Recent Posts

31 August, 2009

Ketika Allah tidak menjawab doa kita

Doa adalah menjadi satu aktivitas yang pernah, entah itu jarang atau sering -- bukan hanya di kalangan orang Kristen, namun doa juga terjadi di dalam kalangan non-Kristen. Semua orang pasti dalam hati kecilnya menyadari bahwa di luar dirinya ada kuasa, kekuatan, bentuk, senyawa, apapun itu yang lebih kuat dari dirinya. Bahkan saya percaya orang ateis pun di dalam hati kecilnya dapat berdoa ketika dia mengalami keputus-asaan karena keterbatasan seorang manusia, setiap manusia dicipta menurut peta teladan Allah, walaupun peta teladan tersebut telah rusak namun unsur koneksi kepada Allah masih ada di sana, untuk itulah ketika orang mendekati kematian, dia pasti bertanya-tanya kepada dirinya, kemanakah dia akan pergi.

Hanya saja banyak orang berdoa kepada 'tuhan' yang berbeda, pohon, patung dan lain sebagainya, namun kali ini saya akan mempersempit artikel ini mengenai doa bagi orang-orang Kristen saja. Doa menjadi nafas bagi orang Kristen tentunya, apakah doa itu? Doa berarti meminta, menaikkan petisi, seperti kalau internet, ketika kita mengetik alamat website di 'browser' kita maka kita sedang mengirim 'request' ke server untuk menampilkan apa yang kita mau. Nah, kalau servernya memang tidak mau mengembalikan responsnya maka sampai berapapun kita mencoba, kita tidak akan berhasil.

Saya tertarik di dalam Yohanes 15:7-8, Tuhan berkata Jikalah kita tinggal di dalam Kristus dan Firman tinggal di dalam kita, maka mintalah apa saja yang kita mau maka kita akan menerimanya, selama nama Bapa dipermuliakan, namun apa yang kita minta, belum tentu kita akan menerima yang kita minta, ayat ini menjelaskan bahwa kita akan menerimanya, kalau kita meminta batu dan ular, sudah tentu Allah tidak akan mengabulkan hal tersebut, karena Dia senantiasa memberikan yang terbaik buat kita, hanya saja kita yang tidak pernah mengerti jalan pikiran Allah, bahkan banyak hal yang memang Dia mau tetap sembunyikan buat hidup kita supaya kita diajar senantiasa beriman kepada Dia.

Saya tertarik dengan buku dari Yohan Candawasa yang berjudul "Menapaki Hari bersama Allah" -- di dalam salah satu babnya, beliau membahas mengenai "Anda meminta Allah memberi" demikian beberapa kutipan dari beliau.

Matius 7:7 "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
Matius 7:8 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.
Matius 7:9 Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti,
Matius 7:10 atau memberi ular, jika ia meminta ikan?
Matius 7:11 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."

Apakah itu berarti setiap permintaan kita pasti dikabulkan ? Banyak orang berpikir betapa senangnya memiliki Allah yang selalu menjawab "Ya" atas apa saja yang kita minta.
Apa yang Tuhan Yesus mau ajarkan ? Perhatikan bahwa di ayat 11 dua kali muncul frasa "pemberian yang baik". Yesus memberi contoh konkrit, dengan anak yang meminta roti, demikian juga ikan. Maka sudah tentu Bapa akan memberikannya. Persoalan menjadi lain ketika anak itu meminta batu atau ular berbisa untuk di makannya. Hanya Bapa yang tidak waras saja yang mengabulkan permintaan tersebut, Yang menjadi persoalan terbesar adalah "baik" menurut pemohon tidaklah selalu selaras dengan pemberi. Dengan mengikuti gambaran yang Tuhan Yesus gunakan, kita dapat membagi hubungan orang tua anak menjadi 5 jenis:

1. Anak meminta roti - orang tua memberinya roti
Anak meminta ikan - orang tua memberinya ikan
Anak meminta batu - orang tua memberinya batu
Anak meminta ular - orang tua memberinya ular

