Recent Posts

30 September, 2009

Kisah seorang wanita bernama Rebecca

Ia menderita kanker payudara pada usianya yang ke-32. Ia memiliki seorang suami dengan 3 orang putri yang usianya 6 tahun, 4 tahun dan 2 tahun. Selama 18 bulan ia harus dikemoterapi. Kamarnya di rumah sakit penuh dengan kertas dan kaset. Ia mengerjakan rekaman untuk anak-anaknya, yang dapat dipergunakan kelak untuk menghadapi peristiwa-peristiwa penting hidup mereka. Berapa judul di antaranya: “Hari pertama masuk sekolah” “Becoming sweet 16” “Pacaran Pertama” “Ciuman pertama”. Setiap hari ia mengerjakan rekamannya. Ketika ia semakin lemah, dalam rekamannya ia menjelaskan bahwa ia akan pergi untuk tinggal dengan Allah Bapa dan menolong Allah untuk membangun rumah bagi anak-anaknya saat mereka tua nanti.

Suatu ketika Rebecca menelpon perawat yang dekat dengannya untuk dibawakan satu lagi kaset kosong. Sang perawat berpikir untuk merekam apa lagi kaset kosong itu, rasanya tidak ada hal penting lain yang belum ada rekamannya. Ketika kaset itu diserahkan kepada Rebecca, ia mengatakan “Ini akan menjadi kaset yang paling penting” Ia pun mulai merekam suaranya, “Ruthie, Hanna, Molly, suatu ketika ayah akan pulang membawa mama yang baru, saya ingin kalian membuatnya merasa istimewa. Betapa bangganya aku jika kalian bersikap baik kepadanya. Bantulah dia membereskan meja, bawakanlah dia bunga, sering-sering peluklah dia. Jangan bersedih terlalu lama. Yesus tahu kesedihanmu. Engkau pasti akan gembira kembali. Aku sangat mencintai kalian, peluk erat dari Ibu” Dua hari kemudian Rebecca menghembuskan nafas terakhirnya. Kaset-kaset itulah warisannya kepada anak-anaknya, yang suaminya akan perdengarkan saat peristiwa-peristiwa yang penting terjadi dalam kehidupan anak-anak mereka.

Warisan termiskin seorang tua pada anak adalah jika warisan itu hanya biologis dan materiil semata. Sayangnya usaha kita meninggalkan warisan rohani tidak segiat dan sekeras usaha kita meninggalkan harta duniawi.

Kutipan dari buku Yohan Candawasa - Menapaki Hari Bersama Allah

29 September, 2009

Idolatry


Torehan mengenai penyembahan berhala baca di sini

23 September, 2009

Empat status manusia menurut Agustinus

Manusia sebelum jatuh dalam dosa Manusia setelah jatuh dalam dosa Manusia yang sudah lahir baru Manusia dengan tubuh kemuliaan
Dapat berdosa
posse peccare
Tidak dapat tidak berdosa
non posse non peccare
Dapat berdosa
posse peccare
Tidak dapat berdosa
non posse peccare
Dapat tidak berdosa
posse non peccare
Dapat tidak berdosa
posse non peccare

20 September, 2009

Nilai manusia di hadapan Allah

Nilai adalah satu penghargaan, ketika kita sekolah kita sudah mengalami namanya sistem penilaian masing-masing sekolah, entah itu dari 1 - 10 atau sistem F sampai A, semuanya ada nilainya, dari ujian-ujian kita, kita akan dihargai sesuai dengan kerja keras belajar kita yang akan dibuktikan melalui ujian yang kita lakukan dan akhirnya nilai yang akan kita terima pada akhirnya.

Semenjak dari bangku sekolah manusia sudah diajar bahwa semua orang tidak sama, ada orang yang pintar, ada orang yang kurang pintar, sehingga terbentuklah satu komunitas di mana pemisahan orang-orang pintar dengan orang-orang yang kurang pintar, atau orang-orang yang bawel dengan orang yang bawel, demikian sebaliknya orang pendiam dengan orang pendiam, komunitas tersebut terbentuk karena mereka merasa bahwa mereka memiliki nilai yang sama dengan orang lain di dalam komunitas tersebut.

