Alasan-alasan dalam hal pencarian tempat beribadah zaman ini semakin memburuk, hal-hal yang tidak terlalu penting di dipenting-pentingkan, sedangkan hal yang sangat penting sekali dikesampingkan. Muncul satu fenomena di mana mencari tempat ibadah yang penting banyak orangnya, komunitas yang baik, yang musiknya bagus, yang pelayanan dari pendetanya memuaskan kita.
Banyak dari kita jatuh ke dalam jebakan gereja adalah sebuah produk dan kita adalah konsumer, selama kita puas dengan produk tersebut kita akan terus di dalam produk tersebut, ketika sudah tidak puas maka kita mencari produk yang baru – gereja dalam hal ini.
Gereja pun bisa jatuh ke jebakan, untuk meningkatkan jumlah jemaat, maka apapun dapat dilakukan untuk mencapai hal tersebut, bahkan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan tetapi dikompromikan hanya untuk membuat orang lebih tertarik akan apa yang gereja dapat sajikan untuk mereka.
Latar belakang teologia pendeta tidak menjadi hal yang penting, apakah gereja mengajarkan Firman Tuhan secara alkitabiah pun sudah bukan menjadi hal yang utama dalam hal memilih gereja. Kerap kali akhirnya orang-orang yang datang hanya untuk satu kepuasan untuk dirinya sendiri tidak pernah menyelidiki Firman Tuhan seperti orang-orang di Berea. Mereka hanya percaya dengan apa yang dikatakan pendeta di gereja tersebut, seolah-olah hal itu sudah menjadi yang paling benar.
Kebanyakan alasan yang kita utarakan selalu berpusat kepada diri sendiri - apakah saya akan dipuaskan, apakah saya akan mendapatkan komunitas yang baik, apakah saya akan diterima, apakah musiknya baik, apakah tempatnya enak, dan lain sebagainya - memang hal-hal tersebut sedikit banyak menjadi bahan pertimbangan tetapi bukan menjadi hal yang paling utama, seharusnya yang kita tanyakan adalah apakah gereja tersebut mengajar Firman Tuhan secara bertanggung jawab, dan juga di manakah Tuhan mau kita melayani Dia dengan baik sehingga nama Tuhan dipermuliakan.
Kalau alasan ke gereja untuk kepuasan diri sendiri, maka tidaklah susah payah pergi ke gereja, kita akan bisa mendapatkan di tempat lain, walaupun sering kali akhirnya kita tetap datang ke gereja karena kita tidak mau dipersalahkan juga jikalau kita mencari kepuasan di tempat lain. Seolah-olah jikalau mendapatkan kepuasan di gereja, hal itu menjadi hal yang lebih rohani dan benar.
Mari pikirkan lebih jauh apa yang perlu kita perhatikan dalam mencari tempat beribadah, pikirkan apa yang sebenarnya menjadi hal yang penting dan yang kurang penting dalam hal memilih tempat ibadah.
Recent Posts
28 February, 2012
22 February, 2012
Lent 2012
Posted by
Anton Triyanto
Ash Wednesday is starting today 22 February 2012. Lent season is 40 days from Ash Wednesday to Easter Sunday to remember the death and resurrection of Christ. Personally, I think the death and resurrection of Christ need to be remembered all the time, not just during the lent season, but it's good to have those dates so we can discipline our life and check stuff that have became or will potentially become our idol. So for the next 40 days, here are the list that I'm going to do:
Food
No Cha Time (Asian buble tea, this is like easyway 2.0, but it's more addictive)
No Coffee
Internet
No buying or updating apps
No Internet connection on desktop PC and netbook after work
No Instagram and Safari on iPhone
No visiting macrumors and ozbargain sites
Reading
Finish reading the Gospel
Lent 2011
Food
No Cha Time (Asian buble tea, this is like easyway 2.0, but it's more addictive)
No Coffee
Internet
No buying or updating apps
No Internet connection on desktop PC and netbook after work
No Instagram and Safari on iPhone
No visiting macrumors and ozbargain sites
Reading
Finish reading the Gospel
Lent 2011
19 February, 2012
Pembajak Kristen
Posted by
Anton Triyanto
Tono: “Asyik saya sudah ada koleksi MP3, artis rohani Kristen A yang terbaru”
Tini: “Kamu dapatnya dari mana”
Tono: “Saya dapat dari internet”
Tini: “Wah itu kan illegal”
Tono: “Gak apa-apa kan saya pakai untuk pelayanan”
Berapa sering kita mendengar percakapan seperti di atas, ini adalah pembenaran diri dari sesuatu yang salah dengan mengungkapkan hal yang rohani untuk menutupi kesalahan tersebut, sehingga kesalahan tersebut bukan menjadi kesalahan lagi.
