Recent Posts

Showing posts with label Masalah Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Masalah Kehidupan. Show all posts

22 April, 2011

Kasihilah Musuhmu

Matius 5:44a
Tetapi Aku (Yesus) berkata kepadamu (kita): Kasihilah musuhmu...

Perkataan Yesus ini membuat saya merenung, bagaimana kita dapat mengasihi musuh kita? Pertanyaannya bukanlah bagaimana namun mengapa kita dapat mengasihi musuh kita?

Cara-cara manusia berusaha untuk melupakannya dengan cara tidak pernah mau untuk mengingat-ingat kejadian buruk yang orang lain lakukan terhadap kita, seolah-olah dengan menjalankan hal tersebut kita akan berangsur-angsur mengampuni musuh kita dan mengasihinya. Bahkan ada pepatah mengatakan hanya waktulah yang akan menyembuhkan luka. Saya agak skeptis dengan pernyataan tersebut, karena fakta berbicara banyak orang yang masih mempunyai musuh setelah bertahun-tahun lamanya.

Dalam Jumat Agung tahun ini kembali kita diingatkan untuk mengampuni orang lain sama seperti Allah telah mengampuni kita melalui AnakNya, Yesus Kristus yang mati menjadi tebusan bagi kita.

Pertanyaan berikutnya adalah, apakah kita benar-benar yakin bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah karena kasih karunia Allah semata-mata, tidak ada satupun dari kita yang dapat luput dari murka Allah, tanpa melalui penebusan Kristus.

Namun bagi sebagian besar orang pengampunan Kristus untuk kita tidak terlalu terkait dengan pengampunan kita terhadap orang yang telah bersalah kepada kita. Ketika saya tidak bisa mengampuni, saya akan bertanya kepada diri sendiri benarkah pengampunan Allah yang menurut saya ada dalam diri saya adalah pengampunan yang sejati?

Jika memang demikian, seharusnya tidak ada lagi kata 'musuh' di dalam kamus kita, manusia bukanlah musuh kita. Ketika Tuhan mengajarkan kita untuk mengasihi musuh kita, hanya melalui kasih Kristus sajalah kita bisa mengasihi mereka, secara otomatis bagi kita, mereka bukanlah 'musuh' kita lagi. Mengapa masih dikatakan musuh? Jika mereka adalah orang percaya kepada Kristus tentu mereka tidak akan menganggap kita musuh lagi, tetapi justru karena mereka belum mengalami pengampunan tersebut untuk itulah mereka akan selalu menganggap kita 'musuh'.

Di Jumat Agung ini baiklah kita bertanya kepada diri sendiri, benarkah kita sudah mengalami pengampunan yang sejati itu? Jika sudah, mengapa kita masih menganggap 'musuh' kepada orang yang berbuat buruk kepada kita?

Selidiki hati kami, ya Tuhan. Biarlah kami mengalami pengampunan sejati tersebut, dan terus mengingat betapa Engkau telah menyatakan kasihMu kepada kami, oleh karena Kristus telah mati untuk kami, ketika kami masih berdosa.

23 March, 2010

Simplicity Is Possible and Good

From desiringgod.og

I Timohy 6:8: "If we have food and clothing, with these we shall be content." Christians can be and ought to be content with the simple necessities of life. I'll mention three reasons why simplicity is possible and good. First, because when you have God near you and for you, you don't need extra money or extra things to give you peace and security. Hebrews 13:5, 6 says,

Keep your life free from the love of money. Be content with what you have. For he has said, "I will never fail you nor forsake you." Hence we can confidently say, "The Lord is my helper, I will not be afraid; what can man do to me?"

No matter which way the market is moving, God is always better than gold. Therefore, by God's help we can be content with the simple necessities of life.

Second, we can be content with the necessities of life because the deepest, most satisfying delights God gives us through creation are free gifts from nature and loving relationships with people. After your basic needs are met, money begins to diminish your capacity for these pleasures rather than increase them. Buying things contributes absolutely nothing to the heart's capacity for joy. There is a deep difference between the temporary thrill of a new toy and a homecoming hug from a devoted friend. Who do you think has the deepest most satisfying joy in life, the man who pays $100 for a fortieth floor suite downtown and spends his evening in the half-lit, smoke filled lounge impressing strange women with ten dollar cocktails, or the man who chooses the Motel 6 by a vacant lot of sunflowers and spends his evening watching the sunset and writing a love letter to his wife?

Third, we should be content with the simple necessities of life because we could invest the extra that we make for what really counts. Three billion people today are outside Jesus Christ. Two-thirds of those do not have a viable Christian witness in their culture. If they are to hear—and Christ commands that they hear—cross-cultural missionaries will have to be sent and paid for. All the wealth needed to send this new army of good news ambassadors is in the American church. If we, like Paul, are content with the simple necessities of life, thousands of dollars at Bethlehem and millions of dollars in the Baptist General Conference and hundreds of millions of dollars in the Protestant church would be released to take the gospel to the frontiers. And the revolution of joy and freedom it would cause at home would be the best local witness imaginable. The biblical call is that you can and ought to be content with the simple necessities of life. Therefore, don't try to get rich.

19 January, 2010

Covetousness (Keserakahan)

Covetousness is desiring something so much that you lose your contentment in God.

The opposite of covetousness is contentment in God. When contentment in God decreases, covetousness for gain increases. That's why Paul says in Colossians 3:5 that covetousness is idolatry. "Put to death what is earthly in you: immorality, impurity, passion, evil desire, and covetousness which is idolatry." It's idolatry because the contentment that the heart should be getting from God it starts to get from something else.

So covetousness is desiring something so much that you lose your contentment in God. Or: losing your contentment in God so that you start to seek it elsewhere.

Have you ever considered that the Ten Commandments begin and end with virtually the same commandment? "You shall have no other gods before me" (Exodus 20:3) and "You shall not covet" (Exodus 20:17) are almost equivalent commands. Coveting is desiring anything other than God in a way that betrays a loss of contentment and satisfaction in him. Covetousness is a heart divided between two gods. So Paul calls it idolatry.

~ excerpt from John Piper 1988

22 December, 2009

Ajaran Tentang Kemakmuran: Mengelabui dan Mematikan

Ketika saya membaca tentang gereja yang mengajarkan tentang kemakmuran, respon saya adalah: Seandainya saya bukan orang Kristen, saya tidak akan ingin masuk Kristen. Dengan kata lain, seandainya ini adalah pesan Yesus, mohon maaf saya tidak mau.

Memikat orang untuk mengikut Kristus supaya kaya adalah bohong dan mematikan. Ini adalah bohong karena pada waktu Yesus sendiri memanggil kita, Ia mengatakan hal-hal seperti: “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridKu” (Lukas 14:33). Dan ini mematikan karena hasrat untuk menjadi kaya menjerumuskan “orang ke dalam keruntuhan dan kebinasaan” (1 Timotius 6:9). Jadi inilah permohonanku kepada para pemberita injil.

1. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang membuat manusia lebih sulit lagi untuk masuk surga.

Yesus berkata, “Betapa sulitnya bagi orang kaya untuk masuk ke dalam kerajaan Allah!” Murid-muridnya tercengang, sebagaimana banyak orang dalam gerakan “kemakmuran” seharusnya bereaksi. Yesus kemudian meneruskan yang membuat mereka bahkan lebih heran lagi dengan berkata, “lebih mudah seekor unta masuk ke lobang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah.” Mereka merespon dalam ketidak-percayaan: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah” (Markus 10:23-27).

Pertanyaan saya bagi para pendeta yang mengajarkan tentang kemakmuran adalah: Mengapa anda ingin mengembangkan fokus gereja yang membuat sulit bagi manusia untuk masuk surga?

2. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang mengobarkan keinginan manusia untuk bunuh diri.

Paulus berkata, “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar, sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia, dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa keluar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” Tetapi kemudian ia memperingatkan akan keinginan untuk menjadi kaya. Dan secara implisit, ia memperingatkan para pendeta yang menimbulkan keinginan untuk menjadi kaya ketimbang menolong manusia untuk menjauhkan diri darinya. Ia memperingatkan, “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat, dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan adalah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1 Timotius 6:6-10).

Jadi pertanyaan saya kepada pendeta yang mengajarkan tentang kemakmuran adalah: mengapa anda mau mengembangkan gereja yang mendorong manusia untuk menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka dan menenggelamkan dirinya ke dalam keruntuhan dan kebinasaan?

3. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang mendorong kerentanan terhadap ngengat dan karat.

Yesus memberi peringatan terhadap upaya untuk mengumpulkan harta di dunia. Yaitu, ia menyuruh kita untuk menjadi pemberi, bukan penyimpan. “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi, di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya, tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga, di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya” (Matius 6:19).

Memang, kita semua menyimpan sesuatu. Namun karena adanya kecenderungan untuk serakah dalam diri kita semua, mengapa kita menanggalkan fokus dari Yesus dan memutar-balikkannya?

4. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang menjadikan kerja keras sebagai jalan untuk mendapatkan kekayaan yang berlimpah.

Paulus berkata kita tidak boleh mencuri. Pilihannya adalah kerja keras dengan tangan kita sendiri. Tetapi tujuan utamanya bukan semata-mata untuk menimbun atau bahkan untuk memiliki. Tujuannya adalah “memiliki untuk memberi.” “tetapi baiklah ia bekerja keras, dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan” (Efesus 4:28). Ini bukanlah suatu pembenaran untuk menjadi kaya supaya dapat memberi lebih banyak lagi. Tidak ada alasan mengapa seseorang yang berpenghasilan $ 200.000 harus hidup secara berbeda daripada cara hidup orang yang berpenghasilan $ 80.000. Carilah pola hidup seperti dalam masa perang; ketatkan pengeluaran anda; dan bagikanlah sisanya kepada orang lain.

Mengapa anda harus mendorong orang untuk berpikir bahwa mereka harus memiliki kekayaan supaya bisa menjadi pemberi yang boros? Mengapa tidak mendorong mereka untuk hidup lebih sederhana dan menjadi pemberi yang lebih boros lagi? Bukankah itu akan menambah kemurahan mereka menjadi suatu kesaksian yang baik bahwa Kristuslah harta mereka, bukan benda yang mereka miliki?

5. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang mengakibatkan berkurangnya iman terhadap janji-janji Tuhan kepada kita yang tidak dapat dibeli dengan uang.

Alasan penulis kepada bangsa Ibrani mengajarkan kepada kita untuk merasa cukup dengan apa yang ada pada kita adalah karena jika tidak maka iman kita terhadap janji Tuhan akan berkurang. Ia berkata, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu, karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata, “Tuhan adalah Penolongku, aku tidak akan takut, apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Ibrani 13:5-6).

Bila Alkitab mengajarkan kepada kita untuk merasa puas dengan apa yang ada pada kita meyakini akan janji-janji Tuhan yang tidak akan pernah meninggalkan kita, mengapa kita mau mengajarkan kepada manusia untuk ingin menjadi kaya?

6. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang mengakibatkan umat anda merasa terhimpit.

