Recent Posts

07 July, 2009

Mengapa saya tidak berbahasa 'roh' lagi?

Malam itu di tahun 1997, setelah teman saya mengajak ke kebaktian gereja yang saya hanya pergi sekali, saya pun belum begitu mengetahui apakah aliran Pentakosta, Karismatik, Reformed, Presbiterian, Baptis dan lain-lainnya karena saya masih Kristen anak-anak (saya menerima Yesus sebagai juruselamat saya tahun 1995 dan dibaptis tahun 1997), yang masih belum mengetahui banyak akan ajaran-ajaran yang benar, dan sesat, yang sehat dan yang tidak sehat. Kebetulan saya baru tahu gereja yang saya pergi itu adalah yang gereja karismatik.

Sewaktu saya di luar pintu pun saya sudah mulai merasakan getaran di hati, bahkan 'bulu-kuduk' saya merinding, mendengar puji-pujian di kebaktian tersebut, namun di satu pihak ada juga rasa gelisah dalam hati dan pikiran saya. Ketika saya mulai duduk di sana, saya datang sedikit telat (tau sendiri di Jakarta kayak apa) pada waktu saya mulai duduk, Firman Tuhan sudah mau disampaikan - "Kusiapkan hatiku Tuhan" yah saya ingat pujian itu yang dinyanyikan sebelum pemberitaan Firman Tuhan, namun anehnya setelah bait pertama dan baik kedua dinyanyikan lagu tersebut menjadi lagu yang asing buat telinga saya, karena kata-kata yang keluar dari orang-orang di sana, bahkan hamba Tuhan tersebut - bukan lagi kata-kata yang dapat saya mengerti, waktu itu saya merasa aneh sendiri, karena semua bisa bernyanyi dengan 'roh', keluar kata-kata yang saya tidak mengerti. Dengan mengambil sikap berdoa, saya berdoa kepada Tuhan, saya berusaha untuk berdoa, namun konsentrasi itu pecah sama sekali oleh orang-orang di sekitar saya yang berteriak-teriak, dan berbahasa 'roh'.

Setelah lagu tersebut selesai, hamba Tuhan ini memberitakan Firman Tuhan - Kisah para rasul pasalnya yang pertama, yah saya ingat sekali pasal Firman Tuhan malam itu. Saya berusaha untuk mengerti kebenaran Firman Tuhan yang diberitakan, namun kembali di tengah-tengah pemberitaan Firman Tuhan tersebut hamba Tuhan ini mulai berkata-kata dengan bahasa 'roh' dan orang-orang juga mulai bersahut-sahutan dengan bahasa 'roh', tentu saya tidak mengerti. Memang walaupun ada satu hal yang mengebu-gebu dalam emosi saya, sepertinya saya mau melonjak keluar -- emosi saya -- untuk merasakan hal yang sama yang mereka rasakan.

Setelah kebaktian selesai, saya pulang -- kemudian di kamar tidur saya, saya kembali membaca Kisah Para Rasul pasalnya yang pertama, tiba-tiba entah dari mana, lidah saya mulai tidak bisa saya kontrol, hati saya bergejolak, sepertinya itulah pengalaman saya pertama kali dengan bahasa 'roh', saya mulai berbicara dengan bahasa yang saya sendiri pun tidak mengerti, namun setelah berlangsung sekitar 15 menit, rasanya ada satu kepuasan diri, rasanya seperti 'emotional release'

Tahun demi tahun berjalan, saya tidak berbahasa 'roh' lagi, mungkin karena gereja saya adalah gereja yang injili, gereja di mana kebaktian tidak ada fenomana seperti yang saya terangkan di atas. Sampai satu waktu saya pindah ke Sydney - 1998, saya mengalami pada waktu malam kebaktian doa – satu hamba Tuhan berdoa, dan mengatakan kepada saya - panggilah Yesus, panggilah Yesus -- waktu itu saya menutup mata, sepertinya 'roh' saya sudah tidak ada di sana, sepertinya sudah melonjak keluar, dan di sanalah saya mengalami pengalaman yang kedua -- banyak orang katakan adalah baptisan 'roh'. Di kebaktian-kebaktian Minggu jarang sekali ada orang-orang yang berbahasa 'roh', bahkan kalau saya katakan tidak ada sama sekali. Sepertinya saya rasa waktu itu bagus juga, berarti bahasa 'roh' itu untuk membangun diri sendiri. Setelah 2 tahun saya harus kembali ke Jakarta untuk 'for good'.