Setelah masuk ke dunia kerja, manusia diperhadapkan bahwa ketika kita bekerja keras maka kita akan dihargai bos, gaji kita akan naik, kita akan menghasilkan lebih, sehingga itu juga menjadi nilai atas harga diri. Kita berlomba-lomba untuk meningkatkan nilai di dalam kehidupan kita, entah itu kehidupan ekonomi, sosial, dan seluruh aspek kehidupan yang lainnya sehingga mau tidak mau kita akan terjerat dengan keinginan kita meningkatkan nilai tersebut.

Manusia pun akhirnya menilai diri sendiri dan menilai diri orang lain berdasarkan apa yang mereka punya, entah pekerjaan mereka, keluarga, anak-anak mereka, pelayanan mereka, harta mereka dan yang lain sebagainya. Contohnya,

A: "Eh lu kerja di mana?" ...

B: "Oh gue kerja di Top 5 company, kalau elu?"

A: "Gue bukan kerja di Top 5 sih, gue kerja di Top 3"

B: "Terus rumah lu di mana sekarang"

A: "Rumah gue di daerah tempat orang-orang kaya, soalnya kan gue kerja di Top 3"

B: "Itu rumah apa unit" (meragukan pernyataan si A)

A: "Jelas rumah donk, kan gue kerja di Top 3, jadi gue mampu dan gue berhak atas rumah tersebut"

B: "Terus kalau ke kantor naik mobil yah apa naik Bus?"

A: "Naik mobil sih?kalau lu sendiri dah punya mobil? Mobilnya mereknya apa? Warnanya apa? Tahun berapa? Terus ada dimodifikasi ngak?"

B: "Oh baru gue beli mobil soalnya Tuhan sudah memberkati gue tahun ini sehingga gue bisa dapet mobil yang bagus dan nyaman, gue pelayanan aktif sih jadi emang akhirnya Tuhan berkatin, elu kapan-kapan boleh kok kalau mau nebeng" (dengan nada yang tidak mau kalah), eh by the way lu tau ngak sekarang Iphone keluarin baru loh, gue pengen beli nih"

A: "Iya yah, keren yah iphone baru, gue juga pengen beli sih, sama mau beliin istri gue yang cantik, jadi kita berdua bisa pegang handphone yang sama"

B: "Gila itu kan mahal bener"

A: "Ngak papa larh, gue kan kerja di Top 3"

Memang percakapan di atas kendengarannya sangat extreme, namun bila tidak dibikin secara extreme pun seringkali kita terjebak dengan bertanya dan ditanya dengan seputar pekerjaan, mobil, rumah, keluarga, anak-anak, dan yang lain sebagainya karena secara sadar atau tidak sadar kita dinilai dan menilai orang lain berdasarkan segala hal tersebut.

Itu berbicara masalah materi, ada juga orang menilai dengan masalah rohani, sehingga merasa dia lebih rohani dan bernilai daripada orang lain, sehingga ini akan menimbulkan kesombongan belaka, sedangkan di satu pihak orang akan merasa tidak lebih rohani dari orang lain. Manusia mulai merasa ketika dia ke gereja, dia pelayanan, dia menolong orang lain, dia akan meningkatkan nilai kerohanian dia, sangat salah sekali kalau kita berpikiran seperti ini, karena akhirnya ketika kita melayani orang dalam keadaan bernilai lebih tinggi kita akan merasa bahwa kita telah meningkatkan nilai kerohanian kita lebih tinggi lagi dengan jalan merendahkan diri dengan melayani orang lain.

