Recent Posts

Showing posts with label kedagingan. Show all posts
Showing posts with label kedagingan. Show all posts

22 September, 2010

Questions To Ask Before You Watch or Surf

From: Worldliness - C.J. Mahaney

TIME QUESTIONS

Am I skipping or delaying something important in order to watch this now?

What are my other social/entertainment options besides watching television or going out to see a movie?

How much time have I already spent on media today?

How much time have I spent surfing the Internet? How much time have I spent blogging or maintaining an online presence through social network sites?

In the last week, how much time have I spent on the spiritual disciplines, building relationships, or serving in my local church compared to time spent consuming media?

After investing the time to view this, will I look back on it as time well spent?

HEART QUESTIONS

Why do I want to watch this program or film? What do I find entertaining about it?

Am I seeking to escape from something I should be facing by watching this? Am I seeking comfort or relief that can be found only in God?

What sinful temptations will this program or film present?

Do I secretly want to view something in it that’s sinful? Am I deceiving myself by saying, “I’ll fast-forward through the bad parts”?

Similarly, am I telling myself, “I’ll just visit this web site once, and I won’t click on any other links I find there”?

Am I watching because I’m bored or lazy? If so, what does that reveal about my heart?

Am I watching simply because others are? Am I trying to be relevant or to fit in?

How have my online relationships impacted my face-to-face relationships? How has my online activity impacted my soul? For better or worse?

What motivates me to create and maintain a blog, MySpace, or Facebook presence? Am I attempting to impress others? Am I being prideful, slanderous, deceitful, or self-righteous?

CONTENT QUESTIONS

What worldview or philosophy of life does this program or film present? What’s the view of man’s nature? What’s the view of sin? Is sin identified as such? What’s the view of God-ordained authority figures? And how do these views relate to God’s view?

What does this program or film glamorize? What is valued or considered important?

Who are the heroes of the story? Why are they heroic?

Is sin shown as having negative consequences? Or is sin glorified or rewarded? Is sin presented in an appealing or seductive way?

What is humorous in this work? How are people made fun of? What is mocked?

Does violence appear as a natural part of the story, or is it used gratuitously to entertain?

What’s the sexual content? Is there nudity? Sensual or seductive dress? Are there images, language, or humor that are sexually impure?

Is sinful self-sufficiency honored? Are the heroic characters concerned for others or merely for themselves?

Does the program or film portray materialism as “the good life”?

Would seeing this help me better understand God’s world? Would it help me understand my surrounding culture better without tempting me to sinful compromise?

Will I benefit in any way from viewing this program or visiting this web site?

Does its content or artistry reflect truth, beauty, or goodness?

Online, do I communicate graciously, patiently, and humbly? Do I use crude or arrogant speech? Is my speech consistent with the gospel, or does it reflect worldliness?

28 October, 2009

Saya akan berikan waktu untuk Tuhan?

“Hari ini saya berjanji sama Tuhan, kalau Tuhan membantu saya dalam menyelesaikan masalah yang rumit maka saya akan memberikan waktu untuk Tuhan dan melayani Dia lebih sungguh lagi”

Berapa sering kita mendengar pernyataan ini, kita berjanji dan seperti main judi bersama Tuhan bukan? kedengarannya memang ekstrim ketika saya katakan bermain judi tapi kalau dipikir lagi yah ada benarnya karena – kita mengharapkan Tuhan berbuat sesuatu untuk kita setelah kita melakukan sesuatu untuk Tuhan, seperti memancing dengan memakai umpan, seolah-olah kalau Allah mengabulkan permintaan kita berarti memang Allah mau supaya kita melayani Dia dan memberikan waktu untuk Dia maka untuk itulah Dia mengabulkan permintaan kita, seperti hubungan sebab akibat, karena Tuhan bikin A maka saya akan bikin B, kalau Tuhan ngak bikin A saya ogah bikin B. Jadi bagaimana kalau Tuhan tidak mengabulkan dan tidak menyelesaikan masalah kita yang rumit? Apakah berarti kita tidak akan memberikan waktu untuk Tuhan?

Manusia pun, khususnya saya mulai jatuh di dalam jerat pemikiran yang salah, seolah-olah ada waktu yang dipergunakan untuk Tuhan dan ada waktu yang dipergunakan untuk hidup kita sendiri, untuk itulah tidak sedikit dari kita mengatakan “Saya tidak punya waktu untuk Tuhan” – karena pemikiran dasar yang salah mengenai ‘waktu’ – kalau kita berpikir secara kritis bahwa semua waktu adalah milik Tuhan bukan milik kita maka seharusnya kita berdoa: “Tuhan berapa banyak waktu yang saya bisa pakai untuk kesenangan saya?” – dengan mengatakan semua waktu untuk Tuhan bukan berarti kita berhenti kerja dan mengurung diri di dalam gereja. Tapi dengan pemikiran dasar yang benar bahwa semua waktu adalah untuk Tuhan, maka apa yang kita lakukan senantiasa semuanya adalah untuk Tuhan. Misalnya ketika kita kerja – kita akan menyadari kalau kita kerja untuk Tuhan bukan karena uang semata, karena waktu itu diberikan kepada kita supaya kita bisa bertanggung jawab mempergunakannya. Bahkan apapun yang kita lakukan, kita akan senantiasa ‘memikirkan’ Tuhan, setiap saat.

Memang tidak bisa dipungkiri manusia cenderung untuk mementingkan diri sendiri dahulu ketimbang memikirkan apa yang menjadi kerinduan Tuhan akan hidup kita, karena pada dasarnya kita adalah orang-orang yang ‘memberontak’ siapapun kita dari tua muda, besar kecil, kaya miskin, wanita pria, semua pada hakekatnya adalah sama adanya – cenderung untuk mengelompokkan waktu untuk kesenangan pribadi dan waktu untuk Tuhan. Ironisnya persentasinya pasti lebih banyak untuk kesenangan pribadi dibanding dengan untuk Tuhan (walaupun tetap harus dimengerti semua waktu adalah punya Tuhan).

Dengan pemikiran dasar yang salah akhirnya ketika kita melayani kita bisa menuntut Allah karena waktu yang seolah-olah adalah punya kita dan kita memberikannya kepada Allah – dengan kata lain kita di kemudian hari bisa berkata “Saya sudah berkorban waktu bagi Tuhan tapi kenapa masalah masih terjadi” – walaupun tidak dikeluarkan oleh mulut kita, tapi seringkali dalam hati kecil kita akan berkata dengan terhadap diri sendiri. Dengan tuntutan seperti itulah yang menandakan manusia adalah egois semata-mata hanya mau memikirkan apa yang menjadi kesenangan, keuntungan bagi dirinya sendiri. Baiklah oleh pemikiran yang benar tentang segala sesuatu adalah dari Allah maka biarlah kita bersama-sama bisa merenungkan Kolose 3:1-17 agar semakin nyata bahwa benar kita benar-benar adalah 'manusia baru' seharusnya hidup di dalam Roh bukan di dalam daging yang hanya mau mementingkan dan memuaskan hawa nafsu kita.

Kolose 3:17
“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.”

06 October, 2009

Kedagingan adalah...

"Kedagingan adalah 'aku' yang mencoba memuaskan aku sendiri dengan sesuatu apapun yang sama sekali bukan kasih Allah"

Flesh is the "I" who tries to satisfy me with anything but God's mercy
~ John Piper