Recent Posts

23 August, 2013

I'm not anxious about my life


I'm not anxious about my life
But about consuming luxurious food
And putting splendour clothes

For I feel they are more than life

For I see they are more than body

I'm not anxious of not getting what I need

But of not receiving what I want

Save me from this idolatrous eyes!

Deliver me from this gluttonous insides!
Thus this anxiety will fade away

13 August, 2013

Membatasi akses internet


Pornografi. Sesuatu yang tentu tidak asing di telinga, namun jarang sekali dibicarakan dan bahkan seringkali disembunyikan di bawah keset kaki. Saya teringat pertama kali sulitnya saya untuk dapat mengaksesnya ketika masih remaja. Di saat itu akal bulus sangat diperlukan agar tidak tertangkap basah waktu mengakses hal tersebut. Bahkan ketika pindah ke Australia—negara yang lebih bebas dari Indonesia—mengkonsumsi hal tersebut tidaklah mudah, karena orang akan melihat ketika saya masuk ke convenience store dan membeli “majalah” berisi hal tersebut.

Berbeda sekali dibandingkan di abad ke-21 ini, di mana segala sesuatu dapat diakses hanya dari sebuah smartphone. Terlebih dari itu, di manapun Anda mau, Anda dapat mengaksesnya—bahkan di dalam lemari baju Anda yang tertutup rapat, walaupun itu tergantung kuatnya signal mobile Anda—tanpa kuatir seorang akan mengetahuinya.

Tidak sedikit artikel yang telah membahas betapa buruknya hal tersebut, bagaimana cara menanggulanginya, bagaimana berperang melawannya. Namun, di kesempatan ini saya hanya menyuguhkan satu saran untuk membatasi akses internet smartphone Anda. Tentu ini bukanlah jawaban dari masalah tersebut, tetapi setidaknya hal ini dapat menghentikan akses Anda ketika Anda sedang seorang diri, dalam ruangan yang terkunci rapat.

Banyak orang beragumentasi bahwa dengan membatasi akses internet, maka kita tidak akan belajar mengenai penguasaan diri. Menjawab hal tersebut, justru karena saya tidak terlalu percaya bahwa saya bisa menguasai diri, untuk itulah saya membatasi akses smartphone saya. Tentunya saya tidak mau terdengar seperti seorang legalis yang berpikiran jika saya melakukan hal ini maka saya pasti terbebas dari hal tersebut. Tentu tidak. Tentu Tuhanlah yang dapat menolong kita dari masalah tersebut, tetapi saya percaya Dia dapat memakai banyak cara.

Heath Lambert dalam bukunya—Finally Free—menyebutkan setidaknya 8 strategi yang dapat kita lakukan untuk menanggulangi masalah tersebut. Salah satu di antaranya adalah membuat langkah-langkah radikal, saya pikir saran yang akan saya berikan adalah salah satu langkah radikal yang mungkin Anda dan kita bisa lakukan.

Saran saya adalah, untuk membatasi sebagian akses internet smartphone Anda dengan menaruh software yang bernama Covenant Eyes ($8.99/bulan). Software ini mendeteksi websites apa saja yang Anda sudah jelajahi. Kemudian, software ini secara waktu berkala mengirimkan data tersebut kepada teman yang sudah Anda pilih. Teman Anda dapat menanyakan dengan penuh kesedihan: “Mengapa Anda menjelajahi situs Y pada hari Z”. Bahkan lebih baik jika Anda mengakuinya ke teman Anda sebelum teman Anda menanyakannya—berharap tentunya dengan satu penyesalan dan kesedihan juga. Dengan kedua hal di atas, saya berharap percakapan dari hati ke hati dapat terjadi. Hal ini bukan untuk melihat rendah atau menjatuhkan Anda, melainkan untuk membantu Anda dari masalah Anda.

