Recent Posts
25 July, 2009
20 July, 2009
Dosa sebesar nyamuk dan dosa sebesar unta
Posted by
Anton Triyanto
Matius 23:24-26
23:24 Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.
23:25 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan.
23:26 Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.
Matius pasalnya yang ke-23 Yesus banyak menegur ahli Taurat, orang Farisi -- yaitu mengenai kemunafikannya. Kehidupan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat semata-mata dilakukan untuk manusia, supaya mereka bisa diterima sebagai orang yang suci adanya. Namun hal ini dikecam oleh Yesus, karena Dia tahu di kedalaman hati mereka, mereka adalah orang buta akan kebenaran, seolah-olah mereka berbuat segala-sesuatu dan merasa diri sudah benar, padahal tidak ada seorangpun yang benar di hadapan Allah, dosa yang kecil dibersihkan, namun dosa yang besar tidak dibereskan di hadapan Allah -- walaupun dosa pada hakekatnya sama, tidak ada dosa besar dan dosa kecil, dosa pada hakekatnya adalah kematian, dosa yang bagaimanapun juga. Namun di sini Tuhan menegur mereka, sesuatu yang kecil saja kelihatan dan bisa dibereskan, mengapa sesuatu yang besar malah dibiarkan.
Sesuatu dosa yang sekecil nyamuk kita mungkin dapat mengaku di hadapan Allah, namun dosa sebesar unta kita tidak bisa akui di hadapan Allah, dan tidak mau kita tinggalkan, karena dosa tersebut sangat enak dan telah mendarah-daging di dalam hati kita. Di hadapan Allah, semua hal ini adalah sama entah itu nyamuk ataupun unta, di hadapan Dia, semuanya adalah satu kekotoran dan pemberontakkan -- bukankah ada dikatakan bahwa sedikit ragi meng-khamirkan roti? Demikianlah halnya dosa.
Seringkali dalam hidup manusia kita senantiasa mengklasifikasikan dosa, kalau saya tidak bikin dosa yang besar berarti hukuman kita kecil, demikian sebaliknya atau kalau kita tidak melakukan hal yang lebih buruk yang dilakukan oleh teman saya maka saya menjadi lebih baik daripada teman saya -- ini adalah konsep manusia, sedangkan konsep Allah bahwa manusia sudah rusak seutuhnya, tidak ada kebenaran di dalamnya, tidak ada manusia yang baik -- hanya Allahlah yang mampu menyempurnakan kehidupan kita kembali. Ketika kita menyadari hal ini maka tidak akan adanya rasa kesombongan diri -- ataupun yang dikatakan kesombongan rohani, karena pengertian tersebut menjadi pondasi dalam iman Kristen kita, bahwa semua manusia sama -- telah di dalam dosa, baik kecil maupun besar, semuanya jahat di hadapan Allah.
Seringkali yang kita bersihkan adalah cawan luarnya, yang kita bersihkan adalah sesuatu yang kelihatan oleh manusia, karena kita tidak mau dianggap rendah atau tidak suci, kita akhirnya menjadi orang Kristen hanya karena takut dianggap jelek oleh orang lain, sehingga perbuatan-perbuatan kita yang dibenahi sedangkan hati kita tidak. Kita kuatir akan harga diri kita yang bisa diinjak-injak. Kita merasa hal itu menjadi sesuatu yang harus dipertahankan. Di hadapan manusia kita bisa memakai topeng-topeng perbuatan baik hanya untuk kepentingan diri sendiri, namun di hadapan Allah semuanya terbuka adanya.
Tuhan berkata bersihkanlah dalam cawan tersebut maka luarnya akan bersih juga, hati kita tidak akan pernah bersih, selain daripada oleh Kristus Yesus karena oleh Dialah kita dapat dilayakkan untuk menjadi AnakNya, ketika hati kita dibenarkan kembali oleh kebenaran Injil yang sejati maka secara otomatis perbuatan-perbuatan yang kelihatan oleh manusia akan mengikuti kebenaran hakiki tersebut yang mengubah hati kita. Marilah kita senantiasa mengali kebenaran Firman Tuhan oleh pimpinan Roh Kudus, supaya melalui kebenaran Firman Tuhan itulah yang akhirnya dapat mengikis hati kita hari lepas hari dan senantiasa terpelihara sempurna di hadapan Allah.
Janganlah kita menjadi Kristen hanya untuk sebuah status di dalam satu komunitas, ataupun supaya kita bisa diterima di satu komunitas, janganlah kita beribadah setiap minggu hanya karena menjadi satu topeng yang kita pakai agar kita kelihatan seperti orang yang lebih suci dari orang lain.
23:24 Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.
23:25 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan.
23:26 Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.
Matius pasalnya yang ke-23 Yesus banyak menegur ahli Taurat, orang Farisi -- yaitu mengenai kemunafikannya. Kehidupan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat semata-mata dilakukan untuk manusia, supaya mereka bisa diterima sebagai orang yang suci adanya. Namun hal ini dikecam oleh Yesus, karena Dia tahu di kedalaman hati mereka, mereka adalah orang buta akan kebenaran, seolah-olah mereka berbuat segala-sesuatu dan merasa diri sudah benar, padahal tidak ada seorangpun yang benar di hadapan Allah, dosa yang kecil dibersihkan, namun dosa yang besar tidak dibereskan di hadapan Allah -- walaupun dosa pada hakekatnya sama, tidak ada dosa besar dan dosa kecil, dosa pada hakekatnya adalah kematian, dosa yang bagaimanapun juga. Namun di sini Tuhan menegur mereka, sesuatu yang kecil saja kelihatan dan bisa dibereskan, mengapa sesuatu yang besar malah dibiarkan.
Sesuatu dosa yang sekecil nyamuk kita mungkin dapat mengaku di hadapan Allah, namun dosa sebesar unta kita tidak bisa akui di hadapan Allah, dan tidak mau kita tinggalkan, karena dosa tersebut sangat enak dan telah mendarah-daging di dalam hati kita. Di hadapan Allah, semua hal ini adalah sama entah itu nyamuk ataupun unta, di hadapan Dia, semuanya adalah satu kekotoran dan pemberontakkan -- bukankah ada dikatakan bahwa sedikit ragi meng-khamirkan roti? Demikianlah halnya dosa.
Seringkali dalam hidup manusia kita senantiasa mengklasifikasikan dosa, kalau saya tidak bikin dosa yang besar berarti hukuman kita kecil, demikian sebaliknya atau kalau kita tidak melakukan hal yang lebih buruk yang dilakukan oleh teman saya maka saya menjadi lebih baik daripada teman saya -- ini adalah konsep manusia, sedangkan konsep Allah bahwa manusia sudah rusak seutuhnya, tidak ada kebenaran di dalamnya, tidak ada manusia yang baik -- hanya Allahlah yang mampu menyempurnakan kehidupan kita kembali. Ketika kita menyadari hal ini maka tidak akan adanya rasa kesombongan diri -- ataupun yang dikatakan kesombongan rohani, karena pengertian tersebut menjadi pondasi dalam iman Kristen kita, bahwa semua manusia sama -- telah di dalam dosa, baik kecil maupun besar, semuanya jahat di hadapan Allah.
Seringkali yang kita bersihkan adalah cawan luarnya, yang kita bersihkan adalah sesuatu yang kelihatan oleh manusia, karena kita tidak mau dianggap rendah atau tidak suci, kita akhirnya menjadi orang Kristen hanya karena takut dianggap jelek oleh orang lain, sehingga perbuatan-perbuatan kita yang dibenahi sedangkan hati kita tidak. Kita kuatir akan harga diri kita yang bisa diinjak-injak. Kita merasa hal itu menjadi sesuatu yang harus dipertahankan. Di hadapan manusia kita bisa memakai topeng-topeng perbuatan baik hanya untuk kepentingan diri sendiri, namun di hadapan Allah semuanya terbuka adanya.