Yesus mengingatkan bahwa firman Tuhan, yang ditujukan untuk memberi kita kehidupan, dapat kehilangan efektifitasnya oleh kekayaan. FirmanNya berkata bahwa ini bagaikan benih yang tumbuh di antara semak duri yang menghimpitnya sampai mati: “Orang yang telah mendengarkan firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimput dengan ….kekayaan…hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang” (Lukas 8:14).

Mangapa kita mau mendorong manusia untuk mengejar sesuatu yang Yesus katakan akan menghimpit kita?

7. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang membuat garam menjadi tawar dan meletakkan lampu di bawah gantang.

Hal apakah yang membuat orang Kristen menjadi garam dunia dan terang dunia? Bukanlah kekayaan. Hasrat akan kekayaan dan pengejaran akan kekayaan terasa dan kelihatan seperti dunia. Ini tidak memberi dunia sesuatu yang berbeda daripada apa yang telah diyakininya. Tragedi besar dari pengajaran tentang kemakmuran adalah bahwa seseorang tidak perlu dibangkitkan secara spiritual untuk memeluknya; cukuplah dengan serakah. Menjadi kaya dalam nama Yesus bukanlah garam dunia atau terang dunia. Dalam hal demikian, dunia hanya melihat suatu refleksi tentang dirinya sendiri. Dan kalau berhasil, orang akan mau.

Konteks dari perkataan Yesus menunjukkan kepada kita apa yang dimaksud dengan garam dan terang. Ini adalah kemauan secara sukacita untuk berkorban bagi Kristus. Beginilah sabda Yesus, “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu. Kamu adalah garam dunia….Kamu adalah terang dunia” (Matius 5:11-14).

Apa yang akan membuat dunia merasakan (garam) dan melihat (terang) Kristus dalam diri kita bukanlah bahwa kita mencintai kekayaan sama seperti mereka. Akan tetapi suatu kemauan dan kemampuan orang-orang Kristen untuk mengasihi sesama dalam penderitaan, sambil bersukacita karena upahnya adalah di surga bersama Yesus. Hal ini tidak dapat dimengerti oleh manusia. Ini adalah hal supernatural. Namun menarik manusia dengan janji-janji kemakmuran itu adalah hal yang natural. Ini bukanlah pesan Yesus, Ini bukan tujuan dari kematianNya.

John Piper ~ Diterjemahkan oleh: Nelce Manoppo

09 December, 2009

Bolehkah Orang Kristen menjadi kaya?

Hmm...pertanyaan ini tentunya sering dipertanyakan dalam kehidupan kita, apakah boleh orang Kristen menjadi kaya (dalam hal uang dan kepemilikan barang jasmaniah). Yang paling pertama harus ditanyakan sebelum pertanyaan tersebut terbesik adalah, untuk apa kita kaya? Apakah untuk mendapatkan lebih, apakah supaya kita dipandang lebih terhormat, apakah supaya orang lain 'memuliakan' Tuhan karena melihat kita kaya (walaupun kenyataannya malah membuat orang iri hati -- tidak semua), apakah supaya kita dapat memenuhi kebutuhan jasmaniah kita, keinginan dan nafsu kita supaya kita dapat menikmati segala sesuatu dalam hidup ini? Kalau kita menjawab "Ya' dalam pertanyaan tersebut, maka kekristenan kita hanyalah menjadi topeng untuk menjadi kaya, untuk cinta akan uang.

Kesalahan fatal kita sebagai orang yang memiliki kekayaan entah berapa pun yang kita miliki adalah keinginan untuk memiliki lebih dan lebih tanpa menyadari tanggung jawab yang Tuhan berikan untuk mengelolah kekayaan tersebut demi kemuliaan Tuhan bukan kemuliaan diri sendiri. Keinginan untuk tidak memberi semakin meningkat di kalangan orang-orang kaya yang tidak mengerti konsep dasar kekayaan demi kemuliaan Tuhan, Orang yang mempunyai banyak kekayaan justru orang yang akhirnya takut kehilangan, karena kalau cinta uang itu sudah berakar dalam hati maka manusia tidak akan pernah puas dalam hal kekayaan yang mereka miliki.

Seringkali gaya hidup kita pun ditentukan oleh kekayaan kita, entah apa yang kita pakai, mobil apa yang kita kendarai, berapa properti yang kita punya, SAYA LAYAK mendapatkan semua itu!!! (legalisme diri sendiri) -- sambil berkata seperti itu dalam hati, saya sudah berusaha mati-matian untuk mendapatkan kekayaan jadi saya layak untuk menikmatinya...hmmm...benarkah hal itu, benarkah yang kita dapatkan semuanya adalah karena hasil usaha kita, atau Tuhan yang mempercayakan kita akan kekayaan tersebut, Dia mau supaya kita dapat memaksimalkan kekayaan tersebut untuk lebih banyak melakukan pekerjaan yang baik. (baca: 1 Timotius 6:18)

Jadi bolehkah orang Kristen menjadi kaya? Tentu boleh, kalau bisa kaya yah kaya, kalau memang Tuhan mengijinkan kita kaya, namun kita harus menyadari bahwa suatu tanggung jawab yang lebih besar ketika kita memiliki kekayaan tersebut, karena kekayaan tersebut bukan punya kita, dan seharusnya kekayaan ini tidak mengubah cara berpikir kita, gaya hidup, sumber entertainment kita, dan apapun itu yang kita merasa itu menjadi simbol kekayaan kalau kita sudah dapat menikmati atau memilikinya.

Pengertian 'kaya' pun mulai rancu, dan sangat relatif -- bagi A kaya itu kalau sudah punya kapal pesiar, bagi B kalau sudah bisa makan pun sudah jadi orang kaya. Namun bukan harus menjadi orang kaya atau tidak baru kita dapat melayani Tuhan, layanilah Tuhan dalam segala hal, dalam segala kondisi dalam hidup kita. Tuhan memberkati.

07 December, 2009

Mengkritisi Lagu Mengampuni Jason

Ketika Hatiku Tlah Disakiti
Ajarku Memberi Hati Mengampuni
Ketika Hidupku Tlah Dihakimi
Ajarku Memberi Hati Mengasihi

Reff:
Ampuni Bila Kami Tak Mampu Mengampuni
Yang Bersalah Kepada Kami
Seperti Hati Yesus Mengampuni
Mengasihi Tiada Pamrih


Dalam lagu ini mau mengajarkan kita tentang bagaimana mungkin kita telah disakiti, atau hidup kita dihakimi maka kita minta Tuhan mengajar kita supaya bisa memberi hati yang mengampuni dan memberi hati yang mengasihi, untuk bagian bait ini mungkin tidak terlalu kentara kesalahannya. Namun ketika memasuki reffrainnya, dikatakan. Ampuni bila kami tak mampu mengampuni. Hmm...apa benar ini yang Tuhan ajarkan? Bukannya Tuhan mengajarkan kalau kita tidak bisa mengampuni orang lain maka kita tidak akan diampuni ini ada di Doa Bapa Kami, akhirnya kita menjadi seenaknya karena saya tidak bisa mengampuni orang lain tapi saya mau Tuhan tetap mengampuni saya. Kemudian diteruskan seperti hati Yesus mengampuni, mengasihi tiada pamrih, hmm...maksudnya apa, maksudnya kita mau supaya dengan kita tidak mengampuni orang lain, lalu kita melegalkan dan bilang Yesus aja mengampuni tanpa pamrih, demikian saya seharusnya diampuni juga tanpa pamrih, tanpa harus mengampuni orang lain. Hmm...sangat-sangat membingungkan.

Namun lagu ini banyak diminati di dalam kalangan Kristiani, kita seringkali terjebak dengan indahnya iringan musik tanpa mengerti kebenaran di dalam lirik lagu-lagu tersebut. Kalau kedengaran enak di kuping udah pasti benar, kalau bisa menjamah hati, sudah pasti benar? Hmm...apa benar? Ini namanya keegoisan, kebanyakan lagu-lagu kontemporer akhirnya berakhir hanya kepada kepuasan diri, pokoknya selama saya puas lirik menjadi nomor dua.

Mari sama-sama kita kembali berpikir secara tajam dalam memilih lagu dan mengarang lagu, harus diperhatikan baik-baik jangan sampai akhirnya kita terjebak dalam prinsip yang salah dan bertentangan dengan iman Kristen yang sesungguhnya.

03 December, 2009

Kebohongan Kesaksian Neraka

Saya banyak mendengar orang bersaksi tentang perjalanan mereka ke neraka, hmm...bukannya saya tidak percaya sih, tapi buat apa percaya kepada mereka toh semuanya sudah tertulis di Alkitab, apakah Alkitab tidak menjadi otoritas tertinggi di dalam hidup kita dan di dalam pengenalan kita akan neraka. Bahkan salah satu kesaksian yang dikatakan seperti ini "Waktu saya ke neraka, neraka tuh ulatnya ngak mati-mati, jadi benar yang dikatakan Alkitab" --- Tunggu-tunggu, berarti selama ini Alkitab tidak valid, atau tidak sepenuhnya valid sampai ada orang yang perlu menyatakan bahwa Alkitab itu benar adanya karena orang tersebut sudah pergi ke neraka, jadi mana yang lebih tinggi otoritasnya? Berarti bagi mereka, kesaksian merekalah yang meneguhkan kebenaran Alkitab, ini sudah jelas pemikiran yang tidak sehat sama sekali.

Banyak orang pergi ke neraka, bolak balik, udah kayak bolak balik Sydney Jakarta kali, dengan begitu gampang mereka menceritakan kesaksian ketika mereka mengalami semua hal tersebut. Hmm...sebenarnya tujuan kesaksiannya apa sih? 1. Apakah untuk meneguhkan kebenaran Alkitab? 2. Untuk menakut-nakuti manusia untuk takut kepada neraka tapi tidak takut kepada Allah? --- Manusia pasti tidak ada yang mau masuk neraka, tapi banyak yang mau masuk surga tapi tidak mau menerima Yesus dan menjadikan Yesus sebagai harta dalam hidupnya, karena masih banyak yang mereka pegang dalam hidupnya -- kitapun kerapkali masih berada di posisi seperti itu, mau surga tapi tidak mau Tuhan.

Ujung-ujungnya orang bertobat karena supaya tidak dihukum supaya tidak masuk neraka, tapi supaya mendapatkan keselamatan itu sendiri, ini namanya egois, toh sebenarnya kita sepatutnya dihukum dan semuanya layak masuk neraka, tapi syukur dalam Kristus Yesus kita diselamatkan, namun kita diselamatkan bukan untuk diri kita, supaya kita bisa lepas dari neraka, bukan itu yang menjadi satu-satunya tujuan dalam hidup kita, tujuan hidup kita diselamatkan adalah untuk memuliakan Dia dan menjadi 'kristus-kristus' kecil di dunia ini yang berada di dalam rancangan besar Tuhan.