Jika Covenant Eyes terlalu mahal bagi Anda, mungkin alternatif yang lain adalah membatasi akses internet Anda sepenuhnya. Bila Anda memakai iPhone, Anda dapat meminta tolong teman Anda untuk mengaktifkan Parental Controls—mematikan Safari dan Installing Apps. Dengan demikian, Anda sama sekali tidak dapat mengakses websites dari smartphone Anda, di manapun Anda berada. Maukah Anda membatasi akses internet di smartphone Anda? Atau Anda sedang membaca tulisan ini di lemari baju yang terkunci rapat?

24 July, 2013

Janji dan Hukum di Perjanjian Lama

"Kamu harus menjadi kepala dan bukan ekor", begitulah kata-kata yang terngiang-ngiang di telinga banyak orang Kristen. Kedengarannya seperti kata-kata motivasi, tetapi ini memang janji Tuhan kepada  bangsa Israel. Tapi apakah Janji ini masih berlaku di zaman ini? Kalaupun iya, apakah bentuknya? Apakah berarti kita semua akan menjadi kepala dalam arti memimpin, seperti mungkin menjadi seorang manajer di perusahaan?

Kalimat tersebut dilanjutkan "Kamu akan terus naik dan tidak turun". Definisi naik itu apa? Apakah berarti kita akan berada di atas masalah? Atau berarti kehidupan kita akan selalu menuju ke puncak, baik dari karir, keluarga dan segalanya? Tapi apakah mungkin janji Tuhan kepada Israel waktu itu bukanlah untuk kita, walaupun memang kita adalah Israel yang sejati sebagai orang Kristen. Ataukah kita yang kerapkali menerjemahkan ayat-ayat Alkitab di Perjanjian Lama untuk kepentingan pribadi kita.

Bukankah kita seringkali tidak konsekuen? Di satu pihak kita mau janji-janji yang baik di Perjanjian Lama, tetapi ketika Hukum dibacakan, kita akan begitu cepatnya berkata "Hukum Taurat sudah dipenuhi di Yesus Kristus, untuk itu tidak revelan lagi". Sedangkan tidak pernah kita akan berkata janji-janji di Perjanjian Lama sudah dipenuhi di dalam Kristus. Ataupun jikalau kita berkata sudah dipenuhi di dalam Kristus, bukankah Kristus sudah lebih dari cukup daripada janji untuk menjadi kepala bukan ekor? untuk tetap naik dan tidak turun? (itupun kalau memang ayat tersebut sepatutnya diterjemahkan secara gamblang)

Hmm....

30 June, 2013

Semester satu selesai

Minggu lalu adalah minggu terakhir ujian di sekolah saya. Walaupun hasil dari ujian tersebut belum kelar, tetapi rasa lega di dada sudah terasa. Sekolah untuk mendalami Alkitab ternyata tidak semudah yang saya bayangkan—sulit malah. Apalagi bahasa pengantar yang dipakai adalah Bahasa Inggris. Tetapi setelah semester ini selesai (saya harap lulus "subjects" yang saya ambil lulus semua), saya mengucap syukur atas bimbinganNya selama semester pertama. Masih ada tujuh semester di depan yang harus ditempuh, berdoa agar saya selalu melihat kepada Kristus bukan kepada seberapa baik nilai yang harus saya capai.

20 May, 2013

Membuat Perjanjian Lama "masuk akal"

Mengapa Perjanjian Lama tetap dimasukkan sebagai Kitab Suci umat Kristiani? Banyak konsep-konsep yang sulit dimengerti, apalagi ketika Yesus Kristus sudah lahir, mati, bangkit dan naik ke surga. Apakah Perjanjian Lama masih relevan untuk umat Kristiani. Seringkali kita sebagai umat Kristen melupakan Perjanjian Lama, sehingga tidak sedikit dari kita yang enggan mempelajarinya.

Bagaimana kita membuat Perjanjian Lama lebih "masuk akal"? Mungkinkah sebenarnya Perjanjian Lama adalah satu bagian dari keutuhan karya keselamatan Allah untuk umat manusia di muka bumi ini? Buku di bawah ini saya anjurkan untuk Anda yang selalu bertanya-tanya mengapa Perjanjian Lama harus ada? Apakah signifikansinya? Selamat membaca.


