Malam itu di tahun 1997, setelah teman saya mengajak ke kebaktian gereja yang saya hanya pergi sekali, saya pun belum begitu mengetahui apakah aliran Pentakosta, Karismatik, Reformed, Presbiterian, Baptis dan lain-lainnya karena saya masih Kristen anak-anak (saya menerima Yesus sebagai juruselamat saya tahun 1995 dan dibaptis tahun 1997), yang masih belum mengetahui banyak akan ajaran-ajaran yang benar, dan sesat, yang sehat dan yang tidak sehat. Kebetulan saya baru tahu gereja yang saya pergi itu adalah yang gereja karismatik.
Sewaktu saya di luar pintu pun saya sudah mulai merasakan getaran di hati, bahkan 'bulu-kuduk' saya merinding, mendengar puji-pujian di kebaktian tersebut, namun di satu pihak ada juga rasa gelisah dalam hati dan pikiran saya. Ketika saya mulai duduk di sana, saya datang sedikit telat (tau sendiri di Jakarta kayak apa) pada waktu saya mulai duduk, Firman Tuhan sudah mau disampaikan - "Kusiapkan hatiku Tuhan" yah saya ingat pujian itu yang dinyanyikan sebelum pemberitaan Firman Tuhan, namun anehnya setelah bait pertama dan baik kedua dinyanyikan lagu tersebut menjadi lagu yang asing buat telinga saya, karena kata-kata yang keluar dari orang-orang di sana, bahkan hamba Tuhan tersebut - bukan lagi kata-kata yang dapat saya mengerti, waktu itu saya merasa aneh sendiri, karena semua bisa bernyanyi dengan 'roh', keluar kata-kata yang saya tidak mengerti. Dengan mengambil sikap berdoa, saya berdoa kepada Tuhan, saya berusaha untuk berdoa, namun konsentrasi itu pecah sama sekali oleh orang-orang di sekitar saya yang berteriak-teriak, dan berbahasa 'roh'.
Setelah lagu tersebut selesai, hamba Tuhan ini memberitakan Firman Tuhan - Kisah para rasul pasalnya yang pertama, yah saya ingat sekali pasal Firman Tuhan malam itu. Saya berusaha untuk mengerti kebenaran Firman Tuhan yang diberitakan, namun kembali di tengah-tengah pemberitaan Firman Tuhan tersebut hamba Tuhan ini mulai berkata-kata dengan bahasa 'roh' dan orang-orang juga mulai bersahut-sahutan dengan bahasa 'roh', tentu saya tidak mengerti. Memang walaupun ada satu hal yang mengebu-gebu dalam emosi saya, sepertinya saya mau melonjak keluar -- emosi saya -- untuk merasakan hal yang sama yang mereka rasakan.
Setelah kebaktian selesai, saya pulang -- kemudian di kamar tidur saya, saya kembali membaca Kisah Para Rasul pasalnya yang pertama, tiba-tiba entah dari mana, lidah saya mulai tidak bisa saya kontrol, hati saya bergejolak, sepertinya itulah pengalaman saya pertama kali dengan bahasa 'roh', saya mulai berbicara dengan bahasa yang saya sendiri pun tidak mengerti, namun setelah berlangsung sekitar 15 menit, rasanya ada satu kepuasan diri, rasanya seperti 'emotional release'
Tahun demi tahun berjalan, saya tidak berbahasa 'roh' lagi, mungkin karena gereja saya adalah gereja yang injili, gereja di mana kebaktian tidak ada fenomana seperti yang saya terangkan di atas. Sampai satu waktu saya pindah ke Sydney - 1998, saya mengalami pada waktu malam kebaktian doa – satu hamba Tuhan berdoa, dan mengatakan kepada saya - panggilah Yesus, panggilah Yesus -- waktu itu saya menutup mata, sepertinya 'roh' saya sudah tidak ada di sana, sepertinya sudah melonjak keluar, dan di sanalah saya mengalami pengalaman yang kedua -- banyak orang katakan adalah baptisan 'roh'. Di kebaktian-kebaktian Minggu jarang sekali ada orang-orang yang berbahasa 'roh', bahkan kalau saya katakan tidak ada sama sekali. Sepertinya saya rasa waktu itu bagus juga, berarti bahasa 'roh' itu untuk membangun diri sendiri. Setelah 2 tahun saya harus kembali ke Jakarta untuk 'for good'.