2. Anak meminta roti - orang tua memberinya batu
Anak meminta ikan - orang tua memberinya ular
Anak meminta batu - orang tua memberinya batu
Anak meminta ular - orang tua memberinya ular

3. Anak meminta roti - orang tua memberinya batu
Anak meminta ikan - orang tua memberinya ular
Anak meminta batu - orang tua memberinya roti
Anak meminta ular - orang tua memberinya ikan

4. Anak meminta roti - orang tua memberinya roti
Anak meminta ikan - orang tua memberinya ikan
Anak meminta batu - orang tua memberinya roti
Anak meminta ular - orang tua memberinya ikan

Jenis ke 5 nanti dulu.

Jenis 1 = orang tua permisif. Anak jadi majikan, orang tua sebagai pelayan. Apa saja permintaan anak tak pernah ditolaknya. Ketika anak minta sekolah dikabulkan, ketika minta bolos juga dikabulkan. Ketika anak minta Fatigon dikabulkan, begitu juga ketika anak minta Baygon. Orang tua seperti ini merusak anaknya

Jenis 2 = orang tua yang sangat jahat, dalam perbendaharaannya cuma menyimpan segala yang buruk. Tidak peduli apapun yang diminta anaknya, ia hanya memberi yang jahat pada anaknya.

Jenis 3 = orang tua yang membingungkan, norma baik buruk tak jelas, semua diputar balik. Yang baik jadi jahat, yang jahat jadi baik. Anak kelak tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk

Jenis 4 = orangtua yang selalu hanya memberi yang baik kepada anaknya. Jika permintaan anaknya baik, dengan sukacita ia memberikannya. Saat permintaan anak buruk, tidak baik bagi si anak, ia tetap memberikan yang baik sekalipun si anak tidak merasa itu baik baginya. Orangtua dianggapnya sebagai orangtua yang hanya memaksakan kehendaknya sendiri.

Dari sudut pandang anak, orangtua mana yang paling baik? Nomor 1. Anak seringkali mengatakan bahwa orangtuanya "jahat" karena tidak memberikan apa yang dimintanya. Bagi orangtua, yang baik adalah Nomor 4. Mengapa penilaian kiat bertolak belakang:
1. SENANG VS BAIK (MANFAAT)
2. SEKARANG (INSTAN) VS NANTI (AKIBATJANGKA PANJANG)

Ketika anak saya terjangkit demam berdarah, ia harus menjalani pemeriksaan darah berkali-kali. Setiap kali ia meronta minta pulang, saya tidak pernah mengabulkannya. Sebaliknya saya memegangnya erat-erat dan membiarkannya ditusuk jarum suntik. Ia tentu merasa saya kejam; memberinya batu dan ular. Tetapi seandainya saya mengikuti permintaannya yang menurutnya adalah roti dan ikan, maka anak saya sudah lama mati. Hanya dengan melihat dari perspektif saya, ia baru dapat melihat bahwa sesungguhnya roti dan ikan terbaiklah yang saya berikan kepadanya. Sebaliknya permintaan dan pilihannyalah yang merupakan batu dan ular

Hanya dengan menerima perspektif Allah, kita akansetuju mengatakan "itu batu", jika Allah mengatakan "Itu batu" dan "Itu roti" jika Allah mengatakan "Itu roti"

Bukankah ini yang Kristus tunjukkan kepada kita melalui kehidupanNya ? Ketika di padang gurun, iblis menawarkan seluruh hormat dan kekayaan dunia, Kristus menolaknya, karena jelas itu adalah batu dan ular. Sebaliknya di Getsemani, saat Allah menawarkanNya salib yang mengerikan, Ia menerimanya dengan taat. Kristus memandang salib sebagai pilihan terbaik dari BapaNya

Sekarang kita membahas orang tua jenis kelima:

