waktu kita menghampiri Tuhan setelah kita putus asa, kita tetap harus meng-intropeksi kalau kenyataannya kita hanya menghampiri Tuhan hanya untuk pemuasan sesuatu yang kurang dalam hidup kita bukan benar-benar karena Tuhan itu sendiri adanya.
Ini kalimat bagus banget dari C.S. Lewis dalam bukunya "The Four Loves", waktu kita masih menganggap diri kita seperti 'tuhan' tentu kita tidak perlu menghampiri Tuhan karena kita masih dapat melakukan apa yang bisa kita lakukan, tetapi ketika kita sudah putus asa, seolah-olah kita tidak bisa melakukan apa-apa, barulah kita menyadari ternyata kita bukanlah 'tuhan', barulah kita mencari Tuhan yang sesungguhnya.
Namun waktu kita menghampiri Tuhan setelah kita putus asa, kita tetap harus meng-intropeksi kalau kenyataannya kita hanya menghampiri Tuhan hanya untuk pemuasan sesuatu yang kurang dalam hidup kita bukan benar-benar karena Tuhan itu sendiri adanya.
04 August, 2010
Terima kasih untuk sakit
Posted by
Anton Triyanto
Setelah membaca "Where is God when it hurts" oleh Phillip Yancey, saya mulai bisa mengucap syukur bagi setiap sakit yang kita alami, seringkali orang berpikir ketika sakit maka ada sesuatu yang Tuhan mau utarakan dalam hidup kita, ataupun ada satu kesalahan yang kita perbuat. Apakah benar demikian. Ternyata tidak selalu demikian. Tidak ada seorangpun yang akan luput dari murka Allah, seorangpun tidak, dan bukan berarti ketika kita tidak mengalami penderitaan, maka Allah di pihak kita, jika kita mengalami penderitaan maka Allah tidak ada di pihak kita.
Terima kasih, ketika kita mengalami sakit, entah sakit secara jasmani ataupun sakit secara batin, itulah tandanya kita masih hidup sebagai manusia. Mendengar bagaimana orang-orang penyakit kusta, mereka tidak bisa merasakan sakit sehingga tubuh mereka dapat terluka lebih mudah, karena tidak adanya sensor untuk merasakan sakit dan refleks untuk menghindar dari kesakitan yang mendadak ataupun kesakitan yang secara bertahap.
Saya teringat ketika Tuhan menyembuhkan orang penyakit kusta, mereka bersyukur karena mereka sembuh...namun kesembuhan mereka adalah karena mereka dapat kembali merasakan sakit di dalam tubuh mereka.
Terima kasih Tuhan buat sakit yang kami derita baik secara jasmani maupun batiniah.
Terima kasih, ketika kita mengalami sakit, entah sakit secara jasmani ataupun sakit secara batin, itulah tandanya kita masih hidup sebagai manusia. Mendengar bagaimana orang-orang penyakit kusta, mereka tidak bisa merasakan sakit sehingga tubuh mereka dapat terluka lebih mudah, karena tidak adanya sensor untuk merasakan sakit dan refleks untuk menghindar dari kesakitan yang mendadak ataupun kesakitan yang secara bertahap.
Saya teringat ketika Tuhan menyembuhkan orang penyakit kusta, mereka bersyukur karena mereka sembuh...namun kesembuhan mereka adalah karena mereka dapat kembali merasakan sakit di dalam tubuh mereka.
Terima kasih Tuhan buat sakit yang kami derita baik secara jasmani maupun batiniah.
23 July, 2010
Aku tidak menyukai istriku lagi
Posted by
Anton Triyanto
Suami : Aku tidak menyukai istriku lagi !
Sahabat : Pulang dan cintailah dia!
Suami : Anda tidak mengerti aku, aku sudah tidak perasaan itu lagi!
Sahabat : Pulang dan cintailah dia!
Suami : Tetapi secara emosi aku berarti tidak jujur kalau aku memperlakukan istriku seperti itu, padahal aku tidak merasakannya.
Sahabat : Apakah menurutmu Ibumu mencintaimu?
Suami : Tentu saja (dengan mantap )
Sahabat : Kira-kira 1 minggu setelah ibumu pulang dari Rumah Sakit dan membawamu pulang, dan kamu menangis menjerit-jerit di tengah malam karena popokmu basah dan dia terpaksa bangun walau tubuhnya masih sangat letih, berjalan di lantai yg dingin tanpa alas kaki untuk mengganti popokmu dan menyusuimu. Apakah menurutmu dia sungguh-sungguh menikmati itu semua?
Suami : Tidak (menunduk)
Sahabat : Kalau begitu. Apakah Ibumu secara emosi juga tidak jujur?
