I was visiting one of the biggest church in Jakarta on Christmas Eve service 24 December 2011. Everything was awesome except one thing: I saw two people were playing with their Blackberry during the sermon. Are you kidding me? Playing with your phone during a sermon where God's word being preached?
Of course I cannot and should not judge people based on their actions, by what they do or don't do. But imagine for a second if you have a chance to meet the President, would you do that? Would you send a message to your Blackberry friends talking about Mr. President or worse about something that has nothing to do with him in front of him?
Now, I myself often tempted to check my iPhone (sorry I don't have Blackberry) - not my bible app - during the sermon. I regretted. I hope you would feel the same if you ever done that.
Why is that? Is it because I will look holier than others for not checking my iPhone during the sermon? That is not the point, the point is to respect God, who sent His only begotten Son to died for us, so we may be made alive again. Playing our Smartphone during the sermon is not inherently wrong but I plead with you, don't take that grace for granted, Christ died for people who check their iPhone also people who don't check their Blackberry during the sermon.
Respect your God. Stop playing with your iPhone or Blackberry, except if you use them to read your bible, let me make it clear enough if it's not already: to read not to play! Not only during the sermon also in corporate worship where we gather and sing together.
Recent Posts
26 December, 2011
21 December, 2011
Beda jauh banget...
Posted by
Anton Triyanto
Sudah 2 minggu saya berada di Indonesia, kota-kota yang saya sudah kunjungi adalah Jakarta dan Semarang, jika Tuhan berkehendak saya akan pergi ke Bogor, Bandung, Bromo, Surabaya.
Selama saya di Indonesia saya melihat perbedaan sosial dan ekonomi yang sangat mencolok, ketika saya di dalam mal Grand Indonesia, saya tidak merasakan di Indonesia, tapi terasa seperti masih di luar negeri, karena gemerlapan lampu yang indah, dan orang-orang yang berpakaian necis berlalu lalang di dalam mal tersebut.
Saya sempat ngobrol-ngobrol dengan banyak jenis orang, baik dari supir sampai CEO sebuah perusahaan besar. Contohnya Pak W (saya samarkan), beliau adalah supir yang bekerja di Jakarta, tetapi karena beliau sudah mempunyai keluarga, beliau mengatakan tinggal di Jakarta sangat mahal sekali, jadi beliau dan keluarganya tinggal di Bogor.
Beda jauh banget, kalau makan foodcourt di mal sekitar 30 ribuan, bahkan saya juga mencicipi makan yang berkisar 100 - 200 ribu. Sedangkan makan pinggiran mungkin hanya 10 ribu sudah kenyang, bahkan kalo di pelosok yang lebih kumuh bisa mendapatkan harga yang lebih murah. Memang semua ini tergantung dari gaya hidup kita, tapi seringkali kita menaikkan gaya hidup kita, karena kita merasa kita layak menerima semua hal itu dengan usaha dan kerja keras kita sampai tidak memperdulikan orang-orang yang berada di bawah kita yang untuk menghidupi dirinya saja sudah sulit apalagi menghidupi sanak saudaranya.
Sedih seringkali melihat negara sendiri belum mengatasi atau setidaknya memperkecil jarak kesenjangan antara yang miskin dan yang kaya. Entah budaya dari Indonesianya sendiri atau memang tidak ada 'awareness' dari orang-orang yang kaya terhadap orang-orang yang miskin, yah memang tidak semuanya orang kaya menindas orang miskin, tetapi tidak sedikit juga, mereka merasa dengan uang, mereka dapat melakukan segalanya sesuai dengan kehendak mereka bahkan kehendak yang mereka pandang tidak baik maupun yang masyarakat pandang tidak baik.
Mari, jika kita mempunyai uang lebih tidak salahnya memberikan bonus yang lebih tinggi untuk orang-orang yang kita pekerjakan atau yang kita memakai jasanya dengan harga yang sangat murah, terlepas dari apakah orang-orang tersebut akan melunjak terhadap kita.
Selama saya di Indonesia saya melihat perbedaan sosial dan ekonomi yang sangat mencolok, ketika saya di dalam mal Grand Indonesia, saya tidak merasakan di Indonesia, tapi terasa seperti masih di luar negeri, karena gemerlapan lampu yang indah, dan orang-orang yang berpakaian necis berlalu lalang di dalam mal tersebut.
Saya sempat ngobrol-ngobrol dengan banyak jenis orang, baik dari supir sampai CEO sebuah perusahaan besar. Contohnya Pak W (saya samarkan), beliau adalah supir yang bekerja di Jakarta, tetapi karena beliau sudah mempunyai keluarga, beliau mengatakan tinggal di Jakarta sangat mahal sekali, jadi beliau dan keluarganya tinggal di Bogor.
Beda jauh banget, kalau makan foodcourt di mal sekitar 30 ribuan, bahkan saya juga mencicipi makan yang berkisar 100 - 200 ribu. Sedangkan makan pinggiran mungkin hanya 10 ribu sudah kenyang, bahkan kalo di pelosok yang lebih kumuh bisa mendapatkan harga yang lebih murah. Memang semua ini tergantung dari gaya hidup kita, tapi seringkali kita menaikkan gaya hidup kita, karena kita merasa kita layak menerima semua hal itu dengan usaha dan kerja keras kita sampai tidak memperdulikan orang-orang yang berada di bawah kita yang untuk menghidupi dirinya saja sudah sulit apalagi menghidupi sanak saudaranya.
Sedih seringkali melihat negara sendiri belum mengatasi atau setidaknya memperkecil jarak kesenjangan antara yang miskin dan yang kaya. Entah budaya dari Indonesianya sendiri atau memang tidak ada 'awareness' dari orang-orang yang kaya terhadap orang-orang yang miskin, yah memang tidak semuanya orang kaya menindas orang miskin, tetapi tidak sedikit juga, mereka merasa dengan uang, mereka dapat melakukan segalanya sesuai dengan kehendak mereka bahkan kehendak yang mereka pandang tidak baik maupun yang masyarakat pandang tidak baik.
Mari, jika kita mempunyai uang lebih tidak salahnya memberikan bonus yang lebih tinggi untuk orang-orang yang kita pekerjakan atau yang kita memakai jasanya dengan harga yang sangat murah, terlepas dari apakah orang-orang tersebut akan melunjak terhadap kita.
11 December, 2011
Selamat Pagi Bapa
Posted by
Anton Triyanto
"Selamat Pagi Bapa" adalah salah satu sapaan yang sering terlontar baik dari dalam mulut kita maupun dari hati kita, mungkin ketika kita memulai doa kita pagi-pagi saat kita bersekutu dengan Tuhan, sapaan ini terdengar begitu hangat sekali, melukiskan betapa dekatnya Bapa kita, sampai-sampai kita dapat mengucapkan "Selamat Pagi Bapa"
Memang pada dasarnya tidak ada yang membuat sapaan itu salah, karena selama motivasi dari orang yang mengucapkan hal tersebut hanya untuk mengambarkan "keakraban' dengan Tuhan.
Namun mari kita secara sejenak berpikir, jika kita di Sydney pada waktu pagi hari dan menghubungi sanak saudara kita di Amerika pada waktu malam, apakah kita akan mengatakan "Selamat Pagi", tentu kita mengatakan "Selamat Malam" karena sapaan itu kita tujukan dan sesuaikan dengan waktu orang yang kita sapa.
Demikian dengan Tuhan, memang bagi Tuhan, Dia tidak terikat dengan waktu, jadi ketika kita menyapa Selamat Pagi, Siang dan Malam, hal tersebut tidaklah terlalu menjadi hal yang harus dipikirkan. Tetapi, apakah dengan mengatakan "Selamat Pagi Bapa" kita mulai "memanusiakan Tuhan", "menarik" Dia masuk dalam kehidupan kita yang terikat oleh waktu?
Bacaan Rekomendasi selanjutnya
Mentuhankan Tuhan
Memang pada dasarnya tidak ada yang membuat sapaan itu salah, karena selama motivasi dari orang yang mengucapkan hal tersebut hanya untuk mengambarkan "keakraban' dengan Tuhan.
Namun mari kita secara sejenak berpikir, jika kita di Sydney pada waktu pagi hari dan menghubungi sanak saudara kita di Amerika pada waktu malam, apakah kita akan mengatakan "Selamat Pagi", tentu kita mengatakan "Selamat Malam" karena sapaan itu kita tujukan dan sesuaikan dengan waktu orang yang kita sapa.
Demikian dengan Tuhan, memang bagi Tuhan, Dia tidak terikat dengan waktu, jadi ketika kita menyapa Selamat Pagi, Siang dan Malam, hal tersebut tidaklah terlalu menjadi hal yang harus dipikirkan. Tetapi, apakah dengan mengatakan "Selamat Pagi Bapa" kita mulai "memanusiakan Tuhan", "menarik" Dia masuk dalam kehidupan kita yang terikat oleh waktu?
Bacaan Rekomendasi selanjutnya
Mentuhankan Tuhan
28 November, 2011
Kristen "Indomie"
Posted by
Anton Triyanto
"Dari Sabang sampai Merauke, dari Jakarta sampai ke Sydney, Indomie seleraku"
Memang tragis sekali, semasa kuliah saya menkonsumsi Indomie banyak sekali, dua hal yang menjadi alasan adalah dikarenakan lebih mudahnya mempersiapkan makanan tersebut dan tentu lebih murah juga dibandingkan dengan makanan-makanan yang lainnya.
Indomie adalah mie instant (siap saji), karena hanya diperlukan beberapa menit untuk memasaknya. Bukan hanya mie instant, sekarang dunia dipengaruhi dengan segala sesuatu yang bersifat instant, contohnya:
1. Menjahit instant dalam waktu 7 hari
2. Menguasai komputer instant dalam waktu 3 hari
3. Pandai dalam bahasa pemrograman instant dalam waktu 24 jam
4. Sale 50% - harga promosi sampai hari ini saja! Cepat Beli!
5. Pakai Sayuran yang di Frozen - Anda tidak perlu mempersiapkan lagi. Anda akan 'save' waktu.
6. Daftar ini dapat panjang sekali tapi karena saya "cepat-cepat" dan waktu saya sedikit saya berhenti di bagian ini...
Mentalitas serba instant sedikit banyak mempengaruhi kehidupan orang Kristen, salah satunya adalah menunggu pertolongan Tuhan, seringkali kita maunya serba cepat, sesuai dengan waktu kita. Jikalau kita meminta sesuatu, lalu tidak dikabulkan pada waktu tertentu, kita mulai menggerutu bahkan tidak sedikit yang sampai meninggalkan Tuhan.
Contoh yang lain dalam hal mengenal Tuhan, kita maunya dengan instant, seperti ikut KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani), lalu berharap setelah pulang dari kebaktian tersebut kita langsung mengerti tentang siapakah Dia tanpa mau benar-benar menggali lebih dalam lagi Firman Tuhan di hari-hari berikutnya. Bahkan yang lebih ironis adalah banyak dari kita yang datang ke gereja dan berharap ketika kita "dijamah" Roh Kudus, kita langsung dirubah tanpa mau melakukan beratnya Disiplin Rohani.
Selain daripada kehidupan orang Kristen yang pribadi, gerejapun banyak yang terjebak dalam hal ini. Banyak gereja yang hanya untuk menambah jumlah kehadiran, mereka mulai membuat segala sesuatu yang dengan instant dapat menjangkau orang, tanpa memikirkan strategi-strategi, bahan-bahan pengajaran yang mungkin lebih membutuhkan waktu untuk mempersiapkannya tetapi lebih berguna untuk pertumbuhan iman orang-orang yang akan dijangkau ataupun yang sudah dijangkau.
Jangan miliki mentalitas Indomie yang mau segala sesuatu dengan mudah dan cepat tanpa ada harga yang harus dibayar dan salib yang dipikul. Jangan berjalan di jalan yang lebar yang mungkin kita berpikir dengan instant dapat membawa kita kepada kehidupan ternyata berakhir kepada kebinasaan. Mari berjalan di jalan yang sesak yang menuju kepada kehidupan, walaupun tidak instant, walaupun membutuhkan waktu, membutuhkan energi, membutuhkan pikiran, membutuhkan harga yang harus dibayar, membutuhkan segala sesuatu yang harus kita "korbankan", membutuhkan seluruh keberadaan kita untuk Kristus.
Memang tragis sekali, semasa kuliah saya menkonsumsi Indomie banyak sekali, dua hal yang menjadi alasan adalah dikarenakan lebih mudahnya mempersiapkan makanan tersebut dan tentu lebih murah juga dibandingkan dengan makanan-makanan yang lainnya.
