Recent Posts
Showing posts with label facebook. Show all posts
Showing posts with label facebook. Show all posts
16 December, 2009
07 December, 2009
22 August, 2009
Sekali lagi tentang Facebook
Posted by
Anton Triyanto
Setelah artikel yang saya tulis sebelumnya mengenai Facebook (FB), saya akan menulis satu artikel ini lagi mengenai FB. Sebelumnya tulisan-tulisan memang bersifat relatif mengenai pandangan saya tentang FB itu sendiri sehingga mungkin banyak yang berpikir bahwa seolah-olah saya terlalu menjelek-jelekkan pengguna FB. (Artikel yang lama dapat di baca di sini)
Memang saya tidak menutup kemungkinan adanya orang-orang yang memakai FB untuk pelayanan, *kalau menurut saya pribadi, saya enggan main FB karena dapat bersifat adiktif, saya bisa membuang waktu saya dengan percuma di FB, saya dapat merasa bersalah kalau tidak memeriksa FB saya ketimbang merasa bersalah karena saya tidak membaca Alkitab dalam satu hari. Untuk itulah saya tidak main FB dan tidak punya FB, tentu bagi orang lain ada yang mampu menahan semua sifat adiktif, contohnya sahabat saya, dia ada FB tapi semata-mata FB-nya dipakai hanya untuk membagikan artikel-artikel yang bagus, video-video youtube yang sifatnya membangun, ayat-ayat Firman Tuhan (FT) dan saya mendukung sepenuhnya, karena ada juga orang-orang tertentu, entah itu dalam koneksi dia atau di luar koneksi dia yang mungkin dapat tersentuh dengan artikel-artikel tersebut dan akhirnya memuliakan Tuhan. Jadi ketika saya katakan saya tidak punya dan tidak mau main FB, bukan berarti saya melarang kita punya FB, karena manusia punya kelemahan masing-masing dan seharusnyalah kita tahu kelemahan kita dan berusaha untuk tidak menyerahkan diri dengan cuma-cuma terhadap kelemahan tersebut.
Perlu kita tanyakan kepada diri kita, ketika kita mulai menaruh foto-foto yang sama sekali tidak mencerminkan kemuliaan Tuhan, banyak orang bisa mengaku diri Kristen, tapi di FB mereka, ditaruh foto-foto yang sifatnya membuat orang lain malah jatuh di dalam dosa. Saya tidak hanya berbicara foto-foto yang mengumbar nafsu seks, walaupun banyak karena hal tersebut, namun juga foto-foto yang membuat orang lain menghabiskan waktunya hanya untuk melihat foto-foto kita, sehingga membuat 'kompetisi' untuk menjadi lebih baik dari yang lain.
Pada umumnya FB ada, karena orang mau koneksi dengan yang lain, memang kesannya koneksi, tapi lama kelamaan menjadi ajang saling pamer-pameran, entah itu 'gadget' terbaru yang dimiliki, tamasya yang mahal, menginap di hotel yang mahal, punya mobil yang keren, semua akhirnya -- langsung atau tidak langsung menjadi kesombongan yang tidak disadari. Yah memang ada pengguna FB yang bertanggung jawab dan benar-benar memakai FB untuk kemuliaan Tuhan, namun hanya sedikit -- untuk itu saya berharap kita dapat menjadi pemakai FB untuk kemuliaan Tuhan -- bukan untuk kemuliaan nama sendiri.
Selain daripada itu, FB juga menjadi ajang supaya orang lain bisa menerima kita, menghormati kita, atau penghargaan -- supaya bisa mendapatkan 'acknowledgement'. Bukankah seharusnya 'acknowledgement' dari Tuhan lebih penting ketimbang dari manusia, namun sekarang manusia lebih mementingkan penerimaan dari teman-teman, dari sesama tanpa pernah berpikir di dalam hatinya -- "Apakah saya sudah diterima oleh Tuhan?" -- Dengan memasang foto-foto kita dengan barang-barang yang kita miliki, dengan kecantikan yang kita miliki, dengan rumah yang kita miliki, dengan kehidupan yang kita miliki -- semata-mata kita hanya mau supaya kita bisa diterima dan dianggap keren dan jago oleh orang lain, sadar atau tidak sadar kita akan terperangkap dalam jerat ini.
Tiada hari tanpa FB pun menjadi motto dan akhirnya mendarah-daging dalam kehidupan kita, kita akan merasa bersalah kepada diri sendiri, kalau satu hari tidak memeriksa FB, memeriksa apa yang dikerjakan orang lain, apa yang baru dibeli oleh orang lain, baju apa yang dipakai orang lain, dan yang lain sebagainya yang akhirnya membuat kita saling berkompetisi satu sama lain, FB yang tadinya hanya menjadi sarana atau tempat sosialisasi menjadi tempat kompetisi.
