Ibrani 10:32-36
10:32 Ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita oleh karena kamu bertahan dalam perjuangan yang berat,
10:33 baik waktu kamu dijadikan tontonan oleh cercaan dan penderitaan, maupun waktu kamu mengambil bagian dalam penderitaan mereka yang diperlakukan sedemikian.
10:34 Memang kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang hukuman dan ketika harta kamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya.
10:35 Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya.
10:36 Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.
"Tuhan saya mau selamat dan masuk surga, tapi saya juga mau diberkati dengan kekayaan, saya mau dua-duanya Tuhan, kalau cuman satu pilihan saya akan pilih surga tapi kekayaan biar jadi 'option' yang kedua -- waiting list yah Tuhan" -- Pernyataan ini sering kita dengar, namun berapa banyak dari kita berdoa "Tuhan saya mau Engkau! Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, Gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya"
Manusia cenderung egois dan hendak memenuhi kebutuhan dia sendiri bahkan kalau bisa kebutuhan di masa ini terpenuhi dan kebutuhan di masa depan terpenuhi, tanpa ada rasa gentar bahwa hanya Tuhanlah yang seharusnya menjadi pusat dalam hidupnya bukan dia sendiri. Manusia pun mulai memaksakan kehendaknya, seolah-olah hal itu menjadi kehendak Allah, tapi kalau kita telaah lebih jauh lagi ternyata hal tersebut hanyalah untuk kepuasan diri semata hanya dilegalisasikan dengan topeng kerohanian.
Kalau bisa kita dapatkan segala janji-janji Tuhan yang enak, kalau perintah Tuhan yang tidak enak dan tidak akan menghasilkan berkat bagi diri sendiri lebih baik dihindarkan, atau dengan mengatakan "wah itu mah bukan buat saya, itu buat orang lain" manusia akhirnya hanya memilih apa yang menurut dia relevan untuk kepuasan hidupnya, dengan presuposisi seperti ini maka kebenaran Firman Tuhan tidak akan pernah terungkap secara nyata di dalam hidup manusia, karena sudah ada presuposisi yang salah mengenai Allah dan manusia, sehingga Firman Tuhan hanyalah sebatas ayat-ayat yang dipergunakan untuk mendukung presuposisi manusia yang sudah salah.
Saya tertarik dalam surat Ibrani, ayatnya yang ke 32-36, membicarakan tentang penderitaan bersama Kristus, bahkan ketika harta mereka dirampas mereka bahkan bersukacita, kalau dilihat dari kacamata dunia "gila sekali" tapi karena mereka tahu bahwa ada harta yang lebih menetap sifatnya yaitu hidup bersama dengan Allah setelah kematian, itulah yang memampukan mereka mengganggap semua harta yang mereka punya hanyalah sesuatu yang dipercayakan Tuhan untuk dipertanggungjawabkan tidak lebih, dan tidak seharusnya menjadi harta yang melebihi harta surgawi yang akan kita terima satu hari nanti.
Harta di dunia, tidak menjadi 'tuhan' bagi hidup mereka, karena mereka tahu bahwa hanya Tuhanlah yang berdaulat atas hidup mereka bukan harta tersebut, namun berapa banyak dari kita mau Tuhan dan mau harta, seolah-olah kalau bisa tidak ada kerugian di dalam hidup kita, kalau bisa minta, yah minta dua-duanya, siapa tahu Tuhan kasih, kan ngak ada salahnya. Jadi apakah motivasi kita mengikut Tuhan hanya karena ada kemungkinan Tuhan akan memberikan kita harta di surga dan harta di dunia, kan Tuhan baik pasti Dia akan memberikan buat kita -- kalau kita melakukan kehendak Allah pasti Dia akan memberikan apa yang dijanjikan itu, tanpa menyadari bahwa yang dijanjikan itu bukanlah berkat kekayaan namun yang dijanjikan adalah hidup bersama Allah di satu hari.
Biarlah kita senantiasa menikmati Allah di dalam segala keberadaan kita, baik dalam keadaan miskin maupun dalam keadaan kaya, dalam keadaan kaya pun bukanlah sesuatu yang harus dibanggakan, namun dengan keyakinan ketika Tuhan mempercayakan kepada kita harta dunia -- Dia hanya mau kita memberikan lebih dan mempergunakan lebih banyak untuk menolong orang yang kekurangan dan pekerjaan Tuhan.