According to Plan - Graeme Goldsworthy

The massive diversity and complexity of the Bible can make it a daunting project for anyone to tackle. Getting a grasp on the unity of the Bible, its central message from Genesis to Revelation, helps immensely in understanding the meaning of any one book or passage. That is the goal of this book by Graeme Goldsworthy.

Goldsworthy answers these questions with an integrated theology of both Old and New Testaments that avoids unnecessary technicalities. Concise, pithy chapters featuring dozens of charts, highlighted summaries and study questions make an enormously useful book for understanding how the Bible fits together as the unfolding story of God's plan for salvation.

15 March, 2013

Dipenuhi Roh Kudus


5:18 Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,

5:19 dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.

5:20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita

5:21 dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.

Ayat-ayat di atas rasanya sudah tidak asing di telinga umat Kristiani, sering kali dipenuhi dengan Roh diartikan sebagai berkat yang kedua, padahal bukan itu yang dimaksudkan Paulus. Secara kontras Paulus memakai gambaran orang yang mabuk sehingga akan memimpin orang tersebut untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak terkontrol, karena ketika kita mabuk oleh alkohol itulah yang terjadi, tidak ada kontrol lagi, tetapi ketika kita penuh dengan Roh, hidup kita "terkontrol" oleh Roh kudus.

Dalam bahasa aslinya, kata kerja 'penuh' di dalam bentuk imperative yaitu kata kerja perintah, sedangkan "berkata-kata", "bernyanyi", "mengucap syukur" dan "tunduk (merendahkan diri)"  adalah dalam bentuk participle.

Jadi keempat "participle" tersebut adalah bagian dari "penuh" dengan Roh, keempat "participle" tersebut menjelaskan apakah artinya dipenuhi oleh Roh Kudus, yaitu:

1. Berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani.
2. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.
3. Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita
4. Rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.

Sebaiknya keempat ayat tersebut dibaca seperti ini:

Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu
tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh (yaitu)
  • dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani.
  • Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.
  • Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita
  • dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.

08 March, 2013

Kami hanya manusia biasa

Sudah hampir memasuki minggu ke-4 di sekolah teologia. Suka duka sudah terasa di dalam perjalanan menimba ilmu untuk mengetahui lebih dalam lagi akan Tuhan. Banyak hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan kini mulai dibukakan satu persatu, seperti satu 'revelation' yang baru di dalam hati.

Semakin banyak kami sebagai pelajar di sekolah teologia, semakin kami menyadari kami masih tetap sama dengan orang lain, tidak ada suatupun yang dapat kami banggakan, kami tidak lebih baik dari orang-orang awam, kami masih manusia yang bergumul akan dosa-dosa kami. Bahkan masih banyak pertanyaan-pertanyaan di dalam hati kami yang mungkin dapat 'mengoncang' iman kami. Tetapi kami percaya bahwa Tuhan sumber segala kasih karunia akan menolong sampai kesudahannya.

Justru semakin kami belajar akan Firman Tuhan, semakin kami harus mengenal betapa bobroknya kami, seorang pendosa yang membutuhkan kasih karunia, dan mengenal Allah yang Maha Kudus sehingga Dia harus mengirimkan AnakNya Yesus Kristus untuk mati di atas kayu salib, mati, dikuburkan, bangkit dan naik ke surga, sehingga kita manusia penuh dosa dielakkan dari murka Allah, digantikan oleh Kristus dan masuk di dalam Kristus untuk bersekutu dengan Allah yang Maha Kudus.

Terima kasih Tuhan atas kasih karuniaMu di dalam Kristus. Amin.

10 February, 2013

Jabat tangan

Kenapa yah setiap selesai kebaktian Minggu selalu ada jabat tangan dengan Pendeta di pintu keluar gereja, khususnya di gereja-gereja Indonesia juga gereja-gereja Indonesia yang di luar negeri, saya belum mencari tahu apakah ini juga ada di gereja non-Indonesia.

