Kita hidup di jaman post-modern di mana pemikiran mengenai lagu-lagu yang dinyanyikan khususnya di gereja Injili, Reformed, Baptist dan yang lainnya yang masih memakai Himne adalah sangat membosankan. Kita bisa berkata "Sangat membosankan". Mengapa bisa terjadi kata-kata seperti ini, apakah memang benar musiknya yang salah dan harus berevolusi menjadi musik yang lebih bisa didengar oleh kuping ini.
Dalam hidup kita selalu mendengarkan musik, namun kecenderungan di jaman sekarang di manapun yang kita dengar entah itu di cafe, tempat-tempat umum adalah jenis-jenis musik seperti RnB, Rap, Metal, Pop, slow rock, Jazz dan yang lainnya -- sehingga kuping kita ini mau tidak mau sudah terpengaruh dengan satu kebiasaan mendengar lagu-lagu dengan style tertentu. Ketika kita di gereja kita mau juga menyanyikan lagu-lagu rohani yang berirama seperti itu, kalau tidak akan terdengar sangat membosankan. "IT'S SO BORING!!!", sebenarnya yang boring itu kita atau lagunya?
Lagu-lagu kontemporer yang sepertinya 'rohani' pun mulai diadaptasi oleh gereja, tanpa menseleksi dengan ketat baik dari segi nada, irama, teologianya dan prinsip-prinsip pengajaran yang terkandung dari lagu tersebut. Lagu-lagu kontemporer akhirnya diciptakan banyak dan cepat karena adanya unsur komersial. Dan gereja sebagai konsumen tidak terlalu mau ambil pusing dalam hal ini, asalkan bisa memakai lagu tersebut supaya orang-orang muda bisa lebih banyak datang ke gereja, mengapa tidak? Sama seperti ketika kita makan, kita tidak lagi memperdulikan apakah makanan tersebut itu dapat membahayakan kesehatan kita atau tidak, asalkan enak.
Bukannya saya menentang lagu-lagu kontemporer, namun kita benar-benar harus selektif jangan hanya karena musiknya bagus dan enak didengar berarti itu benar, atau lirik-liriknya gampang dihapal dan gampang dicerna itu bagus dan dipakai. Jaman post-modern ini mempengaruhi manusia, dengan sikap seperti ini "Selama saya merasa nyaman, maka hal itu adalah kebenaran" -- jadi yang menentukan kebenaran adalah diri kita sendiri. Marilah kita sama-sama belajar untuk tidak menyerupai dunia ini yang semakin hari semakin mengalami penurunan, salah satunya adalah dalam hal musik.
Artikel ini saya tulis, karena terinspirasi melalui seminar "The Value of Hymn" yang saya harap bisa memberikan berkat bagi kita semua.
Recent Posts
Showing posts with label kritikan. Show all posts
Showing posts with label kritikan. Show all posts
21 March, 2010
23 December, 2009
Standar Kecantikan...?
Posted by
Anton Triyanto
"Kalau boleh pilih antara Tini dan Tina, maka saya akan pilih Tini, karena lebih cakep, hidungnya lebih mancung, bola matanya bersinar-sinar" -- Begitulah orang memilih berdasarkan apa yang kelihatan, walaupun kenapa Tini lebih bisa cantik di matanya Tono, dibanding Tina. Mengapa bisa begini? Mungkin di mata orang lain Tina lebih cantik dibanding dengan Tini, jadi yang sebenarnya cantik siapa yah? Cantik itu relatif sekali, kita sedikit banyak dipengaruhi oleh media, foto model yang pakai makeup kita akhirnya bilang itu cantik, standarnya adalah foto model di majalah.
Memang dalam teori Fibonacci, muka manusia ada perhitungannya baru dibilang mukanya memiliki unsur estetik, namun selama perhitungannya benar sekalipun tetap manusia mempunyai standar di dalam pikirannya, oh si A cantik, si B biasa aja, dan si C manis.
Jaman dahulu, wanita yang gemuk adalah wanita yang cantik, (monalisa) tapi di jaman sekarang malah kebanyakan pria mencari wanita yang kurus (walaupun tidak semua). Jadi akhirnya semua orang terkondisi dengan berubahnya jaman dan 'taste' dari orang-orang yang tinggal di jaman ini. Manusia pun berlomba-lomba untuk mempercantik dirinya, entah dari gaya rambut, gaya berpakaian, lekuk alis, warna lipstik, semuanya banyak sekali yang dapat dipakai untuk menambah nilai kecantikan luar tersebut.
Apakah ini salah? Menurut saya ini bukan persoalan salah atau tidak salah, dalam segala sesuatu yang kita lakukan harus ada tujuan dan pertanggungjawaban. Banyak akhirnya ketika kita melakukan permak sana permak sini, hanya karena pengaruh media, si Artis A itu rambutnya baru di 'highlight" ~ saya juga mau ikutan ah. Jadi kembali saya simpulkan bahwa kita tidak bisa memungkiri pengaruh media yang akhirnya membentuk 'standar kecantikan' dalam hidup kita.
1 Samuel 16:7
Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.
Akhir kata bersoleklah, tapi kita harus tahu tujuan dari bersolek tersebut apakah kita hanya mau mendapat nilai dari orang lain, akhirnya manusia cenderung lebih kuatir akan apa yang orang lain katakan dibanding dengan apa yang Tuhan mau ubahkan dalam hidup kita, yaitu hati kita.
Memang dalam teori Fibonacci, muka manusia ada perhitungannya baru dibilang mukanya memiliki unsur estetik, namun selama perhitungannya benar sekalipun tetap manusia mempunyai standar di dalam pikirannya, oh si A cantik, si B biasa aja, dan si C manis.
Jaman dahulu, wanita yang gemuk adalah wanita yang cantik, (monalisa) tapi di jaman sekarang malah kebanyakan pria mencari wanita yang kurus (walaupun tidak semua). Jadi akhirnya semua orang terkondisi dengan berubahnya jaman dan 'taste' dari orang-orang yang tinggal di jaman ini. Manusia pun berlomba-lomba untuk mempercantik dirinya, entah dari gaya rambut, gaya berpakaian, lekuk alis, warna lipstik, semuanya banyak sekali yang dapat dipakai untuk menambah nilai kecantikan luar tersebut.
Apakah ini salah? Menurut saya ini bukan persoalan salah atau tidak salah, dalam segala sesuatu yang kita lakukan harus ada tujuan dan pertanggungjawaban. Banyak akhirnya ketika kita melakukan permak sana permak sini, hanya karena pengaruh media, si Artis A itu rambutnya baru di 'highlight" ~ saya juga mau ikutan ah. Jadi kembali saya simpulkan bahwa kita tidak bisa memungkiri pengaruh media yang akhirnya membentuk 'standar kecantikan' dalam hidup kita.
1 Samuel 16:7
Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.
Akhir kata bersoleklah, tapi kita harus tahu tujuan dari bersolek tersebut apakah kita hanya mau mendapat nilai dari orang lain, akhirnya manusia cenderung lebih kuatir akan apa yang orang lain katakan dibanding dengan apa yang Tuhan mau ubahkan dalam hidup kita, yaitu hati kita.
16 October, 2009
Tidak perlu memberikan 'kemuliaan' bagi Tuhan!
Posted by
Anton Triyanto
Yah seharusnya kita tidak perlu memberikan 'kemuliaan' bagi Tuhan! Tunggu tunggu, jangan marah dulu biarkan saya menjelaskan maksud saya. Untuk itulah kemuliaan saya tulis dengan ada tanda kutipnya karena seringkali kita mendengar kata-kata seperti ini: "Mari beri kemuliaan bagi Tuhan!" lalu secara serentak orang-orang bertepuk tangan. Apakah ini salah? Salah tidak salah bukan urusan saya, tapi biarlah kita lebih tajam dan kritis dalam hal ini.
Apakah Tuhan kekurangan kemuliaan sehingga kita perlu memberikan sesuatu kemuliaan untuk Dia supaya Dia lebih dimuliakan lagi? Lalu muncullah kalimat seperti ini juga: "Mari kita muliakan supaya Dia lebih ditinggikan lagi", nah kembali apakah Dia kurang tinggi sehingga kita harus meninggikan Dia? Torehan ini bukan bermaksud untuk menghentikan Anda meninggikan dan memuliakan Dia dalam hidup Anda. Namun yang saya maksud adalah kerancuan akan timbul ketika kita tepuk tangan dan menganggap itu sama dengan memuliakan Tuhan.
Jadi kalau tidak tepuk tangan tentu aneh, yang lain tepuk tangan kok saya tidak, yah daripada bengong sendiri mendingan tepuk tangan juga, jadi tepuk tangan seperti ini sudah jelas palsu dan hanya dibuat-buat karena tertular, atau merasa tidak enak di sekelilingnya. Kalau musiknya bagus, juga akhirnya lebih bisa tepuk tangan lebih keras lagi seolah-olah memberikan ‘kemuliaan bagi Tuhan’ jadi kemuliaan Tuhan akhirnya diukur dari tepuk tangan kita yang keras, dari musik kita yang bagus. Apakah benar?
Loh orang dunia kan juga tepuk tangan kalau lagi konser, masa orang dunia bisa tepuk tangan kita ngak boleh tepuk tangan buat Tuhan, justru harusnya tepuk tangan lebih keras lagi, supaya lebih beda dengan orang dunia, kita kan seharusnya lebih dari orang dunia. Apakah benar pernyataan seperti ini? Tepuk tangan, adalah simbol dari appresiasi kita, dalam hal menghormati orang lain ketika seseorang mengadakan pertunjukan kita tepuk tangan untuk memberikan nilai, kalau pertunjukan bagus tepuk tangan lebih ramai (walaupun orang Timur kurang bisa seperti ini), sedangkan kalau pertunjukan jelek, yah tepuk tangan seadanya aja lah, toh juga pertunjukannya tidak terlalu memukau, dengan konsep seperti ini arti tepuk tangan hanya menjadi pemberian hormat dan nilai kepada orang yang mengadakan pertunjukan.
Jadi tentu orang yang mengadakan pertunjukan tersebut juga terpengaruh dengan tepuk tangan penonton kalau tepuk tangannya ramai, dia pasti merasa nilai dia bertambah, rasa percaya diri semakin ada, sedangkan kalau tepuk tangan sedikit, dia pasti merasa kurang percaya diri, dan merasa berkurang nilainya. Nah apakah hal ini dapat diterapkan dalam hubungan kita dengan Tuhan, kalau kita tepuk tangan hanya karena, kita merasa bahwa Tuhan akan lebih ditinggikan dan lebih dihormati dan lebih diberi nilai, ini jelas harus perhatikan secara kritis.
