Telah kulupakan,
Dingin yang selalu menusuk sukmaku
Telah pergi meninggalkan jejak-jejak angin
Datanglah bunga-bunga yang bermekaran
Menatap harapan di depan
Sambil tertawa bersama sang Kumbang
Ditemani oleh gemerisik air di tepi pelabuhan itu
Terima kasih Tuhan atas musim semi
Di mana harapan itu lahir kembali
Recent Posts
Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts
03 September, 2012
24 August, 2012
Harapan
Posted by
Anton Triyanto
Yah..
Aku mengulurkan tanganku ke dalam lumpur itu..
Walaupun kotor tetapi akan kuterima apa adanya
Aku memang mungkin tidak dapat menjadi penolongmu
Tetapi aku akan selalu mencoba dan menanti engkau meraih tanganku.
Aku mendengar sayup-sayup suaramu, dari hati kecilmu
Aku akan menemanimu agar engkau tidak sendiri.
Di dalam lumpur itu, aku akan berikan kehangatan, terang dan harapan.
Aku mengerti...
Engkau selalu memohon untuk keluar dari kubangan itu.
Biarlah aku mencoba membawa engkau keluar dari sana...
Engkau tidah harus terjatuh kembali
Engkau tidak harus mendengarkan perkataan yang lain...
yang menjatuhkanmu..
Engkau sanggup mengatakan TIDAK!
Sebuah kata yang memang begitu singkat
Akan kubantu membuka bibirmu yang kelu...
Saat hendak mengucapkan kata itu...
Yah..engkau sanggup
Saat itu sudah berlalu...
Katakanlah TIDAK, supaya engkau tidak akan terjerembab kedua kalinya
Aku menunggumu di atas sini
Melihat ke bawah...
Dengan penuh pengharapan
Sambil mengulurkan tanganku
Untuk mencoba menolongmu
Yah,
Semoga puisi ini sanggup untuk membangunkanmu dari lumpur penyesalan itu.
05 August, 2012
Meledak
Posted by
Anton Triyanto
Hari itu, aku tak dapat menahan gelora di kalbu.
Berulang kali aku mencoba mengatupkan bibirku,
Namun hati itu terus mendorongku,
Sampai bendungan hatiku hancur luluh,
meledak karena rasa di dalam relung.
Berulang kali aku mencoba mengatupkan bibirku,
Namun hati itu terus mendorongku,
Sampai bendungan hatiku hancur luluh,
meledak karena rasa di dalam relung.
02 July, 2012
Menanti di dalam Kereta
Posted by
Anton Triyanto
Aku menghempaskan aku di sebuah bangku kereta
Sementara roda-roda kereta tertawa kecil menikmati indahnya dedaunan
Mata hatiku tidak dapat terpejam menantikan masa depan di lembaranku
Akan ku raih seluruh impian-impian indah itu dalam sanubariku
Bersabarlah, sampai kutiba di stasiun terakhir
Selangkah lebih dekat lagi akan terkabulnya harapanku.
11 June, 2012
Bumi dan hujan
Posted by
Anton Triyanto
Titik demi titik membasahi permukaanku
Sudah kunanti masa-masa ini
Masa di mana Engkau memberikan kehidupan
Kehidupan melalui lembutnya sapaan air
Walau dingin masuki tulang dan sumsum
Bahkan menusuk ke kalbuku
Ku tetap bersyukur untuk kehidupan yang Kau beri
Kehidupan yang penuh dengan harapan
Sudah kunanti masa-masa ini
Masa di mana Engkau memberikan kehidupan
Kehidupan melalui lembutnya sapaan air
Walau dingin masuki tulang dan sumsum
Bahkan menusuk ke kalbuku
Ku tetap bersyukur untuk kehidupan yang Kau beri
Kehidupan yang penuh dengan harapan
15 April, 2012
Bayang-bayang
Posted by
Anton Triyanto
Didesak dari dua sisi berbeda
yang tak dikenal sepenuhnya
Entah, seraya halimun menyelimuti pagi,
demikian satu sisi tertutup dalam bayang
Bayang-bayang kekecewaan...
Bayang-bayang ketakutan..
Sampai secercah cahaya mentari menyapa
Meninggalkan bekas menjadi terang
Benar, laksana embun pagi segar
demikian sisi yang lain bertumbuh dalam bayang
Bayang-bayang pengharapan...
Bayang-bayang kesempurnaan...
