Recent Posts

Showing posts with label egois. Show all posts
Showing posts with label egois. Show all posts

03 December, 2009

Kebohongan Kesaksian Neraka

Saya banyak mendengar orang bersaksi tentang perjalanan mereka ke neraka, hmm...bukannya saya tidak percaya sih, tapi buat apa percaya kepada mereka toh semuanya sudah tertulis di Alkitab, apakah Alkitab tidak menjadi otoritas tertinggi di dalam hidup kita dan di dalam pengenalan kita akan neraka. Bahkan salah satu kesaksian yang dikatakan seperti ini "Waktu saya ke neraka, neraka tuh ulatnya ngak mati-mati, jadi benar yang dikatakan Alkitab" --- Tunggu-tunggu, berarti selama ini Alkitab tidak valid, atau tidak sepenuhnya valid sampai ada orang yang perlu menyatakan bahwa Alkitab itu benar adanya karena orang tersebut sudah pergi ke neraka, jadi mana yang lebih tinggi otoritasnya? Berarti bagi mereka, kesaksian merekalah yang meneguhkan kebenaran Alkitab, ini sudah jelas pemikiran yang tidak sehat sama sekali.

Banyak orang pergi ke neraka, bolak balik, udah kayak bolak balik Sydney Jakarta kali, dengan begitu gampang mereka menceritakan kesaksian ketika mereka mengalami semua hal tersebut. Hmm...sebenarnya tujuan kesaksiannya apa sih? 1. Apakah untuk meneguhkan kebenaran Alkitab? 2. Untuk menakut-nakuti manusia untuk takut kepada neraka tapi tidak takut kepada Allah? --- Manusia pasti tidak ada yang mau masuk neraka, tapi banyak yang mau masuk surga tapi tidak mau menerima Yesus dan menjadikan Yesus sebagai harta dalam hidupnya, karena masih banyak yang mereka pegang dalam hidupnya -- kitapun kerapkali masih berada di posisi seperti itu, mau surga tapi tidak mau Tuhan.

Ujung-ujungnya orang bertobat karena supaya tidak dihukum supaya tidak masuk neraka, tapi supaya mendapatkan keselamatan itu sendiri, ini namanya egois, toh sebenarnya kita sepatutnya dihukum dan semuanya layak masuk neraka, tapi syukur dalam Kristus Yesus kita diselamatkan, namun kita diselamatkan bukan untuk diri kita, supaya kita bisa lepas dari neraka, bukan itu yang menjadi satu-satunya tujuan dalam hidup kita, tujuan hidup kita diselamatkan adalah untuk memuliakan Dia dan menjadi 'kristus-kristus' kecil di dunia ini yang berada di dalam rancangan besar Tuhan.

Jadi kalau ada orang kesaksian orang pergi ke neraka, saya akan mempertanyakannya dengan tajam dan kritis, karena akhirnya kesaksian bisa dibuat-buat, atau hanya karena emosi, atau karena pernah baca ayat-ayat Alkitab tentang neraka, kemudian mulai menghayal neraka itu seperti apa. Apakah dengan kesaksian itu maka kita akan lebih percaya neraka itu ada? Berarti kita tidak percaya bahwa apa yang dikatakan Alkitab adalah benar adanya, akhirnya kita akan terpengaruh oleh kesaksian orang lain ketimbang kesaksian Alkitab, dan kalau tidak hati-hati maka kita akan mulai mendewakan manusia yang dianggap seolah-olah memiliki otoritas tertinggi.

Pujian ngak ngangkat

Aduh pujian hari ini koq ngak ngangkat? Emang apa sih pujian yang ngangkat itu? Kalau ditanya susah juga jawabnya, ayo coba deh jawab, pujian yang ngangkat itu definisinya apa? Pujian yang menyentuh hati? Pujian yang bisa bikin kita senang, happy, bisa bikin nangis juga? Pujian yang membuat kita 'berubah'? - at least untuk saat kita menyanyikan pujian tersebut.

Rasanya kita terlalu egois menjadi orang Kristen, kalau ada lagu yang bagus, musik yang bagus baru dah saya nyanyinya lebih bagus, kalau ada lagu baru yang irama musiknya saya senang, misalnya jazz, pop, rock, disco, dangdut baru deh itu namanya bagus karena mengikuti jaman. Akhirnya kita jatuh di dalam legalisme diri, karena saya suka rock maka saya akan pakai musik rock untuk memuji Tuhan, kalau musik himne kayaknya agak terlalu 'daggy' tidak keren dan tidak bisa bikin kita enjoy.