Saya tidak tahu sih apa yang menjadi latar belakang jabat tangan setelah kebaktian minggu. Mungkin hal ini dipengaruhi olah kebudayaan orang Asia yang lebih kekeluargaan. Memang cukup baik juga apalagi kalau jumlah jemaatnya masih sedikit, tapi kalau sudah banyak apakah hal tersebut masih relevan?

Ada yang merasa kalau tidak jabat tangan pendeta rasanya kurang afdol, atau ada juga yang merasa kalau tidak jabat pendeta nanti bisa dikirim tim pembesuk. Sedangkan yang menjabat tangan juga (Pendeta, majelis atau siapapun yang berdiri di pintu keluar gereja) jangan sampai menjadi satu formalitas, tidak sedikit orang menjabat tangan tapi matanya tidak melihat mata orang yang dijabat, kalau memang seperti itu lebih baik tidak usah dilakukan.

28 January, 2013

Gue pesimis

Gue pesimis untuk tetap bisa mempertahankan iman sampai kesudahan, tetapi Tuhan sangat optimis akan hal itu. Terima kasih Tuhan.

13 January, 2013

Tanpa Kristus

"How can anyone be arrogant when he stands beside the cross?" Carl Henry

Benar, ketika (yah "ketika" bukan "jika" ini akan terjadi di dalam hidup Anda, hanya waktulah yang menentukan) kesombongan itu mulai mengintip di balik pintu hati Anda, berdirilah di samping Salib Kristus dan merenungi bahwa tanpa Kristus apapun yang kita lakukan adalah sia-sia, karena tanpa Kristus kita adalah seorang pendosa mati yang berujung kepada maut.

Tanpa Kristus sebagus apapun pekerjaan yang Anda miliki tidak akan dapat menghidupkan Anda dari kematian Anda. Tanpa Kristus sebanyak apapun harta Anda tidak akan sanggup menebus bahkan untuk dosa kita yang "kecil" sekalipun.

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. (Ef 2:8, 9 TB)

02 January, 2013

13 Resolutions 2013

Tally-ho! New year is finally here, resolutions oh resolutions, I'm not a big fan of new year resolutions, I think you can make your resolutions without having to wait for a new year. I believe more in sanctification, a process, day by day to "resolve" your sins, weaknesses. Though I have made an attempt to list about things that I need to improve on in 2013.

1. I need to read bible more
2. I need to pray more often
3. I need to honour my mum and dad more
4. I need to study hard
5. I need to decrease my sugar consumption
6. I need to do more exercise
7. I need to get rid of my fat belly
8. I need to eat more fruits and veggies
9. I need to be more forgiving
10. I need to be more self-control
11. I need to be more loving
12. I need to consume less internet
13. I need to revisit this list

Hamba Tuhan Pengalaman

Kenapa yah banyak Hamba Tuhan "berkhotbah" selama 40-50 menit. Tetapi sekitar 70-80 persen atau tidak sedikit 90 persen dari waktu tersebut dihabiskan untuk menceritakan pengalaman pribadinya bersama Tuhan. Bukan saya menentang hal tersebut, tetapi apakah Mimbar adalah tempat yang tepat untuk sekedar menceritakan pengalaman pribadi?

Bahkan ada hamba Tuhan yang sama sekali tidak membuka Alkitab ketika sedang berkhotbah, kalau membuka pun hanya sebagai satu "keharusan" terlepas khotbah yang dilontarkan sama sekali tidak berhubungan dengan ayat alkitab yang dibuka.

Kalau memang begitu, mungkin lebih baik jika gereja mencari orang-orang yang pandai berbicara dan mempunyai pengalaman yang banyak bersama Tuhan (bukan berarti Hamba Tuhan tidak mempunyai pengalaman yang banyak).

