Kalimat 'membatasi Allah' sangat menganggu saya sekali dari hari kemarin -- saya teringat ketika saya berada di dalam ruang kebaktian bersekutu dengan teman-teman seiman, kemudian ketika kita menaikkan syukur kita kepada Allah melalui nyanyian, pemimpin pujian berkata "mari angkat suaramu lebih keras lagi -- jangan membatasi Allah"
Hmm...apakah benar kita dapat membatasi Allah? Saya rasa tidak, bukankah Dia Allah yang Maha Kuasa, bukankah ketika kita sudah dilahirkan baru, secara otomatis kita akan menyanyi dengan hati nurani yang murni bukan karena paksaan dan dibuat-buat, karena bukan oleh hal itulah kita menikmati Allah, tetapi karena kita sudah menikmati Allah-lah kita akan menyanyi dengan sukacita yang penuh kepada Allah. Jadi menyanyi dengan sepenuh hati adalah bukti bukan penyebab.
Bukankah kita yang terlalu membatasi Allah? Seolah-olah Allah hanya dapat bekerja ketika kita mengangkat suara kita lebih keras, atau permainan musik yang mengetarkan hati kita, membuat kita mengebu-gebu dalam hati untuk memiliki hasrat akan hadirat Tuhan?
Ketika kita menyanyi bukanlah bertujuan untuk menurunkan 'hadirat Tuhan', namun karena kita sudah mengalami hadirat Tuhan di dalam hidup sehari-hari kita untuk itulah kita dapat menyanyi dengan penuh hasrat dan rasa ucapan syukur kepada Tuhan.
How is it possible to worship God publicly once each week when we do not worship Him privately throughout the week? (Spiritual Disciplines for the Christian Life, pp.93).
Recent Posts
0 comments:
Post a Comment