Tono: "Ko, saya butuh kerjaan nih!"
Komuda: "Ok, nanti saya doain"
Setelah berjalan 1 minggu...
Tono: "Ko, terima kasih yah saya dapat pekerjaannya, terima kasih buat doanya yah"
Komuda: "Puji Tuhan, iya ngak apa-apa"
Komuda (dalam hati):" Padahal saya ngak mendoakan kamu loh"
Berapa banyak sering kali kita menawarkan untuk mendoakan orang lain ketika mungkin orang tersebut sedang membutuhkan sesuatu atau menginginkan sesuatu, tidak sedikit juga yang secara blak-blakan mereka meminta kita untuk mendoakan mereka. Seringkali mulut ini tidak dapat mengatup dan otak tidak berpikir sejenak, seolah-olah yang menjadi jawaban atas permintaan tersebut selalu "Yah nanti saya akan doakan".
Pada kenyataannya kita tidak mendoakan orang tersebut. Jadi apakah tawaran untuk mendoakan hanya untuk basa-basi? Hanya untuk terlihat lebih rohanikah? Atau apa? Tentu kita berhutang bukan ketika kita berjanji akan mendoakan tetapi tidak mendoakannya.
Tidak sedikit dari kita jatuh ke jebakan seperti ini, bahkan ada saat di mana hal ini terjadi dalam hidup saya. Jebakan tersebut hanya untuk kelihatan lebih rohani maka semua hal yang dapat orang nilai secara rohani melalui mata mereka, kita lebih rela melakukannya dibandingkan untuk mempertanggunjawabkan hal tersebut di hadapan Tuhan yang melihat kedalaman relung hati kita. Kita rela menipu mereka dan menipu Tuhan hanya untuk sebuah status, yaitu status harga diri sebagai orang yang kelihatan lebih rohani.
Mari, jangan cepat-cepat menawarkan doa jika kita tidak dapat melakukannya, jangan hanya untuk kelihatan lebih rohani. Tetapi kalau memang kita diminta mendoakan, mari kita mendisiplinkan diri untuk mendoakan kebutuhan-kebutuhan mereka, terutama kebutuhan rohani mereka.
Recent Posts
31 January, 2012
28 January, 2012
Hari Orientasi di sekolah teologi
Posted by
Anton Triyanto
Entah saya mau memulai dari mana, hari orientasi yang saya takutkan akhirnya berakhir juga pada jam 5 sore ini, yang tadinya saya berkeinginan untuk tidak datang, setelah selesai hari orientasi hari ini, saya malah berpikir akan menyesal kalau tidak datang. Saya diberkati sekali dan memberikan kembali semangat terus untuk melakukan studi ini.
Saya akan merangkum secara singkat kejadian dan pengalaman apa saja yang terjadi dan yang saya dapat di hari orientasi hari ini namun tidak secara kronological.
1. Pengalaman yang tidak pernah saya alami masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi oleh murid-murid baru yang ingin belajar Alkitab baik itu 1, 3 ataupun 4 tahun, mungkin sekitar 100 orang lebih, tetapi yang lebih uniknya 90% dari mereka adalah orang Australia, atau mungkin tidak semua dari 90% itu adalah orang Australia, setidaknya mereka orang bule. Sebelumnya ada satu stereotype kepada orang bule bahwa mereka ateis, tetapi ternyata tidak semua orang bule adalah ateis, ini adalah pengalaman yang menarik.
2. Berlanjut dari pengalaman yang pertama, murid-murid baru ini berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, saya akan mencoba mengingat siapa saja mereka.
• Ada pengacara
• Ada direktur
• Ada yang tidak pernah kuliah di Universitas
• Ada engineer
• Ada pendeta
• Ada businessman
• Ada petani
• Ada guru
• Ada politician
• Ada yang bekeluarga
• Ada yang bekeluarga tetapi hanya salah satu yang studi
• Ada yang bercerai
• Ada yang punya anak
• Ada yang single
Ternyata tidak ada batasan dan kriteria tertentu untuk studi mengenai Tuhan, Anda bisa menjadi siapa saja, kalau Tuhan “memanggil” dalam keadaan apapun dan pekerjaan apapun, Tuhan dapat dan akan melakukan kehendakNya di dalam hidup Anda.