Kitalah yang menjadi sumber pujian tersebut bukan Tuhan, kita maunya enaknya kita saja, kalau lagunya enak dan senang dan membuat saya bahagia dan damai sejahtera itulah pujian yang ngangkat, kalau ngak berarti jangan pernah dipakai lagi lagu itu. Sebelumnya memang kita harus men-filter lagu-lagu yang dinyanyikan, apa tujuan lagu tersebut diciptakan, bagaimana liriknya, siapa yang mengarang, jenis musiknya bagaimana, semuanya harus dipertimbangkan matang-matang, jangan sampai kita memilih lagu pujian hanya karena enak didengar di telinga baik dari musik maupun liriknya.

Saya melihat banyak lagu-lagu Kristen kontemporer yang berkembang demikian pesatnya tapi tidak memiliki dasar Alkitab yang jelas, memang kedengarannya ok ok saja, tapi kalau kita telaah lebih lanjut terdapat unsur-unsur humanisme yang sangat kuat sekali, walaupun saya tidak memungkiri adanya lagu-lagu Kristen kontemporer yang mempunyai kualitas tinggi juga.

Baiklah sama-sama kita merenungkan kembali ketika kita memuji Tuhan apakah benar kita memuji Tuhan sungguh-sungguh karena Tuhan sudah lebih bekerja dalam hidup kita, atau kita hanya memuji Tuhan supaya kita 'disegarkan', supaya kita dipuaskan melalui pujian tersebut?

22 November, 2009

Here I Stand: A Life of Martin Luther

Saya benar-benar takjub sekaligus takut. Saya berpikir, "Bagaimana saya dapat menyapa Raja Semesta Alam jika menghadapi raja-raja dunia ini saja manusia gemetar? Siapakah saya, hingga saya boleh mengangkat mata dan tangan saya di hadapan Yang Mahakudus? Para malaikat mengelilingi Dia. Dia berfirman dan bumi pun berguncang. Jadi, layakkah saya - manusia hina ini - menyatakan, "Saya ingin ini, saya minta itu?" Sebab saya hanyalah debu tanah yang cemar dan berdosa, dan saya sedang berbicara kepada Allah yang hidup, kekal, dan benar.
Roland Bainton. Here I Stand: A Life of Martin Luther (New York:New American Library, 1950),30.

28 October, 2009

Saya akan berikan waktu untuk Tuhan?

“Hari ini saya berjanji sama Tuhan, kalau Tuhan membantu saya dalam menyelesaikan masalah yang rumit maka saya akan memberikan waktu untuk Tuhan dan melayani Dia lebih sungguh lagi”

Berapa sering kita mendengar pernyataan ini, kita berjanji dan seperti main judi bersama Tuhan bukan? kedengarannya memang ekstrim ketika saya katakan bermain judi tapi kalau dipikir lagi yah ada benarnya karena – kita mengharapkan Tuhan berbuat sesuatu untuk kita setelah kita melakukan sesuatu untuk Tuhan, seperti memancing dengan memakai umpan, seolah-olah kalau Allah mengabulkan permintaan kita berarti memang Allah mau supaya kita melayani Dia dan memberikan waktu untuk Dia maka untuk itulah Dia mengabulkan permintaan kita, seperti hubungan sebab akibat, karena Tuhan bikin A maka saya akan bikin B, kalau Tuhan ngak bikin A saya ogah bikin B. Jadi bagaimana kalau Tuhan tidak mengabulkan dan tidak menyelesaikan masalah kita yang rumit? Apakah berarti kita tidak akan memberikan waktu untuk Tuhan?