Memberikan kemuliaan bagi Tuhan dengan memuliakan Tuhan sangat berbeda sekali tentunya, karena dari dalam kita tidak ada kemuliaan yang dapat kita kembalikan kepada Tuhan karena manusia adalah orang yang berdosa seutuhnya di dalam manusia tidak ada yang benar dan tidak ada yang mulia yang dapat kita berikan kepada Tuhan dengan tujuan menambah nilai Tuhan, karena Tuhan tidak pernah berkekurangan dalam segala hal. Ketika kita diubahkan semakin hari semakin serupa gambar Tuhan, maka kemuliaan yang terpancar dalam hidup kita adalah pemberian Tuhan semata-mata bukan milik kita, sehingga tidak sepatutnya kita membanggakan diri bahwa kita lebih mulia dari orang lain, karena kalau memang kemuliaan Allah benar-benar tinggal dalam hidup kita maka perlakuan untuk merendahkan orang lain tentu tidak terdapat dalam kemuliaan tersebut, sehingga kalaupun terjadi maka kemuliaan itu wajib dipertanyakan apakah benar kemuliaan Tuhan atau ‘kemuliaan’ Tuhan.
Memuliakan Tuhan artinya bahwa sudah selayaknya kita diciptakan untuk memuliakan Dia, posisi kita sebagai manusia adalah untuk memuliakan Dia, bukan karena Dia kurang kemuliaan. Semakin lama kita semakin mengenal Tuhan, semakin dalamlah kita akan mengenal siapakah diri kita sebenarnya, sehingga dengan jalan seperti ini kita dapat melihat bahwa Dia adalah mulia adanya, namun karena dosa sehingga kita tidak dapat menyadari kemuliaan tersebut. Semakin kita mengenal kita sebagai orang yang berdosa, dan benar-benar berdosa maka semakin kemuliaan Tuhan terlihat dengan jelas. Jadi kalau kita mau memuliakan Tuhan dalam hidup kita baiklah kita senantiasa mengenal Dia dengan mengenal Dia maka kita akan mengenal siapakah kita sebenarnya, mengenal Dia melalui FirmanNya yang hidup dan kekal yang berkuasa menyelamatkan kita.
Dengan jalan seperti inilah kita akan secara otomatis memuliakan Tuhan, karena kita menjadi sadar bahwa kita adalah manusia berdosa yang tidak dapat berbuat apa-apa, semakin lama kita menjadi pengikut Kristus seharusnyalah kita mengetahui dosa-dosa yang ada di dalam hati kita yang terkubur dalam-dalam dan tidak pernah kita akui dan tidak pernah kita tahu. Sehingga kita dapat berkata dari semua orang akulah orang yang paling berdosa, bukan karena kita melakukan dosa lebih banyak orang lain, tapi karena akhirnya kita menyadari dan lebih mengenal akan hidup kita sendiri yang rusak seluruhnya. Kita tidak akan pernah berkata, saya lebih baik dari dia. Ketika kita memuliakan Tuhan bukan karena Dia akan lebih dimuliakan tapi karena Tuhan tidak pernah berubah kemuliaanNya dari dahulu, sekarang dan selamanya, hanya kitalah yang menyadari, bahkan terus menyadari kalau kita ini orang yang seharusnya dihukum, untuk itulah kita lebih bisa memuliakan Tuhan, tanpa pengertian seperti ini, maka memuliakan Tuhan yang kita lakukan perlu dipertanyakan dengan tanda tanya yang besar.
Kisah 17:24-25
Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.
Apakah Tuhan kekurangan kemuliaan sehingga kita perlu memberikan sesuatu kemuliaan untuk Dia supaya Dia lebih dimuliakan lagi? Lalu muncullah kalimat seperti ini juga: "Mari kita muliakan supaya Dia lebih ditinggikan lagi", nah kembali apakah Dia kurang tinggi sehingga kita harus meninggikan Dia? Torehan ini bukan bermaksud untuk menghentikan Anda meninggikan dan memuliakan Dia dalam hidup Anda. Namun yang saya maksud adalah kerancuan akan timbul ketika kita tepuk tangan dan menganggap itu sama dengan memuliakan Tuhan.
Jadi kalau tidak tepuk tangan tentu aneh, yang lain tepuk tangan kok saya tidak, yah daripada bengong sendiri mendingan tepuk tangan juga, jadi tepuk tangan seperti ini sudah jelas palsu dan hanya dibuat-buat karena tertular, atau merasa tidak enak di sekelilingnya. Kalau musiknya bagus, juga akhirnya lebih bisa tepuk tangan lebih keras lagi seolah-olah memberikan ‘kemuliaan bagi Tuhan’ jadi kemuliaan Tuhan akhirnya diukur dari tepuk tangan kita yang keras, dari musik kita yang bagus. Apakah benar?
Loh orang dunia kan juga tepuk tangan kalau lagi konser, masa orang dunia bisa tepuk tangan kita ngak boleh tepuk tangan buat Tuhan, justru harusnya tepuk tangan lebih keras lagi, supaya lebih beda dengan orang dunia, kita kan seharusnya lebih dari orang dunia. Apakah benar pernyataan seperti ini? Tepuk tangan, adalah simbol dari appresiasi kita, dalam hal menghormati orang lain ketika seseorang mengadakan pertunjukan kita tepuk tangan untuk memberikan nilai, kalau pertunjukan bagus tepuk tangan lebih ramai (walaupun orang Timur kurang bisa seperti ini), sedangkan kalau pertunjukan jelek, yah tepuk tangan seadanya aja lah, toh juga pertunjukannya tidak terlalu memukau, dengan konsep seperti ini arti tepuk tangan hanya menjadi pemberian hormat dan nilai kepada orang yang mengadakan pertunjukan.
Jadi tentu orang yang mengadakan pertunjukan tersebut juga terpengaruh dengan tepuk tangan penonton kalau tepuk tangannya ramai, dia pasti merasa nilai dia bertambah, rasa percaya diri semakin ada, sedangkan kalau tepuk tangan sedikit, dia pasti merasa kurang percaya diri, dan merasa berkurang nilainya. Nah apakah hal ini dapat diterapkan dalam hubungan kita dengan Tuhan, kalau kita tepuk tangan hanya karena, kita merasa bahwa Tuhan akan lebih ditinggikan dan lebih dihormati dan lebih diberi nilai, ini jelas harus perhatikan secara kritis.
Memberikan kemuliaan bagi Tuhan dengan memuliakan Tuhan sangat berbeda sekali tentunya, karena dari dalam kita tidak ada kemuliaan yang dapat kita kembalikan kepada Tuhan karena manusia adalah orang yang berdosa seutuhnya di dalam manusia tidak ada yang benar dan tidak ada yang mulia yang dapat kita berikan kepada Tuhan dengan tujuan menambah nilai Tuhan, karena Tuhan tidak pernah berkekurangan dalam segala hal. Ketika kita diubahkan semakin hari semakin serupa gambar Tuhan, maka kemuliaan yang terpancar dalam hidup kita adalah pemberian Tuhan semata-mata bukan milik kita, sehingga tidak sepatutnya kita membanggakan diri bahwa kita lebih mulia dari orang lain, karena kalau memang kemuliaan Allah benar-benar tinggal dalam hidup kita maka perlakuan untuk merendahkan orang lain tentu tidak terdapat dalam kemuliaan tersebut, sehingga kalaupun terjadi maka kemuliaan itu wajib dipertanyakan apakah benar kemuliaan Tuhan atau ‘kemuliaan’ Tuhan.
Memuliakan Tuhan artinya bahwa sudah selayaknya kita diciptakan untuk memuliakan Dia, posisi kita sebagai manusia adalah untuk memuliakan Dia, bukan karena Dia kurang kemuliaan. Semakin lama kita semakin mengenal Tuhan, semakin dalamlah kita akan mengenal siapakah diri kita sebenarnya, sehingga dengan jalan seperti ini kita dapat melihat bahwa Dia adalah mulia adanya, namun karena dosa sehingga kita tidak dapat menyadari kemuliaan tersebut. Semakin kita mengenal kita sebagai orang yang berdosa, dan benar-benar berdosa maka semakin kemuliaan Tuhan terlihat dengan jelas. Jadi kalau kita mau memuliakan Tuhan dalam hidup kita baiklah kita senantiasa mengenal Dia dengan mengenal Dia maka kita akan mengenal siapakah kita sebenarnya, mengenal Dia melalui FirmanNya yang hidup dan kekal yang berkuasa menyelamatkan kita.
Dengan jalan seperti inilah kita akan secara otomatis memuliakan Tuhan, karena kita menjadi sadar bahwa kita adalah manusia berdosa yang tidak dapat berbuat apa-apa, semakin lama kita menjadi pengikut Kristus seharusnyalah kita mengetahui dosa-dosa yang ada di dalam hati kita yang terkubur dalam-dalam dan tidak pernah kita akui dan tidak pernah kita tahu. Sehingga kita dapat berkata dari semua orang akulah orang yang paling berdosa, bukan karena kita melakukan dosa lebih banyak orang lain, tapi karena akhirnya kita menyadari dan lebih mengenal akan hidup kita sendiri yang rusak seluruhnya. Kita tidak akan pernah berkata, saya lebih baik dari dia. Ketika kita memuliakan Tuhan bukan karena Dia akan lebih dimuliakan tapi karena Tuhan tidak pernah berubah kemuliaanNya dari dahulu, sekarang dan selamanya, hanya kitalah yang menyadari, bahkan terus menyadari kalau kita ini orang yang seharusnya dihukum, untuk itulah kita lebih bisa memuliakan Tuhan, tanpa pengertian seperti ini, maka memuliakan Tuhan yang kita lakukan perlu dipertanyakan dengan tanda tanya yang besar.
Kisah 17:24-25
Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.
26 August, 2009
iPod Idol
Posted by
Anton Triyanto
Setiap hari perjalanan saya di dalam kereta, banyak orang yang memasang 'ear-plug' di telinganya, dan mendengarkan musik dari elektronik 'music player', salah satunya yang terkenal adalah iPod, walaupun saya akan berbicara secara umum mengenai hal ini.