Ukuran besarnya cinta bukan karena dia menikmati mengganti popok di tengah malam, melainkan karena Ibumu RELA melakukan itu semua meski dia tidak begitu menyukainya. Pernikahan tidak hanya didasari perasaan Cinta, lebih dari itu yaitu KOMITMEN.
Saat pertama seseorang menikahi istrinya pasti karena cinta, tetapi cinta yang menggebu-gebu akan padam seiring dengan berjalannya waktu. Hanya Komitmen yang membuat Cinta manggebu-gebu menjadi Cinta yang matang dan dewasa.
Lalu.. Apa yg disebut dg Cinta Sejati? Cinta sejati adalah cinta yg tdk memikirkan untung rugi, cinta yg rela berkorban demi seseorang yg dikasihinya. Inilah cinta yg harus diusahakan dalam setiap Pernikahan.
Ada orang berkata "aku cinta kamu".. berarti : "aku ingin memilikimu & biarlah kamu kumiliki" adalah cinta yang egois karena hanya bergantung pada perasaan seseorang. Sebab perasaan akan dimakan oleh waktu dan bisa saja perasaan ini muncul pada diri orang lain/pasangan orang lain.
Suasana hati mudah berubah, kondisi fisik semakin tua dan tidak menarik, komitmenlah yang menyelamatkan pernikahan.Berani melakukan sebuah "tindakan" baik dalam keadaan suka maupun tidak suka dan tetap mengasihi pasangan & mempertahankan Pernikahan yang telah Tuhan anugrahkan.
Source: Unknown
Sahabat : Pulang dan cintailah dia!
Suami : Anda tidak mengerti aku, aku sudah tidak perasaan itu lagi!
Sahabat : Pulang dan cintailah dia!
Suami : Tetapi secara emosi aku berarti tidak jujur kalau aku memperlakukan istriku seperti itu, padahal aku tidak merasakannya.
Sahabat : Apakah menurutmu Ibumu mencintaimu?
Suami : Tentu saja (dengan mantap )
Sahabat : Kira-kira 1 minggu setelah ibumu pulang dari Rumah Sakit dan membawamu pulang, dan kamu menangis menjerit-jerit di tengah malam karena popokmu basah dan dia terpaksa bangun walau tubuhnya masih sangat letih, berjalan di lantai yg dingin tanpa alas kaki untuk mengganti popokmu dan menyusuimu. Apakah menurutmu dia sungguh-sungguh menikmati itu semua?
Suami : Tidak (menunduk)
Sahabat : Kalau begitu. Apakah Ibumu secara emosi juga tidak jujur?
Ukuran besarnya cinta bukan karena dia menikmati mengganti popok di tengah malam, melainkan karena Ibumu RELA melakukan itu semua meski dia tidak begitu menyukainya. Pernikahan tidak hanya didasari perasaan Cinta, lebih dari itu yaitu KOMITMEN.
Saat pertama seseorang menikahi istrinya pasti karena cinta, tetapi cinta yang menggebu-gebu akan padam seiring dengan berjalannya waktu. Hanya Komitmen yang membuat Cinta manggebu-gebu menjadi Cinta yang matang dan dewasa.
Lalu.. Apa yg disebut dg Cinta Sejati? Cinta sejati adalah cinta yg tdk memikirkan untung rugi, cinta yg rela berkorban demi seseorang yg dikasihinya. Inilah cinta yg harus diusahakan dalam setiap Pernikahan.
Ada orang berkata "aku cinta kamu".. berarti : "aku ingin memilikimu & biarlah kamu kumiliki" adalah cinta yang egois karena hanya bergantung pada perasaan seseorang. Sebab perasaan akan dimakan oleh waktu dan bisa saja perasaan ini muncul pada diri orang lain/pasangan orang lain.
Suasana hati mudah berubah, kondisi fisik semakin tua dan tidak menarik, komitmenlah yang menyelamatkan pernikahan.Berani melakukan sebuah "tindakan" baik dalam keadaan suka maupun tidak suka dan tetap mengasihi pasangan & mempertahankan Pernikahan yang telah Tuhan anugrahkan.
Source: Unknown
16 July, 2010
Tuhan yang merubah
Posted by
Anton Triyanto
"Wah, itu mah orang bandel banget, auban bener, hanya Tuhan yang bisa merubah!", seringkali kita mendengar pernyataan seperti ini, seolah-olah ada orang tertentu yang harus dirubah Tuhan, dan ada orang-orang yang mungkin tidak begitu 'bandel' yang tidak perlu Tuhan untuk merubah. Cobalah dipikirkan lagi apakah benar pernyataan seperti ini?.
