“Hari ini saya berjanji sama Tuhan, kalau Tuhan membantu saya dalam menyelesaikan masalah yang rumit maka saya akan memberikan waktu untuk Tuhan dan melayani Dia lebih sungguh lagi”
Berapa sering kita mendengar pernyataan ini, kita berjanji dan seperti main judi bersama Tuhan bukan? kedengarannya memang ekstrim ketika saya katakan bermain judi tapi kalau dipikir lagi yah ada benarnya karena – kita mengharapkan Tuhan berbuat sesuatu untuk kita setelah kita melakukan sesuatu untuk Tuhan, seperti memancing dengan memakai umpan, seolah-olah kalau Allah mengabulkan permintaan kita berarti memang Allah mau supaya kita melayani Dia dan memberikan waktu untuk Dia maka untuk itulah Dia mengabulkan permintaan kita, seperti hubungan sebab akibat, karena Tuhan bikin A maka saya akan bikin B, kalau Tuhan ngak bikin A saya ogah bikin B. Jadi bagaimana kalau Tuhan tidak mengabulkan dan tidak menyelesaikan masalah kita yang rumit? Apakah berarti kita tidak akan memberikan waktu untuk Tuhan?
Manusia pun, khususnya saya mulai jatuh di dalam jerat pemikiran yang salah, seolah-olah ada waktu yang dipergunakan untuk Tuhan dan ada waktu yang dipergunakan untuk hidup kita sendiri, untuk itulah tidak sedikit dari kita mengatakan “Saya tidak punya waktu untuk Tuhan” – karena pemikiran dasar yang salah mengenai ‘waktu’ – kalau kita berpikir secara kritis bahwa semua waktu adalah milik Tuhan bukan milik kita maka seharusnya kita berdoa: “Tuhan berapa banyak waktu yang saya bisa pakai untuk kesenangan saya?” – dengan mengatakan semua waktu untuk Tuhan bukan berarti kita berhenti kerja dan mengurung diri di dalam gereja. Tapi dengan pemikiran dasar yang benar bahwa semua waktu adalah untuk Tuhan, maka apa yang kita lakukan senantiasa semuanya adalah untuk Tuhan. Misalnya ketika kita kerja – kita akan menyadari kalau kita kerja untuk Tuhan bukan karena uang semata, karena waktu itu diberikan kepada kita supaya kita bisa bertanggung jawab mempergunakannya. Bahkan apapun yang kita lakukan, kita akan senantiasa ‘memikirkan’ Tuhan, setiap saat.
Memang tidak bisa dipungkiri manusia cenderung untuk mementingkan diri sendiri dahulu ketimbang memikirkan apa yang menjadi kerinduan Tuhan akan hidup kita, karena pada dasarnya kita adalah orang-orang yang ‘memberontak’ siapapun kita dari tua muda, besar kecil, kaya miskin, wanita pria, semua pada hakekatnya adalah sama adanya – cenderung untuk mengelompokkan waktu untuk kesenangan pribadi dan waktu untuk Tuhan. Ironisnya persentasinya pasti lebih banyak untuk kesenangan pribadi dibanding dengan untuk Tuhan (walaupun tetap harus dimengerti semua waktu adalah punya Tuhan).
Dengan pemikiran dasar yang salah akhirnya ketika kita melayani kita bisa menuntut Allah karena waktu yang seolah-olah adalah punya kita dan kita memberikannya kepada Allah – dengan kata lain kita di kemudian hari bisa berkata “Saya sudah berkorban waktu bagi Tuhan tapi kenapa masalah masih terjadi” – walaupun tidak dikeluarkan oleh mulut kita, tapi seringkali dalam hati kecil kita akan berkata dengan terhadap diri sendiri. Dengan tuntutan seperti itulah yang menandakan manusia adalah egois semata-mata hanya mau memikirkan apa yang menjadi kesenangan, keuntungan bagi dirinya sendiri. Baiklah oleh pemikiran yang benar tentang segala sesuatu adalah dari Allah maka biarlah kita bersama-sama bisa merenungkan Kolose 3:1-17 agar semakin nyata bahwa benar kita benar-benar adalah 'manusia baru' seharusnya hidup di dalam Roh bukan di dalam daging yang hanya mau mementingkan dan memuaskan hawa nafsu kita.
Kolose 3:17
“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.”
Recent Posts
0 comments:
Post a Comment