Berapa banyak entah itu software, MP3 atau film mudah sekali untuk didapatkan di internet, seringkali kita tidak tahu juga apakah itu melanggar hukum atau tidak, ketika kita mengunduh semua itu. Seringkali kita mengatakan karena semua orang sudah banyak melakukan maka hal tersebut bukan menjadi satu kejahatan lagi, atau karena sangsi yang diberikan kepada pelaku, walaupun kelihatan besar namun sangat sulit sekali untuk pihak yang berwajib mengenakan sangsi kepada si pelaku. Melalui pandangan seperti itu kita mulai membenarkan diri untuk melakukan hal tersebut, tidak ada pemikiran lebih jauh lagi tentang mengapa kita melakukan hal tersebut.
Tentu di lain pihak, banyak orang-orang Kristen yang tidak memiliki software, MP3 dan film bajakan dapat jatuh kepada perangkap legalisme, dengan berpandangan karena saya tidak mengunduh software dan MP3 bajakan, maka saya lebih benar dari pada orang-orang yang mengunduhnya, tentu ini hal yang salah. Tetapi bukan karena kita takut akan bahaya legalisme, itu menjadi alasan kalau mengunduh software, film dan MP3 bajakan tidak apa-apa.
Dahulu saya berpikir karena saya tidak mempunyai uang yang cukup untuk membeli software, MP3 dan film bajakan, tetapi walaupun saya sudah memiliki uangpun, sangat sulit bagi saya untuk membeli software asli, karena kita merasa uang yang dipakai itu dapat dipakai untuk hal yang lain, atau kita merasa tidak adil karena orang lain bisa mendapatkan secara “gratis” mengapa saya harus membayar. Ternyata masalah utamanya bukanlah karena kita kekurangan uang, tetapi kita lebih mencintai uang daripada melakukan apa yang benar, yaitu membeli software, MP3 dan film yang asli.
Memang di Negara-negara yang sedang berkembang, perusahaan software membiayai harga yang terlalu tinggi untuk masyarakat, sehingga masyarakat lebih memilih bajakan dibandingkan yang asli. Tetapi kembali pertanyaannya apakah memang software itu diperlukan, adakah software open source (free) yang dapat dipakai dan sama fungsinya dengan software asli?
Dengan menulis artikel ini bukan berarti saya sudah bebas dari pembajakan software dan pengunduhan film maupun MP3 di dunia Internet, tetapi saya mengajak kita semua berpikir bahwa bukan karena kita sudah melakukan atau semua orang melakukannya maka pembajakan tersebut adalah menjadi sesuatu yang benar di hadapan Tuhan, bahkan ketika alasan tersebut kedengarannya sangat rohani sekali.
Saran saya, sebisa-bisanya mulailah berhenti mengunduh software, film dan MP3 bajakan dari Internet dan mulailah untuk menghapus file-file tersebut sebisa mungkin. Atau setidaknya berpikirlah bahwa hal itu adalah yang salah, jangan sampai karena kita tidak mau dianggap salah maka kita mulai merasionalisasikan pemikiran kita bahwa hal itu tidak apa-apa.
Sampai saat ini saya masih mempunyai software, film dan MP3 bajakan di samping yang asli, yang mulai saya beli. Tetapi saya masih berhutang untuk menghapus bajakan tersebut di kemudian hari. Bagaimana menurut Anda?