Jadi kalau ada orang kesaksian orang pergi ke neraka, saya akan mempertanyakannya dengan tajam dan kritis, karena akhirnya kesaksian bisa dibuat-buat, atau hanya karena emosi, atau karena pernah baca ayat-ayat Alkitab tentang neraka, kemudian mulai menghayal neraka itu seperti apa. Apakah dengan kesaksian itu maka kita akan lebih percaya neraka itu ada? Berarti kita tidak percaya bahwa apa yang dikatakan Alkitab adalah benar adanya, akhirnya kita akan terpengaruh oleh kesaksian orang lain ketimbang kesaksian Alkitab, dan kalau tidak hati-hati maka kita akan mulai mendewakan manusia yang dianggap seolah-olah memiliki otoritas tertinggi.

Pujian ngak ngangkat

Aduh pujian hari ini koq ngak ngangkat? Emang apa sih pujian yang ngangkat itu? Kalau ditanya susah juga jawabnya, ayo coba deh jawab, pujian yang ngangkat itu definisinya apa? Pujian yang menyentuh hati? Pujian yang bisa bikin kita senang, happy, bisa bikin nangis juga? Pujian yang membuat kita 'berubah'? - at least untuk saat kita menyanyikan pujian tersebut.

Rasanya kita terlalu egois menjadi orang Kristen, kalau ada lagu yang bagus, musik yang bagus baru dah saya nyanyinya lebih bagus, kalau ada lagu baru yang irama musiknya saya senang, misalnya jazz, pop, rock, disco, dangdut baru deh itu namanya bagus karena mengikuti jaman. Akhirnya kita jatuh di dalam legalisme diri, karena saya suka rock maka saya akan pakai musik rock untuk memuji Tuhan, kalau musik himne kayaknya agak terlalu 'daggy' tidak keren dan tidak bisa bikin kita enjoy.

Kitalah yang menjadi sumber pujian tersebut bukan Tuhan, kita maunya enaknya kita saja, kalau lagunya enak dan senang dan membuat saya bahagia dan damai sejahtera itulah pujian yang ngangkat, kalau ngak berarti jangan pernah dipakai lagi lagu itu. Sebelumnya memang kita harus men-filter lagu-lagu yang dinyanyikan, apa tujuan lagu tersebut diciptakan, bagaimana liriknya, siapa yang mengarang, jenis musiknya bagaimana, semuanya harus dipertimbangkan matang-matang, jangan sampai kita memilih lagu pujian hanya karena enak didengar di telinga baik dari musik maupun liriknya.

Saya melihat banyak lagu-lagu Kristen kontemporer yang berkembang demikian pesatnya tapi tidak memiliki dasar Alkitab yang jelas, memang kedengarannya ok ok saja, tapi kalau kita telaah lebih lanjut terdapat unsur-unsur humanisme yang sangat kuat sekali, walaupun saya tidak memungkiri adanya lagu-lagu Kristen kontemporer yang mempunyai kualitas tinggi juga.

Baiklah sama-sama kita merenungkan kembali ketika kita memuji Tuhan apakah benar kita memuji Tuhan sungguh-sungguh karena Tuhan sudah lebih bekerja dalam hidup kita, atau kita hanya memuji Tuhan supaya kita 'disegarkan', supaya kita dipuaskan melalui pujian tersebut?

22 November, 2009

Here I Stand: A Life of Martin Luther

Saya benar-benar takjub sekaligus takut. Saya berpikir, "Bagaimana saya dapat menyapa Raja Semesta Alam jika menghadapi raja-raja dunia ini saja manusia gemetar? Siapakah saya, hingga saya boleh mengangkat mata dan tangan saya di hadapan Yang Mahakudus? Para malaikat mengelilingi Dia. Dia berfirman dan bumi pun berguncang. Jadi, layakkah saya - manusia hina ini - menyatakan, "Saya ingin ini, saya minta itu?" Sebab saya hanyalah debu tanah yang cemar dan berdosa, dan saya sedang berbicara kepada Allah yang hidup, kekal, dan benar.
Roland Bainton. Here I Stand: A Life of Martin Luther (New York:New American Library, 1950),30.

20 November, 2009

SainganTerbesar Yesus

Saya mengangkat judul ini terinpirasi dengan kata-kata sahabat saya, dia bertanya siapakah saingan terbesar Yesus, saya menjawab Iblis. Lalu dia berkata "Tidak, saingan terbesar Yesus adalah Uang" -- saya termenung sejenak dan kemudian mulai memikirkan, bahwa benar adanya uang menjadi saingan terbesar Yesus, bahkan banyak dari kita hanya karena uang akhirnya melupakan Yesus, celakanya ada yang mau uang dan mau Yesus, kalau saya bisa dapat uang karena saya terima Yesus maka saya akan terima Yesus, tapi kalau saya sudah punya uang, Yesus akan menjadi yang kedua dalam hidup saya. Inilah persaingan yang sangat ketat sekali, setiap hari kita harus bergumul akan hal ini.

Apa reaksi kita, ketika mungkin kita kecurian uang yang banyak sekali, atau bahkan sesuatu yang akhirnya membuat kita mengeluarkan uang yang tadinya kita sudah simpan-simpan, terus terang pasti kita akan mengalami kekuatiran, sesuatu yang harus kita bayar tapi sebenarnya kita enggan membayarnya karena kita merasa bukan kita yang seharusnya membayarnya. Hal ini sedikit banyak akan mempengaruhi cara hidup kita, setidaknya pada hari itu ketika kejadian-kejadian tersebut berlangsung, namun baiklah kita kembali menghadap Tuhan dan percaya yakin bahwa Dialah sumber segalanya, bukan karena kita mau mendapatkan uang dari Dia, atau supaya Tuhan membantu kita menjadi uang kita supaya tidak ada kejadian yang terjadi di dalam hidup kita sehingga kita harus mengeluarkan uang. Namun supaya kita belajar bahwa hidup ini bukan untuk uang, tetapi untuk Tuhan -- Tuhanlah yang memberikan kepuasan yang abadi.

Ada satu pertanyaan yang ditanyakan kepada salah satu orang terkaya di dunia. "Kapan Bapak bisa puas dengan kekayaan Bapa?" -- Orang kaya tersebut menjawab "Ketika saya mendapatkan lebih dari apa yang saya punya" -- maka kita dapat katakan bahwa manusia tidak akan pernah puas dalam hal materi, ketika kita mengarahkan mata kita kepada hal-hal materi maka tidak akan pernah ada kepuasan di dalam hidup kita.

Arahkanlah senantiasa kepada hal-hal rohani, yaitu Yesus Kristus yang menjadi air hidup, memuaskan seluruh dahaga kita. Ini pun bukan berarti kita tidak harus bekerja, namun bekerjalah selagi bisa -- hanya janganlah menambatkan hati kita kepada harta di dunia ini yang tidak akan pernah dapat dibawa ke sorga.

28 October, 2009

Saya akan berikan waktu untuk Tuhan?

“Hari ini saya berjanji sama Tuhan, kalau Tuhan membantu saya dalam menyelesaikan masalah yang rumit maka saya akan memberikan waktu untuk Tuhan dan melayani Dia lebih sungguh lagi”

Berapa sering kita mendengar pernyataan ini, kita berjanji dan seperti main judi bersama Tuhan bukan? kedengarannya memang ekstrim ketika saya katakan bermain judi tapi kalau dipikir lagi yah ada benarnya karena – kita mengharapkan Tuhan berbuat sesuatu untuk kita setelah kita melakukan sesuatu untuk Tuhan, seperti memancing dengan memakai umpan, seolah-olah kalau Allah mengabulkan permintaan kita berarti memang Allah mau supaya kita melayani Dia dan memberikan waktu untuk Dia maka untuk itulah Dia mengabulkan permintaan kita, seperti hubungan sebab akibat, karena Tuhan bikin A maka saya akan bikin B, kalau Tuhan ngak bikin A saya ogah bikin B. Jadi bagaimana kalau Tuhan tidak mengabulkan dan tidak menyelesaikan masalah kita yang rumit? Apakah berarti kita tidak akan memberikan waktu untuk Tuhan?

Manusia pun, khususnya saya mulai jatuh di dalam jerat pemikiran yang salah, seolah-olah ada waktu yang dipergunakan untuk Tuhan dan ada waktu yang dipergunakan untuk hidup kita sendiri, untuk itulah tidak sedikit dari kita mengatakan “Saya tidak punya waktu untuk Tuhan” – karena pemikiran dasar yang salah mengenai ‘waktu’ – kalau kita berpikir secara kritis bahwa semua waktu adalah milik Tuhan bukan milik kita maka seharusnya kita berdoa: “Tuhan berapa banyak waktu yang saya bisa pakai untuk kesenangan saya?” – dengan mengatakan semua waktu untuk Tuhan bukan berarti kita berhenti kerja dan mengurung diri di dalam gereja. Tapi dengan pemikiran dasar yang benar bahwa semua waktu adalah untuk Tuhan, maka apa yang kita lakukan senantiasa semuanya adalah untuk Tuhan. Misalnya ketika kita kerja – kita akan menyadari kalau kita kerja untuk Tuhan bukan karena uang semata, karena waktu itu diberikan kepada kita supaya kita bisa bertanggung jawab mempergunakannya. Bahkan apapun yang kita lakukan, kita akan senantiasa ‘memikirkan’ Tuhan, setiap saat.

Memang tidak bisa dipungkiri manusia cenderung untuk mementingkan diri sendiri dahulu ketimbang memikirkan apa yang menjadi kerinduan Tuhan akan hidup kita, karena pada dasarnya kita adalah orang-orang yang ‘memberontak’ siapapun kita dari tua muda, besar kecil, kaya miskin, wanita pria, semua pada hakekatnya adalah sama adanya – cenderung untuk mengelompokkan waktu untuk kesenangan pribadi dan waktu untuk Tuhan. Ironisnya persentasinya pasti lebih banyak untuk kesenangan pribadi dibanding dengan untuk Tuhan (walaupun tetap harus dimengerti semua waktu adalah punya Tuhan).

Dengan pemikiran dasar yang salah akhirnya ketika kita melayani kita bisa menuntut Allah karena waktu yang seolah-olah adalah punya kita dan kita memberikannya kepada Allah – dengan kata lain kita di kemudian hari bisa berkata “Saya sudah berkorban waktu bagi Tuhan tapi kenapa masalah masih terjadi” – walaupun tidak dikeluarkan oleh mulut kita, tapi seringkali dalam hati kecil kita akan berkata dengan terhadap diri sendiri. Dengan tuntutan seperti itulah yang menandakan manusia adalah egois semata-mata hanya mau memikirkan apa yang menjadi kesenangan, keuntungan bagi dirinya sendiri. Baiklah oleh pemikiran yang benar tentang segala sesuatu adalah dari Allah maka biarlah kita bersama-sama bisa merenungkan Kolose 3:1-17 agar semakin nyata bahwa benar kita benar-benar adalah 'manusia baru' seharusnya hidup di dalam Roh bukan di dalam daging yang hanya mau mementingkan dan memuaskan hawa nafsu kita.

Kolose 3:17
“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.”