Tuhan berkata bersihkanlah dalam cawan tersebut maka luarnya akan bersih juga, hati kita tidak akan pernah bersih, selain daripada oleh Kristus Yesus karena oleh Dialah kita dapat dilayakkan untuk menjadi AnakNya, ketika hati kita dibenarkan kembali oleh kebenaran Injil yang sejati maka secara otomatis perbuatan-perbuatan yang kelihatan oleh manusia akan mengikuti kebenaran hakiki tersebut yang mengubah hati kita. Marilah kita senantiasa mengali kebenaran Firman Tuhan oleh pimpinan Roh Kudus, supaya melalui kebenaran Firman Tuhan itulah yang akhirnya dapat mengikis hati kita hari lepas hari dan senantiasa terpelihara sempurna di hadapan Allah.
Janganlah kita menjadi Kristen hanya untuk sebuah status di dalam satu komunitas, ataupun supaya kita bisa diterima di satu komunitas, janganlah kita beribadah setiap minggu hanya karena menjadi satu topeng yang kita pakai agar kita kelihatan seperti orang yang lebih suci dari orang lain.
11 July, 2009
Bangun dan terlelap
Posted by
Anton Triyanto
Ketika aku bangun,
Matahari serasa enggan menyapaku
Embun-embun pun tak mau menitikkan berkasnya
Burung-burung membisu tanpa kicauan
Ketika aku bangun,
Awan bertiup mengumpal menjadi satu
Guntur pun bersahutan dengan riangnya
Air mata jatuh membasahi bumi
Ketika aku bangun,
KemuliaanNya terkuak dari balik kalbuku
Kalbu yang hampir saja pudar
Dan kini aku terlelap
terlelap dalam pelukanNya
Matahari serasa enggan menyapaku
Embun-embun pun tak mau menitikkan berkasnya
Burung-burung membisu tanpa kicauan
Ketika aku bangun,
Awan bertiup mengumpal menjadi satu
Guntur pun bersahutan dengan riangnya
Air mata jatuh membasahi bumi
Ketika aku bangun,
KemuliaanNya terkuak dari balik kalbuku
Kalbu yang hampir saja pudar
Dan kini aku terlelap
terlelap dalam pelukanNya
Untuk segala sesuatu ada waktunya
Posted by
Anton Triyanto
Pengkhotbah 3:2-8
3:2 Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;
3:3 ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;
3:4 ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;
3:5 ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;
3:6 ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;
3:7 ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;
3:8 ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.
Untuk segala sesuatu ada waktunya, ada waktunya kita mengalami masalah, ada waktunya kita mengalami sukacita. Namun lucunya manusia hanya mau yang menguntungkan diri pribadi mereka dan senantiasa menghindari sesuatu yang tidak menguntungkan pribadi mereka. Seringkali manusia cenderung untuk tidak mau mengalami penderitaan, tidak mau mengalami sesuatu yang tidak baik -- ini seharusnya tidak terjadi, karena penderitaan dan masalah bertujuan untuk menyadarkan kita, menguatkan kita, dan mengajar kita.
Sebagai manusia baiklah kita senantiasa menyadari bahwa Tuhan menjadikan segala sesuatu indah pada waktuNya, dan manusia tidak pernah dapat menyelami pekerjaan Allah, mungkin kita tahu 10 - 20 pekerjaan yang dilakukan Allah dalam kehidupan kita. Tapi masih ada 10 milyar pekerjaan yang telah, sedang dan akan dilakukan Allah yang kita tidak akan pernah tahu mengapa semua hal terjadi di dalam kehidupan kita.
Manusia cenderung membuat rumusan sendiri ketika ditimpa masalah, bahkan seringkali manusia lari dari masalah tersebut tanpa ada satu keinginan untuk belajar lebih kuat dalam menghadapi masalah. Masalah tidak akan pernah tidak ada dalam kehidupan, siapapun kita, gender kita, status kita, kekayaan kita, posisi kita, tidak akan pernah bisa menghentikan masalah dalam hidup kita. Maukah kita menyadari bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya? Bukan hanya yang baik, tapi yang tidak baik pun kita harus belajar menerima.
Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.
3:2 Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;
3:3 ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;
3:4 ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;
3:5 ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;
3:6 ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;
3:7 ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;
3:8 ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.
Untuk segala sesuatu ada waktunya, ada waktunya kita mengalami masalah, ada waktunya kita mengalami sukacita. Namun lucunya manusia hanya mau yang menguntungkan diri pribadi mereka dan senantiasa menghindari sesuatu yang tidak menguntungkan pribadi mereka. Seringkali manusia cenderung untuk tidak mau mengalami penderitaan, tidak mau mengalami sesuatu yang tidak baik -- ini seharusnya tidak terjadi, karena penderitaan dan masalah bertujuan untuk menyadarkan kita, menguatkan kita, dan mengajar kita.
Sebagai manusia baiklah kita senantiasa menyadari bahwa Tuhan menjadikan segala sesuatu indah pada waktuNya, dan manusia tidak pernah dapat menyelami pekerjaan Allah, mungkin kita tahu 10 - 20 pekerjaan yang dilakukan Allah dalam kehidupan kita. Tapi masih ada 10 milyar pekerjaan yang telah, sedang dan akan dilakukan Allah yang kita tidak akan pernah tahu mengapa semua hal terjadi di dalam kehidupan kita.
Manusia cenderung membuat rumusan sendiri ketika ditimpa masalah, bahkan seringkali manusia lari dari masalah tersebut tanpa ada satu keinginan untuk belajar lebih kuat dalam menghadapi masalah. Masalah tidak akan pernah tidak ada dalam kehidupan, siapapun kita, gender kita, status kita, kekayaan kita, posisi kita, tidak akan pernah bisa menghentikan masalah dalam hidup kita. Maukah kita menyadari bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya? Bukan hanya yang baik, tapi yang tidak baik pun kita harus belajar menerima.
Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.
09 July, 2009
Mengucap syukurlah atas resesi ekonomi
Posted by
Anton Triyanto
1 Tesalonika 5:18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
Saya rasa, kalau keadaan ekonomi kita baik dan naik terus tidak turun -- tidak usah diberitahukan untuk mengucap syukur, secara otomatis -- manusia itu akan mengucap syukur dengan sendirinya atas berkat jasmani yang dia terima, uang dalam hal ini. Namun kalau kita hanya mengucap syukur kalau Tuhan memberkati kita lewat uang, maka kita inilah hamba uang bukan hamba Tuhan. Dan Tuhan memberitahu mustahil kita menjadi hamba uang dan menjadi hamba Tuhan pada saat yang bersamaan, tentu kita akan mengasihi yang satu dan membenci yang lainnya.
Mengucap syukur dalam segala hal itulah yang menjadi salah satu kehendak Allah, anehnya seringkali kita berdoa, berpuasa, meminta kehendak Allah untuk pekerjaan kita, keluarga kita secara spesifik, sedangkan kehendak Allah yang sudah jelas sekali tidak pernah dijalankan. Mengucap syukur dalam segala hal khususnya.
Dalam masa-masa sulit ini khususnya dalam masalah ekonomi pun haruslah kita tetap mengucap syukur, karena Dialah sumber sukacita kita oleh kasih karunia Allah yang telah dilimpahkan dalam kehidupan kita. Kita mengucap syukur, kalau dalam masa resesi ini kita boleh diingatkan kalau semua yang kita punya adalah bersumber dari Tuhan - kalau kita dalam masa kejayaan, dan punya uang yang banyak, mungkin -- bahkan pasti kita tidak akan mengingat Tuhan sepenuhanya karena iman kita seringkali kita gantungkan di atas kekayaan tersebut -- namun ketika Tuhan mengijinkan resesi terjadi di dalam hidup kita baik secara pribadi maupun secara global, ini karena Dia mau mengajarkan kita bahwa, bahwa manusia tidak dapat mengandalkan kekayaannya, walaupun dalam masa resesi ini makin banyak orang yang menjadi lebih rakus akan harta -- orang-orang yang tidak mengenal Allah khususnya.