Jadi janganlah kita melakukan kehendak Allah hanya karena mau apa yang kita pikir Tuhan janjikan, yaitu berkat...berkat dan berkat...akhirnya berkatlah yang menjadi 'tuhan' atas hidup kita bukan Tuhan. Marilah kita sama-sama bertekun dalam mencari dan melakukan kehendak Tuhan supaya kita terus dipelihara dalam iman kita kepada Kristus sampai bertemu dengan Tuhan dan hidup bersama Tuhan -- itulah yang dijanjikan.
Recent Posts
Showing posts with label kebenaran. Show all posts
Showing posts with label kebenaran. Show all posts
20 October, 2009
16 October, 2009
Tidak perlu memberikan 'kemuliaan' bagi Tuhan!
Posted by
Anton Triyanto
Yah seharusnya kita tidak perlu memberikan 'kemuliaan' bagi Tuhan! Tunggu tunggu, jangan marah dulu biarkan saya menjelaskan maksud saya. Untuk itulah kemuliaan saya tulis dengan ada tanda kutipnya karena seringkali kita mendengar kata-kata seperti ini: "Mari beri kemuliaan bagi Tuhan!" lalu secara serentak orang-orang bertepuk tangan. Apakah ini salah? Salah tidak salah bukan urusan saya, tapi biarlah kita lebih tajam dan kritis dalam hal ini.
Apakah Tuhan kekurangan kemuliaan sehingga kita perlu memberikan sesuatu kemuliaan untuk Dia supaya Dia lebih dimuliakan lagi? Lalu muncullah kalimat seperti ini juga: "Mari kita muliakan supaya Dia lebih ditinggikan lagi", nah kembali apakah Dia kurang tinggi sehingga kita harus meninggikan Dia? Torehan ini bukan bermaksud untuk menghentikan Anda meninggikan dan memuliakan Dia dalam hidup Anda. Namun yang saya maksud adalah kerancuan akan timbul ketika kita tepuk tangan dan menganggap itu sama dengan memuliakan Tuhan.
Jadi kalau tidak tepuk tangan tentu aneh, yang lain tepuk tangan kok saya tidak, yah daripada bengong sendiri mendingan tepuk tangan juga, jadi tepuk tangan seperti ini sudah jelas palsu dan hanya dibuat-buat karena tertular, atau merasa tidak enak di sekelilingnya. Kalau musiknya bagus, juga akhirnya lebih bisa tepuk tangan lebih keras lagi seolah-olah memberikan ‘kemuliaan bagi Tuhan’ jadi kemuliaan Tuhan akhirnya diukur dari tepuk tangan kita yang keras, dari musik kita yang bagus. Apakah benar?
Loh orang dunia kan juga tepuk tangan kalau lagi konser, masa orang dunia bisa tepuk tangan kita ngak boleh tepuk tangan buat Tuhan, justru harusnya tepuk tangan lebih keras lagi, supaya lebih beda dengan orang dunia, kita kan seharusnya lebih dari orang dunia. Apakah benar pernyataan seperti ini? Tepuk tangan, adalah simbol dari appresiasi kita, dalam hal menghormati orang lain ketika seseorang mengadakan pertunjukan kita tepuk tangan untuk memberikan nilai, kalau pertunjukan bagus tepuk tangan lebih ramai (walaupun orang Timur kurang bisa seperti ini), sedangkan kalau pertunjukan jelek, yah tepuk tangan seadanya aja lah, toh juga pertunjukannya tidak terlalu memukau, dengan konsep seperti ini arti tepuk tangan hanya menjadi pemberian hormat dan nilai kepada orang yang mengadakan pertunjukan.
Jadi tentu orang yang mengadakan pertunjukan tersebut juga terpengaruh dengan tepuk tangan penonton kalau tepuk tangannya ramai, dia pasti merasa nilai dia bertambah, rasa percaya diri semakin ada, sedangkan kalau tepuk tangan sedikit, dia pasti merasa kurang percaya diri, dan merasa berkurang nilainya. Nah apakah hal ini dapat diterapkan dalam hubungan kita dengan Tuhan, kalau kita tepuk tangan hanya karena, kita merasa bahwa Tuhan akan lebih ditinggikan dan lebih dihormati dan lebih diberi nilai, ini jelas harus perhatikan secara kritis.