17 June, 2010
Suka menjelekkan orang
Posted by
Anton Triyanto
"Oh si anu loh gini gitu, tau ngak kenapa" -- begitulah yang sering kita dengar tentunya ketika kita mendengar berita buruk mengenai orang, 'gosip' -- gosip bukan hanya membicarakan ketidakbenaran dari orang lain, bahkan kalaupun fakta tapi jika hal itu membuat orang yang dibicarakan tersebut tidak nyaman, sudah termasuk kategori gosip, - menjelekkan orang.
Mengapa sih kita suka menjelekkan orang? Apakah karena kita merasa kita akan lebih tinggi dari orang tersebut? Atau karena berusaha menutup kejelekan kita yang kita sadari dalam lubuk hati kita, untuk melarikan dari hal tersebut jadi kita akhirnya suka menjelekkan orang lain. Apakah benar ada orang yang lebih jelek dan ada orang yang tidak lebih jelek? Saya ini bagus loh, orang lain jelek! Apakah benar ada kemungkinan seperti itu bahwa satu orang lebih baik dari orang yang lain. Ternyata tidak. Karena semua manusia sudah jatuh dalam dosa, dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Ketika kita menyadari dosa kita lebih besar dari orang lain, bukan hanya karena kita melakukan perbuatan jahat yang lebih banyak, tapi kita menyadari di dalam lubuk hati kita yang paling dalam bahwa kita adalah manusia yang berdosa. Manusia yang tidak mau Allah. Jika kita mau Allah - hal tersebut hanya karena kasih karunia, jadi apalagi yang harus dibanggakan? Selain dari Kasih Karunia di dalam Kristus Yesus.
Jika kita belum mengetahui betapa bobroknya hidup kita dan belum mengalami kasih karunia, maka kita akan terus menjelekkan orang, seolah-olah dengan menjelekkan orang kita akan menjadi sedikit lebih bernilai dari keadaan yang sekarang - karena kita masih hidup untuk menjadi penyelamat bagi diri kita sendiri.
Mengapa sih kita suka menjelekkan orang? Apakah karena kita merasa kita akan lebih tinggi dari orang tersebut? Atau karena berusaha menutup kejelekan kita yang kita sadari dalam lubuk hati kita, untuk melarikan dari hal tersebut jadi kita akhirnya suka menjelekkan orang lain. Apakah benar ada orang yang lebih jelek dan ada orang yang tidak lebih jelek? Saya ini bagus loh, orang lain jelek! Apakah benar ada kemungkinan seperti itu bahwa satu orang lebih baik dari orang yang lain. Ternyata tidak. Karena semua manusia sudah jatuh dalam dosa, dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Ketika kita menyadari dosa kita lebih besar dari orang lain, bukan hanya karena kita melakukan perbuatan jahat yang lebih banyak, tapi kita menyadari di dalam lubuk hati kita yang paling dalam bahwa kita adalah manusia yang berdosa. Manusia yang tidak mau Allah. Jika kita mau Allah - hal tersebut hanya karena kasih karunia, jadi apalagi yang harus dibanggakan? Selain dari Kasih Karunia di dalam Kristus Yesus.
Jika kita belum mengetahui betapa bobroknya hidup kita dan belum mengalami kasih karunia, maka kita akan terus menjelekkan orang, seolah-olah dengan menjelekkan orang kita akan menjadi sedikit lebih bernilai dari keadaan yang sekarang - karena kita masih hidup untuk menjadi penyelamat bagi diri kita sendiri.
05 June, 2010
Kain dan Habel
Posted by
Anton Triyanto
Tentunya kita sudah sering mendengar kisah Kain dan Habel, pertanyaan yang sering ditanyakan mengapa Tuhan mengindahkan persembahan Habel tapi tidak mengindahkan persembahan Kain, mengapa hal ini terjadi?
Ada pandangan mengatakan, bahwa karena Habel memberikan lemak-lemak dan timbulah asumsi bahwa Habel memberikan yang terbaik sedangkan Kain hanya memberikan hanya sebagian dari hasil tanah, atas dasar inilah Tuhan hanya mengindahkan persembahan Habel.
Ada juga pandangan yang mengatakan Tuhan hanya mengindahkan korban bakaran untuk itulah persembahan Habel yang diterima, dan ada yang berpendapat salah sendiri Kain tidak mau menukarkan sebagian hasil tanahnya dengan domba kepunyaan Habel.
Apakah pendapat kedua ini dapat diterima, kalau memang keduanya benar apakah memang kita diselamatkan oleh karena perbuatan kita? Dalam suratan Ibrani dikatakan
Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati.
1 Yohanes 4:10
Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus AnakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.