Baiklah dalam keadaan resesi ini kita juga melihat bahwa banyak orang-orang miskin, kelaparan di dunia ini yang membutuhkan pertolongan kita. Karena Tuhan mengingatkan kita, bahwa kita tidak hidup di dunia ini sendiri, masih ada orang-orang lain yang hidup di dunia ini, yang mungkin lebih buruk keadaannya daripada kita. Biarlah kita juga diajarkan untuk memberi dalam kekurangan, biarlah kita menjadi orang yang murah hati, bukan hanya uang kita, tapi waktu kita, tenaga kita untuk membantu orang lain tersebut.
Seringkali ketika kita mengalami resesi seperti ini, kita malah memikirkan apa yang harus kita makan, uang tabungan untuk tamasya yang akan berkurang, dan yang lain-lain yang berhubungan dengan kesenangan diri pribadi dibandingkan memikirkan keadaan susah orang lain yang mungkin kehilangan pekerjaan, tidak dapat makan, kehilangan tempat tinggal dan lain sebagainya. Mari sama-sama kita menghemat dalam hal memuaskan kesenangan pribadi kita supaya kita bisa belajar bermurah hati untuk menolong orang lain yang membutuhkan.
Janganlah kita meminta Tuhan untuk memberkati kita dengan berkat jasmani dahulu, supaya dengan itu kita bisa bermurah hati. Tidak ada hubungan antara menjadi kaya dan bermurah hati, kebanyakan orang yang menjadi kaya, bertambah pelit dan kikir. Mungkin kita melihat orang kaya memberi uang banyak, tapi secara proposional mungkin dia hanya memberikan sedikit dibandingkan apa yang dia telah hasilkan. Untuk itu belajarlah memberi dalam kekurangan seperti janda miskin di kisah Alkitab. Memberilah karena Tuhanlah yang sudah memberikan kita yaitu berkat kasih karunia Allah yang tidak dapat diukur oleh uang dan materi.
Marilah kita belajar seperti jemaat di Makedonia yang dapat memberi karena mereka telah mengecap kasih karunia, bahkan memberi dalam hal kekurangan. Ini adalah suratan Paulus kepada jemaat Korintus mengenai jemaat Makedonia.
2 Korintus 8:1 Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.
2 Korintus 8:2 Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.
2 Korintus 8:1 Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.
Mengucap syukurlah dalam keadaan resesi ekonomi ini, supaya kita dapat bertobat kalau mungkin selama ini kita senantiasa mengandalkan uang kita dan kekayaan kita tanpa melihat Allah dan segala kemuliaanNya dalam Kristus Yesus.
Habakuk 3:17 Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,
Habakuk 3:18 namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.
Saya rasa, kalau keadaan ekonomi kita baik dan naik terus tidak turun -- tidak usah diberitahukan untuk mengucap syukur, secara otomatis -- manusia itu akan mengucap syukur dengan sendirinya atas berkat jasmani yang dia terima, uang dalam hal ini. Namun kalau kita hanya mengucap syukur kalau Tuhan memberkati kita lewat uang, maka kita inilah hamba uang bukan hamba Tuhan. Dan Tuhan memberitahu mustahil kita menjadi hamba uang dan menjadi hamba Tuhan pada saat yang bersamaan, tentu kita akan mengasihi yang satu dan membenci yang lainnya.
Mengucap syukur dalam segala hal itulah yang menjadi salah satu kehendak Allah, anehnya seringkali kita berdoa, berpuasa, meminta kehendak Allah untuk pekerjaan kita, keluarga kita secara spesifik, sedangkan kehendak Allah yang sudah jelas sekali tidak pernah dijalankan. Mengucap syukur dalam segala hal khususnya.
Dalam masa-masa sulit ini khususnya dalam masalah ekonomi pun haruslah kita tetap mengucap syukur, karena Dialah sumber sukacita kita oleh kasih karunia Allah yang telah dilimpahkan dalam kehidupan kita. Kita mengucap syukur, kalau dalam masa resesi ini kita boleh diingatkan kalau semua yang kita punya adalah bersumber dari Tuhan - kalau kita dalam masa kejayaan, dan punya uang yang banyak, mungkin -- bahkan pasti kita tidak akan mengingat Tuhan sepenuhanya karena iman kita seringkali kita gantungkan di atas kekayaan tersebut -- namun ketika Tuhan mengijinkan resesi terjadi di dalam hidup kita baik secara pribadi maupun secara global, ini karena Dia mau mengajarkan kita bahwa, bahwa manusia tidak dapat mengandalkan kekayaannya, walaupun dalam masa resesi ini makin banyak orang yang menjadi lebih rakus akan harta -- orang-orang yang tidak mengenal Allah khususnya.
Baiklah dalam keadaan resesi ini kita juga melihat bahwa banyak orang-orang miskin, kelaparan di dunia ini yang membutuhkan pertolongan kita. Karena Tuhan mengingatkan kita, bahwa kita tidak hidup di dunia ini sendiri, masih ada orang-orang lain yang hidup di dunia ini, yang mungkin lebih buruk keadaannya daripada kita. Biarlah kita juga diajarkan untuk memberi dalam kekurangan, biarlah kita menjadi orang yang murah hati, bukan hanya uang kita, tapi waktu kita, tenaga kita untuk membantu orang lain tersebut.
Seringkali ketika kita mengalami resesi seperti ini, kita malah memikirkan apa yang harus kita makan, uang tabungan untuk tamasya yang akan berkurang, dan yang lain-lain yang berhubungan dengan kesenangan diri pribadi dibandingkan memikirkan keadaan susah orang lain yang mungkin kehilangan pekerjaan, tidak dapat makan, kehilangan tempat tinggal dan lain sebagainya. Mari sama-sama kita menghemat dalam hal memuaskan kesenangan pribadi kita supaya kita bisa belajar bermurah hati untuk menolong orang lain yang membutuhkan.
Janganlah kita meminta Tuhan untuk memberkati kita dengan berkat jasmani dahulu, supaya dengan itu kita bisa bermurah hati. Tidak ada hubungan antara menjadi kaya dan bermurah hati, kebanyakan orang yang menjadi kaya, bertambah pelit dan kikir. Mungkin kita melihat orang kaya memberi uang banyak, tapi secara proposional mungkin dia hanya memberikan sedikit dibandingkan apa yang dia telah hasilkan. Untuk itu belajarlah memberi dalam kekurangan seperti janda miskin di kisah Alkitab. Memberilah karena Tuhanlah yang sudah memberikan kita yaitu berkat kasih karunia Allah yang tidak dapat diukur oleh uang dan materi.
Marilah kita belajar seperti jemaat di Makedonia yang dapat memberi karena mereka telah mengecap kasih karunia, bahkan memberi dalam hal kekurangan. Ini adalah suratan Paulus kepada jemaat Korintus mengenai jemaat Makedonia.
2 Korintus 8:1 Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.
2 Korintus 8:2 Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.
2 Korintus 8:1 Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.
Mengucap syukurlah dalam keadaan resesi ekonomi ini, supaya kita dapat bertobat kalau mungkin selama ini kita senantiasa mengandalkan uang kita dan kekayaan kita tanpa melihat Allah dan segala kemuliaanNya dalam Kristus Yesus.
Habakuk 3:17 Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,
Habakuk 3:18 namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.
07 July, 2009
Mengapa saya tidak berbahasa 'roh' lagi?