5. Anak meminta roti - orang tua memberinya roti
Anak meminta ikan - orang tua memberinya ikan
Anak meminta batu - orang tua memberinya batu
Anak meminta ular - orang tua memberinya ular
Apa bedanya dengan orangtua permisif di nomor satu ? Bedanya semua ini dilakukan untuk mengajar anaknya agar setuju dengan kriteria orangtuanya. Apa maksudnya ? Contohnya adalah Hizkia

Ketika Hizkia sakit keras, Tuhan memandang adalah baik jika saat itu ia pulang untk tinggal bersama Allah. Saat itu Hizkia sedang berada di puncak kariernya. saleh, jaya, dikasihi rakyat, serta menjadi raja yang baik. Itulah roti dan ikan yang Tuhan sediakan bagi Hizkia.
Hizkia sendiri tidak setuju. Baginya, jika Tuhan berbuat demikian berarti memberinya ular dan batu. "Masa orang sakit tidak disembuhkan ? Jahat betul ! Lagi pula, mengapa pada saat aku sedang berada di puncak kehidupanku malah dipanggil pulang ? Kejam seakli!" Bagi Hizkia: sehat, panjang umur, terus dipuncak kariernya di dunia inilah yang baik, Maka itulah yang dimintanya dari Tuhan. Luar biasa, Tuhan mengabulkannya, Sebenarnya Hizkia itu minta roti dan ikan atau batu dan ular ? Jelas batu dan ular, karena pada saat perpanjangan usia dan kembali hidup sehat itulah segala musibah kehancuran bagi Israel terjadi. Seandainya Hizkia menuruti Allah, betapa baiknya dan harumnya ia dikenang, Persoalannya, jika permintaan Hizkia adalah batu dan ular, mengapa Tuhan mengabulkannya ? Hanya dengan cara itu, Tuhan mengajar dan membuktikan kepada Hizkia bahwa pilihanNyalah yang benar.

Jadi ketika Allah tidak menjawab doa kita, itu bukanlah karena Dia Allah yang bisu dan tuli, atau karena kita kurang keras berdoa atau kurang menangis, kurang memohon dan lain sebagainya. Allah seolah-olah tidak menjawab doa kita hanya karena kita tidak dapat melihat apa yang mau Allah kerjakan di dalam hidup kita untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang dikasihiNya, bukan hanya bagi hidup kita tapi bagi hidup orang lain juga, kebaikan bagi keluarga kita, bagi teman-teman kita.

Doa adalah menyelaraskan apa yang kita mau dengan apa yang Tuhan mau, dengan berdoa kita mengerti bahwa Allah, adalah Allah yang berdaulat yang tidak dapat dirubah karena doa kita, perubahan hanya terjadi atas kita yang akhirnya dapat melihat bahwa apa yang kita minta berjalan selaras dengan apa yang Tuhan mau di dalam kehidupan kita. Bahkan walaupun kita tidak dapat melihat semua hal itu kita harus percaya bahwa Allah sedang mempersiapkan rencana yang indah bukan hanya bagi hidup kita, tapi bagi hidup orang-orang di dekat kita, dan bagi orang-orang pilihanNya.

Doa tidak akan pernah mengubah rencana Allah dalam hidup kita. Sangat salah kalau kita beranggapan kalau dengan doa kita maka Allah dapat merubah rencanaNya. Ini akan membuktikan bahwa Allah, bukanlah Allah yang berdaulat yang masih tergantung kepada usaha manusia, bahwa rencana Allah bergantung kepada doa kita dan kuasa Dia. Kelihatan sekilas benar, namun tidak -- sebab Dia adalah Allah yang berdaulat.

Berdoalah senantiasa, supaya kita dapat belajar senantiasa melihat betapa baiknya Allah dalam kehidupan kita menurut rencana Dia, walaupun kita tidak bisa melihat betapa baiknya Allah, baiklah kita tetap beriman dan berdoa, karena kita yakin Dia tidak akan memberikan batu dan ular kepada kita.