Memberikan kemuliaan bagi Tuhan dengan memuliakan Tuhan sangat berbeda sekali tentunya, karena dari dalam kita tidak ada kemuliaan yang dapat kita kembalikan kepada Tuhan karena manusia adalah orang yang berdosa seutuhnya di dalam manusia tidak ada yang benar dan tidak ada yang mulia yang dapat kita berikan kepada Tuhan dengan tujuan menambah nilai Tuhan, karena Tuhan tidak pernah berkekurangan dalam segala hal. Ketika kita diubahkan semakin hari semakin serupa gambar Tuhan, maka kemuliaan yang terpancar dalam hidup kita adalah pemberian Tuhan semata-mata bukan milik kita, sehingga tidak sepatutnya kita membanggakan diri bahwa kita lebih mulia dari orang lain, karena kalau memang kemuliaan Allah benar-benar tinggal dalam hidup kita maka perlakuan untuk merendahkan orang lain tentu tidak terdapat dalam kemuliaan tersebut, sehingga kalaupun terjadi maka kemuliaan itu wajib dipertanyakan apakah benar kemuliaan Tuhan atau ‘kemuliaan’ Tuhan.
Memuliakan Tuhan artinya bahwa sudah selayaknya kita diciptakan untuk memuliakan Dia, posisi kita sebagai manusia adalah untuk memuliakan Dia, bukan karena Dia kurang kemuliaan. Semakin lama kita semakin mengenal Tuhan, semakin dalamlah kita akan mengenal siapakah diri kita sebenarnya, sehingga dengan jalan seperti ini kita dapat melihat bahwa Dia adalah mulia adanya, namun karena dosa sehingga kita tidak dapat menyadari kemuliaan tersebut. Semakin kita mengenal kita sebagai orang yang berdosa, dan benar-benar berdosa maka semakin kemuliaan Tuhan terlihat dengan jelas. Jadi kalau kita mau memuliakan Tuhan dalam hidup kita baiklah kita senantiasa mengenal Dia dengan mengenal Dia maka kita akan mengenal siapakah kita sebenarnya, mengenal Dia melalui FirmanNya yang hidup dan kekal yang berkuasa menyelamatkan kita.
Dengan jalan seperti inilah kita akan secara otomatis memuliakan Tuhan, karena kita menjadi sadar bahwa kita adalah manusia berdosa yang tidak dapat berbuat apa-apa, semakin lama kita menjadi pengikut Kristus seharusnyalah kita mengetahui dosa-dosa yang ada di dalam hati kita yang terkubur dalam-dalam dan tidak pernah kita akui dan tidak pernah kita tahu. Sehingga kita dapat berkata dari semua orang akulah orang yang paling berdosa, bukan karena kita melakukan dosa lebih banyak orang lain, tapi karena akhirnya kita menyadari dan lebih mengenal akan hidup kita sendiri yang rusak seluruhnya. Kita tidak akan pernah berkata, saya lebih baik dari dia. Ketika kita memuliakan Tuhan bukan karena Dia akan lebih dimuliakan tapi karena Tuhan tidak pernah berubah kemuliaanNya dari dahulu, sekarang dan selamanya, hanya kitalah yang menyadari, bahkan terus menyadari kalau kita ini orang yang seharusnya dihukum, untuk itulah kita lebih bisa memuliakan Tuhan, tanpa pengertian seperti ini, maka memuliakan Tuhan yang kita lakukan perlu dipertanyakan dengan tanda tanya yang besar.
Kisah 17:24-25
Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.
Apakah Tuhan kekurangan kemuliaan sehingga kita perlu memberikan sesuatu kemuliaan untuk Dia supaya Dia lebih dimuliakan lagi? Lalu muncullah kalimat seperti ini juga: "Mari kita muliakan supaya Dia lebih ditinggikan lagi", nah kembali apakah Dia kurang tinggi sehingga kita harus meninggikan Dia? Torehan ini bukan bermaksud untuk menghentikan Anda meninggikan dan memuliakan Dia dalam hidup Anda. Namun yang saya maksud adalah kerancuan akan timbul ketika kita tepuk tangan dan menganggap itu sama dengan memuliakan Tuhan.
Jadi kalau tidak tepuk tangan tentu aneh, yang lain tepuk tangan kok saya tidak, yah daripada bengong sendiri mendingan tepuk tangan juga, jadi tepuk tangan seperti ini sudah jelas palsu dan hanya dibuat-buat karena tertular, atau merasa tidak enak di sekelilingnya. Kalau musiknya bagus, juga akhirnya lebih bisa tepuk tangan lebih keras lagi seolah-olah memberikan ‘kemuliaan bagi Tuhan’ jadi kemuliaan Tuhan akhirnya diukur dari tepuk tangan kita yang keras, dari musik kita yang bagus. Apakah benar?