3. Pengalaman berikutnya adalah bertemu dengan satu pendeta yang tidak begitu lancar dalam berbahasa inggris, tetapi kerinduan dia untuk mengambil studi di Moore College membuat saya mengangkat jempol, tadinya saya berpikir inggris saya pas-pasan, Tuhan membukakan mata saya bahwa yang terpenting bukanlah hal tersebut.
4. Saya sempat ngobrol dengan beberapa orang, kebanyakan dari mereka orang-orang pintar, tetapi kepala sekolah dari sekolah tersebut membuat satu pernyataan bahwa studi di Moore College bukanlah satu kompetisi, mendapatkan nilai yang paling baik bukanlah segalanya, kita mungkin bisa mendapatkan nilai yang baik tetapi tidak benar-benar mengenal Tuhan.
5. Delapan hal yang penting yang John Woodhouse (Principal of Moore College) utarakan kepada murid-murid baru yang harus diperhatikan:
a. Mengenal Tuhan, rencanaNya dan tujuanNya di dalam hidup kita. Hati-hati terhadap bahaya pragmatis. Mengenal dan mengasihi Tuhan adalah tujuan.
b. Mengenal Tuhan adalah ideNya Tuhan bukan kita. Mengenal Tuhan dimulai dari tahu bahwa Tuhan yang mengenal kita terlebih dahulu.
c. Mengenal Tuhan bukan hanya mengetahui fakta-fakta. Mengenal Tuhan terkait erat sekali dengan kesalehan kita. Kita bisa baik dari segi akademis tetapi tidak benar-benar mengenal Tuhan
d. Mengenal Tuhan melibatkan intelektual
e. Di Moore College, kami diminta untuk belajar dengan sunguh-sungguh kerja keras, bukan hanya di pikiran semata tetapi menjalankannya di kehidupan sehari-hari.
f. Maksud point yang diatas ini adalah bahwa Moore College sama seperti gereja bukan universitas
g. Murid-murid yang sudah berkeluarga adalah penting, Moore College menyediakan satu komunitas di mana membantu murid-murid yang sudah bekeluarga untuk saling menopang satu sama lain.
h. Bertanggung jawab di dalam satu komunitas.
6. Menarik ketika John Woodhouse menerangkan hal terakhir (Bertanggung jawab di dalam satu komunitas) lebih mendalam lagi, berikut penjelasannya:
20 tahun yang lalu ada tembok pemisah ketika kita harus pergi ke toko untuk mengambil majalah porno sedangkan di dunia internet tidak ada, tembok pemisahnya hanyalah satu klik mouse. Untuk inilah Moore College menyediakan satu piranti lunak bernama Covenant Eyes untuk membantu murid-murid menciptakan tembok pemisah menuju internet pornografi, dengan cara memilih teman-teman yang dimana kita bisa percaya dan bertanggung jawab untuk memantau situs-situs yang kita lihat. Menggunakan program ini bukanlah sesuatu yang diharuskan tetapi dianjurkan, dan bukan hanya orang yang pernah bergumul akan masalah pornografi, tetapi juga orang yang sedang bahkan orang yang tidak pernah sama sekali jatuh dalam dosa pornografi di internet khususnya.
7. Ada dua lagu yang membuat saya meneteskan air mata sedikit ketika kami bersama-sama menyembah Tuhan. Amazing Grace (My Chains are gone) dan How deep the Father’s love for us.
Ketujuh hal tersebut di atas sangat mendorong saya, menyemangati dan mengingatkan kembali akan keputusan yang saya ambil ini untuk di kemudian hari menjadi pelayan Tuhan penuh waktu.
Tuhan memberkati Moore College, dosen-dosen pengajar, murid-murid yang baru, murid-murid yang masih belajar, dan murid-murid yang sudah lulus.
Saya akan merangkum secara singkat kejadian dan pengalaman apa saja yang terjadi dan yang saya dapat di hari orientasi hari ini namun tidak secara kronological.
1. Pengalaman yang tidak pernah saya alami masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi oleh murid-murid baru yang ingin belajar Alkitab baik itu 1, 3 ataupun 4 tahun, mungkin sekitar 100 orang lebih, tetapi yang lebih uniknya 90% dari mereka adalah orang Australia, atau mungkin tidak semua dari 90% itu adalah orang Australia, setidaknya mereka orang bule. Sebelumnya ada satu stereotype kepada orang bule bahwa mereka ateis, tetapi ternyata tidak semua orang bule adalah ateis, ini adalah pengalaman yang menarik.
