"Berkatmu tergantung dari seberapa dekat engkau dengan Tuhan, tergantung dari seberapa banyak engkau melayani Tuhan" -- Sebagai orang Kristen tentu kita sering mendengar penyataan ini bukan, tentu setiap rumusan ataupun formula harus dibuktikan kebenarannya sampai sejauh mana kebenarannya. Saya teringat ketika duduk di bangku SMP dan SMA, rumusan matematika pun harus dibuktikan apakah memang berhasil rumusannya dengan melakukan memasukkan variable-variable angka ke dalam rumusan itu sendiri.
Mari kita mulai, apakah benar hidup kita, dalam hal ini 'berkat kita' tergantung dari seberapa banyak kita dekat dengan Tuhan. Ambil salah satu contoh, kalau memang benar 'berkat' yang kita terima adalah tergantung dengan seberapa dekat dan seberapa banyak kita melayani, saya jamin semua orang pasti rajin melayani dan mendekatkan diri kepada Tuhan, namun fakta berbicara lain -- bahwa belum tentu orang yang dekat dengan Tuhan dan orang yang melayani Tuhan secara giat maka orang itu akan diberkati lebih daripada orang yang tidak melakukan kedua hal tersebut.
Saya rasa, sangat mudah sekali kita membuat rumusan bagi Allah, kita bahkan akhirnya menganggap rumusan itu adalah yang paling benar, bagaimana kalau salah -- maka kita akan berkelit, yah mungkin kita yang tidak punya 'iman' atau jatuh kepada ekstrim yang lain bahwa Allah tidak peduli akan kita akhirnya kita akan senantiasa menuntut Tuhan berdasarkan atas apa yang sudah kita lakukan.
Orang-orang pun akhirnya giat untuk melayani dan mendekatkan diri kepada Tuhan seolah-olah rohani, tapi kenyataannya adalah 'Rohana' (nama orang dan tidak ada hubungannya dengan hal rohani :)) -- karena yang kita kejar adalah pemberian Tuhan bukan Tuhan itu sendiri, kalau pemberian itu sudah kita terima maka Tuhan akan otomatis menjadi yang kedua dalam hidup kita selama kita bisa menikmati pemberian Tuhan tersebut.
Baiklah kita menyadari ketika kita giat melayani dan mendekatkan diri kepada Tuhan adalah bukti bahwa Allah sendirilah yang telah menyelamatkan diri kita di dalam karya penebusan Kristus, namun manusia seringkali 'take it for granted' -- manusia juga akhirnya menganggap bahwa yah memang selayaknya saya ditebus, selayaknya saya diberkati, selayaknya saya dapat hidup dengan enak. Tanpa mengerti siapa diri kita, dan siapa Allah itu sendiri, maka seluruh konsep hidup kita yang kita jalankan hanya seperti menjaring angin, akan sia-sia belaka.
Kalau mau diperiksa lebih lanjut sebenarnya kitalah orang-orang berdosa yang patut dihukum, kitalah yang seharusnya duduk di bangku terdakwa dan Tuhan duduk di bangku hakim hendak mendakwa kita, namun seringkali kita lupa akan hal tersebut, kita lupa siapa diri kita sebenarnya sehingga kita berani untuk menuntut segala sesuatu kepada Tuhan atas semua yang sudah kita lakukan. Seringkali, atau bahkan saya dapat katakan hampir setiap kali akhirnya Tuhan yang duduk di bangku terdakwa dan kita duduk di bangku hakim, dan pertanyaan yang dilontarkan hanyalah berkisar akan diri kita "Tuhan mengapa saya sudah rajin tapi hidup masih menderita, kenapa saya sudah melayani, sudah hidup benar tapi hidup masih begini-begini saja, mengapa orang fasik lebih 'diberkati' daripada saya" -- Inilah manusia TIDAK TAHU DIRI!!!!!!, berani-beraninya kita mengusik tahta Allah dan membuat Dia duduk dibangku terdakwa dan kita senantiasa menjadi hakim.
Marilah kita renungkan kembali, ketika kita melayani bagaimana motivasi pelayanan kita, apakah hanya untuk Tuhan atau untuk pemberian Tuhan, kalau Tuhan tidak memberi apakah kita masih mau Tuhan? Baiklah kita juga harus selalu mengingat bahwa kitalah yang harus duduk di bangku terdakwa, walaupun fakta bahwa kita sudah ditebus oleh darah Kristus dan kita sudah diselamatkan ini bukan berarti kita melupakan siapa diri kita sebenarnya.