Manusia pun, khususnya saya mulai jatuh di dalam jerat pemikiran yang salah, seolah-olah ada waktu yang dipergunakan untuk Tuhan dan ada waktu yang dipergunakan untuk hidup kita sendiri, untuk itulah tidak sedikit dari kita mengatakan “Saya tidak punya waktu untuk Tuhan” – karena pemikiran dasar yang salah mengenai ‘waktu’ – kalau kita berpikir secara kritis bahwa semua waktu adalah milik Tuhan bukan milik kita maka seharusnya kita berdoa: “Tuhan berapa banyak waktu yang saya bisa pakai untuk kesenangan saya?” – dengan mengatakan semua waktu untuk Tuhan bukan berarti kita berhenti kerja dan mengurung diri di dalam gereja. Tapi dengan pemikiran dasar yang benar bahwa semua waktu adalah untuk Tuhan, maka apa yang kita lakukan senantiasa semuanya adalah untuk Tuhan. Misalnya ketika kita kerja – kita akan menyadari kalau kita kerja untuk Tuhan bukan karena uang semata, karena waktu itu diberikan kepada kita supaya kita bisa bertanggung jawab mempergunakannya. Bahkan apapun yang kita lakukan, kita akan senantiasa ‘memikirkan’ Tuhan, setiap saat.

Memang tidak bisa dipungkiri manusia cenderung untuk mementingkan diri sendiri dahulu ketimbang memikirkan apa yang menjadi kerinduan Tuhan akan hidup kita, karena pada dasarnya kita adalah orang-orang yang ‘memberontak’ siapapun kita dari tua muda, besar kecil, kaya miskin, wanita pria, semua pada hakekatnya adalah sama adanya – cenderung untuk mengelompokkan waktu untuk kesenangan pribadi dan waktu untuk Tuhan. Ironisnya persentasinya pasti lebih banyak untuk kesenangan pribadi dibanding dengan untuk Tuhan (walaupun tetap harus dimengerti semua waktu adalah punya Tuhan).

Dengan pemikiran dasar yang salah akhirnya ketika kita melayani kita bisa menuntut Allah karena waktu yang seolah-olah adalah punya kita dan kita memberikannya kepada Allah – dengan kata lain kita di kemudian hari bisa berkata “Saya sudah berkorban waktu bagi Tuhan tapi kenapa masalah masih terjadi” – walaupun tidak dikeluarkan oleh mulut kita, tapi seringkali dalam hati kecil kita akan berkata dengan terhadap diri sendiri. Dengan tuntutan seperti itulah yang menandakan manusia adalah egois semata-mata hanya mau memikirkan apa yang menjadi kesenangan, keuntungan bagi dirinya sendiri. Baiklah oleh pemikiran yang benar tentang segala sesuatu adalah dari Allah maka biarlah kita bersama-sama bisa merenungkan Kolose 3:1-17 agar semakin nyata bahwa benar kita benar-benar adalah 'manusia baru' seharusnya hidup di dalam Roh bukan di dalam daging yang hanya mau mementingkan dan memuaskan hawa nafsu kita.

Kolose 3:17
“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.”

26 August, 2009

iPod Idol

Setiap hari perjalanan saya di dalam kereta, banyak orang yang memasang 'ear-plug' di telinganya, dan mendengarkan musik dari elektronik 'music player', salah satunya yang terkenal adalah iPod, walaupun saya akan berbicara secara umum mengenai hal ini.

Tanpa menyadari orang-orang tersebut memasang keras-keras musiknya tanpa menyadari bahwa mereka ada di tempat umum, tanpa ada kepedulian serasa merekalah yang memiliki kereta tersebut. Kadang saya melirik mereka, sambil mengernyitkan dahi, ada beberapa dari mereka menjadi sungkan dan akhirnya mengecilkan suara musiknya. Tapi tidak sedikit yang tidak acuh, sampai akhirnya ada beberapa orang akhirnya mencolek mereka dan bilang "Excuse me, could you please turn the volume down!".

Entah apa yang ada di pikiran manusia? Egoisan? Betul, tanpa peduli dengan sekitarnya mereka menyetel musik sekeras-kerasnya, seolah-olah dengan memakai 'ear-plug' yang lain tidak akan mendengar, namun kenyataannya bising sekali. Masih mending kalau musik yang diperdengarkan adalah musik yang bermutu, banyak musik yang aneh-aneh...dari trance sampai dance, dan yang lainnya yang akhirnya memekakkan telinga pendengar ataupun penumpang yang di kereta.

Manusia akhirnya mulai menyembah iPod (atau music player lainnya) , sebagai sumber 'entertainment', alasannya ketika pagi mau berangkat kerja perlu iPod untuk 'refreshing', pokoknya hidup tanpa iPod seperti hidup di neraka, akhirnya iPod mendarah daging dalam kehidupan manusia, khususnya anak-anak muda, walapun banyak juga orang-orang tua yang akhirnya berkecimpung dalam hal ini.