2. Berlanjut dari pengalaman yang pertama, murid-murid baru ini berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, saya akan mencoba mengingat siapa saja mereka.
• Ada pengacara
• Ada direktur
• Ada yang tidak pernah kuliah di Universitas
• Ada engineer
• Ada pendeta
• Ada businessman
• Ada petani
• Ada guru
• Ada politician
• Ada yang bekeluarga
• Ada yang bekeluarga tetapi hanya salah satu yang studi
• Ada yang bercerai
• Ada yang punya anak
• Ada yang single
Ternyata tidak ada batasan dan kriteria tertentu untuk studi mengenai Tuhan, Anda bisa menjadi siapa saja, kalau Tuhan “memanggil” dalam keadaan apapun dan pekerjaan apapun, Tuhan dapat dan akan melakukan kehendakNya di dalam hidup Anda.
3. Pengalaman berikutnya adalah bertemu dengan satu pendeta yang tidak begitu lancar dalam berbahasa inggris, tetapi kerinduan dia untuk mengambil studi di Moore College membuat saya mengangkat jempol, tadinya saya berpikir inggris saya pas-pasan, Tuhan membukakan mata saya bahwa yang terpenting bukanlah hal tersebut.
4. Saya sempat ngobrol dengan beberapa orang, kebanyakan dari mereka orang-orang pintar, tetapi kepala sekolah dari sekolah tersebut membuat satu pernyataan bahwa studi di Moore College bukanlah satu kompetisi, mendapatkan nilai yang paling baik bukanlah segalanya, kita mungkin bisa mendapatkan nilai yang baik tetapi tidak benar-benar mengenal Tuhan.
5. Delapan hal yang penting yang John Woodhouse (Principal of Moore College) utarakan kepada murid-murid baru yang harus diperhatikan:
a. Mengenal Tuhan, rencanaNya dan tujuanNya di dalam hidup kita. Hati-hati terhadap bahaya pragmatis. Mengenal dan mengasihi Tuhan adalah tujuan.
b. Mengenal Tuhan adalah ideNya Tuhan bukan kita. Mengenal Tuhan dimulai dari tahu bahwa Tuhan yang mengenal kita terlebih dahulu.
c. Mengenal Tuhan bukan hanya mengetahui fakta-fakta. Mengenal Tuhan terkait erat sekali dengan kesalehan kita. Kita bisa baik dari segi akademis tetapi tidak benar-benar mengenal Tuhan
d. Mengenal Tuhan melibatkan intelektual
e. Di Moore College, kami diminta untuk belajar dengan sunguh-sungguh kerja keras, bukan hanya di pikiran semata tetapi menjalankannya di kehidupan sehari-hari.
f. Maksud point yang diatas ini adalah bahwa Moore College sama seperti gereja bukan universitas
g. Murid-murid yang sudah berkeluarga adalah penting, Moore College menyediakan satu komunitas di mana membantu murid-murid yang sudah bekeluarga untuk saling menopang satu sama lain.
h. Bertanggung jawab di dalam satu komunitas.
6. Menarik ketika John Woodhouse menerangkan hal terakhir (Bertanggung jawab di dalam satu komunitas) lebih mendalam lagi, berikut penjelasannya:
20 tahun yang lalu ada tembok pemisah ketika kita harus pergi ke toko untuk mengambil majalah porno sedangkan di dunia internet tidak ada, tembok pemisahnya hanyalah satu klik mouse. Untuk inilah Moore College menyediakan satu piranti lunak bernama Covenant Eyes untuk membantu murid-murid menciptakan tembok pemisah menuju internet pornografi, dengan cara memilih teman-teman yang dimana kita bisa percaya dan bertanggung jawab untuk memantau situs-situs yang kita lihat. Menggunakan program ini bukanlah sesuatu yang diharuskan tetapi dianjurkan, dan bukan hanya orang yang pernah bergumul akan masalah pornografi, tetapi juga orang yang sedang bahkan orang yang tidak pernah sama sekali jatuh dalam dosa pornografi di internet khususnya.