05 September, 2009

Ketika hidup mengecewakan

Rumah sakit pemulihan kesehatan yang dikelola pemerintah AS bukanlah tempat yang menyenangkan : besar, kekurangan tenaga, dan dipenuhi orang-orang yang pikun, tidak berdaya, dan kesepian, orang2 yang sedang menunggu kematian. Pada hari yang paling cerah pun di dalam tampak gelap, bau penyakit, dan pesingnya air seni. Saya datang ke sana sekali atau dua kali seminggu selama 4 tahun. Sebenarnya saya tidak pernah berkeinginan ke sana. Pulang dari sana selalu membuat saya lega. Itu bukan tempat yang bisa buat orang betah. Pada hari itu saya sedang berjalan di bangsal yang belum pernah saya datangi sebelumnya. Hampir sia-sia mencari orang yang cukup hidup untuk menerima bunga dan beberapa kata dorongan. Bangsal ini tampaknya berisi orang-orang dengan kasus-kasus terburuk. Mereka yang terikat di ranjang dorong atau kursi roda tampak sama sekali tak berdaya. Ketika saya mendekati ujung bangsal ini, saya melihat seorang perempuan tua terikat di kursi roda. Wajahnya benar-benar mengerikan. Pandangannya kosong dan pupil putih dimatanya memberitahu saya bahwa ia buta. Alat bantu besar di salah satu telinganya menyatakan ia hampir tuli. Satu sisi wajahnya digerogoti kanker. Ada warna hitam dan luka memanjang yang menutupi sebagian pipinya, dan itu mendorong hidungnya ke satu sisi, menurunkan satu mata, dan memiringkan rahangnya, sehingga apa yang seharusnya menjadi sudut mulutnya bagian bawah mulutnya. Akibatnya air liurnya selalu menetes. Belakangan ini saya dberitahu bahwa setiap ada perawat baru, kepala perawat akan menyuruhnya memberi makan perempuan ini, dengan pemikiran kalau mereka bisa bertahan dengan pemandangan ini, mereka bisa tahan apa saja di gedung itu. Belakangan saya juga mengetahui bahwa perempuan ini umurnya 89 tahun dan sudah berada di sini, terikat di tempat tidur, buta hampir tuli, sendirian selama 25 tahun. Ia bernama Mabel.

Saya tidak tahu mengapa saya berbicara kepadanya. Kemungkinan karena beranggapan bahwa ia tidak dapat menanggapi banyak dibandingkan dengan orang-orang lain di bangsal itu. Saya meletakkan bunga di tangannya dan berkata, “Ini bunga untuk Anda. Selamat hari ibu.” Ia berusaha mengangkat bunga itu ke wajahnya, mencoba menciumnya. Betapa terkejutnya saya ketika mendengar ucapannya, yang walau pun agak sukar ditangkap karena cacat wajahnya, jelas dihasilkan dari pikiran jernih. Ia berkata, “Terima kasih, indah sekali. Tetapi, bolehkah saya memberikannya kepada orang lain? Saya tidak dapat melihatnya. Anda tahu saya buta.”

Saya berkata, “Tentu saja.” Saya mendorong kursi rodanya menyusuri bangsal ke tempat yang saya kira dapat menemukan seorang pasien sadar. Ketika saya menemukan seseorang, saya menghentikan kursi itu. Mabel mengulurkan bunganya dan berkata, “Ini dari Yesus.”

Pada saat itu saya mulai sadar bahwa ia bukan manusia biasa. Belakangan saya mengetahui lebih banyak tentang kisah hidupnya. Ia lahir dan besar di pertanian kecil yang diurusnya hanya dengan ibunya sampai ibunya meninggal. Lalu ia menjalankan pertanian itu sendirian sampai tahun 1950, ketika matanya menjadi buta dan penyakitnya memaksanya masuk RS. Selama 25 tahun ia bertambah lemah dan sakit: lalu sakit kepala, pinggang, perut. Lalu kanker juga menyerangnya.

Mabel dan saya sudah menjadi teman dalam beberapa minggu berikutnya dan saya menemuinya sekali atau dua kali seminggu selama 3 tahun berikutnya. Ucapan pertamanya pada saya biasanya berupa tawaran permen dari kotak tisu di meja sebelah tempat tidurnya. Kadang-kadang saya membacakannya Alkitab dan sering ketika saya berhenti, ia meneruskan ayat itu, berdasarkan hafalan, kata demi kata. Hari-hari lainnya saya membawakan buku nyanyian rohani dan menyanyi bersamanya, dan ia hapal setiap kata-kata lagu-lagu lama. Bagi Mabel, ini bukan hanya latihan pikiran. Ia sering berhenti di tengah nyanyian dan memberikan komentar pendek tentang lirik yang ia anggap sangat relevan dengan situasinya sendiri. Saya belum pernah mendengarnya bicara tentang kesepian dan kesakitan, kecuali kalau ia menekankan kalimat tertentu pada lagu tertentu. Tidak sampai beberapa minggu, perasaan saya sudah berubah dan rasa memberi bantuan berubah menjadi kekaguman, dan saya mendatanginya dengan membawa pulpen dan kertas untuk mencatat apa yang ia katakan.

Pada suatu minggu yang sibuk menjelang ujian akhir, saya frustasi karena pikiran saya rasanya melayang ke 10 arah berbeda sekaligus. Begitu banyak yang harus saya pikirkan. Sebuah pertanyaan muncul di kepala saya, “Apa yang dipikirkan Mabel jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, bahkan tanpa mengetahui apakah itu siang atau malam?” Jadi, saya mendatanginya dan bertanya, “Mabel, apa yang kau pikirkan ketika kau berbaring di sini?” Ia berkata, “Saya berpikir tentang Yesusku”. Saya duduk dsana dan tertegun. Betapa sulitnya bagi saya untuk berpikir tentang Yesus bahkan selama 5 menit saja. Saya bertanya lagi,”Apa yang kamu pikirkan tentang Yesus?” Ia menjawab perlahan dan penuh tekanan,”Saya berpikir tentang betapa baiknya Ia kepada saya. Ia sangat baik kepada saya dalam hidup saya. Saya adalah salah satu orang yang puas. Banyak orang tidak peduli dengan apa yang saya pikirkan dak menganggap saya kuno. Tetapi saya tidak peduli. Saya lebih suka memiliki Yesus. Dunia saya adalah Yesus.” Lalu Mabel mulai menyanyikan lagu rohani lama:

Jesus is all the world to me,
My life, my joy, my all.
He is my strength from day to day,
Without Him I would fall.
When I am sad, to Him I go,
No other one can cheer me so.
When I am sad He makes me glad.
He’s my friend.


Diterjemahkan dari The Life you’ve always wanted oleh John Ortberg - The Morphing of Mabel.

Cerita ini bukanlah cerita fiksi yang dibuat-buat, atau sekedar isapan jempol, walaupun kadang sulit dipercaya masih ada orang-orang seperti Mabel, sehingga kejadian ini adalah hal yang menakjubkan sekali. Bagaimana dia bisa melakukannya? Detik demi detik, menit demi menit merayap, begitu juga hari, minggu, bulan dan tahun dalam penderitaan dan kesakitan tanpa ditemani dan tanpa ada penjelasan mengapa hal ini diijinkan Allah terjadi dalam kehidupannya. Bagaimana dia bisa menempuhnya? Bayangkanlah jika Anda berada di posisi Mabel dan berkata “Saya berpikir tentang baiknya Tuhan kepada saya. Tuhan sangat baik kepada saya dalam hidup saya. Saya adalah salah satu orang yang puas” Masih berpikir kalau hidup kita terlalu menderita untuk bisa bersyukur?

26 August, 2009

iPod Idol

Setiap hari perjalanan saya di dalam kereta, banyak orang yang memasang 'ear-plug' di telinganya, dan mendengarkan musik dari elektronik 'music player', salah satunya yang terkenal adalah iPod, walaupun saya akan berbicara secara umum mengenai hal ini.

Tanpa menyadari orang-orang tersebut memasang keras-keras musiknya tanpa menyadari bahwa mereka ada di tempat umum, tanpa ada kepedulian serasa merekalah yang memiliki kereta tersebut. Kadang saya melirik mereka, sambil mengernyitkan dahi, ada beberapa dari mereka menjadi sungkan dan akhirnya mengecilkan suara musiknya. Tapi tidak sedikit yang tidak acuh, sampai akhirnya ada beberapa orang akhirnya mencolek mereka dan bilang "Excuse me, could you please turn the volume down!".

Entah apa yang ada di pikiran manusia? Egoisan? Betul, tanpa peduli dengan sekitarnya mereka menyetel musik sekeras-kerasnya, seolah-olah dengan memakai 'ear-plug' yang lain tidak akan mendengar, namun kenyataannya bising sekali. Masih mending kalau musik yang diperdengarkan adalah musik yang bermutu, banyak musik yang aneh-aneh...dari trance sampai dance, dan yang lainnya yang akhirnya memekakkan telinga pendengar ataupun penumpang yang di kereta.

Manusia akhirnya mulai menyembah iPod (atau music player lainnya) , sebagai sumber 'entertainment', alasannya ketika pagi mau berangkat kerja perlu iPod untuk 'refreshing', pokoknya hidup tanpa iPod seperti hidup di neraka, akhirnya iPod mendarah daging dalam kehidupan manusia, khususnya anak-anak muda, walapun banyak juga orang-orang tua yang akhirnya berkecimpung dalam hal ini.

Jadi jika kita semua mendengarkan iPod atau music player lainnya -- sama sekali tidak dilarang tapi hendaklah kita juga 'aware' dengan lingkungan sekitar kita, jangan menjadi egois -- seolah-olah dunia ini hanya milik "I, Me and Myself".

09 July, 2009

Mengucap syukurlah atas resesi ekonomi

1 Tesalonika 5:18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.

Saya rasa, kalau keadaan ekonomi kita baik dan naik terus tidak turun -- tidak usah diberitahukan untuk mengucap syukur, secara otomatis -- manusia itu akan mengucap syukur dengan sendirinya atas berkat jasmani yang dia terima, uang dalam hal ini. Namun kalau kita hanya mengucap syukur kalau Tuhan memberkati kita lewat uang, maka kita inilah hamba uang bukan hamba Tuhan. Dan Tuhan memberitahu mustahil kita menjadi hamba uang dan menjadi hamba Tuhan pada saat yang bersamaan, tentu kita akan mengasihi yang satu dan membenci yang lainnya.

Mengucap syukur dalam segala hal itulah yang menjadi salah satu kehendak Allah, anehnya seringkali kita berdoa, berpuasa, meminta kehendak Allah untuk pekerjaan kita, keluarga kita secara spesifik, sedangkan kehendak Allah yang sudah jelas sekali tidak pernah dijalankan. Mengucap syukur dalam segala hal khususnya.

Dalam masa-masa sulit ini khususnya dalam masalah ekonomi pun haruslah kita tetap mengucap syukur, karena Dialah sumber sukacita kita oleh kasih karunia Allah yang telah dilimpahkan dalam kehidupan kita. Kita mengucap syukur, kalau dalam masa resesi ini kita boleh diingatkan kalau semua yang kita punya adalah bersumber dari Tuhan - kalau kita dalam masa kejayaan, dan punya uang yang banyak, mungkin -- bahkan pasti kita tidak akan mengingat Tuhan sepenuhanya karena iman kita seringkali kita gantungkan di atas kekayaan tersebut -- namun ketika Tuhan mengijinkan resesi terjadi di dalam hidup kita baik secara pribadi maupun secara global, ini karena Dia mau mengajarkan kita bahwa, bahwa manusia tidak dapat mengandalkan kekayaannya, walaupun dalam masa resesi ini makin banyak orang yang menjadi lebih rakus akan harta -- orang-orang yang tidak mengenal Allah khususnya.