Loh orang dunia kan juga tepuk tangan kalau lagi konser, masa orang dunia bisa tepuk tangan kita ngak boleh tepuk tangan buat Tuhan, justru harusnya tepuk tangan lebih keras lagi, supaya lebih beda dengan orang dunia, kita kan seharusnya lebih dari orang dunia. Apakah benar pernyataan seperti ini? Tepuk tangan, adalah simbol dari appresiasi kita, dalam hal menghormati orang lain ketika seseorang mengadakan pertunjukan kita tepuk tangan untuk memberikan nilai, kalau pertunjukan bagus tepuk tangan lebih ramai (walaupun orang Timur kurang bisa seperti ini), sedangkan kalau pertunjukan jelek, yah tepuk tangan seadanya aja lah, toh juga pertunjukannya tidak terlalu memukau, dengan konsep seperti ini arti tepuk tangan hanya menjadi pemberian hormat dan nilai kepada orang yang mengadakan pertunjukan.
Jadi tentu orang yang mengadakan pertunjukan tersebut juga terpengaruh dengan tepuk tangan penonton kalau tepuk tangannya ramai, dia pasti merasa nilai dia bertambah, rasa percaya diri semakin ada, sedangkan kalau tepuk tangan sedikit, dia pasti merasa kurang percaya diri, dan merasa berkurang nilainya. Nah apakah hal ini dapat diterapkan dalam hubungan kita dengan Tuhan, kalau kita tepuk tangan hanya karena, kita merasa bahwa Tuhan akan lebih ditinggikan dan lebih dihormati dan lebih diberi nilai, ini jelas harus perhatikan secara kritis.
Memberikan kemuliaan bagi Tuhan dengan memuliakan Tuhan sangat berbeda sekali tentunya, karena dari dalam kita tidak ada kemuliaan yang dapat kita kembalikan kepada Tuhan karena manusia adalah orang yang berdosa seutuhnya di dalam manusia tidak ada yang benar dan tidak ada yang mulia yang dapat kita berikan kepada Tuhan dengan tujuan menambah nilai Tuhan, karena Tuhan tidak pernah berkekurangan dalam segala hal. Ketika kita diubahkan semakin hari semakin serupa gambar Tuhan, maka kemuliaan yang terpancar dalam hidup kita adalah pemberian Tuhan semata-mata bukan milik kita, sehingga tidak sepatutnya kita membanggakan diri bahwa kita lebih mulia dari orang lain, karena kalau memang kemuliaan Allah benar-benar tinggal dalam hidup kita maka perlakuan untuk merendahkan orang lain tentu tidak terdapat dalam kemuliaan tersebut, sehingga kalaupun terjadi maka kemuliaan itu wajib dipertanyakan apakah benar kemuliaan Tuhan atau ‘kemuliaan’ Tuhan.
Memuliakan Tuhan artinya bahwa sudah selayaknya kita diciptakan untuk memuliakan Dia, posisi kita sebagai manusia adalah untuk memuliakan Dia, bukan karena Dia kurang kemuliaan. Semakin lama kita semakin mengenal Tuhan, semakin dalamlah kita akan mengenal siapakah diri kita sebenarnya, sehingga dengan jalan seperti ini kita dapat melihat bahwa Dia adalah mulia adanya, namun karena dosa sehingga kita tidak dapat menyadari kemuliaan tersebut. Semakin kita mengenal kita sebagai orang yang berdosa, dan benar-benar berdosa maka semakin kemuliaan Tuhan terlihat dengan jelas. Jadi kalau kita mau memuliakan Tuhan dalam hidup kita baiklah kita senantiasa mengenal Dia dengan mengenal Dia maka kita akan mengenal siapakah kita sebenarnya, mengenal Dia melalui FirmanNya yang hidup dan kekal yang berkuasa menyelamatkan kita.