Tapi memang adalah rencana Tuhan saya harus kembali ke Sydney tahun 2002. Setelah saya kembali ke Sydney, saya berkesempatan beribadah dan menjadi pelayan yang aktif di salah satu di gereja yang masih baru dan bertumbuh secara rohani -- non denominasi. Saya tetap giat melayani Tuhan. Bahasa 'roh' itu tidak pernah muncul lagi, sampai satu masa, gereja mulai ada satu jati diri. Akhirnya bahasa 'roh' yang saya pernah dapatkan dalam 2 pengalaman yang lalu, dapat muncul lagi -- saya mulai mempraktekkan mengunakan karunia tersebut untuk menguatkan hidup saya, karena seolah-olah ketika saya berdoa dengan bahasa 'roh' rasanya lebih manjur. Saya pun secara tidak sadar merasa lebih rohani, berada di tingkat yang lebih karena saya berbahasa 'roh' -- dan karena saya lebih mengalami pengalaman yang bersifat spiritual dibandingkan yang lain. Pelayanan saya tetap giat, sampai satu titik, saya bertanya-tanya kepada diri sendiri apakah yang saya lakukan ini benar-benar untuk Tuhan atau saya lakukan hanya untuk kepuasan diri sendiri, untuk merasa lebih daripada orang lain? Saya bergumul selama 3 tahun akan hal ini - sampai akhirnya saya memutuskan untuk mengambil waktu sejenak untuk intropeksi diri, yang akhir membulatkan tekad untuk memperbaharui motivasi pelayanan saya.
Saya tidak pernah mau menghakimi siapa-siapa, negarapun mengumandangkan kebebasan beragama, kebebasan cara berpikir, kebebasan menetapkan prinsip hidup di dalam diri, tapi biarlah Kebenaran Firman Tuhan senantiasa menjadi pondasi hidup kita, sehingga hari lepas hari kita yang sebagai gereja Tuhan semakin dibaharui menurut kebenaran Firman Tuhan seiring dengan pimpinan Roh Kudus. Bahkan, saya bersyukur juga karena banyak pembentukkan karakter yang terjadi selama saya melayani di mana Tuhan sudah tempatkan semenjak saya menerima Kristus sebagai juruslamat, bersyukur buat teman-teman yang saling menguatkan dalam iman Kristus yang sejati, bahkan bersyukur atas hamba Tuhan yang memimpin.
Bahasa 'roh' yang saya lakukan selama ini hanyalah bersifat egois, 'human-centered', bersifat untuk memuaskan diri sendiri. Memang Rasul Paulus pernah mengatakan bahasa roh itu untuk membangun diri sendiri, tapi waktu ini dikatakan -- karena ada unsur 'sarcasm' dibalik pernyataan tersebut, kalaupun tidak ada -- tidak seharusnya kita melakukan sesuatu hal yang bersifat membangun diri sendiri dalam pertemuan jemaat. Karunia-karunia Roh itu bersifat untuk membangun jemaat Tuhan, bukan untuk membangun diri sendiri.
Bahasa 'roh' yang saya lontarkan hanyalah seuntaian kata-kata yang tidak berarti, hanya sebagai luapan emosi, yang keluar dari mulut ini. Saya mendengar orang berbahasa 'roh', akhirnya menjadi satu contoh atau pola, saya -- mau tidak mau, sadar atau tidak sadar merekamnya lewat indera pendengaran saya. Orang memang bisa berkata, tidak seharusnya bahasa 'roh' diajarkan (walaupun ada beberapa gereja mengajarkan hal ini), memang betul bahasa 'roh' tidak bisa diajarkan, namun sadar tidak sadar kita sudah diajar berbahasa 'roh' ketika kita berkumpul dengan orang-orang yang menanggap mereka berbahasa 'roh' yakni lewat pendengaran kita. "Oh seperti itu yah, saya juga bisa" - rekaman tersebut satu waktu akan keluar sebagai luapan emosi kita, seolah-olah kita berbicara dengan Allah secara langsung, seolah-olah 'roh' kita sudah terbang di angkasa pada satu tingkat tertentu, seolah-olah Tuhan lebih bisa mendengar doa kita ketika kita berdoa dengan bahasa 'roh', seolah-olah keadaan kita tidak bisa dekat dengan Tuhan tanpa ada pengalaman bersama Roh.