Tini: “Kamu dapatnya dari mana”
Tono: “Saya dapat dari internet”
Tini: “Wah itu kan illegal”
Tono: “Gak apa-apa kan saya pakai untuk pelayanan”
Berapa sering kita mendengar percakapan seperti di atas, ini adalah pembenaran diri dari sesuatu yang salah dengan mengungkapkan hal yang rohani untuk menutupi kesalahan tersebut, sehingga kesalahan tersebut bukan menjadi kesalahan lagi.
Berapa banyak entah itu software, MP3 atau film mudah sekali untuk didapatkan di internet, seringkali kita tidak tahu juga apakah itu melanggar hukum atau tidak, ketika kita mengunduh semua itu. Seringkali kita mengatakan karena semua orang sudah banyak melakukan maka hal tersebut bukan menjadi satu kejahatan lagi, atau karena sangsi yang diberikan kepada pelaku, walaupun kelihatan besar namun sangat sulit sekali untuk pihak yang berwajib mengenakan sangsi kepada si pelaku. Melalui pandangan seperti itu kita mulai membenarkan diri untuk melakukan hal tersebut, tidak ada pemikiran lebih jauh lagi tentang mengapa kita melakukan hal tersebut.
Tentu di lain pihak, banyak orang-orang Kristen yang tidak memiliki software, MP3 dan film bajakan dapat jatuh kepada perangkap legalisme, dengan berpandangan karena saya tidak mengunduh software dan MP3 bajakan, maka saya lebih benar dari pada orang-orang yang mengunduhnya, tentu ini hal yang salah. Tetapi bukan karena kita takut akan bahaya legalisme, itu menjadi alasan kalau mengunduh software, film dan MP3 bajakan tidak apa-apa.
Dahulu saya berpikir karena saya tidak mempunyai uang yang cukup untuk membeli software, MP3 dan film bajakan, tetapi walaupun saya sudah memiliki uangpun, sangat sulit bagi saya untuk membeli software asli, karena kita merasa uang yang dipakai itu dapat dipakai untuk hal yang lain, atau kita merasa tidak adil karena orang lain bisa mendapatkan secara “gratis” mengapa saya harus membayar. Ternyata masalah utamanya bukanlah karena kita kekurangan uang, tetapi kita lebih mencintai uang daripada melakukan apa yang benar, yaitu membeli software, MP3 dan film yang asli.
Memang di Negara-negara yang sedang berkembang, perusahaan software membiayai harga yang terlalu tinggi untuk masyarakat, sehingga masyarakat lebih memilih bajakan dibandingkan yang asli. Tetapi kembali pertanyaannya apakah memang software itu diperlukan, adakah software open source (free) yang dapat dipakai dan sama fungsinya dengan software asli?
Dengan menulis artikel ini bukan berarti saya sudah bebas dari pembajakan software dan pengunduhan film maupun MP3 di dunia Internet, tetapi saya mengajak kita semua berpikir bahwa bukan karena kita sudah melakukan atau semua orang melakukannya maka pembajakan tersebut adalah menjadi sesuatu yang benar di hadapan Tuhan, bahkan ketika alasan tersebut kedengarannya sangat rohani sekali.
Saran saya, sebisa-bisanya mulailah berhenti mengunduh software, film dan MP3 bajakan dari Internet dan mulailah untuk menghapus file-file tersebut sebisa mungkin. Atau setidaknya berpikirlah bahwa hal itu adalah yang salah, jangan sampai karena kita tidak mau dianggap salah maka kita mulai merasionalisasikan pemikiran kita bahwa hal itu tidak apa-apa.
Sampai saat ini saya masih mempunyai software, film dan MP3 bajakan di samping yang asli, yang mulai saya beli. Tetapi saya masih berhutang untuk menghapus bajakan tersebut di kemudian hari. Bagaimana menurut Anda?
11 February, 2012
Menikah hanya sekali
Posted by
Anton Triyanto
Seringkali kita mendengar pernyataan ini bukan, bahwa menikah hanya satu kali. Saya akan mengecewakan Anda sebagai pembaca, karena yang akan saya bahas di sini bukanlah mengenai prinsip-prinsip menikah hanya sekali - maafkan saya.