Indomie adalah mie instant (siap saji), karena hanya diperlukan beberapa menit untuk memasaknya. Bukan hanya mie instant, sekarang dunia dipengaruhi dengan segala sesuatu yang bersifat instant, contohnya:
1. Menjahit instant dalam waktu 7 hari
2. Menguasai komputer instant dalam waktu 3 hari
3. Pandai dalam bahasa pemrograman instant dalam waktu 24 jam
4. Sale 50% - harga promosi sampai hari ini saja! Cepat Beli!
5. Pakai Sayuran yang di Frozen - Anda tidak perlu mempersiapkan lagi. Anda akan 'save' waktu.
6. Daftar ini dapat panjang sekali tapi karena saya "cepat-cepat" dan waktu saya sedikit saya berhenti di bagian ini...
Mentalitas serba instant sedikit banyak mempengaruhi kehidupan orang Kristen, salah satunya adalah menunggu pertolongan Tuhan, seringkali kita maunya serba cepat, sesuai dengan waktu kita. Jikalau kita meminta sesuatu, lalu tidak dikabulkan pada waktu tertentu, kita mulai menggerutu bahkan tidak sedikit yang sampai meninggalkan Tuhan.
Contoh yang lain dalam hal mengenal Tuhan, kita maunya dengan instant, seperti ikut KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani), lalu berharap setelah pulang dari kebaktian tersebut kita langsung mengerti tentang siapakah Dia tanpa mau benar-benar menggali lebih dalam lagi Firman Tuhan di hari-hari berikutnya. Bahkan yang lebih ironis adalah banyak dari kita yang datang ke gereja dan berharap ketika kita "dijamah" Roh Kudus, kita langsung dirubah tanpa mau melakukan beratnya Disiplin Rohani.
Selain daripada kehidupan orang Kristen yang pribadi, gerejapun banyak yang terjebak dalam hal ini. Banyak gereja yang hanya untuk menambah jumlah kehadiran, mereka mulai membuat segala sesuatu yang dengan instant dapat menjangkau orang, tanpa memikirkan strategi-strategi, bahan-bahan pengajaran yang mungkin lebih membutuhkan waktu untuk mempersiapkannya tetapi lebih berguna untuk pertumbuhan iman orang-orang yang akan dijangkau ataupun yang sudah dijangkau.
Jangan miliki mentalitas Indomie yang mau segala sesuatu dengan mudah dan cepat tanpa ada harga yang harus dibayar dan salib yang dipikul. Jangan berjalan di jalan yang lebar yang mungkin kita berpikir dengan instant dapat membawa kita kepada kehidupan ternyata berakhir kepada kebinasaan. Mari berjalan di jalan yang sesak yang menuju kepada kehidupan, walaupun tidak instant, walaupun membutuhkan waktu, membutuhkan energi, membutuhkan pikiran, membutuhkan harga yang harus dibayar, membutuhkan segala sesuatu yang harus kita "korbankan", membutuhkan seluruh keberadaan kita untuk Kristus.
14 November, 2011
Melakukan 'kehendak Bapa' tetapi tidak masuk Sorga
Posted by
Anton Triyanto
Matius 7:21-23
21. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku:Tuhan, Tuhan! akan masuk Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
22. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
23. Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!
Beberapa orang 'Kristen' percaya bahwa pengakuan secara mulut sudah cukup membuat kita masuk sorga tanpa ada satu kerinduan untuk melakukan kehendak Bapa di sorga. Di perikop injil Matius sangat jelas bahwa pengakuan kita tentang Tuhan tidak menjadi jaminan kita akan masuk sorga.
Namun bagaimana dengan ayat yang ke-22, bukankah mereka seolah-olah melakukan kehendak Bapa di sorga dengan bernubuat, mengusir setan, serta mengadakan mujizat? Ternyata hal-hal seperti itu pun tidak menjamin kita akan masuk sorga, karena bukan dari berapa banyak nubuatan yang kita lakukan demi nama Tuhan, bukan dari berapa banyak setan yang kita usir demi nama Tuhan, serta bukan dari berapa banyak mujizat yang kita lakukan demi nama Tuhan yang akan membuat kita masuk ke dalam kerajaan sorga.
Kita bisa dengan rajin melakukan kegiatan rohani, melayani Tuhan dengan giat, seolah-olah kita sedang melakukan kehendak Bapa di sorga, di hadapan manusia kita bisa kelihatan suci, tetapi di hadapan Tuhan terbukalah segala motivasi jahat yang mungkin mendasari pekerjaan Tuhan yang selama ini kita giat melakukannya.
Mungkin orang lain tidak tahu, atau kita pun seringkali terjebak dan menjadi tidak tahu, tetapi Tuhan tahu apa yang menjadi motivasi terdalam di relung hati manusia - mari periksalah hati kita kembali apakah kita melayani Tuhan hanya untuk diri kita atau melakukan kehendak Bapa di sorga?
Kalau kita tanya kepada hati kita masing-masing siapakah yang mejadi tujuan akhir, apakah diri kita atau Tuhan? Apakah kita diselamatkan hanya supaya kita lepas dari panasnya api neraka? Apakah itu yang mejadi satu-satunya tujuan kita diselamatkan? Hanya untuk kenyamanan diri sendiri? Atau supaya semakin kemuliaan Tuhan terpancar melalui hidup kita yang sudah diselamatkan, dengan melakukan pekerjaan yang baik yang sudah Tuhan sediakan bagi kita, sebagai bukti kita diselamatkan?
21. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku:Tuhan, Tuhan! akan masuk Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
22. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
23. Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!
Beberapa orang 'Kristen' percaya bahwa pengakuan secara mulut sudah cukup membuat kita masuk sorga tanpa ada satu kerinduan untuk melakukan kehendak Bapa di sorga. Di perikop injil Matius sangat jelas bahwa pengakuan kita tentang Tuhan tidak menjadi jaminan kita akan masuk sorga.
Namun bagaimana dengan ayat yang ke-22, bukankah mereka seolah-olah melakukan kehendak Bapa di sorga dengan bernubuat, mengusir setan, serta mengadakan mujizat? Ternyata hal-hal seperti itu pun tidak menjamin kita akan masuk sorga, karena bukan dari berapa banyak nubuatan yang kita lakukan demi nama Tuhan, bukan dari berapa banyak setan yang kita usir demi nama Tuhan, serta bukan dari berapa banyak mujizat yang kita lakukan demi nama Tuhan yang akan membuat kita masuk ke dalam kerajaan sorga.
Kita bisa dengan rajin melakukan kegiatan rohani, melayani Tuhan dengan giat, seolah-olah kita sedang melakukan kehendak Bapa di sorga, di hadapan manusia kita bisa kelihatan suci, tetapi di hadapan Tuhan terbukalah segala motivasi jahat yang mungkin mendasari pekerjaan Tuhan yang selama ini kita giat melakukannya.
Mungkin orang lain tidak tahu, atau kita pun seringkali terjebak dan menjadi tidak tahu, tetapi Tuhan tahu apa yang menjadi motivasi terdalam di relung hati manusia - mari periksalah hati kita kembali apakah kita melayani Tuhan hanya untuk diri kita atau melakukan kehendak Bapa di sorga?
Kalau kita tanya kepada hati kita masing-masing siapakah yang mejadi tujuan akhir, apakah diri kita atau Tuhan? Apakah kita diselamatkan hanya supaya kita lepas dari panasnya api neraka? Apakah itu yang mejadi satu-satunya tujuan kita diselamatkan? Hanya untuk kenyamanan diri sendiri? Atau supaya semakin kemuliaan Tuhan terpancar melalui hidup kita yang sudah diselamatkan, dengan melakukan pekerjaan yang baik yang sudah Tuhan sediakan bagi kita, sebagai bukti kita diselamatkan?
08 November, 2011
Iman dan Perbuatan adalah mati
Posted by
Anton Triyanto
Tentu kita sudah pernah mendengar atau membaca bahwa iman yang tidak disertai dengan perbuatan adalah mati pada hakekatnya. Hal ini memang diterangkan oleh Yakobus karena beberapa orang menganggap mereka mempunyai iman, tetapi ternyata iman tersebut tidak disertai oleh perbuatan, menjadi nyata bahwa hal tersebut bukanlah iman, karena jikalau memang itu adalah iman tentu akan disertai oleh perbuatan, sebagai bukti bahwa iman itu pada hakekatnya adalah hidup.
Perbuatan yang kita lakukan bukanlah yang akan menyelamatkan kita, tetapi melalui imanlah kepada Yesus Kristus kita diselamatkan, tetapi bukan berarti perbuatan itu tidak penting, kembali kepada argumen pertama kalau kita tidak peduli terhadap perbuatan kita, tentu sudah menjadi nyata bahwa kita tidak mempunyai iman.
Bagaimana dengan iman dan perbuatan? Jika kita percaya iman dan perbuatanlah yang menyelamatkan kita, tentu hal keselamatan bukanlah didasarkan oleh kasih karunia lagi, karena kasih karunia adalah sesuatu yang secara cuma-cuma diberikan kepada kita, bahkan ketika kita menerima kasih karunia tersebut itu adalah kasih karunia.
Manusia bisa mempunyai perbuatan, tetapi tidak beriman, tetapi mustahil jikalau kita mempunyai iman tetapi tidak mempunyai perbuatan, namun perbuatan oleh karena iman tersebut bukanlah hasil yang kita lakukan, supaya kita tidak memegahkan diri.
Jikalau kita percaya iman dan perbuatan; artinya bahwa iman tidak cukup untuk keselamatan harus ditambah dengan perbuatan juga, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati, karena iman tersebut bukanlah iman, seolah-olah kekuatan iman itu ditentukan oleh perbuatan kita, bahwa tidak cukup hanya beriman, kita harus sertai juga dengan perbuatan kita supaya iman itu menjadi efektif.
Iman yang sejati pastilah iman yang akan menghasilkan perbuatan bukan perbuatan yang menghasilkan iman tersebut. Yakobus dan Paulus tidak berkontradiksi dalam hal ini.
Yakobus 2:17
Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.
Efesus 2:8-9
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu jangan ada orang yang memegahkan diri.
Roma 11:6
Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia.
Perbuatan yang kita lakukan bukanlah yang akan menyelamatkan kita, tetapi melalui imanlah kepada Yesus Kristus kita diselamatkan, tetapi bukan berarti perbuatan itu tidak penting, kembali kepada argumen pertama kalau kita tidak peduli terhadap perbuatan kita, tentu sudah menjadi nyata bahwa kita tidak mempunyai iman.
Bagaimana dengan iman dan perbuatan? Jika kita percaya iman dan perbuatanlah yang menyelamatkan kita, tentu hal keselamatan bukanlah didasarkan oleh kasih karunia lagi, karena kasih karunia adalah sesuatu yang secara cuma-cuma diberikan kepada kita, bahkan ketika kita menerima kasih karunia tersebut itu adalah kasih karunia.
Manusia bisa mempunyai perbuatan, tetapi tidak beriman, tetapi mustahil jikalau kita mempunyai iman tetapi tidak mempunyai perbuatan, namun perbuatan oleh karena iman tersebut bukanlah hasil yang kita lakukan, supaya kita tidak memegahkan diri.
Jikalau kita percaya iman dan perbuatan; artinya bahwa iman tidak cukup untuk keselamatan harus ditambah dengan perbuatan juga, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati, karena iman tersebut bukanlah iman, seolah-olah kekuatan iman itu ditentukan oleh perbuatan kita, bahwa tidak cukup hanya beriman, kita harus sertai juga dengan perbuatan kita supaya iman itu menjadi efektif.
Iman yang sejati pastilah iman yang akan menghasilkan perbuatan bukan perbuatan yang menghasilkan iman tersebut. Yakobus dan Paulus tidak berkontradiksi dalam hal ini.
Yakobus 2:17
Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.
Efesus 2:8-9
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu jangan ada orang yang memegahkan diri.
Roma 11:6
Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia.
03 November, 2011
Posted by
Anton Triyanto
God answered my prayer even the one that I forgot I had already prayed before.
02 November, 2011
Posted by
Anton Triyanto
We want everything to be instant, but in the end of the days anything instant will not have a quality.
Posted by
Anton Triyanto
I'm not a cat. I'm just a human. I only have one life. To waste it or not to waste it. That is the question.
01 November, 2011
Posted by
Anton Triyanto
Designers: Don't judge the book by its cover. Judge by its paper and the typeface.
30 October, 2011
Posted by
Anton Triyanto
Every Christians have been equipped at least with one talent, so could we please just say "I don't want to do it" instead of "I can't do it"
29 October, 2011
Posted by
Anton Triyanto
"Unfashionable VS Pride: Don't judge the way I dress, please judge me on how many dresses I can buy you!"
28 October, 2011
Posted by
Anton Triyanto
Thank you for you have created me with a brain to think and a heart to feel.
27 October, 2011
Posted by
Anton Triyanto
Jangan terlalu cepat mengambil satu keputusan, nanti hasilnya tidak tepat, tetapi Anda harus cermat.
26 October, 2011
Posted by
Anton Triyanto
Jika kita tidak selalu mempunyai kemampuan untuk melakukan apa yang kita kehendaki secara bebas, sebut saja kehendak setengah bebas.