Jadi jika kita semua mendengarkan iPod atau music player lainnya -- sama sekali tidak dilarang tapi hendaklah kita juga 'aware' dengan lingkungan sekitar kita, jangan menjadi egois -- seolah-olah dunia ini hanya milik "I, Me and Myself".

15 June, 2009

Mujizat

Lakeland Revival salah satu kebangkitan rohani yang besar di Florida, hal ini sangat baru sekali dan lagi nge-trend sekali di media, menjadi sorotan dunia - banyak orang-orang yang sembuh dari penyakitnya hanya dengan melalui menonton acara Lakeland di televisi ataupun di Internet. Seperti dengan yang lain-lain sebelumnya Lakeland Revival adalah kebangkitan rohani yang menitik beratkan kepada tanda-tanda ajaib, mujizat, kerja kuasa Allah, kesembuhan ilahi.

Terus terang hati saya hancur sekali melihat akan begitu lebih banyak penyesatan yang terjadi di akhir jaman ini, manusia terus mementingkan diri sendiri, mau sembuh, mau bahagia berdasarkan standard manusia itu sendiri, tapi tidak berdasarkan Allah. Manusia lebih senang melihat, merasakan hal hal yang supranatural, hal-hal yang spektakuler, dan mulai mengacuhkan pentingnya kebenaran Firman Tuhan yang sejati, yang mungkin Anda dengar di persekutuan-persekutan Bible Study yang Anda anggap membosankan. Manusia cenderung lebih suka memuaskan telinganya dengan cerita-cerita isapan jempol, cerita-cerita lucu yang membuat kita tertawa tapi tanpa ada pengertian yang benar mengenai Allah. Tapi memang inilah yang sudah ada tercantum dalam Alkitab

2 Timotius 4:3-4

4:3 Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.
4:4 Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.

Mengenai Lakeland Revival bukanlah cerita baru, sebelumnya banyak juga gerakan-gerakan yang selalu menitik beratkan kepada mujizat dan kesembuhan ilahi.

Paulus sendiri mempunyai kelemahan yang dia sudah minta kepada Tuhan namun Tuhan tidak mengabulkan doanya - karena Tuhan tahu apa yang terbaik bagi dia supaya dia terus bersandar kepada Tuhan.

Apakah berarti saya tidak percaya mujizat? Bagi saya mujizat yang terbesar yang harus selalu kita kenang adalah mujizat ketika Tuhan menjelma menjadi manusia untuk menebus dosa umat manusia -- umat pilihanNya dalam hal ini.

Mujizat dalam bahasa inggris - any amazing or wonderful occurrence. Sesuatu yang mengagumkan tidak selalu harus ketika kita kaya, ketika kita sehat, TIDAK, sesuatu yang mengagumkan bisa saja, ketika kita di dalam kesusahan - Tuhan masih ada di samping kita meberikan kekuatan, itu adalah suatu yang mengagumkan bukan, kalau Tuhan selalu senantiasa menemani kita kapan pun, di mana pun, dalam situasi bagaimanapun. Siapakah kita ini manusia berdosa, namun karena kasih karuna Pencipta kita sendiri mau bersama-sama dengan kita. Itulah mujizat yang paling besar.

Manusia cenderung terikat dengan apa yang dipandang baik di mata manusia, pekerjaan yang baik, karir yang sukses, sehingga manusia cenderung mengkategorikan mujizat adalah hal-hal yang mengagumkan berdasarkan sesuatu yang didapatkan lebih baik. Misalnya begini, kalau kita tiap hari bisa makan nasi sama tempe saja, namun satu hari kita bisa makan nasi sama ayam goreng hal ini menjadi suatu mujizat. Apakah berarti kita tidak boleh mendapatkan yang lebih baik? Tentu boleh, tapi jangan sampai hal itu menjadi yang utama dan menjauhkan kita dari Tuhan. Jangan sampai ketika kita tidak mendapat kesembuhan, pekerjaan yang lebih baik, karir yang sukses, kekayaan yang lebih berarti kita tidak mengalami mujizat -- kita bisa hidup pun itu adalah suatu mujizat -- sesuatu yang mengagumkan bukan? Jangan kita menganggap yah memang tugasnya Sang Pencipta yang harus membuat kita hidup, siapakah kita ini yang hanyalah tanah liat di tangan seorang pejunan, berani memerintah bagaimana seorang pejunan itu melakukan segala sesuatu, kita bukan di posisi untuk memberi tahu Tuhan apa yang harus Dia kerjakan, Dia tahu apa yang harus Dia kerjakan, tahukah kita apa yang harus kita kerjakan sebagai ciptaanNya itulah yang harus kita tanyakan kepada diri masing-masing.