7. Ada dua lagu yang membuat saya meneteskan air mata sedikit ketika kami bersama-sama menyembah Tuhan. Amazing Grace (My Chains are gone) dan How deep the Father’s love for us.
Ketujuh hal tersebut di atas sangat mendorong saya, menyemangati dan mengingatkan kembali akan keputusan yang saya ambil ini untuk di kemudian hari menjadi pelayan Tuhan penuh waktu.
Tuhan memberkati Moore College, dosen-dosen pengajar, murid-murid yang baru, murid-murid yang masih belajar, dan murid-murid yang sudah lulus.
27 January, 2012
Mitos tentang Pendeta
Posted by
Anton Triyanto
Pendeta tidak berdosa (baca: dosanya dikit)
Pendeta lebih kudus
Pendeta doanya lebih ampuh
Pendeta adalah penyembuh
Pendeta harus kaya
Pendeta tidak boleh kaya
Pendeta harus lebih rohani
Pendeta tidak gampang marah
Pendeta lepas dari dosa seksual
Pendeta lebih dekat dengan Tuhan
Pendeta bisa menjadi pengantara ke Tuhan
Pendeta terlalu serius
Pendeta ...
Pendeta lebih kudus
Pendeta doanya lebih ampuh
Pendeta adalah penyembuh
Pendeta harus kaya
Pendeta tidak boleh kaya
Pendeta harus lebih rohani
Pendeta tidak gampang marah
Pendeta lepas dari dosa seksual
Pendeta lebih dekat dengan Tuhan
Pendeta bisa menjadi pengantara ke Tuhan
Pendeta terlalu serius
Pendeta ...
Saya memulai sekolah teologi
Posted by
Anton Triyanto
Selama bertahun-tahun saya mempunyai satu kerinduan untuk belajar lebih dalam mengenai Tuhan dan melayani Tuhan lebih baik lagi khususnya dalam mengajarkan Firman Tuhan kepada Jemaat Tuhan, sampai pada akhirnya tahun kemarin saya memutuskan untuk melihat-lihat sekolah teologi yang ada di kota Sydney, ada 3 tempat yang saya incar: SMBC, Moore College dan PTC, saya hanya datang ke Open Day di SMBC dan di Moore College tidak sempat pergi mengunjungi PTC. Ketiga sekolah ini mengajarkan alkitab secara alkitabiah.
Setelah berdoa dan berdiskusi dengan beberapa orang-orang dekat saya, saya akhirnya memutuskan mendaftar di Moore College, untuk alasan mengapa, saya akan jelaskan di lain waktu. Rencana saya, jika Tuhan berkehendak, saya akan kuliah 5 tahun part-time kemudian 3 tahun full-time, jadi jika tidak ada halangan saya akan lulus tahun 2020 dengan gelar BD (Bachelor of Divinity)
Minggu lalu saya sudah bertemu dengan wakil kepala sekolahnya, dan setelah melalui proses wawancara akhirnya saya diterima di tahun ini, saya akan memulai kelas saya di bulan Februari 2012, pelajaran pertama adalah Bahasa Yunani 1A.
Saya excited sekali, tetapi di satu pihak ada rasa ketakutan juga, karena saya tidak pernah menulis essay ketika saya mengambil sekolah komputer, dan memiliki Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua saya,tidak akan menjadi hal yang gampang juga untuk sekolah teologi dalam Bahasa Inggris. Masih banyak ketakutan-ketakutan yang lain akan saya sharing-kan di lain waktu.
Jika Anda bertanya mengapa saya memutuskan untuk mengambil sekolah teologi dan rindu melayani Tuhan secara fulltime, inilah tandanya: Lukas 10:2 Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.
Saya berharap setelah lulus atau bahkan selama saya di sekolah teologi, saya rindu untuk memberitahukan kabar Injil itu lebih efektif lagi kepada orang-orang yang belum pernah mendengar kabar Injil tersebut dan untuk orang-orang skeptis yang selalu mencela Firman Tuhan.
Saya meminta dengan sangat siapapun Anda untuk dapat mendoakan saya di dalam menyelesaikan studi ini.