Tanpa menyadari orang-orang tersebut memasang keras-keras musiknya tanpa menyadari bahwa mereka ada di tempat umum, tanpa ada kepedulian serasa merekalah yang memiliki kereta tersebut. Kadang saya melirik mereka, sambil mengernyitkan dahi, ada beberapa dari mereka menjadi sungkan dan akhirnya mengecilkan suara musiknya. Tapi tidak sedikit yang tidak acuh, sampai akhirnya ada beberapa orang akhirnya mencolek mereka dan bilang "Excuse me, could you please turn the volume down!".
Entah apa yang ada di pikiran manusia? Egoisan? Betul, tanpa peduli dengan sekitarnya mereka menyetel musik sekeras-kerasnya, seolah-olah dengan memakai 'ear-plug' yang lain tidak akan mendengar, namun kenyataannya bising sekali. Masih mending kalau musik yang diperdengarkan adalah musik yang bermutu, banyak musik yang aneh-aneh...dari trance sampai dance, dan yang lainnya yang akhirnya memekakkan telinga pendengar ataupun penumpang yang di kereta.
Manusia akhirnya mulai menyembah iPod (atau music player lainnya) , sebagai sumber 'entertainment', alasannya ketika pagi mau berangkat kerja perlu iPod untuk 'refreshing', pokoknya hidup tanpa iPod seperti hidup di neraka, akhirnya iPod mendarah daging dalam kehidupan manusia, khususnya anak-anak muda, walapun banyak juga orang-orang tua yang akhirnya berkecimpung dalam hal ini.
Jadi jika kita semua mendengarkan iPod atau music player lainnya -- sama sekali tidak dilarang tapi hendaklah kita juga 'aware' dengan lingkungan sekitar kita, jangan menjadi egois -- seolah-olah dunia ini hanya milik "I, Me and Myself".
Tanpa menyadari orang-orang tersebut memasang keras-keras musiknya tanpa menyadari bahwa mereka ada di tempat umum, tanpa ada kepedulian serasa merekalah yang memiliki kereta tersebut. Kadang saya melirik mereka, sambil mengernyitkan dahi, ada beberapa dari mereka menjadi sungkan dan akhirnya mengecilkan suara musiknya. Tapi tidak sedikit yang tidak acuh, sampai akhirnya ada beberapa orang akhirnya mencolek mereka dan bilang "Excuse me, could you please turn the volume down!".
Entah apa yang ada di pikiran manusia? Egoisan? Betul, tanpa peduli dengan sekitarnya mereka menyetel musik sekeras-kerasnya, seolah-olah dengan memakai 'ear-plug' yang lain tidak akan mendengar, namun kenyataannya bising sekali. Masih mending kalau musik yang diperdengarkan adalah musik yang bermutu, banyak musik yang aneh-aneh...dari trance sampai dance, dan yang lainnya yang akhirnya memekakkan telinga pendengar ataupun penumpang yang di kereta.
Manusia akhirnya mulai menyembah iPod (atau music player lainnya) , sebagai sumber 'entertainment', alasannya ketika pagi mau berangkat kerja perlu iPod untuk 'refreshing', pokoknya hidup tanpa iPod seperti hidup di neraka, akhirnya iPod mendarah daging dalam kehidupan manusia, khususnya anak-anak muda, walapun banyak juga orang-orang tua yang akhirnya berkecimpung dalam hal ini.
Jadi jika kita semua mendengarkan iPod atau music player lainnya -- sama sekali tidak dilarang tapi hendaklah kita juga 'aware' dengan lingkungan sekitar kita, jangan menjadi egois -- seolah-olah dunia ini hanya milik "I, Me and Myself".
22 August, 2009
Sekali lagi tentang Facebook
Posted by
Anton Triyanto
Setelah artikel yang saya tulis sebelumnya mengenai Facebook (FB), saya akan menulis satu artikel ini lagi mengenai FB. Sebelumnya tulisan-tulisan memang bersifat relatif mengenai pandangan saya tentang FB itu sendiri sehingga mungkin banyak yang berpikir bahwa seolah-olah saya terlalu menjelek-jelekkan pengguna FB. (Artikel yang lama dapat di baca di sini)
Memang saya tidak menutup kemungkinan adanya orang-orang yang memakai FB untuk pelayanan, *kalau menurut saya pribadi, saya enggan main FB karena dapat bersifat adiktif, saya bisa membuang waktu saya dengan percuma di FB, saya dapat merasa bersalah kalau tidak memeriksa FB saya ketimbang merasa bersalah karena saya tidak membaca Alkitab dalam satu hari. Untuk itulah saya tidak main FB dan tidak punya FB, tentu bagi orang lain ada yang mampu menahan semua sifat adiktif, contohnya sahabat saya, dia ada FB tapi semata-mata FB-nya dipakai hanya untuk membagikan artikel-artikel yang bagus, video-video youtube yang sifatnya membangun, ayat-ayat Firman Tuhan (FT) dan saya mendukung sepenuhnya, karena ada juga orang-orang tertentu, entah itu dalam koneksi dia atau di luar koneksi dia yang mungkin dapat tersentuh dengan artikel-artikel tersebut dan akhirnya memuliakan Tuhan. Jadi ketika saya katakan saya tidak punya dan tidak mau main FB, bukan berarti saya melarang kita punya FB, karena manusia punya kelemahan masing-masing dan seharusnyalah kita tahu kelemahan kita dan berusaha untuk tidak menyerahkan diri dengan cuma-cuma terhadap kelemahan tersebut.
Perlu kita tanyakan kepada diri kita, ketika kita mulai menaruh foto-foto yang sama sekali tidak mencerminkan kemuliaan Tuhan, banyak orang bisa mengaku diri Kristen, tapi di FB mereka, ditaruh foto-foto yang sifatnya membuat orang lain malah jatuh di dalam dosa. Saya tidak hanya berbicara foto-foto yang mengumbar nafsu seks, walaupun banyak karena hal tersebut, namun juga foto-foto yang membuat orang lain menghabiskan waktunya hanya untuk melihat foto-foto kita, sehingga membuat 'kompetisi' untuk menjadi lebih baik dari yang lain.
Pada umumnya FB ada, karena orang mau koneksi dengan yang lain, memang kesannya koneksi, tapi lama kelamaan menjadi ajang saling pamer-pameran, entah itu 'gadget' terbaru yang dimiliki, tamasya yang mahal, menginap di hotel yang mahal, punya mobil yang keren, semua akhirnya -- langsung atau tidak langsung menjadi kesombongan yang tidak disadari. Yah memang ada pengguna FB yang bertanggung jawab dan benar-benar memakai FB untuk kemuliaan Tuhan, namun hanya sedikit -- untuk itu saya berharap kita dapat menjadi pemakai FB untuk kemuliaan Tuhan -- bukan untuk kemuliaan nama sendiri.
Selain daripada itu, FB juga menjadi ajang supaya orang lain bisa menerima kita, menghormati kita, atau penghargaan -- supaya bisa mendapatkan 'acknowledgement'. Bukankah seharusnya 'acknowledgement' dari Tuhan lebih penting ketimbang dari manusia, namun sekarang manusia lebih mementingkan penerimaan dari teman-teman, dari sesama tanpa pernah berpikir di dalam hatinya -- "Apakah saya sudah diterima oleh Tuhan?" -- Dengan memasang foto-foto kita dengan barang-barang yang kita miliki, dengan kecantikan yang kita miliki, dengan rumah yang kita miliki, dengan kehidupan yang kita miliki -- semata-mata kita hanya mau supaya kita bisa diterima dan dianggap keren dan jago oleh orang lain, sadar atau tidak sadar kita akan terperangkap dalam jerat ini.
Tiada hari tanpa FB pun menjadi motto dan akhirnya mendarah-daging dalam kehidupan kita, kita akan merasa bersalah kepada diri sendiri, kalau satu hari tidak memeriksa FB, memeriksa apa yang dikerjakan orang lain, apa yang baru dibeli oleh orang lain, baju apa yang dipakai orang lain, dan yang lain sebagainya yang akhirnya membuat kita saling berkompetisi satu sama lain, FB yang tadinya hanya menjadi sarana atau tempat sosialisasi menjadi tempat kompetisi.
Belum lagi 'game-game' baru di FB, akhirnya menjadi satu jerat juga, kita dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk main 'game', kalau kalah juga rasanya tidak 'kamguan(menerima)' -- akhirnya kita menjadi adiktif untuk selalu menjadi pemenang dalam game tersebut. Mengapa game online di FB laku, atau game-game online lain secara umum, karena ketika kita mencapai angka nilai tertinggi kita senang, itulah yang dicapai oleh manusia, untuk menjatuhkan orang lain, mau selalu lebih di atas orang lain. Sedangkan game-game yang bersifat main melawan komputer saya rasa tidak terlalu merangsang keegoisan kita untuk menjadi lebih dari orang lain, walaupun game pada intinya menghabiskan waktu dengan percuma tanpa tujuan yang pasti. Ketika kita meraih angka paling tertinggi lalu kita menjadi sombong dan menantang orang lain untuk berusaha bisa mengalahkan kita, saya bilang dosanya 2 kali, dosa jadi sombong dan dosa bikin orang tergila-gila sama game karena penasaran tidak bisa kalahin angka tertinggi tersebut sehingga harus mengorbankan keluarga, pekerjaan, waktu yang penting bersama Tuhan, dan kegiatan-kegiatan yang lain yang bersifat lebih membangun dan bermanfaat demi berusaha untuk mengalahkan angka tertinggi tersebut.
Sekali saya katakan, seharusnya FB dipakai semaksimal mungkin untuk pemberitaan FT, pembahasan FT, penginjilan, berbagi pengalaman satu sama lain mengenai jalan bersama Tuhan dan semata-mata untuk kemuliaan Tuhan tanpa mau menganggap kita menjadi lebih dari orang lain. Selain itu seharusnya FB dianggap dan diperlakukan sebagai sarana komunikasi yang baik dan bertanggung-jawab antara teman dalam hal bertukar informasi dengan cepat, tidak selalu akurat tentunya. Tapi janganlah akhirnya kita mengidolakan FB tersebut di atas Tuhan, coba bayangkan jikalau FB kita kena hapus ataupun server FB sedang mati, apakah kita akan marah, stress, dan tidak bisa tidur atapun hal lainnya yang membuat kita berpikir kita mengalami kerugian, jikalau kita menjawab ya, pernahkah kita bertanya di dalam hati nurani kita "Apakah FB sudah menjadi berhala kita?". Akhir kata pakailah FB dengan baik dan bertanggung jawab kepada Tuhan.