Posted by
Anton Triyanto
Malam itu di tahun 1997, setelah teman saya mengajak ke kebaktian gereja yang saya hanya pergi sekali, saya pun belum begitu mengetahui apakah aliran Pentakosta, Karismatik, Reformed, Presbiterian, Baptis dan lain-lainnya karena saya masih Kristen anak-anak (saya menerima Yesus sebagai juruselamat saya tahun 1995 dan dibaptis tahun 1997), yang masih belum mengetahui banyak akan ajaran-ajaran yang benar, dan sesat, yang sehat dan yang tidak sehat. Kebetulan saya baru tahu gereja yang saya pergi itu adalah yang gereja karismatik.
Sewaktu saya di luar pintu pun saya sudah mulai merasakan getaran di hati, bahkan 'bulu-kuduk' saya merinding, mendengar puji-pujian di kebaktian tersebut, namun di satu pihak ada juga rasa gelisah dalam hati dan pikiran saya. Ketika saya mulai duduk di sana, saya datang sedikit telat (tau sendiri di Jakarta kayak apa) pada waktu saya mulai duduk, Firman Tuhan sudah mau disampaikan - "Kusiapkan hatiku Tuhan" yah saya ingat pujian itu yang dinyanyikan sebelum pemberitaan Firman Tuhan, namun anehnya setelah bait pertama dan baik kedua dinyanyikan lagu tersebut menjadi lagu yang asing buat telinga saya, karena kata-kata yang keluar dari orang-orang di sana, bahkan hamba Tuhan tersebut - bukan lagi kata-kata yang dapat saya mengerti, waktu itu saya merasa aneh sendiri, karena semua bisa bernyanyi dengan 'roh', keluar kata-kata yang saya tidak mengerti. Dengan mengambil sikap berdoa, saya berdoa kepada Tuhan, saya berusaha untuk berdoa, namun konsentrasi itu pecah sama sekali oleh orang-orang di sekitar saya yang berteriak-teriak, dan berbahasa 'roh'.
Setelah lagu tersebut selesai, hamba Tuhan ini memberitakan Firman Tuhan - Kisah para rasul pasalnya yang pertama, yah saya ingat sekali pasal Firman Tuhan malam itu. Saya berusaha untuk mengerti kebenaran Firman Tuhan yang diberitakan, namun kembali di tengah-tengah pemberitaan Firman Tuhan tersebut hamba Tuhan ini mulai berkata-kata dengan bahasa 'roh' dan orang-orang juga mulai bersahut-sahutan dengan bahasa 'roh', tentu saya tidak mengerti. Memang walaupun ada satu hal yang mengebu-gebu dalam emosi saya, sepertinya saya mau melonjak keluar -- emosi saya -- untuk merasakan hal yang sama yang mereka rasakan.
Setelah kebaktian selesai, saya pulang -- kemudian di kamar tidur saya, saya kembali membaca Kisah Para Rasul pasalnya yang pertama, tiba-tiba entah dari mana, lidah saya mulai tidak bisa saya kontrol, hati saya bergejolak, sepertinya itulah pengalaman saya pertama kali dengan bahasa 'roh', saya mulai berbicara dengan bahasa yang saya sendiri pun tidak mengerti, namun setelah berlangsung sekitar 15 menit, rasanya ada satu kepuasan diri, rasanya seperti 'emotional release'
Tahun demi tahun berjalan, saya tidak berbahasa 'roh' lagi, mungkin karena gereja saya adalah gereja yang injili, gereja di mana kebaktian tidak ada fenomana seperti yang saya terangkan di atas. Sampai satu waktu saya pindah ke Sydney - 1998, saya mengalami pada waktu malam kebaktian doa – satu hamba Tuhan berdoa, dan mengatakan kepada saya - panggilah Yesus, panggilah Yesus -- waktu itu saya menutup mata, sepertinya 'roh' saya sudah tidak ada di sana, sepertinya sudah melonjak keluar, dan di sanalah saya mengalami pengalaman yang kedua -- banyak orang katakan adalah baptisan 'roh'. Di kebaktian-kebaktian Minggu jarang sekali ada orang-orang yang berbahasa 'roh', bahkan kalau saya katakan tidak ada sama sekali. Sepertinya saya rasa waktu itu bagus juga, berarti bahasa 'roh' itu untuk membangun diri sendiri. Setelah 2 tahun saya harus kembali ke Jakarta untuk 'for good'.
Tapi memang adalah rencana Tuhan saya harus kembali ke Sydney tahun 2002. Setelah saya kembali ke Sydney, saya berkesempatan beribadah dan menjadi pelayan yang aktif di salah satu di gereja yang masih baru dan bertumbuh secara rohani -- non denominasi. Saya tetap giat melayani Tuhan. Bahasa 'roh' itu tidak pernah muncul lagi, sampai satu masa, gereja mulai ada satu jati diri. Akhirnya bahasa 'roh' yang saya pernah dapatkan dalam 2 pengalaman yang lalu, dapat muncul lagi -- saya mulai mempraktekkan mengunakan karunia tersebut untuk menguatkan hidup saya, karena seolah-olah ketika saya berdoa dengan bahasa 'roh' rasanya lebih manjur. Saya pun secara tidak sadar merasa lebih rohani, berada di tingkat yang lebih karena saya berbahasa 'roh' -- dan karena saya lebih mengalami pengalaman yang bersifat spiritual dibandingkan yang lain. Pelayanan saya tetap giat, sampai satu titik, saya bertanya-tanya kepada diri sendiri apakah yang saya lakukan ini benar-benar untuk Tuhan atau saya lakukan hanya untuk kepuasan diri sendiri, untuk merasa lebih daripada orang lain? Saya bergumul selama 3 tahun akan hal ini - sampai akhirnya saya memutuskan untuk mengambil waktu sejenak untuk intropeksi diri, yang akhir membulatkan tekad untuk memperbaharui motivasi pelayanan saya.
Saya tidak pernah mau menghakimi siapa-siapa, negarapun mengumandangkan kebebasan beragama, kebebasan cara berpikir, kebebasan menetapkan prinsip hidup di dalam diri, tapi biarlah Kebenaran Firman Tuhan senantiasa menjadi pondasi hidup kita, sehingga hari lepas hari kita yang sebagai gereja Tuhan semakin dibaharui menurut kebenaran Firman Tuhan seiring dengan pimpinan Roh Kudus. Bahkan, saya bersyukur juga karena banyak pembentukkan karakter yang terjadi selama saya melayani di mana Tuhan sudah tempatkan semenjak saya menerima Kristus sebagai juruslamat, bersyukur buat teman-teman yang saling menguatkan dalam iman Kristus yang sejati, bahkan bersyukur atas hamba Tuhan yang memimpin.
Bahasa 'roh' yang saya lakukan selama ini hanyalah bersifat egois, 'human-centered', bersifat untuk memuaskan diri sendiri. Memang Rasul Paulus pernah mengatakan bahasa roh itu untuk membangun diri sendiri, tapi waktu ini dikatakan -- karena ada unsur 'sarcasm' dibalik pernyataan tersebut, kalaupun tidak ada -- tidak seharusnya kita melakukan sesuatu hal yang bersifat membangun diri sendiri dalam pertemuan jemaat. Karunia-karunia Roh itu bersifat untuk membangun jemaat Tuhan, bukan untuk membangun diri sendiri.
Bahasa 'roh' yang saya lontarkan hanyalah seuntaian kata-kata yang tidak berarti, hanya sebagai luapan emosi, yang keluar dari mulut ini. Saya mendengar orang berbahasa 'roh', akhirnya menjadi satu contoh atau pola, saya -- mau tidak mau, sadar atau tidak sadar merekamnya lewat indera pendengaran saya. Orang memang bisa berkata, tidak seharusnya bahasa 'roh' diajarkan (walaupun ada beberapa gereja mengajarkan hal ini), memang betul bahasa 'roh' tidak bisa diajarkan, namun sadar tidak sadar kita sudah diajar berbahasa 'roh' ketika kita berkumpul dengan orang-orang yang menanggap mereka berbahasa 'roh' yakni lewat pendengaran kita. "Oh seperti itu yah, saya juga bisa" - rekaman tersebut satu waktu akan keluar sebagai luapan emosi kita, seolah-olah kita berbicara dengan Allah secara langsung, seolah-olah 'roh' kita sudah terbang di angkasa pada satu tingkat tertentu, seolah-olah Tuhan lebih bisa mendengar doa kita ketika kita berdoa dengan bahasa 'roh', seolah-olah keadaan kita tidak bisa dekat dengan Tuhan tanpa ada pengalaman bersama Roh.