Setelah berdoa dan berdiskusi dengan beberapa orang-orang dekat saya, saya akhirnya memutuskan mendaftar di Moore College, untuk alasan mengapa, saya akan jelaskan di lain waktu. Rencana saya, jika Tuhan berkehendak, saya akan kuliah 5 tahun part-time kemudian 3 tahun full-time, jadi jika tidak ada halangan saya akan lulus tahun 2020 dengan gelar BD (Bachelor of Divinity)
Minggu lalu saya sudah bertemu dengan wakil kepala sekolahnya, dan setelah melalui proses wawancara akhirnya saya diterima di tahun ini, saya akan memulai kelas saya di bulan Februari 2012, pelajaran pertama adalah Bahasa Yunani 1A.
Saya excited sekali, tetapi di satu pihak ada rasa ketakutan juga, karena saya tidak pernah menulis essay ketika saya mengambil sekolah komputer, dan memiliki Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua saya,tidak akan menjadi hal yang gampang juga untuk sekolah teologi dalam Bahasa Inggris. Masih banyak ketakutan-ketakutan yang lain akan saya sharing-kan di lain waktu.
Jika Anda bertanya mengapa saya memutuskan untuk mengambil sekolah teologi dan rindu melayani Tuhan secara fulltime, inilah tandanya: Lukas 10:2 Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.
Saya berharap setelah lulus atau bahkan selama saya di sekolah teologi, saya rindu untuk memberitahukan kabar Injil itu lebih efektif lagi kepada orang-orang yang belum pernah mendengar kabar Injil tersebut dan untuk orang-orang skeptis yang selalu mencela Firman Tuhan.
Saya meminta dengan sangat siapapun Anda untuk dapat mendoakan saya di dalam menyelesaikan studi ini.
23 January, 2012
We really have to know what we really believe
Posted by
Anton Triyanto
I was asking one of my friends about why he became a Christian, ironically he answered: "Because, I've always been in a Christian family, I went to a Christian school, of course I'm a Christian". I don't deny that living in a Christian family or going to a Christian school can help us to become a Christian, to some extend - God can use both of institutions to awaken spiritually death people,. Having said that, there will be no guarantee, if you happen to have strong Christianity values surround you, will ever make you a true Christian.
There are parents, if not many, are sending their kids to Christian school with a hope, they can be a morally good person but not a true Christian, well not to overstated the statement, maybe if they can be good, becoming a true Christian is a bonus, it's kind of like, if you are buying something and you will get some freebies - sort of like icing on the cake.
When someone ever ask you, why you became a Christian, or why you became an atheist, or why you became such and such, we really have to know what is really the foundation of our belief, we have to dig deep down of what we really believe in. We shouldn't just swallow of what our parent, our friends, our society, our school been teaching us. Yes, they have been a very good help in our life to know what we really believe in - but in the end, we really have to know what we really believe not what they believe. Let's keep finding what we really believe in!
There are parents, if not many, are sending their kids to Christian school with a hope, they can be a morally good person but not a true Christian, well not to overstated the statement, maybe if they can be good, becoming a true Christian is a bonus, it's kind of like, if you are buying something and you will get some freebies - sort of like icing on the cake.
When someone ever ask you, why you became a Christian, or why you became an atheist, or why you became such and such, we really have to know what is really the foundation of our belief, we have to dig deep down of what we really believe in. We shouldn't just swallow of what our parent, our friends, our society, our school been teaching us. Yes, they have been a very good help in our life to know what we really believe in - but in the end, we really have to know what we really believe not what they believe. Let's keep finding what we really believe in!
16 January, 2012
15 January, 2012
Pelayanan orang-orang baru
Posted by
Anton Triyanto
Saya memasuki ruangan gereja, tidak ada satupun yang saya kenal, kemudian mulailah saya beribadah dengan orang-orang yang tidak saya kenal tetapi memuji Tuhan yang sama yang kita kenal di dalam Kristus Yesus. Setelah selesai, mulailah orang baru dipanggil untuk berdiri, kemudian jemaat bertepuk-tangan, "menyambut" saya. Namun setelah selesai kebaktian tidak ada satupun yang menghampiri saya untuk menanyakan apakah saya baru dan akan menetap atau hanya berkunjung, tentu tidak mungkin saya yang maju memberanikan diri dan berkata "Saya baru loh, kenalan donk". Saya mendiamkannya, dan sambil pura-pura bermain dengan iPhone saya, saya hanya sendiri di pojokan jalan keluar dekat tangga, tetap tidak ada yang menggubris saya. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengikuti acara ramah-tamah, di sanapun tidak ada terlalu memperdulikan, sampai saya mulai melahap satu dua sendok makan ke mulut saya, baru ada seseorang yang mulai menanyakan saya.