Ada pandangan mengatakan, bahwa karena Habel memberikan lemak-lemak dan timbulah asumsi bahwa Habel memberikan yang terbaik sedangkan Kain hanya memberikan hanya sebagian dari hasil tanah, atas dasar inilah Tuhan hanya mengindahkan persembahan Habel.
Ada juga pandangan yang mengatakan Tuhan hanya mengindahkan korban bakaran untuk itulah persembahan Habel yang diterima, dan ada yang berpendapat salah sendiri Kain tidak mau menukarkan sebagian hasil tanahnya dengan domba kepunyaan Habel.
Apakah pendapat kedua ini dapat diterima, kalau memang keduanya benar apakah memang kita diselamatkan oleh karena perbuatan kita? Dalam suratan Ibrani dikatakan
Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati.
Apakah ini berarti karena Habel 'lebih percaya' kepada Tuhan dibandingkan Kain? Tanpa iman tidak ada seorang yang dapat melihat Allah, karena tanpa Iman kita tidak akan pernah dapat percaya bahwa Allah itu ada dan bahwa Allah mengutus anakNya untuk menjadi tebusan bagi kita, dan Iman itu nyata oleh penebusan di dalam Kristus Yesus sebagai perantara antara manusia yang berdosa dengan Allah yang Maha Agung.
Jadi percaya kepada Tuhan semata-mata karena anugrah yang diberikan oleh Tuhan kepada kita bukan karena kita yang melakukannya. Dan Habel pun diindahkan persembahannya hanya oleh kasih karunia Allah tanpa ada dasar perbuatan yang dilakukan oleh Habel, apakah berarti Allah tidak adil? Mustahil Allah tidak adil.
Roma 9:15-16
Sebab Ia berfirman kepada Musa: "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati."
Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah.
1 Yohanes 4:10
Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus AnakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.
01 June, 2010
Tiga hal menuju kebinasaan
Posted by
Anton Triyanto
| Perbedaan | Tuhan Berfirman (Kejadian 2:16-17) | Hawa Menjawab (Kejadian 3:2-3) |
|---|---|---|
| Tuhan memberikan anugerah kepada manusia secara bebas memakan buah yang ada di dalam taman tersebut, namun seringkali manusia membatasi anugerah tersebut, mengurangi anugrah tersebut. Seolah-olah anugrah itu harus disertai oleh perbuatan baik kita | Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas | Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, |
| Tuhan tidak pernah memberitahu mengenai meraba buah, namun manusia menambahkan Firman dengan mengatakan 'meraba' - sepertinya sok tahu. Banyak dari kita seperti itu juga, kita memodifikasi Firman Tuhan supaya sesuai dengan cara berpikir kita, seolah-olah Firman Tuhan itu kurang lengkap dan butuh ditambah. | tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya sebab pada hari engkau memakannya, | tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu |
| Mengurangi konsekuensi dosa, dengan menghilangkan kata 'pasti', kita selalu menganggap konsekuensi dosa adalah hal yang kecil, dengan cara menguranginya, misalnya: "Ah tidak apa apa, ini kan dosa yang kecil, efeknya ngak terlalu kelihatan" - walaupun di hadapan Allah tidak ada dosa yang kecil, dan efeknya dosa adalah sama, yaitu maut. | pastilah engkau mati. | nanti kamu mati. |
19 April, 2010
Displin dalam hal memakai Internet
Posted by
Anton Triyanto
Internet oh Internet mengapa engkau banyak sekali menyita waktuku.
Waktu aku mau doa, ada internet.
Waktu aku mau baca Alkitab, ada intenet
Waktu aku mau bersekutu dengan Tuhan, ada internet.
Aku berkata kepada lubuk hatiku displinkanlah dirimu untuk tidak memakai internet secara berlebihan, yang akhirnya menyita waktu untuk sesuatu yang tidak berguna. Dari satu link ke link yang lain, dari satu situs ke situs yang lainnya, serasa memuaskan jiwa, namun hal ini pun sia-sia karena hanya ada satu kepuasan sejati yaitu dalam Kristus.
Tuhan berikan aku hati yang mau mendisplinkan diri untuk berdoa,baca Alkitab dan bersekutu dengan Engkau.
Amin.
Waktu aku mau doa, ada internet.
Waktu aku mau baca Alkitab, ada intenet
Waktu aku mau bersekutu dengan Tuhan, ada internet.
Aku berkata kepada lubuk hatiku displinkanlah dirimu untuk tidak memakai internet secara berlebihan, yang akhirnya menyita waktu untuk sesuatu yang tidak berguna. Dari satu link ke link yang lain, dari satu situs ke situs yang lainnya, serasa memuaskan jiwa, namun hal ini pun sia-sia karena hanya ada satu kepuasan sejati yaitu dalam Kristus.