Satu sisi gereja mengharuskan seorang Hamba Tuhan adalah lulusan dari STT (Sekolah Tinggi Teologia), bahkan gereja tertentu mengharuskan Hamba Tuhan lulus dari STT tertentu juga. Tetapi di sisi lain selama Hamba Tuhan tersebut dapat berbicara di Mimbar dan dapat menarik perhatian jemaat itu sudahlah cukup tanpa memperhatikan apakah benar Hamba Tuhan tersebut sedang mengajar Firman Tuhan atau tidak.

Bahkan tidak sedikit Hamba Tuhan yang berkhotbah seperti layaknya seorang marketing executive yang tengah menjajakan produknya, gerejanya dalam hal ini.

Jadi perlukah seorang Hamba Tuhan menceritakan pengalaman hidupnya bersama Tuhan di Mimbar, jika yah seberapa banyak?

Apakah khotbah di Mimbar masih dapat dinamakan khotbah ketika tidak ada pengajaran tentang Firman Tuhan melalui Alkitab sebagai Otoritas Allah untuk umat Kristen?

03 September, 2012

Musim Semi

Telah kulupakan,
Dingin yang selalu menusuk sukmaku
Telah pergi meninggalkan jejak-jejak angin
Datanglah bunga-bunga yang bermekaran
Menatap harapan di depan
Sambil tertawa bersama sang Kumbang
Ditemani oleh gemerisik air di tepi pelabuhan itu
Terima kasih Tuhan atas musim semi
Di mana harapan itu lahir kembali

24 August, 2012

Harapan

Yah..

Aku mengulurkan tanganku ke dalam lumpur itu..
Walaupun kotor tetapi akan kuterima apa adanya
Aku memang mungkin tidak dapat menjadi penolongmu
Tetapi aku akan selalu mencoba dan menanti engkau meraih tanganku.

Aku mendengar sayup-sayup suaramu, dari hati kecilmu
Aku akan menemanimu agar engkau tidak sendiri.
Di dalam lumpur itu, aku akan berikan kehangatan, terang dan harapan.

Aku mengerti...
Engkau selalu memohon untuk keluar dari kubangan itu.
Biarlah aku mencoba membawa engkau keluar dari sana...

Engkau tidah harus terjatuh kembali
Engkau tidak harus mendengarkan perkataan yang lain...
yang menjatuhkanmu..
Engkau sanggup mengatakan TIDAK!

Sebuah kata yang memang begitu singkat
Akan kubantu membuka bibirmu yang kelu...
Saat hendak mengucapkan kata itu...
Yah..engkau sanggup

Saat itu sudah berlalu...
Katakanlah TIDAK, supaya engkau tidak akan terjerembab kedua kalinya
Aku menunggumu di atas sini
Melihat ke bawah...
Dengan penuh pengharapan
Sambil mengulurkan tanganku
Untuk mencoba menolongmu

Yah, 
Semoga puisi ini sanggup untuk membangunkanmu dari lumpur penyesalan itu.

16 August, 2012

Pemudi Kesayangan Allah


Pemudi kesayangan Allah, ketika aku memperhatikanmu malam ini, aku berharap dapat memperoleh kesempatan untuk bercakap-cakap denganmu. Aku memperhatikan wajahmu yang cantik sementara engkau menyanyi dan menyembah. Engkau mengingatkanku akan diriku sendiri tujuh tahun yang lalu.

Sehabis kebaktian, aku memperhatikan bagaimana engkau masuk ke dalam mobil dengan seorang pemuda yang tak mengenal Allah. Memang benar dia berada di gereja malam ini, dia bahkan maju ke depan dan menitikkan sedikit air mata. Aku yakin engkau takkan bersedia menerima pendapat bahwa bagi dia, hal tersebut merupakan tanda diakhirinya sesuatu.