Artikel ini ditulis terinspirasi oleh buku CS. Lewis yang berjudul. "God in the Dock"
Recent Posts
29 November, 2009
25 November, 2009
Lebih takut manusia dibanding takut akan Allah
Posted by
Anton Triyanto
Hari ini saya pakai baju apa yah? Aduh nanti orang lain anggap pakaian saya norak? Aduh rambut saya koq agak jelek yah, nanti pandangan orang bagaimana? Aduh gimana nih...aduh gimana?
Begitulah salah satu pertanda bahwa seringkali hidup kita ditentukan oleh penilaian orang lain, sehingga akhirnya kita lebih takut kepada manusia dibanding takut akan Allah, kita takut berbicara kebenaran ketika diperhadapkan oleh sesuatu yang mungkin akan mengurangi harga diri kita. Sehingga kita menjadi takut akan manusia, manusia dianggap lebih berkuasa daripada Tuhan. Apakah benar kita punya harga diri yang harus dipertahankan? Mari kita telaah lagi, bahwa kalau kita terlalu menekankan kepada harga diri yang dipertahankan maka kita akan jatuh kepada ekstrim cinta akan diri sendiri bukan cinta kepada Allah, diri sendiripun akan menjadi berhala buat hidup kita.
Takut akan Allah bukanlah sesuatu posisi di mana kita berhenti, namun takut akan Allah sebaiknya dilihat adalah sebuah proses yang senantiasa bergerak menuju kesempurnaan hidup di mana Allahlah yang menjadi tujuan dalam hidup ini, bukan manusia, bukan harga diri.
Orang yang suka membela dirinya adalah orang yang lebih takut kepada manusia dibanding kepada Allah, saya pun masih termasuk salah satu di dalamnya, saya lebih suka membela diri supaya 'harga diri' saya tidak terusik, entah pembelaan itu adalah kebenaran atau kesalahan -- hal tersebut dikesampingkan selama saya dapat mempertahankan 'harga diri' saya, supaya saya tidak malu di muka umum. Inilah salah satu tanda orang yang lebih takut manusia dibanding takut akan Allah.
Seringkali akhirnya kita melakukan segala sesuatu di hidup kita hanya karena kita takut akan manusia, takut tidak diterima di dalam komunitas kita. Kalau kita mempunyai prinsip yang benar dan bertahan di atas prinsip tersebut, walaupun orang lain melihatnya sebagai sebuah keanehan -- maka lambat laun kita akan merubah prinsip tersebut kalau kita takut akan manusia. Keputusan mayoritas pun dianggap yang paling benar bahkan dianggap adalah suara dan pimpinan Tuhan, inilah majunya gerakan humanis yang senantiasa menitikberatkan hidup pada kualitas manusia itu sendiri. Dan pada akhirnya manusialah yang menjadi 'Tuhan' bukan Tuhan sendiri.
Marilah sama-sama kita merenungkan benar-benar mempunyai integritas yang tinggi, untuk selalu belajar takut akan Allah di dalam hidup kita, entah di dalam keluarga, pekerjaan, sekolah, bergereja, atau dimanapun kita berada. Baiklah kita bisa berpegang pada prinsip kebenaran Firman Tuhan yang sejati walaupun dunia akan membenci kita.
Begitulah salah satu pertanda bahwa seringkali hidup kita ditentukan oleh penilaian orang lain, sehingga akhirnya kita lebih takut kepada manusia dibanding takut akan Allah, kita takut berbicara kebenaran ketika diperhadapkan oleh sesuatu yang mungkin akan mengurangi harga diri kita. Sehingga kita menjadi takut akan manusia, manusia dianggap lebih berkuasa daripada Tuhan. Apakah benar kita punya harga diri yang harus dipertahankan? Mari kita telaah lagi, bahwa kalau kita terlalu menekankan kepada harga diri yang dipertahankan maka kita akan jatuh kepada ekstrim cinta akan diri sendiri bukan cinta kepada Allah, diri sendiripun akan menjadi berhala buat hidup kita.
Takut akan Allah bukanlah sesuatu posisi di mana kita berhenti, namun takut akan Allah sebaiknya dilihat adalah sebuah proses yang senantiasa bergerak menuju kesempurnaan hidup di mana Allahlah yang menjadi tujuan dalam hidup ini, bukan manusia, bukan harga diri.
Orang yang suka membela dirinya adalah orang yang lebih takut kepada manusia dibanding kepada Allah, saya pun masih termasuk salah satu di dalamnya, saya lebih suka membela diri supaya 'harga diri' saya tidak terusik, entah pembelaan itu adalah kebenaran atau kesalahan -- hal tersebut dikesampingkan selama saya dapat mempertahankan 'harga diri' saya, supaya saya tidak malu di muka umum. Inilah salah satu tanda orang yang lebih takut manusia dibanding takut akan Allah.