25 October, 2011
Posted by
Anton Triyanto
Jika kebaikan Tuhan selalu diukur oleh berkat jasmani, maka ketika tidak memperolehnya, Dia menjadi jahat
22 October, 2011
Posted by
Anton Triyanto
Segala sesuatu adalah mungkin bagi Tuhan tetapi tidak selalu segala sesuatu dibuat mungkin bagi manusia
20 October, 2011
Posted by
Anton Triyanto
One church is focusing on the packaging, the other one in the content, but Christians are not customers.
18 October, 2011
Posted by
Anton Triyanto
Even
if we can turn back time, we are still going to repeat the same
mistakes, we can only try not to do the same mistakes now and the
future.
17 October, 2011
Posted by
Anton Triyanto
Paul's thorn was inside of him. He wasn't lacking of faith. On the contrary he was full of faith to believe in his weakness, God's power made perfect
16 October, 2011
Posted by
Anton Triyanto
Bukan salah kita kalau kita lahir lumpuh, salah kita kalau kita mati lumpuh, kurang beriman! Aneh?
Bukan salah kita kalau kita lahir miskin, salah kita kalau kita maskin miskin, kurang beriman! Aneh?
14 October, 2011
Posted by
Anton Triyanto
Don't pick and choose bible verses to feed your flesh desire, we will look so religious but deep down we have never been changed.
Posted by
Anton Triyanto
Jangan bodoh dalam mencari jodoh, tetapi jangan pula terus mencari jodoh karena kita akan menjadi bodoh.
12 October, 2011
Posted by
Anton Triyanto
Church should not be trying too hard to seek what the congregations want, but rather what God wants for them.
10 October, 2011
Expression of Worship
Posted by
Anton Triyanto
We as Christian, to some extend can fall into a trap where we put 'worship' session in the church above everything, where we think we are the centre of the worship, we choose the song we like, musical instrument we love to hear, type of music, the content of lyric, they all not wrong in and of itself but if that's the ending of the worship then we are not worshiping God but are worshiping our own desire - our self.
God can move us to move our body as an expression of the worship toward Him in the public worship, although it's not always that people who lifted up their hands are worshiping God in their heart, people tend to 'judge' themselves and others based on the way they worship God.
That is why the expression of worship in public worship should never be the measurement of how magnificent God's work in that particular event. But this shouldn't be stopping us to 'express' our self when we worship Him.
God can move us to move our body as an expression of the worship toward Him in the public worship, although it's not always that people who lifted up their hands are worshiping God in their heart, people tend to 'judge' themselves and others based on the way they worship God.
That is why the expression of worship in public worship should never be the measurement of how magnificent God's work in that particular event. But this shouldn't be stopping us to 'express' our self when we worship Him.
Posted by
Anton Triyanto
Being
Christian is not about do or not do, but when we don't give a rip about
what we do, it's a big question mark whether we are one.
08 October, 2011
Posted by
Anton Triyanto
Paulus: Tuhan cabut duri dalam daging ini! Cabut! Cabut!
Tuhan?: Kamu kurang beriman, sebab dalam imanmulah kuasaKu akan menjadi nyata!
Tuhan?: Kamu kurang beriman, sebab dalam imanmulah kuasaKu akan menjadi nyata!
05 October, 2011
Posted by
Anton Triyanto
It is a lot easier to choose the way we live our life than the way we die, so don't waste it.
04 October, 2011
Posted by
Anton Triyanto
Kesalahan kita bukanlah karena kita berbuat baik atau tidak, tetapi karena kita tidak pernah bisa berbuat yang benar di luar Kristus.
03 October, 2011
Posted by
Anton Triyanto
Many people are doing Christianity but not being a Christian, but you are not being a Christian without doing Christianity.
01 October, 2011
Posted by
Anton Triyanto
There will be time in your life when moth or rust destroys your treasure and where thieves break in and steal. The question remains the same, was that your real treasure?
25 September, 2011
24 September, 2011
Posted by
Anton Triyanto
I am gossiping because I want people to feel bad about others so I can feel good about myself.
20 September, 2011
Posted by
Anton Triyanto
God never promised your heavy problem to be lighter but he will make you strong enough to go through.
19 September, 2011
18 September, 2011
Teach me
Posted by
Anton Triyanto
Dear God,
Oh Lord, teach me to love you
more than anything in this world,
more than money,
more than sexual desire,
more than stuff that I have gained,
more than things that soon will pass away.
Forgive me that a lot of times
I've failed to love you as my ultimate treasure,
but you keep showing up in my life
to show your love for me.
Teach me O Lord, so I can live this life
according to your will not my own will.
Teach me to embrace the gospel,
let not the worldliness consume my heart and my soul.
O how marvelous are your deeds O Lord,
and how gracious are your disciplines.
Teach me again O Lord to love you,
more and more...
Amen.
17 September, 2011
Afflictions
Posted by
Anton Triyanto
Afflictions work together for the good that is to be conformed like him, heaps better than your health and wealth.
16 September, 2011
Menyia-nyiakan
Posted by
Anton Triyanto
Kita akan menyia-nyiakan sukacita kita, jika kita percaya bahwa bukan Allah yang mengaruniakan dan memberikan kita hal tersebut.
Kita akan menyia-nyiakan penderitaan kita, jika kita tidak percaya bahwa Allah yang mengizinkan dan membentuk kita melalui hal tersebut.
Kita akan menyia-nyiakan penderitaan kita, jika kita tidak percaya bahwa Allah yang mengizinkan dan membentuk kita melalui hal tersebut.
14 September, 2011
Don't be anxious
Posted by
Anton Triyanto
"Don't be anxious for you have I AM who is your ultimate treasure above penultimate and antepenultimate one"
12 September, 2011
Wedding Prayer
Posted by
Anton Triyanto
Heavenly Father, our God, our Creator, we bless and praise your mighty name. We give thanks to You o God, as we gathered together here in Your presence, celebrating the joy of the marriage of our son, our daughter, our brother, our sister and our friends, [groom's name] and [bride's name].
We pray for them, so they may grow in love more and more, together in You O God, as the foundation of the new family. Teach them that marriage is not always about being happy but it’s about keeping the covenant, which is to display Christ Jesus’ love for His church.
Grant them a desire for each other but also a desire to know, to glorify, to magnify you above all things. We pray that you will always be in their life, not matter what kind of circumstances that they may face, in happiness also in sadness, in joy also in sufferings, in healthiness also in sickness. Teach them to forgive and forbear, that they may grow in grace of suffering and love. May they serve you faithfully, joyfully, together - until at least one of them lay in your arm.
We ask this through Jesus Christ, our Saviour, Redeemer, Sustainer, who died for our sin and rose again. Amen.
We pray for them, so they may grow in love more and more, together in You O God, as the foundation of the new family. Teach them that marriage is not always about being happy but it’s about keeping the covenant, which is to display Christ Jesus’ love for His church.
Grant them a desire for each other but also a desire to know, to glorify, to magnify you above all things. We pray that you will always be in their life, not matter what kind of circumstances that they may face, in happiness also in sadness, in joy also in sufferings, in healthiness also in sickness. Teach them to forgive and forbear, that they may grow in grace of suffering and love. May they serve you faithfully, joyfully, together - until at least one of them lay in your arm.
We ask this through Jesus Christ, our Saviour, Redeemer, Sustainer, who died for our sin and rose again. Amen.
11 September, 2011
To Love God
Posted by
Anton Triyanto
It's impossible to love God without reading his word, yet it's very possible to read his word without loving him.
10 September, 2011
Where will we check-out to?
Posted by
Anton Triyanto
We all once were check-in into this world, the question remains: Where will we check-out to? It's inevitable
09 September, 2011
Made Perfect
Posted by
Anton Triyanto
It's very easy to praise him in the good times, but his strength made perfect in the trouble times.
08 September, 2011
Be an emotional Calvinist...
Posted by
Anton Triyanto
Be an emotional Calvinist and an expositor Charismatic.
07 September, 2011
The greatest miracle
Posted by
Anton Triyanto
The greatest miracle that ever happened in my life was not when I receive what I want or need but it was when I receive what I don't deserve.
06 September, 2011
Miracle and Believe
Posted by
Anton Triyanto
Miracle won't always make you to believe, but when you believe it's a miracle.
05 September, 2011
Jangan melakukan perbuatan baik...
Posted by
Anton Triyanto
Jangan melakukan perbuatan baik…
- Supaya saya diterima oleh Tuhan
Kita diselamatkan bukan oleh perbuatan baik kita, perbuatan baik kita merupakan satu tanda bahwa iman yang kita miliki, adalah iman yang benar dan sejati dalam Kristus Yesus yang dikaruniakan kepada kita secara cuma-cuma, bukan berdasarkan berapa banyak kita melayani Tuhan di dalam segala kesibukan kita, bukan berdasarkan berapa rajin kita ke gereja, bukan berdasarkan banyaknya doa yang kita panjatkan, semua hal itu tidak dapat membuat Tuhan menerima kita, karena Tuhan menerima kita hanya karena kasih karunia di dalam pengorbanan Yesus Kristus.
- Supaya saya diterima oleh orang lain
Seringkali kita lebih takut kepada manusia daripada Tuhan, sehingga perbuatan baik yang kita lakukan hanyalah untuk menarik perhatian orang lain, agar mereka dapat menerima kita. Kita berpikiran jikalau kita berbuat baik tentu orang lain akan menerima saya, pada kenyataannya di dalam hidup kita, walaupun kita berbuat baik belum tentu orang lain dapat menerima kita sepenuhnya.
- Supaya saya diterima oleh saya
Melakukan perbuatan baik seringkali menjadi ‘obat’ supaya kita tidak merasa bersalah kepada diri sendiri, karena kita tahu kita melakukan apa yang jahat, sehingga kerap kali diri kita sendiri pun tidak dapat menerima diri kita sendiri. Kita cenderung ingin berbuat baik hanya untuk menghilangkan rasa bersalah tersebut, seolah-olah dengan berbuat baik, kita dapat membayar kesalahan tersebut atau paling tidak sedikit membuat perbuatan baik dan perbuatan jahat kita sama rata.
Efesus 2:10
Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.
Wrong Motivation
Posted by
Anton Triyanto
I can do good things with wrong motivation, even to the smallest one,
such as updating my Facebook just for the sake getting people liking my
status.
04 September, 2011
Father's Day
Posted by
Anton Triyanto
In this Father's day, please teach us not to be self-righteous toward
others just because we go to church every Sunday. (Luke 15:29-30)
03 September, 2011
Don't Boast
Posted by
Anton Triyanto
We are saved by grace alone, so don't boast about how well we serve in the ministry.
02 September, 2011
Humbly and Snotty
Posted by
Anton Triyanto
We can act humbly in the outside yet snotty in the inside but definitely not the reverse.
01 September, 2011
I need this
Posted by
Anton Triyanto
A lot of times we justify ourselves by saying "I need this" instead of "I want this."
31 August, 2011
More time
Posted by
Anton Triyanto
I used to have more time when the face was not in the book, the bird tweeted just in the morning and apple was just a fruit.
30 August, 2011
Pride and Prejudice
Posted by
Anton Triyanto
Pride and prejudice, the former is chewing your heart, where as the latter is biting other people's heart.
29 August, 2011
Justification for doing the wrong thing
Posted by
Anton Triyanto
The smallness of consequences should not be a justification for doing the wrong thing.
28 August, 2011
Redemption
Posted by
Anton Triyanto
Pondering on how incredible redemption was, it's unimaginable yet believable.
27 August, 2011
Sheep
Posted by
Anton Triyanto
If you are his sheep then you will believe, it's not if you believe and you will be his sheep. (John 10:26)
25 August, 2011
It's a miracle
Posted by
Anton Triyanto
If you are not able to do the possible, you are so miserable. If you are able to do the impossible, it's a miracle.
24 August, 2011
Born Blind
Posted by
Anton Triyanto
You wouldn't say - even in your heart - to a man who was born blind:
"God didn't knit you together in your mother's womb" (John 9:3)
23 August, 2011
Thank You
Posted by
Anton Triyanto
He's been so gracious in my life, God is so gracious. He's been very faithful even when I was not faithful, even when I was far away from His presence. He keep showing up in my life, especially when my faith was wobbly. If God only gave me second chance, it would not be enough for me, in fact He gave me million of chances, not so I can fix my mistakes but rather to teach me that without Him I can do nothing.
Many times I just don't want to follow Him anymore, I just want to run away, but why I don't have a free will to do so? I'm a such hopeless little-finite-creature! I believe the reason why I'm still following Him, it's because He made me so. It's very easy for me to wake up in the morning and curse Him, I will - but thank God for He keep showing up in my life and made me not to curse Him but to worship Him.
I'm so grateful that He is my Good Shepherd, I give thanks for I always keep hearing His tender voice to draw me back into His flock. Thank you Lord, for your mercy, for your love, for your magnificent work in my life.