Tuhan dekat dengan kita, karena Dia sudah menjelma menjadi Manusia, mati untuk kita dan menebus dosa-dosa kita, karena itulah Tuhan bisa dekat dengan kita bukan karena pengalaman-pengalaman yang bersifat 'spritual' yang membuat kita dekat dengan Tuhan. Oleh kasih Kristuslah kita bisa menghadap Dia bukan oleh karunia rohani, kita yang seharusnya dihukum, namun dibenarkan dan dikuduskan -- hanya oleh karena Anugrah.
Gerakan-gerakan tersebut terjadi karena bermula dari gereja yang mulai padam, gereja mulai letih lesu, gereja mengalami yang namanya satu rutinitas, gereja tanpa mengajarkan kebenaran Allah, dan di sinilah ketika muncul satu yang baru dan 'exciting', gereja mulai mengkonsumsi hal-hal tersebut dan mengatakan semua ini dari Tuhan yang mau membangkitkan gerejaNya. Untuk itulah kita harus semakin peka dalam hal ini, haruslah kita menguji dengan kebenaran Firman Tuhan, ketika ada seorang datang kepada kita dan berkata "Inilah perkataan Tuhan".
Saya tahu Tuhan akan mengerti kita dengan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa apapun yang kita sampaikan kepada Tuhan, jadi bukan karena kita memakai bahasa 'roh' lalu Tuhan lebih mengerti apa yang kita mau, apa yang menjadi isi hati kita, apa yang 'roh' kita kehendaki. Ada pernah juga yang mengatakan, dengan bahasa 'roh' maka Iblis tidak akan tahu apa yang saya katakan kepada Tuhan -- saya sendiri pun tidak tahu artinya ketika saya berbahasa 'roh' kepada Tuhan - karena yang saya katakan bukan berdasarkan akal budi saya, tapi hanya mengandalkan emosi saya. Jadi kalau saya bilang "Ba ba ba la la la" kemudian hati saya penuh damai sejahtera maka itulah bahasa roh yang benar? berarti saya berbicara kepada Tuhan? bagaimana saya tahu saya berbicara dengan Tuhan bukan dengan Setan? Atau bagaimana kita tahu kita berbicara dengan Tuhan tapi kata-kata yang saya ucapkan adalah kata-kata hujat? -- TIDAK, Bisakah Iblis memberikan damai sejahtera -- bisa -- karena hati kita ini gampang dikecoh, bukankah Iblis bisa menyamar sebagai malaikat terang? Untuk itulah yang bisa membedakan hanyalah kebenaran Firman Tuhan.
Saya tidak berbahasa 'roh' lagi, karena bahasa 'roh' yang saya katakan hanyalah untuk kepuasan diri, hanyalah untuk pelepasan dan peluapan emosi diri saya, hanyalah untuk menunjukkan bahwa saya lebih 'superior' daripada orang lain, bahkan bahasa 'roh' yang saya praktekkan membuat orang lain yang tidak bisa berbahasa 'roh' merasa depresi, mereka lebih rendah, merasa lebih berdosa, merasa salah (ampunilah saya selama ini Tuhan) -- dan untuk itulah banyak orang mengejar bahasa 'roh' ini hanya untuk melepaskan diri dari perasaan-perasaan seperti itu, agar tidak tertuduh. Bukankah kita semua berdosa di hadapan Allah, tidak seorangpun yang benar di hadapan Allah, ketika kita diselamatkan pun tidak ada yang yang menjadi lebih suci, lebih kudus dan lebih benar daripada yang lainnya.
Bahasa 'roh' yang saya katakan, saya sendiripun tidak tahu artinya apa. Orang lain pun tidak tahu artinya. Sesuatu yang bersifat emosional gampang ditiru oleh Iblis, sesuatu yang bersifat kelihatan pun gampang ditiru oleh Iblis, kelihatannya gerakan-gerakan ini adalah gerakan yang benar karena, banyak orang yang bertobat dan menerima Tuhan Yesus. Apakah kita mau melihat segala sesuatu hanya bersifat kuantitas bukan kualitas? Yang tidak bisa ditiru oleh Iblis adalah kebenaran Firman Tuhan yang sejati.
Saya menulis artikel ini bukan bertujuan untuk menjatuhkan, TIDAK, artikel ini saya tulis semata-mata adalah kesaksian saya pribadi yang mungkin bersifat subyektik daripada obyektif. Biarlah kita semua dengan sikap rendah hati yang mau belajar dengan menggali kebenaran Firman Tuhan yang hakiki oleh penyertaan Roh Kudus yang menguakkan kebenaran tersebut. Sola Gratia.
Sewaktu saya di luar pintu pun saya sudah mulai merasakan getaran di hati, bahkan 'bulu-kuduk' saya merinding, mendengar puji-pujian di kebaktian tersebut, namun di satu pihak ada juga rasa gelisah dalam hati dan pikiran saya. Ketika saya mulai duduk di sana, saya datang sedikit telat (tau sendiri di Jakarta kayak apa) pada waktu saya mulai duduk, Firman Tuhan sudah mau disampaikan - "Kusiapkan hatiku Tuhan" yah saya ingat pujian itu yang dinyanyikan sebelum pemberitaan Firman Tuhan, namun anehnya setelah bait pertama dan baik kedua dinyanyikan lagu tersebut menjadi lagu yang asing buat telinga saya, karena kata-kata yang keluar dari orang-orang di sana, bahkan hamba Tuhan tersebut - bukan lagi kata-kata yang dapat saya mengerti, waktu itu saya merasa aneh sendiri, karena semua bisa bernyanyi dengan 'roh', keluar kata-kata yang saya tidak mengerti. Dengan mengambil sikap berdoa, saya berdoa kepada Tuhan, saya berusaha untuk berdoa, namun konsentrasi itu pecah sama sekali oleh orang-orang di sekitar saya yang berteriak-teriak, dan berbahasa 'roh'.
Setelah lagu tersebut selesai, hamba Tuhan ini memberitakan Firman Tuhan - Kisah para rasul pasalnya yang pertama, yah saya ingat sekali pasal Firman Tuhan malam itu. Saya berusaha untuk mengerti kebenaran Firman Tuhan yang diberitakan, namun kembali di tengah-tengah pemberitaan Firman Tuhan tersebut hamba Tuhan ini mulai berkata-kata dengan bahasa 'roh' dan orang-orang juga mulai bersahut-sahutan dengan bahasa 'roh', tentu saya tidak mengerti. Memang walaupun ada satu hal yang mengebu-gebu dalam emosi saya, sepertinya saya mau melonjak keluar -- emosi saya -- untuk merasakan hal yang sama yang mereka rasakan.