Baiklah dalam keadaan resesi ini kita juga melihat bahwa banyak orang-orang miskin, kelaparan di dunia ini yang membutuhkan pertolongan kita. Karena Tuhan mengingatkan kita, bahwa kita tidak hidup di dunia ini sendiri, masih ada orang-orang lain yang hidup di dunia ini, yang mungkin lebih buruk keadaannya daripada kita. Biarlah kita juga diajarkan untuk memberi dalam kekurangan, biarlah kita menjadi orang yang murah hati, bukan hanya uang kita, tapi waktu kita, tenaga kita untuk membantu orang lain tersebut.

Seringkali ketika kita mengalami resesi seperti ini, kita malah memikirkan apa yang harus kita makan, uang tabungan untuk tamasya yang akan berkurang, dan yang lain-lain yang berhubungan dengan kesenangan diri pribadi dibandingkan memikirkan keadaan susah orang lain yang mungkin kehilangan pekerjaan, tidak dapat makan, kehilangan tempat tinggal dan lain sebagainya. Mari sama-sama kita menghemat dalam hal memuaskan kesenangan pribadi kita supaya kita bisa belajar bermurah hati untuk menolong orang lain yang membutuhkan.

Janganlah kita meminta Tuhan untuk memberkati kita dengan berkat jasmani dahulu, supaya dengan itu kita bisa bermurah hati. Tidak ada hubungan antara menjadi kaya dan bermurah hati, kebanyakan orang yang menjadi kaya, bertambah pelit dan kikir. Mungkin kita melihat orang kaya memberi uang banyak, tapi secara proposional mungkin dia hanya memberikan sedikit dibandingkan apa yang dia telah hasilkan. Untuk itu belajarlah memberi dalam kekurangan seperti janda miskin di kisah Alkitab. Memberilah karena Tuhanlah yang sudah memberikan kita yaitu berkat kasih karunia Allah yang tidak dapat diukur oleh uang dan materi.

Marilah kita belajar seperti jemaat di Makedonia yang dapat memberi karena mereka telah mengecap kasih karunia, bahkan memberi dalam hal kekurangan. Ini adalah suratan Paulus kepada jemaat Korintus mengenai jemaat Makedonia.

2 Korintus 8:1 Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.

2 Korintus 8:2 Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.

2 Korintus 8:1 Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.


Mengucap syukurlah dalam keadaan resesi ekonomi ini, supaya kita dapat bertobat kalau mungkin selama ini kita senantiasa mengandalkan uang kita dan kekayaan kita tanpa melihat Allah dan segala kemuliaanNya dalam Kristus Yesus.

Habakuk 3:17 Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,

Habakuk 3:18 namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.

03 July, 2009

Penyembahan berhala yang tidak berwujud

Berhala - adalah satu bentuk pemberontakan kita terhadap Allah, dalam perjanjian lama Tuhan berfirman jangan membuat patung yang menyerupai apapun juga, sehingga kita menyembahnya, karena Allah adalah Allah yang cemburu. Namun, ketika orang Israel membuat patung anak lembu emas, disebabkan adanya kekuatiran sebab Musa tidak turun-turun dari bukit Sinai. Adanya satu kekuatiran membuat umat Israel menurut daging memaksa Harun untuk membuat patung anak lembu emas -- ketika hari yang harusnya dirayakan sebagai hari Tuhan malah umat Israel merayakannya dengan mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan bagi patung tersebut -- hari yang sebenarnya milik Tuhan dilecehkan, dan tidak diindahkan oleh umat Israel, seolah-olah mereka mempersembahkan kepada Allah, tapi mempersembahkan kepada berhala -- membuat hati mereka menjadi jauh dari Allah, dan sama sekali mereka tidak bisa melihat kemuliaan Allah dalam patung anak lembu emas tersebut.

Nah, berhala seperti itu sampai sekarang masih ada dimana orang-orang membuat patung untuk disembah, dan kita tahu bahwa semua itu salah dan jahat di mata Tuhan, karena semuanya berwujud dan bisa dilihat oleh mata, maka kita sebagai orang Kristen tahu bahwa berhala yang berwujud patung itu adalah tidak benar. Bagaimana dengan berhala yang tidak kelihatan? Berhala yang tidak berwujud -- bagi saya definisi berhala adalah sebagai berikut.

Berhala adalah "Segala sesuatu yang berwujud ataupun tidak berwujud, nyata ataupun tidak nyata, baik ataupun jahat yang mengikat kita, sehingga kita tunduk kepadanya dan membuat kita lebih jauh dari Tuhan"

Ketika saya katakan segala sesuatu yang baik pun bisa menjadi berhala di dalam kehidupan kita, misalnya pelayanan -- penyembah pelayanan bukan penyembah Tuhan, kerapkali lebih mementingkan nilai-nilai pelayanan tersebut dibandingkan nilai-nilai kebenaran Allah - hati-hati ketika kita menganggap diri kita lebih rohani dari orang lain - itu adalah penyembahan berhala.

Banyak sistem kehidupan beragama yang ada di dalam dunia ini tujuannya adalah untuk mengubah apa yang baik di mata manusia menjadi apa yang benar di mata Allah menurut pandangan manusia yang adalah jahat adanya. Dengan jalan membuat aturan-aturan yang ketika manusia menaatinya, manusia menganggap dirinya lebih benar daripada orang lain, karena dia sudah melakukan aturan-aturan tersebut sehingga dia merasa punya hak untuk memandang orang lain lebih rendah daripada dia. Inilah salah satu berhala yang tidak berwujud - kesombongan.

Apapun yang kelihatannya baik, tapi jika hal itu membuat kita menjadi lebih jauh dari Tuhan, dan menjadikan kita mendua hati, itulah berhala - tidak mungkin kita bisa minum cawan Tuhan dan cawan penyembahan berhala, inilah yang dikatakan oleh Paulus, tidak mungkin kita bersekutu dengan Tuhan dan bersekutu dengan berhala - yang dimaksudkan adalah kalau kita bersekutu dengan Tuhan berarti kita tidak bersekutu dengan berhala, kalau kita bersekutu dengan berhala berarti kita tidak bersekutu dengan Tuhan dibahas didalam surat Paulus kepada jemaat Korintus - 1 Korintus 10:14-22.

Misalnya juga kekayaan kita, bisa menjadi berhala, karena ketika kita mencintai uang berarti kita membenci Tuhan, demikian sebaliknya. Tidak ada posisi seperti "Saya mengasihi Tuhan lebih dari saya mengasihi uang" berarti saya mengasihi uang juga hanya lebih sedikit dibanding mengasihi Tuhan. TIDAK! Kita tidak dapat mengabdi kepada 2 tuan, kita tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada uang.

Berhala bisa aja harga diri kita, keluarga kita, anak-anak kita, penampilan kita, sifat kita, kekayaan kita, kesuksesan kita, karir kita, aktifitas 'rohani' kita (pelayanan), gereja kita, pendeta kita, mobil kita, hobi kita, kesenangan kita, kesehatan kita dan masih banyak yang lainnya - di mana harta kita berada di situ hati kita berada -- kalau semua hal tersebut membuat kita jauh dari Tuhan dan mengasihi hal-hal tersebut dibandingkan mengasihi Tuhan disitulah hal-hal yang baik tersebut menjadi sesuatu berhala. Kita akan takut untuk kehilangan apa yang kita punya, apa yang kita punya menjadi berhala bagi hidup kita. Berhala akan menyita waktu kita, dan membuat kita lebih senang dan lebih puas menikmati dunia daripada bersekutu dengan Allah pencipta kita untuk lebih mengenal Dia secara benar melalui firmanNya. Allah itu cemburu.

1 Korintus 6:12 Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.

1 Korintus 10:23 "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.


Artikel ini saya tulis terinspirasi dari cuplikan pendek video Mark Driscoll - Idolatry

25 June, 2009

Air hidup yang memuaskan

Yohanes 4:13 Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,

Yohanes 4:14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."


Kalau artikel yang saya buat sebelumnya mengenai perempuan Samaria yg berada di sumur, kedua ayat di atas masih membuat saya tertarik untuk membagikan satu topik lagi supaya dengan kasih karunia Allah ayat-ayat tersebut dapat menyentuh kedalaman hati saya dan hati Anda.

Ada 2 macam air, yang satu air secara jasmani, dan yang satu lagi air secara rohani. Dengan mulut kita, kita meminum air yang bersifat jasmani sedangkan untuk meminum air hidup itu adalah dengan hati kita, hati kita tidak akan pernah bisa menerima air hidup itu, kalau keadaan hati kita yang rusak ini tidak diperbaiki Allah.

Demikianlah yang terjadi dalam kehidupan perempuan Samaria ini, mungkin 5 kali kegagalan pernikahannya entah karena dia tidak puas dengan bekas suaminya atau suaminya tidak pernah puas dengan dia, sehingga ada luka yang dalam sekali menyayat hatinya, mengikat serta menutup mata rohaninya untuk melihat air hidup yang ditawarkan oleh Tuhan. Perempuan ini tidak mengetahui bahwa masalah hidupnya bukanlah karena faktor eksternal, tapi semuanya adalah karena faktor internal.

Perempuan ini, berharap Tuhan memuaskan dahaganya lewat air yang bersifat jasmani sedangkan Allah menawarkan air hidup untuk kehidupan rohani perempuan ini. Berapa banyak dari kita seringkali menitikberatkan dan mengantungkan hidup kita kepada air jasmani yang Yesus tahu itu tidak akan pernah memuaskan hidup kita, karena kita tidak tahu apa yang kita butuhkan -- yang kita butuhkan adalah air hidup yang mengubah hati kita.

Manusia selalu ingin mengejar kepuasan, manusia selalu haus akan dahaga, bukan akan air yang hidup tapi akan air yang jasmani, mungkin kita tidak pernah puas akan pekerjaan kita, selalu mau yang lebih, atau kita tidak pernah puas akan istri kita, suami kita, anak-anak kita, atau kita dahaga akan mobil, game-game yang baru, acara-acara TV yang baru dan menarik, film-film di bioskop yang baru dan keren, gaya rambul model kini, lemari baju Anda, setting-an komputer kita, software-software baru, internet, tempat kita tinggal -- hati-hatilah karena jangan sampai hal-hal tersebut yang mungkin kelihatannya hobi yang namun kerap kali hobi tersebut menghalangi kita melihat air hidup tersebut. Kalau kita tidak bisa melihatnya bagaimana mungkin kita bisa meminumnya sehingga kita tidak akan haus lagi.