Many times I just don't want to follow Him anymore, I just want to run away, but why I don't have a free will to do so? I'm a such hopeless little-finite-creature! I believe the reason why I'm still following Him, it's because He made me so. It's very easy for me to wake up in the morning and curse Him, I will - but thank God for He keep showing up in my life and made me not to curse Him but to worship Him.
I'm so grateful that He is my Good Shepherd, I give thanks for I always keep hearing His tender voice to draw me back into His flock. Thank you Lord, for your mercy, for your love, for your magnificent work in my life.
22 August, 2011
Judas as Jesus' CFO
Posted by
Anton Triyanto
When he said : "Do not lay up for yourselves treasures on earth..." he
showed us an example by choosing Judas the thief as his CFO (John 12:6)
(Paraphrased: Jon Bloom)
21 August, 2011
Act after you think
Posted by
Anton Triyanto
Think before you act and speak but please speak and act after you think.
20 August, 2011
Nasi Menjadi Bubur
Posted by
Anton Triyanto
Nasi memang dijaga jangan sampai menjadi bubur tetapi walaupun terjadi, bubur tetap akan mendatangkan kebaikan (Roma 8:28-30)
18 August, 2011
To Be Rejected
Posted by
Anton Triyanto
We may go to church every Sunday and serve actively in the ministry but still going to be rejected (Mat 7)
16 August, 2011
Hamba Tuhan dan Orang Awam
Posted by
Anton Triyanto
HT: Saya minta tolong 'install'in software ini.
Awam: Masa Hamba Tuhan pakai bajakan?
Tuhan: Emang bedanya awam sama HT apa?
Awam: Masa Hamba Tuhan pakai bajakan?
Tuhan: Emang bedanya awam sama HT apa?
15 August, 2011
Jodoh
Posted by
Anton Triyanto
Jika jodoh A adalah B, tetapi A memilih C yang adalah jodoh D, apakah rencana Allah yang terbaik B dan D dirubah oleh A?
14 August, 2011
Mempertahankan Iman Pengharapan
Posted by
Anton Triyanto
Di hidup manusia seringkali atau setidaknya pernah kita merasakan terhimpitnya jiwa kita di lembah kekelaman, seolah-olah tidak ada pertolongan daripada Tuhan. Hal tersebut membuat kita sangat ‘down’ sekali.
Bahkan seringkali badai yang mengoncang perahu kita di atas permukaan air begitu dahsyat sehingga membuat kapal kehidupan kita diombang-ambingkan kian kemari. Namun kita bersyukur bahwa kita mempunyai Sauh yang kuat di bawah permukaan air yang terus mengikat kita, yaitu Yesus Kristus.
Jika pengharapan kita akan Tuhan dilandaskan berdasarkan tindakan kita, maka sangat mustahil sekali kita akan terus berharap kepada Tuhan karena manusia sangat rentan sekali, hari ini kita bisa memuji Tuhan dan bersukacita, beberapa hari kemudian kita bisa mulai mempertanyakan Tuhan dan sedih.
Namun pengharapan kita bukanlah didasarkan dari seberapa konsisten kita menaruh pengharapan itu, tetapi karena pengharapan itulah sendiri yaitu di dalam iman kita kepada Kristus Yesus yang telah dikaruniakan kepada kita. Dan apabila iman itu dikaruniakan kepada kita, bagaimanakah kita dapat mempertahankan hal itu yang telah kita dapatkan oleh kasih karunia?
Never changed
Posted by
Anton Triyanto
We will never changed foundationally if the main purpose of coming to Jesus just to get the blessings not Himself
12 August, 2011
Sauh yang kuat
Posted by
Anton Triyanto
Di atas permukaan air, kita merasakan gelombang menimpa silih berganti tetapi di bawah permukaan air kita mempunyai Sauh yang kuat yang terus mengikat kita (Ibrani 6:19-20)
11 August, 2011
Cinta itu tidak buta
Posted by
Anton Triyanto
Cinta itu seharusnya tidak buta dan benci itu seharusnya tidak melihat. (Lukas 6:27)
10 August, 2011
Kirbat-Mu
Posted by
Anton Triyanto
Terima kasih Tuhan untuk kirbat-Mu, tempat aku menyimpan air mata sengsaraku, semuanya di dalam kedaulatan-Mu. (Mazmur 56:9)
09 August, 2011
Berkata tidak
Posted by
Anton Triyanto
Belajarlah untuk berkata tidak sekalipun jika hal tersebut dapat melukai orang lain.
08 August, 2011
Pekerjaan Baik
Posted by
Anton Triyanto
Kita bukan melakukan pekerjaan baik supaya kita diciptakan dalam Kristus, justru sebaliknya. (Efesus 2:10)
07 August, 2011
Kebusukan Relung Hati
Posted by
Anton Triyanto
Manusia hanya mengetahui kebaikan permukaan hati tetapi Tuhan mengetahui dalamnya kebusukan relung hati.
06 August, 2011
Kami Bersyukur
Posted by
Anton Triyanto
Kami bersyukur atas matahari yang menyapa dan tersenyum dengan lembut hari ini. Namun walaupun dia tidak tersenyum kami pun tetap bersyukur.
05 August, 2011
Lose our salvation
Posted by
Anton Triyanto
We definitely can lose our salvation only if we believe that we attained salvation by grace and our decisive will. We will because we are so fragile.
04 August, 2011
Iman tanpa perbuatan
Posted by
Anton Triyanto
Kita dapat memperlihatkan perbuatan kita tanpa iman tetapi kita tidak dapat memperlihatkan iman kita tanpa perbuatan.
03 August, 2011
Saved by grace
Posted by
Anton Triyanto
If you believe you are being saved by grace and your obedience, you will keep seeking God's favour through your obedience.
02 August, 2011
Two kinds of believe
Posted by
Anton Triyanto
There are two kinds of believe, the first one is his word finds a place in our heart, the other doesn't. (John 8:31&37)
01 August, 2011
We were not so precious
Posted by
Anton Triyanto
It's not because we were so precious in his eyes that made him died for us, but rather the reverse. (Rom 5:8)
31 July, 2011
Don't buy into prosperity gospel
Posted by
Anton Triyanto
Prosperity gospel teaches us: "Seek the kingdom of God and his righteousness and what we want (not need) will be given to us". Don't buy into it.
30 July, 2011
Hadiah Keselamatan
Posted by
Anton Triyanto
Bagaimana orang yang mati rohani berkehendak untuk datang kepada "Hadiah Keselamatan" kalau bukan Bapa yang mengaruniakannya? (Yoh 6:65)
29 July, 2011
Ask for bread
Posted by
Anton Triyanto
Ask for bread and He will give you bread, ask for a stone He will still give you bread.
28 July, 2011
Tuhan tidak melihat ke masa depan
Posted by
Anton Triyanto
Tuhan tidak melihat ke masa depan tetapi Dialah yang sudah menciptakan masa depan. Bagi Dia kemarin, sekarang dan besok semuanya adalah sekarang.
27 July, 2011
Kehendak Bebas?
Posted by
Anton Triyanto
Saya tidak memungkiri bahwa kehendak bebas itu ada tetapi mengapa saya berkehendak memilih pilihan dari kehendak bebas itu?
26 July, 2011
He is timeless
Posted by
Anton Triyanto
There is no so called 'plan B' in his agenda, because there is no decisive will from us that will make him do that. He is timeless after all
25 July, 2011
Work out your salvation
Posted by
Anton Triyanto
Work our for your salvation is a cause. Work out your salvation is a consequence. Get it right!
23 July, 2011
Just talk!
Posted by
Anton Triyanto
I've met someone who was born with profound hearing loss but she loves to 'talk' using pen and paper with people on the table while sometimes we, who have ability to talk prefer using thumbs and iPhone with other people who weren't even on the table. Stop checking your iPhone on the dining table! Just talk!
It's very deceiving
Posted by
Anton Triyanto
Never buy into a theology which teaches: "You have to be good in order to get God's acceptance." It's very deceiving. Just flee!
22 July, 2011
Mengurangi Pelayanan
Posted by
Anton Triyanto
Mulai bulan depan saya akan 'mengurangi' waktu pelayanan di dalam gereja khususnya dengan tidak mengikuti paduan suara dan hanya mengajar satu kali sebulan sebagai guru sekolah minggu, karena saya mengarahkan kepada pelayanan anak-anak muda. Sebenarnya tidak ada yang namanya mengurangi karena di manapun kita berada, apapun yang kita kerjakan itu sudah menjadi pelayanan baik di keluarga, lingkungan kerja ataupun gereja, namun memang arti pelayanan sudah menjadi rancu, dan hanya dilihat seputar gereja saja, tapi baiklah itu dibahas di lain waktu lagi.
Ketika kita disuruh melayani Tuhan di gereja, banyak sekali alasan-alasan yang diutarakan, tapi justru saya ingin kita melihat di satu sisi yang lain yaitu: Seringkali kita membenani terlalu banyak waktu pelayanan kita untuk berbagai alasan, saya berharap alasan-alasan di bawah ini bukan menjadi alasan Anda memiliki banyak pelayanan di gereja:
1. Alasan supaya untuk dilihat lebih rohani
Menerima segala jenis pelayanan hanya untuk kelihatan lebih rohani dari orang lain, syukur-syukur wanita cantik yang duduk di barisan ketiga itu memperhatikan pelayanan saya dan jatuh hati.
Kita ini manusia berdosa, tidak ada yang lebih rohani, jadi kalau tidak ada yang bisa lebih rohani, untuk apa dengan pelayanan, kita berusaha supaya kelihatan lebih rohani?
2. Alasan supaya tidak bosan
Daripada tidak ada acara apa-apa di hari Minggu, lebih baik saya melayani, lumayan bukan? ada teman-teman seiman bisa 'hangout' bareng.
Apa bedanya dengan orang-orang yang bukan Kristen? Sama aja dong, kalau begitu mendingan saya 'hang-out' sama teman-teman saya yang di luar gereja, mereka kerapkali malah lebih baik daripada teman-teman di gereja.
3. Alasan supaya Tuhan memberkati kita
Kalau saya melayani banyak maka Tuhan akan memberkati saya lebih banyak. Ukuran berkat saya ditentukan oleh banyaknya pelayanan saya kepada Tuhan di gereja khususnya.
Tujuan utama kita melayani bukan untuk supaya Tuhan memberkati kita, karena justru Tuhan sudah memberkati kita dengan kematian Yesus Kristus di atas kayu salib untuk itulah seharusnya kita melayani bukan sebaliknya. Jadi ukuran berkat kita bukanlah ditentukan oleh berapa banyak pelayanan kita di gereja.
4. Alasan supaya diterima oleh Tuhan
Saya melayani dengan banyak maka pasti saya akan diterima oleh Tuhan lebih daripada teman-teman saya yang tidak melayani sebanyak saya.
Penerimaan Tuhan adalah semata-mata hanya oleh kasih karunia, jadi jelas mustahil kalau kita berpikir dengan banyaknya pelayanan kita lebih pasti diterima oleh Tuhan, justru banyak orang yang melakukan pelayanan tapi tetap tidak diterima oleh Tuhan.
5. Alasan supaya pasangan (orang-terdekat) kita senang
Saya senang pelayanan yang banyak karena hal itu membuat pasangan saya senang atau daripada saya diocehin terus untuk pelayanan.
Sudah tentu ini namanya melayani manusia bukan melayani Tuhan.
Dan masih banyak alasan-alasan yang lainnya, periksalah hati kita sedalam-dalamnya dan tanyalah kepada Tuhan apa yang menjadi alasan kita untuk melayani Dia?
Ketika kita disuruh melayani Tuhan di gereja, banyak sekali alasan-alasan yang diutarakan, tapi justru saya ingin kita melihat di satu sisi yang lain yaitu: Seringkali kita membenani terlalu banyak waktu pelayanan kita untuk berbagai alasan, saya berharap alasan-alasan di bawah ini bukan menjadi alasan Anda memiliki banyak pelayanan di gereja:
1. Alasan supaya untuk dilihat lebih rohani
Menerima segala jenis pelayanan hanya untuk kelihatan lebih rohani dari orang lain, syukur-syukur wanita cantik yang duduk di barisan ketiga itu memperhatikan pelayanan saya dan jatuh hati.
Kita ini manusia berdosa, tidak ada yang lebih rohani, jadi kalau tidak ada yang bisa lebih rohani, untuk apa dengan pelayanan, kita berusaha supaya kelihatan lebih rohani?
2. Alasan supaya tidak bosan
Daripada tidak ada acara apa-apa di hari Minggu, lebih baik saya melayani, lumayan bukan? ada teman-teman seiman bisa 'hangout' bareng.
Apa bedanya dengan orang-orang yang bukan Kristen? Sama aja dong, kalau begitu mendingan saya 'hang-out' sama teman-teman saya yang di luar gereja, mereka kerapkali malah lebih baik daripada teman-teman di gereja.