Tapi memang adalah rencana Tuhan saya harus kembali ke Sydney tahun 2002. Setelah saya kembali ke Sydney, saya berkesempatan beribadah dan menjadi pelayan yang aktif di salah satu di gereja yang masih baru dan bertumbuh secara rohani -- non denominasi. Saya tetap giat melayani Tuhan. Bahasa 'roh' itu tidak pernah muncul lagi, sampai satu masa, gereja mulai ada satu jati diri. Akhirnya bahasa 'roh' yang saya pernah dapatkan dalam 2 pengalaman yang lalu, dapat muncul lagi -- saya mulai mempraktekkan mengunakan karunia tersebut untuk menguatkan hidup saya, karena seolah-olah ketika saya berdoa dengan bahasa 'roh' rasanya lebih manjur. Saya pun secara tidak sadar merasa lebih rohani, berada di tingkat yang lebih karena saya berbahasa 'roh' -- dan karena saya lebih mengalami pengalaman yang bersifat spiritual dibandingkan yang lain. Pelayanan saya tetap giat, sampai satu titik, saya bertanya-tanya kepada diri sendiri apakah yang saya lakukan ini benar-benar untuk Tuhan atau saya lakukan hanya untuk kepuasan diri sendiri, untuk merasa lebih daripada orang lain? Saya bergumul selama 3 tahun akan hal ini - sampai akhirnya saya memutuskan untuk mengambil waktu sejenak untuk intropeksi diri, yang akhir membulatkan tekad untuk memperbaharui motivasi pelayanan saya.

Saya tidak pernah mau menghakimi siapa-siapa, negarapun mengumandangkan kebebasan beragama, kebebasan cara berpikir, kebebasan menetapkan prinsip hidup di dalam diri, tapi biarlah Kebenaran Firman Tuhan senantiasa menjadi pondasi hidup kita, sehingga hari lepas hari kita yang sebagai gereja Tuhan semakin dibaharui menurut kebenaran Firman Tuhan seiring dengan pimpinan Roh Kudus. Bahkan, saya bersyukur juga karena banyak pembentukkan karakter yang terjadi selama saya melayani di mana Tuhan sudah tempatkan semenjak saya menerima Kristus sebagai juruslamat, bersyukur buat teman-teman yang saling menguatkan dalam iman Kristus yang sejati, bahkan bersyukur atas hamba Tuhan yang memimpin.

Bahasa 'roh' yang saya lakukan selama ini hanyalah bersifat egois, 'human-centered', bersifat untuk memuaskan diri sendiri. Memang Rasul Paulus pernah mengatakan bahasa roh itu untuk membangun diri sendiri, tapi waktu ini dikatakan -- karena ada unsur 'sarcasm' dibalik pernyataan tersebut, kalaupun tidak ada -- tidak seharusnya kita melakukan sesuatu hal yang bersifat membangun diri sendiri dalam pertemuan jemaat. Karunia-karunia Roh itu bersifat untuk membangun jemaat Tuhan, bukan untuk membangun diri sendiri.

Bahasa 'roh' yang saya lontarkan hanyalah seuntaian kata-kata yang tidak berarti, hanya sebagai luapan emosi, yang keluar dari mulut ini. Saya mendengar orang berbahasa 'roh', akhirnya menjadi satu contoh atau pola, saya -- mau tidak mau, sadar atau tidak sadar merekamnya lewat indera pendengaran saya. Orang memang bisa berkata, tidak seharusnya bahasa 'roh' diajarkan (walaupun ada beberapa gereja mengajarkan hal ini), memang betul bahasa 'roh' tidak bisa diajarkan, namun sadar tidak sadar kita sudah diajar berbahasa 'roh' ketika kita berkumpul dengan orang-orang yang menanggap mereka berbahasa 'roh' yakni lewat pendengaran kita. "Oh seperti itu yah, saya juga bisa" - rekaman tersebut satu waktu akan keluar sebagai luapan emosi kita, seolah-olah kita berbicara dengan Allah secara langsung, seolah-olah 'roh' kita sudah terbang di angkasa pada satu tingkat tertentu, seolah-olah Tuhan lebih bisa mendengar doa kita ketika kita berdoa dengan bahasa 'roh', seolah-olah keadaan kita tidak bisa dekat dengan Tuhan tanpa ada pengalaman bersama Roh.

Tuhan dekat dengan kita, karena Dia sudah menjelma menjadi Manusia, mati untuk kita dan menebus dosa-dosa kita, karena itulah Tuhan bisa dekat dengan kita bukan karena pengalaman-pengalaman yang bersifat 'spritual' yang membuat kita dekat dengan Tuhan. Oleh kasih Kristuslah kita bisa menghadap Dia bukan oleh karunia rohani, kita yang seharusnya dihukum, namun dibenarkan dan dikuduskan -- hanya oleh karena Anugrah.