Padahal kalau kita mau sadar, kita seharusnya tidak bermegah akan hal tersebut karena, sebenarnya kita hanya menjadi posisi yang di mana seharusnya kita berada, yaitu posisi yang sama dengan orang lain sebagai orang yang berdosa. Demikian sebaliknya ketika kita seolah-olah di bawah, kita senantiasa menilai diri kita lebih rendah dari orang lain sehingga hal tersebut akan membuat kita menjadi orang yang minder dalam hidup.

Yang tinggi akan menanggap dirinya seperti 'tuhan' dan orang lain sebagai 'manusia' atau menganggap dirinya sebagai 'manusia' dan orang lain sebagai 'binatang', sedangkan yang rendah akan menanggap dirinya seperti 'manusia' dan orang yang lebih tinggi seperti 'tuhan' atau menganggap dirinya sebagai 'binatang' dan orang yang lebih tinggi seperti 'manusia'

Baiklah kita kembali merenungkan bahwa nilai manusia di hadapan Allah adalah nol besar, bahkan kalau bisa dibilang sampai negatif nilainya, karena manusia pada dasarnya adalah orang-orang yang patut dimurkai, kita mau lakukan yang baik tapi kenyataannya yang jahatlah yang kita lakukan, kita semua manusia telah mati oleh karena dosa dan kedagingan kita. Namun karena Kristus telah membangkitkan kita dari kematian tersebut, oleh anugerah Allah, tidak seharusnya kita memegahkan diri, karena semua itu bukan hasil usaha kita tapi pemberian Allah.

Jadi bagaimana? Baiklah kita jangan menilai orang lain berdasarkan apa yang mereka punya, apa yang mereka pakai baik dari segi materi maupun rohani demikian sebaliknya jangan menilai diri kita menurut hal-hal tersebut, karena kita harus senantiasa menyadari bahwa ketika orang lain berbuat jahat, sebenarnya kita adalah sama jahatnya, namun saja kita telah bangkit bersama dengan Kristus itupun ketika kita bermegah bukan bermegah karena kita lebih dari orang lain, namun kita bermegah karena anugrah Kristus yang dianugrahkan kepada kita manusia berdosa sehingga itulah yang mendorong kita memberitakan injil Kristus.

Baiklah kita belajar seperti Ayub yang menganggap semua yang yang dia punya tidak bernilai sama sekali, yang bernilai hanyalah kedaulatan Tuhan atas hidupnya, dalam Ayub 1:21

"Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"

16 September, 2009

Menjadi 'tuhan' atas diri sendiri

Berapa kali kita mendengar doa seperti ini:
"Tuhan berkatilah hidup saya dengan berkatMu (uang dan kekayaan) agar namaMu dimuliakan, agar jangan aku dibuat malu bahwa aku punya Allah yang hebat dan besar"

Sekilas kita mendengar doa ini, seolah-olah bahwa akhirnya Tuhan yang dimuliakan tapi kalau kita telaah lebih jauh lagi dan benar-benar mau jujur, kenyataannya adalah bahwa tujuan akhirnya adalah untuk kepuasan diri kita, untuk keegoisan kita, untuk memenuhi hawa nafsu kita. Namun sadar atau tidak sadar banyak manusia terperangkap memakai topeng 'kemuliaan Tuhan' untuk memenuhi kepuasan diri mereka sendiri.

Apakah kalau kita tidak menerima berkat nama Tuhan tidak dimuliakan? Berarti apakah kemuliaan Tuhan bergantung kepada uang yang kita punya? Jadi ketika kita tidak diberkati maka kemuliaan Tuhan menjadi tidak sempurna? alias ada cacatnya. Justru konsep ini sama sekali salah, justru karena Dia Tuhan yang sudah mulia adanya, untuk itulah kita senantiasa harus memuliakan Dia dengan harta kita, hidup kita dan segala sesuatu karena memang Dia yang harus dimuliakan bukan karena Dia kekurangan kemuliaan. Jadi bukan karena harta kita Dia menjadi dimuliakan atau lebih dimuliakan.

