Hanya saja banyak orang berdoa kepada 'tuhan' yang berbeda, pohon, patung dan lain sebagainya, namun kali ini saya akan mempersempit artikel ini mengenai doa bagi orang-orang Kristen saja. Doa menjadi nafas bagi orang Kristen tentunya, apakah doa itu? Doa berarti meminta, menaikkan petisi, seperti kalau internet, ketika kita mengetik alamat website di 'browser' kita maka kita sedang mengirim 'request' ke server untuk menampilkan apa yang kita mau. Nah, kalau servernya memang tidak mau mengembalikan responsnya maka sampai berapapun kita mencoba, kita tidak akan berhasil.
Saya tertarik di dalam Yohanes 15:7-8, Tuhan berkata Jikalah kita tinggal di dalam Kristus dan Firman tinggal di dalam kita, maka mintalah apa saja yang kita mau maka kita akan menerimanya, selama nama Bapa dipermuliakan, namun apa yang kita minta, belum tentu kita akan menerima yang kita minta, ayat ini menjelaskan bahwa kita akan menerimanya, kalau kita meminta batu dan ular, sudah tentu Allah tidak akan mengabulkan hal tersebut, karena Dia senantiasa memberikan yang terbaik buat kita, hanya saja kita yang tidak pernah mengerti jalan pikiran Allah, bahkan banyak hal yang memang Dia mau tetap sembunyikan buat hidup kita supaya kita diajar senantiasa beriman kepada Dia.
Saya tertarik dengan buku dari Yohan Candawasa yang berjudul "Menapaki Hari bersama Allah" -- di dalam salah satu babnya, beliau membahas mengenai "Anda meminta Allah memberi" demikian beberapa kutipan dari beliau.
Matius 7:7 "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
Matius 7:8 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.
Matius 7:9 Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti,
Matius 7:10 atau memberi ular, jika ia meminta ikan?
Matius 7:11 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."
Apakah itu berarti setiap permintaan kita pasti dikabulkan ? Banyak orang berpikir betapa senangnya memiliki Allah yang selalu menjawab "Ya" atas apa saja yang kita minta.
Apa yang Tuhan Yesus mau ajarkan ? Perhatikan bahwa di ayat 11 dua kali muncul frasa "pemberian yang baik". Yesus memberi contoh konkrit, dengan anak yang meminta roti, demikian juga ikan. Maka sudah tentu Bapa akan memberikannya. Persoalan menjadi lain ketika anak itu meminta batu atau ular berbisa untuk di makannya. Hanya Bapa yang tidak waras saja yang mengabulkan permintaan tersebut, Yang menjadi persoalan terbesar adalah "baik" menurut pemohon tidaklah selalu selaras dengan pemberi. Dengan mengikuti gambaran yang Tuhan Yesus gunakan, kita dapat membagi hubungan orang tua anak menjadi 5 jenis:
1. Anak meminta roti - orang tua memberinya roti
Anak meminta ikan - orang tua memberinya ikan
Anak meminta batu - orang tua memberinya batu
Anak meminta ular - orang tua memberinya ular
2. Anak meminta roti - orang tua memberinya batu
Anak meminta ikan - orang tua memberinya ular
Anak meminta batu - orang tua memberinya batu
Anak meminta ular - orang tua memberinya ular
3. Anak meminta roti - orang tua memberinya batu
Anak meminta ikan - orang tua memberinya ular
Anak meminta batu - orang tua memberinya roti
Anak meminta ular - orang tua memberinya ikan
4. Anak meminta roti - orang tua memberinya roti
Anak meminta ikan - orang tua memberinya ikan
Anak meminta batu - orang tua memberinya roti
Anak meminta ular - orang tua memberinya ikan
Jenis ke 5 nanti dulu.
Jenis 1 = orang tua permisif. Anak jadi majikan, orang tua sebagai pelayan. Apa saja permintaan anak tak pernah ditolaknya. Ketika anak minta sekolah dikabulkan, ketika minta bolos juga dikabulkan. Ketika anak minta Fatigon dikabulkan, begitu juga ketika anak minta Baygon. Orang tua seperti ini merusak anaknya
Jenis 2 = orang tua yang sangat jahat, dalam perbendaharaannya cuma menyimpan segala yang buruk. Tidak peduli apapun yang diminta anaknya, ia hanya memberi yang jahat pada anaknya.
