Matius 5:44a
Tetapi Aku (Yesus) berkata kepadamu (kita): Kasihilah musuhmu...
Perkataan Yesus ini membuat saya merenung, bagaimana kita dapat mengasihi musuh kita? Pertanyaannya bukanlah bagaimana namun mengapa kita dapat mengasihi musuh kita?
Cara-cara manusia berusaha untuk melupakannya dengan cara tidak pernah mau untuk mengingat-ingat kejadian buruk yang orang lain lakukan terhadap kita, seolah-olah dengan menjalankan hal tersebut kita akan berangsur-angsur mengampuni musuh kita dan mengasihinya. Bahkan ada pepatah mengatakan hanya waktulah yang akan menyembuhkan luka. Saya agak skeptis dengan pernyataan tersebut, karena fakta berbicara banyak orang yang masih mempunyai musuh setelah bertahun-tahun lamanya.
Dalam Jumat Agung tahun ini kembali kita diingatkan untuk mengampuni orang lain sama seperti Allah telah mengampuni kita melalui AnakNya, Yesus Kristus yang mati menjadi tebusan bagi kita.
Pertanyaan berikutnya adalah, apakah kita benar-benar yakin bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah karena kasih karunia Allah semata-mata, tidak ada satupun dari kita yang dapat luput dari murka Allah, tanpa melalui penebusan Kristus.
Namun bagi sebagian besar orang pengampunan Kristus untuk kita tidak terlalu terkait dengan pengampunan kita terhadap orang yang telah bersalah kepada kita. Ketika saya tidak bisa mengampuni, saya akan bertanya kepada diri sendiri benarkah pengampunan Allah yang menurut saya ada dalam diri saya adalah pengampunan yang sejati?
Jika memang demikian, seharusnya tidak ada lagi kata 'musuh' di dalam kamus kita, manusia bukanlah musuh kita. Ketika Tuhan mengajarkan kita untuk mengasihi musuh kita, hanya melalui kasih Kristus sajalah kita bisa mengasihi mereka, secara otomatis bagi kita, mereka bukanlah 'musuh' kita lagi. Mengapa masih dikatakan musuh? Jika mereka adalah orang percaya kepada Kristus tentu mereka tidak akan menganggap kita musuh lagi, tetapi justru karena mereka belum mengalami pengampunan tersebut untuk itulah mereka akan selalu menganggap kita 'musuh'.
Di Jumat Agung ini baiklah kita bertanya kepada diri sendiri, benarkah kita sudah mengalami pengampunan yang sejati itu? Jika sudah, mengapa kita masih menganggap 'musuh' kepada orang yang berbuat buruk kepada kita?
Selidiki hati kami, ya Tuhan. Biarlah kami mengalami pengampunan sejati tersebut, dan terus mengingat betapa Engkau telah menyatakan kasihMu kepada kami, oleh karena Kristus telah mati untuk kami, ketika kami masih berdosa.
Recent Posts
0 comments:
Post a Comment