Setelah kebaktian selesai, saya pulang -- kemudian di kamar tidur saya, saya kembali membaca Kisah Para Rasul pasalnya yang pertama, tiba-tiba entah dari mana, lidah saya mulai tidak bisa saya kontrol, hati saya bergejolak, sepertinya itulah pengalaman saya pertama kali dengan bahasa 'roh', saya mulai berbicara dengan bahasa yang saya sendiri pun tidak mengerti, namun setelah berlangsung sekitar 15 menit, rasanya ada satu kepuasan diri, rasanya seperti 'emotional release'
Tahun demi tahun berjalan, saya tidak berbahasa 'roh' lagi, mungkin karena gereja saya adalah gereja yang injili, gereja di mana kebaktian tidak ada fenomana seperti yang saya terangkan di atas. Sampai satu waktu saya pindah ke Sydney - 1998, saya mengalami pada waktu malam kebaktian doa – satu hamba Tuhan berdoa, dan mengatakan kepada saya - panggilah Yesus, panggilah Yesus -- waktu itu saya menutup mata, sepertinya 'roh' saya sudah tidak ada di sana, sepertinya sudah melonjak keluar, dan di sanalah saya mengalami pengalaman yang kedua -- banyak orang katakan adalah baptisan 'roh'. Di kebaktian-kebaktian Minggu jarang sekali ada orang-orang yang berbahasa 'roh', bahkan kalau saya katakan tidak ada sama sekali. Sepertinya saya rasa waktu itu bagus juga, berarti bahasa 'roh' itu untuk membangun diri sendiri. Setelah 2 tahun saya harus kembali ke Jakarta untuk 'for good'.
Tapi memang adalah rencana Tuhan saya harus kembali ke Sydney tahun 2002. Setelah saya kembali ke Sydney, saya berkesempatan beribadah dan menjadi pelayan yang aktif di salah satu di gereja yang masih baru dan bertumbuh secara rohani -- non denominasi. Saya tetap giat melayani Tuhan. Bahasa 'roh' itu tidak pernah muncul lagi, sampai satu masa, gereja mulai ada satu jati diri. Akhirnya bahasa 'roh' yang saya pernah dapatkan dalam 2 pengalaman yang lalu, dapat muncul lagi -- saya mulai mempraktekkan mengunakan karunia tersebut untuk menguatkan hidup saya, karena seolah-olah ketika saya berdoa dengan bahasa 'roh' rasanya lebih manjur. Saya pun secara tidak sadar merasa lebih rohani, berada di tingkat yang lebih karena saya berbahasa 'roh' -- dan karena saya lebih mengalami pengalaman yang bersifat spiritual dibandingkan yang lain. Pelayanan saya tetap giat, sampai satu titik, saya bertanya-tanya kepada diri sendiri apakah yang saya lakukan ini benar-benar untuk Tuhan atau saya lakukan hanya untuk kepuasan diri sendiri, untuk merasa lebih daripada orang lain? Saya bergumul selama 3 tahun akan hal ini - sampai akhirnya saya memutuskan untuk mengambil waktu sejenak untuk intropeksi diri, yang akhir membulatkan tekad untuk memperbaharui motivasi pelayanan saya.
Saya tidak pernah mau menghakimi siapa-siapa, negarapun mengumandangkan kebebasan beragama, kebebasan cara berpikir, kebebasan menetapkan prinsip hidup di dalam diri, tapi biarlah Kebenaran Firman Tuhan senantiasa menjadi pondasi hidup kita, sehingga hari lepas hari kita yang sebagai gereja Tuhan semakin dibaharui menurut kebenaran Firman Tuhan seiring dengan pimpinan Roh Kudus. Bahkan, saya bersyukur juga karena banyak pembentukkan karakter yang terjadi selama saya melayani di mana Tuhan sudah tempatkan semenjak saya menerima Kristus sebagai juruslamat, bersyukur buat teman-teman yang saling menguatkan dalam iman Kristus yang sejati, bahkan bersyukur atas hamba Tuhan yang memimpin.
Bahasa 'roh' yang saya lakukan selama ini hanyalah bersifat egois, 'human-centered', bersifat untuk memuaskan diri sendiri. Memang Rasul Paulus pernah mengatakan bahasa roh itu untuk membangun diri sendiri, tapi waktu ini dikatakan -- karena ada unsur 'sarcasm' dibalik pernyataan tersebut, kalaupun tidak ada -- tidak seharusnya kita melakukan sesuatu hal yang bersifat membangun diri sendiri dalam pertemuan jemaat. Karunia-karunia Roh itu bersifat untuk membangun jemaat Tuhan, bukan untuk membangun diri sendiri.
Bahasa 'roh' yang saya lontarkan hanyalah seuntaian kata-kata yang tidak berarti, hanya sebagai luapan emosi, yang keluar dari mulut ini. Saya mendengar orang berbahasa 'roh', akhirnya menjadi satu contoh atau pola, saya -- mau tidak mau, sadar atau tidak sadar merekamnya lewat indera pendengaran saya. Orang memang bisa berkata, tidak seharusnya bahasa 'roh' diajarkan (walaupun ada beberapa gereja mengajarkan hal ini), memang betul bahasa 'roh' tidak bisa diajarkan, namun sadar tidak sadar kita sudah diajar berbahasa 'roh' ketika kita berkumpul dengan orang-orang yang menanggap mereka berbahasa 'roh' yakni lewat pendengaran kita. "Oh seperti itu yah, saya juga bisa" - rekaman tersebut satu waktu akan keluar sebagai luapan emosi kita, seolah-olah kita berbicara dengan Allah secara langsung, seolah-olah 'roh' kita sudah terbang di angkasa pada satu tingkat tertentu, seolah-olah Tuhan lebih bisa mendengar doa kita ketika kita berdoa dengan bahasa 'roh', seolah-olah keadaan kita tidak bisa dekat dengan Tuhan tanpa ada pengalaman bersama Roh.
Tuhan dekat dengan kita, karena Dia sudah menjelma menjadi Manusia, mati untuk kita dan menebus dosa-dosa kita, karena itulah Tuhan bisa dekat dengan kita bukan karena pengalaman-pengalaman yang bersifat 'spritual' yang membuat kita dekat dengan Tuhan. Oleh kasih Kristuslah kita bisa menghadap Dia bukan oleh karunia rohani, kita yang seharusnya dihukum, namun dibenarkan dan dikuduskan -- hanya oleh karena Anugrah.
Gerakan-gerakan tersebut terjadi karena bermula dari gereja yang mulai padam, gereja mulai letih lesu, gereja mengalami yang namanya satu rutinitas, gereja tanpa mengajarkan kebenaran Allah, dan di sinilah ketika muncul satu yang baru dan 'exciting', gereja mulai mengkonsumsi hal-hal tersebut dan mengatakan semua ini dari Tuhan yang mau membangkitkan gerejaNya. Untuk itulah kita harus semakin peka dalam hal ini, haruslah kita menguji dengan kebenaran Firman Tuhan, ketika ada seorang datang kepada kita dan berkata "Inilah perkataan Tuhan".
Saya tahu Tuhan akan mengerti kita dengan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa apapun yang kita sampaikan kepada Tuhan, jadi bukan karena kita memakai bahasa 'roh' lalu Tuhan lebih mengerti apa yang kita mau, apa yang menjadi isi hati kita, apa yang 'roh' kita kehendaki. Ada pernah juga yang mengatakan, dengan bahasa 'roh' maka Iblis tidak akan tahu apa yang saya katakan kepada Tuhan -- saya sendiri pun tidak tahu artinya ketika saya berbahasa 'roh' kepada Tuhan - karena yang saya katakan bukan berdasarkan akal budi saya, tapi hanya mengandalkan emosi saya. Jadi kalau saya bilang "Ba ba ba la la la" kemudian hati saya penuh damai sejahtera maka itulah bahasa roh yang benar? berarti saya berbicara kepada Tuhan? bagaimana saya tahu saya berbicara dengan Tuhan bukan dengan Setan? Atau bagaimana kita tahu kita berbicara dengan Tuhan tapi kata-kata yang saya ucapkan adalah kata-kata hujat? -- TIDAK, Bisakah Iblis memberikan damai sejahtera -- bisa -- karena hati kita ini gampang dikecoh, bukankah Iblis bisa menyamar sebagai malaikat terang? Untuk itulah yang bisa membedakan hanyalah kebenaran Firman Tuhan.