Agustinus pun pernah mengatakan bahwa: Kecongkakan adalah awal dosa. Dan kecongkakan itu adalah peninggian diri sebagai hasil pemusatan perhatian kepada diri dalam mengejar kenikmatan hidup bagi diri sendiri. Daripada hidup bagi rencana Allah, manusia justru mengilahkan dirinya menjadi pusat segala sesuatu."

Sebaliknya mengapa kita tidak berdoa sebagai berikut:
"Tuhan berkatilah saya, namun kalau kemuliaanMu semakin dilihat orang lain ketika saya harus menjadi miskin, maka jadikanlah saya miskin"

Bisakah Tuhan menjadikan kaya? Bisa! Bisakah Tuhan membuat kita miskin untuk rencana Dia yang ajaib? Lebih bisa juga! Jadi semuanya adalah berdasarkan kedaulatan Tuhan. Saya menentang banyak pandangan bahwa menjadi Kristen harus diberkati, bahwa berkat kita tergantung dari doa kita, tergantung dari pelayanan kita, akhirnya kitalah yang menjadi 'tuhan' atas diri kita sendiri. Pandangan ini salah tentunya karena akhirnya yang kita capai adalah untuk kepuasan diri sendiri akan melibatkan motivasi yang salah dalam melayani Tuhan dan dalam berdoa.

15 September, 2009

Sarah Edwards atau Benny Hinn? Siapa yang palsu?

14 September, 2009

Mencari Allah


Bapa , aku ingin mengenal-Mu, tapi hati pengecutku takut melepaskan mainan-mainanku. Aku tidak dapat berpisah dengan mereka tanpa terjadi pendarahan dalam batinku, dan aku tidak berusaha menyembunyikannya dariMu.

Aku gemetar, tetapi aku datang juga. Cabutlah dari hatiku segala sesuatu yang kunikmati begitu lama dan telah menjadi bagian dari kehidupanku yang tidak terpisahkan, supaya Engkau dapat masuk dan tinggal di dalamnya tanpa pesaing.

Dalam nama Yesus. Amin.

Diterjemahkan dari kutipan buku The Pursuit of God oleh A.W Tozer.

11 September, 2009

Zakheus orang pendek

Lukas 19
19:1 Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.
19:2 Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.
19:3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.
19:4 Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.
19:5 Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."
19:6 Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.
19:7 Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa."
19:8 Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."
19:9 Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham.
19:10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."


Kota Yerikho terletak sekitar 25km arah timur dari kota Yerusalem. Perjalanan dari Yerikho ke Yerusalem membutuhkan kira-kira sekitar 8 - 10 jam berjalan kaki, dengan tanjakan sekitar 1060 meter, karena posisi kota Yerusalem berada di daratan yang lebih tinggi dari permukaan laut. Ayat ke satu dikatakan bahwa Yesus masuk ke kota Yerikho, ada kemungkinan besar bahwa hari itu sore-sore, atau menjelang malam, karena untuk melanjutkan perjalanannya kembali Yesus membutuhkan waktu dari pagi sampai sore dari Yerikho menuju Yerusalem, akhirnya memutuskan Dia untuk menginap di Yerikho.

Yerikho adalah kota persinggahan, perjalanan di bagian timur dekat Sungai Yordan menuju Yerusalem pasti melalui Yerikho. Mereka yang datang dari utara melalui lembah Jordan, entah itu Tirus atau Sidon pasti melalui Yerikho menuju ke Yerusalem ataupun Mesir. Mereka yang dari Mesir hendak berpergian ke arah utara pasti melalui kota Yerikho juga. Jadi kota Yerikho adalah kota yang ramai karena banyak orang yang bersinggah dan beristirahat (kota transit). Pemerintah Romawi biasa menempatkan kantor pajak di kota-kota yang menjadi pusat keramaian dari segi ekonomi dan pariwisata, untuk itulah ada satu di kota Yerikho dan kepalanya adalah Zakheus si Pemungut Pajak (ayat 2).