Apakah tidak lebih baik kalau ada cepat yang menangani? Bagaimana kalau saya tidak mengikuti acara ramah tamah? Apakah saya akan hilang begitu saja tanpa ada yang mengetahui? Saya sendiri tidak terlalu pusing, karena saya hanya berkunjung tapi bagaimana kalau saya mau menetap di gereja tersebut, mengapa gereja tidak terlalu sigap dalam menangani orang-orang yang baru pertama kali datang? Atau tidak terlalu cepat dalam memperhatikan orang-orang baru, bukannya saya gila hormat atau bagaimana, tetapi bukankah itu artinya bergereja di mana kita bisa saling mengenal dan membangun di dalam Kristus? Bagaimana kita bisa saling mengenal dan membangun kalau tidak ada satu percakapan untuk perkenalan?
Apakah tidak lebih baik kalau ada cepat yang menangani? Bagaimana kalau saya tidak mengikuti acara ramah tamah? Apakah saya akan hilang begitu saja tanpa ada yang mengetahui? Saya sendiri tidak terlalu pusing, karena saya hanya berkunjung tapi bagaimana kalau saya mau menetap di gereja tersebut, mengapa gereja tidak terlalu sigap dalam menangani orang-orang yang baru pertama kali datang? Atau tidak terlalu cepat dalam memperhatikan orang-orang baru, bukannya saya gila hormat atau bagaimana, tetapi bukankah itu artinya bergereja di mana kita bisa saling mengenal dan membangun di dalam Kristus? Bagaimana kita bisa saling mengenal dan membangun kalau tidak ada satu percakapan untuk perkenalan?
13 January, 2012
Trip ke Surga
Posted by
Anton Triyanto
Dosa-dosa ciri diri kita sedemikian terbiasa untuk kita sampai kita sering kali memercayai mereka lebih dari kebenaran. Mereka menjadi begitu berharga bagi kita sampai kita bahkan lupa bahwa mereka adalah dosa.
C. S. Lewis menulis suatu alegori tentang gumulan antara surga dan neraka dalam The Great Divorce (Perceraian Besar). Dalam fantasi Lewis sang narator menumpang bus yang bertamasya ke surga. Di sana ia melihat para penghuni neraka, yaitu manusia yang mirip hantu yang keadaannya tidak sepenuhnya nyata, terlibat dalam percakapan dengan para penghuni surga yang sejati. Perjumpaan semacam itu terjadi ketika suatu keberadaan malaikat dari surga bertemu dengan seorang manusia-hantu dan kawannya, seekor kadal merah yang hidup di bahunya dan selalu mengganggu serta menghiburnya dengan hal-hal jahat yang ia bisikkan di telinganya.
Si manusia-hantu tahu ia tidak dapat memasuki surga dengan makhluk di bahunya itu. Malaikat menawarkan untuk membunuh kadal itu. Mulanya orang itu menolak. Ia takut bahwa jika kadal itu dibunuh ia akan ikut mati juga. Itulah hakikat dari dosa ciri diri, dosa yang sedemikian melekat ke diri kita. Kita terdorong untuk menganggapnya sebagai bagian dari diri kita sendiri. Kita tidak pasti siapakah kita sesungguhnya tanpa hal itu. Kita selalu percaya bahwa hal itu telah melindungi kita. Bahkan meski kita membenci hal itu, ia pun selalu kita sayangi.
Saya kenal para pasien yang harus berdukacita tentang kehilangan wilayah-wilayah dosa tertentu dalam hidup mereka. Barangkali alkohol yang adalah sahabat lama mereka telah menolong mereka menghayati kehidupan pesta. Barangkali perselingkuhan telah membangkitkan kenikmatan yang tidak pernah mereka alami sebelumnya. Saya pernah menolong seorang pasien yang bergumul dengan kecanduan pornografi. Sementara kami menyelidiki sejarah kecanduannya itu, ia ingat bahwa ia menemukan pornografi sewaktu masa pemuda ketika ia hidup dalam suatu keluarga asuh yang kasar dan melecehkan secara seksual. Keluarga itu mempermalukan dia sedemikian rupa tentang seksualitas sampai penemuannya akan pornografi memberinya pelarian ke dalam suatu dunia yang memberinya kebebasan lebih besar. Bertahun-tahun kemudian ia takut bahwa jika ia menjanjikan istrinya bahwa ia akan lepas total dari pornografi, ia akan terhisap balik ke dunia legalisme dan aib.