Kolose 3:23
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
*Saya memiliki facebook sekarang
Memang saya tidak menutup kemungkinan adanya orang-orang yang memakai FB untuk pelayanan, *
Perlu kita tanyakan kepada diri kita, ketika kita mulai menaruh foto-foto yang sama sekali tidak mencerminkan kemuliaan Tuhan, banyak orang bisa mengaku diri Kristen, tapi di FB mereka, ditaruh foto-foto yang sifatnya membuat orang lain malah jatuh di dalam dosa. Saya tidak hanya berbicara foto-foto yang mengumbar nafsu seks, walaupun banyak karena hal tersebut, namun juga foto-foto yang membuat orang lain menghabiskan waktunya hanya untuk melihat foto-foto kita, sehingga membuat 'kompetisi' untuk menjadi lebih baik dari yang lain.
Pada umumnya FB ada, karena orang mau koneksi dengan yang lain, memang kesannya koneksi, tapi lama kelamaan menjadi ajang saling pamer-pameran, entah itu 'gadget' terbaru yang dimiliki, tamasya yang mahal, menginap di hotel yang mahal, punya mobil yang keren, semua akhirnya -- langsung atau tidak langsung menjadi kesombongan yang tidak disadari. Yah memang ada pengguna FB yang bertanggung jawab dan benar-benar memakai FB untuk kemuliaan Tuhan, namun hanya sedikit -- untuk itu saya berharap kita dapat menjadi pemakai FB untuk kemuliaan Tuhan -- bukan untuk kemuliaan nama sendiri.
Selain daripada itu, FB juga menjadi ajang supaya orang lain bisa menerima kita, menghormati kita, atau penghargaan -- supaya bisa mendapatkan 'acknowledgement'. Bukankah seharusnya 'acknowledgement' dari Tuhan lebih penting ketimbang dari manusia, namun sekarang manusia lebih mementingkan penerimaan dari teman-teman, dari sesama tanpa pernah berpikir di dalam hatinya -- "Apakah saya sudah diterima oleh Tuhan?" -- Dengan memasang foto-foto kita dengan barang-barang yang kita miliki, dengan kecantikan yang kita miliki, dengan rumah yang kita miliki, dengan kehidupan yang kita miliki -- semata-mata kita hanya mau supaya kita bisa diterima dan dianggap keren dan jago oleh orang lain, sadar atau tidak sadar kita akan terperangkap dalam jerat ini.
Tiada hari tanpa FB pun menjadi motto dan akhirnya mendarah-daging dalam kehidupan kita, kita akan merasa bersalah kepada diri sendiri, kalau satu hari tidak memeriksa FB, memeriksa apa yang dikerjakan orang lain, apa yang baru dibeli oleh orang lain, baju apa yang dipakai orang lain, dan yang lain sebagainya yang akhirnya membuat kita saling berkompetisi satu sama lain, FB yang tadinya hanya menjadi sarana atau tempat sosialisasi menjadi tempat kompetisi.
Belum lagi 'game-game' baru di FB, akhirnya menjadi satu jerat juga, kita dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk main 'game', kalau kalah juga rasanya tidak 'kamguan(menerima)' -- akhirnya kita menjadi adiktif untuk selalu menjadi pemenang dalam game tersebut. Mengapa game online di FB laku, atau game-game online lain secara umum, karena ketika kita mencapai angka nilai tertinggi kita senang, itulah yang dicapai oleh manusia, untuk menjatuhkan orang lain, mau selalu lebih di atas orang lain. Sedangkan game-game yang bersifat main melawan komputer saya rasa tidak terlalu merangsang keegoisan kita untuk menjadi lebih dari orang lain, walaupun game pada intinya menghabiskan waktu dengan percuma tanpa tujuan yang pasti. Ketika kita meraih angka paling tertinggi lalu kita menjadi sombong dan menantang orang lain untuk berusaha bisa mengalahkan kita, saya bilang dosanya 2 kali, dosa jadi sombong dan dosa bikin orang tergila-gila sama game karena penasaran tidak bisa kalahin angka tertinggi tersebut sehingga harus mengorbankan keluarga, pekerjaan, waktu yang penting bersama Tuhan, dan kegiatan-kegiatan yang lain yang bersifat lebih membangun dan bermanfaat demi berusaha untuk mengalahkan angka tertinggi tersebut.
Sekali saya katakan, seharusnya FB dipakai semaksimal mungkin untuk pemberitaan FT, pembahasan FT, penginjilan, berbagi pengalaman satu sama lain mengenai jalan bersama Tuhan dan semata-mata untuk kemuliaan Tuhan tanpa mau menganggap kita menjadi lebih dari orang lain. Selain itu seharusnya FB dianggap dan diperlakukan sebagai sarana komunikasi yang baik dan bertanggung-jawab antara teman dalam hal bertukar informasi dengan cepat, tidak selalu akurat tentunya. Tapi janganlah akhirnya kita mengidolakan FB tersebut di atas Tuhan, coba bayangkan jikalau FB kita kena hapus ataupun server FB sedang mati, apakah kita akan marah, stress, dan tidak bisa tidur atapun hal lainnya yang membuat kita berpikir kita mengalami kerugian, jikalau kita menjawab ya, pernahkah kita bertanya di dalam hati nurani kita "Apakah FB sudah menjadi berhala kita?". Akhir kata pakailah FB dengan baik dan bertanggung jawab kepada Tuhan.
Kolose 3:23
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
*Saya memiliki facebook sekarang
29 June, 2009
Domba, Serigala, Ular dan Merpati
Posted by
Anton Triyanto
Matius 10:16 Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.
Ayat ini tentunya tidak asing lagi di telinga kita semua bukan, seringkali ayat ini dikatakan tanpa mengerti konteks yang benar yang dimaksudkan oleh Tuhan. Tuhan berbicara mengenai penderitaan dan penganiayaan -- oleh karena kebenaran Yesus Kristus yang hakiki.
Kita ini seperti domba, yang tidak punya arah tujuan sebelumnya, tapi syukur karena di dalam Kristus kita memiliki tujuan, yaitu tujuan untuk senantiasa memancarkan kemuliaan Tuhan di dalam Kristus Yesus. Tapi bukan berarti ketika kita sudah menjadi domba, kita akan selalu menikmati padang rumput yang hijau, air yang tenang -- tidak -- bahkan Tuhan mengutus kita di tengah-tengah serigala, demikianlah kita menjadi orang Kristen harus sadar bahwa ketika kita menjadi orang Kristen bukan berarti kita tidak akan mengalami penderitaan dan penganiayaan, justru semenjak kita menjadi orang Kristen, itulah waktunya kita siap menderita dan siap dianiaya untuk mempertahankan iman Kristen kita di dalam Yesus Kristus. Jadi kalau kita mungkin menjadi orang Kristen hanya karena mau diberkati oleh berkat jasmani dan berkat rohani (kerajaan Surga), baiklah kita kembali meng-intropeksi diri lagi.
Penganiayaan dan penderitaan yang kita alami mungkin bukan secara fisik, melainkan secara mentalitas kita akan dianiaya, ketika kita menyatakan iman kita, mungkin teman-teman kita akan menjauhkan kita, akan membenci kita, itu adalah salah satu contoh aniaya dan penderitaan yang bukan bersifat secara fisik. Dan kalaupun penganiayaan dan penderitaan yang kita alami secara fisik oleh karena mempertahankan kebenaran Firman Tuhan, berbahagialah juga, karena "Berbagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah empunya Kerajaan Sorga" -- Matius 5:10
Tuhan mengijinkan kita tinggal di dunia ini bersama dengan serigala-serigala, tapi Dia tidak tinggal diam, Dia yang akan senantiasa memberikan pertolongan, waktu kita membutuhkan, yah Tuhan memberikan pertolongan kepada kita pada waktu yang tepat.
Matius 10:19 Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga.
Serigala-serigala tersebut siap menerkam kita, senantiasa mencari kelemahan-kelemahan kita sebagai domba-domba Tuhan. Kita akan dibawa menghadap dunia ini, kita yang menjadi surat terbuka bagi dunia ini, menjadi satu kesaksian bagi dunia ini dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah, namun sampai sejauh manakah kita mempertahankan Kebenaran tersebut.
Saya tertarik oleh khotbah Pdt. Effendy Susanto mengenai "Roh membedakan roh" pada tanggal 14 Juni 2009. Memang benar di dunia ini makin banyak orang terima ajaran yang kelihatannya benar tapi menyesatkan. Untuk itulah kita harus peka dalam segala hal. Nah, jangankan mempertahankan kebenaran bahkan seringkali kita tidak mengacuhkan apa kebenaran sejati itu. Seringkali sifat yang malas dan tidak disiplin untuk belajar Firman Tuhan mendarah daging dalam hidup kita.
Beliau ada mengupas mengenai Joel Osteen, pendeta yang cukup besar di Amerika, kemudian saya ada menemukan video wawancara Joel Osteen dengan Larry King di youtube - Berikut transkripnya.
OSTEEN: ...essence of the Christian faith.
KING: That we live in deeds?
OSTEEN: I don't know. What do you mean by that?
KING: Because we've had ministers on who said, your record don't count. You either believe in Christ or you don't. If you believe in Christ, you are, you are going to heaven. And if you don't no matter what you've done in your life, you ain't.
OSTEEN: Yeah, I don't know. There's probably a balance between. I believe you have to know Christ. But I think that if you know Christ, if you're a believer in God, you're going to have some good works. I think it's a cop-out to say I'm a Christian but I don't ever do anything ...
KING: What if you're Jewish or Muslim, you don't accept Christ at all?
OSTEEN: You know, I'm very careful about saying who would and wouldn't go to heaven. I don't know ...
KING: If you believe you have to believe in Christ? They're wrong, aren't they?
OSTEEN: Well, I don't know if I believe they're wrong. I believe here's what the Bible teaches and from the Christian faith this is what I believe. But I just think that only God with judge a person's heart. I spent a lot of time in India with my father. I don't know all about their religion. But I know they love God. And I don't know. I've seen their sincerity. So I don't know. I know for me, and what the Bible teaches, I want to have a relationship with Jesus.
KING: The Senate apologized last week for slavery...