Tujuh tahun silam aku berada di dalam keadaan seperti dirimu. Aku telah mengenal Allah sejak awal masa remajaku dan bertumbuh di bawah khotbah dan pengajaran yang diurapi Allah. Aku tak kekurangan teman-teman pemuda maupun mereka yang mengajakku pergi, seperti yang seringkali terjadi di dalam gereja dimana para pemudi jumlahnya lebih banyak dari para pemuda. Beberapa pemuda yang amat baik dan penuh pengabdian mencoba mendekatiku, namun iblis yang tak pernah lalai memperhatikanku, menunggu dengan sabar untuk menjerat jiwaku, dan ia melihatku ketika aku sedang suam-suam kuku. Aku memang masih pergi ke gereja dan memainkan acordionku dan menyanyi dan melakukan semua hal-hal yang tampak benar secara lahiriah. Namun aku tak pernah lagi punya waktu-waktu khusus dengan Allah dimana kehendakNya dan kehendakku menjadi satu.

Aku berjumpa dengan pemuda itu di tempat kerjaku. Dan tak lama kemudian, tanpa ada yang mengetahuinya, aku merasa seakan-akan aku tak dapat hidup tanpa dia. Dia tahu tentang gerejaku dan ketika ia hadir bersama denganku, ia maju ke depan, menangis, dan akhirnya aku menikahinya, padahal keluargaku dan mereka yang mengasihiku menangis dan merasakan kepedihan. Baru enam bulan kemudian aku menjadi sadar bahwa jiwaku berada di dalam bahaya dan bahwa aku membutuhkan jamahan Allah. Aku berdoa dan menemukan Allah. Lalu pertikaianpun dimulai. Dia tak mau ke gereja lagi. Aku dapat menghitung dengan jari-jariku saat-saat dimana ia pergi ke gereja selama tujuh tahun terakhir ini!

Sebelum menikahinya, pemikiran untuk hidup tanpa dia sungguh tak tertahankan. "Betapa sepinya!" pikirku. Namun sekarang ini aku baru tahu apa arti kesepian yang sesungguhnya, dan aku ingin menceritakannya kepadamu.

Kesepian itu adalah ketika aku menerima berkat Allah dan pulang ke rumah kepada seorang pria yang tak dapat berbagi rasa tentang hal itu denganku. Dia tak menaruh minat; dia sedang menonton televisi.

Kesepian itu adalah ketika aku pergi ke suatu kegiatan gereja seorang diri dan memperhatikan pasangan-pasangan muda lainnya menikmati berkat Allah bersama-sama. Aku boleh memilih, pergi sendiri atau tinggal di rumah sendiri; sebab dia punya minat yang lain.

Kesepian itu adalah merasakan adanya urgensi akan kedatangan Kristus yang sudah semakin dekat dan tahu bahwa orang yang paling engkau kasihi di bumi ini belum siap, bahkan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kepedulian.

Kesepian itu adalah melihat dua anak dilahirkan dan tahu bahwa untuk dapat memiliki pengaruh yang bisa melebihi pengaruhnya merupakan suatu mujizat.

Kesepian itu adalah pergi menghadiri suatu Konperensi Umum dan melihat pasangan-pasangan muda dimana-mana yang benar-benar bersatu dan mempunyai dedikasi terhadap pekerjaan Allah dan kemudian, itu dia pemuda yang dulu mengasihimu dan berniat menikahimu. Ia sedang berkhotbah dan masih tetap belum menikah. Oh Tuhan! Tolonglah aku! Aku tak boleh memikirkannya!

Kesepian itu adalah berbaring di ranjang tanpa dapat memejamkan mata oleh karena dihantui perasaan bahwa dia telah mengkhianati kesetiaanmu. Dan kemudian datanglah kepedihan yang tak tertahankan oleh karena mengetahuinya secara pasti. Ia tak peduli kalau aku mengetahuinya. Wanita itu bahkan meneleponku. Setelah beberapa lama, ia berusaha memutuskan hubungan dengan wanita itu. Aku bersumpah bahwa aku akan melakukan apa saja yang dapat dilakukan oleh seorang manusia untuk mempertahankan pernikahan ini. Aku akan lebih banyak mengasihi dia dan lebih banyak berdoa baginya.

Kemudian, tujuh tahun telah berlalu! Sekarang ada dua anak kecil: perempuan dan laki-laki!

