Recent Posts

31 May, 2012

Kemarahan adalah hasil dari cinta


Kemarahan adalah hasil dari cinta. Kemarahan adalah kekuatan untuk membela sesuatu yang Anda cintai ketika hal itu terancam. Jika Anda tidak mencintai sesuatu sama sekali, Anda tidak akan marah ketika hal itu terancam. Jika Anda mencintai sesuatu dengan sedikit, maka Anda hanya akan marah sedikit ketika hal itu terancam. Jika sesuatu yang Anda cintai adalah yang paling utama, jika hal itu adalah sesuatu yang memberikan makna dalam kehidupan Anda, maka ketika hal itu terancam Anda akan marah sampai tak terkendali.

Ketika sesuatu dalam hidup merupakan syarat mutlak untuk sebuah kebahagiaan dan sebuah harga diri, yang pada dasarnya adalah 'berhala', sesuatu yang benar-benar Anda sembah. Ketika hal itu terancam, maka kemarahan Anda adalah yang paling penting. Kemarahan Anda sebenarnya adalah cara berhala untuk membuat Anda melayani berhala tersebut, di dalam ikatan berhala tersebut.

Oleh karena itu jika Anda menemukan bahwa, meskipun semua upaya untuk memaafkan, kemarahan dan kepahitan tetap tidak bisa mereda, Anda mungkin perlu melihat lebih dalam dan bertanya, 'Apa yang saya bela? Apa yang begitu penting sehingga saya tidak bisa hidup tanpa hal tersebut” Kemungkinan besar Anda belum mengetahui dan belum melawan keinginan berhala Anda, sehingga Anda tidak dapat menguasai kemarahan Anda.

Tim Keller

17 May, 2012

Kembali ke Dasar-dasar Kekristenan

Setelah tujuh kali pertemuan, kami para pemuda-pemudi GKY Sydney telah menyelesaikan studi "Back to Basics" yang diterbitkan oleh Matthias Media dalam bahasa Inggris, di kemudian hari saya rindu ada penerbit Indonesia yang dapat menterjemahkannya.

Bagi para pemimpin-pemimpin gereja, saya secara pribadi merekomendasikan buku ini untuk kelompok kecil  ataupun persekutuan baik dari anak muda maupun sampai usia yang lebih dewasa. Buku ini sangat bermanfaat sekali, bahkan jika Anda sudah mengenal Kristus, studi ini kembali terus menguatkan iman kita di dalam Kristus Yesus. Saya akan mencoba merangkum beberapa hal dari studi tersebut.

Studi 1: Diselamatkan oleh Tuhan - Roma 5:8-9
Kasih Allah teryata dapat diukur, ukurannya adalah ketika Dia sudah mendemonstrasikan kasihNya dengan cara mengutus Kristus untuk mati buat kita, agar kita diselamatkan dari murka Allah. Tanpa hal tersebut kita akan mengalami murka Allah yang luar biasa, namun ketika kita masih belum melakukan apa yang baik yaitu ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita dan kita telah dibenarkan melalui darahNya. Tidak ada hal apapun yang dapat kita lakukan untuk melayakkan kita akan keselamatan tersebut. Maka dari itu keyakinan keselamatan kita bukan tergantung dari "perbuatan baik" kita tetapi tergantung kepada karya Kristus di atas kayu salib yang membenarkan kita. Perbuatan baik kita adalah bukti bahwa kita telah dibenarkan di dalam Kristus.

Studi 2: Percaya di dalam Tuhan - Efesus 2:8-9
Kita telah diselamatkan dari murka Allah, dan hal ini bukanlah atas usaha kita, tetapi semata-mata karena kasih karunia Tuhan. Bahkan usaha kita untuk menerima keselamatan tersebut merupakan karunia juga dari Tuhan. Iman kita adalah menjadi bukti bahwa Allah menyelamatkan kita di dalam Kristus Yesus. Ketika kita beriman, hal itu bukan karena kita bisa dan mau, tetapi karena Allahlah sendiri yang menghidupkan kita untuk melakukannya, untuk itulah tidak ada yang dapat kita sombongkan. Jika keselamatan itu kita terima di luar dari kemauan kita maka keselamatan tersebut tidak akan hilang oleh karena kemauan kita juga.