Saya tidak berbahasa 'roh' lagi, karena bahasa 'roh' yang saya katakan hanyalah untuk kepuasan diri, hanyalah untuk pelepasan dan peluapan emosi diri saya, hanyalah untuk menunjukkan bahwa saya lebih 'superior' daripada orang lain, bahkan bahasa 'roh' yang saya praktekkan membuat orang lain yang tidak bisa berbahasa 'roh' merasa depresi, mereka lebih rendah, merasa lebih berdosa, merasa salah (ampunilah saya selama ini Tuhan) -- dan untuk itulah banyak orang mengejar bahasa 'roh' ini hanya untuk melepaskan diri dari perasaan-perasaan seperti itu, agar tidak tertuduh. Bukankah kita semua berdosa di hadapan Allah, tidak seorangpun yang benar di hadapan Allah, ketika kita diselamatkan pun tidak ada yang yang menjadi lebih suci, lebih kudus dan lebih benar daripada yang lainnya.
Bahasa 'roh' yang saya katakan, saya sendiripun tidak tahu artinya apa. Orang lain pun tidak tahu artinya. Sesuatu yang bersifat emosional gampang ditiru oleh Iblis, sesuatu yang bersifat kelihatan pun gampang ditiru oleh Iblis, kelihatannya gerakan-gerakan ini adalah gerakan yang benar karena, banyak orang yang bertobat dan menerima Tuhan Yesus. Apakah kita mau melihat segala sesuatu hanya bersifat kuantitas bukan kualitas? Yang tidak bisa ditiru oleh Iblis adalah kebenaran Firman Tuhan yang sejati.
Saya menulis artikel ini bukan bertujuan untuk menjatuhkan, TIDAK, artikel ini saya tulis semata-mata adalah kesaksian saya pribadi yang mungkin bersifat subyektik daripada obyektif. Biarlah kita semua dengan sikap rendah hati yang mau belajar dengan menggali kebenaran Firman Tuhan yang hakiki oleh penyertaan Roh Kudus yang menguakkan kebenaran tersebut. Sola Gratia.
05 July, 2009
Melayani Tuhan oleh karena Anugrah
Posted by
Anton Triyanto
Berapa banyak dari kita ketika melayani Tuhan mengharapkan sesuatu dari Tuhan entah itu berkat rohani berupa damai sejahtera, sukacita, bahkan berkat jasmani. Jika setelah melayani Tuhan namun semuanya itu tidak didapati, menjadi kecewakah kita? Ya, kalau memang dasar dan motivasi pelayanan semata-mata hanya untuk mendapatkan sesuatu - timbal balik dari Tuhan, maka akan banyak terjadi kekecewaan karena Tuhan tidak akan selalu memberikan kita berkatNya ketika kita melayani.
Seringkali kita mengatakan kepada Tuhan, "Tuhan saya sudah lakukan ini, saya sudah lakukan itu, manakah balasannya - kenapa hidup saya masih menderita?" - Ini namanya penodongan kepada Allah. Tidak tahukah berkat yang termahal dan termanis yang sudah kita terima adalah salib Kristus. Ketika Dia mati bagi kita, dan menebus dosa-dosa kita, supaya kita yang seharusnya dihukum -- bukan hanya hukuman itu dihilangkan, namun kita dibuat berharga di mata Tuhan. Ini adalah satu anugrah.
Jadi kalau kita berkesempatan melayani, biarlah kita mendasarkan pelayanan kita oleh karena satu anugrah, karena Tuhan sudah mengasihi kita, makan selayaknya kita mengasihi Tuhan, bukan sebaliknya. Tuhan yang lebih dahulu melayani kita, demikian sudah seharusnyalah kita melayani Tuhan, ini adalah salah satu tanda ucapan syukur kepada Tuhan. Melalui pelayanan kita dapat bertumbuh bersama, dan saling mengingatkan satu sama lain, kalau kita melayani itu hanya karena satu anugrah, dan biarlah pelayanan kita senantiasa menjadi berkat bagi orang lain juga bukan untuk diri kita, karena Tuhan terlebih dahulu memberkati kita dengan satu anugrah.
Mungkin di satu waktu pelayanan, Anda tidak mengalami sukacita. Namun bukan berarti Anda harus berhenti dari pelayanan. Kita harus tetap maju ada sukacita maupun tidak ada satu sukacita, melayani Tuhan bukan untuk mendapatkan sukacita dan damai sejahtera - memang betul Tuhan akan menambahkan hal tersebut, tapi bukan itu yang menjadi dasar, hal-hal tersebut bukanlah yang essensi, yang menjadi essensi pelayanan adalah anugrah, bukan karena cinta kasih kita kepada Tuhan, tetapi kembali saya tekankan karena cinta kasih Tuhan kepada kita. Jadi pernah berpikir berkatmu tergantung dari pelayananmu, TIDAK, pelayanan adalah satu buah bahwa kita sudah dikasihi oleh Tuhan.
Jangan sampai kita terjerat dengan konsep berpikir human-centered, yang selalu memusatkan segala sesuatu demi kebaikan kita semata-mata, bukan untuk kemuliaan nama Tuhan, kalau kita melayani Tuhan tapi kita masih berpikir secara human-centered - hal ini perlu dipertanyakan apakah kita melayani Tuhan atau melayani diri kita sendiri, atau hanya melayani manusia. Berapa banyak dari kita ketika melayani lebih takut kepada manusia daripada kepada Tuhan. TIDAK, ini seharusnya tidak terjadi, karena kepada Tuhanlah kita harus takut, namun memang Tuhan menaruh pemimpin supaya kita bisa dibimbing, dan menghormati -- janganlah sampai kita berpikir seolah-olah merekalah 'tuhan'.
Marilah sama-sama dengan gentar kita melayani Tuhan bukan karena kita mengasihi Dia, atau karena kita mengharapkan sesuatu dari Tuhan, tapi biarlah kita melayani Tuhan hanya karena anugrah yang sudah diberikan kepada kita. Sola Gratia. Soli Deo Gloria.
Artikel ini saya buat terinspirasi oleh khotbah Pdt. Riko Tan - Gembala Sidang GKY Sunter pada saat artikel ini diketik.
Seringkali kita mengatakan kepada Tuhan, "Tuhan saya sudah lakukan ini, saya sudah lakukan itu, manakah balasannya - kenapa hidup saya masih menderita?" - Ini namanya penodongan kepada Allah. Tidak tahukah berkat yang termahal dan termanis yang sudah kita terima adalah salib Kristus. Ketika Dia mati bagi kita, dan menebus dosa-dosa kita, supaya kita yang seharusnya dihukum -- bukan hanya hukuman itu dihilangkan, namun kita dibuat berharga di mata Tuhan. Ini adalah satu anugrah.
Jadi kalau kita berkesempatan melayani, biarlah kita mendasarkan pelayanan kita oleh karena satu anugrah, karena Tuhan sudah mengasihi kita, makan selayaknya kita mengasihi Tuhan, bukan sebaliknya. Tuhan yang lebih dahulu melayani kita, demikian sudah seharusnyalah kita melayani Tuhan, ini adalah salah satu tanda ucapan syukur kepada Tuhan. Melalui pelayanan kita dapat bertumbuh bersama, dan saling mengingatkan satu sama lain, kalau kita melayani itu hanya karena satu anugrah, dan biarlah pelayanan kita senantiasa menjadi berkat bagi orang lain juga bukan untuk diri kita, karena Tuhan terlebih dahulu memberkati kita dengan satu anugrah.
Mungkin di satu waktu pelayanan, Anda tidak mengalami sukacita. Namun bukan berarti Anda harus berhenti dari pelayanan. Kita harus tetap maju ada sukacita maupun tidak ada satu sukacita, melayani Tuhan bukan untuk mendapatkan sukacita dan damai sejahtera - memang betul Tuhan akan menambahkan hal tersebut, tapi bukan itu yang menjadi dasar, hal-hal tersebut bukanlah yang essensi, yang menjadi essensi pelayanan adalah anugrah, bukan karena cinta kasih kita kepada Tuhan, tetapi kembali saya tekankan karena cinta kasih Tuhan kepada kita. Jadi pernah berpikir berkatmu tergantung dari pelayananmu, TIDAK, pelayanan adalah satu buah bahwa kita sudah dikasihi oleh Tuhan.