Tuhan berikan aku hati yang mau mendisplinkan diri untuk berdoa,baca Alkitab dan bersekutu dengan Engkau.
Amin.
29 March, 2010
Matahari tidak pernah terbit dari Timur
Posted by
Anton Triyanto
Kita memulai hari dengan Matahari terbit dari sebelah Timur,
dan kita menutup hari dengan Matahari terbenam ke sebelah Barat.
Pada kenyataannya Matahari tidak pernah terbit,
itu hanyalah fenomena yang kita lihat.
Seringkali kita hanya dapat melihat masalah melalui kacamata manusia dan tidak pernah melihat dari kacamata Allah. Tanpa Iman, manusia tidak akan pernah melihat masalah melalui kacamata Allah. AT.
dan kita menutup hari dengan Matahari terbenam ke sebelah Barat.
Pada kenyataannya Matahari tidak pernah terbit,
itu hanyalah fenomena yang kita lihat.
Seringkali kita hanya dapat melihat masalah melalui kacamata manusia dan tidak pernah melihat dari kacamata Allah. Tanpa Iman, manusia tidak akan pernah melihat masalah melalui kacamata Allah. AT.
25 March, 2010
Sekali seumur hidup
Posted by
Anton Triyanto
Slogan ini sering dikatakan oleh tukang foto pernikahan, tukang video pernikahan, konsumsi, tukang bikin kue dan yang lain sebagainya, ketika seseorang menikah, maka inilah yang dikatakan - "Pakai yang ini, yang terbaik karena sekali seumur hidup" -- Hmm... apakah memang benar atau hanya pembenaran diri untuk menciptakan pesta pernikahan yang sempurna, yang seringkali karena kita sudah melihat adanya satu standard, misalnya teman kita menikah wah..maka kita tidak mau kalau dengan berusaha lebih wah. Kemudian melalui kesempatan inilah marketing dari semua yang ikut ambil bagian dalam sebuah pernikahan, untuk menjual produk mereka yang terbaik dan termahal dengan alasan "sekali seumur hidup".
Kadang kita tidak adil terhadap diri sendiri, bagaimana dengan seorang asing yang duduk di sebelah kita ketika kita berada di dalam pesawat, bukankah orang tersebut juga mungkin "sekali seumur hidup" duduk di sebelah Anda, tapi kita tidak mau menginjili dia. Misalnya juga kita sekali seumur hidup bertemu dengan dia, namun kenapa kita tidak baik terhadap mereka, sehingga ada satu kesempatan memberitakan injil kepada mereka. Bukankah kita ini tidak adil terhadap diri kita sendiri?
Kalau kita menjalani satu hari sekali seumur hidup, kenapa kita tidak pernah mau melakukan yang terbaik? Misalnya hanya satu kali dalam seumur hidup kita akan mengalami tanggal 25 Maret 2010. Bahkan hal itu bukan hanya 'mungkin' tapi 'pasti' kita tidak akan mengalami hari tersebut dalam hidup kita. Tapi sudahkah kita mempergunakannya secara baik. Hmm..Satu refleksi yang harus kita renungkan bersama-sama.
Jadi kalau ada slogan "Sekali Seumur Hidup" -- ini hanyalah cliche untuk tujuan marketing bagi mereka untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, sedangkan dari pihak yang memakai produk mereka hanyalah untuk pembenaran diri, kesempatan untuk menciptakan yang terbaik -- seolah-olah kesempatan itu tidak akan pernah datang lagi.
Kadang kita tidak adil terhadap diri sendiri, bagaimana dengan seorang asing yang duduk di sebelah kita ketika kita berada di dalam pesawat, bukankah orang tersebut juga mungkin "sekali seumur hidup" duduk di sebelah Anda, tapi kita tidak mau menginjili dia. Misalnya juga kita sekali seumur hidup bertemu dengan dia, namun kenapa kita tidak baik terhadap mereka, sehingga ada satu kesempatan memberitakan injil kepada mereka. Bukankah kita ini tidak adil terhadap diri kita sendiri?
Kalau kita menjalani satu hari sekali seumur hidup, kenapa kita tidak pernah mau melakukan yang terbaik? Misalnya hanya satu kali dalam seumur hidup kita akan mengalami tanggal 25 Maret 2010. Bahkan hal itu bukan hanya 'mungkin' tapi 'pasti' kita tidak akan mengalami hari tersebut dalam hidup kita. Tapi sudahkah kita mempergunakannya secara baik. Hmm..Satu refleksi yang harus kita renungkan bersama-sama.