Belum lagi 'game-game' baru di FB, akhirnya menjadi satu jerat juga, kita dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk main 'game', kalau kalah juga rasanya tidak 'kamguan(menerima)' -- akhirnya kita menjadi adiktif untuk selalu menjadi pemenang dalam game tersebut. Mengapa game online di FB laku, atau game-game online lain secara umum, karena ketika kita mencapai angka nilai tertinggi kita senang, itulah yang dicapai oleh manusia, untuk menjatuhkan orang lain, mau selalu lebih di atas orang lain. Sedangkan game-game yang bersifat main melawan komputer saya rasa tidak terlalu merangsang keegoisan kita untuk menjadi lebih dari orang lain, walaupun game pada intinya menghabiskan waktu dengan percuma tanpa tujuan yang pasti. Ketika kita meraih angka paling tertinggi lalu kita menjadi sombong dan menantang orang lain untuk berusaha bisa mengalahkan kita, saya bilang dosanya 2 kali, dosa jadi sombong dan dosa bikin orang tergila-gila sama game karena penasaran tidak bisa kalahin angka tertinggi tersebut sehingga harus mengorbankan keluarga, pekerjaan, waktu yang penting bersama Tuhan, dan kegiatan-kegiatan yang lain yang bersifat lebih membangun dan bermanfaat demi berusaha untuk mengalahkan angka tertinggi tersebut.
Sekali saya katakan, seharusnya FB dipakai semaksimal mungkin untuk pemberitaan FT, pembahasan FT, penginjilan, berbagi pengalaman satu sama lain mengenai jalan bersama Tuhan dan semata-mata untuk kemuliaan Tuhan tanpa mau menganggap kita menjadi lebih dari orang lain. Selain itu seharusnya FB dianggap dan diperlakukan sebagai sarana komunikasi yang baik dan bertanggung-jawab antara teman dalam hal bertukar informasi dengan cepat, tidak selalu akurat tentunya. Tapi janganlah akhirnya kita mengidolakan FB tersebut di atas Tuhan, coba bayangkan jikalau FB kita kena hapus ataupun server FB sedang mati, apakah kita akan marah, stress, dan tidak bisa tidur atapun hal lainnya yang membuat kita berpikir kita mengalami kerugian, jikalau kita menjawab ya, pernahkah kita bertanya di dalam hati nurani kita "Apakah FB sudah menjadi berhala kita?". Akhir kata pakailah FB dengan baik dan bertanggung jawab kepada Tuhan.
Kolose 3:23
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
*Saya memiliki facebook sekarang
Memang saya tidak menutup kemungkinan adanya orang-orang yang memakai FB untuk pelayanan, *
Perlu kita tanyakan kepada diri kita, ketika kita mulai menaruh foto-foto yang sama sekali tidak mencerminkan kemuliaan Tuhan, banyak orang bisa mengaku diri Kristen, tapi di FB mereka, ditaruh foto-foto yang sifatnya membuat orang lain malah jatuh di dalam dosa. Saya tidak hanya berbicara foto-foto yang mengumbar nafsu seks, walaupun banyak karena hal tersebut, namun juga foto-foto yang membuat orang lain menghabiskan waktunya hanya untuk melihat foto-foto kita, sehingga membuat 'kompetisi' untuk menjadi lebih baik dari yang lain.
Pada umumnya FB ada, karena orang mau koneksi dengan yang lain, memang kesannya koneksi, tapi lama kelamaan menjadi ajang saling pamer-pameran, entah itu 'gadget' terbaru yang dimiliki, tamasya yang mahal, menginap di hotel yang mahal, punya mobil yang keren, semua akhirnya -- langsung atau tidak langsung menjadi kesombongan yang tidak disadari. Yah memang ada pengguna FB yang bertanggung jawab dan benar-benar memakai FB untuk kemuliaan Tuhan, namun hanya sedikit -- untuk itu saya berharap kita dapat menjadi pemakai FB untuk kemuliaan Tuhan -- bukan untuk kemuliaan nama sendiri.
