Recent Posts

25 March, 2012

Jemaat Banyak = Pertumbuhan Gereja?

Tidak sedikit dari kita yang selalu menilai pertumbuhan gereja melalui meningkatnya orang yang hadir setiap minggunya untuk beribadah di gereja, jemaat yang hadir di pendalaman Alkitab, di persekutuan doa, banyaknya kelompok sel yang ada, segala sesuatu dinilai dari "angka", entah itu jumlah orang yang hadir bahkan sampai jumlah persembahan yang diterima oleh sebuah gereja.

Dengan demikian banyak juga kita sering terjebak dalam "meningkatkan" jumlah orang yang hadir gereja dengan cara-cara yang menurut kita dapat berhasil meningkatkan jumlah tersebut.  Baik dari segi musik, segi komunitas maupun segi-segi lain yang kita anggap dapat lebih cepat untuk "menarik" orang-orang baru memenuhi ke gereja. Tanpa peduli apakah orang-orang tersebut sudah mempunyai tempat ibadah atau belum, atau sudah percaya atau tidak percaya

Seringkali kita "merekayasa" dengan cara mengiming-imingkan bagusnya gereja kita, baik secara langsung maupun tidak langsung.

"Ayo ke gereja saya saja, orangnya ramah-ramah"
"Ayo ke gereja saya saja, orangnya banyak yang cakep-cakep"
"Ayo ke gereja saya saja, musiknya keren banget loh"
"Ayo ke gereja saya saja, Firman Tuhannya benar-benar dahsyat"
"Ayo ke gereja saya saja, Hamba Tuhannya diurapi"

"Ayo ke gereja saya saja, ada makanannya habis selesai ibadah"
"Ayo ke gereja saya saja, kursinya empuk enak kalau buat dengar khotbah"
"Ayo ke gereja saya saja, ada kelas fotografi, kelas bahasa inggris, kelas-kelas lain"

Masih banyak lagi contoh-contoh seperti di atas. Kita merasa dengan kita melakukan A sampai Z, maka secara otomatis jumlah itu akan bertambah, tidak peduli apakah bertambah itu benar-benar bertambah orang-orang yang tadinya bukan orang Kristen ataupun orang yang hanya berpindah dari satu gereja ke gereja yang lain.

Sistem dan metode pun diterapkan dengan harapan untuk meningkatkan jumlah orang yang hadir dalam sebuah gereja yang menjadi satu bukti apakah gereja itu bertumbuh atau tidak. Definisi pertumbuhan gereja pun sudah menjadi rancu, karena hanya terbatas di dalam kuantitas yang hadir tanpa melihat faktor-faktor lain yang mungkin menjadi salah satu indikasi pertumbuhan gereja tersebut.

Sistem dan metode tersebut tidak sedikit ditiru dari gereja-gereja yang sudah banyak kuantitas jemaatnya, jika gereja besar, katakan Gereja A, bertambah 10% setiap tahunnya dalam hal jumlah orang yang hadir karena mereka melakukan Program B, maka gereja C mulai dan mempelajari serta menerapkan Program B dengan satu harapan akan berhasil di gereja C, sedangkan kita tahu pada kenyataannya tidak selalu hasilnya sama, karena hasil kembali hanya dari Tuhan saja yang memberikan, tidak ada yang mutlak dalam hal sistem dan metode tersebut, walaupun tidak berarti kita tidak usah memikirkan sistem dan metode.

Jadi bagaimana menilai pertumbuhan gereja? Apakah semata-mata hanya melalui kuantitas saja? Jika kuantitas apakah hanya kuantitas orang-orang Kristen yang baru percaya atau dicampur-adukkan dengan orang-orang Kristen pindahan gereja lain?

17 March, 2012

Menunggu tetapi pasti

Hari Jumat 16 Maret 2012, jam 6 pagi saya ikutan dalam mengantri di Apple Store untuk membeli iPad yang baru. Setiba saya di sana mungkin sudah sekitar 100 orang berkumpul untuk membeli iPad yang baru.

Walaupun toko dibuka pada jam 8 pagi, tetapi barisan antrian tidak maju-maju, sampai sekitar 10 - 15 menit baru maju. Sampai sekitar 8.30 saya masih belum masuk ke dalam Apple Store, jadi saya memutuskan memberikan Kartu Stock saya kepada teman saya, dan saya langsung berangkat ke kantor.

Kartu stock ini dibagikan sebelumnya, untuk memberitahu Apple, jenis iPad apa yang ingin kita ambil, setelah kartu stock itu habis berarti tidak ada iPad yang tersedia lagi. Semua orang yang mengantri tetap sabar dan percaya kalau mereka sudah mempunyai kartu stock itu maka mereka akan mendapatkan iPad yang baru, dan juga karena reputasi Apple dari kejadian-kejadian masa lampau di mana Apple selalu menepati janjinya.