Manusia-hantu dalam kisah Lewis takut kehilangan kadal yang telah menjadi teman setianya. Ia membuat berbagai macam alasan untuk menghalangi sang malaikat dari membunuh kadal itu. Akhirnya ia mengakui bahwa bahkan jika malaikat membunuh dirinya agar dosanya tersingkir, itu masih lebih baik daripada hidup dengan seekor parasit di bahunya.
Malaikat itu lalu membunuh kadal itu dan membantingnya ke tanah. Sang narator terkejut ketika manusia-hantu itu tiba-tiba berubah menjadi seorang manusia, riil dan penuh. Ia tambah terkejut ketika kadal itu berubah menjadi seekor kuda jantan. Orang itu dan kuda tadi lalu mencongklang dengan sukacita masuk surga. Pemandu sang narator berkata, “Apalah artinya kadal dibanding kuda jantan? Hawa nafsu bagaikan bisikan yang miskin, lemah, merintih dibanding dengan kekayaan dan energi hasrat yang akan bangkit ketika hawa nafsu telah dibunuh.”
Dikutip dari Pasal 2 Buku Dosa Ciri Diri Karangan Michael Mangis.
C. S. Lewis menulis suatu alegori tentang gumulan antara surga dan neraka dalam The Great Divorce (Perceraian Besar). Dalam fantasi Lewis sang narator menumpang bus yang bertamasya ke surga. Di sana ia melihat para penghuni neraka, yaitu manusia yang mirip hantu yang keadaannya tidak sepenuhnya nyata, terlibat dalam percakapan dengan para penghuni surga yang sejati. Perjumpaan semacam itu terjadi ketika suatu keberadaan malaikat dari surga bertemu dengan seorang manusia-hantu dan kawannya, seekor kadal merah yang hidup di bahunya dan selalu mengganggu serta menghiburnya dengan hal-hal jahat yang ia bisikkan di telinganya.
Si manusia-hantu tahu ia tidak dapat memasuki surga dengan makhluk di bahunya itu. Malaikat menawarkan untuk membunuh kadal itu. Mulanya orang itu menolak. Ia takut bahwa jika kadal itu dibunuh ia akan ikut mati juga. Itulah hakikat dari dosa ciri diri, dosa yang sedemikian melekat ke diri kita. Kita terdorong untuk menganggapnya sebagai bagian dari diri kita sendiri. Kita tidak pasti siapakah kita sesungguhnya tanpa hal itu. Kita selalu percaya bahwa hal itu telah melindungi kita. Bahkan meski kita membenci hal itu, ia pun selalu kita sayangi.
Saya kenal para pasien yang harus berdukacita tentang kehilangan wilayah-wilayah dosa tertentu dalam hidup mereka. Barangkali alkohol yang adalah sahabat lama mereka telah menolong mereka menghayati kehidupan pesta. Barangkali perselingkuhan telah membangkitkan kenikmatan yang tidak pernah mereka alami sebelumnya. Saya pernah menolong seorang pasien yang bergumul dengan kecanduan pornografi. Sementara kami menyelidiki sejarah kecanduannya itu, ia ingat bahwa ia menemukan pornografi sewaktu masa pemuda ketika ia hidup dalam suatu keluarga asuh yang kasar dan melecehkan secara seksual. Keluarga itu mempermalukan dia sedemikian rupa tentang seksualitas sampai penemuannya akan pornografi memberinya pelarian ke dalam suatu dunia yang memberinya kebebasan lebih besar. Bertahun-tahun kemudian ia takut bahwa jika ia menjanjikan istrinya bahwa ia akan lepas total dari pornografi, ia akan terhisap balik ke dunia legalisme dan aib.
Manusia-hantu dalam kisah Lewis takut kehilangan kadal yang telah menjadi teman setianya. Ia membuat berbagai macam alasan untuk menghalangi sang malaikat dari membunuh kadal itu. Akhirnya ia mengakui bahwa bahkan jika malaikat membunuh dirinya agar dosanya tersingkir, itu masih lebih baik daripada hidup dengan seekor parasit di bahunya.