Osteen tidak berani mengatakan bahwa Jesus the ONLY way to go to heaven. Malah dia mengatakan ketika di India dia memang tidak tahu mengenai agama orang India, tapi dia tahu kalau mereka cinta Tuhan? Siapakah Tuhan yang dia maksudkan? Dewa Wisnu-kah, Dewa Brahma-kah? Dewa Siwa-kah? Berarti apakah dia percaya kalau kerajaan surga ada kemungkinan didapatkan melalui perbuatan baik yang dilakukan oleh manusia. Memang benar urusan masuk surga neraka ada di tangan Tuhan, tapi kita harus yakin juga bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan kebenaran dan hidup, dan bahwa tidak ada yang bisa datang kepada Bapa, karena manusia sudah rusak total, untuk itulah di dalam Kristus Yesus yang menebus kita membuat kita dilayakkan untuk menghadap Dia satu hari kelak.
Itu adalah hal yang paling mendasar, kalau hal yang paling mendasar saja tidak dicanangkan baik-baik di dalam hati, apa yang akan terjadi dengan bangunan yang dibangun di atas dasar yang tidak benar. Apa yang dipandang baik belum tentu benar, namun apa yang benar pasti baik adanya demi kemuliaan nama Tuhan.
Ketika Anda melihat video tersebut, apakah berarti Joel Osteen cerdik seperti ular ketika dia menjawab pertanyaan-pertanyaan Larry King, menurut saya pribadi tidak, karena yang dia lakukan bukanlah cerdik bagi kemuliaan Tuhan, tapi cerdik demi menyelamatkan diri dia dari pandangan-pandangan yang kritis dari orang-orang tidak percaya Tuhan, cerdik hanya untuk mempertahankan harkat dan martabat dia sebagai orang yang terkenal dan orang yang baik - tapi tidak benar.
Ular ketika menghadapi bahaya dia dengan cepat menyembunyikan dirinya di dalam batu. Ketika kita memberitahukan kebenaran Firman Tuhan yang hakiki, ketika kita mempertahankannya kemudian kita dianiaya dan menderita karena hal tersebut, biarlah penganiayaan dan penderitaan tersebut bukan menjadi "unnecessary persecution". Namun bukan berarti kita tidak usah memberitahukan dan mempertahankan kebenaran - yang dimaksudkan adalah - Korbankanlah dirimu, demi kebenaran yang sejati dalam Kristus Yesus, seperti domba, menjadi saksi yang berani, tetapi carilah cara bersaksi tanpa membuat kita terjerumus dalam penganiayaan yang terjadi karena kebodohan kita sendiri bukan karena kebenaran Firman Tuhan. Untuk itulah Tuhan ajarkan kita untuk cerdik seperti ular. Untuk segala sesuatu ada waktunya ada waktu untuk bertahan dan ada waktu untuk lari, Musa, Yeremia, Daud, Paulus, bahkan Kristus pun mengalami waktu untuk bertahan dan waktu untuk lari - karena itu Tuhan mengaruniakan hikmat kepada kita untuk bertindak. Yang paling penting adalah jangan sampai kita menjual kebenaran Kristus untuk harga diri kita, nyawa kita.
Dan tetaplah menjadi kesucian kita, menjadi tulus seperti merpati -- jangan memberikan kesempatan kepada mereka untuk menghakimi kita akan ketidak-adilan kita, kerusakan moral kita, tapi jagalah senantiasa reputasi kita untuk bersih selalu, supaya jangan sampai pelayanan kita dicela.
2 Korintus 6:3 Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela.
Ayat ini tentunya tidak asing lagi di telinga kita semua bukan, seringkali ayat ini dikatakan tanpa mengerti konteks yang benar yang dimaksudkan oleh Tuhan. Tuhan berbicara mengenai penderitaan dan penganiayaan -- oleh karena kebenaran Yesus Kristus yang hakiki.
Kita ini seperti domba, yang tidak punya arah tujuan sebelumnya, tapi syukur karena di dalam Kristus kita memiliki tujuan, yaitu tujuan untuk senantiasa memancarkan kemuliaan Tuhan di dalam Kristus Yesus. Tapi bukan berarti ketika kita sudah menjadi domba, kita akan selalu menikmati padang rumput yang hijau, air yang tenang -- tidak -- bahkan Tuhan mengutus kita di tengah-tengah serigala, demikianlah kita menjadi orang Kristen harus sadar bahwa ketika kita menjadi orang Kristen bukan berarti kita tidak akan mengalami penderitaan dan penganiayaan, justru semenjak kita menjadi orang Kristen, itulah waktunya kita siap menderita dan siap dianiaya untuk mempertahankan iman Kristen kita di dalam Yesus Kristus. Jadi kalau kita mungkin menjadi orang Kristen hanya karena mau diberkati oleh berkat jasmani dan berkat rohani (kerajaan Surga), baiklah kita kembali meng-intropeksi diri lagi.
Penganiayaan dan penderitaan yang kita alami mungkin bukan secara fisik, melainkan secara mentalitas kita akan dianiaya, ketika kita menyatakan iman kita, mungkin teman-teman kita akan menjauhkan kita, akan membenci kita, itu adalah salah satu contoh aniaya dan penderitaan yang bukan bersifat secara fisik. Dan kalaupun penganiayaan dan penderitaan yang kita alami secara fisik oleh karena mempertahankan kebenaran Firman Tuhan, berbahagialah juga, karena "Berbagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah empunya Kerajaan Sorga" -- Matius 5:10
Tuhan mengijinkan kita tinggal di dunia ini bersama dengan serigala-serigala, tapi Dia tidak tinggal diam, Dia yang akan senantiasa memberikan pertolongan, waktu kita membutuhkan, yah Tuhan memberikan pertolongan kepada kita pada waktu yang tepat.
Matius 10:19 Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga.
Serigala-serigala tersebut siap menerkam kita, senantiasa mencari kelemahan-kelemahan kita sebagai domba-domba Tuhan. Kita akan dibawa menghadap dunia ini, kita yang menjadi surat terbuka bagi dunia ini, menjadi satu kesaksian bagi dunia ini dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah, namun sampai sejauh manakah kita mempertahankan Kebenaran tersebut.
Saya tertarik oleh khotbah Pdt. Effendy Susanto mengenai "Roh membedakan roh" pada tanggal 14 Juni 2009. Memang benar di dunia ini makin banyak orang terima ajaran yang kelihatannya benar tapi menyesatkan. Untuk itulah kita harus peka dalam segala hal. Nah, jangankan mempertahankan kebenaran bahkan seringkali kita tidak mengacuhkan apa kebenaran sejati itu. Seringkali sifat yang malas dan tidak disiplin untuk belajar Firman Tuhan mendarah daging dalam hidup kita.
Beliau ada mengupas mengenai Joel Osteen, pendeta yang cukup besar di Amerika, kemudian saya ada menemukan video wawancara Joel Osteen dengan Larry King di youtube - Berikut transkripnya.
OSTEEN: ...essence of the Christian faith.
KING: That we live in deeds?
OSTEEN: I don't know. What do you mean by that?
KING: Because we've had ministers on who said, your record don't count. You either believe in Christ or you don't. If you believe in Christ, you are, you are going to heaven. And if you don't no matter what you've done in your life, you ain't.
OSTEEN: Yeah, I don't know. There's probably a balance between. I believe you have to know Christ. But I think that if you know Christ, if you're a believer in God, you're going to have some good works. I think it's a cop-out to say I'm a Christian but I don't ever do anything ...
KING: What if you're Jewish or Muslim, you don't accept Christ at all?
OSTEEN: You know, I'm very careful about saying who would and wouldn't go to heaven. I don't know ...
KING: If you believe you have to believe in Christ? They're wrong, aren't they?
OSTEEN: Well, I don't know if I believe they're wrong. I believe here's what the Bible teaches and from the Christian faith this is what I believe. But I just think that only God with judge a person's heart. I spent a lot of time in India with my father. I don't know all about their religion. But I know they love God. And I don't know. I've seen their sincerity. So I don't know. I know for me, and what the Bible teaches, I want to have a relationship with Jesus.
KING: The Senate apologized last week for slavery...
Osteen tidak berani mengatakan bahwa Jesus the ONLY way to go to heaven. Malah dia mengatakan ketika di India dia memang tidak tahu mengenai agama orang India, tapi dia tahu kalau mereka cinta Tuhan? Siapakah Tuhan yang dia maksudkan? Dewa Wisnu-kah, Dewa Brahma-kah? Dewa Siwa-kah? Berarti apakah dia percaya kalau kerajaan surga ada kemungkinan didapatkan melalui perbuatan baik yang dilakukan oleh manusia. Memang benar urusan masuk surga neraka ada di tangan Tuhan, tapi kita harus yakin juga bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan kebenaran dan hidup, dan bahwa tidak ada yang bisa datang kepada Bapa, karena manusia sudah rusak total, untuk itulah di dalam Kristus Yesus yang menebus kita membuat kita dilayakkan untuk menghadap Dia satu hari kelak.
Itu adalah hal yang paling mendasar, kalau hal yang paling mendasar saja tidak dicanangkan baik-baik di dalam hati, apa yang akan terjadi dengan bangunan yang dibangun di atas dasar yang tidak benar. Apa yang dipandang baik belum tentu benar, namun apa yang benar pasti baik adanya demi kemuliaan nama Tuhan.
Ketika Anda melihat video tersebut, apakah berarti Joel Osteen cerdik seperti ular ketika dia menjawab pertanyaan-pertanyaan Larry King, menurut saya pribadi tidak, karena yang dia lakukan bukanlah cerdik bagi kemuliaan Tuhan, tapi cerdik demi menyelamatkan diri dia dari pandangan-pandangan yang kritis dari orang-orang tidak percaya Tuhan, cerdik hanya untuk mempertahankan harkat dan martabat dia sebagai orang yang terkenal dan orang yang baik - tapi tidak benar.
Ular ketika menghadapi bahaya dia dengan cepat menyembunyikan dirinya di dalam batu. Ketika kita memberitahukan kebenaran Firman Tuhan yang hakiki, ketika kita mempertahankannya kemudian kita dianiaya dan menderita karena hal tersebut, biarlah penganiayaan dan penderitaan tersebut bukan menjadi "unnecessary persecution". Namun bukan berarti kita tidak usah memberitahukan dan mempertahankan kebenaran - yang dimaksudkan adalah - Korbankanlah dirimu, demi kebenaran yang sejati dalam Kristus Yesus, seperti domba, menjadi saksi yang berani, tetapi carilah cara bersaksi tanpa membuat kita terjerumus dalam penganiayaan yang terjadi karena kebodohan kita sendiri bukan karena kebenaran Firman Tuhan. Untuk itulah Tuhan ajarkan kita untuk cerdik seperti ular. Untuk segala sesuatu ada waktunya ada waktu untuk bertahan dan ada waktu untuk lari, Musa, Yeremia, Daud, Paulus, bahkan Kristus pun mengalami waktu untuk bertahan dan waktu untuk lari - karena itu Tuhan mengaruniakan hikmat kepada kita untuk bertindak. Yang paling penting adalah jangan sampai kita menjual kebenaran Kristus untuk harga diri kita, nyawa kita.