Jika Anda sudah menikah atau akan menikah, tentu Anda ingat atau sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan hari pernikahan Anda, entah itu dari baju, kue pernikahan, bunga, restoran, acara, bahkan sampai ke hal-hal kecil seperti buku tamu yang akan dipakai untuk mencatat tamu-tamu Anda.
Ketika Anda sedang memilih kue contohnya, penjaga toko tahu Anda sedang mencari kue pernikahan, dan kue-kue yang ditawarkan tentu yang mahal-mahal karena penjaga toko itu mungkin akan mendapatkan komisi lebih tinggi, kata-kata yang dilontarkan adalah seperti ini: “Wah, pilih yang ini aja yang paling bagus, kan kamu menikah hanya sekali”, tentu tidak ada salahnya untuk memilih yang terbaik di hari pernikahan kita, tetapi sadar atau tidak sadar hal itu setidaknya mempengaruhi kita dalam hal memilih segala sesuatu yang berhubungan dengan pernikahan kita “Pilih yang paling bagus karena menikah hanya satu kali”, walaupun kita tidak sanggup, kita berusaha untuk mendapatkan yang terbaik itu, tetapi walaupun kita sanggup bukan berarti garis antara kebutuhan dan kemauan sudah tidak ada.
Seringkali kita tidak adil dengan hidup kita, kita dapat memakai satu pernyataan hanya untuk membenarkan diri kita ketika kita melakukan sesuatu yang akan “menguntungkan” kita, dalam hal pernikahan setidaknya mungkin orang yang akan datang ke pernikahan kita akan membandingkan dengan pernikahan yang mereka sudah datangi di bulan yang lalu.
Tetapi di lain pihak kita tidak mau memakai pernyataan itu ketika hal itu tidak “menguntungkan” kita.
Renungkan hal ini: Bayangkan Anda terbang menggunakan pesawat terbang, lalu ada seorang asing duduk di samping kita, bukankah kita hanya akan bertemu orang asing itu satu kali dan mungkin tidak akan bertemu lagi, tetapi bisakah kita mengatakan “Bertemu orang asing ini hanya satu kali, sebaiknya saya mengabarkan sesuatu yang terbaik untuk orang ini, yaitu Injil Tuhan.”, terlepas mungkin karakter manusia berbeda satu sama lain.
Jika Anda sudah menikah atau akan menikah, tentu Anda ingat atau sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan hari pernikahan Anda, entah itu dari baju, kue pernikahan, bunga, restoran, acara, bahkan sampai ke hal-hal kecil seperti buku tamu yang akan dipakai untuk mencatat tamu-tamu Anda.
Ketika Anda sedang memilih kue contohnya, penjaga toko tahu Anda sedang mencari kue pernikahan, dan kue-kue yang ditawarkan tentu yang mahal-mahal karena penjaga toko itu mungkin akan mendapatkan komisi lebih tinggi, kata-kata yang dilontarkan adalah seperti ini: “Wah, pilih yang ini aja yang paling bagus, kan kamu menikah hanya sekali”, tentu tidak ada salahnya untuk memilih yang terbaik di hari pernikahan kita, tetapi sadar atau tidak sadar hal itu setidaknya mempengaruhi kita dalam hal memilih segala sesuatu yang berhubungan dengan pernikahan kita “Pilih yang paling bagus karena menikah hanya satu kali”, walaupun kita tidak sanggup, kita berusaha untuk mendapatkan yang terbaik itu, tetapi walaupun kita sanggup bukan berarti garis antara kebutuhan dan kemauan sudah tidak ada.
Seringkali kita tidak adil dengan hidup kita, kita dapat memakai satu pernyataan hanya untuk membenarkan diri kita ketika kita melakukan sesuatu yang akan “menguntungkan” kita, dalam hal pernikahan setidaknya mungkin orang yang akan datang ke pernikahan kita akan membandingkan dengan pernikahan yang mereka sudah datangi di bulan yang lalu.
Tetapi di lain pihak kita tidak mau memakai pernyataan itu ketika hal itu tidak “menguntungkan” kita.