Seringkali akhirnya kita melakukan segala sesuatu di hidup kita hanya karena kita takut akan manusia, takut tidak diterima di dalam komunitas kita. Kalau kita mempunyai prinsip yang benar dan bertahan di atas prinsip tersebut, walaupun orang lain melihatnya sebagai sebuah keanehan -- maka lambat laun kita akan merubah prinsip tersebut kalau kita takut akan manusia. Keputusan mayoritas pun dianggap yang paling benar bahkan dianggap adalah suara dan pimpinan Tuhan, inilah majunya gerakan humanis yang senantiasa menitikberatkan hidup pada kualitas manusia itu sendiri. Dan pada akhirnya manusialah yang menjadi 'Tuhan' bukan Tuhan sendiri.
Marilah sama-sama kita merenungkan benar-benar mempunyai integritas yang tinggi, untuk selalu belajar takut akan Allah di dalam hidup kita, entah di dalam keluarga, pekerjaan, sekolah, bergereja, atau dimanapun kita berada. Baiklah kita bisa berpegang pada prinsip kebenaran Firman Tuhan yang sejati walaupun dunia akan membenci kita.
22 November, 2009
Here I Stand: A Life of Martin Luther
Posted by
Anton Triyanto
Saya benar-benar takjub sekaligus takut. Saya berpikir, "Bagaimana saya dapat menyapa Raja Semesta Alam jika menghadapi raja-raja dunia ini saja manusia gemetar? Siapakah saya, hingga saya boleh mengangkat mata dan tangan saya di hadapan Yang Mahakudus? Para malaikat mengelilingi Dia. Dia berfirman dan bumi pun berguncang. Jadi, layakkah saya - manusia hina ini - menyatakan, "Saya ingin ini, saya minta itu?" Sebab saya hanyalah debu tanah yang cemar dan berdosa, dan saya sedang berbicara kepada Allah yang hidup, kekal, dan benar.
Roland Bainton. Here I Stand: A Life of Martin Luther (New York:New American Library, 1950),30.
20 November, 2009
SainganTerbesar Yesus
Posted by
Anton Triyanto
Saya mengangkat judul ini terinpirasi dengan kata-kata sahabat saya, dia bertanya siapakah saingan terbesar Yesus, saya menjawab Iblis. Lalu dia berkata "Tidak, saingan terbesar Yesus adalah Uang" -- saya termenung sejenak dan kemudian mulai memikirkan, bahwa benar adanya uang menjadi saingan terbesar Yesus, bahkan banyak dari kita hanya karena uang akhirnya melupakan Yesus, celakanya ada yang mau uang dan mau Yesus, kalau saya bisa dapat uang karena saya terima Yesus maka saya akan terima Yesus, tapi kalau saya sudah punya uang, Yesus akan menjadi yang kedua dalam hidup saya. Inilah persaingan yang sangat ketat sekali, setiap hari kita harus bergumul akan hal ini.
Apa reaksi kita, ketika mungkin kita kecurian uang yang banyak sekali, atau bahkan sesuatu yang akhirnya membuat kita mengeluarkan uang yang tadinya kita sudah simpan-simpan, terus terang pasti kita akan mengalami kekuatiran, sesuatu yang harus kita bayar tapi sebenarnya kita enggan membayarnya karena kita merasa bukan kita yang seharusnya membayarnya. Hal ini sedikit banyak akan mempengaruhi cara hidup kita, setidaknya pada hari itu ketika kejadian-kejadian tersebut berlangsung, namun baiklah kita kembali menghadap Tuhan dan percaya yakin bahwa Dialah sumber segalanya, bukan karena kita mau mendapatkan uang dari Dia, atau supaya Tuhan membantu kita menjadi uang kita supaya tidak ada kejadian yang terjadi di dalam hidup kita sehingga kita harus mengeluarkan uang. Namun supaya kita belajar bahwa hidup ini bukan untuk uang, tetapi untuk Tuhan -- Tuhanlah yang memberikan kepuasan yang abadi.
Ada satu pertanyaan yang ditanyakan kepada salah satu orang terkaya di dunia. "Kapan Bapak bisa puas dengan kekayaan Bapa?" -- Orang kaya tersebut menjawab "Ketika saya mendapatkan lebih dari apa yang saya punya" -- maka kita dapat katakan bahwa manusia tidak akan pernah puas dalam hal materi, ketika kita mengarahkan mata kita kepada hal-hal materi maka tidak akan pernah ada kepuasan di dalam hidup kita.