Dengan jalan seperti inilah kita akan secara otomatis memuliakan Tuhan, karena kita menjadi sadar bahwa kita adalah manusia berdosa yang tidak dapat berbuat apa-apa, semakin lama kita menjadi pengikut Kristus seharusnyalah kita mengetahui dosa-dosa yang ada di dalam hati kita yang terkubur dalam-dalam dan tidak pernah kita akui dan tidak pernah kita tahu. Sehingga kita dapat berkata dari semua orang akulah orang yang paling berdosa, bukan karena kita melakukan dosa lebih banyak orang lain, tapi karena akhirnya kita menyadari dan lebih mengenal akan hidup kita sendiri yang rusak seluruhnya. Kita tidak akan pernah berkata, saya lebih baik dari dia. Ketika kita memuliakan Tuhan bukan karena Dia akan lebih dimuliakan tapi karena Tuhan tidak pernah berubah kemuliaanNya dari dahulu, sekarang dan selamanya, hanya kitalah yang menyadari, bahkan terus menyadari kalau kita ini orang yang seharusnya dihukum, untuk itulah kita lebih bisa memuliakan Tuhan, tanpa pengertian seperti ini, maka memuliakan Tuhan yang kita lakukan perlu dipertanyakan dengan tanda tanya yang besar.
Kisah 17:24-25
Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.
10 October, 2009
15 September, 2009
29 June, 2009
Domba, Serigala, Ular dan Merpati
Posted by
Anton Triyanto
Matius 10:16 Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.
Ayat ini tentunya tidak asing lagi di telinga kita semua bukan, seringkali ayat ini dikatakan tanpa mengerti konteks yang benar yang dimaksudkan oleh Tuhan. Tuhan berbicara mengenai penderitaan dan penganiayaan -- oleh karena kebenaran Yesus Kristus yang hakiki.
Kita ini seperti domba, yang tidak punya arah tujuan sebelumnya, tapi syukur karena di dalam Kristus kita memiliki tujuan, yaitu tujuan untuk senantiasa memancarkan kemuliaan Tuhan di dalam Kristus Yesus. Tapi bukan berarti ketika kita sudah menjadi domba, kita akan selalu menikmati padang rumput yang hijau, air yang tenang -- tidak -- bahkan Tuhan mengutus kita di tengah-tengah serigala, demikianlah kita menjadi orang Kristen harus sadar bahwa ketika kita menjadi orang Kristen bukan berarti kita tidak akan mengalami penderitaan dan penganiayaan, justru semenjak kita menjadi orang Kristen, itulah waktunya kita siap menderita dan siap dianiaya untuk mempertahankan iman Kristen kita di dalam Yesus Kristus. Jadi kalau kita mungkin menjadi orang Kristen hanya karena mau diberkati oleh berkat jasmani dan berkat rohani (kerajaan Surga), baiklah kita kembali meng-intropeksi diri lagi.
Penganiayaan dan penderitaan yang kita alami mungkin bukan secara fisik, melainkan secara mentalitas kita akan dianiaya, ketika kita menyatakan iman kita, mungkin teman-teman kita akan menjauhkan kita, akan membenci kita, itu adalah salah satu contoh aniaya dan penderitaan yang bukan bersifat secara fisik. Dan kalaupun penganiayaan dan penderitaan yang kita alami secara fisik oleh karena mempertahankan kebenaran Firman Tuhan, berbahagialah juga, karena "Berbagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah empunya Kerajaan Sorga" -- Matius 5:10
Tuhan mengijinkan kita tinggal di dunia ini bersama dengan serigala-serigala, tapi Dia tidak tinggal diam, Dia yang akan senantiasa memberikan pertolongan, waktu kita membutuhkan, yah Tuhan memberikan pertolongan kepada kita pada waktu yang tepat.
Matius 10:19 Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga.
Serigala-serigala tersebut siap menerkam kita, senantiasa mencari kelemahan-kelemahan kita sebagai domba-domba Tuhan. Kita akan dibawa menghadap dunia ini, kita yang menjadi surat terbuka bagi dunia ini, menjadi satu kesaksian bagi dunia ini dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah, namun sampai sejauh manakah kita mempertahankan Kebenaran tersebut.
Saya tertarik oleh khotbah Pdt. Effendy Susanto mengenai "Roh membedakan roh" pada tanggal 14 Juni 2009. Memang benar di dunia ini makin banyak orang terima ajaran yang kelihatannya benar tapi menyesatkan. Untuk itulah kita harus peka dalam segala hal. Nah, jangankan mempertahankan kebenaran bahkan seringkali kita tidak mengacuhkan apa kebenaran sejati itu. Seringkali sifat yang malas dan tidak disiplin untuk belajar Firman Tuhan mendarah daging dalam hidup kita.