Gerakan-gerakan tersebut terjadi karena bermula dari gereja yang mulai padam, gereja mulai letih lesu, gereja mengalami yang namanya satu rutinitas, gereja tanpa mengajarkan kebenaran Allah, dan di sinilah ketika muncul satu yang baru dan 'exciting', gereja mulai mengkonsumsi hal-hal tersebut dan mengatakan semua ini dari Tuhan yang mau membangkitkan gerejaNya. Untuk itulah kita harus semakin peka dalam hal ini, haruslah kita menguji dengan kebenaran Firman Tuhan, ketika ada seorang datang kepada kita dan berkata "Inilah perkataan Tuhan".

Saya tahu Tuhan akan mengerti kita dengan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa apapun yang kita sampaikan kepada Tuhan, jadi bukan karena kita memakai bahasa 'roh' lalu Tuhan lebih mengerti apa yang kita mau, apa yang menjadi isi hati kita, apa yang 'roh' kita kehendaki. Ada pernah juga yang mengatakan, dengan bahasa 'roh' maka Iblis tidak akan tahu apa yang saya katakan kepada Tuhan -- saya sendiri pun tidak tahu artinya ketika saya berbahasa 'roh' kepada Tuhan - karena yang saya katakan bukan berdasarkan akal budi saya, tapi hanya mengandalkan emosi saya. Jadi kalau saya bilang "Ba ba ba la la la" kemudian hati saya penuh damai sejahtera maka itulah bahasa roh yang benar? berarti saya berbicara kepada Tuhan? bagaimana saya tahu saya berbicara dengan Tuhan bukan dengan Setan? Atau bagaimana kita tahu kita berbicara dengan Tuhan tapi kata-kata yang saya ucapkan adalah kata-kata hujat? -- TIDAK, Bisakah Iblis memberikan damai sejahtera -- bisa -- karena hati kita ini gampang dikecoh, bukankah Iblis bisa menyamar sebagai malaikat terang? Untuk itulah yang bisa membedakan hanyalah kebenaran Firman Tuhan.

Saya tidak berbahasa 'roh' lagi, karena bahasa 'roh' yang saya katakan hanyalah untuk kepuasan diri, hanyalah untuk pelepasan dan peluapan emosi diri saya, hanyalah untuk menunjukkan bahwa saya lebih 'superior' daripada orang lain, bahkan bahasa 'roh' yang saya praktekkan membuat orang lain yang tidak bisa berbahasa 'roh' merasa depresi, mereka lebih rendah, merasa lebih berdosa, merasa salah (ampunilah saya selama ini Tuhan) -- dan untuk itulah banyak orang mengejar bahasa 'roh' ini hanya untuk melepaskan diri dari perasaan-perasaan seperti itu, agar tidak tertuduh. Bukankah kita semua berdosa di hadapan Allah, tidak seorangpun yang benar di hadapan Allah, ketika kita diselamatkan pun tidak ada yang yang menjadi lebih suci, lebih kudus dan lebih benar daripada yang lainnya.

Bahasa 'roh' yang saya katakan, saya sendiripun tidak tahu artinya apa. Orang lain pun tidak tahu artinya. Sesuatu yang bersifat emosional gampang ditiru oleh Iblis, sesuatu yang bersifat kelihatan pun gampang ditiru oleh Iblis, kelihatannya gerakan-gerakan ini adalah gerakan yang benar karena, banyak orang yang bertobat dan menerima Tuhan Yesus. Apakah kita mau melihat segala sesuatu hanya bersifat kuantitas bukan kualitas? Yang tidak bisa ditiru oleh Iblis adalah kebenaran Firman Tuhan yang sejati.

Saya menulis artikel ini bukan bertujuan untuk menjatuhkan, TIDAK, artikel ini saya tulis semata-mata adalah kesaksian saya pribadi yang mungkin bersifat subyektik daripada obyektif. Biarlah kita semua dengan sikap rendah hati yang mau belajar dengan menggali kebenaran Firman Tuhan yang hakiki oleh penyertaan Roh Kudus yang menguakkan kebenaran tersebut. Sola Gratia.

4 comments:

Thatha said...

�� aneh..anda mendapat karunia bhs roh padahal drumah,,bkn pd saat altarcall, atau bkn saat ditumpangtangan hamba Tuhan dan mendapatkan'a jg pd saat sedang bersekutu dgn Tuhan..tp anda malah meragukan ..

jamahan yg anda rasakan malah anda berfikir kalo itu emosional release.. jgn samakan jamahan roh kudus dgn emosional release cth : org yg sakit hati & menyimpan dendam dalam hati sampai tdk sudih utk berdamai, dan mengampuni dia bisa merasakan emosional release menangis tersedu2 memang merasa lega tp tdk menjamin dia mendapat kerinduan& gairah yg timbul dlm hati utk berdamai & mengampuni org yg sdh menyakiti'a. Karena ketika suatu waktu teringat, pasti bisa kesal lagi.