Dan tetaplah menjadi kesucian kita, menjadi tulus seperti merpati -- jangan memberikan kesempatan kepada mereka untuk menghakimi kita akan ketidak-adilan kita, kerusakan moral kita, tapi jagalah senantiasa reputasi kita untuk bersih selalu, supaya jangan sampai pelayanan kita dicela.
2 Korintus 6:3 Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela.
07 June, 2009
Tuhan sebagai 'entertainer'
Posted by
Anton Triyanto
"Hari ini saya lelah sekali, cape rasanya, bagaimana kalau saya ke gereja siapa tahu saya bisa menemukan kepuasan di sana" pertanyaan ini sering digumamkan oleh orang-orang di jaman sekarang ini -- Tuhan memang memberikan kepuasan bagi mereka yang lapar dan dahaga akan Firman Tuhan, dan tiap hari kita lapar dan haus, kita butuh Tuhan setiap hari, bukan hanya ketika kita mengalami masalah saja, manusia cenderung mencari Tuhan hanya ketika mengalami masalah, berarti selama dia tidak mengalami masalah Tuhan tidak pernah di tempatkan di atas segalanya.
Ketika kita datang beribadah dan mengharapkan agar kita dipuaskan dan dilepaskan dari masalah hidup ini, bukankah sebenarnya kita menjadi orang yang sangat egois sekali, karena selalu memikirkan diri sendiri, tanpa melihat bahwa berapa banyak orang yang mungkin membutuhkan doa kita. Jika kita pulang dari gereja namun tidak mendapatkan apa-apa, kemudian ada perasaan -- mengapa hari ini saya tidak mendapat apa-apa? rasanya ke gereja menjadi suatu yang rutinitas? atau kerap kali ke gereja cuman mencari entertainment saja, yang sekedar hanya untuk memuaskan diri, kalau diri kita puas, kita senang, kalau kita tidak puas kita menjadi stress, marah ataupun yang lainnya. Tuhan dijadikan seorang figur yang bisa entertain kita sesuai dengan kehendak kita, kita memaksakan Tuhan untuk menghibur kita di saat kita sedih. Memang Roh Kudus diberikan untuk menghibur kita, namun tidak sepatutnya kita mengatur Tuhan bagaimana cara Dia menghibur kita, atau membuat satu tolak ukur, satu standard tingkat kepuasan dalam hal beribadah.
Tuhan jangan pernah dijadikan seorang entertainer, dia seorang comforter bukan entertainer. Manusia membuat Tuhan menjadi sumber entertainmentnya -- seolah-olah benar, dan bagus untuk dilihat orang, karena mereka tidak melakukan kejahatan yang terlihat seperti -- mabuk-mabukkan, obat-obatan, diskotik dan yang lainnya. Tapi di dalam sama bobroknya, seperti kuburan yang dilaburi dengan bunga di luar, namun penuh dengan tulang belulang di dalam. Sekali lagi saya katakan jangan pernah jadikan Tuhan menjadi sumber entertainment-mu.
Setelah manusia dipuaskan, kecenderungan manusia akan pergi melupakan segala kebaikan Tuhan lagi, berarti terbukti ketika motivasi kita datang kepada Tuhan hanya karena mencari kepuasan diri untuk kehidupan kita maka demikian kita juga cepat lupa terhadap Tuhan ketika kita sedang di daerah aman, ketika kita tidak sedang mengalami masalah, kita tidak pernah mengingat Tuhan.
Marilah teman-teman, baiklah kita senantiasa mencari Tuhan dan kebenaranNya dengan setia tanpa mengenal lelah, di saat yang bagaimanapun baiklah kita mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh melalui FirmanNya yang ajaib. Tuhan memberkati.
Inilah salah satu pernyataan John Piper mengenai Tuhan yang dijadikan sebagai sebuah entertainment.
Today we carry in our pockets radio, television, internet, and games, and anything that would be titillating, fun! And "fun" is a word in the church today that's just rampant! It's an adjective, it's a noun, it's a verb, because we do ministry in order to fit this mentality.
I'm deeply concerned about that. I want to stand for seriousness about God, instead of making him palatable by making him "fun"! Turning him into another piece of entertainment.
Saya menulis sharing ini terinspirasi dengan artikel dari John Piper mengenai How can I break free from an addiction to entertainment?
Ketika kita datang beribadah dan mengharapkan agar kita dipuaskan dan dilepaskan dari masalah hidup ini, bukankah sebenarnya kita menjadi orang yang sangat egois sekali, karena selalu memikirkan diri sendiri, tanpa melihat bahwa berapa banyak orang yang mungkin membutuhkan doa kita. Jika kita pulang dari gereja namun tidak mendapatkan apa-apa, kemudian ada perasaan -- mengapa hari ini saya tidak mendapat apa-apa? rasanya ke gereja menjadi suatu yang rutinitas? atau kerap kali ke gereja cuman mencari entertainment saja, yang sekedar hanya untuk memuaskan diri, kalau diri kita puas, kita senang, kalau kita tidak puas kita menjadi stress, marah ataupun yang lainnya. Tuhan dijadikan seorang figur yang bisa entertain kita sesuai dengan kehendak kita, kita memaksakan Tuhan untuk menghibur kita di saat kita sedih. Memang Roh Kudus diberikan untuk menghibur kita, namun tidak sepatutnya kita mengatur Tuhan bagaimana cara Dia menghibur kita, atau membuat satu tolak ukur, satu standard tingkat kepuasan dalam hal beribadah.
Tuhan jangan pernah dijadikan seorang entertainer, dia seorang comforter bukan entertainer. Manusia membuat Tuhan menjadi sumber entertainmentnya -- seolah-olah benar, dan bagus untuk dilihat orang, karena mereka tidak melakukan kejahatan yang terlihat seperti -- mabuk-mabukkan, obat-obatan, diskotik dan yang lainnya. Tapi di dalam sama bobroknya, seperti kuburan yang dilaburi dengan bunga di luar, namun penuh dengan tulang belulang di dalam. Sekali lagi saya katakan jangan pernah jadikan Tuhan menjadi sumber entertainment-mu.
Setelah manusia dipuaskan, kecenderungan manusia akan pergi melupakan segala kebaikan Tuhan lagi, berarti terbukti ketika motivasi kita datang kepada Tuhan hanya karena mencari kepuasan diri untuk kehidupan kita maka demikian kita juga cepat lupa terhadap Tuhan ketika kita sedang di daerah aman, ketika kita tidak sedang mengalami masalah, kita tidak pernah mengingat Tuhan.
Marilah teman-teman, baiklah kita senantiasa mencari Tuhan dan kebenaranNya dengan setia tanpa mengenal lelah, di saat yang bagaimanapun baiklah kita mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh melalui FirmanNya yang ajaib. Tuhan memberkati.
Inilah salah satu pernyataan John Piper mengenai Tuhan yang dijadikan sebagai sebuah entertainment.
Today we carry in our pockets radio, television, internet, and games, and anything that would be titillating, fun! And "fun" is a word in the church today that's just rampant! It's an adjective, it's a noun, it's a verb, because we do ministry in order to fit this mentality.
I'm deeply concerned about that. I want to stand for seriousness about God, instead of making him palatable by making him "fun"! Turning him into another piece of entertainment.
Saya menulis sharing ini terinspirasi dengan artikel dari John Piper mengenai How can I break free from an addiction to entertainment?
05 June, 2009
Salah siapa? Manusia, Setan atau Allah?
Posted by
Anton Triyanto
Dalam perjalanan saya menuju kantor, saya bertanya kepada diri sendiri -- ketika manusia mengalami masalah, siapakah yang patut disalahkan? Manusia, Setan atau Allah?
Manusia cenderung berbuat dosa, semenjak kejatuhan manusia -- manusia rusak sepenuhnya (Total Depravity), apapun yang dilakukan essensinya adalah dosa belaka, tidak ada seorangpun yang benar inilah yang ditulis oleh Rasul Paulus - Roma 3:23 "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" - kemudian diulang lagi oleh Paulu lebih jelas lagi di dalam Roma 3:8-10, 18
3:8 Bukankah tidak benar fitnahan orang yang mengatakan, bahwa kita berkata: "Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya." Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman.
3:9 Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa,
3:10 seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.
3:18 rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu."
Nah, celakanya banyak manusia tidak menyadari hal tersebut, dan bukan terjadi di jaman-jaman sekarang saja -- coba kita renungkan ketika Adam jatuh ke dalam dosa, siapa yang disalahkan? Hawa bukan ? siapa yang Hawa salahkan Ular bukan? Jangan sampai rantai itu terus berlanjut dan akhirnya menyalahkan Allah sebagai sumber dari segala dosa, karena Dia yang menciptakan Ular.
Justru karena Allah begitu mengasihi manusia maka Dia mengutus AnakNya, yaitu Kristus sebagai penebus dosa kita, Dia tidak pernah berdosa, dan tidak akan pernah berbuat dosa, bahkan Dia yang tidak mengenal dosa dijadikan menjadi dosa karena kita, supaya kita dibenarkan oleh Allah di dalam Dia -- 2 Korintus 5:21
1Yoh. 3:5 Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa.
1Ptr. 3:18 Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh,
Setelah manusia jatuh dalam dosa, hidup ini tidak pernah lepas dari masalah -- memang ada masalah yang menjadikan kita akhirnya kembali kepada sang Pencipta kita.
Tapi tidak sedikit juga masalah yang ada di dalam diri kita yang tidak pernah kita selesaikan di hadapan Tuhan, seringkali kita membiarkan masalah itu menghimpit kehidupan rohani kita -- seringkali kita tidak sadar kalau kita memiliki masalah tersebut yang memperlambat pertumbuhan rohani kita -- kita pun akhirnya menjadi sombong karena menganggap diri yang paling benar, dengan adanya perasaan selalu benar dan tidak pernah salah hal ini menjadi racun dan tidak akan pernah membuat kita lebih belajar mengenal kehendak Tuhan bagi kehidupan kita.
Ketika kita mulai membaca Firman Tuhan, kita hanya buat Firman Tuhan itu untuk menyegarkan jiwa kita, untuk kepuasan kita semata-mata -- tentu saya pun tidak menolak bahwa Firman Tuhan itu menyegarkan jiwa, tapi kita harus sadar Firman Tuhan itu juga senantiasa menegur, supaya kita bisa hidup dalam kebenaran yang sejati dalam Kristus Yesus.
