Recent Posts

05 June, 2009

Pengetahuan vs Pengalaman

Manakah yang lebih penting Pengetahuan atau Pengalaman? Mana yang lebih dahulu Pengetahuan dahulukah dan kemudian pengalaman mengikuti dari belakang? Atau sebaliknya. Saya menulis ini hanya sekedar menoreh blog ini setelah saya membaca satu gereja membuat acara dengan tema "Pengalaman lebih berharga dari Pengetahuan" (dalam hal ini saya tidak tahu apakah yang dimaksudkan pengetahuan oleh mereka), apakah benar pengalaman itu lebih berharga dibanding dengan pengetahuan?

Yah memang benar kalau terlalu banyak pengetahuan tanpa pengalaman hasilnya juga nol besar, tapi saya percaya kalau kita mengenal Tuhan dengan pengetahuan yang benar seperti yang dirindukan Paulus kepada jemaat di Kolose - Kol. 1:10, maka pengalaman secara otomatis muncul dari pengetahuan yang benar tersebut. Kecuali pengetahuan yang kita terima tersebut bukanlah pengetahuan yang benar, yang ada hanyalah 'pengetahuan' seperti yang diungkapkan Paulus di surat lainnya 1 Timotius 6:20, yakni pengetahuan yang membawa pertentangan-pertentangan.

Banyak jaman sekarang setelah orang bertobat dan merasa dipanggil menjadi hamba Tuhan, langsung mengembalakan jemaat, tanpa ada pengetahuan yang benar, dan hanya mengandalkan pengalaman bersama Tuhan sebagai satu fondasi untuk memimpin jemaat Tuhan, saya rasa hal ini terlalu mau enaknya saja. Tentunya latihan rohani itu juga perlu -- kita perlu tahu bagaimana kita berlatih secara rohani -- tanpa pengetahuan yang benar maka latihan rohani yang kita lakukan adalah sia-sia belaka.
Dalam hal jasmani kalau kita mau punya otot yang kuat, badan yang sehat, tentunya kita akan berlatih dengan sekuat tenaga, mustahil kalau ada yang mau bangun dari tidurnya pagi-pagi dan melihat badannya yang kekar di depan cermin seketika, tentu tidak ada. Semua hal itu perlu latihan, dan pengetahuan akan bagaimana caranya treadmill, caranya memakai alat-alat Gym supaya bisa mencapai satu tujuan.

Banyak juga yang berkata, Petrus saja bisa dipakai Tuhan secara luar biasa, kan dia juga hanya seorang nelayan. Okay, bagaimana dengan Paulus, dia itu orang yang berpengetahuan sekali, bahkan hampir seluruh kitab perjanjian penulisnya adalah Paulus, mengapa Paulus tidak diperbandingkan. Saya rasa hal ini hanya menjadi alasan dari akibat kemalasan dan terjeratnya pada zona aman. Biasanya hamba Tuhan seperti ini khotbahnya muter-muter yah itu-itu saja, dan biasanya mau jadi pendeta keliling saja. Supaya tidak ketauan kalau dia pernah khotbah yang sama di satu gereja. Memang benar ada juga hamba Tuhan khusus keliling dan menginjil dan memang hal itu sudah menjadi karunianya tapi seringkali, yang diinjili adalah orang-orang Kristen yang sudah lama percaya kepada Kristus. Apakah berarti tidak boleh menginjili orang-orang seperti itu? Saya rasa untuk orang-orang percaya harus dilakukan pembinaan bukan penginjilan, untuk orang-orang percaya tidak perlu disuruh ke depan, altar call, bertobat -- toh mereka sudah tau apa yang disebut bertobat itu hanya saja tidak mau melakukannya. Seringkali altar call cuman menjadi satu luapan emosi, karena merasa ditantang oleh hamba Tuhan, betul hal ini tidak salah, namun tidak benar sepenuhnya juga. Salah-salah pertobahan ini menjadi pertobatan yang dibuat-buat karena adanya unsur manusia terlibat, merasa tidak enak dengan pendeta, ada juga yang mungkin maju ke depan hanya untuk merasa 'aneh' kalau tidak maju, atau tidak sedikit juga yang maju hanya karena mau dilihat perempuan atau laki-laki yang dia taksir di gereja. Kembali saya tekankan semuanya itu adalah kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi, ada juga orang-orang yang benar-benar bertobat setelah altar call tersebut.

Nah pengalaman seperti itu memang berharga, tapi apakah yang men-trigger hal tersebut, bukankah adanya pengetahuan (Firman Tuhan) yang ditaburkan, dan ketika kita mendengar Firman tersebut iman kita bertumbuh dan hati kita bergejolak dan disadarkan kembali. Jadi ditanyakan kembali ke saudara manakah yang lebih berharga? kalau tidak ada pengetahuan tentunya tidak ada pengalaman bukan? Bukankah kita harus menginjak bangku sekolah untuk mengetahui segala sesuatu, sebelum kita mengalaminya? Semua pengalaman adalah berasal dari pengetahuan entah pengetahuan yang didapat dari bangku sekolah ataupun dari luar bangku sekolah, tapi intinya harus ada pengetahuan. Demikian dengan pengalaman hidup kita sebagai orang Kristen, pengetahuan akan Firman Tuhan itu berharga sekali, seringkali memang Tuhan bisa menegur kita dari pengalaman yang terjadi dalam kehidupan kita, tapi hal tersebut janganlah dijadikan confirmative, confirmative haruslah didasarkan Firman Tuhan. Sedangkan pengalaman itu bersifat affirmative, sifatnya mendukung, sedangkan yang nomor satu adalah yang bersifat confirmative tersebut.

Memang tidak sedikit juga orang yang mementingkan 'pengetahuan' dan mengabaikan 'pengalaman', tapi masalahnya bukanlah mana yang lebih dahulu Ayam atau Telur, atau sebaliknya. Masalahnya bukan pada ayamnya kalau telur tidak ada, atau masalahnya bukan pada telur kalau ayamnya tidak ada. Firman Tuhan itu seperti benih, kalau ditanam dengan baik, di hati yang mau dirubah, secara otomatis akan berubah pengalaman yang manis bersama Tuhan. Baiklah kita sama-sama mau membuka hati terhadap kebenaran Firman Tuhan, tanpa menegakkan kebenaran kita sendiri, pastilah kita semua akan mengalami betapa senangnya jadi Anak Tuhan.

ps: Sedikit trivia untuk penutup -- ada 3 jenis manusia di dunia ini.
1. Saya tahu kalau saya harus tahu
2. Saya tidak tahu kalau saya harus tahu
3. Saya tidak mau tahu apa-apa

Anda tergolong yang mana?

0 comments:

Post a Comment