28 August, 2009

Bendahara yang tidak jujur

Lukas 16:1-13

16:1 Dan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya.

16:2 Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara.

16:3 Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu.

16:4 Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka.

16:5 Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku?

16:6 Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan.

16:7 Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul.

16:8 Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.

16:9 Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi."

16:10 "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.

16:11 Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?

16:12 Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?

16:13 Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."


Dari ayat 1-13 Yesus banya berbicara tentang perumpamaan yang ada hubungannya dengan mamon. Apakah Mamon tersebut? Dalam bahasa aslinya dikatakan "mam-mo-nas" yang bisa diartikan sebagai harta, kemakmuran, atau kepemilikan. Lebih jauh lagi dikatakan dalam leksikon Alkitab sebagai confidence, i.e. wealth, personified. Juga diartikan bahwa obyek yang dibuat atau diperlakukan sebagai bentuk manusia sehingga membentuk kepercayaan diri, untuk itulah ketika kita kaya, punya uang banyak kita bisa lebih merasa tinggi dari orang lain, lebih percaya diri dengan uang kita, apa yang kita pakai, merek apa yang kita pakai, dan akhirnya kita menjadi hamba uang karena kita telah mem-personified harta tersebut menjadi tuan kita.

Kisah yang diceritakan adalah bahwa ada ketidak-benaran dalam hidup si bendaraha ini khususnya dalam mengurus keuangan orang kaya tersebut -- korupsi. Uang yang dipercayakan oleh orang kaya kepada bendahara ini tidak dipertanggungjawabkan dan akhirnya berita tersebut di dengar oleh orang kaya tersebut membuat dia meminta dan menuntut penjelasan dari bendahara tersebut, dan jabatan bendahara sudah dan sedang dicabut, dalam bahasa inggris lebih jelas dikatakan dalam ayat 2 dan 3 memakai Present Tense.

2 So he called him and said to him, ‘What is this I hear about you? Give an account of your stewardship, for you can no longer be steward.’

3 “Then the steward said within himself, ‘What shall I do? For my master is taking the stewardship away from me. I cannot dig; I am ashamed to beg.


Akhirnya dengan cerdik dia memanggil 2 orang yang pernah berhutang kepada tuannya bukan dengan harapan supaya dia akan diterima kembali oleh tuannya menjadi bendahara kembali, karena memang jabatan itu sudah dicabut, setelah membaca selesai ayat ini pun tidak bisa dispekulasi bahwa akhirnya bendahara ini menerima kembali jabatan bendaharanya, yang dipuji hanyalah karena bendahara ini telah selesai melaporkan keuangannya dengan surat hutang yang palsu dan yang jumlahnya jauh lebih kecil dari jumlah hutang yang sesungguhnya. Tujuan bendahara ini hanyalah satu, supaya kalau akhirnya keputusan akhir dari orang kaya untuk memecat dia sedikitnya dia masih ada tempat untuk tinggal (berarti dia sekarang tinggal dengan orang kaya tersebut).

DEBITUR PERTAMA: Dia berhutang 100 tempayan minyak, tapi akhirnya surat hutang aslinya diberikan kepada dia, dengan menyuruh dia membuat surat hutang palsu menjadi 50 tempayan minyak, tentu senang sekali --- biasanya orang hutang harus bayar hutangnya ditambah bunganya, ini malah di-discount, berarti debitur ini benar-benar beruntung. Dan bendahara ini juga beruntung karena akhirnya dia bisa bikin laporan palsu kepada majikannya.

DEBITUR KEDUA: Dia berhutang 100 pikul gandum, sama seperti dengan debitur pertama, dia disuruh bikin surat hutang yang palsu namun bedanya adalah cuman dipotong 20% saja, akhirnya menjadi 80 pikul gandum.