3. Alasan supaya Tuhan memberkati kita
Kalau saya melayani banyak maka Tuhan akan memberkati saya lebih banyak. Ukuran berkat saya ditentukan oleh banyaknya pelayanan saya kepada Tuhan di gereja khususnya.
Tujuan utama kita melayani bukan untuk supaya Tuhan memberkati kita, karena justru Tuhan sudah memberkati kita dengan kematian Yesus Kristus di atas kayu salib untuk itulah seharusnya kita melayani bukan sebaliknya. Jadi ukuran berkat kita bukanlah ditentukan oleh berapa banyak pelayanan kita di gereja.
4. Alasan supaya diterima oleh Tuhan
Saya melayani dengan banyak maka pasti saya akan diterima oleh Tuhan lebih daripada teman-teman saya yang tidak melayani sebanyak saya.
Penerimaan Tuhan adalah semata-mata hanya oleh kasih karunia, jadi jelas mustahil kalau kita berpikir dengan banyaknya pelayanan kita lebih pasti diterima oleh Tuhan, justru banyak orang yang melakukan pelayanan tapi tetap tidak diterima oleh Tuhan.
5. Alasan supaya pasangan (orang-terdekat) kita senang
Saya senang pelayanan yang banyak karena hal itu membuat pasangan saya senang atau daripada saya diocehin terus untuk pelayanan.
Sudah tentu ini namanya melayani manusia bukan melayani Tuhan.
Dan masih banyak alasan-alasan yang lainnya, periksalah hati kita sedalam-dalamnya dan tanyalah kepada Tuhan apa yang menjadi alasan kita untuk melayani Dia?
Mempertahankan keselamatan
Posted by
Anton Triyanto
Jika saya memperoleh keselamatan oleh kasih karunia bagaimana mungkin mempertahankannya dengan kekuatan saya?
Here's bread my sons
Posted by
Anton Triyanto
Sons: Please give me bread (a stone)
Father: Here's bread my sons
Sons: No, we want bread (a stone) not a stone (bread)
Father: Here's bread my sons
Sons: No, we want bread (a stone) not a stone (bread)
Iman timbul
Posted by
Anton Triyanto
Iman timbul dari pendengaran FT, jadi tanpa pendengaran FT iman tidak akan muncul, tetapi tidak semua orang mendengar FT akan muncul imannya.
I lie because
Posted by
Anton Triyanto
I lie because I feel human's approval is more important than telling the truth. I'm too afraid failing my own idol. Thank you for the reminder.
Saya tidak perlu ke gereja
Posted by
Anton Triyanto
Saya tidak perlu ke gereja kalau hanya untuk mendengar seorang "pengkhotbah" melawak, perut sakit menahan tawa tapi hampa tetaplah jiwa.
Nothing is impossible
Posted by
Anton Triyanto
Nothing is impossible for God but not everything made possible for us.
We cannot change His minds
Posted by
Anton Triyanto
We cannot change His minds through prayer but He will change ours instead.
15 July, 2011
Motivasi orang tua yang mungkin salah
Posted by
Anton Triyanto
"Joko, kamu harus ke gereja tiap Minggu, kalau ngak nanti Tuhan marah"
"Joko, ayo ke gereja, nanti kalo ngak Mama ngak kasih uang jajan"
"Joko, ayo ke gereja nanti Mama ajak jalan-jalan"
"Joko, sana ke gereja nanti biar bisa dapet tanda-tangan untuk nilai agama di sekolah"
"Joko, sana ke gereja biar jadi orang baik"
Kalimat-kalimat di atas tentu sudah tidak asing di telinga kita, khususnya bagi kita yang dilahirkan di kalangan keluarga Kristen, bahkan orang tua yang bukan Kristen pun turut mengirimkan anaknya untuk masuk sekolah Kristen dengan asumsi bahwa semua anak yang ke gereja ataupun sekolah Kristen akan menjadi anak-anak yang baik. Apakah memang benar demikian? Apakah gereja dan sekolah Kristen hanya sebagai tempat semata-mata supaya mereka menjadi orang baik?
Mengapa banyak orang tua berpikiran seperti itu? Apakah karena kita ingin anak kita berhasil? Tapi apakah benar hanya untuk keuntungan anak kita? Di satu sisi benar, tapi apakah bisa jauh lebih itu? Apakah mungkin kita hanya ingin dibilang telah berhasil mendidik anak, karena akhirnya anak kita menjadi baik? Kemudian nama kita dipuji-puji, tetapi kalau anak kita menjadi berandalan, siapakah yang tercoreng mukanya? Bukankah orang tuanya?
Jadi kita, orang tua atau yang akan menjadi orang tua ajarkanlah anak-anak kita dalam iman kepada Kristus bukan sebagai satu moralitas yang dilihat dari luar dengan motivasi hanya untuk 'nama baik' kita sebagai orang tua.
Artikel terkait Mengajar Sekolah Minggu
"Joko, ayo ke gereja, nanti kalo ngak Mama ngak kasih uang jajan"
"Joko, ayo ke gereja nanti Mama ajak jalan-jalan"
"Joko, sana ke gereja nanti biar bisa dapet tanda-tangan untuk nilai agama di sekolah"
"Joko, sana ke gereja biar jadi orang baik"
Kalimat-kalimat di atas tentu sudah tidak asing di telinga kita, khususnya bagi kita yang dilahirkan di kalangan keluarga Kristen, bahkan orang tua yang bukan Kristen pun turut mengirimkan anaknya untuk masuk sekolah Kristen dengan asumsi bahwa semua anak yang ke gereja ataupun sekolah Kristen akan menjadi anak-anak yang baik. Apakah memang benar demikian? Apakah gereja dan sekolah Kristen hanya sebagai tempat semata-mata supaya mereka menjadi orang baik?
Mengapa banyak orang tua berpikiran seperti itu? Apakah karena kita ingin anak kita berhasil? Tapi apakah benar hanya untuk keuntungan anak kita? Di satu sisi benar, tapi apakah bisa jauh lebih itu? Apakah mungkin kita hanya ingin dibilang telah berhasil mendidik anak, karena akhirnya anak kita menjadi baik? Kemudian nama kita dipuji-puji, tetapi kalau anak kita menjadi berandalan, siapakah yang tercoreng mukanya? Bukankah orang tuanya?
Jadi kita, orang tua atau yang akan menjadi orang tua ajarkanlah anak-anak kita dalam iman kepada Kristus bukan sebagai satu moralitas yang dilihat dari luar dengan motivasi hanya untuk 'nama baik' kita sebagai orang tua.
Artikel terkait Mengajar Sekolah Minggu
14 July, 2011
Quality without quantity
Posted by
Anton Triyanto
If I have to choose a quality without quantity over a quantity wihout quality, I would choose the former.
Essential Non-essential
Posted by
Anton Triyanto
Don't make something essential to be non-essential, vice versa.
Physically but not mentally
Posted by
Anton Triyanto
We ought to think that we are here physically but not mentally (Col 3:1-3)
Facebook is more than life
Posted by
Anton Triyanto
Instead of asking what happens to my life when I die, we ask what happens to my facebook. It's funny to think facebook is more than our life.
Today is Sun-day
Posted by
Anton Triyanto
Today is Sun-day and tomorrow is Moon-day. Very interesting etymology.
I chose life! It's weird
Posted by
Anton Triyanto
Jesus: "Lazarus, come out!" Lazarus: "I have choices between death and life, I chose life". So called 'free will'. It's weird.
I'm saddened
Posted by
Anton Triyanto
I'm saddened by talking to people who measure fairness, equality and human value using money
10 July, 2011
Kasih Allah dapat diukur
Posted by
Anton Triyanto
Allah itu maha kuasa bukan? Tentu Dia maha kuasa. Jika memang Dia maha kuasa, mengapa seringkali permohonan kita tidak dikabulkan? Apakah Dia tidak berkuasa mengabulkan permohonan tersebut? Jadi jika memang Dia maha kuasa namun Dia tidak mengabulkan permohonan kita, tentu Dia bukan Allah yang baik bukan? Jadi apakah kebaikan Allah diukur dari terkabulnya permohonan kita?
Apakah kebaikan Allah dapat diukur? Tentu ketika kehidupan kita ‘enak-enak’, contohnya kalau dapat nilai baik, dapat pacar, dapat kerja, dapat anak, dapat mobil, dapat rumah, dapat segala sesuatu yang kita minta, tentu sangat mudah bagi kita untuk mengatakan Allah itu baik.
Namun bagaimana ketika kita tidak lulus ujian, diputus pacar, dipecat dari kerja, mengalami keguguran, mobil tertabrak, rumah kebakaran, dan kita tidak mendapatkan apa yang kita minta, apakah Allah tidak baik? Tentu Dia kelihatan tidak baik jika kita mengukur kebaikan Allah melalui terkabulnya permohonan kita.
Kasih Allah kepada kita dapat diukur. Ukurannya apa? Ukurannya adalah Allah menunjukkannya kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa (Roma 5:8). Jika Dia memang sudah mati buat kita dan itu adalah kasih yang terbesar, tentu penderitaan apapun yang kita alami dalam hidup ini sudah tidak ada artinya karena kita percaya dan yakin bahwa Allah sudah mengasihi kita secara maksimal, Dia tidak bisa mengasihi kita lebih daripada kematian Kristus di atas kayu salib untuk dosa-dosa kita.
Namun memang seringkali karena masalah-masalah timbul di kehidupan kita akhirnya janji ini seolah-olah tidak ada relevansinya lagi dalam kehidupan kita. Kita menganggap bahwa pembebasan penderitaan yang kita rasakan lebih penting daripada pengampunan dosa, untuk itulah berita Injil seharusnya bukan hanya untuk orang-orang tidak percaya, tetapi berita Injil juga untuk orang-orang yang sudah percaya kepada Kristus, supaya kita terus mengingat bahwa KasihNya di atas kayu salib cukup bagi kita untuk terus percaya bahwa Dia sudah mengasihi kita dan terus akan mengasihi kita melalui karya penebusan Kristus Yesus.
06 July, 2011
Tidak dapat makan Roti Hidup
Posted by
Anton Triyanto
Jika kita mati secara jasmani tentu kita tidak dapat makan bakso goreng, begitu juga jika kita masih mati secara rohani tentu kita tidak dapat 'makan Roti Hidup'
Keselamatan adalah sebuah hadiah
Posted by
Anton Triyanto
Keselamatan itu adalah sebuah hadiah, bahkan "kehendak" kita untuk mengambil hadiah tersebut pun adalah hadiah.
Lahir Baru?
Posted by
Anton Triyanto
Pergi gereja? Check! Kasih persembahan? Check! Jadi orang baik? Check! Lahir baru? Apa itu?
Tiga tokoh agama?
Posted by
Anton Triyanto
Orang Pintar: Saya bs kasih kekayaan bkn kedamaian!
Gautama: Saya bs kasih kedamaian bkn kekayaan!
Yesus 1/2 Asli: Saya bisa kasih dua-duanya!
Gautama: Saya bs kasih kedamaian bkn kekayaan!
Yesus 1/2 Asli: Saya bisa kasih dua-duanya!
It is better knowing that you don't know
Posted by
Anton Triyanto
It is better knowing that you don't know than not knowing you don't actually know
He will do it or not
Posted by
Anton Triyanto
The question is not about if he will able to do it, but whether he will do it or not
Conviction and Condemnation
Posted by
Anton Triyanto
There is a difference between conviction and condemnation. The former leads to liberation whereas the latter leads to destruction.
Weird Person
Posted by
Anton Triyanto
Weird person is the one who think everyone is weird except himself is normal
27 June, 2011
A Geometry Equality
Posted by
Anton Triyanto
"I know a circle is a circle but I want to draw a square and call it a circle and I'm asking for a Geometry Equality." It's laughable is it not?
Existence of God
Posted by
Anton Triyanto
I think the existence of God is not to be proved but it's to be experienced.
You must be kidding right?
Posted by
Anton Triyanto
"Sir, you must be kidding right? You mean after I follow Jesus then I'll be prospered? Even my tax accountant never guaranteed that!"
Growing up is optional
Posted by
Anton Triyanto
A boy who can shave says: "Growing old is inevitable, growing up is optional"
22 June, 2011
Mengajar Sekolah Minggu
Posted by
Anton Triyanto
Waktu saya mengajar sekolah minggu kelas kecil, saya bertanya kepada mereka, apakah dosa itu? Mereka menjawab: "Melakukan yang jahat" satu lagi berseru: "Melanggar hukum Allah", ada lagi yang berteriak "Tidak patuh kepada orang-tua"
Memang tidak ada yang salah dengan jawaban mereka, namun dosa bisa juga melakukan yang baik, melakukan hukum Allah, patuh kepada orang tua namun dengan motivasi yang salah itupun menjadi dosa.
