Menarik sekali hari ini ketika di dalam perjalan menuju ke kantor, ada terjadi perselisihan antara anak-anak remaja perempuan, umur mereka berkisar 10 - 12 tahun, namun mereka tidak tahu sopan santun di gerbong tersebut sehingga membuat beberapa orang di gerbong tersebut menjadi emosi, dan terjadilah pertengkaran dengan mulut, anehnya orang-orang yang meladeni adalah orang-orang yang sudah cukup umur yang sebenarnya lebih bisa mudah mengendalikan emosi terutama dalam berkata-kata, namun kenyataannya tidak. Sehingga banyak sekali yang terpancing untuk emosi oleh karena kata-kata kasar yang keluar dari anak-anak remaja tersebut.
Bahkan ada orang tua yang menghakimi dengan berkata "Lihat saja, 10 tahun lagi kalian akan menjadi wanita tuna susila yang junky", hal ini semakin membuat anak-anak remaja tersebut berteriak keras-keras di gerbong itu, seolah-olah hanya milik mereka. Sedangkan orang tua tersebut sepertinya lega dengan mengatakan seperti itu.
Kerap kali emosi kita dikendalikan oleh orang lain, berapa kali kita marah bukan karena kita mau marah, tapi akhirnya kita menyerahkan 'remote control' kepada mereka untuk membuat kita marah dan emosi. Memang sangat sulit sekali khususnya kalau berkenaan dengan masalah harga diri, seolah-olah kita lebih berharga dari orang lain jadi ketika orang lain menilai kita lebih rendah maka kita akan mati-matian membela harga diri kita, yang sebenarnya kalau mau ditelaah lebih lanjut kita ini tidak punya harga diri, karena semua orang telah kehilangan kemuliaan Allah dan telah jatuh di dalam dosa. Ketika kita sudah diselamatkanpun tidak seharusnya kita bangga lebih daripada orang lain.
Kesenjangan sosial dan ekonomi membuat batasan orang menjadi diri lebih dari orang lain semakin besar, kita mulai bisa membandingkan apa yang kita capai semata-mata karena kerja keras kita dan kita 'berhak' untuk segala sesuatu itu dibandingkan oleh orang yang malas-malasan. Dengan kejahatan meningkat maka kita lebih bisa membandingkan bahwa ternyata masih ada yang lebih jahat dari kita, sehingga membuat kita senantiasa membenarkan diri. Inilah yang terjadi di dalam dunia ini, semakin sulit rasanya manusia menyadari dosa-dosanya, sulit menyadari bahwa tidak ada perbuatan baik yang dapat dilakukan untuk menjadi benar di hadapan Allah, untuk itu lebih gampang orang-orang jahat bertobat dibanding orang-orang 'baik'.
Dilihat dari kejadian di atas, seolah-olah yang benar menurut hukum adalah orang tua tersebut, namun di hadapan Allah, mereka sama adanya -- manusia yang selalu penuh kekurangan yang emosinya dapat meluap kapanpun dan di manapun tanpa ada rencana yang dirancangkan, karena manusia pada dasarnya adalah jahat.
Biarlah kita senantiasa berusaha memberikan kendali kehidupan kita kepada Tuhan, karena kita menyadari ketika kita memegang kendali kehidupan ini maka selalu cenderung kepada kejahatan belaka. Dan janganlah memberikan 'remote control' emosi kita kepada orang lain, ketika orang lain menyakiti hati kita, atau melukai perasaan kita baiklah kita senantiasa belajar dari Kristus untuk tidak menganti mata dengan mata, gigi dengan gigi.
Recent Posts
0 comments:
Post a Comment