Nah yang bikin aneh, seharusnya orang kaya ini marah dong, karena harta dia yang harusnya sebanyak 100 tempayan minyak dan 100 pikul gandum tapi akhirnya menjadi 50 tempayan minyak dan 80 pikul gandum, malah orang kaya tersebut memuji bendahara tersebut (ayat 8). Yang dipuji karena bendahara ini dapat menyelamatkan dirinya dan mempertanggung jawabkan masalah keuangannya yang membuktikan bahwa memang pendapatannya memang sedikit dengan surat hutang yang palsu.

PELAJARAN YANG DAPAT DIAMBIL DARI PERUMPAAN ITU:
Harta yang tidak perlu dibayar oleh debitur tersebut bukanlah milik bendahara, tetapi milik majikannya, maka bendahara tersebut tidak merasa rugi dan dirugikan memberikan keringanan dan kemurahan kepada debitur-debitur tersebut. Sebaliknya bendahara merasa aman dengan berbuat seperti itu, dia bisa mempertahankan jabatannya, ataupun jaminan untuk tinggal dengan debitur-debitur tersebut.

Demikian kita sebagai anak Tuhan, jangan pernah menganggap harta yang kita miliki adalah milik kita, semua yang kita punya adalah milik Tuhan, ketika kita menerima harta tersebut baiklah kita tanya kepada Tuhan, Tuhan berapa yang dapat saya pakai untuk saya, namun seringkali orang berdoa, Tuhan berapa sisa yang dapat saya beri kepada Tuhan, dan kebanyakan pun tidak ada sisa.

Kita juga diajarkan untuk memberikan uang kepada mereka yang membutuhkan, karena uang tersebut bukan milik kita -- kembali saya tegaskan. Bukan karena kita bekerja lalu kita merasa itu upah dan haknya kita -- sama sekali tidak, kita hanya dipercayakan untuk mengelolanya secara baik. Baiklah kita ikut ambil bagian dalam investasi Kerajaan Surga dengan tidak sungkan-sungkan mengorbankan harta dunia ini yang bersifat sementara adanya untuk mendukung penginjilan, pekerjaan-pekerjaan Tuhan, demi mencari jiwa-jiwa yang terhilang yang akhirnya satu waktu setelah dunia ini lenyap beserta isinya (harta pun termasuk) ada satu rasa ucapan terima kasih karena mereka dapat mendengar Injil, untuk itu investasikanlah harta Anda bukan kepada barang-barang yang tidak berguna, yang akan habis digerogoti oleh ngengat, tapi investasikan di Kerajaan Surga.

Ayat 9 Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi."

Mamon atau kekayaan atau harta itu memang tidak jujur, dalam bahasa inggris lebih jelas dikatakan sebagai 'unrighteous' maksudnya adalah tidak benar, namun bukan berarti kita tidak boleh memiliki kekayaan, hanya saja di dalam kekayaan itu tidak ada unsur nilai kebenaran karena justru karena orang mau jadi kaya sehingga keinginan tersebut akan merusak nilai-nilai kebenaran yang Allah sudah taruh di dalam kita.

Yesus juga berkata, bahwa orang-orang dunia lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang, maksudnya adalah bahwa orang-orang dunia kalau dalam hal keuangan memang lebih cerdik (ayat 8b), lebih bisa menipu untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya dan juga bermurah hati dalam menghapus hutang orang lain yang akhirnya tetap menguntungkan bagi dia, namun keuntungan mereka hanya bersifat material yang akhirnya akan lenyap. Baiklah kita belajar cerdik dan bermurah hati kepada orang lain supaya kita senantiasa mengumpulkan harta di surga dengan tidak segan-segan mengorbankan harta kita di dunia ini untuk orang lain yang sebenarnya adalah milik Tuhan dan untuk kemuliaan Tuhan semata-mata.

Kelihatannya memang seperti perkara kecil ketika kita menolong orang lain, orang berpikir dan maunya perkara-perkara besar dalam hidupnya, mungkin seperti menjadi pengkhotbah yang ternama, menjadi bisnisman yang berhasil, menjadi pekerja yang berhasil, dan yang lain sebagainya, sedangkan hal-hal kecilpun kita tidak dapat melakukannya bagaimana bisa kita melakukan hal-hal yang lebih besar (ayat 10).