Renungkan hal ini: Bayangkan Anda terbang menggunakan pesawat terbang, lalu ada seorang asing duduk di samping kita, bukankah kita hanya akan bertemu orang asing itu satu kali dan mungkin tidak akan bertemu lagi, tetapi bisakah kita mengatakan “Bertemu orang asing ini hanya satu kali, sebaiknya saya mengabarkan sesuatu yang terbaik untuk orang ini, yaitu Injil Tuhan.”, terlepas mungkin karakter manusia berbeda satu sama lain.
Yesus tidak membawa damai
Posted by
Anton Triyanto
Matius 10:34-39
34 "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. 35 Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, 36 dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. 37 Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. 38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. 39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
Perikop Alkitab di atas tentu sudah tidak asing di telinga Anda bukan? Tetapi bukankah Yesus justru datang untuk membawa damai? Mengapa Yesus datang untuk memisahkan kita dari keluarga kita? Apa? Yesus mau kita mengasihi Dia lebih daripada kita mengasihi keluarga kita?
Damai yang di bawa ke dalam dunia, adalah damai antara kita dengan Allah, melalui Yesus kita diperdamaikan dengan Allah. Sedangkan “tidak membawa damai” di sini lebih ke arah adanya satu pemisahan antara orang-orang percaya dan bukan, antara pengikut Kristus atau bukan. Pemisahan ini lebih dimaksudkan mengenai ketika kita mengikuti Yesus mungkin kita akan mengalami penyangkalan terhadap keluarga kita sendiri, kita mungkin harus “membenci” keluarga kita sendiri.
Hubungan dengan Yesus harus menjadi sesuatu yang utama di atas hubungan yang lain, bahkan hubungan keluarga sekalipun. Walaupun demikian ketika kita mengasihi Tuhan maka kita akan mengasihi sesama kita juga, termasuk keluarga kita, namun bukan sebaliknya, kita bisa mengasihi keluarga kita lebih daripada kita mengasihi Tuhan, jikalau seperti hal itu terjadi maka keluarga telah menjadi “berhala”. Segala sesuatu ataupun seseorang yang kita cintai lebih daripada Tuhan adalah “berhala”.
Jadi bisa kita katakan memikul salib kita dan mengikuti Yesus adalah mengasihi Dia lebih dari segala sesuatu ataupun seseorang di dunia ini.
34 "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. 35 Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, 36 dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. 37 Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. 38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. 39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
Perikop Alkitab di atas tentu sudah tidak asing di telinga Anda bukan? Tetapi bukankah Yesus justru datang untuk membawa damai? Mengapa Yesus datang untuk memisahkan kita dari keluarga kita? Apa? Yesus mau kita mengasihi Dia lebih daripada kita mengasihi keluarga kita?
Damai yang di bawa ke dalam dunia, adalah damai antara kita dengan Allah, melalui Yesus kita diperdamaikan dengan Allah. Sedangkan “tidak membawa damai” di sini lebih ke arah adanya satu pemisahan antara orang-orang percaya dan bukan, antara pengikut Kristus atau bukan. Pemisahan ini lebih dimaksudkan mengenai ketika kita mengikuti Yesus mungkin kita akan mengalami penyangkalan terhadap keluarga kita sendiri, kita mungkin harus “membenci” keluarga kita sendiri.
Hubungan dengan Yesus harus menjadi sesuatu yang utama di atas hubungan yang lain, bahkan hubungan keluarga sekalipun. Walaupun demikian ketika kita mengasihi Tuhan maka kita akan mengasihi sesama kita juga, termasuk keluarga kita, namun bukan sebaliknya, kita bisa mengasihi keluarga kita lebih daripada kita mengasihi Tuhan, jikalau seperti hal itu terjadi maka keluarga telah menjadi “berhala”. Segala sesuatu ataupun seseorang yang kita cintai lebih daripada Tuhan adalah “berhala”.
Jadi bisa kita katakan memikul salib kita dan mengikuti Yesus adalah mengasihi Dia lebih dari segala sesuatu ataupun seseorang di dunia ini.