Jenis 3 = orang tua yang membingungkan, norma baik buruk tak jelas, semua diputar balik. Yang baik jadi jahat, yang jahat jadi baik. Anak kelak tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk
Jenis 4 = orangtua yang selalu hanya memberi yang baik kepada anaknya. Jika permintaan anaknya baik, dengan sukacita ia memberikannya. Saat permintaan anak buruk, tidak baik bagi si anak, ia tetap memberikan yang baik sekalipun si anak tidak merasa itu baik baginya. Orangtua dianggapnya sebagai orangtua yang hanya memaksakan kehendaknya sendiri.
Dari sudut pandang anak, orangtua mana yang paling baik? Nomor 1. Anak seringkali mengatakan bahwa orangtuanya "jahat" karena tidak memberikan apa yang dimintanya. Bagi orangtua, yang baik adalah Nomor 4. Mengapa penilaian kiat bertolak belakang:
1. SENANG VS BAIK (MANFAAT)
2. SEKARANG (INSTAN) VS NANTI (AKIBATJANGKA PANJANG)
Ketika anak saya terjangkit demam berdarah, ia harus menjalani pemeriksaan darah berkali-kali. Setiap kali ia meronta minta pulang, saya tidak pernah mengabulkannya. Sebaliknya saya memegangnya erat-erat dan membiarkannya ditusuk jarum suntik. Ia tentu merasa saya kejam; memberinya batu dan ular. Tetapi seandainya saya mengikuti permintaannya yang menurutnya adalah roti dan ikan, maka anak saya sudah lama mati. Hanya dengan melihat dari perspektif saya, ia baru dapat melihat bahwa sesungguhnya roti dan ikan terbaiklah yang saya berikan kepadanya. Sebaliknya permintaan dan pilihannyalah yang merupakan batu dan ular
Hanya dengan menerima perspektif Allah, kita akansetuju mengatakan "itu batu", jika Allah mengatakan "Itu batu" dan "Itu roti" jika Allah mengatakan "Itu roti"
Bukankah ini yang Kristus tunjukkan kepada kita melalui kehidupanNya ? Ketika di padang gurun, iblis menawarkan seluruh hormat dan kekayaan dunia, Kristus menolaknya, karena jelas itu adalah batu dan ular. Sebaliknya di Getsemani, saat Allah menawarkanNya salib yang mengerikan, Ia menerimanya dengan taat. Kristus memandang salib sebagai pilihan terbaik dari BapaNya
Sekarang kita membahas orang tua jenis kelima:
5. Anak meminta roti - orang tua memberinya roti
Anak meminta ikan - orang tua memberinya ikan
Anak meminta batu - orang tua memberinya batu
Anak meminta ular - orang tua memberinya ular
Apa bedanya dengan orangtua permisif di nomor satu ? Bedanya semua ini dilakukan untuk mengajar anaknya agar setuju dengan kriteria orangtuanya. Apa maksudnya ? Contohnya adalah Hizkia
Ketika Hizkia sakit keras, Tuhan memandang adalah baik jika saat itu ia pulang untk tinggal bersama Allah. Saat itu Hizkia sedang berada di puncak kariernya. saleh, jaya, dikasihi rakyat, serta menjadi raja yang baik. Itulah roti dan ikan yang Tuhan sediakan bagi Hizkia.
Hizkia sendiri tidak setuju. Baginya, jika Tuhan berbuat demikian berarti memberinya ular dan batu. "Masa orang sakit tidak disembuhkan ? Jahat betul ! Lagi pula, mengapa pada saat aku sedang berada di puncak kehidupanku malah dipanggil pulang ? Kejam seakli!" Bagi Hizkia: sehat, panjang umur, terus dipuncak kariernya di dunia inilah yang baik, Maka itulah yang dimintanya dari Tuhan. Luar biasa, Tuhan mengabulkannya, Sebenarnya Hizkia itu minta roti dan ikan atau batu dan ular ? Jelas batu dan ular, karena pada saat perpanjangan usia dan kembali hidup sehat itulah segala musibah kehancuran bagi Israel terjadi. Seandainya Hizkia menuruti Allah, betapa baiknya dan harumnya ia dikenang, Persoalannya, jika permintaan Hizkia adalah batu dan ular, mengapa Tuhan mengabulkannya ? Hanya dengan cara itu, Tuhan mengajar dan membuktikan kepada Hizkia bahwa pilihanNyalah yang benar.
Matius 7:8 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.
Matius 7:9 Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti,
Matius 7:10 atau memberi ular, jika ia meminta ikan?
Matius 7:11 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."