Setia jugalah dalam hal memberi pertanggungjawaban kepada Tuhan mengenai mamon tersebut (ayat 11), harta yang dipercayakan kepada kita oleh Tuhan harus dipakai sebaik-baiknya bukan untuk kesenangan kita dan ini menjadi bukti bagaimanakah Tuhan bisa mempercayakan harta yang benar dan sungguh, harta surgawi. Ketika orang sudah mengalami kelahiran baru di dalam Kristus maka secara otomatis rasa tanggung jawab kita terhadap keuangan menjadi salah satu bukti bahwa kita sudah lahir baru, bahwa kita tidak memperhambakan diri kita lagi kepada harta, dan memakai uang tersebut semata-mata untuk kemuliaan Tuhan.

Demikian ketika kita sudah mengalami karya keselamatan tersebut yang menjadi harta sesungguhnya, maka kita akan peduli akan harta bagi orang lain juga menjadi bukti, yaitu penginjilan, kita akan 'passion' terhadap jiwa-jiwa yang terhilang, dan mulai peduli bahwa mereka membutuhkan kebenaran mengenai harta surgawi (ayat 12).

Dan akhirnya Tuhan menutup pernyataannya dengan mengatakan.
"Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

Karena jangan sampai kita mengabdi dan memperhambakan diri kita kepada mamon, dengan itu kita akan membenci Allah, demikian sebaliknya. Mamon diberi dan dipercayakan Tuhan untuk memuliakan Dia (walaupun kita tahu tanpa itupun Dia sudah mulia adanya, justru karena Dia mulia kita harus senantiasa memuliakan Dia dan kita tercipta untuk memuliakan Dia bahkan melalui harta yang dipercayakan kepada kita) yaitu dengan meninvestasikan di Kerajaan Surga -- harta surgawi, dengan cara memakai harta tersebut untuk memberkati orang lain, untuk mendukung misi-misi penginjilan, anak-anak yatim, janda-janda tua, menjadi murah hati terhadap sesama yang membutuhkan.

Apakah mamon (uang, harta, kekayaan) sudah menjadi 'tuhan' atas hidup kita? atau Tuhan yang menjadi Tuhan atas hidup kita?

26 August, 2009

iPod Idol

Setiap hari perjalanan saya di dalam kereta, banyak orang yang memasang 'ear-plug' di telinganya, dan mendengarkan musik dari elektronik 'music player', salah satunya yang terkenal adalah iPod, walaupun saya akan berbicara secara umum mengenai hal ini.

Tanpa menyadari orang-orang tersebut memasang keras-keras musiknya tanpa menyadari bahwa mereka ada di tempat umum, tanpa ada kepedulian serasa merekalah yang memiliki kereta tersebut. Kadang saya melirik mereka, sambil mengernyitkan dahi, ada beberapa dari mereka menjadi sungkan dan akhirnya mengecilkan suara musiknya. Tapi tidak sedikit yang tidak acuh, sampai akhirnya ada beberapa orang akhirnya mencolek mereka dan bilang "Excuse me, could you please turn the volume down!".

Entah apa yang ada di pikiran manusia? Egoisan? Betul, tanpa peduli dengan sekitarnya mereka menyetel musik sekeras-kerasnya, seolah-olah dengan memakai 'ear-plug' yang lain tidak akan mendengar, namun kenyataannya bising sekali. Masih mending kalau musik yang diperdengarkan adalah musik yang bermutu, banyak musik yang aneh-aneh...dari trance sampai dance, dan yang lainnya yang akhirnya memekakkan telinga pendengar ataupun penumpang yang di kereta.

