Recent Posts

22 April, 2012

Memberi atau Mengembalikan?

"Mari kita memberikan persembahan kita kepada Tuhan", kalimat seperti ini sering dilontarkan oleh seorang pemimpin pujian ketika kita sedang beribadah bersama-sama pada saat menjalankan persembahan, memang mungkin pemimpin pujian tersebut yang secara tidak sengaja dan tidak bermaksud lain, secara tulus mengucapkan kata-kata seperti tersebut, dan memang tidak terlalu menjadi hal penting yang perlu dibicarakan. Tetapi kalau kita bisa lebih berkata-kata lebih baik lagi, mengapa tidak?


Mari kita berpikir, persembahan itu punya siapa? Uang yang kita taruh di kantong kolekte? Punya kitakah? Atau memang uang-uang tersebut punya Tuhan? Tuhan yang memberikan kepada kita, masa kita memberikan kepada Tuhan?


Bagaimana dengan "Mari kita mengembalikan sebagian yang menjadi milik Tuhan"? Hmm...apakah ada bagian-bagian tertentu yang menjadi milik Tuhan dan bagian-bagian tertentu yang menjadi milik kita? Tentu kita percaya semua yang kita punya adalah milik Tuhan semata-mata.


Nah, saya mengusulkan untuk pemimpin pujian dengan kalimat seperti ini "Mari kita mengembalikan sebagian kecil dari milik Tuhan yang dipercayakan kepada kita"


15 April, 2012

Bayang-bayang


Didesak dari dua sisi berbeda
yang tak dikenal sepenuhnya
Entah, seraya halimun menyelimuti pagi,
demikian satu sisi tertutup dalam bayang

Bayang-bayang kekecewaan...
Bayang-bayang ketakutan..

Sampai secercah cahaya mentari menyapa
Meninggalkan bekas menjadi terang
Benar, laksana embun pagi segar
demikian sisi yang lain bertumbuh dalam bayang

Bayang-bayang pengharapan...
Bayang-bayang kesempurnaan...

11 April, 2012

Why I became a Christian

#Christ2012

I was born in the Confucian family, it is not an official religion that exists in Indonesia, so our family is often considered ourselves as Buddhist on the paper.

When I went go to primary public school, there was no Buddhist religion, only Christianity and Islam. I did try both religions, although I can hardly remember why I "chose" Christianity over Islam at that time. Having a religion is a must in our country, so in order to graduate you must have a good grade in religion class.

I was really active in the church, serving God, and doing ministry diligently just for the sake of getting a good grade in the school. I thought I didn't do too many bad things in my life, that's why I deserve God's grace, I thought I can earn God's favour by doing good deeds, only then to realise that I will never be perfect before Him, but through the atonement of Christ on the cross, from which my turning point to believe in Christ wholeheartedly, not by my will but because by the Amazing Grace of God - I was blind but now I see.

Pengharapan yang sejati


Sayup-sayup suara itu terdengar kembali,
Meraih sukmaku yang kelabu

Bibirku terkatup mengerang kesakitan
Diam seribu bahasa menatap kehampaan
Jari-jariku enggan terbuka, terkunci satu sama lain
Kakiku tak mampu menahan seluruh tubuhku
Aku menggigil di sudut lorong itu
Di antara sampah-sampah dan kegelapan yang mencekam

Sampai kulihat secercah cahaya di ujung lorong itu
Pengharapan yang sejati yang membebaskanku

07 April, 2012

Heteroseksual dan masuk surga?

Saya ingat pertama kali teman saya yang bukan orang percaya bertanya kepada saya, "Kamu Kristen?" dan kemudian dia membuat pernyataan, "Saya benci kepada orang Kristen yang extrimis dengan menghakimi orang-orang homoseksual masuk ke neraka", dengan sedikit tersenyum saya menjawabnya "Kita bisa berbuat baik, tiap hari berdoa, tiap minggu ke gereja dan pelayanan tetapi tetap masuk ke neraka"

Memang dosa homoseksual tersebut kelihatannya lebih "besar" dibanding dosa-dosa yang lainnya, tetapi bukan karena kita tidak melakukan dosa tersebut sehingga kita masuk ke surga, secara gamblang saya mengatakan "Kita masuk ke surga bukan karena kita seorang yang heteroseksual"

Kerapkali kita "menghakimi" lebih daripada Tuhan menghakimi manusia dan kita mengampuni tidak sebanyak Tuhan mengampuni orang berdosa. Kita kadang-kadang terjebak di dalam pemikiran bahwa dosa saya lebih sedikit, atau saya lebih baik secara moral daripada orang-orang tersebut. Tanpa menyadari sebenarnya tidak ada perbedaan dosa kecil dan dosa besar, pada esensinya, dosa itu sama.

Bahkan dalam suratan Paulus untuk jemaat Korintus, Paulus menempatkan dosa banci dan pemburit bersama dengan dosa kikir, penipu (1 Korintus 6:9-10). Coba ingat kapan terakhir kali kita kikir? Kapan terakhir kali kita menipu?

Mari di Jumat Agung tahun ini kita mengingat kembali, bahwa kita diselamatkan semata-mata oleh karena pengorbanan Kristus di atas kayu salib, bukan karena usaha kita, sedikitpun perbuatan baik moral kita tidak menambahi upaya Kristus menyelamatkan kita, dan sebanyak apapun perbuatan dosa kita, Kristus tetap mampu untuk menyelamatkan kita.

Untuk itulah Injil bukan hanya untuk orang homoseksual tetapi untuk orang heteroseksual juga, Injil bukanlah hanya untuk orang yang belum percaya tetapi juga untuk orang yang sudah percaya, Injil harus terus berkumandang di hati kita, agar kita tidak akan pernah dapat menyombongkan diri di hadapan Tuhan kita, Yesus Kristus.

01 April, 2012

Sama-sama makan nasi

Pernahkah Anda mendengar pernyataan seperti ini "Selama orang itu makan nasi dan saya juga, maka saya juga bisa melakukan apa yang dia lakukan", karena hal tersebut akhirnya kita juga bisa jatuh ke jebakan: Selama kita makan nasi dan orang lain juga, orang lain juga dapat sama seperti kita, melakukan apa yang bisa kita lakukan.

Seringkali dalam hal berkomunitas di dalam sebuah gereja hal ini dapat terjadi juga, ketika si A melayani lebih dari si B, maka A bisa jatuh ke jebakan merasa lebih "hebat" dari si B, karena dia bisa melakukan apa yang si B tidak bisa ataupun tidak mau lakukan, dengan pandangan si B itu malas, tidak mau melakukan, tidak berusaha atau kurang rohani, tanpa ingin mengetahui lebih jauh lagi tentang kapasitas si B yang berbeda dengan si A.

Dan sudah tentu kita tidak bisa menilai kerohanian seseorang dari banyaknya pelayanan yang mereka lakukan di dalam gereja khususnya. Dan setiap orang mempunyai kapasitas yang berbeda, bukan karena ada orang-orang tertentu tidak bisa melakukan seperti apa yang kita lakukan berarti kita bisa men-cap mereka adalah yang kurang rohani.

Mari yang melayani agak "kurang" karena keterbatasan kapasitas talenta dalam melayani, mengucap syukurlah dan tetaplah setia melayani Tuhan seberapa banyakpun yang Tuhan percayakan di dalam hidup kita, dan jangan rendah diri.

Mari yang melayani agak "banyak" karena banyaknya  kapasitas talenta dalam melayani, ingatlah bahwa segala sesuatu adalah pemberian Tuhan, siapakah kita ini, hamba yang tidak berguna. Janganlah sekali-kali menyombongkan diri.