Ironisnya kerapkali mereka hanya diajarkan untuk melakukan yang baik, patuh kepada Allah, patuh kepada perintah orang tua, memang itu penting, namun waktu kecil pun seharusnya mereka diajarkan siapakah Allah? siapakah manusia? apakah dosa? mengapa Yesus? Injil seharusnya diberitakan bukan hanya cerita Alkitab yang diceritakan sama seperti cerita-cerita pengantar tidur mereka.
Jika kita hanya mengajarkan bahwa kekristenan hanyalah tentang berbuat kebaikan, sewaktu mereka beranjak dewasa, mereka akan melihat banyak orang yang bukan Kristen lebih baik dari orang Kristen, kemungkinan mereka bisa meninggalkan Tuhan.
Marilah kita mengajar anak-anak di sekolah minggu, dalam usia muda, mereka boleh dituntun dapat melihat Yesus bukan sebagai orang yang baik tetap sebagai penebus dan juruselamat mereka dari dosa-dosa mereka.
Artikel terkait: Nuh mendapat kasih karunia
Memang tidak ada yang salah dengan jawaban mereka, namun dosa bisa juga melakukan yang baik, melakukan hukum Allah, patuh kepada orang tua namun dengan motivasi yang salah itupun menjadi dosa.
Ironisnya kerapkali mereka hanya diajarkan untuk melakukan yang baik, patuh kepada Allah, patuh kepada perintah orang tua, memang itu penting, namun waktu kecil pun seharusnya mereka diajarkan siapakah Allah? siapakah manusia? apakah dosa? mengapa Yesus? Injil seharusnya diberitakan bukan hanya cerita Alkitab yang diceritakan sama seperti cerita-cerita pengantar tidur mereka.
Jika kita hanya mengajarkan bahwa kekristenan hanyalah tentang berbuat kebaikan, sewaktu mereka beranjak dewasa, mereka akan melihat banyak orang yang bukan Kristen lebih baik dari orang Kristen, kemungkinan mereka bisa meninggalkan Tuhan.
Marilah kita mengajar anak-anak di sekolah minggu, dalam usia muda, mereka boleh dituntun dapat melihat Yesus bukan sebagai orang yang baik tetap sebagai penebus dan juruselamat mereka dari dosa-dosa mereka.
Artikel terkait: Nuh mendapat kasih karunia
21 June, 2011
Thank You Lord
Posted by
Anton Triyanto
I came to Christ when I was 17; I've turned 31 today and I'm not too optimistic in persevering the salvation for the next 39 years or even by reason 49 years, but I know God is absolutely optimistic about that. Thank you Lord, for keep persevering me all these years by showing up when I feel I was totally losing my faith in you - and I believe you will keep doing that until I see you face to face. Romans 8:38-39
We lie
Posted by
Anton Triyanto
We lie not because we are a liar but often because we afraid to lose something that we have or to have something that we want
Jaman Sekarang
Posted by
Anton Triyanto
Jaman sekarang kebanyakan orang pacaran sudah seperti orang menikah, ironisnya kebanyakan orang menikah sudah tidak seperti orang pacaran.
Physical beauty is relative
Posted by
Anton Triyanto
Physical beauty is relative but the ugliness of the human heart is absolute
11 June, 2011
Pain is hurtful
Posted by
Anton Triyanto
Pain is hurtful yet purposeful. Pleasure is colorful but often dreadful.
Life is like writing a program
Posted by
Anton Triyanto
Life is like writing a program, you have to think different possibilities but in the end God will lead you to choose and press the enter key
Saya dilahirkan sebagai seorang 'pemburit'!
Posted by
Anton Triyanto
"Saya sudah dilahirkan seperti ini" - Pernyataan ini seringkali dilontarkan oleh orang-orang 'pemburit'. Tapi, 'seperti ini' maksudnya apa? Apakah maksudnya bahwa dilahirkan sudah menjadi 'pemburit'? atau dilahirkan dengan ketidaknormalan karena organ yang cacat? - Tentu jelas berbeda.
Jika yang dimaksudnya adalah lahir secara tidak normal, saya akan menyetujui, tetapi kalau maksudnya lahir untuk menjadi seorang 'pemburit' ini lain lagi ceritanya.
Kalau kita bisa percaya bahwa ada orang-orang tertentu lahir secara cacat, baik dari cacat mental, buta, maka kita tidak dapat memungkiri kalau ada orang yang dilahirkan cacat dalam hal organ seksual. Untuk menghadapi orang-orang yang yang mengalami cacat dalam hal tersebut, kita tidak bisa langsung menghakimi dan mengatakan kalau mereka harus normal, karena secara fisik memang ada ketidaknormalan.
Walaupun ketidaknormalan dalam hal tersebut bukanlah alasan untuk menjadi seorang 'pemburit'. Misalnya, jika Anda dilahirkan buta, kemudian karena Anda buta, Anda masuk ke Bank dan mencuri uang. Lalu Anda membuat satu pernyataan "Saya dilahirkan sebagai perampok Bank" - tentu pernyataan itu bodoh sekali.
Lalu bagaimana? Tentu untuk memberitakan kabar Injil kepada mereka bukanlah dengan mengatakan "Orang seperti kamu, masuk neraka" dengan mencomot 1 Korintus 6:9-10, padahal jelas bukan hanya dosa homoseksual saja yang tercantum, tetapi dosa-dosa yang lainnya.
"Bukan hanya karena kita menjadi seorang 'pemburit' kita akan masuk neraka, tetapi kita dapat hidup sangat 'saleh' dalam kegiatan agamawi kita, tetapi tetap masuk neraka" (Matius:7:21-23).
Kita masuk neraka bukan karena jenis dosa yang kita lakukan tetapi karena memang dosa itu sendiri, tidak ada dosa besar dan dosa kecil di hadapan Tuhan. Baiklah kita lebih dapat merenung dalam hal ini.
Kasim: Matius 19:12
Orang Buta dari lahir: Yohanes 9:2-3
Jika yang dimaksudnya adalah lahir secara tidak normal, saya akan menyetujui, tetapi kalau maksudnya lahir untuk menjadi seorang 'pemburit' ini lain lagi ceritanya.
Kalau kita bisa percaya bahwa ada orang-orang tertentu lahir secara cacat, baik dari cacat mental, buta, maka kita tidak dapat memungkiri kalau ada orang yang dilahirkan cacat dalam hal organ seksual. Untuk menghadapi orang-orang yang yang mengalami cacat dalam hal tersebut, kita tidak bisa langsung menghakimi dan mengatakan kalau mereka harus normal, karena secara fisik memang ada ketidaknormalan.
Walaupun ketidaknormalan dalam hal tersebut bukanlah alasan untuk menjadi seorang 'pemburit'. Misalnya, jika Anda dilahirkan buta, kemudian karena Anda buta, Anda masuk ke Bank dan mencuri uang. Lalu Anda membuat satu pernyataan "Saya dilahirkan sebagai perampok Bank" - tentu pernyataan itu bodoh sekali.
Lalu bagaimana? Tentu untuk memberitakan kabar Injil kepada mereka bukanlah dengan mengatakan "Orang seperti kamu, masuk neraka" dengan mencomot 1 Korintus 6:9-10, padahal jelas bukan hanya dosa homoseksual saja yang tercantum, tetapi dosa-dosa yang lainnya.
"Bukan hanya karena kita menjadi seorang 'pemburit' kita akan masuk neraka, tetapi kita dapat hidup sangat 'saleh' dalam kegiatan agamawi kita, tetapi tetap masuk neraka" (Matius:7:21-23).
Kita masuk neraka bukan karena jenis dosa yang kita lakukan tetapi karena memang dosa itu sendiri, tidak ada dosa besar dan dosa kecil di hadapan Tuhan. Baiklah kita lebih dapat merenung dalam hal ini.
Kasim: Matius 19:12
Orang Buta dari lahir: Yohanes 9:2-3
09 June, 2011
Don't try to be perfect
Posted by
Anton Triyanto
Don't try be perfect just because you are a perfectionist. But be perfect because you are not perfect and God is.
I don't have any faces anymore
Posted by
Anton Triyanto
Sometimes I think I don't have any faces anymore, because all of my faces are in the book. They call it Facebook.
05 June, 2011
Bapa memberi roti dan ikan
Posted by
Anton Triyanto
Saya yakin Bapa tidak akan memberi batu pada yang meminta roti, atau ular, pada yang meminta ikan.
Tetapi ketika Bapa memberi roti dan ikan, seringkali saya melihatnya sebagai ular dan batu dan ketika saya meminta roti dan ikan, sebenarnya yang saya minta itu adalah ular dan batu.
Dia selalu memberikan yang terbaik bagi kita walaupun kita seringkali tidak melihat hal itu yang terbaik bagi kita.
Tetapi ketika Bapa memberi roti dan ikan, seringkali saya melihatnya sebagai ular dan batu dan ketika saya meminta roti dan ikan, sebenarnya yang saya minta itu adalah ular dan batu.
Dia selalu memberikan yang terbaik bagi kita walaupun kita seringkali tidak melihat hal itu yang terbaik bagi kita.
02 June, 2011
Born Again
Posted by
Anton Triyanto
We may possess Baptism Certificate but it does not prove that we have been born again
31 May, 2011
They ain't no different
Posted by
Anton Triyanto
A gambler and those who give the offerings but expecting more in return. I think the latter looks more religious but they ain't no different.
27 May, 2011
If I ever found the perfect girl
Posted by
Anton Triyanto
If I ever found the perfect girl, I would never ask her out, since the moment she say yes, she will become imperfect.
26 May, 2011
God's Facebook
Posted by
Anton Triyanto
Dear God, could you please be in Facebook so I can 'stalk' You instead of my Facebook friends.
23 May, 2011
I will never be ready
Posted by
Anton Triyanto
I will never be ready to meet my Creator if the readiness is being measured by my performance not by His Son's.
19 May, 2011
He preserves
Posted by
Anton Triyanto
The only explanation why I wake up every morning and not cursing Him, because He preserves.
16 May, 2011
Bye Jesus
Posted by
Anton Triyanto
I hope after every Sunday service I won't be saying this: "Bye Jesus, nice meeting You today, I will see You again next week"
God is not deaf or mute
Posted by
Anton Triyanto
God is not deaf or mute. He listen and answer. The answer is either Yes* or No.
*Yes later and Yes now.
*Yes later and Yes now.
Must be okay to do it
Posted by
Anton Triyanto
Humanism Bias: If everyone else doing it, does that mean it must be okay to do it too?
Life is not as simple as we thought
Posted by
Anton Triyanto
Life is not as simple as we thought, therefore think harder about how we want to live our life. Wasted or unwasted?
Should we expect anything?
Posted by
Anton Triyanto
If everything are from God, should we expect anything in return after we 'give' something back to God?
Know God in our head
Posted by
Anton Triyanto
It's very possible to know God in our head but not in our heart.
How miserable
Posted by
Anton Triyanto
How miserable that we often fantasise our life to be the same as other people's story, either the real or the one in the script.
10 May, 2011
Boast only in Christ
Posted by
Anton Triyanto
We shouldn't boast of what we have achieved nor possessions, we should boast only in Christ. Meaning: Everything that we do in this life are hopeless apart from Christ. So when we boast in Christ, we always remember it is not our work but Christ's work. That's why Gospel is not only for unbelievers but for believers as well.
04 May, 2011
Menjadi Saksi? Yang penting berbuat baik?
Posted by
Anton Triyanto
Satu minggu ini saya terusik dengan bagaimana seharusnya kita menjadi saksi Kristus di manapun kita berada. Apakah hanya dengan berbuat baik saja cukup? Kalau memang hanya cukup berbuat baik, bukankah orang lain yang tidak percaya kepada Kristus juga banyak lebih baik daripada kita?
Kita harus menyadari bahwa menjadi Saksi Kristus bukan hanya berhenti dengan berbuat baik, namun Injil Kristus haruslah diberitakan. Memang perbuatan baik itu bisa menjadi celah agar orang lain dapat bertanya mengapa kita berubah menjadi 'baik', jawaban yang seringkali kita temui adalah, "Karena Kristus telah merubah hidup saya", tapi cukupkah hanya memberitakan perubahan yang terjadi dalam diri kita? Atau kita tetap harus memberitakan Injil tersebut, yang menekankan bahwa keselamatan bukan karena usaha kita menjadi lebih baik, namun karena kasih Karunia di dalam Kristus Yesus.
Seringkali kita memakai kata "Menjadi saksi dengan tingkah laku kita" hanyalah menjadi satu alasan untuk membenarkan diri karena tidak memberitakan bahwa Kristus Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Seringkali kita takut dan hanya berkata "Yang penting berbuat baik, tidak usah banyak bicara".
Memang tidak dapat dipungkiri banyak orang yang terlalu banyak bicara tapi tidak ada perbuatannya; inipun salah, kalau memang kita sudah diselamatkan oleh kasih karunia bukankah seharusnya perbuatan baik itu adalah menjadi salah satu tanda yang mengikuti?