Malaikat itu lalu membunuh kadal itu dan membantingnya ke tanah. Sang narator terkejut ketika manusia-hantu itu tiba-tiba berubah menjadi seorang manusia, riil dan penuh. Ia tambah terkejut ketika kadal itu berubah menjadi seekor kuda jantan. Orang itu dan kuda tadi lalu mencongklang dengan sukacita masuk surga. Pemandu sang narator berkata, “Apalah artinya kadal dibanding kuda jantan? Hawa nafsu bagaikan bisikan yang miskin, lemah, merintih dibanding dengan kekayaan dan energi hasrat yang akan bangkit ketika hawa nafsu telah dibunuh.”
Dikutip dari Pasal 2 Buku Dosa Ciri Diri Karangan Michael Mangis.
05 January, 2012
Mungkin 2012 kiamat
Posted by
Anton Triyanto
Saya ingat ketika tanggal 31 December 1999, saya berkumpul dengan teman-teman dan berdoa sungguh-sungguh, mungkin sedikit banyak hal ini dipengaruhi oleh kabar burung bahwa tahun 2000 adalah tahun kiamat, yah memang akhirnya tidak terjadi apa-apa, bahkan sampai 12 tahun ini masih belum kiamat.
Kita sudah memasuki tahun 2012, dan tahun ini sudah di-film-kan juga, dan diramalkan akan menjadi tahun kiamat. Mungkin bisa jadi tahun 2012 adalah tahun kiamat walaupun tanggalnya tidak ada yang tahu. Tapi kalau tahun 2012 sudah lewat dan kenyataannya tidak kiamat, apakah kita akan tetap berjaga-jaga. Apakah kita hanya berjaga-jaga ketika ada ramalan mengenai hari kiamat, kalau tidak ada maka kita bisa seenaknya menjalani hidup?
Tanda-tanda seperti perang, gempa bumi dan kelaparan yang diberitahukan sudah jelas tetapi tanda-tanda tersebut bukan untuk memberitahukan kita kapan dunia ini akan berakhir tetapi tanda-tanda tersebut memberitahukan kita bahwa Tuhan pasti akan datang dan dunia ini pasti akan berakhir.
Intensitas tanda-tanda tersebut tidak akan pernah bisa menjadi satu ukuran kapan dunia ini akan berakhir, tetapi lebih mengingatkan kita untuk terus berjaga-jaga. Kita tahu pasti bahwa Dia akan datang namun kita tidak akan pernah tahu apakah 1 tahun lagi, 10 tahun lagi, 100 tahun lagi ataupun 1000 tahun lagi. Justru karena ketidaktahuan kita, seharusnya kita menjalani hidup ini dengan bijaksana.
Kita sudah memasuki tahun 2012, dan tahun ini sudah di-film-kan juga, dan diramalkan akan menjadi tahun kiamat. Mungkin bisa jadi tahun 2012 adalah tahun kiamat walaupun tanggalnya tidak ada yang tahu. Tapi kalau tahun 2012 sudah lewat dan kenyataannya tidak kiamat, apakah kita akan tetap berjaga-jaga. Apakah kita hanya berjaga-jaga ketika ada ramalan mengenai hari kiamat, kalau tidak ada maka kita bisa seenaknya menjalani hidup?
Tanda-tanda seperti perang, gempa bumi dan kelaparan yang diberitahukan sudah jelas tetapi tanda-tanda tersebut bukan untuk memberitahukan kita kapan dunia ini akan berakhir tetapi tanda-tanda tersebut memberitahukan kita bahwa Tuhan pasti akan datang dan dunia ini pasti akan berakhir.
Intensitas tanda-tanda tersebut tidak akan pernah bisa menjadi satu ukuran kapan dunia ini akan berakhir, tetapi lebih mengingatkan kita untuk terus berjaga-jaga. Kita tahu pasti bahwa Dia akan datang namun kita tidak akan pernah tahu apakah 1 tahun lagi, 10 tahun lagi, 100 tahun lagi ataupun 1000 tahun lagi. Justru karena ketidaktahuan kita, seharusnya kita menjalani hidup ini dengan bijaksana.