08 February, 2012
The Monkey Story
Posted by
Anton Triyanto
I
find this article very intriguing especially when I apply to my
Christian life, we sometimes have fallen into a trap doing "spiritual
activities" without really knowing why are we doing it and without any
eagerness to know why is that. We are doing them maybe just because our
parent told us it's good to do them, just because churches says it's
good to do so, or just because every Christians are doing them so that's
why I need to do them as well.
The experiment involved 5 monkeys, a cage, a banana, a ladder and, crucially, a water hose.
The 5 monkeys would be locked in a cage, after which a banana was hung from the ceiling with, fortunately for the monkeys (or so it seemed…), a ladder placed right underneath it.
Of course, immediately, one of the monkeys would race towards the ladder, intending to climb it and grab the banana. However, as soon as he would start to climb, the sadist (euphemistically called “scientist”) would spray the monkey with ice-cold water. In addition, however, he would also spray the other four monkeys…
When a second monkey was about to climb the ladder, the sadist would, again, spray the monkey with ice-cold water, and apply the same treatment to its four fellow inmates; likewise for the third climber and, if they were particularly persistent (or dumb), the fourth one. Then they would have learned their lesson: they were not going to climb the ladder again – banana or no banana.
In order to gain further pleasure or, I guess, prolong the experiment, the sadist outside the cage would then replace one of the monkeys with a new one. As can be expected, the new guy would spot the banana, think “why don’t these idiots go get it?!” and start climbing the ladder. Then, however, it got interesting: the other four monkeys, familiar with the cold-water treatment, would run towards the new guy – and beat him up. The new guy, blissfully unaware of the cold-water history, would get the message: no climbing up the ladder in this cage – banana or no banana.
When the beast outside the cage would replace a second monkey with a new one, the events would repeat themselves – monkey runs towards the ladder; other monkeys beat him up; new monkey does not attempt to climb again – with one notable detail: the first new monkey, who had never received the cold-water treatment himself (and didn’t even know anything about it), would, with equal vigour and enthusiasm, join in the beating of the new guy on the block.
When the researcher replaced a third monkey, the same thing happened; likewise for the fourth until, eventually, all the monkeys had been replaced and none of the ones in the cage had any experience or knowledge of the cold-water treatment.
Then, a new monkey was introduced into the cage. It ran toward the ladder only to get beaten up by the others. Yet, this monkey turned around and asked “why do you beat me up when I try to get the banana?” The other four monkeys stopped, looked at each other slightly puzzled and, finally, shrugged their shoulders: “Don’t know. But that’s the way we do things around here”…
Source: Costas Markides
The experiment involved 5 monkeys, a cage, a banana, a ladder and, crucially, a water hose.
The 5 monkeys would be locked in a cage, after which a banana was hung from the ceiling with, fortunately for the monkeys (or so it seemed…), a ladder placed right underneath it.
Of course, immediately, one of the monkeys would race towards the ladder, intending to climb it and grab the banana. However, as soon as he would start to climb, the sadist (euphemistically called “scientist”) would spray the monkey with ice-cold water. In addition, however, he would also spray the other four monkeys…
When a second monkey was about to climb the ladder, the sadist would, again, spray the monkey with ice-cold water, and apply the same treatment to its four fellow inmates; likewise for the third climber and, if they were particularly persistent (or dumb), the fourth one. Then they would have learned their lesson: they were not going to climb the ladder again – banana or no banana.
In order to gain further pleasure or, I guess, prolong the experiment, the sadist outside the cage would then replace one of the monkeys with a new one. As can be expected, the new guy would spot the banana, think “why don’t these idiots go get it?!” and start climbing the ladder. Then, however, it got interesting: the other four monkeys, familiar with the cold-water treatment, would run towards the new guy – and beat him up. The new guy, blissfully unaware of the cold-water history, would get the message: no climbing up the ladder in this cage – banana or no banana.
When the beast outside the cage would replace a second monkey with a new one, the events would repeat themselves – monkey runs towards the ladder; other monkeys beat him up; new monkey does not attempt to climb again – with one notable detail: the first new monkey, who had never received the cold-water treatment himself (and didn’t even know anything about it), would, with equal vigour and enthusiasm, join in the beating of the new guy on the block.