Selain daripada itu, FB juga menjadi ajang supaya orang lain bisa menerima kita, menghormati kita, atau penghargaan -- supaya bisa mendapatkan 'acknowledgement'. Bukankah seharusnya 'acknowledgement' dari Tuhan lebih penting ketimbang dari manusia, namun sekarang manusia lebih mementingkan penerimaan dari teman-teman, dari sesama tanpa pernah berpikir di dalam hatinya -- "Apakah saya sudah diterima oleh Tuhan?" -- Dengan memasang foto-foto kita dengan barang-barang yang kita miliki, dengan kecantikan yang kita miliki, dengan rumah yang kita miliki, dengan kehidupan yang kita miliki -- semata-mata kita hanya mau supaya kita bisa diterima dan dianggap keren dan jago oleh orang lain, sadar atau tidak sadar kita akan terperangkap dalam jerat ini.
Tiada hari tanpa FB pun menjadi motto dan akhirnya mendarah-daging dalam kehidupan kita, kita akan merasa bersalah kepada diri sendiri, kalau satu hari tidak memeriksa FB, memeriksa apa yang dikerjakan orang lain, apa yang baru dibeli oleh orang lain, baju apa yang dipakai orang lain, dan yang lain sebagainya yang akhirnya membuat kita saling berkompetisi satu sama lain, FB yang tadinya hanya menjadi sarana atau tempat sosialisasi menjadi tempat kompetisi.
Belum lagi 'game-game' baru di FB, akhirnya menjadi satu jerat juga, kita dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk main 'game', kalau kalah juga rasanya tidak 'kamguan(menerima)' -- akhirnya kita menjadi adiktif untuk selalu menjadi pemenang dalam game tersebut. Mengapa game online di FB laku, atau game-game online lain secara umum, karena ketika kita mencapai angka nilai tertinggi kita senang, itulah yang dicapai oleh manusia, untuk menjatuhkan orang lain, mau selalu lebih di atas orang lain. Sedangkan game-game yang bersifat main melawan komputer saya rasa tidak terlalu merangsang keegoisan kita untuk menjadi lebih dari orang lain, walaupun game pada intinya menghabiskan waktu dengan percuma tanpa tujuan yang pasti. Ketika kita meraih angka paling tertinggi lalu kita menjadi sombong dan menantang orang lain untuk berusaha bisa mengalahkan kita, saya bilang dosanya 2 kali, dosa jadi sombong dan dosa bikin orang tergila-gila sama game karena penasaran tidak bisa kalahin angka tertinggi tersebut sehingga harus mengorbankan keluarga, pekerjaan, waktu yang penting bersama Tuhan, dan kegiatan-kegiatan yang lain yang bersifat lebih membangun dan bermanfaat demi berusaha untuk mengalahkan angka tertinggi tersebut.
Sekali saya katakan, seharusnya FB dipakai semaksimal mungkin untuk pemberitaan FT, pembahasan FT, penginjilan, berbagi pengalaman satu sama lain mengenai jalan bersama Tuhan dan semata-mata untuk kemuliaan Tuhan tanpa mau menganggap kita menjadi lebih dari orang lain. Selain itu seharusnya FB dianggap dan diperlakukan sebagai sarana komunikasi yang baik dan bertanggung-jawab antara teman dalam hal bertukar informasi dengan cepat, tidak selalu akurat tentunya. Tapi janganlah akhirnya kita mengidolakan FB tersebut di atas Tuhan, coba bayangkan jikalau FB kita kena hapus ataupun server FB sedang mati, apakah kita akan marah, stress, dan tidak bisa tidur atapun hal lainnya yang membuat kita berpikir kita mengalami kerugian, jikalau kita menjawab ya, pernahkah kita bertanya di dalam hati nurani kita "Apakah FB sudah menjadi berhala kita?". Akhir kata pakailah FB dengan baik dan bertanggung jawab kepada Tuhan.
Kolose 3:23
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
*Saya memiliki facebook sekarang
03 June, 2009
Seputar Facebook dan Social Networking
Posted by
Anton Triyanto
Tentu Facebook sudah tidak asing di telinga kita, terutama untuk orang-orang generasi Y dan Z, sedangkan untuk generasi X dan Baby Boomers, mungkin beberapa persen dari mereka tidak pernah mendengar kata ini, walaupun pernah rasanya mungkin mereka tidak ada account sama sekali, terutama generasi Baby Boomers, yang lahir setelah perang dunia kedua berakhir.
Namun bagi anak-anak muda sekarang, Facebook menjadi sesuatu yang harus, sepertinya di top of their list. Sepertinya tanpa Facebook sulit rasanya satu sama lain bersosialisasi, demikian halnya dengan social networking yang lainnya seperti Friendster, Twitter, MySpace dan masih banyak yang lainnya.