Tuhan dekat dengan kita, karena Dia sudah menjelma menjadi Manusia, mati untuk kita dan menebus dosa-dosa kita, karena itulah Tuhan bisa dekat dengan kita bukan karena pengalaman-pengalaman yang bersifat 'spritual' yang membuat kita dekat dengan Tuhan. Oleh kasih Kristuslah kita bisa menghadap Dia bukan oleh karunia rohani, kita yang seharusnya dihukum, namun dibenarkan dan dikuduskan -- hanya oleh karena Anugrah.
Gerakan-gerakan tersebut terjadi karena bermula dari gereja yang mulai padam, gereja mulai letih lesu, gereja mengalami yang namanya satu rutinitas, gereja tanpa mengajarkan kebenaran Allah, dan di sinilah ketika muncul satu yang baru dan 'exciting', gereja mulai mengkonsumsi hal-hal tersebut dan mengatakan semua ini dari Tuhan yang mau membangkitkan gerejaNya. Untuk itulah kita harus semakin peka dalam hal ini, haruslah kita menguji dengan kebenaran Firman Tuhan, ketika ada seorang datang kepada kita dan berkata "Inilah perkataan Tuhan".
Saya tahu Tuhan akan mengerti kita dengan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa apapun yang kita sampaikan kepada Tuhan, jadi bukan karena kita memakai bahasa 'roh' lalu Tuhan lebih mengerti apa yang kita mau, apa yang menjadi isi hati kita, apa yang 'roh' kita kehendaki. Ada pernah juga yang mengatakan, dengan bahasa 'roh' maka Iblis tidak akan tahu apa yang saya katakan kepada Tuhan -- saya sendiri pun tidak tahu artinya ketika saya berbahasa 'roh' kepada Tuhan - karena yang saya katakan bukan berdasarkan akal budi saya, tapi hanya mengandalkan emosi saya. Jadi kalau saya bilang "Ba ba ba la la la" kemudian hati saya penuh damai sejahtera maka itulah bahasa roh yang benar? berarti saya berbicara kepada Tuhan? bagaimana saya tahu saya berbicara dengan Tuhan bukan dengan Setan? Atau bagaimana kita tahu kita berbicara dengan Tuhan tapi kata-kata yang saya ucapkan adalah kata-kata hujat? -- TIDAK, Bisakah Iblis memberikan damai sejahtera -- bisa -- karena hati kita ini gampang dikecoh, bukankah Iblis bisa menyamar sebagai malaikat terang? Untuk itulah yang bisa membedakan hanyalah kebenaran Firman Tuhan.
Saya tidak berbahasa 'roh' lagi, karena bahasa 'roh' yang saya katakan hanyalah untuk kepuasan diri, hanyalah untuk pelepasan dan peluapan emosi diri saya, hanyalah untuk menunjukkan bahwa saya lebih 'superior' daripada orang lain, bahkan bahasa 'roh' yang saya praktekkan membuat orang lain yang tidak bisa berbahasa 'roh' merasa depresi, mereka lebih rendah, merasa lebih berdosa, merasa salah (ampunilah saya selama ini Tuhan) -- dan untuk itulah banyak orang mengejar bahasa 'roh' ini hanya untuk melepaskan diri dari perasaan-perasaan seperti itu, agar tidak tertuduh. Bukankah kita semua berdosa di hadapan Allah, tidak seorangpun yang benar di hadapan Allah, ketika kita diselamatkan pun tidak ada yang yang menjadi lebih suci, lebih kudus dan lebih benar daripada yang lainnya.
Bahasa 'roh' yang saya katakan, saya sendiripun tidak tahu artinya apa. Orang lain pun tidak tahu artinya. Sesuatu yang bersifat emosional gampang ditiru oleh Iblis, sesuatu yang bersifat kelihatan pun gampang ditiru oleh Iblis, kelihatannya gerakan-gerakan ini adalah gerakan yang benar karena, banyak orang yang bertobat dan menerima Tuhan Yesus. Apakah kita mau melihat segala sesuatu hanya bersifat kuantitas bukan kualitas? Yang tidak bisa ditiru oleh Iblis adalah kebenaran Firman Tuhan yang sejati.
Saya menulis artikel ini bukan bertujuan untuk menjatuhkan, TIDAK, artikel ini saya tulis semata-mata adalah kesaksian saya pribadi yang mungkin bersifat subyektik daripada obyektif. Biarlah kita semua dengan sikap rendah hati yang mau belajar dengan menggali kebenaran Firman Tuhan yang hakiki oleh penyertaan Roh Kudus yang menguakkan kebenaran tersebut. Sola Gratia.
