Recent Posts

02 January, 2013

Hamba Tuhan Pengalaman

Kenapa yah banyak Hamba Tuhan "berkhotbah" selama 40-50 menit. Tetapi sekitar 70-80 persen atau tidak sedikit 90 persen dari waktu tersebut dihabiskan untuk menceritakan pengalaman pribadinya bersama Tuhan. Bukan saya menentang hal tersebut, tetapi apakah Mimbar adalah tempat yang tepat untuk sekedar menceritakan pengalaman pribadi?

Bahkan ada hamba Tuhan yang sama sekali tidak membuka Alkitab ketika sedang berkhotbah, kalau membuka pun hanya sebagai satu "keharusan" terlepas khotbah yang dilontarkan sama sekali tidak berhubungan dengan ayat alkitab yang dibuka.

Kalau memang begitu, mungkin lebih baik jika gereja mencari orang-orang yang pandai berbicara dan mempunyai pengalaman yang banyak bersama Tuhan (bukan berarti Hamba Tuhan tidak mempunyai pengalaman yang banyak).

Satu sisi gereja mengharuskan seorang Hamba Tuhan adalah lulusan dari STT (Sekolah Tinggi Teologia), bahkan gereja tertentu mengharuskan Hamba Tuhan lulus dari STT tertentu juga. Tetapi di sisi lain selama Hamba Tuhan tersebut dapat berbicara di Mimbar dan dapat menarik perhatian jemaat itu sudahlah cukup tanpa memperhatikan apakah benar Hamba Tuhan tersebut sedang mengajar Firman Tuhan atau tidak.

Bahkan tidak sedikit Hamba Tuhan yang berkhotbah seperti layaknya seorang marketing executive yang tengah menjajakan produknya, gerejanya dalam hal ini.

Jadi perlukah seorang Hamba Tuhan menceritakan pengalaman hidupnya bersama Tuhan di Mimbar, jika yah seberapa banyak?

Apakah khotbah di Mimbar masih dapat dinamakan khotbah ketika tidak ada pengajaran tentang Firman Tuhan melalui Alkitab sebagai Otoritas Allah untuk umat Kristen?

1 comments:

Krisma said...

ya memang hal tersebut banyak terjadi (pengalaman pribadi)..kadang hanya untuk memenuhi kebutuhan 'konsumen' dimana memang kita ter'bius' dengan hal itu kebanyakan sehingga hal tersebut dijadikan patokan untuk melakukan khotbah..bahkan ada juga yang pengalaman tersebut dibuat sbuah crita sdikit 'lucu' agar lebih menarik namun hanya ada sdikit/hampir tidak ada pesan Tuhan disampaikan. Dan pada akhirnya 'konsumen' itu sendiri yang harus memilah mana yang baik dan yang benar akan hal tersebut. Namun pertanyaan berikutnya berapa banyak-kah 'konsumen' yang melakukan hal tersebut ? :)..GBU

Post a Comment