Tp kalo roh Kudus sdh menjamah, hati kita diubahkan tiba2 muncul keinginan dlm hati utk berdamai & mengampuni padahal kita sdh berjanji dgn diri sendiri tdk mau mengampuni..karna itu yg sy rasakan waktu pertama kali dipenuhi roh kudus dan berbahasa roh..

& Pertama kali ketika saya berbahasa roh, bukan karena di otak yg sudah terekam bahasa roh org lain, karena bahasa roh saya itu muncul justru ketika sy dijamah dan bsa merasakan kasih mula2 ketika menyembah tdk biasa aja tp sesuatu yg menggebu2 & berbunga2 seperti org yg bisa senyum2 sendiri ketika memikirkan org yg kita sukai. Itu yg saya rasakan ketika menyembah Tuhan dgn menyanyikan puji2an, lalu tiba2 kata2 sy berubah..pokoknya ketika sedang berbahasa roh selama sy fokus mengarahkan hati sy pd Tuhan bahasa roh itu akan terus berjalan, tp setiap sedang berbahasa roh tp dipikiran saya ada perasaan ragu atau pikiran Ditempat lain maka tiba2 bahasa roh saya jd lemah dan berhenti. Itu yg membuat saya yakin kalau bahasa roh yg sy dptkan adalah dr roh Kudus.

& bahasa roh yg saya dapatkan, tidak memberikan kepuasan buat sy sendiri,
Tp saya bersyukur karena dipenuhi
Roh Kudus dgn tanda awal berbahasa roh banyak perubahan yg dirasakan,
Dalam pelayanan(jd berani, ketika disuruh bawa firman sy bisa gagap ngomongnya dan banyak jeda tp entah bagaimana semenjak dpenuhi roh Kudus ngomong saya jd lancar dan rasanya mengalir, terutama dalam hubungan pribadi dengan Tuhan saya jadi peka, hati ini jd senantiasa rindu sama Tuhan.

Inilah damai sejahtera yg hanya Tuhan saja yg bisa berikan.. kalau anda bilang iblis jg bisa memberikan damai sejahtera , saya bilang salah. Iblis tidak bisa memberikan damai sejahtera,meskipun dia bisa menyamar jd malaikat terang, sifat iblis adalah mencuri membunuh dan membinasakan, bagaimanapun juga dia ingin memisahkan kita dr Tuhan, dia tidak akan memberikan sesuatu yg justru malah membuat kita semakin melekat pada Tuhan.
Seperti contoh dia bisa menjadi roh intimidasi yg memasukan pikiran2 negatif, perasaan tidak layak,dll yg bisa membuat kita menjadi orang yg tidak percaya.

Unknown said...

Mungkin roh kuda kali

Unknown said...

Syalom saudaraku,tlg baca dan pelajari baik" ttg karunia berbahasa roh itu buat apa,saya yakin dan percaya Tuhan mengaruniakan bhs roh / bhs lidah pasti untuk menyebarkan injil ke umat manusia sejak kapan karunia bhs roh/lidah utk berdoa,contoh yg pasti benar dlm Kisah Rasul 2:1-6,itu jelas dpt karunia dari Roh Kudus,kenapa pada waktu itu Roh Kudus mengaruniakan bhs roh/lidah ke 12 rasul,utk mewartakan pekerjaan Tuhan di dunia ini(artinya utk penginjilan),knp para rasul gak pakai bhs ibrani/yunani sementara orang" saleh yg berkumpul di Yerusalem semuanya berasal dari luar israel,maka moment itu Tuhan pakai melalui para rasul dg karunia bhs roh utk mewartakan injil,pada waktu Firman Tuhan belum di tulis jadi kitab,gimana mereka mau belajar/mengenal Tuhan,kalo saat ini Firman Tuhan sdh jadi kitab bahkan sdh diterjemahkan ke dlm berjuta-juta bhs,jadi setiap umat manusia yg mau belajar mengenal Tuhan kan tinggal baca alkitab sesuai bhs masing",ttg karunia bhs roh kemungkinanya kecil utk di gunakanya lagi,sekali lagi saya tekankan saat ini orang utk mengakses Firman Tuhan sangat mudah,begitu juga dlm penginjilan gak perlu repot" minta karunia berbhs roh, kecuali bila kita di kirim Tuhan ke suku pedalaman yg kita tdk memahami bahasanya,baru karunia berbhs roh/lidah pasti Roh Kudus sertakan utk penginjilan,yg aneh kalo orang berbhs roh di gereja,TYM

Unknown said...

Saya setuju.
Bahkan di greja kalau satu orang berbahasa roh maka semuanya pada ngikutin ribut semuanya dan tidak ada yang mnfsirkan pdahal aturannya
Biarlah dua atau sebanyak nya tiga orang dan harus ada yang mnfsirkan tapi yang trjadi adalah orang pada nggak mau kalah 😂😂😂

Post a Comment