Apakah itu berarti setiap permintaan kita pasti dikabulkan ? Banyak orang berpikir betapa senangnya memiliki Allah yang selalu menjawab "Ya" atas apa saja yang kita minta.
Apa yang Tuhan Yesus mau ajarkan ? Perhatikan bahwa di ayat 11 dua kali muncul frasa "pemberian yang baik". Yesus memberi contoh konkrit, dengan anak yang meminta roti, demikian juga ikan. Maka sudah tentu Bapa akan memberikannya. Persoalan menjadi lain ketika anak itu meminta batu atau ular berbisa untuk di makannya. Hanya Bapa yang tidak waras saja yang mengabulkan permintaan tersebut, Yang menjadi persoalan terbesar adalah "baik" menurut pemohon tidaklah selalu selaras dengan pemberi. Dengan mengikuti gambaran yang Tuhan Yesus gunakan, kita dapat membagi hubungan orang tua anak menjadi 5 jenis:
1. Anak meminta roti - orang tua memberinya roti
Anak meminta ikan - orang tua memberinya ikan
Anak meminta batu - orang tua memberinya batu
Anak meminta ular - orang tua memberinya ular
2. Anak meminta roti - orang tua memberinya batu
Anak meminta ikan - orang tua memberinya ular
Anak meminta batu - orang tua memberinya batu
Anak meminta ular - orang tua memberinya ular
3. Anak meminta roti - orang tua memberinya batu
Anak meminta ikan - orang tua memberinya ular
Anak meminta batu - orang tua memberinya roti
Anak meminta ular - orang tua memberinya ikan
4. Anak meminta roti - orang tua memberinya roti
Anak meminta ikan - orang tua memberinya ikan
Anak meminta batu - orang tua memberinya roti
Anak meminta ular - orang tua memberinya ikan
Jenis ke 5 nanti dulu.
Jenis 1 = orang tua permisif. Anak jadi majikan, orang tua sebagai pelayan. Apa saja permintaan anak tak pernah ditolaknya. Ketika anak minta sekolah dikabulkan, ketika minta bolos juga dikabulkan. Ketika anak minta Fatigon dikabulkan, begitu juga ketika anak minta Baygon. Orang tua seperti ini merusak anaknya
Jenis 2 = orang tua yang sangat jahat, dalam perbendaharaannya cuma menyimpan segala yang buruk. Tidak peduli apapun yang diminta anaknya, ia hanya memberi yang jahat pada anaknya.
Jenis 3 = orang tua yang membingungkan, norma baik buruk tak jelas, semua diputar balik. Yang baik jadi jahat, yang jahat jadi baik. Anak kelak tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk
Jenis 4 = orangtua yang selalu hanya memberi yang baik kepada anaknya. Jika permintaan anaknya baik, dengan sukacita ia memberikannya. Saat permintaan anak buruk, tidak baik bagi si anak, ia tetap memberikan yang baik sekalipun si anak tidak merasa itu baik baginya. Orangtua dianggapnya sebagai orangtua yang hanya memaksakan kehendaknya sendiri.
Dari sudut pandang anak, orangtua mana yang paling baik? Nomor 1. Anak seringkali mengatakan bahwa orangtuanya "jahat" karena tidak memberikan apa yang dimintanya. Bagi orangtua, yang baik adalah Nomor 4. Mengapa penilaian kiat bertolak belakang:
1. SENANG VS BAIK (MANFAAT)
2. SEKARANG (INSTAN) VS NANTI (AKIBATJANGKA PANJANG)
Ketika anak saya terjangkit demam berdarah, ia harus menjalani pemeriksaan darah berkali-kali. Setiap kali ia meronta minta pulang, saya tidak pernah mengabulkannya. Sebaliknya saya memegangnya erat-erat dan membiarkannya ditusuk jarum suntik. Ia tentu merasa saya kejam; memberinya batu dan ular. Tetapi seandainya saya mengikuti permintaannya yang menurutnya adalah roti dan ikan, maka anak saya sudah lama mati. Hanya dengan melihat dari perspektif saya, ia baru dapat melihat bahwa sesungguhnya roti dan ikan terbaiklah yang saya berikan kepadanya. Sebaliknya permintaan dan pilihannyalah yang merupakan batu dan ular
Hanya dengan menerima perspektif Allah, kita akansetuju mengatakan "itu batu", jika Allah mengatakan "Itu batu" dan "Itu roti" jika Allah mengatakan "Itu roti"
Bukankah ini yang Kristus tunjukkan kepada kita melalui kehidupanNya ? Ketika di padang gurun, iblis menawarkan seluruh hormat dan kekayaan dunia, Kristus menolaknya, karena jelas itu adalah batu dan ular. Sebaliknya di Getsemani, saat Allah menawarkanNya salib yang mengerikan, Ia menerimanya dengan taat. Kristus memandang salib sebagai pilihan terbaik dari BapaNya
Sekarang kita membahas orang tua jenis kelima:
5. Anak meminta roti - orang tua memberinya roti
Anak meminta ikan - orang tua memberinya ikan
Anak meminta batu - orang tua memberinya batu
Anak meminta ular - orang tua memberinya ular
Apa bedanya dengan orangtua permisif di nomor satu ? Bedanya semua ini dilakukan untuk mengajar anaknya agar setuju dengan kriteria orangtuanya. Apa maksudnya ? Contohnya adalah Hizkia
Ketika Hizkia sakit keras, Tuhan memandang adalah baik jika saat itu ia pulang untk tinggal bersama Allah. Saat itu Hizkia sedang berada di puncak kariernya. saleh, jaya, dikasihi rakyat, serta menjadi raja yang baik. Itulah roti dan ikan yang Tuhan sediakan bagi Hizkia.