Manusia melihat Firman Tuhan dengan kacamata diri sendiri, dalam ruang lingkup yang sangat kecil sekali, yakni berpusat pada diri sendiri -- padahal Firman Tuhan itu luasnya seperti samudra, kemuliaan Tuhan bukan berpusat kepada diri sendiri, tapi berpusat kepada Tuhan.
Setan pun disalahkan ketika ada masalah, betul setan sering bikin onar, sering bikin masalah, dia giat senantiasa mau meracuni kehidupan rohani anak-anak Tuhan jaman sekarang, dengan ajaran-ajaran yang kelihatannya baik namun menuntun kita kepada kesesatan yang seutuhnya. Banyak orang yang menyangka jalan itu lurus namun berakhir kepada maut. Kita harus benar-benar kritis dalam segala sesuatu, namun jangan jadi tukang 'complain' -- menjadi seorang kritikus dan menjadi seorang tukang 'complain' adalah dua hal yang berbeda.
Namun ada banyak yang harus kita perbaiki dalam hidup ini, karakter hidup kita, kebiasaan hidup kita, gaya hidup kita, semuanya tidak bisa diperbaiki tanpa pimpinan Tuhan, dan kekuatan dari Tuhan -- biarlah kita senantiasa sadar bahwa kitalah orang-orang yang berdosa, yang sebenarnya tidak layak namun dilayakkan, semakin kita mengenal Tuhan secara benar, semakin kita menjadi kecil dan Dia menjadi besar.
Paulus pun, semakin lama dia melayani Tuhan, semakin dia merasa bahwa dia adalah 'Chief Sinner', kepala dari segala orang yang berdosa, apakah karena apa yang dia perbuat begitu kejam sehingga dia mengatakan hal ini -- bukan -- Dia menyadari bahwa manusia sudah rusak total, dan apapun yang dilakukan manusia tidak akan pernah berhasil, semakin lama semakin dia sadar bahwa dia adalah orang yang penuh dosa, semakin dia menjadi kecil dan Kristus menjadi besar. Dalam urutan secara kronologi, surat-surat Paulus ada dikatakan bahwa Paulus lebih hina daripada rasul yang lainnya, kemudian surat-surat berikutnya dikatakan bahwa dia lebih hina dari segala orang yang berdosa di muka bumi ini. Inilah membuktikan seharusnyalah kita semakin kecil dan semakin sadar akan dosa ketika kita mengerti kebenaran Firman Tuhan yang sejati itu.
Marilah saudara, sama-sama kita belajar untuk mengenal kebenaran Firman Tuhan tersebut. Marilah sama-sama membuka hati kita untuk dikoreksi, tanpa ingin mempertahankan kebenaran diri sendiri. Bagi Tuhan segala kemuliaan, hormat dan kuasa sampai selama-lamanya.
Manusia cenderung berbuat dosa, semenjak kejatuhan manusia -- manusia rusak sepenuhnya (Total Depravity), apapun yang dilakukan essensinya adalah dosa belaka, tidak ada seorangpun yang benar inilah yang ditulis oleh Rasul Paulus - Roma 3:23 "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" - kemudian diulang lagi oleh Paulu lebih jelas lagi di dalam Roma 3:8-10, 18
3:8 Bukankah tidak benar fitnahan orang yang mengatakan, bahwa kita berkata: "Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya." Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman.
3:9 Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa,
3:10 seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.
3:18 rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu."
Nah, celakanya banyak manusia tidak menyadari hal tersebut, dan bukan terjadi di jaman-jaman sekarang saja -- coba kita renungkan ketika Adam jatuh ke dalam dosa, siapa yang disalahkan? Hawa bukan ? siapa yang Hawa salahkan Ular bukan? Jangan sampai rantai itu terus berlanjut dan akhirnya menyalahkan Allah sebagai sumber dari segala dosa, karena Dia yang menciptakan Ular.
Justru karena Allah begitu mengasihi manusia maka Dia mengutus AnakNya, yaitu Kristus sebagai penebus dosa kita, Dia tidak pernah berdosa, dan tidak akan pernah berbuat dosa, bahkan Dia yang tidak mengenal dosa dijadikan menjadi dosa karena kita, supaya kita dibenarkan oleh Allah di dalam Dia -- 2 Korintus 5:21
1Yoh. 3:5 Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa.
1Ptr. 3:18 Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh,
Setelah manusia jatuh dalam dosa, hidup ini tidak pernah lepas dari masalah -- memang ada masalah yang menjadikan kita akhirnya kembali kepada sang Pencipta kita.
Tapi tidak sedikit juga masalah yang ada di dalam diri kita yang tidak pernah kita selesaikan di hadapan Tuhan, seringkali kita membiarkan masalah itu menghimpit kehidupan rohani kita -- seringkali kita tidak sadar kalau kita memiliki masalah tersebut yang memperlambat pertumbuhan rohani kita -- kita pun akhirnya menjadi sombong karena menganggap diri yang paling benar, dengan adanya perasaan selalu benar dan tidak pernah salah hal ini menjadi racun dan tidak akan pernah membuat kita lebih belajar mengenal kehendak Tuhan bagi kehidupan kita.
Ketika kita mulai membaca Firman Tuhan, kita hanya buat Firman Tuhan itu untuk menyegarkan jiwa kita, untuk kepuasan kita semata-mata -- tentu saya pun tidak menolak bahwa Firman Tuhan itu menyegarkan jiwa, tapi kita harus sadar Firman Tuhan itu juga senantiasa menegur, supaya kita bisa hidup dalam kebenaran yang sejati dalam Kristus Yesus.
Manusia melihat Firman Tuhan dengan kacamata diri sendiri, dalam ruang lingkup yang sangat kecil sekali, yakni berpusat pada diri sendiri -- padahal Firman Tuhan itu luasnya seperti samudra, kemuliaan Tuhan bukan berpusat kepada diri sendiri, tapi berpusat kepada Tuhan.
Setan pun disalahkan ketika ada masalah, betul setan sering bikin onar, sering bikin masalah, dia giat senantiasa mau meracuni kehidupan rohani anak-anak Tuhan jaman sekarang, dengan ajaran-ajaran yang kelihatannya baik namun menuntun kita kepada kesesatan yang seutuhnya. Banyak orang yang menyangka jalan itu lurus namun berakhir kepada maut. Kita harus benar-benar kritis dalam segala sesuatu, namun jangan jadi tukang 'complain' -- menjadi seorang kritikus dan menjadi seorang tukang 'complain' adalah dua hal yang berbeda.
Namun ada banyak yang harus kita perbaiki dalam hidup ini, karakter hidup kita, kebiasaan hidup kita, gaya hidup kita, semuanya tidak bisa diperbaiki tanpa pimpinan Tuhan, dan kekuatan dari Tuhan -- biarlah kita senantiasa sadar bahwa kitalah orang-orang yang berdosa, yang sebenarnya tidak layak namun dilayakkan, semakin kita mengenal Tuhan secara benar, semakin kita menjadi kecil dan Dia menjadi besar.
Paulus pun, semakin lama dia melayani Tuhan, semakin dia merasa bahwa dia adalah 'Chief Sinner', kepala dari segala orang yang berdosa, apakah karena apa yang dia perbuat begitu kejam sehingga dia mengatakan hal ini -- bukan -- Dia menyadari bahwa manusia sudah rusak total, dan apapun yang dilakukan manusia tidak akan pernah berhasil, semakin lama semakin dia sadar bahwa dia adalah orang yang penuh dosa, semakin dia menjadi kecil dan Kristus menjadi besar. Dalam urutan secara kronologi, surat-surat Paulus ada dikatakan bahwa Paulus lebih hina daripada rasul yang lainnya, kemudian surat-surat berikutnya dikatakan bahwa dia lebih hina dari segala orang yang berdosa di muka bumi ini. Inilah membuktikan seharusnyalah kita semakin kecil dan semakin sadar akan dosa ketika kita mengerti kebenaran Firman Tuhan yang sejati itu.
Marilah saudara, sama-sama kita belajar untuk mengenal kebenaran Firman Tuhan tersebut. Marilah sama-sama membuka hati kita untuk dikoreksi, tanpa ingin mempertahankan kebenaran diri sendiri. Bagi Tuhan segala kemuliaan, hormat dan kuasa sampai selama-lamanya.
Pengetahuan vs Pengalaman
Posted by
Anton Triyanto
Manakah yang lebih penting Pengetahuan atau Pengalaman? Mana yang lebih dahulu Pengetahuan dahulukah dan kemudian pengalaman mengikuti dari belakang? Atau sebaliknya. Saya menulis ini hanya sekedar menoreh blog ini setelah saya membaca satu gereja membuat acara dengan tema "Pengalaman lebih berharga dari Pengetahuan" (dalam hal ini saya tidak tahu apakah yang dimaksudkan pengetahuan oleh mereka), apakah benar pengalaman itu lebih berharga dibanding dengan pengetahuan?
Yah memang benar kalau terlalu banyak pengetahuan tanpa pengalaman hasilnya juga nol besar, tapi saya percaya kalau kita mengenal Tuhan dengan pengetahuan yang benar seperti yang dirindukan Paulus kepada jemaat di Kolose - Kol. 1:10, maka pengalaman secara otomatis muncul dari pengetahuan yang benar tersebut. Kecuali pengetahuan yang kita terima tersebut bukanlah pengetahuan yang benar, yang ada hanyalah 'pengetahuan' seperti yang diungkapkan Paulus di surat lainnya 1 Timotius 6:20, yakni pengetahuan yang membawa pertentangan-pertentangan.
Banyak jaman sekarang setelah orang bertobat dan merasa dipanggil menjadi hamba Tuhan, langsung mengembalakan jemaat, tanpa ada pengetahuan yang benar, dan hanya mengandalkan pengalaman bersama Tuhan sebagai satu fondasi untuk memimpin jemaat Tuhan, saya rasa hal ini terlalu mau enaknya saja. Tentunya latihan rohani itu juga perlu -- kita perlu tahu bagaimana kita berlatih secara rohani -- tanpa pengetahuan yang benar maka latihan rohani yang kita lakukan adalah sia-sia belaka.