Demikian dengan perjalanan kekristenan kita, seringkali kita menunggu dan menunggu pertolongan Tuhan, tetapi kita tidak pernah tahu kapan kita akan menerima pertolongan itu. Tetapi kita tahu Tuhan akan menolong kita tepat pada waktunya, karena Dia sudah pernah menolong kita di masa yang lampau, bahkan karena Dia sudah pernah mati untuk kita sebelum kita lahir.

Dia Allah yang tidak pernah lalai dan Dia Allah yang selalu menepati janjiNya bagi kita umatNya. Menunggulah terus dan lihatlah karya Tuhan di dalam hidupmu.

14 March, 2012

TUHAN yang memberi dan mengambil

Manusia memang tidak pernah puas, kita terus harus bergumul untuk hal ini. Jangan sampai kita tidak mengucap syukur atas apa yang Tuhan sudah berikan dalam hidup kita. Walaupun kita sudah puas pun, kita tetap harus mengingat bahwa apa yang kita miliki hanyalah titipan Tuhan dalam kehidupan kita, tidak sepatutnya kita membanggakan diri.

Pergumulan di dalam dunia berkisar antara 2 hal:

1. Sesuatu yang belum kita miliki tetapi kita ingin sekali memilikinya hanya untuk memuaskan diri kita sendiri.
2. Sesuatu yang sudah kita miliki dan menganggapnya sebagai hasil kerja keras kita semata-mata sehingga kita menjadi sombong.


For all that is in the world—the desires of the flesh and the desires of the eyes and pride in possessions—is not from the Father but is from the world.
1 John 2:16 ESV

Biarlah kita belajar dari Ayub yang mengatakan dengan telanjang aku keluar dari rahim ibuku, dengan telanjang juga aku kembali. TUHAN yang memberi dan TUHAN yang mengambil. Jikalau kita belum menerima apa yang kita belum miliki baiklah kita percaya TUHAN yang memberikan pada waktunya (ataupun tidak), dan biarlah ketika kita memiliki sesuatu ingatlah bahwa satu saat TUHAN akan "mengambilnya".

And he said, “Naked I came from my mother’s womb, and naked shall I return. The LORD gave, and the LORD has taken away; blessed be the name of the LORD.”
Job 1:21

10 March, 2012

Terima kasih


Terima kasih untuk rasa kehilangan,
Supaya kami dapat bersuka ketika mendapatkan

Terima kasih untuk beratnya satu pekerjaan
Supaya kami menikmati apa itu istirahat

Terima kasih untuk sakit
Supaya kami merasakan apa itu sembuh

Terima kasih untuk satu kehancuran
Supaya kami mengerti apa itu membangun

Terima kasih untuk tangisan air mata
Supaya kami dapat bersenda dengan tawa

Terima kasih untuk satu ratapan
Supaya kami belajar bagaimana kami menari
Terinspirasi dari Pengkhotbah 3:1-4

05 March, 2012

Displin oh...Disiplin

Saya belum pernah menyelesaikan pembacaan Alkitab secara keseluruhan. Salah satu resolusi tahun ini adalah menyelesaikannya. Saya meng-install aplikasi YouVersion di iPhone saya, aplikasi tersebut mempunyai fitur untuk membaca Alkitab selama setahun dengan reminder setiap harinya kalau-kalau saya lupa ataupun sedang “malas”.

Saya sudah memasuki hari ke 58. Namun sudah sekitar 3 hari saya terlambat karena tidak membacanya, disebabkan oleh kesibukan-kesibukan di dalam pekerjaan, pelayanan, sekolah. Saya mulai “membenarkan diri” melalui hal-hal tersebut, seraya berkata “Ah tidak apa-apa, nanti saya kejar”, yang menjadi hal yang terpenting adalah bukan hanya untuk menyelesaikan pembacaan tersebut, tetapi displin, saya harus lebih belajar mendisplinkan diri dalam mengikuti jadual yang telah ditentukan.

Kerapkali saya jatuh di dalam jebakan sesuatu hal yang penting tidak saya kerjakan atau saya tunda, sedangkan hal yang kurang penting malahan saya kerjakan lebih dahulu. Selain daripada itu seringkali membaca Alkitab di iPhone lebih sulit dibandingkan membaca di Alkitab biasa karena keinginan untuk bermain games, menjelajah situs, melihat facebook lebih tinggi ketika iPhone di depan mata.

Tuhan tolong beri kekuatan untuk saya mendisiplinkan diri.