Kesepian itu adalah sekarang. Anak-anakku dan aku akan pulang ke apartemen yang gelap, kosong, yang akan merupakan tempat tinggalku sampai tiba saatnya pengacara memutuskan bahwa segala sesuatu telah berlalu. Aku, yang dulunya paling takut hidup sendirian, sekarang ini menyongsong datangnya ketenangan dan kesunyian itu. Ketika aku bercermin, aku melihat bahwa tujuh tahun tidaklah terlalu mengubah wajahku namun di dalam diriku aku telah menjadi tua, dan sesuatu yang dulunya hidup dan indah sekarang sudah mati.

Tentu saja ini bukanlah kisah yang tak lazim. Namun yang istimewa adalah bahwa aku masih tetap hidup bagi Allah. Aku bersyukur bagi keluargaku dan doa-doa syafaat mereka bagiku.

Oh, aku berdoa bagimu, pemudi kesayangan Allah! Percayalah kepadaku, sebaik apapun dia itu adanya, betapa penuh kasih dan kelembutan engkau takkan dapat membangun suatu kehidupan yang berbahagia di atas ketidaktaatan kepada Firman Allah. Engkau lihat, apapun yang tersedia bagiku di masa mendatang, aku telah kehilangan kehendakNya yang sempurna bagi hidupku. Aku takkan pernah berhenti membayar harganya oleh karena melanggar perintah Allah! Jangan sampai hal itu terjadi padamu!

"Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?" (II Korintus 6:14)

(Diambil dari majalah Vanguard)
I got it from Jeffrey Siauw post.

05 August, 2012

Meledak

Hari itu, aku tak dapat menahan gelora di kalbu.
Berulang kali aku mencoba mengatupkan bibirku,
Namun hati itu terus mendorongku,
Sampai bendungan hatiku hancur luluh,
meledak karena rasa di dalam relung.

29 July, 2012

Makanan Jasmani VS Makanan Rohani


Beberapa bulan ini saya diberikan kesempatan berteman dengan seseorang yang bersekolah mengenai nutrisi makanan. Sehingga kerap kali percakapan yang dibicarakan adalah  mengenai nutrisi sebuah makanan serta implikasinya dalam kesehatan tubuh kita jikalau kita mengkonsumsikannya.

Adapun melalui percakapan-percakapan yang diperbincangkan, saya menarik kesimpulan bahwa makanan yang sehat hampir rata-rata tidaklah terasa enak di lidah kita, karena kita sudah terbiasa dengan makanan-makanan yang tidak sehat. Kita sudah terbiasa mengkonsumsi makanan yang mungkin akan membahayakan kesehatan tubuh kita baik dalam rentang waktu yang dekat maupun yang jauh.

Demikian dengan halnya makanan rohani, seringkali mungkin kita sudah terbiasa dengan makanan-makanan rohani yang kurang sehat, dalam hal ini pengajaran yang tidak sehat namun terasa manis di mulut hati kita. Makanan-makanan tersebut ketika disajikan memang membuat kita tertawa tetapi kita tidak menyadari bahwa sebenarnya kita sedang dibawa ke dalam suatu penyesatan melalui makanan-makanan tersebut.

Memang bukan berarti semua makanan rohani yang membuat kita tertawa adalah makanan yang tidak sehat. Intinya adalah janganlah makan makanan rohani yang hanya terasa enak di telinga dan di hati, kalau makanan rohani tersebut tidak enak maka kita tidak mau memakannya, padahal kita menyadari bahwa justru makanan-makanan yang "tidak enak" itulah makanan rohani yang sehat.

Namun hal ini juga menjadi tantangan bagi hamba Tuhan yang menyajikan makanan rohani tersebut, bagaimana dengan tetap setia dalam menyajikan makanan rohani yang sehat dengan cara-cara penyajian yang "menarik". Selain daripada itu jemaat sebagai pendengar juga harus belajar untuk memakan makanan rohani yang bukan hanya enak di dengar tetapi yang tidak enak di dengar juga, yang terpenting adalah apakah makanan rohani itu mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik kita di dalam kebenaran.