Berapa banyak kita senantiasa, lebih mementingkan karir kita dibandingkan Tuhan, lebih mementingkan bagaimana kita meningkatkan untuk hidup yang layak menurut ukuran manusia dibandingkan lebih meningkatkan pengenalan kita akan Tuhan melalui kebenaran FirmanNya. Semuanya karena identitas diri kita masihlah idnetitas diri dunia, yang senantiasa ini memuaskan kehidupan manusiawi kita tanpa menyadari yang kita perlukan adalah kepuasan manusia rohani kita -- karena Tuhanlah yang memuaskan kita bukan karena kepuasan dunia, namun karena kepuasan rohani, tanpa kepuasan rohani, maka kita tidak akan pernah puas di dunia ini. Kepuasan jasmani tidak terbatas, selalu mau lebih lebih dan lebih, sedangkan kepuasan rohani terbatas atas kasih karunia Allah yang dianugerahkan kepada kita.

Berapa banyaknya pun yang kita minum di dunia ini tidak akan pernah bisa memuaskan kita sebagai manusia yang penuh dengan keinginan, Tuhan tahu bahwa manusia tidak akan pernah bisa puas akan hal yang bersifat jasmani, untuk itulah Dia memberikan air hidup itu yang berkuasa menghentikan kepuasan jasmani manusia dan bertolak kepada kepuasan rohani.

Air hidup itu sudah diberikan kepada kita melalui kasih karunia Allah untuk kita semua, minumlah air tersebut yang akan menghentikan keinginan kita untuk mengejar kepuasan jasmani. Mari datanglah kepada Yesus karena hanya Dia yang bisa memuaskan segala kehidupan kita menurut kasih karunia Allah atas saya dan Anda.

19 June, 2009

Jangan kamu kuatir

Tuhan tahu benar-benar bahwa uang, kekayaan akan menjadi salah satu penghalang kita untuk dekat dengan Tuhan, tidak ada salah menjadi orang kaya, tapi adalah salah kalau kita menyimpan kekayaan tersebut. Kaya yang saya maksudkan di sini tidak bisa diukur dari segi kuantitas -- kaya di sini berarti Anda dan Saya merasa memiliki segala sesuatu itu, karena bagi orang kaya (orang yang punya banyak uang atau punya sedikitpun)-- karena mereka cenderung akan mencari lebih dan lebih, mencari kehidupan yang menurut manusia lebih layak, kehidupan yang lebih layak hanya ditentukan dari standar manusia mengenai berapa banyak yang bisa kita simpan, berapa banyak properti yang bisa kita investasi, berapa banyak keuntungan yang bisa saya keruk dari usaha saya, mobil yang lebih bagus, rumah yang lebih besar, pekerjaan yang lebih menguntungkan. Lebih, lebih dan lebih, manusia ingin lebih.

Untuk itu Yesus tahu, kita tidak bisa mengabdi kepada dua tuan (Matius 6:19-24) - Yesus tahu, manusia akan cenderung kuatir akan hidupnya sehingga mereka akan berusaha mengumpulkan harta di bumi, mereka takut akan hari esok, mereka lebih percaya kalau mereka bisa punya kekayaan yang lebih banyak maka hari depan mereka akan lebih terjamin -- Sama sekali salah, ini berarti kita tidak mengandalkan Tuhan. Kita lebih mementingkan untuk mengumpulkan harta di bumi ketimbang mengumpulkan harta di surga, salah salah contoh bagaimana untuk mengumpulkan harta di surga adalah dengan tidak mengumpulkan harta di bumi, lain kali akan saya lebih bahas lebih banyak lagi mengenai mengumpulkan harta di surga.

Tuhan tahu manusia senantiasa melihat obyek -- apa yang kelihatan, materi -- di Matius 6:21-22 -- secara tiba-tiba Tuhan berbicara mengenai mata, padahal dalam perikop itu Tuhan sedang membicarakan uang, jadi ada satu hubungan yang kuat antara mata ini dengan kekayaan. Jagalah mata hati kita untuk senantiasa memandang kepada kemuliaan Tuhan yang sejati.

Tidak mungkin kita bisa mengabdi kepada 2 tuan, kalau kita mulai mencintai kekayaan, uang, maka kita tidak mencintai Tuhan, demikian sebaliknya. 2 hal ini tidak dapat berjalan secara bersamaan -- ketika kita mencintai Uang, berarti kita membenci Tuhan, kalau kita setia mencari uang untuk memuaskan kita maka kita tidak akan mengindahkan Tuhan. Sekali lagi saya katakan tidak ada salah mencari uang yang banyak, yang salah adalah menyimpannya. Kalau kita bisa menghasilkan uang lebih dari orang lain yang bisa hasilkan ini bukanlah berarti kita harus menyimpannya lebih, ini hanya berarti Tuhan memberikan kepercayaan kepada Anda untuk memberikan lebih kepada orang lain yang membutuhkan.

Yesus tahu hal kekuatiran adalah sesuatu yang sangat besar sekali dalam kehidupan manusia. Mungkin hari ini Anda tidak kuatir -- namun bisa saja, entah dari mana tiba-tiba ketika Anda bangun pagi-pagi dan kuatir akan hidup ini -- dan yang paling besar mengenai hal kekuatiran ini adalah mengenai materi - apa yang kita makan dan apa yang kita pakai, karena kalau kita tidak mengumpulkan harta di bumi ini bagaimana kita bisa makan makanan yang enak, bagaimana kita bisa pakai-pakaian yang bagus-bagus. Hati-hatilah kalau apa yang kita lakukan hanya untuk memuaskan kehidupan semata-mata.

Oleh karena itu Yesus mengajarkan 8 senjata untuk kita mengenai kenapa kita tidak harus kuatir akan hidup ini. Biarlah kita memakai 8 senjata itu ketika kita mulai mengalami kekuatiran dalam hidup ini.

SENJATA 1 - Hidup ini lebih penting dari makanan dan tubuh ini lebih penting dari pakaian - Matius 6:25

Matius 6: 25 "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?"

Manusia mengkonsumsi makanan untuk hidup, bukan hidup untuk makan. Tubuh manusia memerlukan pakaian supaya mereka tidak malu karena telanjang, atau mati kedinginan. Dan memang manusia membutuhkan kedua tersebut untuk hidup dan menjaga tubuh ini -- walaupun kedua hal ini tidak ada sekalipun dalam kehidupan kita, kalaupun kita mati karena kelaparan, atau mati kedinginan karena tidak ada pakaian -- namun hidup kita ada di Surga - jaminan pasti dari Tuhan, dan tubuh rohani kita lebih penting dari makanan yang membuat hidup jasmani kita bisa hidup. Yesus secara implisit mengatakan bahwa ada kehidupan setelah kita mati dan tubuh kebangkitan setelah kita mati, untuk itulah selama kita di dunia ini janganlah kita kuatir akan apa yang ada di dunia ini -- apa yang hanya bersifat sementara, tapi biarlah kita senantiasa hari lepas hari yakin dan percaya bahwa ada satu kehidupan yang lebih baik setelah kita meninggalkan dunia ini, untuk itulah Paulus juga yakin, dan dia bahkan rindu untuk segera bertemu dengan Tuhan karena dia tahu bahwa kehidupan di atas lebih baik -- tiada bandingnya dengan kehidupan kita di dunia (Filipi 1:21-24) -- Mati adalah satu keuntungan bagi Paulus, dan kalaupun Paulus hidup di dunia ini, karena dia harus bekerja memberikan buah, ayat 24 dikatakan "tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu" berarti kita hidup bukan untuk diri kita sendiri lagi, tapi kita hidup untuk Kristus, dan Kristus bagi seluruh manusia.

SENJATA 2 - Kita jauh melebihi burung-burung yang diberi makan oleh Tuhan - Matius 6:26

6:26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?

Seluruh dunia ini diatur oleh Tuhan, dari cacing-cacing di tanah yang dihidupkan Tuhan untuk menjadi makanan bagi burung-burung. Burung-burung pun tidak pernah berpikir bagimana harus menabur untuk menghasilkan tuaian, tuaian tersebut juga tidak dikumpulkan dalam lumbung-lumbung. Sejenak saya berpikir benarkah burung-burung di udara tidak mengumpulkan makanan untuk persediaan musim dingin -- saya belum menelaah lebih jauh lagi, kalaupun ada burung-burung yang mengumpulkan makanan untuk musim dingin, ini bukan yang dimaksudkan. Yang dimaksudkan adalah, burung-burung pun tidak berusaha sekuat tenaga untuk menghasilkan makanan bagi diri mereka, namun tetap dipelihara oleh Tuhan -- tentu ini jangan dijadikan alasan kita tidak mau bekerja keras untuk makanan dan minuman, tapi tetap mau bisa makan dan minum. Burung-burung pun yang tidak ada kemampuan secara sadar untuk memuliakan Tuhan tetap dipelihara Tuhan, apalagi kita manusia yang dicipta menurut peta Teladan Allah, yang bisa memuliakan Tuhan -- Tentunya dia memelihara (inggris: cares = peduli) hidup kita. 1 Petrus 5:7 - Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. Jadi jangan kuatir.

SENJATA 3 - Kekuatiran tidak menghasilkan apa-apa - Matius 6:27

6:27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?

Ini sangat mudah sekali untuk dimengerti, kekuatiran tidak menghasilkan dan tidak menambah apa-apa di dalam kehidupan manusia. Memang manusia sendiri pun tidak bisa menambah umur mereka lebih panjang karena umur kita ditentukan oleh Tuhan. Misalnya kalau kita mengalami sakit penyakit yang tidak bisa diobati, di atas masalah penyakit itu kita menambah satu penyakit lagi yaitu kekuatiran yang tidak bisa membuat umur kita lebih panjang, jadi untuk apa kita harus kuatir. Oh, saya kuatir besok saya akan meninggal, apakah dengan kita kuatir hal itu akan menambah umur panjang kita, tentu tidak -- karena manusia pun tidak bisa menambah umur panjang, berapa banyakpun kekayaan kita, tidak pernah bisa membeli umur panjang, tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat menjamin umur panjang kita hanya karena dia punya kekayaan, apalagi hanya dengan kekuatiran. Tidak akan pernah bisa. Untuk itu janganlah kuatir.

SENJATA 4 - Kekuatiran tidak menghasilkan apa-apa - Matius 6:28-30

6:28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,
6:29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.
6:30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?


Hal ini mirip dengan illustrasi mengenai burung-burung di udara, namun tidak sepenuhnya. Kita lebih berharga dari burung-burung udara, namun kita juga hidup lebih lama dari rumput yang hari ini ada dan mungkin hidupnya cuman 1 - 2 hari, bahkan kita akan hidup dalam kekekalan. Mereka pun diberikan keindahan yang natural, keindahan yang alami, jangan kuatir akan apa yang kita pakai yang hanya menutupi tubuh kita yang kelihatan oleh manusia, bukankah keindahan yang di dalam (inner beauty) melebihi apa yang kelihatan. Manusia seringkali ditipu dengan apa yang kelihatan di luar, untuk itu dikatakan Salomo pun yang kaya, dalam segala kemegahannya yang dipandan oleh manusia karena mungkin dia memakai jubah yang bagus, pertama berlian 5 karat, ataupun mahkota emas, Salomo pun tidak berpakaian seindah dari salah satu bunga bakung -- bunga bakung tidak berpakaian, yang dimaksudkan di sini adalah keindahan yang natural -- yaitu keindahan Kristus di dalam kehidupan kita. Jangan berpaku terhadap apa yang kelihatan oleh mata ini, karena mata ini seringkali menipu, tapi latihlah mata rohani kita untuk senantiasa melihat keindahan Kristus. Dialah yang akan mendadani kita -- Dia mau mendadani hati kita, maukah kita didandani oleh Tuhan. Untuk itu janganlah kuatir akan hidup ini.