Akhir kata hati-hatilah terhadap jaman ini...

2 Tesalonika 9-12

2:9 Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu,
2:10 dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka.
2:11 Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta,
2:12 supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan.


Saya menulis artikel ini terinspirasi dengan blog yang saya baca di Desiring God mengenai Lakeland Revival

07 June, 2009

Tuhan sebagai 'entertainer'

"Hari ini saya lelah sekali, cape rasanya, bagaimana kalau saya ke gereja siapa tahu saya bisa menemukan kepuasan di sana" pertanyaan ini sering digumamkan oleh orang-orang di jaman sekarang ini -- Tuhan memang memberikan kepuasan bagi mereka yang lapar dan dahaga akan Firman Tuhan, dan tiap hari kita lapar dan haus, kita butuh Tuhan setiap hari, bukan hanya ketika kita mengalami masalah saja, manusia cenderung mencari Tuhan hanya ketika mengalami masalah, berarti selama dia tidak mengalami masalah Tuhan tidak pernah di tempatkan di atas segalanya.

Ketika kita datang beribadah dan mengharapkan agar kita dipuaskan dan dilepaskan dari masalah hidup ini, bukankah sebenarnya kita menjadi orang yang sangat egois sekali, karena selalu memikirkan diri sendiri, tanpa melihat bahwa berapa banyak orang yang mungkin membutuhkan doa kita. Jika kita pulang dari gereja namun tidak mendapatkan apa-apa, kemudian ada perasaan -- mengapa hari ini saya tidak mendapat apa-apa? rasanya ke gereja menjadi suatu yang rutinitas? atau kerap kali ke gereja cuman mencari entertainment saja, yang sekedar hanya untuk memuaskan diri, kalau diri kita puas, kita senang, kalau kita tidak puas kita menjadi stress, marah ataupun yang lainnya. Tuhan dijadikan seorang figur yang bisa entertain kita sesuai dengan kehendak kita, kita memaksakan Tuhan untuk menghibur kita di saat kita sedih. Memang Roh Kudus diberikan untuk menghibur kita, namun tidak sepatutnya kita mengatur Tuhan bagaimana cara Dia menghibur kita, atau membuat satu tolak ukur, satu standard tingkat kepuasan dalam hal beribadah.

Tuhan jangan pernah dijadikan seorang entertainer, dia seorang comforter bukan entertainer. Manusia membuat Tuhan menjadi sumber entertainmentnya -- seolah-olah benar, dan bagus untuk dilihat orang, karena mereka tidak melakukan kejahatan yang terlihat seperti -- mabuk-mabukkan, obat-obatan, diskotik dan yang lainnya. Tapi di dalam sama bobroknya, seperti kuburan yang dilaburi dengan bunga di luar, namun penuh dengan tulang belulang di dalam. Sekali lagi saya katakan jangan pernah jadikan Tuhan menjadi sumber entertainment-mu.

Setelah manusia dipuaskan, kecenderungan manusia akan pergi melupakan segala kebaikan Tuhan lagi, berarti terbukti ketika motivasi kita datang kepada Tuhan hanya karena mencari kepuasan diri untuk kehidupan kita maka demikian kita juga cepat lupa terhadap Tuhan ketika kita sedang di daerah aman, ketika kita tidak sedang mengalami masalah, kita tidak pernah mengingat Tuhan.

Marilah teman-teman, baiklah kita senantiasa mencari Tuhan dan kebenaranNya dengan setia tanpa mengenal lelah, di saat yang bagaimanapun baiklah kita mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh melalui FirmanNya yang ajaib. Tuhan memberkati.

Inilah salah satu pernyataan John Piper mengenai Tuhan yang dijadikan sebagai sebuah entertainment.

