Recent Posts

02 August, 2009

Nubuat atau Lubuat

Bukankah seringkali kita mendengar hamba Tuhan yang sedemikian gampangnya mengatakan "Saya mendengar suara Tuhan", "Tuhan berbicara kepada saya", "Tuhan bernubuat begini, begino, begitu untuk hidup kamu" dan yang lain sebagainya. Apakah sebenarnya ini nubuatan? Atau hanya dibuat-buat belaka berdasarkan dorongan emosi dari hati nurani.

Namun tidak sedikit, orang lebih percaya kepada nubuatan-nubuatan yang dikeluarkan oleh hamba-hamba seperti ini, mereka lebih senang mendengar nubuatan mengenai dirinya -- jadilah timbul 'self centre', selalu berpusat kepada diri sendiri. Mereka senantiasa mengejar nubuatan untuk hidup mereka, untuk pekerjaan mereka, untuk study mereka, inilah yang dinamakan EGOISME, manusia mulai melegalkan segala cara untuk memenuhi sifat dosanya yaitu keinginan untuk memuaskan diri sendiri yaitu untuk menjadi sama seperti Allah yang hendak mengontrol bagaimana seharusnya hidup kita ini diberkati, Tuhan akhirnya dipaksa, dan timbulah pandangan bahwa keputusan Allah adalah tergantung kepada manusia? Apakah benar? TIDAK, Allah masih berdaulat, segala rencanaNya di dalam dunia ini tidak ada yang bergantung kepada manusia.

Untuk memenuhi egosime kita maka manusia tidak segan-segan; secara langsung ataupun tidak langsung menjadikan Tuhan pun dijadikan topeng hanya untuk kelihatan sepertinya yang kita lakukan untuk Tuhan, tapi selidik demi selidik, yang kita lakukan hanyalah untuk diri kita sendiri.

Orang-orang akhirnya mendewakan hamba-hamba Tuhan yang memiliki karunia 'nubuat', seolah-olah mereka lebih rohani dan lebih dekat kepada Tuhan, untuk itu kita akhirnya bersandar dan melihat bahwa : Hamba Tuhan A lebih mantap dari hamba Tuhan B, karena urapannya lebih luar biasa, Hamba Tuhan C lebih mantap dari B karena mujizatnya ada, TIDAK, maukah kita membangun pondasi iman Kristen kita hanya karena mujizat, karena urapan, karena kuasa, karena nubuat, ini ibarat membangun rumah di atas pasir. Seharusnyalah kita harus membangun imad Kristen kita di atas kebenaran Firman Tuhan yang hakiki.

Hamba-hamba Tuhan yang besar, yang seolah-olah dekat dengan Tuhan, yang seolah-olah intim dan akrab dengan Tuhan menjadi malas belajar Firman Tuhan yang benar, teologia yang murni, walaupun ketika mereka membaca Firman Tuhan, yang dicari adalah ayat-ayat yang cocok dengan mereka, dengan pelayanan mereka, dengan kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan -- comot sana comot sini akhirnya membentuk satu aliran yang baru.

Nubuatan-nubuatan akhirnya menjadi seperti ramalan nasib, yang mengatakan "hidupmu akan diberkati, hidupmu akan bahagia, kita akan hidup makmur tidak berkekurangan, bahkan berkelimpahan" ini adalah penyembahan berhala, kalau kita ikut Tuhan hanya karena mau kaya, apakah kalau kita ikut Tuhan kita harus menjadi kaya? Secara pribadi saya tidak setuju beberapa hamba Tuhan yang senantiasa mengajarkan teologia kemakmuran, yang ada hanyalah menjadi satu aliran yang menyesatkan dan tidak membawa manusia kembali kepada Penciptanya, tidak sadar akan dosanya, tidak sadar akan kemurkaan Allah, seolah-olah Allah adalah Allah pengasih saja, dan tidak mengindahkan kemurkaan Allah, serta sulit melihat kemuliaan Tuhan yang sejati melalui FirmanNya, yang dilihat hanyalah kemuliaan 'Tuhan' sesuai dengan materi, sesuai dengan berapa banyak yang kita dapatkan dalam hal gaji, seberapa tinggi posisi kita di kantor dan yang lain sebagainya.

Banyak hamba Tuhan akhirnya menjadi paranormal bukan mengajarkan kebenaran Firman Tuhan, jadi apakah bedanya dengan paranormal yang lainnya, saya rasa tidak ada bedanya jadi bisakah kita sebut mereka hamba Tuhan? Jawaban ada di tangan Saudara.

0 comments:

Post a Comment