"Hari ini saya lelah sekali, cape rasanya, bagaimana kalau saya ke gereja siapa tahu saya bisa menemukan kepuasan di sana" pertanyaan ini sering digumamkan oleh orang-orang di jaman sekarang ini -- Tuhan memang memberikan kepuasan bagi mereka yang lapar dan dahaga akan Firman Tuhan, dan tiap hari kita lapar dan haus, kita butuh Tuhan setiap hari, bukan hanya ketika kita mengalami masalah saja, manusia cenderung mencari Tuhan hanya ketika mengalami masalah, berarti selama dia tidak mengalami masalah Tuhan tidak pernah di tempatkan di atas segalanya.
Ketika kita datang beribadah dan mengharapkan agar kita dipuaskan dan dilepaskan dari masalah hidup ini, bukankah sebenarnya kita menjadi orang yang sangat egois sekali, karena selalu memikirkan diri sendiri, tanpa melihat bahwa berapa banyak orang yang mungkin membutuhkan doa kita. Jika kita pulang dari gereja namun tidak mendapatkan apa-apa, kemudian ada perasaan -- mengapa hari ini saya tidak mendapat apa-apa? rasanya ke gereja menjadi suatu yang rutinitas? atau kerap kali ke gereja cuman mencari entertainment saja, yang sekedar hanya untuk memuaskan diri, kalau diri kita puas, kita senang, kalau kita tidak puas kita menjadi stress, marah ataupun yang lainnya. Tuhan dijadikan seorang figur yang bisa entertain kita sesuai dengan kehendak kita, kita memaksakan Tuhan untuk menghibur kita di saat kita sedih. Memang Roh Kudus diberikan untuk menghibur kita, namun tidak sepatutnya kita mengatur Tuhan bagaimana cara Dia menghibur kita, atau membuat satu tolak ukur, satu standard tingkat kepuasan dalam hal beribadah.
Tuhan jangan pernah dijadikan seorang entertainer, dia seorang comforter bukan entertainer. Manusia membuat Tuhan menjadi sumber entertainmentnya -- seolah-olah benar, dan bagus untuk dilihat orang, karena mereka tidak melakukan kejahatan yang terlihat seperti -- mabuk-mabukkan, obat-obatan, diskotik dan yang lainnya. Tapi di dalam sama bobroknya, seperti kuburan yang dilaburi dengan bunga di luar, namun penuh dengan tulang belulang di dalam. Sekali lagi saya katakan jangan pernah jadikan Tuhan menjadi sumber entertainment-mu.
Setelah manusia dipuaskan, kecenderungan manusia akan pergi melupakan segala kebaikan Tuhan lagi, berarti terbukti ketika motivasi kita datang kepada Tuhan hanya karena mencari kepuasan diri untuk kehidupan kita maka demikian kita juga cepat lupa terhadap Tuhan ketika kita sedang di daerah aman, ketika kita tidak sedang mengalami masalah, kita tidak pernah mengingat Tuhan.
Marilah teman-teman, baiklah kita senantiasa mencari Tuhan dan kebenaranNya dengan setia tanpa mengenal lelah, di saat yang bagaimanapun baiklah kita mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh melalui FirmanNya yang ajaib. Tuhan memberkati.
Inilah salah satu pernyataan John Piper mengenai Tuhan yang dijadikan sebagai sebuah entertainment.
Today we carry in our pockets radio, television, internet, and games, and anything that would be titillating, fun! And "fun" is a word in the church today that's just rampant! It's an adjective, it's a noun, it's a verb, because we do ministry in order to fit this mentality.
I'm deeply concerned about that. I want to stand for seriousness about God, instead of making him palatable by making him "fun"! Turning him into another piece of entertainment.
Saya menulis sharing ini terinspirasi dengan artikel dari John Piper mengenai How can I break free from an addiction to entertainment?
Recent Posts
0 comments:
Post a Comment