Tujuan dari website tersebut adalah supaya satu sama lain tetap berhubungan dan saling memberitahu apa yang sedang terjadi, entah itu baru pulang holiday, makan di restoran mewah, pakai pakaian yang bagus, baru punya anak -- tentu saya tidak melarang semua orang punya Facebook, namun larut makin larut Facebook bisa menjadi ajang untuk menonjolkan diri sendiri, "ini loh saya baru pulang dari Hongkong" misalnya. Seolah-olah memberitahukan ke dunia mengenai kehidupannya, tentu ini tidak salah juga tapi jangan sampai motivasi kita menjadi terkontaminasi dengan hal-hal yang mau menonjolkan diri, saya teringat bahwa di dalam Alkitab pun, tertulis di jaman-jaman akhir ini orang mulai mencintai dirinya sendiri.
Saya rasa, tidak ada orang yang mau taruh foto mereka yang jelek di facebook, pasti dikasih yang bagus bagus -- walaupun ada mungkin persentasinya kecil sekali. Mereka berlomba-lomba menaruh foto-foto yang bagus, dan setiap foto baru dipasang, semua teman, teman lama, teman yang baru ketemu, yang ada di facebook diberitahu. "Halo halo si Unyil pasang foto baru -- klik di sini kalau mau liat"
Belum lagi adanya rasa iri hati akan timbul seperti "aduh sih Unyil koq pergi ke Eropa yah, koq saya ngak bisa yah, aduh kenapa saya ngak bisa pergi yah, aduh si Unyil beruntung sekali, I wish I can go there one day" kembali tidak semua akan berpikiran seperti ini, ini hanyalah salah satu contoh yang bisa terjadi.
Pokoknya ujung-ujungnya membahas mengenai manusia, apa yang mereka makan, apa yang bagus dipakai "Eh si Melanie (pacarnya Unyil) pakai gaun bagus loh baru beli di Eropa, wah rasanya saya bisa cocok juga kalau pakai itu", yang akhirnya adalah semuanya hanya untuk memuaskan diri pribadi, memenuhi keinginan manusia untuk menjadi lebih daripada yang lain.
Namun tidak sedikit juga penginjilan memakai Facebook, sampai sekarang saya sendiri belum menganalisa secara lebih jauh lagi apakah penginjilan seperti ini efektif atau tidak. Mungkin bisa efektif juga, tapi mudah-mudahan tidak sampai merusak motivasi yg sejati yaitu mengabarkan kebenaran Injil yang sejati itu.
Saya ingat dengan khotbah John Piper (Pendeta Gereja Baptis di Amerika), kalau kita lagi jaman perang tidak mungkin dong kita perang tapi pakai ember, lempar batu, ataupun bambu runcing sedangkan yang lain sudah pakai senjata UZI dan kaliber yang tinggi. Nah demikian dengan teknologi jaman sekarang, baiklah kita memakai segala sesuatu yang sifatnya membantu namun bukan menjadi yang utama untuk memberitakan Injil Kristus.
Saya takut banyak Gereja yang mulai melihat seperti ini -- "wah itu gereja keren yah ada Twitter, Facebook, ayo kita bikin juga" kalau motivasi dari awal seperti ini tentunya teknologi disalah gunakan hanya untuk menambah "keren"nya satu gereja, apakah gereja hanya ditentukan dari hal-hal yang seperti itu. Tentu saya tidak melarang gereja punya website, facebook, twitter, podcast dan yang lainnya, intinya adalah motivasinya. Harus ada strong line antara memakai teknologi tersebut untuk kemuliaan Tuhan atau memakai teknologi tersebut untuk kepuasan diri sendiri, hal ini sering tidak disadari. Seolah-olah untuk kemuliaan Tuhan tapi ternyata untuk kepuasan diri sendiri. Saya pikir benar-benar harus dibikin garis pemisah yang benar-benar tebal antara keduanya supaya tidak ada kerancuan.
Nah akhir kata, silahkan berfacebook ria dan twitter ria ataupun sosialisasi melalui internet, tapi hati-hatilah akan motivasi kita, jangan sampai kita hanya melakukan semua hal tersebut supaya kita dipandang hebat dan baik, nantinya bakal jatuh ke dalam jerat humanisme.
Sharing ini saya tulis karena terinspirasi dari artikel yang saya baca mengenai "Corat Coret Seputar Facebook" oleh Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S, Ph.D. (Cand)
Namun bagi anak-anak muda sekarang, Facebook menjadi sesuatu yang harus, sepertinya di top of their list. Sepertinya tanpa Facebook sulit rasanya satu sama lain bersosialisasi, demikian halnya dengan social networking yang lainnya seperti Friendster, Twitter, MySpace dan masih banyak yang lainnya.
