Recent Posts

03 June, 2009

Seputar Facebook dan Social Networking

Tentu Facebook sudah tidak asing di telinga kita, terutama untuk orang-orang generasi Y dan Z, sedangkan untuk generasi X dan Baby Boomers, mungkin beberapa persen dari mereka tidak pernah mendengar kata ini, walaupun pernah rasanya mungkin mereka tidak ada account sama sekali, terutama generasi Baby Boomers, yang lahir setelah perang dunia kedua berakhir.

Namun bagi anak-anak muda sekarang, Facebook menjadi sesuatu yang harus, sepertinya di top of their list. Sepertinya tanpa Facebook sulit rasanya satu sama lain bersosialisasi, demikian halnya dengan social networking yang lainnya seperti Friendster, Twitter, MySpace dan masih banyak yang lainnya.

Tujuan dari website tersebut adalah supaya satu sama lain tetap berhubungan dan saling memberitahu apa yang sedang terjadi, entah itu baru pulang holiday, makan di restoran mewah, pakai pakaian yang bagus, baru punya anak -- tentu saya tidak melarang semua orang punya Facebook, namun larut makin larut Facebook bisa menjadi ajang untuk menonjolkan diri sendiri, "ini loh saya baru pulang dari Hongkong" misalnya. Seolah-olah memberitahukan ke dunia mengenai kehidupannya, tentu ini tidak salah juga tapi jangan sampai motivasi kita menjadi terkontaminasi dengan hal-hal yang mau menonjolkan diri, saya teringat bahwa di dalam Alkitab pun, tertulis di jaman-jaman akhir ini orang mulai mencintai dirinya sendiri.

Saya rasa, tidak ada orang yang mau taruh foto mereka yang jelek di facebook, pasti dikasih yang bagus bagus -- walaupun ada mungkin persentasinya kecil sekali. Mereka berlomba-lomba menaruh foto-foto yang bagus, dan setiap foto baru dipasang, semua teman, teman lama, teman yang baru ketemu, yang ada di facebook diberitahu. "Halo halo si Unyil pasang foto baru -- klik di sini kalau mau liat"

Belum lagi adanya rasa iri hati akan timbul seperti "aduh sih Unyil koq pergi ke Eropa yah, koq saya ngak bisa yah, aduh kenapa saya ngak bisa pergi yah, aduh si Unyil beruntung sekali, I wish I can go there one day" kembali tidak semua akan berpikiran seperti ini, ini hanyalah salah satu contoh yang bisa terjadi.

Pokoknya ujung-ujungnya membahas mengenai manusia, apa yang mereka makan, apa yang bagus dipakai "Eh si Melanie (pacarnya Unyil) pakai gaun bagus loh baru beli di Eropa, wah rasanya saya bisa cocok juga kalau pakai itu", yang akhirnya adalah semuanya hanya untuk memuaskan diri pribadi, memenuhi keinginan manusia untuk menjadi lebih daripada yang lain.

Namun tidak sedikit juga penginjilan memakai Facebook, sampai sekarang saya sendiri belum menganalisa secara lebih jauh lagi apakah penginjilan seperti ini efektif atau tidak. Mungkin bisa efektif juga, tapi mudah-mudahan tidak sampai merusak motivasi yg sejati yaitu mengabarkan kebenaran Injil yang sejati itu.

Saya ingat dengan khotbah John Piper (Pendeta Gereja Baptis di Amerika), kalau kita lagi jaman perang tidak mungkin dong kita perang tapi pakai ember, lempar batu, ataupun bambu runcing sedangkan yang lain sudah pakai senjata UZI dan kaliber yang tinggi. Nah demikian dengan teknologi jaman sekarang, baiklah kita memakai segala sesuatu yang sifatnya membantu namun bukan menjadi yang utama untuk memberitakan Injil Kristus.

Saya takut banyak Gereja yang mulai melihat seperti ini -- "wah itu gereja keren yah ada Twitter, Facebook, ayo kita bikin juga" kalau motivasi dari awal seperti ini tentunya teknologi disalah gunakan hanya untuk menambah "keren"nya satu gereja, apakah gereja hanya ditentukan dari hal-hal yang seperti itu. Tentu saya tidak melarang gereja punya website, facebook, twitter, podcast dan yang lainnya, intinya adalah motivasinya. Harus ada strong line antara memakai teknologi tersebut untuk kemuliaan Tuhan atau memakai teknologi tersebut untuk kepuasan diri sendiri, hal ini sering tidak disadari. Seolah-olah untuk kemuliaan Tuhan tapi ternyata untuk kepuasan diri sendiri. Saya pikir benar-benar harus dibikin garis pemisah yang benar-benar tebal antara keduanya supaya tidak ada kerancuan.

Nah akhir kata, silahkan berfacebook ria dan twitter ria ataupun sosialisasi melalui internet, tapi hati-hatilah akan motivasi kita, jangan sampai kita hanya melakukan semua hal tersebut supaya kita dipandang hebat dan baik, nantinya bakal jatuh ke dalam jerat humanisme.

Sharing ini saya tulis karena terinspirasi dari artikel yang saya baca mengenai "Corat Coret Seputar Facebook" oleh Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S, Ph.D. (Cand)

1 comments:

simplerecipe said...

tertulis di jaman-jaman akhir ini orang mulai mencintai dirinya sendiri => bukannya kita harus mengasihi org lain sama spt kita mengasihi diri kita sendiri?

ohhh facebook, bisa jadi ajang pamer suami/istri/anak/holidei...however...it could just to let others know that they're doing great and that God has blessed them abundantly :)

anyway it is all back to motivation within...

good post by the way!

Post a Comment