Jadi kalau ada slogan "Sekali Seumur Hidup" -- ini hanyalah cliche untuk tujuan marketing bagi mereka untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, sedangkan dari pihak yang memakai produk mereka hanyalah untuk pembenaran diri, kesempatan untuk menciptakan yang terbaik -- seolah-olah kesempatan itu tidak akan pernah datang lagi.
21 March, 2010
Musik Gereja Membosankan
Posted by
Anton Triyanto
Kita hidup di jaman post-modern di mana pemikiran mengenai lagu-lagu yang dinyanyikan khususnya di gereja Injili, Reformed, Baptist dan yang lainnya yang masih memakai Himne adalah sangat membosankan. Kita bisa berkata "Sangat membosankan". Mengapa bisa terjadi kata-kata seperti ini, apakah memang benar musiknya yang salah dan harus berevolusi menjadi musik yang lebih bisa didengar oleh kuping ini.
Dalam hidup kita selalu mendengarkan musik, namun kecenderungan di jaman sekarang di manapun yang kita dengar entah itu di cafe, tempat-tempat umum adalah jenis-jenis musik seperti RnB, Rap, Metal, Pop, slow rock, Jazz dan yang lainnya -- sehingga kuping kita ini mau tidak mau sudah terpengaruh dengan satu kebiasaan mendengar lagu-lagu dengan style tertentu. Ketika kita di gereja kita mau juga menyanyikan lagu-lagu rohani yang berirama seperti itu, kalau tidak akan terdengar sangat membosankan. "IT'S SO BORING!!!", sebenarnya yang boring itu kita atau lagunya?
Lagu-lagu kontemporer yang sepertinya 'rohani' pun mulai diadaptasi oleh gereja, tanpa menseleksi dengan ketat baik dari segi nada, irama, teologianya dan prinsip-prinsip pengajaran yang terkandung dari lagu tersebut. Lagu-lagu kontemporer akhirnya diciptakan banyak dan cepat karena adanya unsur komersial. Dan gereja sebagai konsumen tidak terlalu mau ambil pusing dalam hal ini, asalkan bisa memakai lagu tersebut supaya orang-orang muda bisa lebih banyak datang ke gereja, mengapa tidak? Sama seperti ketika kita makan, kita tidak lagi memperdulikan apakah makanan tersebut itu dapat membahayakan kesehatan kita atau tidak, asalkan enak.
Bukannya saya menentang lagu-lagu kontemporer, namun kita benar-benar harus selektif jangan hanya karena musiknya bagus dan enak didengar berarti itu benar, atau lirik-liriknya gampang dihapal dan gampang dicerna itu bagus dan dipakai. Jaman post-modern ini mempengaruhi manusia, dengan sikap seperti ini "Selama saya merasa nyaman, maka hal itu adalah kebenaran" -- jadi yang menentukan kebenaran adalah diri kita sendiri. Marilah kita sama-sama belajar untuk tidak menyerupai dunia ini yang semakin hari semakin mengalami penurunan, salah satunya adalah dalam hal musik.
Artikel ini saya tulis, karena terinspirasi melalui seminar "The Value of Hymn" yang saya harap bisa memberikan berkat bagi kita semua.
Dalam hidup kita selalu mendengarkan musik, namun kecenderungan di jaman sekarang di manapun yang kita dengar entah itu di cafe, tempat-tempat umum adalah jenis-jenis musik seperti RnB, Rap, Metal, Pop, slow rock, Jazz dan yang lainnya -- sehingga kuping kita ini mau tidak mau sudah terpengaruh dengan satu kebiasaan mendengar lagu-lagu dengan style tertentu. Ketika kita di gereja kita mau juga menyanyikan lagu-lagu rohani yang berirama seperti itu, kalau tidak akan terdengar sangat membosankan. "IT'S SO BORING!!!", sebenarnya yang boring itu kita atau lagunya?
Lagu-lagu kontemporer yang sepertinya 'rohani' pun mulai diadaptasi oleh gereja, tanpa menseleksi dengan ketat baik dari segi nada, irama, teologianya dan prinsip-prinsip pengajaran yang terkandung dari lagu tersebut. Lagu-lagu kontemporer akhirnya diciptakan banyak dan cepat karena adanya unsur komersial. Dan gereja sebagai konsumen tidak terlalu mau ambil pusing dalam hal ini, asalkan bisa memakai lagu tersebut supaya orang-orang muda bisa lebih banyak datang ke gereja, mengapa tidak? Sama seperti ketika kita makan, kita tidak lagi memperdulikan apakah makanan tersebut itu dapat membahayakan kesehatan kita atau tidak, asalkan enak.