Studi 3: Hidup sesuai jalan Tuhan -Titus 2:11-13 
Hidup di dalam Tuhan adalah hasil bahwa kita telah diselamatkan, bukan menjadi "sebab" melainkan "akibat". Senantiasa kita rindu untuk hidup sesuai dengan apa yang menjadi kehendakNya. Orang-orang yang mengatakan bahwa hidup sesuai dengan jalan Tuhan tidaklah terlalu penting karena kita sudah diselamatkan dan keselamatan tersebut tidak akan hilang, untuk mereka yang berpikir seperti itu, justru satu tanda tanya besar bahwa apakah mereka sudah benar-benar diselamatkan. Ujilah diri kita apakah kita hidup sesuai dengan jalan Tuhan yang menjadikan "akibat" bahwa kita telah diselamatkan.

Studi 4: Mendengar Tuhan - 2 Timotius 3:15-16
Seluruh Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu adalah ilham dari Allah semata-mata. Dari sanalah kita mendengar suara Tuhan, mengetahui apa yang menjadi kehendakNya. Alkitab berguna untuk mengajar, mengoreksi, menegur serta melatih kita di dalam kebenaran. Dari sanalah kita dapat membedakan mana yang berkenan dan mana yang tidak berkenan, dari sanalah kita dapat menguji hati kita, dari sanalah kita mendapatkan instruksi-instruksi tentang bagaimana kita seharusnya hidup, dan semua itulah suara Tuhan. Jika kita ingin mendengar suara Tuhan? Apakah kita sudah membaca Alkitab hari ini?

Studi 5: Berbicara kepada Tuhan - Filipi 4:6-7
Sebenarnya tidak ada yang perlu dikuatirkan, tetapi dalam segala hal seharusnya kita mengutarakannya kepada Tuhan, bahkan hal-hal yang kita merasa mampu melakukannya. Tidak ada hal yang terlalu kecil dan terlalu besar untuk Dia. Tuhan memang tidak berjanji untuk selalu memberikan apa yang menjadi kemauan kita, tetapi yang Dia janjikan adalah bahwa hati kita dan pikiran kita akan dipelihara oleh Tuhan, bahkan ketika kita tidak menerima apa yang kita minta. Kita tahu bahwa hati dan pikiran kita sangat rentan sekali, untuk itulah kita harus selalu mengingat karya yang terbesar, yaitu kematian Kristus, kalau kasih yang terbesar itu saja sudah diberikanNya untuk kita, apa lagi yang harus kita kuatirkan ketika kita tidak menerima atau belum menerima apa yang menjadi kemauan dan kebutuhan kita?

Studi 6: Bertemu keluarga Tuhan - Ibrani 10:24-25
Hubungan kita bukanlah hanya secara vertikal saja yaitu antara kita dan Allah tetapi horisontal juga antara kita dan sesama saudara seiman kita. Kita bisa saja beribadah dengan tidak pergi ke satu komunitas Kristen dan bertemu dengan orang-orang Kristen lainnya, tetapi justru bertemu dengan mereka kita dapat saling menegur dan membangun di dalam iman kita kepada Yesus Kristus. Jika Anda hanya mendekam di rumah, melihat khotbah di TV, mentransfer uang persembahan secara online, menyanyi dengan keras memakai perangkat elektronik Anda, Anda mungkin belum menjadi Kristen, kecuali memang Anda benar-benar tidak dapat datang karena penyakit yang kronis.

Studi 7: Bertemu dunia - Kolose 4:5-6
Ketika kita sudah diselamatkan tentu kita ingin dan rindu orang-orang yang tidak percaya mendengar kabar baik itu. Kita diajar untuk dapat memberitakan kabar baik itu bukan dengan cara yang ingin menjatuhkan ataupun menghakimi mereka, tetapi dengan penuh kasih dan penuh "garam" tanpa mengurangi esensi dari kabar baik itu sendiri. Siapkanlah diri kita untuk dapat menjawab ketika satu ketika kita ditanya mengenai iman kita kepada Yesus Kristus, di kesempatan seperti itulah kita akan terus mengabarkan kabar baik itu.

16 May, 2012

The Valley of Vision

Lord, high and holy, meek and lowly,
Thou hast brought me to the valley of vision,
where I live in the depths but see Thee in the heights;
hemmed in by mountains of sin I behold Thy glory.

Let me learn by paradox that the way down is the way up,
that to be low is to be high,
that the broken heart is the healed heart,
that the contrite spirit is the rejoicing spirit,
that the repenting soul is the victorious soul,
that to have nothing is to possess all,
that to bear the cross is to wear the crown,
that to give is to receive,
that the valley is the place of vision.

Lord, in the daytime stars can be seen from deepest wells,
and the deeper the wells the brighter Thy stars shine;
let me find Thy light in my darkness,
Thy life in my death,
Thy joy in my sorrow,
Thy grace in my sin,
Thy riches in my poverty,
Thy glory in my valley

This puritan prayer has been a blessing to my spiritual life, so I've decided to translate this prayer to Bahasa Indonesia, I hope it will be a blessing for you too.