SENJATA 5 - Kekuatiran adalah duniawi - Matius 6:31-32a

6:31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?

6:32a Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah.

Kalau kita kuatir berarti kita serupa dengan dunia ini, untuk itu bertobatlah kalau kita kuatir. Semua hal kekayaan, kepuasan diri, semua dicari oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, kalau kita sudah mengenal Allah tentu kita tidak akan mencari semua hal tersebut di atas hanya untuk kepuasan diri semata-mata. Kita tidak akan mencari semua hal ini. Kita harus bekerja untuk mendapatkan tapi janganlah kita sampai 'mencari' dan terperangkap di dalam jeratnya.

SENJATA 6 - Bapa di surga tahu apa yang kita perlukan - Matius 6:32b

Matius 6:32b -Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.

Apakah yang kita mau belum tentu apa yang kita butuhkan, tapi apa yang kita butuhkan menurut Tuhan sudah pasti kita harus mau untuk menerima hal tersebut. Bapa di surga melebihi dari bapa di dunia ini, dan kita tidak bisa bandingkan Bapa di surga dengan bapa di dunia, karena perbedaannya sangat jauh sekali, Bapa di surga 1 trilliun lebih dari bapa di dunia. Kalau bapa di dunia baik di bandingkan dengan bapa yang di dunia yang jahat perbedaannya hanya akan sedikit sekali. Bapa di dunia yang baik sekalipun tahu apa yang kita butuhkan bukankah Dia melebihi segala bapa yang baik di dunia, mengenai bapa yang jahat di dunia sudah tentu tidak perlu dipertanyakan lagi. Untuk itu janganlah kuatir

SENJATA 7 - Tuhan akan menyediakan segala sesuatu yang kita perlukan untuk melakukan kehendakNya dan kebenaranNya - Matius 6:33

6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Bukan karena kita tidak mendapatkan segala sesuatu akhirnya kita tidak mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya, bukan juga berarti kalau kita sudah mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya berarti kita akan menerima segala sesuatu untuk memuaskan kehidupan kita yang bersifat sementara. Tuhan berkata bahwa kita akan mengalami aniaya, Paulus juga mengatakan bahwa kelaparan dan ketelanjangan akan datang kepada beberapa orang, tapi hal ini tidak akan memisahkan kita dari Kristus - Roma 8. Kalau ayat ini selalu ditafsirkan bahwa ketika kita sudah mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya maka semua hal tersebut - dalam hal ini makanan dan pakaian akan ditambahkan kepada kita - maka motivasi manusia akan terkontaminasi -- kalau saya sudah mencari kerajaan Allah dan kebenarannya kenapa saya masih hidup sengsara, kenapa saya masih tidak kaya, mengapa saya harus kerja keras untuk mendapatkan uang, mengapa saya sering ditekan oleh teman-teman kerja, oleh majikan saya. Motivasi seperti ini sudah salah, karena konsepnya salah, mau diputar bagaimanapun tetap salah, banyak yang bilang -- yah kita tidak boleh mengharapkan segala sesuatu itu, karena yang terpenting adalah mencari kerajaan Allah dan kebenarannya dan semuanya itu yang bersifat materi akan ditambahkan secara otomatis. Nah kalau hal tersebut tidak ditambahkan berarti ayat ini sudah tentu salah. BUKAN, yang dimaksudkan di sini adalah, bahwa Tuhan menyediakan segala sesuatu bagi kita untuk memampukan kita untuk melakukan kehendak Tuhan, bahkan kehendak Tuhan atas hidup kita mengenai kapan kita harus meninggalkan dunia ini. Tidak ada jaminan akan kehidupan fisik yang nyaman di dunia ini, tidak ada jaminan hidup di dunia ini - Jaminan hidup kita adalah di dalam Kristus Yesus. Tetap tidak ada ujian yang akan gagal - Tuhan senantiasa menyediakan segala sesuatu supaya kita bisa bertahan di atas ujian tersebut dan diselamatkan. Janganlah kita kuatir, selama kita hidup di dunia ini karena Dia selalu senantiasa menyediakan segala sesuatu untuk memampukan kita melakukan kehendak Tuhan dan kebenaranNya dalam hidup kita.

SENJATA 8 - Tuhan tidak akan menambah kesusahan kita yang maksimum dalam satu hari - Matius 6:34

6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."

Kasih setia Tuhan senantiasa baru setiap hari, karena Dia tahu bahwa kita manusia membutuhkan Dia hari lepas hari, hari ini punya kesusahannya sendiri, berarti bahwa tiap hari mempunyai kesusahan tersendiri dan Tuhan tahu itu, untuk itu jangan sampai kita memikul kesusahan hari esok di hari ini. Mintalah kekuatan Tuhan setiap hari untuk menguatkan kita dalam mengalami kesusahan tersebut, kesusahan tidak dapat dibuang, semua orang pasti akan mengalami kesusahan masing-masih setiap harinya, tapi syukur kepada Tuhan karena Dia tidak pernah memberikan apa yang lebih dari batas kekuatan kita, Dia tahu benar kapasitas kita untuk satu hari. Ketika kita menutup hari, biarlah kita bersyukur bahwa Tuhan telah memberikan kekuatan kepada kita satu hari, dan berdoalah senantiasa untuk kekuatan Tuhan setiap pagi. Untuk itu janganlah kuatir Tuhan tahu sekali kemampuan kita, Dia mau kita senantiasa bergantung kepada Dia.

15 June, 2009

Mujizat

Lakeland Revival salah satu kebangkitan rohani yang besar di Florida, hal ini sangat baru sekali dan lagi nge-trend sekali di media, menjadi sorotan dunia - banyak orang-orang yang sembuh dari penyakitnya hanya dengan melalui menonton acara Lakeland di televisi ataupun di Internet. Seperti dengan yang lain-lain sebelumnya Lakeland Revival adalah kebangkitan rohani yang menitik beratkan kepada tanda-tanda ajaib, mujizat, kerja kuasa Allah, kesembuhan ilahi.

Terus terang hati saya hancur sekali melihat akan begitu lebih banyak penyesatan yang terjadi di akhir jaman ini, manusia terus mementingkan diri sendiri, mau sembuh, mau bahagia berdasarkan standard manusia itu sendiri, tapi tidak berdasarkan Allah. Manusia lebih senang melihat, merasakan hal hal yang supranatural, hal-hal yang spektakuler, dan mulai mengacuhkan pentingnya kebenaran Firman Tuhan yang sejati, yang mungkin Anda dengar di persekutuan-persekutan Bible Study yang Anda anggap membosankan. Manusia cenderung lebih suka memuaskan telinganya dengan cerita-cerita isapan jempol, cerita-cerita lucu yang membuat kita tertawa tapi tanpa ada pengertian yang benar mengenai Allah. Tapi memang inilah yang sudah ada tercantum dalam Alkitab

2 Timotius 4:3-4

4:3 Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.
4:4 Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.

Mengenai Lakeland Revival bukanlah cerita baru, sebelumnya banyak juga gerakan-gerakan yang selalu menitik beratkan kepada mujizat dan kesembuhan ilahi.

Paulus sendiri mempunyai kelemahan yang dia sudah minta kepada Tuhan namun Tuhan tidak mengabulkan doanya - karena Tuhan tahu apa yang terbaik bagi dia supaya dia terus bersandar kepada Tuhan.

Apakah berarti saya tidak percaya mujizat? Bagi saya mujizat yang terbesar yang harus selalu kita kenang adalah mujizat ketika Tuhan menjelma menjadi manusia untuk menebus dosa umat manusia -- umat pilihanNya dalam hal ini.

Mujizat dalam bahasa inggris - any amazing or wonderful occurrence. Sesuatu yang mengagumkan tidak selalu harus ketika kita kaya, ketika kita sehat, TIDAK, sesuatu yang mengagumkan bisa saja, ketika kita di dalam kesusahan - Tuhan masih ada di samping kita meberikan kekuatan, itu adalah suatu yang mengagumkan bukan, kalau Tuhan selalu senantiasa menemani kita kapan pun, di mana pun, dalam situasi bagaimanapun. Siapakah kita ini manusia berdosa, namun karena kasih karuna Pencipta kita sendiri mau bersama-sama dengan kita. Itulah mujizat yang paling besar.

Manusia cenderung terikat dengan apa yang dipandang baik di mata manusia, pekerjaan yang baik, karir yang sukses, sehingga manusia cenderung mengkategorikan mujizat adalah hal-hal yang mengagumkan berdasarkan sesuatu yang didapatkan lebih baik. Misalnya begini, kalau kita tiap hari bisa makan nasi sama tempe saja, namun satu hari kita bisa makan nasi sama ayam goreng hal ini menjadi suatu mujizat. Apakah berarti kita tidak boleh mendapatkan yang lebih baik? Tentu boleh, tapi jangan sampai hal itu menjadi yang utama dan menjauhkan kita dari Tuhan. Jangan sampai ketika kita tidak mendapat kesembuhan, pekerjaan yang lebih baik, karir yang sukses, kekayaan yang lebih berarti kita tidak mengalami mujizat -- kita bisa hidup pun itu adalah suatu mujizat -- sesuatu yang mengagumkan bukan? Jangan kita menganggap yah memang tugasnya Sang Pencipta yang harus membuat kita hidup, siapakah kita ini yang hanyalah tanah liat di tangan seorang pejunan, berani memerintah bagaimana seorang pejunan itu melakukan segala sesuatu, kita bukan di posisi untuk memberi tahu Tuhan apa yang harus Dia kerjakan, Dia tahu apa yang harus Dia kerjakan, tahukah kita apa yang harus kita kerjakan sebagai ciptaanNya itulah yang harus kita tanyakan kepada diri masing-masing.

Akhir kata hati-hatilah terhadap jaman ini...

2 Tesalonika 9-12

2:9 Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu,
2:10 dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka.
2:11 Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta,
2:12 supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan.


Saya menulis artikel ini terinspirasi dengan blog yang saya baca di Desiring God mengenai Lakeland Revival

09 June, 2009

Teologia Kemakmuran

Apakah kita semua pernah mendengar teologia kemakmuran? Saya rasa kurang pantas kemakmuran itu menyandang kata teologia di depannya. Teologia yang berasal dari kata theos = Allah dan logia = perkataan, konsep, atau prinsip (a). Sedangkan kemakmuran bukanlah konsep Allah, konsep Allah adalah kehidupan manusia yang sesuai kepada kehendak Allah, kembali kepada sang Penciptanya. Entah itu bahagia, sakit, miskin dan kaya -- semuanya harus berbalik kepada Allah. Sedangkan ajaran kemakmuran terlalu menekankan bahwa Tuhan mau memberkati kita -- baik berkat rohani maupun jasmani, pertanyaannya jika kita tidak mempunyai uang apakah berarti kita tidak diberkati juga?

