Rumah sakit pemulihan kesehatan yang dikelola pemerintah AS bukanlah tempat yang menyenangkan : besar, kekurangan tenaga, dan dipenuhi orang-orang yang pikun, tidak berdaya, dan kesepian, orang2 yang sedang menunggu kematian. Pada hari yang paling cerah pun di dalam tampak gelap, bau penyakit, dan pesingnya air seni. Saya datang ke sana sekali atau dua kali seminggu selama 4 tahun. Sebenarnya saya tidak pernah berkeinginan ke sana. Pulang dari sana selalu membuat saya lega. Itu bukan tempat yang bisa buat orang betah. Pada hari itu saya sedang berjalan di bangsal yang belum pernah saya datangi sebelumnya. Hampir sia-sia mencari orang yang cukup hidup untuk menerima bunga dan beberapa kata dorongan. Bangsal ini tampaknya berisi orang-orang dengan kasus-kasus terburuk. Mereka yang terikat di ranjang dorong atau kursi roda tampak sama sekali tak berdaya. Ketika saya mendekati ujung bangsal ini, saya melihat seorang perempuan tua terikat di kursi roda. Wajahnya benar-benar mengerikan. Pandangannya kosong dan pupil putih dimatanya memberitahu saya bahwa ia buta. Alat bantu besar di salah satu telinganya menyatakan ia hampir tuli. Satu sisi wajahnya digerogoti kanker. Ada warna hitam dan luka memanjang yang menutupi sebagian pipinya, dan itu mendorong hidungnya ke satu sisi, menurunkan satu mata, dan memiringkan rahangnya, sehingga apa yang seharusnya menjadi sudut mulutnya bagian bawah mulutnya. Akibatnya air liurnya selalu menetes. Belakangan ini saya dberitahu bahwa setiap ada perawat baru, kepala perawat akan menyuruhnya memberi makan perempuan ini, dengan pemikiran kalau mereka bisa bertahan dengan pemandangan ini, mereka bisa tahan apa saja di gedung itu. Belakangan saya juga mengetahui bahwa perempuan ini umurnya 89 tahun dan sudah berada di sini, terikat di tempat tidur, buta hampir tuli, sendirian selama 25 tahun. Ia bernama Mabel.
Saya tidak tahu mengapa saya berbicara kepadanya. Kemungkinan karena beranggapan bahwa ia tidak dapat menanggapi banyak dibandingkan dengan orang-orang lain di bangsal itu. Saya meletakkan bunga di tangannya dan berkata, “Ini bunga untuk Anda. Selamat hari ibu.” Ia berusaha mengangkat bunga itu ke wajahnya, mencoba menciumnya. Betapa terkejutnya saya ketika mendengar ucapannya, yang walau pun agak sukar ditangkap karena cacat wajahnya, jelas dihasilkan dari pikiran jernih. Ia berkata, “Terima kasih, indah sekali. Tetapi, bolehkah saya memberikannya kepada orang lain? Saya tidak dapat melihatnya. Anda tahu saya buta.”
Saya berkata, “Tentu saja.” Saya mendorong kursi rodanya menyusuri bangsal ke tempat yang saya kira dapat menemukan seorang pasien sadar. Ketika saya menemukan seseorang, saya menghentikan kursi itu. Mabel mengulurkan bunganya dan berkata, “Ini dari Yesus.”
Pada saat itu saya mulai sadar bahwa ia bukan manusia biasa. Belakangan saya mengetahui lebih banyak tentang kisah hidupnya. Ia lahir dan besar di pertanian kecil yang diurusnya hanya dengan ibunya sampai ibunya meninggal. Lalu ia menjalankan pertanian itu sendirian sampai tahun 1950, ketika matanya menjadi buta dan penyakitnya memaksanya masuk RS. Selama 25 tahun ia bertambah lemah dan sakit: lalu sakit kepala, pinggang, perut. Lalu kanker juga menyerangnya.