Beliau ada mengupas mengenai Joel Osteen, pendeta yang cukup besar di Amerika, kemudian saya ada menemukan video wawancara Joel Osteen dengan Larry King di youtube - Berikut transkripnya.
OSTEEN: ...essence of the Christian faith.
KING: That we live in deeds?
OSTEEN: I don't know. What do you mean by that?
KING: Because we've had ministers on who said, your record don't count. You either believe in Christ or you don't. If you believe in Christ, you are, you are going to heaven. And if you don't no matter what you've done in your life, you ain't.
OSTEEN: Yeah, I don't know. There's probably a balance between. I believe you have to know Christ. But I think that if you know Christ, if you're a believer in God, you're going to have some good works. I think it's a cop-out to say I'm a Christian but I don't ever do anything ...
KING: What if you're Jewish or Muslim, you don't accept Christ at all?
OSTEEN: You know, I'm very careful about saying who would and wouldn't go to heaven. I don't know ...
KING: If you believe you have to believe in Christ? They're wrong, aren't they?
OSTEEN: Well, I don't know if I believe they're wrong. I believe here's what the Bible teaches and from the Christian faith this is what I believe. But I just think that only God with judge a person's heart. I spent a lot of time in India with my father. I don't know all about their religion. But I know they love God. And I don't know. I've seen their sincerity. So I don't know. I know for me, and what the Bible teaches, I want to have a relationship with Jesus.
KING: The Senate apologized last week for slavery...
Osteen tidak berani mengatakan bahwa Jesus the ONLY way to go to heaven. Malah dia mengatakan ketika di India dia memang tidak tahu mengenai agama orang India, tapi dia tahu kalau mereka cinta Tuhan? Siapakah Tuhan yang dia maksudkan? Dewa Wisnu-kah, Dewa Brahma-kah? Dewa Siwa-kah? Berarti apakah dia percaya kalau kerajaan surga ada kemungkinan didapatkan melalui perbuatan baik yang dilakukan oleh manusia. Memang benar urusan masuk surga neraka ada di tangan Tuhan, tapi kita harus yakin juga bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan kebenaran dan hidup, dan bahwa tidak ada yang bisa datang kepada Bapa, karena manusia sudah rusak total, untuk itulah di dalam Kristus Yesus yang menebus kita membuat kita dilayakkan untuk menghadap Dia satu hari kelak.
Itu adalah hal yang paling mendasar, kalau hal yang paling mendasar saja tidak dicanangkan baik-baik di dalam hati, apa yang akan terjadi dengan bangunan yang dibangun di atas dasar yang tidak benar. Apa yang dipandang baik belum tentu benar, namun apa yang benar pasti baik adanya demi kemuliaan nama Tuhan.
Ketika Anda melihat video tersebut, apakah berarti Joel Osteen cerdik seperti ular ketika dia menjawab pertanyaan-pertanyaan Larry King, menurut saya pribadi tidak, karena yang dia lakukan bukanlah cerdik bagi kemuliaan Tuhan, tapi cerdik demi menyelamatkan diri dia dari pandangan-pandangan yang kritis dari orang-orang tidak percaya Tuhan, cerdik hanya untuk mempertahankan harkat dan martabat dia sebagai orang yang terkenal dan orang yang baik - tapi tidak benar.
Ular ketika menghadapi bahaya dia dengan cepat menyembunyikan dirinya di dalam batu. Ketika kita memberitahukan kebenaran Firman Tuhan yang hakiki, ketika kita mempertahankannya kemudian kita dianiaya dan menderita karena hal tersebut, biarlah penganiayaan dan penderitaan tersebut bukan menjadi "unnecessary persecution". Namun bukan berarti kita tidak usah memberitahukan dan mempertahankan kebenaran - yang dimaksudkan adalah - Korbankanlah dirimu, demi kebenaran yang sejati dalam Kristus Yesus, seperti domba, menjadi saksi yang berani, tetapi carilah cara bersaksi tanpa membuat kita terjerumus dalam penganiayaan yang terjadi karena kebodohan kita sendiri bukan karena kebenaran Firman Tuhan. Untuk itulah Tuhan ajarkan kita untuk cerdik seperti ular. Untuk segala sesuatu ada waktunya ada waktu untuk bertahan dan ada waktu untuk lari, Musa, Yeremia, Daud, Paulus, bahkan Kristus pun mengalami waktu untuk bertahan dan waktu untuk lari - karena itu Tuhan mengaruniakan hikmat kepada kita untuk bertindak. Yang paling penting adalah jangan sampai kita menjual kebenaran Kristus untuk harga diri kita, nyawa kita.