11 April, 2012
Pengharapan yang sejati
Posted by
Anton Triyanto
Sayup-sayup suara itu terdengar kembali,
Meraih sukmaku yang kelabu
Bibirku terkatup mengerang kesakitan
Diam seribu bahasa menatap kehampaan
Jari-jariku enggan terbuka, terkunci satu sama lain
Kakiku tak mampu menahan seluruh tubuhku
Aku menggigil di sudut lorong itu
Di antara sampah-sampah dan kegelapan yang mencekam
Sampai kulihat secercah cahaya di ujung lorong itu
Pengharapan yang sejati yang membebaskanku
10 March, 2012
Terima kasih
Posted by
Anton Triyanto
Terima
kasih untuk rasa kehilangan,
Supaya kami dapat bersuka ketika mendapatkan
Terima kasih untuk beratnya satu pekerjaan
Supaya kami menikmati apa itu istirahat
Terima kasih untuk sakit
Supaya kami merasakan apa itu sembuh
Terima kasih untuk satu kehancuran
Supaya kami mengerti apa itu membangun
Terima kasih untuk tangisan air mata
Supaya kami dapat bersenda dengan tawa
Terima kasih untuk satu ratapan
Supaya kami belajar bagaimana kami menari
Supaya kami dapat bersuka ketika mendapatkan
Terima kasih untuk beratnya satu pekerjaan
Supaya kami menikmati apa itu istirahat
Terima kasih untuk sakit
Supaya kami merasakan apa itu sembuh
Terima kasih untuk satu kehancuran
Supaya kami mengerti apa itu membangun
Terima kasih untuk tangisan air mata
Supaya kami dapat bersenda dengan tawa
Terima kasih untuk satu ratapan
Supaya kami belajar bagaimana kami menari
Terinspirasi
dari Pengkhotbah 3:1-4
11 December, 2009
I'm grateful
Posted by
Anton Triyanto
I'm grateful for joy
I'm grateful for sorrow
I'm grateful for the rain
I'm grateful for the draught
In Christ I'm grateful
I'm grateful for sorrow
I'm grateful for the rain
I'm grateful for the draught
In Christ I'm grateful
02 December, 2009
Kehilanganku Mendapatkan-Mu
Posted by
Anton Triyanto
Waktu bayi, aku senang sekali kalau susu datang menghampiri
Beranjak anak-anak, mainanlah yang membuat hidup semarak
Namun saat dewasa, kudamba kebahagiaan dalam kesuksesan
Kupikir semua itu bisa kudapat dalam harta dan kemewahan
Sampai suatu saat, 'ku bertobat, mengenal Sang Juruselamat
Hidupku dipenuhi berkat dan acapkali 'ku takjub akan mujizat.
'Ku kerja mati-matian, manfaatkan kesempatan, keruk keuntungan.
Namun semakin banyak kudapat, semakin takut aku kehilangan.
Semakin 'ku hidup berkelimpahan, semakin takut aku 'kan kemiskinan.
Aku berusaha habis-habisan, menjaga semua yang telah kudapatkan
Aku tak tahu lagi apa yang jadi tujuan, aku hanyut oleh kelimpahan
Aku melihat kasih Tuhan, kasihNya kurasakan melalui pemberian
Tapi jujur kukatakan, aku menikmati pemberian lebih daripada Tuhan.
Sampai suatu saat, Dia berbicara dengan bahasa kehilangan.
Suatu saat, tanganNya terangkat, maka hilanglah seluruh berkat.
Namun sangat ajaib! Sang Pemberi berkat kurasa hangat mendekat.
Suatu saat tanganNya kuat menekan, maka hilanglah kesehatan.
Dan harapan pun beralih pada Sang Sumber Hidup yang maha mapan
Suatu saat aku berteriak, tapi doaku bagaikan sirna ditelan hampa
Di situlah aku belajar mempercayai Dia bukan dengan cara fana
Pada saat aku memiliki dunia, sebenarnya aku tidak merasakan DIA.
Pada saat aku kehilangan semua, barulah kusadari sepenuhnya,
Kalau sebenarnya telah kudapatkan semua, bahkan lebih dari semua
Suyanto Japara
Beranjak anak-anak, mainanlah yang membuat hidup semarak
Namun saat dewasa, kudamba kebahagiaan dalam kesuksesan
Kupikir semua itu bisa kudapat dalam harta dan kemewahan
Sampai suatu saat, 'ku bertobat, mengenal Sang Juruselamat
Hidupku dipenuhi berkat dan acapkali 'ku takjub akan mujizat.
'Ku kerja mati-matian, manfaatkan kesempatan, keruk keuntungan.
Namun semakin banyak kudapat, semakin takut aku kehilangan.
Semakin 'ku hidup berkelimpahan, semakin takut aku 'kan kemiskinan.
Aku berusaha habis-habisan, menjaga semua yang telah kudapatkan
Aku tak tahu lagi apa yang jadi tujuan, aku hanyut oleh kelimpahan
Aku melihat kasih Tuhan, kasihNya kurasakan melalui pemberian
Tapi jujur kukatakan, aku menikmati pemberian lebih daripada Tuhan.
Sampai suatu saat, Dia berbicara dengan bahasa kehilangan.
Suatu saat, tanganNya terangkat, maka hilanglah seluruh berkat.
Namun sangat ajaib! Sang Pemberi berkat kurasa hangat mendekat.
Suatu saat tanganNya kuat menekan, maka hilanglah kesehatan.
Dan harapan pun beralih pada Sang Sumber Hidup yang maha mapan
Suatu saat aku berteriak, tapi doaku bagaikan sirna ditelan hampa
Di situlah aku belajar mempercayai Dia bukan dengan cara fana
Pada saat aku memiliki dunia, sebenarnya aku tidak merasakan DIA.
Pada saat aku kehilangan semua, barulah kusadari sepenuhnya,
Kalau sebenarnya telah kudapatkan semua, bahkan lebih dari semua
Suyanto Japara
11 July, 2009
Bangun dan terlelap
Posted by
Anton Triyanto
Ketika aku bangun,
Matahari serasa enggan menyapaku
Embun-embun pun tak mau menitikkan berkasnya
Burung-burung membisu tanpa kicauan
Ketika aku bangun,
Awan bertiup mengumpal menjadi satu
Guntur pun bersahutan dengan riangnya
Air mata jatuh membasahi bumi
Ketika aku bangun,
KemuliaanNya terkuak dari balik kalbuku
Kalbu yang hampir saja pudar
Dan kini aku terlelap
terlelap dalam pelukanNya
Matahari serasa enggan menyapaku
Embun-embun pun tak mau menitikkan berkasnya
Burung-burung membisu tanpa kicauan
Ketika aku bangun,
Awan bertiup mengumpal menjadi satu
Guntur pun bersahutan dengan riangnya
Air mata jatuh membasahi bumi
Ketika aku bangun,
KemuliaanNya terkuak dari balik kalbuku
Kalbu yang hampir saja pudar
Dan kini aku terlelap
terlelap dalam pelukanNya