Tujuan dari website tersebut adalah supaya satu sama lain tetap berhubungan dan saling memberitahu apa yang sedang terjadi, entah itu baru pulang holiday, makan di restoran mewah, pakai pakaian yang bagus, baru punya anak -- tentu saya tidak melarang semua orang punya Facebook, namun larut makin larut Facebook bisa menjadi ajang untuk menonjolkan diri sendiri, "ini loh saya baru pulang dari Hongkong" misalnya. Seolah-olah memberitahukan ke dunia mengenai kehidupannya, tentu ini tidak salah juga tapi jangan sampai motivasi kita menjadi terkontaminasi dengan hal-hal yang mau menonjolkan diri, saya teringat bahwa di dalam Alkitab pun, tertulis di jaman-jaman akhir ini orang mulai mencintai dirinya sendiri.
Saya rasa, tidak ada orang yang mau taruh foto mereka yang jelek di facebook, pasti dikasih yang bagus bagus -- walaupun ada mungkin persentasinya kecil sekali. Mereka berlomba-lomba menaruh foto-foto yang bagus, dan setiap foto baru dipasang, semua teman, teman lama, teman yang baru ketemu, yang ada di facebook diberitahu. "Halo halo si Unyil pasang foto baru -- klik di sini kalau mau liat"
Belum lagi adanya rasa iri hati akan timbul seperti "aduh sih Unyil koq pergi ke Eropa yah, koq saya ngak bisa yah, aduh kenapa saya ngak bisa pergi yah, aduh si Unyil beruntung sekali, I wish I can go there one day" kembali tidak semua akan berpikiran seperti ini, ini hanyalah salah satu contoh yang bisa terjadi.
Pokoknya ujung-ujungnya membahas mengenai manusia, apa yang mereka makan, apa yang bagus dipakai "Eh si Melanie (pacarnya Unyil) pakai gaun bagus loh baru beli di Eropa, wah rasanya saya bisa cocok juga kalau pakai itu", yang akhirnya adalah semuanya hanya untuk memuaskan diri pribadi, memenuhi keinginan manusia untuk menjadi lebih daripada yang lain.
Namun tidak sedikit juga penginjilan memakai Facebook, sampai sekarang saya sendiri belum menganalisa secara lebih jauh lagi apakah penginjilan seperti ini efektif atau tidak. Mungkin bisa efektif juga, tapi mudah-mudahan tidak sampai merusak motivasi yg sejati yaitu mengabarkan kebenaran Injil yang sejati itu.
Saya ingat dengan khotbah John Piper (Pendeta Gereja Baptis di Amerika), kalau kita lagi jaman perang tidak mungkin dong kita perang tapi pakai ember, lempar batu, ataupun bambu runcing sedangkan yang lain sudah pakai senjata UZI dan kaliber yang tinggi. Nah demikian dengan teknologi jaman sekarang, baiklah kita memakai segala sesuatu yang sifatnya membantu namun bukan menjadi yang utama untuk memberitakan Injil Kristus.
Saya takut banyak Gereja yang mulai melihat seperti ini -- "wah itu gereja keren yah ada Twitter, Facebook, ayo kita bikin juga" kalau motivasi dari awal seperti ini tentunya teknologi disalah gunakan hanya untuk menambah "keren"nya satu gereja, apakah gereja hanya ditentukan dari hal-hal yang seperti itu. Tentu saya tidak melarang gereja punya website, facebook, twitter, podcast dan yang lainnya, intinya adalah motivasinya. Harus ada strong line antara memakai teknologi tersebut untuk kemuliaan Tuhan atau memakai teknologi tersebut untuk kepuasan diri sendiri, hal ini sering tidak disadari. Seolah-olah untuk kemuliaan Tuhan tapi ternyata untuk kepuasan diri sendiri. Saya pikir benar-benar harus dibikin garis pemisah yang benar-benar tebal antara keduanya supaya tidak ada kerancuan.
Nah akhir kata, silahkan berfacebook ria dan twitter ria ataupun sosialisasi melalui internet, tapi hati-hatilah akan motivasi kita, jangan sampai kita hanya melakukan semua hal tersebut supaya kita dipandang hebat dan baik, nantinya bakal jatuh ke dalam jerat humanisme.
Sharing ini saya tulis karena terinspirasi dari artikel yang saya baca mengenai "Corat Coret Seputar Facebook" oleh Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S, Ph.D. (Cand)