Mabel dan saya sudah menjadi teman dalam beberapa minggu berikutnya dan saya menemuinya sekali atau dua kali seminggu selama 3 tahun berikutnya. Ucapan pertamanya pada saya biasanya berupa tawaran permen dari kotak tisu di meja sebelah tempat tidurnya. Kadang-kadang saya membacakannya Alkitab dan sering ketika saya berhenti, ia meneruskan ayat itu, berdasarkan hafalan, kata demi kata. Hari-hari lainnya saya membawakan buku nyanyian rohani dan menyanyi bersamanya, dan ia hapal setiap kata-kata lagu-lagu lama. Bagi Mabel, ini bukan hanya latihan pikiran. Ia sering berhenti di tengah nyanyian dan memberikan komentar pendek tentang lirik yang ia anggap sangat relevan dengan situasinya sendiri. Saya belum pernah mendengarnya bicara tentang kesepian dan kesakitan, kecuali kalau ia menekankan kalimat tertentu pada lagu tertentu. Tidak sampai beberapa minggu, perasaan saya sudah berubah dan rasa memberi bantuan berubah menjadi kekaguman, dan saya mendatanginya dengan membawa pulpen dan kertas untuk mencatat apa yang ia katakan.
Pada suatu minggu yang sibuk menjelang ujian akhir, saya frustasi karena pikiran saya rasanya melayang ke 10 arah berbeda sekaligus. Begitu banyak yang harus saya pikirkan. Sebuah pertanyaan muncul di kepala saya, “Apa yang dipikirkan Mabel jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, bahkan tanpa mengetahui apakah itu siang atau malam?” Jadi, saya mendatanginya dan bertanya, “Mabel, apa yang kau pikirkan ketika kau berbaring di sini?” Ia berkata, “Saya berpikir tentang Yesusku”. Saya duduk dsana dan tertegun. Betapa sulitnya bagi saya untuk berpikir tentang Yesus bahkan selama 5 menit saja. Saya bertanya lagi,”Apa yang kamu pikirkan tentang Yesus?” Ia menjawab perlahan dan penuh tekanan,”Saya berpikir tentang betapa baiknya Ia kepada saya. Ia sangat baik kepada saya dalam hidup saya. Saya adalah salah satu orang yang puas. Banyak orang tidak peduli dengan apa yang saya pikirkan dak menganggap saya kuno. Tetapi saya tidak peduli. Saya lebih suka memiliki Yesus. Dunia saya adalah Yesus.” Lalu Mabel mulai menyanyikan lagu rohani lama:
Jesus is all the world to me,
My life, my joy, my all.
He is my strength from day to day,
Without Him I would fall.
When I am sad, to Him I go,
No other one can cheer me so.
When I am sad He makes me glad.
He’s my friend.
Diterjemahkan dari The Life you’ve always wanted oleh John Ortberg - The Morphing of Mabel.
Saya tidak tahu mengapa saya berbicara kepadanya. Kemungkinan karena beranggapan bahwa ia tidak dapat menanggapi banyak dibandingkan dengan orang-orang lain di bangsal itu. Saya meletakkan bunga di tangannya dan berkata, “Ini bunga untuk Anda. Selamat hari ibu.” Ia berusaha mengangkat bunga itu ke wajahnya, mencoba menciumnya. Betapa terkejutnya saya ketika mendengar ucapannya, yang walau pun agak sukar ditangkap karena cacat wajahnya, jelas dihasilkan dari pikiran jernih. Ia berkata, “Terima kasih, indah sekali. Tetapi, bolehkah saya memberikannya kepada orang lain? Saya tidak dapat melihatnya. Anda tahu saya buta.”
Saya berkata, “Tentu saja.” Saya mendorong kursi rodanya menyusuri bangsal ke tempat yang saya kira dapat menemukan seorang pasien sadar. Ketika saya menemukan seseorang, saya menghentikan kursi itu. Mabel mengulurkan bunganya dan berkata, “Ini dari Yesus.”
Pada saat itu saya mulai sadar bahwa ia bukan manusia biasa. Belakangan saya mengetahui lebih banyak tentang kisah hidupnya. Ia lahir dan besar di pertanian kecil yang diurusnya hanya dengan ibunya sampai ibunya meninggal. Lalu ia menjalankan pertanian itu sendirian sampai tahun 1950, ketika matanya menjadi buta dan penyakitnya memaksanya masuk RS. Selama 25 tahun ia bertambah lemah dan sakit: lalu sakit kepala, pinggang, perut. Lalu kanker juga menyerangnya.