Dan tetaplah menjadi kesucian kita, menjadi tulus seperti merpati -- jangan memberikan kesempatan kepada mereka untuk menghakimi kita akan ketidak-adilan kita, kerusakan moral kita, tapi jagalah senantiasa reputasi kita untuk bersih selalu, supaya jangan sampai pelayanan kita dicela.
2 Korintus 6:3 Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela.
Ayat ini tentunya tidak asing lagi di telinga kita semua bukan, seringkali ayat ini dikatakan tanpa mengerti konteks yang benar yang dimaksudkan oleh Tuhan. Tuhan berbicara mengenai penderitaan dan penganiayaan -- oleh karena kebenaran Yesus Kristus yang hakiki.
Kita ini seperti domba, yang tidak punya arah tujuan sebelumnya, tapi syukur karena di dalam Kristus kita memiliki tujuan, yaitu tujuan untuk senantiasa memancarkan kemuliaan Tuhan di dalam Kristus Yesus. Tapi bukan berarti ketika kita sudah menjadi domba, kita akan selalu menikmati padang rumput yang hijau, air yang tenang -- tidak -- bahkan Tuhan mengutus kita di tengah-tengah serigala, demikianlah kita menjadi orang Kristen harus sadar bahwa ketika kita menjadi orang Kristen bukan berarti kita tidak akan mengalami penderitaan dan penganiayaan, justru semenjak kita menjadi orang Kristen, itulah waktunya kita siap menderita dan siap dianiaya untuk mempertahankan iman Kristen kita di dalam Yesus Kristus. Jadi kalau kita mungkin menjadi orang Kristen hanya karena mau diberkati oleh berkat jasmani dan berkat rohani (kerajaan Surga), baiklah kita kembali meng-intropeksi diri lagi.
Penganiayaan dan penderitaan yang kita alami mungkin bukan secara fisik, melainkan secara mentalitas kita akan dianiaya, ketika kita menyatakan iman kita, mungkin teman-teman kita akan menjauhkan kita, akan membenci kita, itu adalah salah satu contoh aniaya dan penderitaan yang bukan bersifat secara fisik. Dan kalaupun penganiayaan dan penderitaan yang kita alami secara fisik oleh karena mempertahankan kebenaran Firman Tuhan, berbahagialah juga, karena "Berbagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah empunya Kerajaan Sorga" -- Matius 5:10
Tuhan mengijinkan kita tinggal di dunia ini bersama dengan serigala-serigala, tapi Dia tidak tinggal diam, Dia yang akan senantiasa memberikan pertolongan, waktu kita membutuhkan, yah Tuhan memberikan pertolongan kepada kita pada waktu yang tepat.
Matius 10:19 Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga.
Serigala-serigala tersebut siap menerkam kita, senantiasa mencari kelemahan-kelemahan kita sebagai domba-domba Tuhan. Kita akan dibawa menghadap dunia ini, kita yang menjadi surat terbuka bagi dunia ini, menjadi satu kesaksian bagi dunia ini dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah, namun sampai sejauh manakah kita mempertahankan Kebenaran tersebut.
Saya tertarik oleh khotbah Pdt. Effendy Susanto mengenai "Roh membedakan roh" pada tanggal 14 Juni 2009. Memang benar di dunia ini makin banyak orang terima ajaran yang kelihatannya benar tapi menyesatkan. Untuk itulah kita harus peka dalam segala hal. Nah, jangankan mempertahankan kebenaran bahkan seringkali kita tidak mengacuhkan apa kebenaran sejati itu. Seringkali sifat yang malas dan tidak disiplin untuk belajar Firman Tuhan mendarah daging dalam hidup kita.
Beliau ada mengupas mengenai Joel Osteen, pendeta yang cukup besar di Amerika, kemudian saya ada menemukan video wawancara Joel Osteen dengan Larry King di youtube - Berikut transkripnya.
OSTEEN: ...essence of the Christian faith.
KING: That we live in deeds?
OSTEEN: I don't know. What do you mean by that?
KING: Because we've had ministers on who said, your record don't count. You either believe in Christ or you don't. If you believe in Christ, you are, you are going to heaven. And if you don't no matter what you've done in your life, you ain't.