Yesus sudah banyak melakukan mujizat-mujizat di kota-kota dekat Yerikho, yang tentunya hal ini sudah menjadi berita yang tersebar di kota Yerikho sendiri, dan berita tersebut membuat Zakheus penasaran mau melihat siapa sebenarnya Yesus itu. Zakheus berusaha memanjat pohon karena memang tubuhnya yang pendek sehingga penglihatan dia ditutupi oleh tubuh orang lain yang lebih tinggi dari dia. Sama halnya dalam hidup kita tidak sepantasnya kita meninggikan diri kita dan melihat orang lain lebih rendah (pendek) dari kita yang akhirnya membuat kita sombong dan membuat orang lain tidak bisa melihat Tuhan di dalam hidup kita. Dan tidak sepantasnya juga kita merasa diri rendah (pendek) dan berusaha dengan kekuatan manusia untuk melebihi orang lain, karena semua manusia sama derajatnya, tidak ada yang lebih bagus dan tidak ada yang lebih baik -- dengan konsep seperti ini maka kita akan bisa melayani sesama kita bukan dengan rasa kesombongan ataupun dengan rasa minder dan kurang percaya diri.

Zakheus yang sudah berusaha melihat Tuhan pun gagal, karena di dalam ayat ke 4, Yesuslah yang berhenti sampai di tempat di mana Zakheus berada, dan Yesus melihat ke atas -- inilah pertemuan mata ke mata antara Yesus sebagai Tuhan dengan manusia berdosa bernama Zakheus. Ini juga berarti bahwa manusia yang berusaha bagaimanapun tidak bisa mendapatkan keselamatan tersebut, karena keselamatan adalah satu anugerah yang diberikan oleh Tuhan. Ketika Yesus memanggil nama Zakheus ini membuktikan bahwa Dia Allah yang Maha Tahu, Yesus mengenal diri kita juga sedalam-dalamnya yang bahkan sewaktu kita tidak mengetahuinya. Ketika Yesus pun menyuruh Zakheus untuk turun, ini mengajar kita juga bahwa posisi kita tidak seharusnya di atas pohon, di dalam suatu kedudukan yang merasa lebih tinggi dari orang lain, ketika kita di atas seolah-olah kita bisa melihat segalanya dari atas, yang akhirnya membuat kita tidak bisa melihat betapa buruknya diri kita.

Setelah itu Zakheus berjanji kepada Tuhan bahwa apa yang menjadi miliknya, setengahnya akan diberikan kepada orang miskin dan jika ada orang yang dia pernah peras, dia akan kembalikan juga empat kali lipat. Perbuatan Zakheus adalah bukti bahwa dia sudah diselamatkan bukan karena dia melakukan hal tersebut sehingga Tuhan memberikan keselamatan. Ketika Yesus berkata "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun Abraham." -- bisa jadi bukan hanya Zakheus yang diselamatkan karena Yesus berkata 'rumah', demikian Tuhan mau mengajarkan kita bahwa bukan karena Zakheus melakukan perbuatan baik tersebut sehingga dia diselamatkan, pasti jadinya menjadi "Hari ini kamu diselamatkan Zakheus karena kamu sudah memberikan uangmu kepada orang lain", nah kalau kita mau kritis pun, Zakheus belum membayar uangnya kepada orang lain jadi hubungan sebab akibat adalah: Sebab Zakheus telah diselamatkan akibatnya dia mau memberi uangnya kepada orang miskin, bukan; Sebab Zakheus memberi uangnya kepada orang miskin akibatnya Zakheus diselamatkan.

Ketika Yesus berkata "...orang inipun Anak Abraham." ini juga bukan membicarakan bahwa Zakheus benar-benar keturunan Abraham secara darah, perkataan ini menunjukkan mengenai iman Abraham.
Dalam Galatia 3:29 dikatakan bahwa kalau kita milik Kristus maka kita adalah keturunan Abraham yang berhak menerima janji Allah, yaitu janji keselamatan. Dan untuk menjadi milik Kristus tidak akan pernah bisa kalau bukan karena anugerah Dia melalui pilihanNya. Abraham menjadi gambaran bapa semua orang percaya, dan anak-anak Abraham yang sejati bukan secara darah dan daging memiliki iman kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, salah satunya adalah Zakheus.