When the researcher replaced a third monkey, the same thing happened; likewise for the fourth until, eventually, all the monkeys had been replaced and none of the ones in the cage had any experience or knowledge of the cold-water treatment.
Then, a new monkey was introduced into the cage. It ran toward the ladder only to get beaten up by the others. Yet, this monkey turned around and asked “why do you beat me up when I try to get the banana?” The other four monkeys stopped, looked at each other slightly puzzled and, finally, shrugged their shoulders: “Don’t know. But that’s the way we do things around here”…
Source: Costas Markides
05 February, 2012
Sekali selamat tetap selamat VS Keselamatan itu bisa hilang
Posted by
Anton Triyanto
Pertanyaan ini sering muncul di kalangan orang-orang Kristen mengenai kedua pandangan yang berbeda di bawah ini.
1. Keselamatan itu tidak bisa hilang, sekali selamat tetap selamat.
2. Keselamatan itu bisa hilang, untuk itu kita harus mengerjakan keselamatan
Seringkali kita ditanya oleh orang lain, posisi mana yang kita pegang apakah kita pegang entah itu posisi pertama ataupun kedua, dan memang ada baiknya kita terus ditanya dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, walaupun tidak selalu semua pertanyaan-pertanyaan dapat dijawab dengan logis, tetapi kita tidak dapat mengenyampingkan logika kalau memang sesuatu hal itu dapat dijelaskan secara logis walaupun pada batas tertentu juga.
Saya percaya kedua hal tersebut bahwa sekali selamat tetap selamat, dan kita tetap harus mengerjakan keselamatan.
Kita diselamatkan untuk terus mengerjakan keselamatan tersebut sebagai bukti bahwa kita sudah diselamatkan bukan karena kita mengerjakan keselamatan maka keselamatan tersebut tidak akan hilang. Mengerjakan keselamatan bukanlah suatu jaminan tetapi suatu bukti. (Baca: Filipi 2:12 – Work out your salvation not work out for your salvation)
Kalau kita menganggap kita sudah diselamatkan tetapi kita tidak mengerjakan keselamatan tersebut, keselamatan itu tidak hilang atau mungkin keselamatan itu seolah-olah hilang, tetapi kita memang tidak pernah mendapatkan keselamatan tersebut dari semula, keselamatan yang seperti itu adalah keselamatan yang semu. Ketika kita tidak mengerjakan keselamatan tersebut, hal itu menjadi bukti bahwa kita tidak pernah diselamatkan (Baca: 1 Yohanes 2:19)
1. Keselamatan itu tidak bisa hilang, sekali selamat tetap selamat.
2. Keselamatan itu bisa hilang, untuk itu kita harus mengerjakan keselamatan
Seringkali kita ditanya oleh orang lain, posisi mana yang kita pegang apakah kita pegang entah itu posisi pertama ataupun kedua, dan memang ada baiknya kita terus ditanya dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, walaupun tidak selalu semua pertanyaan-pertanyaan dapat dijawab dengan logis, tetapi kita tidak dapat mengenyampingkan logika kalau memang sesuatu hal itu dapat dijelaskan secara logis walaupun pada batas tertentu juga.
Saya percaya kedua hal tersebut bahwa sekali selamat tetap selamat, dan kita tetap harus mengerjakan keselamatan.
Kita diselamatkan untuk terus mengerjakan keselamatan tersebut sebagai bukti bahwa kita sudah diselamatkan bukan karena kita mengerjakan keselamatan maka keselamatan tersebut tidak akan hilang. Mengerjakan keselamatan bukanlah suatu jaminan tetapi suatu bukti. (Baca: Filipi 2:12 – Work out your salvation not work out for your salvation)
Kalau kita menganggap kita sudah diselamatkan tetapi kita tidak mengerjakan keselamatan tersebut, keselamatan itu tidak hilang atau mungkin keselamatan itu seolah-olah hilang, tetapi kita memang tidak pernah mendapatkan keselamatan tersebut dari semula, keselamatan yang seperti itu adalah keselamatan yang semu. Ketika kita tidak mengerjakan keselamatan tersebut, hal itu menjadi bukti bahwa kita tidak pernah diselamatkan (Baca: 1 Yohanes 2:19)