Hari ini saya baru tanya teman saya kalau kita punya musuh yang kita kasihi apa yang harus kita lakukan, apakah kita harus berperan sebagai musuh yang mengasihi atau sebagai teman (pura-pura) yang mengasihi.
Satu paradoks yang pernah dibahas di Alkitab, ketika Tuhan mengajarkan supaya kita mengasihi musuh kita, bagaimanakah mungkin? Bagi manusia sesuatu hal yang mustahil, namun bagi Allah tidak ada yang mustahil.
Allah sendiri membenci kita sebagai manusia berdosa, namun Dia tetap mengasihi kita sehingga mengaruniakan anakNya yang tunggal untuk menebus dosa kita. Dalam kebencianNya terhadap dosa terdapat kasihNya akan manusia. Bahkan ketika kita sudah ditebus kita tetap melakukan dosa, kita tetap bersalah di hadapan Allah, namun karena adanya sifat paradoks Allah yang berjalan sejajar maka kita diselamatkan bukan karena perbuatan kita, tapi oleh kasih Karunia.
Jadi yang harus saya lakukan adalah - menjadi musuh, karena saya membenci kesalahan yang dilakukan orang tersebut, dan pada saat yang sama menjadi teman yang mengasihi sama seperti Kristus telah mengasihi kita.
Recent Posts
0 comments:
Post a Comment