Manusia akhirnya mulai menyembah iPod (atau music player lainnya) , sebagai sumber 'entertainment', alasannya ketika pagi mau berangkat kerja perlu iPod untuk 'refreshing', pokoknya hidup tanpa iPod seperti hidup di neraka, akhirnya iPod mendarah daging dalam kehidupan manusia, khususnya anak-anak muda, walapun banyak juga orang-orang tua yang akhirnya berkecimpung dalam hal ini.

Jadi jika kita semua mendengarkan iPod atau music player lainnya -- sama sekali tidak dilarang tapi hendaklah kita juga 'aware' dengan lingkungan sekitar kita, jangan menjadi egois -- seolah-olah dunia ini hanya milik "I, Me and Myself".

25 August, 2009

Wealth is Almost Always a Curse, Not a Blessing


Torehan mengenai Teologia kemakmuran baca di sini.

22 August, 2009

Sekali lagi tentang Facebook

Setelah artikel yang saya tulis sebelumnya mengenai Facebook (FB), saya akan menulis satu artikel ini lagi mengenai FB. Sebelumnya tulisan-tulisan memang bersifat relatif mengenai pandangan saya tentang FB itu sendiri sehingga mungkin banyak yang berpikir bahwa seolah-olah saya terlalu menjelek-jelekkan pengguna FB. (Artikel yang lama dapat di baca di sini)

Memang saya tidak menutup kemungkinan adanya orang-orang yang memakai FB untuk pelayanan, *kalau menurut saya pribadi, saya enggan main FB karena dapat bersifat adiktif, saya bisa membuang waktu saya dengan percuma di FB, saya dapat merasa bersalah kalau tidak memeriksa FB saya ketimbang merasa bersalah karena saya tidak membaca Alkitab dalam satu hari. Untuk itulah saya tidak main FB dan tidak punya FB, tentu bagi orang lain ada yang mampu menahan semua sifat adiktif, contohnya sahabat saya, dia ada FB tapi semata-mata FB-nya dipakai hanya untuk membagikan artikel-artikel yang bagus, video-video youtube yang sifatnya membangun, ayat-ayat Firman Tuhan (FT) dan saya mendukung sepenuhnya, karena ada juga orang-orang tertentu, entah itu dalam koneksi dia atau di luar koneksi dia yang mungkin dapat tersentuh dengan artikel-artikel tersebut dan akhirnya memuliakan Tuhan. Jadi ketika saya katakan saya tidak punya dan tidak mau main FB, bukan berarti saya melarang kita punya FB, karena manusia punya kelemahan masing-masing dan seharusnyalah kita tahu kelemahan kita dan berusaha untuk tidak menyerahkan diri dengan cuma-cuma terhadap kelemahan tersebut.

Perlu kita tanyakan kepada diri kita, ketika kita mulai menaruh foto-foto yang sama sekali tidak mencerminkan kemuliaan Tuhan, banyak orang bisa mengaku diri Kristen, tapi di FB mereka, ditaruh foto-foto yang sifatnya membuat orang lain malah jatuh di dalam dosa. Saya tidak hanya berbicara foto-foto yang mengumbar nafsu seks, walaupun banyak karena hal tersebut, namun juga foto-foto yang membuat orang lain menghabiskan waktunya hanya untuk melihat foto-foto kita, sehingga membuat 'kompetisi' untuk menjadi lebih baik dari yang lain.

Pada umumnya FB ada, karena orang mau koneksi dengan yang lain, memang kesannya koneksi, tapi lama kelamaan menjadi ajang saling pamer-pameran, entah itu 'gadget' terbaru yang dimiliki, tamasya yang mahal, menginap di hotel yang mahal, punya mobil yang keren, semua akhirnya -- langsung atau tidak langsung menjadi kesombongan yang tidak disadari. Yah memang ada pengguna FB yang bertanggung jawab dan benar-benar memakai FB untuk kemuliaan Tuhan, namun hanya sedikit -- untuk itu saya berharap kita dapat menjadi pemakai FB untuk kemuliaan Tuhan -- bukan untuk kemuliaan nama sendiri.