Arahkanlah senantiasa kepada hal-hal rohani, yaitu Yesus Kristus yang menjadi air hidup, memuaskan seluruh dahaga kita. Ini pun bukan berarti kita tidak harus bekerja, namun bekerjalah selagi bisa -- hanya janganlah menambatkan hati kita kepada harta di dunia ini yang tidak akan pernah dapat dibawa ke sorga.
Apa reaksi kita, ketika mungkin kita kecurian uang yang banyak sekali, atau bahkan sesuatu yang akhirnya membuat kita mengeluarkan uang yang tadinya kita sudah simpan-simpan, terus terang pasti kita akan mengalami kekuatiran, sesuatu yang harus kita bayar tapi sebenarnya kita enggan membayarnya karena kita merasa bukan kita yang seharusnya membayarnya. Hal ini sedikit banyak akan mempengaruhi cara hidup kita, setidaknya pada hari itu ketika kejadian-kejadian tersebut berlangsung, namun baiklah kita kembali menghadap Tuhan dan percaya yakin bahwa Dialah sumber segalanya, bukan karena kita mau mendapatkan uang dari Dia, atau supaya Tuhan membantu kita menjadi uang kita supaya tidak ada kejadian yang terjadi di dalam hidup kita sehingga kita harus mengeluarkan uang. Namun supaya kita belajar bahwa hidup ini bukan untuk uang, tetapi untuk Tuhan -- Tuhanlah yang memberikan kepuasan yang abadi.
Ada satu pertanyaan yang ditanyakan kepada salah satu orang terkaya di dunia. "Kapan Bapak bisa puas dengan kekayaan Bapa?" -- Orang kaya tersebut menjawab "Ketika saya mendapatkan lebih dari apa yang saya punya" -- maka kita dapat katakan bahwa manusia tidak akan pernah puas dalam hal materi, ketika kita mengarahkan mata kita kepada hal-hal materi maka tidak akan pernah ada kepuasan di dalam hidup kita.
Arahkanlah senantiasa kepada hal-hal rohani, yaitu Yesus Kristus yang menjadi air hidup, memuaskan seluruh dahaga kita. Ini pun bukan berarti kita tidak harus bekerja, namun bekerjalah selagi bisa -- hanya janganlah menambatkan hati kita kepada harta di dunia ini yang tidak akan pernah dapat dibawa ke sorga.
14 November, 2009
10 November, 2009
03 November, 2009
Living for Jesus
Posted by
Anton Triyanto
Entah kenapa sepanjang minggu ini selalu ingat akan lantunan lagu ini.
Words by: Thomas O. Chisholm
Music by: C. Harold Lowden
Verse 1
Living for Jesus, a life that is true,
Striving to please Him in all that I do;
Yielding allegiance, glad hearted and free,
This is the pathway of blessing for me.
Refrain
O Jesus, Lord and Savior, I give myself to Thee,
For Thou, in Thy atonement, didst give Thyself for me.
I own no other Master, my heart shall be Thy throne.
My life I give, henceforth to live, O Christ, for Thee alone.
Verse 2
Living for Jesus Who died in my place,
Bearing on Calvary my sin and disgrace;
Such love constrains me to answer His call,
Follow His leading and give Him my all.
Verse 3
Living for Jesus, wherever I am,
Doing each duty in His holy Name;
Willing to suffer affliction and loss,
Deeming each trial a part of my cross.
Verse 4
Living for Jesus through earth’s little while,
My dearest treasure, the light of His smile;
Seeking the lost ones He died to redeem,
Bringing the weary to find rest in Him.
Words by: Thomas O. Chisholm
Music by: C. Harold Lowden
Verse 1
Living for Jesus, a life that is true,
Striving to please Him in all that I do;
Yielding allegiance, glad hearted and free,
This is the pathway of blessing for me.
Refrain
O Jesus, Lord and Savior, I give myself to Thee,
For Thou, in Thy atonement, didst give Thyself for me.
I own no other Master, my heart shall be Thy throne.
My life I give, henceforth to live, O Christ, for Thee alone.
Verse 2
Living for Jesus Who died in my place,
Bearing on Calvary my sin and disgrace;
Such love constrains me to answer His call,
Follow His leading and give Him my all.
Verse 3
Living for Jesus, wherever I am,
Doing each duty in His holy Name;
Willing to suffer affliction and loss,
Deeming each trial a part of my cross.
Verse 4
Living for Jesus through earth’s little while,
My dearest treasure, the light of His smile;
Seeking the lost ones He died to redeem,
Bringing the weary to find rest in Him.
01 November, 2009
Renew a right spirit within me
Posted by
Anton Triyanto
Be much in prayer; live much upon the Word of God; kill the lusts which have driven your Lord from you; be careful to watch over the future uprisings of sin. "Renew a right spirit within me." -- C.H. Spurgeon