09 September, 2009

Apakah karunia bahasa roh sudah berakhir?


Torehan mengenai bahasa 'roh' baca di sini

08 September, 2009

Dikendalikan oleh orang lain

Menarik sekali hari ini ketika di dalam perjalan menuju ke kantor, ada terjadi perselisihan antara anak-anak remaja perempuan, umur mereka berkisar 10 - 12 tahun, namun mereka tidak tahu sopan santun di gerbong tersebut sehingga membuat beberapa orang di gerbong tersebut menjadi emosi, dan terjadilah pertengkaran dengan mulut, anehnya orang-orang yang meladeni adalah orang-orang yang sudah cukup umur yang sebenarnya lebih bisa mudah mengendalikan emosi terutama dalam berkata-kata, namun kenyataannya tidak. Sehingga banyak sekali yang terpancing untuk emosi oleh karena kata-kata kasar yang keluar dari anak-anak remaja tersebut.

Bahkan ada orang tua yang menghakimi dengan berkata "Lihat saja, 10 tahun lagi kalian akan menjadi wanita tuna susila yang junky", hal ini semakin membuat anak-anak remaja tersebut berteriak keras-keras di gerbong itu, seolah-olah hanya milik mereka. Sedangkan orang tua tersebut sepertinya lega dengan mengatakan seperti itu.

Kerap kali emosi kita dikendalikan oleh orang lain, berapa kali kita marah bukan karena kita mau marah, tapi akhirnya kita menyerahkan 'remote control' kepada mereka untuk membuat kita marah dan emosi. Memang sangat sulit sekali khususnya kalau berkenaan dengan masalah harga diri, seolah-olah kita lebih berharga dari orang lain jadi ketika orang lain menilai kita lebih rendah maka kita akan mati-matian membela harga diri kita, yang sebenarnya kalau mau ditelaah lebih lanjut kita ini tidak punya harga diri, karena semua orang telah kehilangan kemuliaan Allah dan telah jatuh di dalam dosa. Ketika kita sudah diselamatkanpun tidak seharusnya kita bangga lebih daripada orang lain.

Kesenjangan sosial dan ekonomi membuat batasan orang menjadi diri lebih dari orang lain semakin besar, kita mulai bisa membandingkan apa yang kita capai semata-mata karena kerja keras kita dan kita 'berhak' untuk segala sesuatu itu dibandingkan oleh orang yang malas-malasan. Dengan kejahatan meningkat maka kita lebih bisa membandingkan bahwa ternyata masih ada yang lebih jahat dari kita, sehingga membuat kita senantiasa membenarkan diri. Inilah yang terjadi di dalam dunia ini, semakin sulit rasanya manusia menyadari dosa-dosanya, sulit menyadari bahwa tidak ada perbuatan baik yang dapat dilakukan untuk menjadi benar di hadapan Allah, untuk itu lebih gampang orang-orang jahat bertobat dibanding orang-orang 'baik'.

Dilihat dari kejadian di atas, seolah-olah yang benar menurut hukum adalah orang tua tersebut, namun di hadapan Allah, mereka sama adanya -- manusia yang selalu penuh kekurangan yang emosinya dapat meluap kapanpun dan di manapun tanpa ada rencana yang dirancangkan, karena manusia pada dasarnya adalah jahat.

Biarlah kita senantiasa berusaha memberikan kendali kehidupan kita kepada Tuhan, karena kita menyadari ketika kita memegang kendali kehidupan ini maka selalu cenderung kepada kejahatan belaka. Dan janganlah memberikan 'remote control' emosi kita kepada orang lain, ketika orang lain menyakiti hati kita, atau melukai perasaan kita baiklah kita senantiasa belajar dari Kristus untuk tidak menganti mata dengan mata, gigi dengan gigi.