Recent Posts
Showing posts with label pengalaman. Show all posts
Showing posts with label pengalaman. Show all posts
07 July, 2009
05 June, 2009
Pengetahuan vs Pengalaman
Posted by
Anton Triyanto
Manakah yang lebih penting Pengetahuan atau Pengalaman? Mana yang lebih dahulu Pengetahuan dahulukah dan kemudian pengalaman mengikuti dari belakang? Atau sebaliknya. Saya menulis ini hanya sekedar menoreh blog ini setelah saya membaca satu gereja membuat acara dengan tema "Pengalaman lebih berharga dari Pengetahuan" (dalam hal ini saya tidak tahu apakah yang dimaksudkan pengetahuan oleh mereka), apakah benar pengalaman itu lebih berharga dibanding dengan pengetahuan?
Yah memang benar kalau terlalu banyak pengetahuan tanpa pengalaman hasilnya juga nol besar, tapi saya percaya kalau kita mengenal Tuhan dengan pengetahuan yang benar seperti yang dirindukan Paulus kepada jemaat di Kolose - Kol. 1:10, maka pengalaman secara otomatis muncul dari pengetahuan yang benar tersebut. Kecuali pengetahuan yang kita terima tersebut bukanlah pengetahuan yang benar, yang ada hanyalah 'pengetahuan' seperti yang diungkapkan Paulus di surat lainnya 1 Timotius 6:20, yakni pengetahuan yang membawa pertentangan-pertentangan.
Banyak jaman sekarang setelah orang bertobat dan merasa dipanggil menjadi hamba Tuhan, langsung mengembalakan jemaat, tanpa ada pengetahuan yang benar, dan hanya mengandalkan pengalaman bersama Tuhan sebagai satu fondasi untuk memimpin jemaat Tuhan, saya rasa hal ini terlalu mau enaknya saja. Tentunya latihan rohani itu juga perlu -- kita perlu tahu bagaimana kita berlatih secara rohani -- tanpa pengetahuan yang benar maka latihan rohani yang kita lakukan adalah sia-sia belaka.
Dalam hal jasmani kalau kita mau punya otot yang kuat, badan yang sehat, tentunya kita akan berlatih dengan sekuat tenaga, mustahil kalau ada yang mau bangun dari tidurnya pagi-pagi dan melihat badannya yang kekar di depan cermin seketika, tentu tidak ada. Semua hal itu perlu latihan, dan pengetahuan akan bagaimana caranya treadmill, caranya memakai alat-alat Gym supaya bisa mencapai satu tujuan.
Banyak juga yang berkata, Petrus saja bisa dipakai Tuhan secara luar biasa, kan dia juga hanya seorang nelayan. Okay, bagaimana dengan Paulus, dia itu orang yang berpengetahuan sekali, bahkan hampir seluruh kitab perjanjian penulisnya adalah Paulus, mengapa Paulus tidak diperbandingkan. Saya rasa hal ini hanya menjadi alasan dari akibat kemalasan dan terjeratnya pada zona aman. Biasanya hamba Tuhan seperti ini khotbahnya muter-muter yah itu-itu saja, dan biasanya mau jadi pendeta keliling saja. Supaya tidak ketauan kalau dia pernah khotbah yang sama di satu gereja. Memang benar ada juga hamba Tuhan khusus keliling dan menginjil dan memang hal itu sudah menjadi karunianya tapi seringkali, yang diinjili adalah orang-orang Kristen yang sudah lama percaya kepada Kristus. Apakah berarti tidak boleh menginjili orang-orang seperti itu? Saya rasa untuk orang-orang percaya harus dilakukan pembinaan bukan penginjilan, untuk orang-orang percaya tidak perlu disuruh ke depan, altar call, bertobat -- toh mereka sudah tau apa yang disebut bertobat itu hanya saja tidak mau melakukannya. Seringkali altar call cuman menjadi satu luapan emosi, karena merasa ditantang oleh hamba Tuhan, betul hal ini tidak salah, namun tidak benar sepenuhnya juga. Salah-salah pertobahan ini menjadi pertobatan yang dibuat-buat karena adanya unsur manusia terlibat, merasa tidak enak dengan pendeta, ada juga yang mungkin maju ke depan hanya untuk merasa 'aneh' kalau tidak maju, atau tidak sedikit juga yang maju hanya karena mau dilihat perempuan atau laki-laki yang dia taksir di gereja. Kembali saya tekankan semuanya itu adalah kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi, ada juga orang-orang yang benar-benar bertobat setelah altar call tersebut.