Selain daripada itu, FB juga menjadi ajang supaya orang lain bisa menerima kita, menghormati kita, atau penghargaan -- supaya bisa mendapatkan 'acknowledgement'. Bukankah seharusnya 'acknowledgement' dari Tuhan lebih penting ketimbang dari manusia, namun sekarang manusia lebih mementingkan penerimaan dari teman-teman, dari sesama tanpa pernah berpikir di dalam hatinya -- "Apakah saya sudah diterima oleh Tuhan?" -- Dengan memasang foto-foto kita dengan barang-barang yang kita miliki, dengan kecantikan yang kita miliki, dengan rumah yang kita miliki, dengan kehidupan yang kita miliki -- semata-mata kita hanya mau supaya kita bisa diterima dan dianggap keren dan jago oleh orang lain, sadar atau tidak sadar kita akan terperangkap dalam jerat ini.

Tiada hari tanpa FB pun menjadi motto dan akhirnya mendarah-daging dalam kehidupan kita, kita akan merasa bersalah kepada diri sendiri, kalau satu hari tidak memeriksa FB, memeriksa apa yang dikerjakan orang lain, apa yang baru dibeli oleh orang lain, baju apa yang dipakai orang lain, dan yang lain sebagainya yang akhirnya membuat kita saling berkompetisi satu sama lain, FB yang tadinya hanya menjadi sarana atau tempat sosialisasi menjadi tempat kompetisi.

Belum lagi 'game-game' baru di FB, akhirnya menjadi satu jerat juga, kita dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk main 'game', kalau kalah juga rasanya tidak 'kamguan(menerima)' -- akhirnya kita menjadi adiktif untuk selalu menjadi pemenang dalam game tersebut. Mengapa game online di FB laku, atau game-game online lain secara umum, karena ketika kita mencapai angka nilai tertinggi kita senang, itulah yang dicapai oleh manusia, untuk menjatuhkan orang lain, mau selalu lebih di atas orang lain. Sedangkan game-game yang bersifat main melawan komputer saya rasa tidak terlalu merangsang keegoisan kita untuk menjadi lebih dari orang lain, walaupun game pada intinya menghabiskan waktu dengan percuma tanpa tujuan yang pasti. Ketika kita meraih angka paling tertinggi lalu kita menjadi sombong dan menantang orang lain untuk berusaha bisa mengalahkan kita, saya bilang dosanya 2 kali, dosa jadi sombong dan dosa bikin orang tergila-gila sama game karena penasaran tidak bisa kalahin angka tertinggi tersebut sehingga harus mengorbankan keluarga, pekerjaan, waktu yang penting bersama Tuhan, dan kegiatan-kegiatan yang lain yang bersifat lebih membangun dan bermanfaat demi berusaha untuk mengalahkan angka tertinggi tersebut.

Sekali saya katakan, seharusnya FB dipakai semaksimal mungkin untuk pemberitaan FT, pembahasan FT, penginjilan, berbagi pengalaman satu sama lain mengenai jalan bersama Tuhan dan semata-mata untuk kemuliaan Tuhan tanpa mau menganggap kita menjadi lebih dari orang lain. Selain itu seharusnya FB dianggap dan diperlakukan sebagai sarana komunikasi yang baik dan bertanggung-jawab antara teman dalam hal bertukar informasi dengan cepat, tidak selalu akurat tentunya. Tapi janganlah akhirnya kita mengidolakan FB tersebut di atas Tuhan, coba bayangkan jikalau FB kita kena hapus ataupun server FB sedang mati, apakah kita akan marah, stress, dan tidak bisa tidur atapun hal lainnya yang membuat kita berpikir kita mengalami kerugian, jikalau kita menjawab ya, pernahkah kita bertanya di dalam hati nurani kita "Apakah FB sudah menjadi berhala kita?". Akhir kata pakailah FB dengan baik dan bertanggung jawab kepada Tuhan.

Kolose 3:23
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.


*Saya memiliki facebook sekarang