Marilah kita menjadi saksi bukan hanya melalui perbuatan baik kita, namun melalui mulut kita untuk menceritakan tentang Kasih Kristus yang menyelamatkan kita dari dosa.
Kita harus menyadari bahwa menjadi Saksi Kristus bukan hanya berhenti dengan berbuat baik, namun Injil Kristus haruslah diberitakan. Memang perbuatan baik itu bisa menjadi celah agar orang lain dapat bertanya mengapa kita berubah menjadi 'baik', jawaban yang seringkali kita temui adalah, "Karena Kristus telah merubah hidup saya", tapi cukupkah hanya memberitakan perubahan yang terjadi dalam diri kita? Atau kita tetap harus memberitakan Injil tersebut, yang menekankan bahwa keselamatan bukan karena usaha kita menjadi lebih baik, namun karena kasih Karunia di dalam Kristus Yesus.
Seringkali kita memakai kata "Menjadi saksi dengan tingkah laku kita" hanyalah menjadi satu alasan untuk membenarkan diri karena tidak memberitakan bahwa Kristus Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Seringkali kita takut dan hanya berkata "Yang penting berbuat baik, tidak usah banyak bicara".
Memang tidak dapat dipungkiri banyak orang yang terlalu banyak bicara tapi tidak ada perbuatannya; inipun salah, kalau memang kita sudah diselamatkan oleh kasih karunia bukankah seharusnya perbuatan baik itu adalah menjadi salah satu tanda yang mengikuti?
Marilah kita menjadi saksi bukan hanya melalui perbuatan baik kita, namun melalui mulut kita untuk menceritakan tentang Kasih Kristus yang menyelamatkan kita dari dosa.
03 May, 2011
With whom are we walking
Posted by
Anton Triyanto
What matters most is not which directions are we taking, but with whom are we walking.
Nothing can be actioned
Posted by
Anton Triyanto
Yes, Actions speak louder than words, but without words nothing can be actioned.
02 May, 2011
If Jesus had a Facebook
Posted by
Anton Triyanto
If Jesus had a Facebook, He would've got defriended after saying "Eat my flesh and drink my blood". Only 12 'friends' remained and one of them was a fox in sheep's clothing.
01 May, 2011
If it's good for me then it is right
Posted by
Anton Triyanto
The question in this postmodern world is not about right or wrong anymore, but it's about what is good for me, as long if it's good for me then it is right.
28 April, 2011
If Jesus had a Twitter account
Posted by
Anton Triyanto
If Jesus had a Twitter account, he may not have many followers because it's not as easy as clicking the "Follow Me" button. (Luke 9:23)
Seeking God's favor by doing good things
Posted by
Anton Triyanto
Often we would like to believe we are the younger son who repented, yet we act like the older son who keep seeking God's favor by doing good things as the cause not as the consequence.
26 April, 2011
Christians are the most miserable people
Posted by
Anton Triyanto
Christians are the most miserable people, only if Christ had not risen.
We may not always get what we want
Posted by
Anton Triyanto
We may not always get what we want but we will always receive what we need.
You can't please everyone
Posted by
Anton Triyanto
You can't please everyone, especially pleasing self-righteous people. They were like children refusing to play either a sad or a happy game. (Luke 7:32-34)
23 April, 2011
Why whinge so much?
Posted by
Anton Triyanto
God cannot love you more than He loves you in the death of His only begotten Son. So why whinge so much about this life?
The proof of His love
Posted by
Anton Triyanto
The proof of His love based on not in our granted wishes, nor the ungranted one. The proof: Christ died for us while we were still sinners.
22 April, 2011
Kasihilah Musuhmu
Posted by
Anton Triyanto
Matius 5:44a
Tetapi Aku (Yesus) berkata kepadamu (kita): Kasihilah musuhmu...
Perkataan Yesus ini membuat saya merenung, bagaimana kita dapat mengasihi musuh kita? Pertanyaannya bukanlah bagaimana namun mengapa kita dapat mengasihi musuh kita?
Cara-cara manusia berusaha untuk melupakannya dengan cara tidak pernah mau untuk mengingat-ingat kejadian buruk yang orang lain lakukan terhadap kita, seolah-olah dengan menjalankan hal tersebut kita akan berangsur-angsur mengampuni musuh kita dan mengasihinya. Bahkan ada pepatah mengatakan hanya waktulah yang akan menyembuhkan luka. Saya agak skeptis dengan pernyataan tersebut, karena fakta berbicara banyak orang yang masih mempunyai musuh setelah bertahun-tahun lamanya.
Dalam Jumat Agung tahun ini kembali kita diingatkan untuk mengampuni orang lain sama seperti Allah telah mengampuni kita melalui AnakNya, Yesus Kristus yang mati menjadi tebusan bagi kita.
Pertanyaan berikutnya adalah, apakah kita benar-benar yakin bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah karena kasih karunia Allah semata-mata, tidak ada satupun dari kita yang dapat luput dari murka Allah, tanpa melalui penebusan Kristus.
Namun bagi sebagian besar orang pengampunan Kristus untuk kita tidak terlalu terkait dengan pengampunan kita terhadap orang yang telah bersalah kepada kita. Ketika saya tidak bisa mengampuni, saya akan bertanya kepada diri sendiri benarkah pengampunan Allah yang menurut saya ada dalam diri saya adalah pengampunan yang sejati?
Jika memang demikian, seharusnya tidak ada lagi kata 'musuh' di dalam kamus kita, manusia bukanlah musuh kita. Ketika Tuhan mengajarkan kita untuk mengasihi musuh kita, hanya melalui kasih Kristus sajalah kita bisa mengasihi mereka, secara otomatis bagi kita, mereka bukanlah 'musuh' kita lagi. Mengapa masih dikatakan musuh? Jika mereka adalah orang percaya kepada Kristus tentu mereka tidak akan menganggap kita musuh lagi, tetapi justru karena mereka belum mengalami pengampunan tersebut untuk itulah mereka akan selalu menganggap kita 'musuh'.
Di Jumat Agung ini baiklah kita bertanya kepada diri sendiri, benarkah kita sudah mengalami pengampunan yang sejati itu? Jika sudah, mengapa kita masih menganggap 'musuh' kepada orang yang berbuat buruk kepada kita?
Selidiki hati kami, ya Tuhan. Biarlah kami mengalami pengampunan sejati tersebut, dan terus mengingat betapa Engkau telah menyatakan kasihMu kepada kami, oleh karena Kristus telah mati untuk kami, ketika kami masih berdosa.
Tetapi Aku (Yesus) berkata kepadamu (kita): Kasihilah musuhmu...
Perkataan Yesus ini membuat saya merenung, bagaimana kita dapat mengasihi musuh kita? Pertanyaannya bukanlah bagaimana namun mengapa kita dapat mengasihi musuh kita?
Cara-cara manusia berusaha untuk melupakannya dengan cara tidak pernah mau untuk mengingat-ingat kejadian buruk yang orang lain lakukan terhadap kita, seolah-olah dengan menjalankan hal tersebut kita akan berangsur-angsur mengampuni musuh kita dan mengasihinya. Bahkan ada pepatah mengatakan hanya waktulah yang akan menyembuhkan luka. Saya agak skeptis dengan pernyataan tersebut, karena fakta berbicara banyak orang yang masih mempunyai musuh setelah bertahun-tahun lamanya.
Dalam Jumat Agung tahun ini kembali kita diingatkan untuk mengampuni orang lain sama seperti Allah telah mengampuni kita melalui AnakNya, Yesus Kristus yang mati menjadi tebusan bagi kita.
Pertanyaan berikutnya adalah, apakah kita benar-benar yakin bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah karena kasih karunia Allah semata-mata, tidak ada satupun dari kita yang dapat luput dari murka Allah, tanpa melalui penebusan Kristus.
Namun bagi sebagian besar orang pengampunan Kristus untuk kita tidak terlalu terkait dengan pengampunan kita terhadap orang yang telah bersalah kepada kita. Ketika saya tidak bisa mengampuni, saya akan bertanya kepada diri sendiri benarkah pengampunan Allah yang menurut saya ada dalam diri saya adalah pengampunan yang sejati?
Jika memang demikian, seharusnya tidak ada lagi kata 'musuh' di dalam kamus kita, manusia bukanlah musuh kita. Ketika Tuhan mengajarkan kita untuk mengasihi musuh kita, hanya melalui kasih Kristus sajalah kita bisa mengasihi mereka, secara otomatis bagi kita, mereka bukanlah 'musuh' kita lagi. Mengapa masih dikatakan musuh? Jika mereka adalah orang percaya kepada Kristus tentu mereka tidak akan menganggap kita musuh lagi, tetapi justru karena mereka belum mengalami pengampunan tersebut untuk itulah mereka akan selalu menganggap kita 'musuh'.
Di Jumat Agung ini baiklah kita bertanya kepada diri sendiri, benarkah kita sudah mengalami pengampunan yang sejati itu? Jika sudah, mengapa kita masih menganggap 'musuh' kepada orang yang berbuat buruk kepada kita?
Selidiki hati kami, ya Tuhan. Biarlah kami mengalami pengampunan sejati tersebut, dan terus mengingat betapa Engkau telah menyatakan kasihMu kepada kami, oleh karena Kristus telah mati untuk kami, ketika kami masih berdosa.
11 March, 2011
Lent 2011
Posted by
Anton Triyanto
Okay, I thought Ash Wednesday is 16 March 2011, but it's actually on 9 March, but it's okay I still have 38 days to go. So, here's my Lent 2011.
Food
No Easyway, No Chilly,No Sugar
Internet
No Facebook, No MSN, No Twitter, No Blogging
Reading
Finish reading Psalms and Proverbs
Finish reading Confessions by St. Augustine
I hope by doing this I can test my heart, whether all those stuff have became or will potentially become my idol.
See you in next 38 days.
Food
No Easyway, No Chilly,
Internet
No Facebook, No MSN, No Twitter, No Blogging
Reading
Finish reading Psalms and Proverbs
Finish reading Confessions by St. Augustine
I hope by doing this I can test my heart, whether all those stuff have became or will potentially become my idol.
See you in next 38 days.
05 March, 2011
Alternative to Porn
Posted by
Anton Triyanto
...
Your adversary, the devil, is not merely trying to get you to be sexually illicit, whether through sex or masturbation. The enemy is trying to destroy your masculine strength, hoping to distract you from battle against him, thus making you ineffective.
...
John Thomas
Your adversary, the devil, is not merely trying to get you to be sexually illicit, whether through sex or masturbation. The enemy is trying to destroy your masculine strength, hoping to distract you from battle against him, thus making you ineffective.
...
John Thomas
01 March, 2011
The Grace of Confession Part 1
Posted by
Anton Triyanto
I often wonder how many people are stuck in their relationships in a cycle of repeating the same things over and over again. They repeat the same misunderstandings. They rehearse and re-rehearse the same arguments. They repeat the same wrongs. Again and again things are not resolved. Night after night they end the day with nothing reconciled; they awake with memories of another bad moment with a friend, spouse, neighbor, co-worker or family member and they march toward the next time when the cycle will be repeated.
It all becomes predictable and discouraging. They hate the cycle. They wish things were what they once were. Their minds swing between nostalgia and disappointment. They want things to be different, but they don’t seem to know how to break free, and they don’t seem willing to do the one thing that makes change possible—confess.
They tell themselves they will do better. They promise they will deal with their issues. They promise they will seek God's help. They decide to invest more time and energy in the relationship. They promise they will talk more. But it is not long before all the promises fade away. It is not long before they are in the same place again. All their commitments to change have been subverted by the one thing they seem unwilling to do: take the focus off the other and put it on themselves.
Here is the point: no change takes place in a relationship that does not begin with confession. The problem for many of us is we look at confession as a burden, when it is actually a grace.
It is a grace to know right from wrong
Change is all about measuring yourself against a standard, being dissatisfied with where you are because you see that you have fallen short of the standard, and seeking the grace to close the gap from where you are to where you need to be.
James likened the Word of God to a mirror (James 1:22–25) into which we can look and see ourselves as we actually are. It is impossible to overstate how important this is. Accurate diagnosis always precedes effective cure. You only know that the board is too short because you can place it against a measuring instrument. You only know that the temperature in your house is too hot because you have a measuring instrument in your house (called a thermostat).
The Bible is God’s ultimate measuring instrument. It is meant to function in each of our lives as a spiritual tape measure. We can place ourselves and our relationships next to it and see if we measure up to God’s standard. God’s Word is one of his sweetest gifts of grace, and open eyes to see it clearly and an open heart to receive it willingly are sure signs of God’s grace as well.
It is a grace to understand the concept of indwelling sin
One of the most tempting fallacies for us—and for every human being in this fallen world—is to believe that our greatest problems exist outside us rather than inside us. Despite this, the Bible calls us to humbly confess that the greatest, deepest, most abiding problem each of us faces is inside of us, not outside. The Bible names that problem "sin." Because sin is self-focused and self-serving, it is antisocial and destructive to our relationships.
