Recent Posts

10 February, 2010

Perempuan yang Berzinah

Yohanes 8:2-11
8:2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. 8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. 8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. 8:5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" 8:6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. 8:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." 8:8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. 8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. 8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" 8:11 Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."

Tentunya pasal ini sudah sering kita dengar atau baca, bahkan kita sudah hafal secara garis besar bahwa janganlah kita menghakimi orang yang telah berbuat dosa karena kita adalah orang yang berdosa juga, tidak ada satupun dari kita yang tidak pernah berbuat dosa (Roma 3:23), baik saya, maupun Anda, baik penjahat ataupun pendeta, tidak ada seorangpun yang benar di hadapan Tuhan.

Namun benarkah kita harus menempatkan diri kita sebagai orang ahli taurat dan orang Farisi? Di mana 'seolah-olah' dosa kita lebih kecil dari dosa perempuan yang berzinah? Sehingga kita dengan terlalu berani membawa dan menghakimi orang yang berbuat dosa ke hadapan Allah, bukankah kita sering seperti itu? Pernahkah kita berpikir, apakah saya bukan perempuan yang berzinah itu? Memang kenyataannya kita tidak berzinah secara fisikal, atau tidak memandang perempuan dan bernafsu serta berzinah dalam pikiran (walaupun sulit) -- namun kalaupun kita tidak melakukan segala hal tersebut, kita tetap 'berzinah' di hadapan Allah, berapa sering kita 'berzinah' -- dengan menambatkan hati kita kepada apa yang berasal dari dunia ini, kita lebih cinta akan kekuasaan, uang, kecantikan, seks, jabatan, kehormatan, hubungan, anak, istri, suami, internet, komputer, game, dan yang lainnya yang membuat kita lebih menempatkan mereka seperti Tuhan dalam hidup kita.

Kita tidak pernah mau dianggap ditempatkan sebagai perempuan berzinah bukan? Jadi manusia selalu mempunyai kecenderungan untuk memilih yang terbaik bagi hidupnya bukan yang terbaik di hadapan Allah, tanpa Allah, motivasi manusia dalam memilih yang terbaik selalu dikontaminasi oleh dosa yang telah mendarah daging dalam hidup kita.

Dosa pada essensinya adalah sama, entah itu besar atau kecil...di hadapan Allah sama adanya, ketika kita melakukan dosa kecil -- telah 'menyakitkan hati Allah' sama dengan halnya ketika kita melakukan dosa besar -- 'rasa sakit' Allah pun sama porsinya.

Jadi di mana letak perbedaannya? Konsekuensi yaitu sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita karena telah melakukan dosa tersebut -- jika dosa kecil maka konsekuensinya kecil, demikian jika besar maka besar pulalah konsekuensi yang harus ditanggung. Tentunya dengan melakukan dosa perzinahan seperti perempuan tersebut, konsekuensi dikucilkan masyarakat lebih besar dibanding dengan ahli Taurat dan orang Farisi yang hanya sekedar sombong dan menghakimi. Akhirnya manusia mulai melegalisasikan 'dosa kecil' karena memang konsekuensinya tidak terdampak apa-apa bagi kehidupannya. Inilah letak keegoisan manusia, manusia mungkin tidak mau melakukan dosa besar karena akan mengalami konsekuensi yang besar terhadap dirinya bukan karena takut dan gentar terhadap Allah.

Namun apakah berarti kita bersama-sama melakukan dosa yang besar toh sama juga di hadapan Allah. Tidak, kejarlah kekudusan sebab tanpa kekudusan tidak ada seorangpun melihat Allah (Ibr 12:14). Apakah kekudusan itu? Kekudusan bukanlah keadaan di mana kita tidak ada dosa, namaun kekudusan adalah melihat dosa paling kecil dalam hidup kita sebagai dosa paling besar di mana kita harus meminta pengampunan dari Allah.

Semakin dalam kita mengenal Allah, demikianlah kita akan semakin mengenal betapa buruknya kita sebagai manusia yang penuh dosa. Ketika kita semakin tahu betapa buruknya diri kita, maka kita akan lebih bisa menghargai betapa baiknya kabar baik itu dalam Kristus Yesus sebagai Tuhan yang senantiasa menyucikan kita melalui FirmanNya dan oleh kekuatan Roh Kudus supaya kita diterima oleh Bapa Surgawi -- Tuhan yang Suci, Suci dan Suci.

Salah satu kalimat John Newtown (pengarang lagu Amazing Grace) adalah "I am a great sinner, but I have a Great Saviour" -- tentunya beliau tidak mungkin salah dalam pengunaan 'grammar' bukan. Mengapa tidak dikatakan "I was a great sinner, but I have a Great Saviour" -- karena beliau menyadari selama kita hidup di dunia ini kita masih senantiasa bergumul akan dosa namun tidak hidup di dalam dosa.

Rasul Paulus pun sadar akan hidupnya, progresi hidupnya adalah semakin menyadari betapa buruknya seorang yang bernama Paulus (bukan karena dia lebih melakukan dosa yang besar di banding yang lain) -- namun karena dia semakin mengenal dirinya yang paling dalam, mengenal essensi dosa itu.

Surat Paulus secara kronolikal.

1 Korintus 15:9 (ditulis sekitar 55 Masehi)
Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.

Efesus 3:8 (ditulis sekitar 60 Masehi)
Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu,

1 Timotius 1:15 (ditulis sekitar 63 atau 64 Masehi)
Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.

Alasan pertama Paulus bahwa dia paling hina dari semua rasul, karena dia telah menganiaya jemaat Allah, namun di surat-surat berikutnya dia justru semakin mengenal essensi dosa dalam dirinya dikatakan bahwa dia lebih hina dari orang-orang kudus -- bahkan di antara orang berdosa dialah yang paling berdosa. Inilah seharusnya ciri-ciri perjalanan iman Kristen, semakin menyadari kalau kita ini ada di bawah bukan justru semakin mau ke ke atas.

Oh...betapa seharusnya kita seperti Paulus semakin hari semakin menyadari dosa begitu jahat dalam hidup kita, sehingga setiap hari kita perlu Injil keselamatan untuk berperang melawan kuasa dosa dalam hidup kita. Oh... betapa seharusnya kita menempatkan diri kita sebagai perempuan yang berzinah, bukan sebagai Ahli taurat dan orang Farisi.

Semua manusia berdosa sama jahatnya, entah Anda berbuat baik, namun perbuatan baik kita pun seringkali memiliki motivasi yang penuh dosa. Perbedaannya adalah seberapa jauh kita menyadari dosa tersebut, kita tahu dengan pasti bagaimana berbuat dosa, tidak perlu diajarkan, tapi kita tidak pernah mengerti secara dalam tentang essensi dosa tersebut.

0 comments:

Post a Comment