Bukannya saya menentang lagu-lagu kontemporer, namun kita benar-benar harus selektif jangan hanya karena musiknya bagus dan enak didengar berarti itu benar, atau lirik-liriknya gampang dihapal dan gampang dicerna itu bagus dan dipakai. Jaman post-modern ini mempengaruhi manusia, dengan sikap seperti ini "Selama saya merasa nyaman, maka hal itu adalah kebenaran" -- jadi yang menentukan kebenaran adalah diri kita sendiri. Marilah kita sama-sama belajar untuk tidak menyerupai dunia ini yang semakin hari semakin mengalami penurunan, salah satunya adalah dalam hal musik.
Artikel ini saya tulis, karena terinspirasi melalui seminar "The Value of Hymn" yang saya harap bisa memberikan berkat bagi kita semua.
19 March, 2010
Jangan menikah dengan orang yang sempurna
Posted by
Anton Triyanto
Jangan menikah dengan orang yang sempurna karena jika kita menikah dengan dia maka dia akan menjadi tidak sempurna. Menikahlah dengan orang yang tidak sempurna dan berusahalah bersama-sama menuju kesempurnaan itu.
Jadikan saya domba yang hilang dan yang ditemukan
Posted by
Anton Triyanto
Lukas 15:1-7
1 Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. 2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." 3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: 4 "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? 5 Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, 6 dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. 7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."
Dulu ketika membaca perumpamaan ini saya selalu beranggapan bahwa saya adalah termasuk dalam 99 domba karena saya sudah ditemukan ataupun karena saya sudah dibenarkan, namun setelah membaca buku "A Tale of Two Sons" - John Macarthur kemudian meneliti lebih jauh lagi, saya lebih baik memilih untuk menjadi domba yang hilang dan yang ditemukan,menjadi orang berdosa, bukan menjadi tapi saya adalah orang berdosa yang memerlukan pertobatan. Apakah 99 orang benar yang dimaksudkan oleh Yesus benar-benar orang yang benar atau orang-orang yang menganggap dirinya benar?
Jelas maksud Yesus 99 orang tidak memerlukan pertobatan bukan berarti mereka sudah benar, dan tidak perlu bertobat, namun cerita ini sebagai introduksi mengenai ahli Taurat dan orang Farisi di mana mereka selalu membenarkan diri mereka. Sebelum perumpamaan ini diceritakan, Yesus diejek karena berkumpul dengan berdosa, kemudian atas dasar itulah Yesus menceritakan 3 perumpamaan Domba yang Hilang, Keping yang Hilang, dan akhirnya ditutup oleh perumpamaan Anak yang hilang.
99 domba tidak memerlukan pertobatan, demikian anak yang sulung tidak diberitahu apakah dia bertobat atau tidak, jadi perumpamaan ini adalah panggilan dan seruan untuk bertobat bagi kita semua orang-orang berdosa, kita adalah domba yang hilang, kita adalah kepingan yang hilang, kita semua adalah anak yang hilang.
Call to prayer
Tuhan buat saya domba yang hilang ditemukan
Tuhan buat saya kepingan yang hilang ditemukan
Tuhan buat saya anak yang hilang ditemukan
Tuhan buat saya yang 'mati' ini menjadi 'hidup'
1 Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. 2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." 3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: 4 "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? 5 Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, 6 dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. 7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."
Dulu ketika membaca perumpamaan ini saya selalu beranggapan bahwa saya adalah termasuk dalam 99 domba karena saya sudah ditemukan ataupun karena saya sudah dibenarkan, namun setelah membaca buku "A Tale of Two Sons" - John Macarthur kemudian meneliti lebih jauh lagi, saya lebih baik memilih untuk menjadi domba yang hilang dan yang ditemukan,
Jelas maksud Yesus 99 orang tidak memerlukan pertobatan bukan berarti mereka sudah benar, dan tidak perlu bertobat, namun cerita ini sebagai introduksi mengenai ahli Taurat dan orang Farisi di mana mereka selalu membenarkan diri mereka. Sebelum perumpamaan ini diceritakan, Yesus diejek karena berkumpul dengan berdosa, kemudian atas dasar itulah Yesus menceritakan 3 perumpamaan Domba yang Hilang, Keping yang Hilang, dan akhirnya ditutup oleh perumpamaan Anak yang hilang.
99 domba tidak memerlukan pertobatan, demikian anak yang sulung tidak diberitahu apakah dia bertobat atau tidak, jadi perumpamaan ini adalah panggilan dan seruan untuk bertobat bagi kita semua orang-orang berdosa, kita adalah domba yang hilang, kita adalah kepingan yang hilang, kita semua adalah anak yang hilang.