Mabel dan saya sudah menjadi teman dalam beberapa minggu berikutnya dan saya menemuinya sekali atau dua kali seminggu selama 3 tahun berikutnya. Ucapan pertamanya pada saya biasanya berupa tawaran permen dari kotak tisu di meja sebelah tempat tidurnya. Kadang-kadang saya membacakannya Alkitab dan sering ketika saya berhenti, ia meneruskan ayat itu, berdasarkan hafalan, kata demi kata. Hari-hari lainnya saya membawakan buku nyanyian rohani dan menyanyi bersamanya, dan ia hapal setiap kata-kata lagu-lagu lama. Bagi Mabel, ini bukan hanya latihan pikiran. Ia sering berhenti di tengah nyanyian dan memberikan komentar pendek tentang lirik yang ia anggap sangat relevan dengan situasinya sendiri. Saya belum pernah mendengarnya bicara tentang kesepian dan kesakitan, kecuali kalau ia menekankan kalimat tertentu pada lagu tertentu. Tidak sampai beberapa minggu, perasaan saya sudah berubah dan rasa memberi bantuan berubah menjadi kekaguman, dan saya mendatanginya dengan membawa pulpen dan kertas untuk mencatat apa yang ia katakan.
Pada suatu minggu yang sibuk menjelang ujian akhir, saya frustasi karena pikiran saya rasanya melayang ke 10 arah berbeda sekaligus. Begitu banyak yang harus saya pikirkan. Sebuah pertanyaan muncul di kepala saya, “Apa yang dipikirkan Mabel jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, bahkan tanpa mengetahui apakah itu siang atau malam?” Jadi, saya mendatanginya dan bertanya, “Mabel, apa yang kau pikirkan ketika kau berbaring di sini?” Ia berkata, “Saya berpikir tentang Yesusku”. Saya duduk dsana dan tertegun. Betapa sulitnya bagi saya untuk berpikir tentang Yesus bahkan selama 5 menit saja. Saya bertanya lagi,”Apa yang kamu pikirkan tentang Yesus?” Ia menjawab perlahan dan penuh tekanan,”Saya berpikir tentang betapa baiknya Ia kepada saya. Ia sangat baik kepada saya dalam hidup saya. Saya adalah salah satu orang yang puas. Banyak orang tidak peduli dengan apa yang saya pikirkan dak menganggap saya kuno. Tetapi saya tidak peduli. Saya lebih suka memiliki Yesus. Dunia saya adalah Yesus.” Lalu Mabel mulai menyanyikan lagu rohani lama:
Jesus is all the world to me,
My life, my joy, my all.
He is my strength from day to day,
Without Him I would fall.
When I am sad, to Him I go,
No other one can cheer me so.
When I am sad He makes me glad.
He’s my friend.
Diterjemahkan dari The Life you’ve always wanted oleh John Ortberg - The Morphing of Mabel.
Cerita ini bukanlah cerita fiksi yang dibuat-buat, atau sekedar isapan jempol, walaupun kadang sulit dipercaya masih ada orang-orang seperti Mabel, sehingga kejadian ini adalah hal yang menakjubkan sekali. Bagaimana dia bisa melakukannya? Detik demi detik, menit demi menit merayap, begitu juga hari, minggu, bulan dan tahun dalam penderitaan dan kesakitan tanpa ditemani dan tanpa ada penjelasan mengapa hal ini diijinkan Allah terjadi dalam kehidupannya. Bagaimana dia bisa menempuhnya? Bayangkanlah jika Anda berada di posisi Mabel dan berkata “Saya berpikir tentang baiknya Tuhan kepada saya. Tuhan sangat baik kepada saya dalam hidup saya. Saya adalah salah satu orang yang puas” Masih berpikir kalau hidup kita terlalu menderita untuk bisa bersyukur?
0 comments:
Post a Comment