Recent Posts

25 November, 2009

Lebih takut manusia dibanding takut akan Allah

Hari ini saya pakai baju apa yah? Aduh nanti orang lain anggap pakaian saya norak? Aduh rambut saya koq agak jelek yah, nanti pandangan orang bagaimana? Aduh gimana nih...aduh gimana?

Begitulah salah satu pertanda bahwa seringkali hidup kita ditentukan oleh penilaian orang lain, sehingga akhirnya kita lebih takut kepada manusia dibanding takut akan Allah, kita takut berbicara kebenaran ketika diperhadapkan oleh sesuatu yang mungkin akan mengurangi harga diri kita. Sehingga kita menjadi takut akan manusia, manusia dianggap lebih berkuasa daripada Tuhan. Apakah benar kita punya harga diri yang harus dipertahankan? Mari kita telaah lagi, bahwa kalau kita terlalu menekankan kepada harga diri yang dipertahankan maka kita akan jatuh kepada ekstrim cinta akan diri sendiri bukan cinta kepada Allah, diri sendiripun akan menjadi berhala buat hidup kita.

Takut akan Allah bukanlah sesuatu posisi di mana kita berhenti, namun takut akan Allah sebaiknya dilihat adalah sebuah proses yang senantiasa bergerak menuju kesempurnaan hidup di mana Allahlah yang menjadi tujuan dalam hidup ini, bukan manusia, bukan harga diri.

Orang yang suka membela dirinya adalah orang yang lebih takut kepada manusia dibanding kepada Allah, saya pun masih termasuk salah satu di dalamnya, saya lebih suka membela diri supaya 'harga diri' saya tidak terusik, entah pembelaan itu adalah kebenaran atau kesalahan -- hal tersebut dikesampingkan selama saya dapat mempertahankan 'harga diri' saya, supaya saya tidak malu di muka umum. Inilah salah satu tanda orang yang lebih takut manusia dibanding takut akan Allah.

Seringkali akhirnya kita melakukan segala sesuatu di hidup kita hanya karena kita takut akan manusia, takut tidak diterima di dalam komunitas kita. Kalau kita mempunyai prinsip yang benar dan bertahan di atas prinsip tersebut, walaupun orang lain melihatnya sebagai sebuah keanehan -- maka lambat laun kita akan merubah prinsip tersebut kalau kita takut akan manusia. Keputusan mayoritas pun dianggap yang paling benar bahkan dianggap adalah suara dan pimpinan Tuhan, inilah majunya gerakan humanis yang senantiasa menitikberatkan hidup pada kualitas manusia itu sendiri. Dan pada akhirnya manusialah yang menjadi 'Tuhan' bukan Tuhan sendiri.

Marilah sama-sama kita merenungkan benar-benar mempunyai integritas yang tinggi, untuk selalu belajar takut akan Allah di dalam hidup kita, entah di dalam keluarga, pekerjaan, sekolah, bergereja, atau dimanapun kita berada. Baiklah kita bisa berpegang pada prinsip kebenaran Firman Tuhan yang sejati walaupun dunia akan membenci kita.

0 comments:

Post a Comment