Nah pengalaman seperti itu memang berharga, tapi apakah yang men-trigger hal tersebut, bukankah adanya pengetahuan (Firman Tuhan) yang ditaburkan, dan ketika kita mendengar Firman tersebut iman kita bertumbuh dan hati kita bergejolak dan disadarkan kembali. Jadi ditanyakan kembali ke saudara manakah yang lebih berharga? kalau tidak ada pengetahuan tentunya tidak ada pengalaman bukan? Bukankah kita harus menginjak bangku sekolah untuk mengetahui segala sesuatu, sebelum kita mengalaminya? Semua pengalaman adalah berasal dari pengetahuan entah pengetahuan yang didapat dari bangku sekolah ataupun dari luar bangku sekolah, tapi intinya harus ada pengetahuan. Demikian dengan pengalaman hidup kita sebagai orang Kristen, pengetahuan akan Firman Tuhan itu berharga sekali, seringkali memang Tuhan bisa menegur kita dari pengalaman yang terjadi dalam kehidupan kita, tapi hal tersebut janganlah dijadikan confirmative, confirmative haruslah didasarkan Firman Tuhan. Sedangkan pengalaman itu bersifat affirmative, sifatnya mendukung, sedangkan yang nomor satu adalah yang bersifat confirmative tersebut.
Memang tidak sedikit juga orang yang mementingkan 'pengetahuan' dan mengabaikan 'pengalaman', tapi masalahnya bukanlah mana yang lebih dahulu Ayam atau Telur, atau sebaliknya. Masalahnya bukan pada ayamnya kalau telur tidak ada, atau masalahnya bukan pada telur kalau ayamnya tidak ada. Firman Tuhan itu seperti benih, kalau ditanam dengan baik, di hati yang mau dirubah, secara otomatis akan berubah pengalaman yang manis bersama Tuhan. Baiklah kita sama-sama mau membuka hati terhadap kebenaran Firman Tuhan, tanpa menegakkan kebenaran kita sendiri, pastilah kita semua akan mengalami betapa senangnya jadi Anak Tuhan.
ps: Sedikit trivia untuk penutup -- ada 3 jenis manusia di dunia ini.
1. Saya tahu kalau saya harus tahu
2. Saya tidak tahu kalau saya harus tahu
3. Saya tidak mau tahu apa-apa
Anda tergolong yang mana?
Yah memang benar kalau terlalu banyak pengetahuan tanpa pengalaman hasilnya juga nol besar, tapi saya percaya kalau kita mengenal Tuhan dengan pengetahuan yang benar seperti yang dirindukan Paulus kepada jemaat di Kolose - Kol. 1:10, maka pengalaman secara otomatis muncul dari pengetahuan yang benar tersebut. Kecuali pengetahuan yang kita terima tersebut bukanlah pengetahuan yang benar, yang ada hanyalah 'pengetahuan' seperti yang diungkapkan Paulus di surat lainnya 1 Timotius 6:20, yakni pengetahuan yang membawa pertentangan-pertentangan.
Banyak jaman sekarang setelah orang bertobat dan merasa dipanggil menjadi hamba Tuhan, langsung mengembalakan jemaat, tanpa ada pengetahuan yang benar, dan hanya mengandalkan pengalaman bersama Tuhan sebagai satu fondasi untuk memimpin jemaat Tuhan, saya rasa hal ini terlalu mau enaknya saja. Tentunya latihan rohani itu juga perlu -- kita perlu tahu bagaimana kita berlatih secara rohani -- tanpa pengetahuan yang benar maka latihan rohani yang kita lakukan adalah sia-sia belaka.
Dalam hal jasmani kalau kita mau punya otot yang kuat, badan yang sehat, tentunya kita akan berlatih dengan sekuat tenaga, mustahil kalau ada yang mau bangun dari tidurnya pagi-pagi dan melihat badannya yang kekar di depan cermin seketika, tentu tidak ada. Semua hal itu perlu latihan, dan pengetahuan akan bagaimana caranya treadmill, caranya memakai alat-alat Gym supaya bisa mencapai satu tujuan.