Today we carry in our pockets radio, television, internet, and games, and anything that would be titillating, fun! And "fun" is a word in the church today that's just rampant! It's an adjective, it's a noun, it's a verb, because we do ministry in order to fit this mentality.

I'm deeply concerned about that. I want to stand for seriousness about God, instead of making him palatable by making him "fun"! Turning him into another piece of entertainment.

Saya menulis sharing ini terinspirasi dengan artikel dari John Piper mengenai How can I break free from an addiction to entertainment?

04 June, 2009

Doa untuk diri sendiri dan orang lain

Berapa banyak kita berdoa hanya untuk memenuhi kebutuhan kita, ataupun kalaupun kita berdoa untuk orang lain, kita cenderung mendoakan apa yang ada di sekelilingnya, entah itu pekerjaan, pasangan hidup, berkat, namun kita tidak pernah mendoakan pribadinya, supaya kehendak Tuhan boleh terus nyata di dalam kehidupan orang tersebut.

Bolehkah kita berdoa untuk diri sendiri? Tentu saja, namun janganlah sampai doa tersebut hanya menodong Tuhan untuk melakukan sesuatu demi kepentingan diri sendiri, ini namanya egois maunya yang dia mau tanpa memperdulikan apa yang Tuhan mau. Kalau Tuhan tidak menjawab doa kita maka kita akan marah, atau pasang muka cemberut. Seringkali kita juga berdoa hanya untuk kemuliaan kita, seolah-olah untuk kemuliaan Tuhan namun secara tidak disadari kita hanya berdoa untuk kepuasan diri kita sendiri. Misalnya kita berdoa "Tuhan, rubahlah saya untuk menjadi serupa dengan Tuhan Yesus" -- saya lagi saya lagi, benar sekali Tuhan mau kita menjadi serupa Tuhan Yesus, tapi harus kita harus menyelediki hati kita apakah kita berdoa hanya untuk supaya kita bisa diterima di satu komunitas, terlihat orang kudus, lebih daripada yang lain, lebih tinggi maupun lebih rohani atau kita benar-benar berdoa karena kita sadar bahwa dengan kekuatan kita sendiri kita tidak mampu untuk menjadi serupa dengan Kristus maka dari itulah kita menaikkan doa kita memohon kekuatan dari Dia yang menjadi sumber dari segala sesuatu untuk menolong dan memampukan kita -- untuk kemuliaan Dia semata-mata. Kita berdoa menyerahkan segala sesuatu tanpa harus memberitahukan Tuhan caranya bagaimana -- karena Dia lebih tau dari kita. Tidak seharusnya kita memerintah Tuhan dan  memberitahukan Dia bagaimana caranya mengatur dunia ini, manusia khususnya. Dia yang tahu bagaimana menyelesaikan masalah kita, maka dari itu serahkanlah segala sesuatu di bawah tangan Tuhan yang kuat.

Bolehkah kita berdoa untuk apa yang ada di sekeliling pasangan kita, teman kita, pacar kita, saudara kita, orang tua kita -- tentu saja boleh, namun hal itu bukanlah yang utama, bukan menjadi sesuatu yang hakiki. Kalau kita bisa belajar untuk berdoa lebih sungguh mengenai pribadinya orang tersebut, makan secara otomatis semua hal yang disekitarnya akan ikut dengan sendirinya. Kalau kita berdoa misalnya untuk pekerjaan -- setelah seseorang tersebut mendapat pekerjaan mungkin saja sukacita yang semu bisa terjadi dengan sesaat saja terhadap orang tersebut, akan berbeda kalau kita mendoakan pribadinya bagaimana orang tersebut bisa lebih mengenal Tuhan secara benar, atau supaya orang tersebut bisa lebih mengerti kehendak Tuhan dan panggilanNya, maka kalaupun dia dapat atau tidak dapat pekerjaan pun, orang tersebut sudah mengerti.

Saya mengutip surat Paulus untuk jemaat Efesus, Paulus berdoa untuk jemaat Efesus, semoga membangun kita dan menghentikan keegoisan kita mengenai doa...

Efesus 1:15-23

1:15 Karena itu, setelah aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus,
1:16 akupun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku,
1:17 dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.
1:18 Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus,
1:19 dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya,
1:20 yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga,
1:21 jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang.
1:22 Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.
1:23 Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.