05 September, 2009

Ketika hidup mengecewakan

Rumah sakit pemulihan kesehatan yang dikelola pemerintah AS bukanlah tempat yang menyenangkan : besar, kekurangan tenaga, dan dipenuhi orang-orang yang pikun, tidak berdaya, dan kesepian, orang2 yang sedang menunggu kematian. Pada hari yang paling cerah pun di dalam tampak gelap, bau penyakit, dan pesingnya air seni. Saya datang ke sana sekali atau dua kali seminggu selama 4 tahun. Sebenarnya saya tidak pernah berkeinginan ke sana. Pulang dari sana selalu membuat saya lega. Itu bukan tempat yang bisa buat orang betah. Pada hari itu saya sedang berjalan di bangsal yang belum pernah saya datangi sebelumnya. Hampir sia-sia mencari orang yang cukup hidup untuk menerima bunga dan beberapa kata dorongan. Bangsal ini tampaknya berisi orang-orang dengan kasus-kasus terburuk. Mereka yang terikat di ranjang dorong atau kursi roda tampak sama sekali tak berdaya. Ketika saya mendekati ujung bangsal ini, saya melihat seorang perempuan tua terikat di kursi roda. Wajahnya benar-benar mengerikan. Pandangannya kosong dan pupil putih dimatanya memberitahu saya bahwa ia buta. Alat bantu besar di salah satu telinganya menyatakan ia hampir tuli. Satu sisi wajahnya digerogoti kanker. Ada warna hitam dan luka memanjang yang menutupi sebagian pipinya, dan itu mendorong hidungnya ke satu sisi, menurunkan satu mata, dan memiringkan rahangnya, sehingga apa yang seharusnya menjadi sudut mulutnya bagian bawah mulutnya. Akibatnya air liurnya selalu menetes. Belakangan ini saya dberitahu bahwa setiap ada perawat baru, kepala perawat akan menyuruhnya memberi makan perempuan ini, dengan pemikiran kalau mereka bisa bertahan dengan pemandangan ini, mereka bisa tahan apa saja di gedung itu. Belakangan saya juga mengetahui bahwa perempuan ini umurnya 89 tahun dan sudah berada di sini, terikat di tempat tidur, buta hampir tuli, sendirian selama 25 tahun. Ia bernama Mabel.

Saya tidak tahu mengapa saya berbicara kepadanya. Kemungkinan karena beranggapan bahwa ia tidak dapat menanggapi banyak dibandingkan dengan orang-orang lain di bangsal itu. Saya meletakkan bunga di tangannya dan berkata, “Ini bunga untuk Anda. Selamat hari ibu.” Ia berusaha mengangkat bunga itu ke wajahnya, mencoba menciumnya. Betapa terkejutnya saya ketika mendengar ucapannya, yang walau pun agak sukar ditangkap karena cacat wajahnya, jelas dihasilkan dari pikiran jernih. Ia berkata, “Terima kasih, indah sekali. Tetapi, bolehkah saya memberikannya kepada orang lain? Saya tidak dapat melihatnya. Anda tahu saya buta.”

Saya berkata, “Tentu saja.” Saya mendorong kursi rodanya menyusuri bangsal ke tempat yang saya kira dapat menemukan seorang pasien sadar. Ketika saya menemukan seseorang, saya menghentikan kursi itu. Mabel mengulurkan bunganya dan berkata, “Ini dari Yesus.”

Pada saat itu saya mulai sadar bahwa ia bukan manusia biasa. Belakangan saya mengetahui lebih banyak tentang kisah hidupnya. Ia lahir dan besar di pertanian kecil yang diurusnya hanya dengan ibunya sampai ibunya meninggal. Lalu ia menjalankan pertanian itu sendirian sampai tahun 1950, ketika matanya menjadi buta dan penyakitnya memaksanya masuk RS. Selama 25 tahun ia bertambah lemah dan sakit: lalu sakit kepala, pinggang, perut. Lalu kanker juga menyerangnya.