Dalam hal jasmani kalau kita mau punya otot yang kuat, badan yang sehat, tentunya kita akan berlatih dengan sekuat tenaga, mustahil kalau ada yang mau bangun dari tidurnya pagi-pagi dan melihat badannya yang kekar di depan cermin seketika, tentu tidak ada. Semua hal itu perlu latihan, dan pengetahuan akan bagaimana caranya treadmill, caranya memakai alat-alat Gym supaya bisa mencapai satu tujuan.
Banyak juga yang berkata, Petrus saja bisa dipakai Tuhan secara luar biasa, kan dia juga hanya seorang nelayan. Okay, bagaimana dengan Paulus, dia itu orang yang berpengetahuan sekali, bahkan hampir seluruh kitab perjanjian penulisnya adalah Paulus, mengapa Paulus tidak diperbandingkan. Saya rasa hal ini hanya menjadi alasan dari akibat kemalasan dan terjeratnya pada zona aman. Biasanya hamba Tuhan seperti ini khotbahnya muter-muter yah itu-itu saja, dan biasanya mau jadi pendeta keliling saja. Supaya tidak ketauan kalau dia pernah khotbah yang sama di satu gereja. Memang benar ada juga hamba Tuhan khusus keliling dan menginjil dan memang hal itu sudah menjadi karunianya tapi seringkali, yang diinjili adalah orang-orang Kristen yang sudah lama percaya kepada Kristus. Apakah berarti tidak boleh menginjili orang-orang seperti itu? Saya rasa untuk orang-orang percaya harus dilakukan pembinaan bukan penginjilan, untuk orang-orang percaya tidak perlu disuruh ke depan, altar call, bertobat -- toh mereka sudah tau apa yang disebut bertobat itu hanya saja tidak mau melakukannya. Seringkali altar call cuman menjadi satu luapan emosi, karena merasa ditantang oleh hamba Tuhan, betul hal ini tidak salah, namun tidak benar sepenuhnya juga. Salah-salah pertobahan ini menjadi pertobatan yang dibuat-buat karena adanya unsur manusia terlibat, merasa tidak enak dengan pendeta, ada juga yang mungkin maju ke depan hanya untuk merasa 'aneh' kalau tidak maju, atau tidak sedikit juga yang maju hanya karena mau dilihat perempuan atau laki-laki yang dia taksir di gereja. Kembali saya tekankan semuanya itu adalah kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi, ada juga orang-orang yang benar-benar bertobat setelah altar call tersebut.
Nah pengalaman seperti itu memang berharga, tapi apakah yang men-trigger hal tersebut, bukankah adanya pengetahuan (Firman Tuhan) yang ditaburkan, dan ketika kita mendengar Firman tersebut iman kita bertumbuh dan hati kita bergejolak dan disadarkan kembali. Jadi ditanyakan kembali ke saudara manakah yang lebih berharga? kalau tidak ada pengetahuan tentunya tidak ada pengalaman bukan? Bukankah kita harus menginjak bangku sekolah untuk mengetahui segala sesuatu, sebelum kita mengalaminya? Semua pengalaman adalah berasal dari pengetahuan entah pengetahuan yang didapat dari bangku sekolah ataupun dari luar bangku sekolah, tapi intinya harus ada pengetahuan. Demikian dengan pengalaman hidup kita sebagai orang Kristen, pengetahuan akan Firman Tuhan itu berharga sekali, seringkali memang Tuhan bisa menegur kita dari pengalaman yang terjadi dalam kehidupan kita, tapi hal tersebut janganlah dijadikan confirmative, confirmative haruslah didasarkan Firman Tuhan. Sedangkan pengalaman itu bersifat affirmative, sifatnya mendukung, sedangkan yang nomor satu adalah yang bersifat confirmative tersebut.
Memang tidak sedikit juga orang yang mementingkan 'pengetahuan' dan mengabaikan 'pengalaman', tapi masalahnya bukanlah mana yang lebih dahulu Ayam atau Telur, atau sebaliknya. Masalahnya bukan pada ayamnya kalau telur tidak ada, atau masalahnya bukan pada telur kalau ayamnya tidak ada. Firman Tuhan itu seperti benih, kalau ditanam dengan baik, di hati yang mau dirubah, secara otomatis akan berubah pengalaman yang manis bersama Tuhan. Baiklah kita sama-sama mau membuka hati terhadap kebenaran Firman Tuhan, tanpa menegakkan kebenaran kita sendiri, pastilah kita semua akan mengalami betapa senangnya jadi Anak Tuhan.
ps: Sedikit trivia untuk penutup -- ada 3 jenis manusia di dunia ini.
1. Saya tahu kalau saya harus tahu
2. Saya tidak tahu kalau saya harus tahu
3. Saya tidak mau tahu apa-apa
Anda tergolong yang mana?
Yah memang benar kalau terlalu banyak pengetahuan tanpa pengalaman hasilnya juga nol besar, tapi saya percaya kalau kita mengenal Tuhan dengan pengetahuan yang benar seperti yang dirindukan Paulus kepada jemaat di Kolose - Kol. 1:10, maka pengalaman secara otomatis muncul dari pengetahuan yang benar tersebut. Kecuali pengetahuan yang kita terima tersebut bukanlah pengetahuan yang benar, yang ada hanyalah 'pengetahuan' seperti yang diungkapkan Paulus di surat lainnya 1 Timotius 6:20, yakni pengetahuan yang membawa pertentangan-pertentangan.
Banyak jaman sekarang setelah orang bertobat dan merasa dipanggil menjadi hamba Tuhan, langsung mengembalakan jemaat, tanpa ada pengetahuan yang benar, dan hanya mengandalkan pengalaman bersama Tuhan sebagai satu fondasi untuk memimpin jemaat Tuhan, saya rasa hal ini terlalu mau enaknya saja. Tentunya latihan rohani itu juga perlu -- kita perlu tahu bagaimana kita berlatih secara rohani -- tanpa pengetahuan yang benar maka latihan rohani yang kita lakukan adalah sia-sia belaka.
Dalam hal jasmani kalau kita mau punya otot yang kuat, badan yang sehat, tentunya kita akan berlatih dengan sekuat tenaga, mustahil kalau ada yang mau bangun dari tidurnya pagi-pagi dan melihat badannya yang kekar di depan cermin seketika, tentu tidak ada. Semua hal itu perlu latihan, dan pengetahuan akan bagaimana caranya treadmill, caranya memakai alat-alat Gym supaya bisa mencapai satu tujuan.
Banyak juga yang berkata, Petrus saja bisa dipakai Tuhan secara luar biasa, kan dia juga hanya seorang nelayan. Okay, bagaimana dengan Paulus, dia itu orang yang berpengetahuan sekali, bahkan hampir seluruh kitab perjanjian penulisnya adalah Paulus, mengapa Paulus tidak diperbandingkan. Saya rasa hal ini hanya menjadi alasan dari akibat kemalasan dan terjeratnya pada zona aman. Biasanya hamba Tuhan seperti ini khotbahnya muter-muter yah itu-itu saja, dan biasanya mau jadi pendeta keliling saja. Supaya tidak ketauan kalau dia pernah khotbah yang sama di satu gereja. Memang benar ada juga hamba Tuhan khusus keliling dan menginjil dan memang hal itu sudah menjadi karunianya tapi seringkali, yang diinjili adalah orang-orang Kristen yang sudah lama percaya kepada Kristus. Apakah berarti tidak boleh menginjili orang-orang seperti itu? Saya rasa untuk orang-orang percaya harus dilakukan pembinaan bukan penginjilan, untuk orang-orang percaya tidak perlu disuruh ke depan, altar call, bertobat -- toh mereka sudah tau apa yang disebut bertobat itu hanya saja tidak mau melakukannya. Seringkali altar call cuman menjadi satu luapan emosi, karena merasa ditantang oleh hamba Tuhan, betul hal ini tidak salah, namun tidak benar sepenuhnya juga. Salah-salah pertobahan ini menjadi pertobatan yang dibuat-buat karena adanya unsur manusia terlibat, merasa tidak enak dengan pendeta, ada juga yang mungkin maju ke depan hanya untuk merasa 'aneh' kalau tidak maju, atau tidak sedikit juga yang maju hanya karena mau dilihat perempuan atau laki-laki yang dia taksir di gereja. Kembali saya tekankan semuanya itu adalah kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi, ada juga orang-orang yang benar-benar bertobat setelah altar call tersebut.
Nah pengalaman seperti itu memang berharga, tapi apakah yang men-trigger hal tersebut, bukankah adanya pengetahuan (Firman Tuhan) yang ditaburkan, dan ketika kita mendengar Firman tersebut iman kita bertumbuh dan hati kita bergejolak dan disadarkan kembali. Jadi ditanyakan kembali ke saudara manakah yang lebih berharga? kalau tidak ada pengetahuan tentunya tidak ada pengalaman bukan? Bukankah kita harus menginjak bangku sekolah untuk mengetahui segala sesuatu, sebelum kita mengalaminya? Semua pengalaman adalah berasal dari pengetahuan entah pengetahuan yang didapat dari bangku sekolah ataupun dari luar bangku sekolah, tapi intinya harus ada pengetahuan. Demikian dengan pengalaman hidup kita sebagai orang Kristen, pengetahuan akan Firman Tuhan itu berharga sekali, seringkali memang Tuhan bisa menegur kita dari pengalaman yang terjadi dalam kehidupan kita, tapi hal tersebut janganlah dijadikan confirmative, confirmative haruslah didasarkan Firman Tuhan. Sedangkan pengalaman itu bersifat affirmative, sifatnya mendukung, sedangkan yang nomor satu adalah yang bersifat confirmative tersebut.
Memang tidak sedikit juga orang yang mementingkan 'pengetahuan' dan mengabaikan 'pengalaman', tapi masalahnya bukanlah mana yang lebih dahulu Ayam atau Telur, atau sebaliknya. Masalahnya bukan pada ayamnya kalau telur tidak ada, atau masalahnya bukan pada telur kalau ayamnya tidak ada. Firman Tuhan itu seperti benih, kalau ditanam dengan baik, di hati yang mau dirubah, secara otomatis akan berubah pengalaman yang manis bersama Tuhan. Baiklah kita sama-sama mau membuka hati terhadap kebenaran Firman Tuhan, tanpa menegakkan kebenaran kita sendiri, pastilah kita semua akan mengalami betapa senangnya jadi Anak Tuhan.
ps: Sedikit trivia untuk penutup -- ada 3 jenis manusia di dunia ini.
1. Saya tahu kalau saya harus tahu
2. Saya tidak tahu kalau saya harus tahu
3. Saya tidak mau tahu apa-apa
Anda tergolong yang mana?