Call to prayer
Tuhan buat saya domba yang hilang ditemukan
Tuhan buat saya kepingan yang hilang ditemukan
Tuhan buat saya anak yang hilang ditemukan
Tuhan buat saya yang 'mati' ini menjadi 'hidup'
08 March, 2010
Lebih dari pemenang
Posted by
Anton Triyanto
Roma 8:37
Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.
Dahulu ayat ini selalu ada mendengung di kuping saya, baik dalam nyanyian maupun dalam perbincangan-perbincangan rohani. Saya selalu menganggap dan membayangkan kalau saya seorang pemenang berarti masalah apapun yang saya alami, saya akan berhasil keluar dari pada masalah tersebut, karena saya adalah seorang pemenang. Misalnya ketika saya menderita, maka karena saya lebih dari seorang pemenang maka saya tidak akan menderita lagi setelah itu. Jika saya miskin, karena saya lebih dari pemenang maka Allah akan memberkati 'berkat' jasmani kepada saya. Ketika orang-orang membenci saya, karena saya lebih pemenang maka Allah akan menghukum orang-orang tersebut. Yah, karena saya adalah lebih dari pemenang.
Benarkah demikian? Setelah sekian lama saya merenungi Roma 8 semakin luluh hati saya melihat kedaulatan Allah terhadap hidup saya yang seperti embun pagi yang dapat hilang tertepa angin kapanpun Dia mau.
Kemenangan ini bukanlah kemenangan atas kehidupan di dunia ini, jelas Paulus sedang membicarakan tentang penderitaan berjuang melawan dosa (Roma 8:1-18), tapi Paulus melanjutkannya bahwa kemuliaan yang akan kita dapatkan melebihi dari segalanya dan kemuliaan itu kita peroleh hanya melalui Kristus Yesus, karena itu ketika kita sudah berada di dalam Kristus tidak ada yang dapat memisahkan kita, baik itu penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya ataupun pedang. Itulah kemenangan tersebut. Walaupun kita mengalami segala hal-hal yang tidak mengenakkan di dunia ini dan mungkin tetap berada dalam hal tersebut, kita tetap lebih dari pemenang, karena kita sudah mendapatkan kemenangan melalui Kristus Yesus (1 Korintus 15:57), yaitu Dia yang mengasihi kita yang menjadi bukti bahwa kita yang dipilih, dan kita yang dipanggil, dan kita yang dibenarkan, dan kita yang dimuliakan satu hari kelak.
Artikel terkait
Segala sesuatu mendatangkan kesempurnaan Kristus
Segala sesuatu mendatangkan kebaikan
Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.
Dahulu ayat ini selalu ada mendengung di kuping saya, baik dalam nyanyian maupun dalam perbincangan-perbincangan rohani. Saya selalu menganggap dan membayangkan kalau saya seorang pemenang berarti masalah apapun yang saya alami, saya akan berhasil keluar dari pada masalah tersebut, karena saya adalah seorang pemenang. Misalnya ketika saya menderita, maka karena saya lebih dari seorang pemenang maka saya tidak akan menderita lagi setelah itu. Jika saya miskin, karena saya lebih dari pemenang maka Allah akan memberkati 'berkat' jasmani kepada saya. Ketika orang-orang membenci saya, karena saya lebih pemenang maka Allah akan menghukum orang-orang tersebut. Yah, karena saya adalah lebih dari pemenang.
Benarkah demikian? Setelah sekian lama saya merenungi Roma 8 semakin luluh hati saya melihat kedaulatan Allah terhadap hidup saya yang seperti embun pagi yang dapat hilang tertepa angin kapanpun Dia mau.
Kemenangan ini bukanlah kemenangan atas kehidupan di dunia ini, jelas Paulus sedang membicarakan tentang penderitaan berjuang melawan dosa (Roma 8:1-18), tapi Paulus melanjutkannya bahwa kemuliaan yang akan kita dapatkan melebihi dari segalanya dan kemuliaan itu kita peroleh hanya melalui Kristus Yesus, karena itu ketika kita sudah berada di dalam Kristus tidak ada yang dapat memisahkan kita, baik itu penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya ataupun pedang. Itulah kemenangan tersebut. Walaupun kita mengalami segala hal-hal yang tidak mengenakkan di dunia ini dan mungkin tetap berada dalam hal tersebut, kita tetap lebih dari pemenang, karena kita sudah mendapatkan kemenangan melalui Kristus Yesus (1 Korintus 15:57), yaitu Dia yang mengasihi kita yang menjadi bukti bahwa kita yang dipilih, dan kita yang dipanggil, dan kita yang dibenarkan, dan kita yang dimuliakan satu hari kelak.
Artikel terkait
Segala sesuatu mendatangkan kesempurnaan Kristus
Segala sesuatu mendatangkan kebaikan