Kekayaan seharusnya ditakutkan bisa menjadi sumber kejatuhan manusia, karena manusia adalah serakah. Namun bukan saya melarang orang menjadi kaya, tentu boleh kaya -- tapi tidak harus, untuk memberkati orang lain kita tidak harus menjadi kaya, dan mengeruk uang sebanyak-banyaknya -- mengapa tidak diajarkan agar kita bisa lebih hidup hemat dan uang lebihnya kita bagi-bagikan kepada orang-orang ketimbang kita meminta lebih untuk bisa menjadi saluran berkat. Ini namanya memberi dalam kelimpahan, sedangkan Tuhan mengajarkan kita memberi dalam hal kekurangan -- seperti janda yang menyerahkan seluruh miliknya -- artinya bahwa hidupnya seutuhnya diserahkan kepada Tuhan.

Manusia cenderung cinta uang -- melihat segala sesuatu berdasarkan materi, dan dengan memakai topeng rohani mengatakan bahwa semuanya untuk kemuliaan Tuhan -- yang sebenarnya adalah untuk kemuliaan sendiri. Beberapa hamba-hamba Tuhan di Amerika, punya mobil BMW, Mercedes dan berkata "Inilah berkat dari Tuhan" dan merasa kemuliaan Tuhan dinyatakan -- Apakah berkat dan kemuliaan Tuhan hanya diukur dari kekayaan semata-mata, dari BMW dan mercedes, tentu tidak, kemuliaan Tuhan itu jauh lebih dari segalanya, tidak ada padanannya di bumi.

Berapa banyak dari kita, selalu mengejar yang namanya berkat jasmani dan tidak pernah mengejar kebenaran Tuhan yang sejati. Yang kita kejar adalah untuk memuaskan diri pribadi ketika ada di dunia -- jadilah di bumi seperti di surga. Apakah di surga ada uang ? Kalau memang benar-benar mau merasa surga di bumi, jangan sekali-kali kita fokuskan hidup kita dari hal materi, semua yang kelihatan ini akan lenyap, kumpulkanlah harta di surga di mana ngengat tidak akan merusaknya. Bukan berarti kita tidak mau tau dengan segala kebutuhan jasmani kita, bill, mortgage dan lain lain. Kita harus bertanggung jawab dalam hal keuangan, semuanya itu dipercayakan Tuhan untuk kita mengelolahnya berdasarkan kehendak Tuhan bukan atas dasar kehendak diri sendiri.

Semuanya itu dicari oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, tapi Bapa kita di surga tahu bahwa kita membutuhkan semuanya itu -- membutuhkan -- berarti yg menjadi kebutuhan kita yang hakiki, dalam hal ini makan, minum dan pakaian. Dan semuanya itu akan ditambahkan kepada kita, kalau kita mencari kerajaan Allah dan kebenaranNya. Semuanya yang pasti diberi adalah makanan, minuman, pakaian, kalaupun ada yang lain itu adalah Allah berikan karena satu anugrah yang harus dipakai untuk memberkati orang lain, tapi bukan menjadi satu tujuan paling penting untuk dikejar dan untuk didapatkan.

Cukupkanlah dengan hal uang -- kalau secara gamblang diartikan bahwa uang itu harus dicukup-cukupkan, kalau kurang harus cukup juga kalau lebih juga harus dicukupkan -- tapi manusia cenderung memilih yang lebih.

Lukas 3:14 - Dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya: "Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?" Jawab Yohanes kepada mereka: "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu."

1 Timotius 6:8 - Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.

Ibrani 13:5 Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."

Penulis Ibrani, tahu benar kalau uang itu bisa menjadi tuan atas kehidupan manusia, ketika manusia berharap kepada uang -- merasa kalau tidak ada uang maka hidup ini akan sengsara, jelas ini adalah konsep yang salah. Jangan sampai kita cinta kepada uang karena hal itu adalah akar dari segala kejahatan.

Saya menentang secara pribadi mengenai buku "Rich Dad, Poor Dad" - Robert Kiyosaki; pada halaman pertama, bab pertama mengatakan demikian:

For example, one dad would say, "The love of money is the root of all evil." The other, "The lack of money is the root of all evil."

Robert dengan sengaja menyelewengkan, menyisipi ajaran untuk kaya, ajaran materialistik, kalau kita tidak kaya, atau kalau kita kekurangan uang maka itu adalah akar dari segala kejahatan. Jelas-jelas salah sekali, karena dengan keinginan untuk kayalah banyak orang jatuh dalam dosa. Jelas kalau kita menjadi ayah yang kedua bahwa "the lack of money is the root of all evil" -- berarti ayah ini adalah ayah yang cinta uang, karena dia pasti berlomba-lomba untuk mencari uang supaya menghindarkan dari segala kejahatan. Sedangkan belum tentu bagi ayah yang satu lagi kalau ayah tersebut tidak cinta uang - bukan berarti dia tidak memiliki uang.

Pembaca buku ini secara tidak sadar ditipu secara halus, dan akhirnya menjerat natur manusia yang pasti akan menyetujui kalau kurang uang maka hal itu menjadi akar segala kejahatan.

Marilah sama-sama kita mencukupkan dan mengucap syukur senantiasa kepada Tuhan atas apa yang telah kita punya - belajarlah untuk tidak melihat materi/objek, melainkan senantiasalah melihat Subjek yang memenuhi kebutuhan kita. Tuhan memberkati.

John Piper's view on Prosperity Gospel

I don’t know what you feel about the prosperty gospel; the health, wealth, and prosperity gospel. But I’ll tell you what I feel about it; hatred.

It is not the gospel. It is being exported from this country to Africa and Asia. Selling a bill of goods to the poorest of the poor, “Believe this message, your pigs won’t die. Your wife won’t have miscarriages. You’ll have rings on your fingers and coats on your back.” That’s comin’ out of America!

The people that out to be giving our money and our time and our lives, instead selling them a bunch of crap called “gospel.” And here’s the reason that it is so horrible. When was the last time that any American, African, Asian ever said, “Jesus is all-satisfying because you drove a BMW?” Never!

They’ll say, “Did Jesus give you that?” Yeah, “Well I’ll take Jesus!” That’s idolatry, that’s not the gospel. That’s elevating gifts above giver.

I’ll tell you what makes Jesus look beautiful. It’s when you smash your car and your little girl goes flying through the windshield and lands, like I was with a little girl on 11th Ave two weeks ago; dead on the street for three hours before the police could let her go. And you say, through the deepest possible pain…
“God is enough, God is enough.”

“He is good. He will take care of us. He will satisfy us. He will get us through this. He is our treasure”

“Whom have I in heaven but you? And on Earth there is nothing that I desire besides you. My flesh and my heart and my little girl may fail, but you are the strength of my heart and my portion forever.”

THAT makes God look glorious, as GOD, not as giver of cars or safety or health.
Oh how I pray that Birmingham would be purged of the health, wealth, and prosperity gospel, indeed America would be purged and that the Christian church…would be marked by suffering for Christ.

God is most glorified in you when you are most satisfied in Him in the midst of loss, not prosperity.


a. The term "theology" literally means the study of God, deriving from the Greek word theos, meaning 'God', and the suffix -ology from the Greek word logos meaning (in this context) "discourse", "theory", or "reasoning". Source Wikipedia

07 June, 2009

Tuhan sebagai 'entertainer'

"Hari ini saya lelah sekali, cape rasanya, bagaimana kalau saya ke gereja siapa tahu saya bisa menemukan kepuasan di sana" pertanyaan ini sering digumamkan oleh orang-orang di jaman sekarang ini -- Tuhan memang memberikan kepuasan bagi mereka yang lapar dan dahaga akan Firman Tuhan, dan tiap hari kita lapar dan haus, kita butuh Tuhan setiap hari, bukan hanya ketika kita mengalami masalah saja, manusia cenderung mencari Tuhan hanya ketika mengalami masalah, berarti selama dia tidak mengalami masalah Tuhan tidak pernah di tempatkan di atas segalanya.

Ketika kita datang beribadah dan mengharapkan agar kita dipuaskan dan dilepaskan dari masalah hidup ini, bukankah sebenarnya kita menjadi orang yang sangat egois sekali, karena selalu memikirkan diri sendiri, tanpa melihat bahwa berapa banyak orang yang mungkin membutuhkan doa kita. Jika kita pulang dari gereja namun tidak mendapatkan apa-apa, kemudian ada perasaan -- mengapa hari ini saya tidak mendapat apa-apa? rasanya ke gereja menjadi suatu yang rutinitas? atau kerap kali ke gereja cuman mencari entertainment saja, yang sekedar hanya untuk memuaskan diri, kalau diri kita puas, kita senang, kalau kita tidak puas kita menjadi stress, marah ataupun yang lainnya. Tuhan dijadikan seorang figur yang bisa entertain kita sesuai dengan kehendak kita, kita memaksakan Tuhan untuk menghibur kita di saat kita sedih. Memang Roh Kudus diberikan untuk menghibur kita, namun tidak sepatutnya kita mengatur Tuhan bagaimana cara Dia menghibur kita, atau membuat satu tolak ukur, satu standard tingkat kepuasan dalam hal beribadah.

Tuhan jangan pernah dijadikan seorang entertainer, dia seorang comforter bukan entertainer. Manusia membuat Tuhan menjadi sumber entertainmentnya -- seolah-olah benar, dan bagus untuk dilihat orang, karena mereka tidak melakukan kejahatan yang terlihat seperti -- mabuk-mabukkan, obat-obatan, diskotik dan yang lainnya. Tapi di dalam sama bobroknya, seperti kuburan yang dilaburi dengan bunga di luar, namun penuh dengan tulang belulang di dalam. Sekali lagi saya katakan jangan pernah jadikan Tuhan menjadi sumber entertainment-mu.

Setelah manusia dipuaskan, kecenderungan manusia akan pergi melupakan segala kebaikan Tuhan lagi, berarti terbukti ketika motivasi kita datang kepada Tuhan hanya karena mencari kepuasan diri untuk kehidupan kita maka demikian kita juga cepat lupa terhadap Tuhan ketika kita sedang di daerah aman, ketika kita tidak sedang mengalami masalah, kita tidak pernah mengingat Tuhan.

Marilah teman-teman, baiklah kita senantiasa mencari Tuhan dan kebenaranNya dengan setia tanpa mengenal lelah, di saat yang bagaimanapun baiklah kita mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh melalui FirmanNya yang ajaib. Tuhan memberkati.

Inilah salah satu pernyataan John Piper mengenai Tuhan yang dijadikan sebagai sebuah entertainment.

Today we carry in our pockets radio, television, internet, and games, and anything that would be titillating, fun! And "fun" is a word in the church today that's just rampant! It's an adjective, it's a noun, it's a verb, because we do ministry in order to fit this mentality.

I'm deeply concerned about that. I want to stand for seriousness about God, instead of making him palatable by making him "fun"! Turning him into another piece of entertainment.

Saya menulis sharing ini terinspirasi dengan artikel dari John Piper mengenai How can I break free from an addiction to entertainment?