OSTEEN: Yeah, I don't know. There's probably a balance between. I believe you have to know Christ. But I think that if you know Christ, if you're a believer in God, you're going to have some good works. I think it's a cop-out to say I'm a Christian but I don't ever do anything ...
KING: What if you're Jewish or Muslim, you don't accept Christ at all?
OSTEEN: You know, I'm very careful about saying who would and wouldn't go to heaven. I don't know ...
KING: If you believe you have to believe in Christ? They're wrong, aren't they?
OSTEEN: Well, I don't know if I believe they're wrong. I believe here's what the Bible teaches and from the Christian faith this is what I believe. But I just think that only God with judge a person's heart. I spent a lot of time in India with my father. I don't know all about their religion. But I know they love God. And I don't know. I've seen their sincerity. So I don't know. I know for me, and what the Bible teaches, I want to have a relationship with Jesus.
KING: The Senate apologized last week for slavery...
Osteen tidak berani mengatakan bahwa Jesus the ONLY way to go to heaven. Malah dia mengatakan ketika di India dia memang tidak tahu mengenai agama orang India, tapi dia tahu kalau mereka cinta Tuhan? Siapakah Tuhan yang dia maksudkan? Dewa Wisnu-kah, Dewa Brahma-kah? Dewa Siwa-kah? Berarti apakah dia percaya kalau kerajaan surga ada kemungkinan didapatkan melalui perbuatan baik yang dilakukan oleh manusia. Memang benar urusan masuk surga neraka ada di tangan Tuhan, tapi kita harus yakin juga bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan kebenaran dan hidup, dan bahwa tidak ada yang bisa datang kepada Bapa, karena manusia sudah rusak total, untuk itulah di dalam Kristus Yesus yang menebus kita membuat kita dilayakkan untuk menghadap Dia satu hari kelak.
Itu adalah hal yang paling mendasar, kalau hal yang paling mendasar saja tidak dicanangkan baik-baik di dalam hati, apa yang akan terjadi dengan bangunan yang dibangun di atas dasar yang tidak benar. Apa yang dipandang baik belum tentu benar, namun apa yang benar pasti baik adanya demi kemuliaan nama Tuhan.
Ketika Anda melihat video tersebut, apakah berarti Joel Osteen cerdik seperti ular ketika dia menjawab pertanyaan-pertanyaan Larry King, menurut saya pribadi tidak, karena yang dia lakukan bukanlah cerdik bagi kemuliaan Tuhan, tapi cerdik demi menyelamatkan diri dia dari pandangan-pandangan yang kritis dari orang-orang tidak percaya Tuhan, cerdik hanya untuk mempertahankan harkat dan martabat dia sebagai orang yang terkenal dan orang yang baik - tapi tidak benar.
Ular ketika menghadapi bahaya dia dengan cepat menyembunyikan dirinya di dalam batu. Ketika kita memberitahukan kebenaran Firman Tuhan yang hakiki, ketika kita mempertahankannya kemudian kita dianiaya dan menderita karena hal tersebut, biarlah penganiayaan dan penderitaan tersebut bukan menjadi "unnecessary persecution". Namun bukan berarti kita tidak usah memberitahukan dan mempertahankan kebenaran - yang dimaksudkan adalah - Korbankanlah dirimu, demi kebenaran yang sejati dalam Kristus Yesus, seperti domba, menjadi saksi yang berani, tetapi carilah cara bersaksi tanpa membuat kita terjerumus dalam penganiayaan yang terjadi karena kebodohan kita sendiri bukan karena kebenaran Firman Tuhan. Untuk itulah Tuhan ajarkan kita untuk cerdik seperti ular. Untuk segala sesuatu ada waktunya ada waktu untuk bertahan dan ada waktu untuk lari, Musa, Yeremia, Daud, Paulus, bahkan Kristus pun mengalami waktu untuk bertahan dan waktu untuk lari - karena itu Tuhan mengaruniakan hikmat kepada kita untuk bertindak. Yang paling penting adalah jangan sampai kita menjual kebenaran Kristus untuk harga diri kita, nyawa kita.
Dan tetaplah menjadi kesucian kita, menjadi tulus seperti merpati -- jangan memberikan kesempatan kepada mereka untuk menghakimi kita akan ketidak-adilan kita, kerusakan moral kita, tapi jagalah senantiasa reputasi kita untuk bersih selalu, supaya jangan sampai pelayanan kita dicela.
2 Korintus 6:3 Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela.