Recent Posts
28 April, 2011
If Jesus had a Twitter account
Posted by
Anton Triyanto
If Jesus had a Twitter account, he may not have many followers because it's not as easy as clicking the "Follow Me" button. (Luke 9:23)
Seeking God's favor by doing good things
Posted by
Anton Triyanto
Often we would like to believe we are the younger son who repented, yet we act like the older son who keep seeking God's favor by doing good things as the cause not as the consequence.
26 April, 2011
Christians are the most miserable people
Posted by
Anton Triyanto
Christians are the most miserable people, only if Christ had not risen.
We may not always get what we want
Posted by
Anton Triyanto
We may not always get what we want but we will always receive what we need.
You can't please everyone
Posted by
Anton Triyanto
You can't please everyone, especially pleasing self-righteous people. They were like children refusing to play either a sad or a happy game. (Luke 7:32-34)
23 April, 2011
Why whinge so much?
Posted by
Anton Triyanto
God cannot love you more than He loves you in the death of His only begotten Son. So why whinge so much about this life?
The proof of His love
Posted by
Anton Triyanto
The proof of His love based on not in our granted wishes, nor the ungranted one. The proof: Christ died for us while we were still sinners.
22 April, 2011
Kasihilah Musuhmu
Posted by
Anton Triyanto
Matius 5:44a
Tetapi Aku (Yesus) berkata kepadamu (kita): Kasihilah musuhmu...
Perkataan Yesus ini membuat saya merenung, bagaimana kita dapat mengasihi musuh kita? Pertanyaannya bukanlah bagaimana namun mengapa kita dapat mengasihi musuh kita?
Cara-cara manusia berusaha untuk melupakannya dengan cara tidak pernah mau untuk mengingat-ingat kejadian buruk yang orang lain lakukan terhadap kita, seolah-olah dengan menjalankan hal tersebut kita akan berangsur-angsur mengampuni musuh kita dan mengasihinya. Bahkan ada pepatah mengatakan hanya waktulah yang akan menyembuhkan luka. Saya agak skeptis dengan pernyataan tersebut, karena fakta berbicara banyak orang yang masih mempunyai musuh setelah bertahun-tahun lamanya.
Dalam Jumat Agung tahun ini kembali kita diingatkan untuk mengampuni orang lain sama seperti Allah telah mengampuni kita melalui AnakNya, Yesus Kristus yang mati menjadi tebusan bagi kita.
Pertanyaan berikutnya adalah, apakah kita benar-benar yakin bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah karena kasih karunia Allah semata-mata, tidak ada satupun dari kita yang dapat luput dari murka Allah, tanpa melalui penebusan Kristus.
Namun bagi sebagian besar orang pengampunan Kristus untuk kita tidak terlalu terkait dengan pengampunan kita terhadap orang yang telah bersalah kepada kita. Ketika saya tidak bisa mengampuni, saya akan bertanya kepada diri sendiri benarkah pengampunan Allah yang menurut saya ada dalam diri saya adalah pengampunan yang sejati?
Jika memang demikian, seharusnya tidak ada lagi kata 'musuh' di dalam kamus kita, manusia bukanlah musuh kita. Ketika Tuhan mengajarkan kita untuk mengasihi musuh kita, hanya melalui kasih Kristus sajalah kita bisa mengasihi mereka, secara otomatis bagi kita, mereka bukanlah 'musuh' kita lagi. Mengapa masih dikatakan musuh? Jika mereka adalah orang percaya kepada Kristus tentu mereka tidak akan menganggap kita musuh lagi, tetapi justru karena mereka belum mengalami pengampunan tersebut untuk itulah mereka akan selalu menganggap kita 'musuh'.
Di Jumat Agung ini baiklah kita bertanya kepada diri sendiri, benarkah kita sudah mengalami pengampunan yang sejati itu? Jika sudah, mengapa kita masih menganggap 'musuh' kepada orang yang berbuat buruk kepada kita?
Selidiki hati kami, ya Tuhan. Biarlah kami mengalami pengampunan sejati tersebut, dan terus mengingat betapa Engkau telah menyatakan kasihMu kepada kami, oleh karena Kristus telah mati untuk kami, ketika kami masih berdosa.
Tetapi Aku (Yesus) berkata kepadamu (kita): Kasihilah musuhmu...
Perkataan Yesus ini membuat saya merenung, bagaimana kita dapat mengasihi musuh kita? Pertanyaannya bukanlah bagaimana namun mengapa kita dapat mengasihi musuh kita?
Cara-cara manusia berusaha untuk melupakannya dengan cara tidak pernah mau untuk mengingat-ingat kejadian buruk yang orang lain lakukan terhadap kita, seolah-olah dengan menjalankan hal tersebut kita akan berangsur-angsur mengampuni musuh kita dan mengasihinya. Bahkan ada pepatah mengatakan hanya waktulah yang akan menyembuhkan luka. Saya agak skeptis dengan pernyataan tersebut, karena fakta berbicara banyak orang yang masih mempunyai musuh setelah bertahun-tahun lamanya.
Dalam Jumat Agung tahun ini kembali kita diingatkan untuk mengampuni orang lain sama seperti Allah telah mengampuni kita melalui AnakNya, Yesus Kristus yang mati menjadi tebusan bagi kita.
Pertanyaan berikutnya adalah, apakah kita benar-benar yakin bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah karena kasih karunia Allah semata-mata, tidak ada satupun dari kita yang dapat luput dari murka Allah, tanpa melalui penebusan Kristus.
Namun bagi sebagian besar orang pengampunan Kristus untuk kita tidak terlalu terkait dengan pengampunan kita terhadap orang yang telah bersalah kepada kita. Ketika saya tidak bisa mengampuni, saya akan bertanya kepada diri sendiri benarkah pengampunan Allah yang menurut saya ada dalam diri saya adalah pengampunan yang sejati?
Jika memang demikian, seharusnya tidak ada lagi kata 'musuh' di dalam kamus kita, manusia bukanlah musuh kita. Ketika Tuhan mengajarkan kita untuk mengasihi musuh kita, hanya melalui kasih Kristus sajalah kita bisa mengasihi mereka, secara otomatis bagi kita, mereka bukanlah 'musuh' kita lagi. Mengapa masih dikatakan musuh? Jika mereka adalah orang percaya kepada Kristus tentu mereka tidak akan menganggap kita musuh lagi, tetapi justru karena mereka belum mengalami pengampunan tersebut untuk itulah mereka akan selalu menganggap kita 'musuh'.
Di Jumat Agung ini baiklah kita bertanya kepada diri sendiri, benarkah kita sudah mengalami pengampunan yang sejati itu? Jika sudah, mengapa kita masih menganggap 'musuh' kepada orang yang berbuat buruk kepada kita?
Selidiki hati kami, ya Tuhan. Biarlah kami mengalami pengampunan sejati tersebut, dan terus mengingat betapa Engkau telah menyatakan kasihMu kepada kami, oleh karena Kristus telah mati untuk kami, ketika kami masih berdosa.