Banyak juga yang berkata, Petrus saja bisa dipakai Tuhan secara luar biasa, kan dia juga hanya seorang nelayan. Okay, bagaimana dengan Paulus, dia itu orang yang berpengetahuan sekali, bahkan hampir seluruh kitab perjanjian penulisnya adalah Paulus, mengapa Paulus tidak diperbandingkan. Saya rasa hal ini hanya menjadi alasan dari akibat kemalasan dan terjeratnya pada zona aman. Biasanya hamba Tuhan seperti ini khotbahnya muter-muter yah itu-itu saja, dan biasanya mau jadi pendeta keliling saja. Supaya tidak ketauan kalau dia pernah khotbah yang sama di satu gereja. Memang benar ada juga hamba Tuhan khusus keliling dan menginjil dan memang hal itu sudah menjadi karunianya tapi seringkali, yang diinjili adalah orang-orang Kristen yang sudah lama percaya kepada Kristus. Apakah berarti tidak boleh menginjili orang-orang seperti itu? Saya rasa untuk orang-orang percaya harus dilakukan pembinaan bukan penginjilan, untuk orang-orang percaya tidak perlu disuruh ke depan, altar call, bertobat -- toh mereka sudah tau apa yang disebut bertobat itu hanya saja tidak mau melakukannya. Seringkali altar call cuman menjadi satu luapan emosi, karena merasa ditantang oleh hamba Tuhan, betul hal ini tidak salah, namun tidak benar sepenuhnya juga. Salah-salah pertobahan ini menjadi pertobatan yang dibuat-buat karena adanya unsur manusia terlibat, merasa tidak enak dengan pendeta, ada juga yang mungkin maju ke depan hanya untuk merasa 'aneh' kalau tidak maju, atau tidak sedikit juga yang maju hanya karena mau dilihat perempuan atau laki-laki yang dia taksir di gereja. Kembali saya tekankan semuanya itu adalah kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi, ada juga orang-orang yang benar-benar bertobat setelah altar call tersebut.
Nah pengalaman seperti itu memang berharga, tapi apakah yang men-trigger hal tersebut, bukankah adanya pengetahuan (Firman Tuhan) yang ditaburkan, dan ketika kita mendengar Firman tersebut iman kita bertumbuh dan hati kita bergejolak dan disadarkan kembali. Jadi ditanyakan kembali ke saudara manakah yang lebih berharga? kalau tidak ada pengetahuan tentunya tidak ada pengalaman bukan? Bukankah kita harus menginjak bangku sekolah untuk mengetahui segala sesuatu, sebelum kita mengalaminya? Semua pengalaman adalah berasal dari pengetahuan entah pengetahuan yang didapat dari bangku sekolah ataupun dari luar bangku sekolah, tapi intinya harus ada pengetahuan. Demikian dengan pengalaman hidup kita sebagai orang Kristen, pengetahuan akan Firman Tuhan itu berharga sekali, seringkali memang Tuhan bisa menegur kita dari pengalaman yang terjadi dalam kehidupan kita, tapi hal tersebut janganlah dijadikan confirmative, confirmative haruslah didasarkan Firman Tuhan. Sedangkan pengalaman itu bersifat affirmative, sifatnya mendukung, sedangkan yang nomor satu adalah yang bersifat confirmative tersebut.
Memang tidak sedikit juga orang yang mementingkan 'pengetahuan' dan mengabaikan 'pengalaman', tapi masalahnya bukanlah mana yang lebih dahulu Ayam atau Telur, atau sebaliknya. Masalahnya bukan pada ayamnya kalau telur tidak ada, atau masalahnya bukan pada telur kalau ayamnya tidak ada. Firman Tuhan itu seperti benih, kalau ditanam dengan baik, di hati yang mau dirubah, secara otomatis akan berubah pengalaman yang manis bersama Tuhan. Baiklah kita sama-sama mau membuka hati terhadap kebenaran Firman Tuhan, tanpa menegakkan kebenaran kita sendiri, pastilah kita semua akan mengalami betapa senangnya jadi Anak Tuhan.
ps: Sedikit trivia untuk penutup -- ada 3 jenis manusia di dunia ini.
1. Saya tahu kalau saya harus tahu
2. Saya tidak tahu kalau saya harus tahu
3. Saya tidak mau tahu apa-apa
Anda tergolong yang mana?