Tuhan, mulia dan suci, lemah lembut dan rendah,
Engkau telah membawa aku ke lembah penglihatan,
di mana aku tinggal di kedalaman tetapi melihat-Mu dalam ketinggian;
dikelilingi oleh pegunungan dosa aku melihat kemuliaan-Mu.

Biarkan aku belajar dengan paradoks
bahwa jalan ke bawah adalah jalan ke atas,
bahwa menjadi rendah adalah untuk menjadi tinggi,
bahwa hati yang hancur adalah hati yang disembuhkan,
bahwa jiwa yang menyesal adalah jiwa penuh sukacita,
bahwa jiwa yang bertobat adalah jiwa berkemenangan,
bahwa tidak memiliki apa-apa adalah untuk memiliki semua,
bahwa memikul salib adalah untuk memakai mahkota,
bahwa memberi adalah untuk menerima,
bahwa lembah adalah tempat penglihatan.

Tuhan, di siang hari,
bintang-bintang dapat dilihat dari sumur yang terdalam,
dan semakin dalam sumur itu semakin terang bintang-Mu bersinar;
biarkan aku menemukan
Cahaya-Mu dalam kegelapanku,
Hidup-Mu dalam kematianku,
Sukacita-Mu dalam kesedihanku,
Kasih Karunia-Mu dalam dosaku,
Kekayaan-Mu dalam kemiskinanku,
Kemuliaan-Mu dalam lembahku

14 May, 2012

Hidup di masa lalu

Di dunia serba digital ini, segala perlengkapan electronik membutuhkan memori yang cukup besar khususnya jika kita berurusan dengan data-data seperti video, 3D games ataupun yang lainnya. Contoh  barang elektronik seperti iPhone, kapasitas ber-giga-giga ditawarkan oleh perusahan Apple kepada konsumen yang membutuhkannya, namun kerap kali kalaupun kita tidak terlalu membutuhkannya kita tetap selalu ingin memori yang paling tinggi.

Memori adalah tempat menyimpan data-data kita, memori mempunyai kapasitas tertentu, kalau kita meng-install aplikasi-aplikasi yang banyak dan cukup besar maka kemungkinan kita kekurangan memori akan sangat mungkin sekali.

Setiap bulan saya memeriksa iPhone saya, ternyata banyak aplikasi-aplikasi yang saya install tapi tidak pernah digunakan sehingga itu membuat kapasitas memori di iPhone saya berkurang, akhirnya saya berinisiatif untuk membuang aplikasi-aplikasi tersebut, tetapi aplikasi-aplikasi yang saya sudah hapus dari iPhone saya, masih ada membekas di iTunes store saya, sehingga di kemudian hari saya masih dapat mengaksesnya kembali.

Demikian dengan halnya masa lalu, masa lalu tidak akan pernah hilang bukan? Tetapi pertanyaannya sudahkah Anda menghapus masa lalu tersebut di hidup sehari-hari Anda, atau mungkin Anda masih membiarkan masa lalu tersebut menghidupi keseharian Anda, sehingga kapasitas pikiran Anda seringkali "berkurang" karena adanya hal-hal yang sebenarnya sudah tidak penting lagi dan tidak relevan dengan hidup Anda sekarang.

Apakah Anda masih hidup di masa lalu atau masa lalu itu telah menghidupkan Anda untuk menjadi orang yang lebih baik lagi?

02 May, 2012

God is not like an apple buyer

Last week I had a chance to do some shopping at Coles just because my sister has gone for 5 weeks holiday, kinda miss her though. I bought some apples, interestingly as normal person would do when they buy apples, they would basically pick and choose which apple is better than the other one.

I arrived at home, I was going to have a perfect looking apple, only then did I realise there was a  black spot underneath the label. I think God is like that, we as human is trying to hide our deficiencies by doing some good deeds, anything...you name them, we want to feel good because we are doing the right thing, hoping there won't be any convictions in our heart about bad stuff that we've done. But God sees underneath our skin, he sees right into the deepest of our heart. The issue is buried under our heart. That's what we call sin, sin isn't always about doing bad things, you can do the good and righteous things but before Him are still like a filthy rags.


I'm thanking God, he is not like an apple buyer, he didn't "choose" me because I'm good or perfect, he chose me just because he chose me. Can I try to be good so he can choose me based on my performance? No! He chose me because he has the right to choose on whom he would choose. He will have mercy on whom he will have mercy.

Is it my will then? Well if I can't really choose him, how can I have a will to choose him at the first place? The question is not whether I have my will or not, but whether why I will what I will?