Recent Posts

20 September, 2009

Nilai manusia di hadapan Allah

Nilai adalah satu penghargaan, ketika kita sekolah kita sudah mengalami namanya sistem penilaian masing-masing sekolah, entah itu dari 1 - 10 atau sistem F sampai A, semuanya ada nilainya, dari ujian-ujian kita, kita akan dihargai sesuai dengan kerja keras belajar kita yang akan dibuktikan melalui ujian yang kita lakukan dan akhirnya nilai yang akan kita terima pada akhirnya.

Semenjak dari bangku sekolah manusia sudah diajar bahwa semua orang tidak sama, ada orang yang pintar, ada orang yang kurang pintar, sehingga terbentuklah satu komunitas di mana pemisahan orang-orang pintar dengan orang-orang yang kurang pintar, atau orang-orang yang bawel dengan orang yang bawel, demikian sebaliknya orang pendiam dengan orang pendiam, komunitas tersebut terbentuk karena mereka merasa bahwa mereka memiliki nilai yang sama dengan orang lain di dalam komunitas tersebut.

Setelah masuk ke dunia kerja, manusia diperhadapkan bahwa ketika kita bekerja keras maka kita akan dihargai bos, gaji kita akan naik, kita akan menghasilkan lebih, sehingga itu juga menjadi nilai atas harga diri. Kita berlomba-lomba untuk meningkatkan nilai di dalam kehidupan kita, entah itu kehidupan ekonomi, sosial, dan seluruh aspek kehidupan yang lainnya sehingga mau tidak mau kita akan terjerat dengan keinginan kita meningkatkan nilai tersebut.

Manusia pun akhirnya menilai diri sendiri dan menilai diri orang lain berdasarkan apa yang mereka punya, entah pekerjaan mereka, keluarga, anak-anak mereka, pelayanan mereka, harta mereka dan yang lain sebagainya. Contohnya,

A: "Eh lu kerja di mana?" ...

B: "Oh gue kerja di Top 5 company, kalau elu?"

A: "Gue bukan kerja di Top 5 sih, gue kerja di Top 3"

B: "Terus rumah lu di mana sekarang"

A: "Rumah gue di daerah tempat orang-orang kaya, soalnya kan gue kerja di Top 3"

B: "Itu rumah apa unit" (meragukan pernyataan si A)

A: "Jelas rumah donk, kan gue kerja di Top 3, jadi gue mampu dan gue berhak atas rumah tersebut"

B: "Terus kalau ke kantor naik mobil yah apa naik Bus?"

A: "Naik mobil sih?kalau lu sendiri dah punya mobil? Mobilnya mereknya apa? Warnanya apa? Tahun berapa? Terus ada dimodifikasi ngak?"

B: "Oh baru gue beli mobil soalnya Tuhan sudah memberkati gue tahun ini sehingga gue bisa dapet mobil yang bagus dan nyaman, gue pelayanan aktif sih jadi emang akhirnya Tuhan berkatin, elu kapan-kapan boleh kok kalau mau nebeng" (dengan nada yang tidak mau kalah), eh by the way lu tau ngak sekarang Iphone keluarin baru loh, gue pengen beli nih"

A: "Iya yah, keren yah iphone baru, gue juga pengen beli sih, sama mau beliin istri gue yang cantik, jadi kita berdua bisa pegang handphone yang sama"

B: "Gila itu kan mahal bener"

A: "Ngak papa larh, gue kan kerja di Top 3"

Memang percakapan di atas kendengarannya sangat extreme, namun bila tidak dibikin secara extreme pun seringkali kita terjebak dengan bertanya dan ditanya dengan seputar pekerjaan, mobil, rumah, keluarga, anak-anak, dan yang lain sebagainya karena secara sadar atau tidak sadar kita dinilai dan menilai orang lain berdasarkan segala hal tersebut.

Itu berbicara masalah materi, ada juga orang menilai dengan masalah rohani, sehingga merasa dia lebih rohani dan bernilai daripada orang lain, sehingga ini akan menimbulkan kesombongan belaka, sedangkan di satu pihak orang akan merasa tidak lebih rohani dari orang lain. Manusia mulai merasa ketika dia ke gereja, dia pelayanan, dia menolong orang lain, dia akan meningkatkan nilai kerohanian dia, sangat salah sekali kalau kita berpikiran seperti ini, karena akhirnya ketika kita melayani orang dalam keadaan bernilai lebih tinggi kita akan merasa bahwa kita telah meningkatkan nilai kerohanian kita lebih tinggi lagi dengan jalan merendahkan diri dengan melayani orang lain.

Padahal kalau kita mau sadar, kita seharusnya tidak bermegah akan hal tersebut karena, sebenarnya kita hanya menjadi posisi yang di mana seharusnya kita berada, yaitu posisi yang sama dengan orang lain sebagai orang yang berdosa. Demikian sebaliknya ketika kita seolah-olah di bawah, kita senantiasa menilai diri kita lebih rendah dari orang lain sehingga hal tersebut akan membuat kita menjadi orang yang minder dalam hidup.

Yang tinggi akan menanggap dirinya seperti 'tuhan' dan orang lain sebagai 'manusia' atau menganggap dirinya sebagai 'manusia' dan orang lain sebagai 'binatang', sedangkan yang rendah akan menanggap dirinya seperti 'manusia' dan orang yang lebih tinggi seperti 'tuhan' atau menganggap dirinya sebagai 'binatang' dan orang yang lebih tinggi seperti 'manusia'

Baiklah kita kembali merenungkan bahwa nilai manusia di hadapan Allah adalah nol besar, bahkan kalau bisa dibilang sampai negatif nilainya, karena manusia pada dasarnya adalah orang-orang yang patut dimurkai, kita mau lakukan yang baik tapi kenyataannya yang jahatlah yang kita lakukan, kita semua manusia telah mati oleh karena dosa dan kedagingan kita. Namun karena Kristus telah membangkitkan kita dari kematian tersebut, oleh anugerah Allah, tidak seharusnya kita memegahkan diri, karena semua itu bukan hasil usaha kita tapi pemberian Allah.

Jadi bagaimana? Baiklah kita jangan menilai orang lain berdasarkan apa yang mereka punya, apa yang mereka pakai baik dari segi materi maupun rohani demikian sebaliknya jangan menilai diri kita menurut hal-hal tersebut, karena kita harus senantiasa menyadari bahwa ketika orang lain berbuat jahat, sebenarnya kita adalah sama jahatnya, namun saja kita telah bangkit bersama dengan Kristus itupun ketika kita bermegah bukan bermegah karena kita lebih dari orang lain, namun kita bermegah karena anugrah Kristus yang dianugrahkan kepada kita manusia berdosa sehingga itulah yang mendorong kita memberitakan injil Kristus.

Baiklah kita belajar seperti Ayub yang menganggap semua yang yang dia punya tidak bernilai sama sekali, yang bernilai hanyalah kedaulatan Tuhan atas hidupnya, dalam Ayub 1:21

"Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"

0 comments:

Post a Comment