Mabel dan saya sudah menjadi teman dalam beberapa minggu berikutnya dan saya menemuinya sekali atau dua kali seminggu selama 3 tahun berikutnya. Ucapan pertamanya pada saya biasanya berupa tawaran permen dari kotak tisu di meja sebelah tempat tidurnya. Kadang-kadang saya membacakannya Alkitab dan sering ketika saya berhenti, ia meneruskan ayat itu, berdasarkan hafalan, kata demi kata. Hari-hari lainnya saya membawakan buku nyanyian rohani dan menyanyi bersamanya, dan ia hapal setiap kata-kata lagu-lagu lama. Bagi Mabel, ini bukan hanya latihan pikiran. Ia sering berhenti di tengah nyanyian dan memberikan komentar pendek tentang lirik yang ia anggap sangat relevan dengan situasinya sendiri. Saya belum pernah mendengarnya bicara tentang kesepian dan kesakitan, kecuali kalau ia menekankan kalimat tertentu pada lagu tertentu. Tidak sampai beberapa minggu, perasaan saya sudah berubah dan rasa memberi bantuan berubah menjadi kekaguman, dan saya mendatanginya dengan membawa pulpen dan kertas untuk mencatat apa yang ia katakan.

Pada suatu minggu yang sibuk menjelang ujian akhir, saya frustasi karena pikiran saya rasanya melayang ke 10 arah berbeda sekaligus. Begitu banyak yang harus saya pikirkan. Sebuah pertanyaan muncul di kepala saya, “Apa yang dipikirkan Mabel jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, bahkan tanpa mengetahui apakah itu siang atau malam?” Jadi, saya mendatanginya dan bertanya, “Mabel, apa yang kau pikirkan ketika kau berbaring di sini?” Ia berkata, “Saya berpikir tentang Yesusku”. Saya duduk dsana dan tertegun. Betapa sulitnya bagi saya untuk berpikir tentang Yesus bahkan selama 5 menit saja. Saya bertanya lagi,”Apa yang kamu pikirkan tentang Yesus?” Ia menjawab perlahan dan penuh tekanan,”Saya berpikir tentang betapa baiknya Ia kepada saya. Ia sangat baik kepada saya dalam hidup saya. Saya adalah salah satu orang yang puas. Banyak orang tidak peduli dengan apa yang saya pikirkan dak menganggap saya kuno. Tetapi saya tidak peduli. Saya lebih suka memiliki Yesus. Dunia saya adalah Yesus.” Lalu Mabel mulai menyanyikan lagu rohani lama:

Jesus is all the world to me,
My life, my joy, my all.
He is my strength from day to day,
Without Him I would fall.
When I am sad, to Him I go,
No other one can cheer me so.
When I am sad He makes me glad.
He’s my friend.


Diterjemahkan dari The Life you’ve always wanted oleh John Ortberg - The Morphing of Mabel.

Cerita ini bukanlah cerita fiksi yang dibuat-buat, atau sekedar isapan jempol, walaupun kadang sulit dipercaya masih ada orang-orang seperti Mabel, sehingga kejadian ini adalah hal yang menakjubkan sekali. Bagaimana dia bisa melakukannya? Detik demi detik, menit demi menit merayap, begitu juga hari, minggu, bulan dan tahun dalam penderitaan dan kesakitan tanpa ditemani dan tanpa ada penjelasan mengapa hal ini diijinkan Allah terjadi dalam kehidupannya. Bagaimana dia bisa menempuhnya? Bayangkanlah jika Anda berada di posisi Mabel dan berkata “Saya berpikir tentang baiknya Tuhan kepada saya. Tuhan sangat baik kepada saya dalam hidup saya. Saya adalah salah satu orang yang puas” Masih berpikir kalau hidup kita terlalu menderita untuk bisa bersyukur?