You know that you have been gifted with grace when you are able to say, “My greatest relationship problems are because of what's inside of me not outside of me.”
Look tomorrow for Part 2 of "The Grace of Confession."
It all becomes predictable and discouraging. They hate the cycle. They wish things were what they once were. Their minds swing between nostalgia and disappointment. They want things to be different, but they don’t seem to know how to break free, and they don’t seem willing to do the one thing that makes change possible—confess.
They tell themselves they will do better. They promise they will deal with their issues. They promise they will seek God's help. They decide to invest more time and energy in the relationship. They promise they will talk more. But it is not long before all the promises fade away. It is not long before they are in the same place again. All their commitments to change have been subverted by the one thing they seem unwilling to do: take the focus off the other and put it on themselves.
Here is the point: no change takes place in a relationship that does not begin with confession. The problem for many of us is we look at confession as a burden, when it is actually a grace.
It is a grace to know right from wrong
Change is all about measuring yourself against a standard, being dissatisfied with where you are because you see that you have fallen short of the standard, and seeking the grace to close the gap from where you are to where you need to be.
James likened the Word of God to a mirror (James 1:22–25) into which we can look and see ourselves as we actually are. It is impossible to overstate how important this is. Accurate diagnosis always precedes effective cure. You only know that the board is too short because you can place it against a measuring instrument. You only know that the temperature in your house is too hot because you have a measuring instrument in your house (called a thermostat).
The Bible is God’s ultimate measuring instrument. It is meant to function in each of our lives as a spiritual tape measure. We can place ourselves and our relationships next to it and see if we measure up to God’s standard. God’s Word is one of his sweetest gifts of grace, and open eyes to see it clearly and an open heart to receive it willingly are sure signs of God’s grace as well.
It is a grace to understand the concept of indwelling sin
One of the most tempting fallacies for us—and for every human being in this fallen world—is to believe that our greatest problems exist outside us rather than inside us. Despite this, the Bible calls us to humbly confess that the greatest, deepest, most abiding problem each of us faces is inside of us, not outside. The Bible names that problem "sin." Because sin is self-focused and self-serving, it is antisocial and destructive to our relationships.
You know that you have been gifted with grace when you are able to say, “My greatest relationship problems are because of what's inside of me not outside of me.”
Look tomorrow for Part 2 of "The Grace of Confession."
28 February, 2011
25 February, 2011
I won't ask God why the earthquake hit Kiwi people
Posted by
Anton Triyanto
I won't ask God why the earthquake hit Kiwi people in Christchurch.
But I will ask God why the earthquake didn't hit me when I was in Christchurch or when I'm in Sydney.
Unless I repent, I will perish too.
But I will ask God why the earthquake didn't hit me when I was in Christchurch or when I'm in Sydney.
Unless I repent, I will perish too.
24 February, 2011
Modern-day gospel VS Biblical Gospel
Posted by
Anton Triyanto
"The modern-day gospel says, 'God loves you and has a wonderful plan for your life. Therefore, follow these steps, and you can be saved.' Meanwhile, the biblical gospel says, 'You are an enemy of God, dead in your sin, & in your present state of rebellion, you are not even able to see that you need life, much less to cause yourself to come to life. Therefore, you are radically dependent on God to do something in your life that you could never do." David Platt
20 February, 2011
Mentuhankan Tuhan
Posted by
Anton Triyanto
1. Mentuhankan Tuhan
Pernyataan ini sering kita dengar. "Mentuhankan Tuhan" - Jadi apakah selama ini Dia bukan Tuhan? Seolah-olah Dia membutuhkan manusia untuk "Mentuhankan" Dia. Apakah selama ini kita tidak memperlakukan Dia sebagai Tuhan, sehingga kita harus "Mentuhankan" Dia. Betul kita sering kali tidak menempatkan Tuhan di posisi Tuhan, tetapi tanpa hal itu pun Dia tetap Tuhan.
2. Mentuhankan manusia
Seringkali Manusia mentuhankan diri sendiri, dalam arti memilih yang baik dan jahat sesuai dengan pikiran diri sendiri, jika saya bilang baik yah baik, jika tidak yah tidak. Ketika Adam dan Hawa memakan buah tentang pengetahuan yang baik dan jahat, bukan berarti sebelum mereka memakan buah tersebut mereka tidak mengenal yang baik dan yang jahat. Baik: Tidak memakan buah tersebut - Jahat: Memakan buah tersebut. Namun, kejatuhan mereka karena mereka menjadi "tuhan" atas diri mereka dan menentukan menurut pemikiran mereka.
3. Memanusiakan Tuhan
Tuhan Allah yang besar seringkali dianggap seperti manusia biasa, memang Dia telah menjelma menjadi manusia dan telah menderita di atas kayu salib. Namun seringkali di lain pihak kita memperlakukan Tuhan seperti manusia, misalnya: Jika Tuhan tidak kasih saya pekerjaan ini, saya tidak akan melayani, seperti kita mengancam seseorang ketika tidak membayar hutang kita. Tapi apakah Tuhan berhutang kepada kita? Seringkali kita merasa Tuhan berhutang kepada kita karena belum melakukan sesuatu yang berdasarkan keinginan kita.
4. Memanusiakan manusia
Kita harus sadar bahwa kita ini manusia yang berdosa, ketika kita berkata: "Memanusiakan manusia" berarti kita berusaha senantiasa kembali kepada dasar yang paling mendasar bahwa kita ini manusia yang telah mati dan terlepas dari Allah dan hanya oleh Kasih Karunia yang dapat menghidupkan kita kembali bersama dengan Allah.
Pernyataan ini sering kita dengar. "Mentuhankan Tuhan" - Jadi apakah selama ini Dia bukan Tuhan? Seolah-olah Dia membutuhkan manusia untuk "Mentuhankan" Dia. Apakah selama ini kita tidak memperlakukan Dia sebagai Tuhan, sehingga kita harus "Mentuhankan" Dia. Betul kita sering kali tidak menempatkan Tuhan di posisi Tuhan, tetapi tanpa hal itu pun Dia tetap Tuhan.
2. Mentuhankan manusia
Seringkali Manusia mentuhankan diri sendiri, dalam arti memilih yang baik dan jahat sesuai dengan pikiran diri sendiri, jika saya bilang baik yah baik, jika tidak yah tidak. Ketika Adam dan Hawa memakan buah tentang pengetahuan yang baik dan jahat, bukan berarti sebelum mereka memakan buah tersebut mereka tidak mengenal yang baik dan yang jahat. Baik: Tidak memakan buah tersebut - Jahat: Memakan buah tersebut. Namun, kejatuhan mereka karena mereka menjadi "tuhan" atas diri mereka dan menentukan menurut pemikiran mereka.
3. Memanusiakan Tuhan
Tuhan Allah yang besar seringkali dianggap seperti manusia biasa, memang Dia telah menjelma menjadi manusia dan telah menderita di atas kayu salib. Namun seringkali di lain pihak kita memperlakukan Tuhan seperti manusia, misalnya: Jika Tuhan tidak kasih saya pekerjaan ini, saya tidak akan melayani, seperti kita mengancam seseorang ketika tidak membayar hutang kita. Tapi apakah Tuhan berhutang kepada kita? Seringkali kita merasa Tuhan berhutang kepada kita karena belum melakukan sesuatu yang berdasarkan keinginan kita.
4. Memanusiakan manusia
Kita harus sadar bahwa kita ini manusia yang berdosa, ketika kita berkata: "Memanusiakan manusia" berarti kita berusaha senantiasa kembali kepada dasar yang paling mendasar bahwa kita ini manusia yang telah mati dan terlepas dari Allah dan hanya oleh Kasih Karunia yang dapat menghidupkan kita kembali bersama dengan Allah.
16 February, 2011
Why aren't we happier?
Posted by
Anton Triyanto
Just turn on the television, pick up the newspaper or flip through a magazine. The message is the same - buy, buy, buy! We live in an economic system of supply and demand, but for many it's never enough. The American Dream has become a nightmare of spending money we don't accumulate, use and store material possessions to improve the quality of our lives. So why aren't we happier?
Joni Eareckson Tada
Joni Eareckson Tada
02 February, 2011
try to live a Christian life without the Spirit of God
Posted by
Anton Triyanto
You might as well try to hear without ears or breathe without lungs, as to try to live a Christian life without the Spirit of God in your heart. D.L.Moody
27 January, 2011
If I'm becoming more like Christ
Posted by
Anton Triyanto
If I'm becoming more like Christ, shouldn't I need to be more gracious toward people who dislike me? If I dislike people, is that a proof that I am one step away becoming not like Christ?
25 January, 2011
Hold Grudge
Posted by
Anton Triyanto
The only way a person can hold grudge over people is to believe himself that he is morally superior than them. AT
22 January, 2011
Semua Sampah
Posted by
Anton Triyanto
Saya baru mendapat email dari teman mengenai lukisan-lukisan neraka yand dilukis oleh orang yang mengaku pergi ke neraka dan melihat dengan mata kepala sendiri. Bukannya saya tidak percaya dengan hal-hal yang mistis seperti itu, dan bukannya tidak mungkin Allah memperlihatkan neraka kepada orang-orang tertentu, dulu setelah melihat gambar-gambar tersebut saya menjadi takut, takut kalau saya akan disiksa seperti itu akhirnya saya terima Yesus, namun saya terima Yesus hanya karena saya ingin diselamatkan dari neraka, dasarnya adalah karena saya bukan karena Tuhan itu sendiri.
Sangat menyedihkan sekali, banyak orang mengaku Kristen dan lahir baru tetapi tetap memiliki keinginan pribadi yang ingin dipenuhi, hanya setelah menjadi "Kristen", sumber untuk memenuhi segala keinginan pribadi kita adalah Kristus, "Ikut Kristus dan engkau akan diberkati, ikut Kristus anda akan selamat dari neraka, ikut Kristus Engkau akan memiliki keluarga yang indah, ikut Kristus agar ada bebas dari segala penyakit." Untuk memiliki keinginan-keinginan tersebut, saya tidak perlu untuk dilahirkan baru, semua orang tidak percaya menginginkan hal yang sama.
Seharusnyalah kita mengikut Kristus karena Kristuslah yang menjadi pondasi keinginan kita, biarlah dalam dunia ini kita dapat belajar dan berkata "Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,"
Sangat menyedihkan sekali, banyak orang mengaku Kristen dan lahir baru tetapi tetap memiliki keinginan pribadi yang ingin dipenuhi, hanya setelah menjadi "Kristen", sumber untuk memenuhi segala keinginan pribadi kita adalah Kristus, "Ikut Kristus dan engkau akan diberkati, ikut Kristus anda akan selamat dari neraka, ikut Kristus Engkau akan memiliki keluarga yang indah, ikut Kristus agar ada bebas dari segala penyakit." Untuk memiliki keinginan-keinginan tersebut, saya tidak perlu untuk dilahirkan baru, semua orang tidak percaya menginginkan hal yang sama.
Seharusnyalah kita mengikut Kristus karena Kristuslah yang menjadi pondasi keinginan kita, biarlah dalam dunia ini kita dapat belajar dan berkata "Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,"
20 January, 2011
14 January, 2011
Don't have to be a gay
Posted by
Anton Triyanto
A friend of mine told me : "I hate an 'extreme' Christian: They condemn gay people will go to hell"
I replied: "Well, we don't have to be a gay in order to go to hell, we can be as religious as we can but still go to hell"
Matthew 7:22-23
I replied: "Well, we don't have to be a gay in order to go to hell, we can be as religious as we can but still go to hell"
Matthew 7:22-23
10 January, 2011
We can't love God without knowing Him,
Posted by
Anton Triyanto
We can't love God without knowing Him,
We can know Him without loving Him.
We can know Him without loving Him.
06 January, 2011
Christ not died for us
Posted by
Anton Triyanto
Christ not died for us because He loves us, He died for us that's why He loves us in Him.
05 January, 2011
01 January, 2011
Mengucap Syukur atas tahun yang berlalu
Posted by
Anton Triyanto
Sebenarnya tidak perlu menunggu selama 365 hari untuk mengucap syukur, seharusnya setiap hari kita harus belajar untuk mengucap syukur atas hari yang Tuhan beri dalam kehidupan kita. Namun memang setiap menutup tahun tentunya kita lebih diingatkan kembali satu titik di mana 1 tahun sudah lewat lagi.
Menurut saya adanya waktu seperti, detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun dan seterusnya adalah supaya kita dapat belajar menyukuri akan hidup kita melalui sudut pandang waktu, jika tidak ada waktu tentunya kita sulit untuk membayangkan berapa lama kita sudah hidup.
Menurut saya adanya waktu seperti, detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun dan seterusnya adalah supaya kita dapat belajar menyukuri akan hidup kita melalui sudut pandang waktu, jika tidak ada waktu tentunya kita sulit untuk membayangkan berapa lama kita sudah hidup.