02 July, 2012

Menanti di dalam Kereta


Aku menghempaskan aku di sebuah bangku kereta
Sementara roda-roda kereta tertawa kecil menikmati indahnya dedaunan
Mata hatiku tidak dapat terpejam menantikan masa depan di lembaranku
Akan ku raih seluruh impian-impian indah itu dalam sanubariku
Bersabarlah, sampai kutiba di stasiun terakhir
Selangkah lebih dekat lagi akan terkabulnya harapanku.

23 June, 2012

Hamba Tuhan juga manusia

Kerap kali kita menganggap Hamba Tuhan sebagai seseorang yang patut memberi contoh, seseorang yang "lebih rohani" dibandingkan dengan orang-orang Kristen pada umumnya. Sehingga tidak jarang Hamba Tuhan selalu dituntut mengenai perbuatan moralitasnya, dia harus baik, harus pengertian, harus dapat mengasihi jemaat, harus dapat hidup sesuai dengan Firman Tuhan, tidak curang, dan masih banyak hal yang lainnya yang tidak akan cukup kalau saya paparkan di sini.

Memang baik ketika kita meninjau "hal-hal moralitas" dalam kehidupan seorang Hamba Tuhan. Namun kalau kita tidak hati-hati kita akan jatuh ke dalam dosa legalisme yang hanya menitikberatkan kepada perbuatan semata-mata. Hamba Tuhan masih seorang manusia, dia masih seorang yang bergumul dengan dosanya.

Kita akan merasa kecewa kalau kita terlalu menganggap hamba Tuhan adalah "tuhan" ataupun "penyelamat" di dalam hidup kita, apalagi setelah melihat "sisi jelek" hamba Tuhan tersebut, bisa-bisa kita akan meninggalkan apa yang kita percaya, atau mungkin sebelumnya kita memang belum percaya, yang ada hanyalah "percaya yang semu". Karena kita terlalu melihat kepada moralitas ketimbang melihat karya Kristus di dalam hidup kita dan di dalam hidup Hamba Tuhan tersebut.

"Hamba Tuhan harus pakai software yang asli, jangan pakai software yang bajakan" salah satu contoh pernyataan dari seorang Kristen. Memang tidak salah dengan pernyataan tersebut, tetapi apakah hanya Hamba Tuhan yang harus memakai software asli? Bagaimana dengan orang Kristen biasa, jadi apakah orang Kristen biasa boleh pake software bajakan?

"Hamba Tuhan harus rendah hati" Betul! Tetapi apakah hanya hamba Tuhan yang harus rendah hati, kalau kita Kristen yang "biasa-biasa" saja tidak apa-apa kalau kita tidak rendah hati.

Tetapi di lain pihak hamba Tuhan yang tidak mau ditegur akan dosanya akan berkata "Hamba Tuhan kan juga manusia jadi bisa satu ke dalam dosa". Sehingga sebutan "hanya seorang manusia" dipakai untuk melegalkan segala dosa yang kita lakukan.

Memang hamba Tuhan tetaplah manusia yang masih terus berjuang dengan dosanya sendiri, tapi kita juga tetap bisa menghormati mereka namun tidak di atas kebenaran Firman Tuhan itu sendiri.

20 June, 2012

A Prayer by Blaise Pascal

I ask you neither for health nor for sickness, for life nor for death; but that you may dispose of my health and my sickness, my life and my death, for your glory . . . .  You alone know what is expedient for me; you are the sovereign master; do with me according to your will.  Give to me or take away from me, only conform my will to yours. I know but one thing, Lord, that it is good to follow you, and bad to offend you. Apart from that, I know not what is good or bad in anything. I know not which is most profitable to me, health or sickness, wealth or poverty, nor anything else in the world. That discernment is beyond the power of men or angels, and is hidden among the secrets of your Providence, which I adore, but do not seek to fathom.

Blaise Pascal