Hizkia sendiri tidak setuju. Baginya, jika Tuhan berbuat demikian berarti memberinya ular dan batu. "Masa orang sakit tidak disembuhkan ? Jahat betul ! Lagi pula, mengapa pada saat aku sedang berada di puncak kehidupanku malah dipanggil pulang ? Kejam seakli!" Bagi Hizkia: sehat, panjang umur, terus dipuncak kariernya di dunia inilah yang baik, Maka itulah yang dimintanya dari Tuhan. Luar biasa, Tuhan mengabulkannya, Sebenarnya Hizkia itu minta roti dan ikan atau batu dan ular ? Jelas batu dan ular, karena pada saat perpanjangan usia dan kembali hidup sehat itulah segala musibah kehancuran bagi Israel terjadi. Seandainya Hizkia menuruti Allah, betapa baiknya dan harumnya ia dikenang, Persoalannya, jika permintaan Hizkia adalah batu dan ular, mengapa Tuhan mengabulkannya ? Hanya dengan cara itu, Tuhan mengajar dan membuktikan kepada Hizkia bahwa pilihanNyalah yang benar.
Jadi ketika Allah tidak menjawab doa kita, itu bukanlah karena Dia Allah yang bisu dan tuli, atau karena kita kurang keras berdoa atau kurang menangis, kurang memohon dan lain sebagainya. Allah seolah-olah tidak menjawab doa kita hanya karena kita tidak dapat melihat apa yang mau Allah kerjakan di dalam hidup kita untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang dikasihiNya, bukan hanya bagi hidup kita tapi bagi hidup orang lain juga, kebaikan bagi keluarga kita, bagi teman-teman kita.
Doa adalah menyelaraskan apa yang kita mau dengan apa yang Tuhan mau, dengan berdoa kita mengerti bahwa Allah, adalah Allah yang berdaulat yang tidak dapat dirubah karena doa kita, perubahan hanya terjadi atas kita yang akhirnya dapat melihat bahwa apa yang kita minta berjalan selaras dengan apa yang Tuhan mau di dalam kehidupan kita. Bahkan walaupun kita tidak dapat melihat semua hal itu kita harus percaya bahwa Allah sedang mempersiapkan rencana yang indah bukan hanya bagi hidup kita, tapi bagi hidup orang-orang di dekat kita, dan bagi orang-orang pilihanNya.
Doa tidak akan pernah mengubah rencana Allah dalam hidup kita. Sangat salah kalau kita beranggapan kalau dengan doa kita maka Allah dapat merubah rencanaNya. Ini akan membuktikan bahwa Allah, bukanlah Allah yang berdaulat yang masih tergantung kepada usaha manusia, bahwa rencana Allah bergantung kepada doa kita dan kuasa Dia. Kelihatan sekilas benar, namun tidak -- sebab Dia adalah Allah yang berdaulat.
Berdoalah senantiasa, supaya kita dapat belajar senantiasa melihat betapa baiknya Allah dalam kehidupan kita menurut rencana Dia, walaupun kita tidak bisa melihat betapa baiknya Allah, baiklah kita tetap beriman dan berdoa, karena kita yakin Dia tidak akan memberikan batu dan ular kepada kita.
0 comments:
Post a Comment