Jangan sampai kita terjerat dengan konsep berpikir human-centered, yang selalu memusatkan segala sesuatu demi kebaikan kita semata-mata, bukan untuk kemuliaan nama Tuhan, kalau kita melayani Tuhan tapi kita masih berpikir secara human-centered - hal ini perlu dipertanyakan apakah kita melayani Tuhan atau melayani diri kita sendiri, atau hanya melayani manusia. Berapa banyak dari kita ketika melayani lebih takut kepada manusia daripada kepada Tuhan. TIDAK, ini seharusnya tidak terjadi, karena kepada Tuhanlah kita harus takut, namun memang Tuhan menaruh pemimpin supaya kita bisa dibimbing, dan menghormati -- janganlah sampai kita berpikir seolah-olah merekalah 'tuhan'.
Marilah sama-sama dengan gentar kita melayani Tuhan bukan karena kita mengasihi Dia, atau karena kita mengharapkan sesuatu dari Tuhan, tapi biarlah kita melayani Tuhan hanya karena anugrah yang sudah diberikan kepada kita. Sola Gratia. Soli Deo Gloria.
Artikel ini saya buat terinspirasi oleh khotbah Pdt. Riko Tan - Gembala Sidang GKY Sunter pada saat artikel ini diketik.
04 July, 2009
Roh yang ada di dalam kita lebih besar
Posted by
Anton Triyanto
1 Yohanes 4:4b - sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.
Saya sudah berkali-kali mendengar sebagian ayat firman Tuhan di atas, bersyukur kalau hari ini saya bisa bersempatan membaca 1 perikop penuh dari 1 Yohanes 4:1-6. Seringkali ayat 4b, selalu dipakai ketika kita berhadapan dengan roh-roh jahat -- memang benar bahwa Roh Kudus yang ada di dalam kita lebih besar dari roh-roh jahat, ini hal yang tidak bisa dipungkiri. Tapi apakah ini yang dimaksudkan oleh Yohanes?
Pembukaan dalam perikop ini adalah satu bukti bahwa Yohanes mengasihi jemaat-jemaat di mana surat-surat ini diberikan, untuk itulah dia mengatakan "Saudara-saudaraku yang kekasih", untuk itulah ada satu himbauan untuk jangan percaya akan setiap roh - karena penulis sendiri tahu, bahwa roh antikristus (roh yang menyesatkan) itu sudah ada (ketika Penulis menuliskan surat tersebut), dan akan ada lagi penyesatan-penyesatan yang akan datang -- yaitu di jaman kita sekarang ini, bahkan di jaman-jaman yang akan datang selalu ada penyesatan.
Iblis memakai cara apapun juga untuk menyesatkan manusia, supaya mereka tidak melihat kebenaran Allah. Semua hal dipakai dia hanya untuk satu tujuan -- supaya kita berpaling dari Allah dan kebenaranNya.
Kita harus senantiasa tajam dalam segala sesuatu, rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang dapat menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. Tidak heran, karena Iblispun menyamar sebagai malaikat terang. Dalam 1 Yohanes 2:19 - Yohanes dengan tajam menyebutkan:
Memang mereka (antikristus) berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.
Ujilah roh-roh dunia, pengajaran-pengajaran, bukan hanya dari buahnya kita menguji tapi dari hal-hal yang diajarkan - karena buah dapat menipu tapi tidak dengan pengajaran Firman yang benar oleh dorongan Roh Kudus. Saya teringat kejadian di Wahyu, di mana ada binatang yang keluar dari dalam bumi, rupanya menyerupai anak domba tapi suaranya adalah suara naga. Apakah suara itu, suara adalah pengajaran, Roh kebenaran menyertai pengajaran Firman Tuhan yang yang benar, sedangkan Roh penyesatan (naga) menyertai pengajaran yang sesat -- hanya untuk memuaskan telinga yakni dengan hal-hal yang bersifat duniawi.
Dunia akan percaya kepada nabi-nabi palsu, karena apa yang diajarkan mereka bersifat hal-hal duniawi, bersifat hanya untuk kepentingan manusia di dunia ini, tanpa ada pemberitaan mengenai salib Kristus yang menebus dosa-dosa manusia, tidak ada pemberitaan bahwa manusia selayaknya dihukum karena dosa-dosa, tidak ada pemberitaan untuk bertobat, tidak ada pemberitaan untuk memberitakan kabar keselamatan, tidak ada pemberitaan mengenai penderitaan menjadi pengikut Kristus, penyangkalan diri dan memikul salib. Yang diajarkan hanyalah untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan jasmani contohnya, hidup kaya, hidup sehat, hidup sukses.
Roh yang ada di dalam kita memampukan kita untuk membedakan roh-roh yang ada di dunia ini, karena Roh tersebut lebih besar dari roh yang menyesatkan, yaitu Roh kebenaran. Tanpa Firman Tuhan mustahil ada Roh Kudus, jadi perlu ditanyakan orang-orang yang lebih mementingkan 'roh' tanpa kebenaran Firman Tuhan, apakah benar 'roh' tersebut Roh Kudus. Sebaliknya bagaimana dengan orang-orang yang mengutamakan Firman Tuhan apakah mereka punya Roh Kudus? Tentu kalau Firman Tuhan tersebut adalah yang Firman yang benar, maka Roh Kudus menyertai pengajaran Firman Tuhan tersebut.
Ketika kita memiliki Roh kebenaran, tandanya adalah kita menjadi orang yang mau belajar, menjadi orang yang mau mendengarkan orang lain, orang lain yang hidup di dalam kebenaran Firman Tuhan tentunya. Kita akan menjadi orang yang mau dikoreksi, supaya kemuliaan Allah semakin nyata di dalam kehidupan kita.
1 Yohanes 4:6 Kami berasal dari Allah: barangsiapa mengenal Allah, ia mendengarkan kami; barangsiapa tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan.
Saya sudah berkali-kali mendengar sebagian ayat firman Tuhan di atas, bersyukur kalau hari ini saya bisa bersempatan membaca 1 perikop penuh dari 1 Yohanes 4:1-6. Seringkali ayat 4b, selalu dipakai ketika kita berhadapan dengan roh-roh jahat -- memang benar bahwa Roh Kudus yang ada di dalam kita lebih besar dari roh-roh jahat, ini hal yang tidak bisa dipungkiri. Tapi apakah ini yang dimaksudkan oleh Yohanes?
Pembukaan dalam perikop ini adalah satu bukti bahwa Yohanes mengasihi jemaat-jemaat di mana surat-surat ini diberikan, untuk itulah dia mengatakan "Saudara-saudaraku yang kekasih", untuk itulah ada satu himbauan untuk jangan percaya akan setiap roh - karena penulis sendiri tahu, bahwa roh antikristus (roh yang menyesatkan) itu sudah ada (ketika Penulis menuliskan surat tersebut), dan akan ada lagi penyesatan-penyesatan yang akan datang -- yaitu di jaman kita sekarang ini, bahkan di jaman-jaman yang akan datang selalu ada penyesatan.
Iblis memakai cara apapun juga untuk menyesatkan manusia, supaya mereka tidak melihat kebenaran Allah. Semua hal dipakai dia hanya untuk satu tujuan -- supaya kita berpaling dari Allah dan kebenaranNya.
Kita harus senantiasa tajam dalam segala sesuatu, rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang dapat menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. Tidak heran, karena Iblispun menyamar sebagai malaikat terang. Dalam 1 Yohanes 2:19 - Yohanes dengan tajam menyebutkan:
Memang mereka (antikristus) berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.
Ujilah roh-roh dunia, pengajaran-pengajaran, bukan hanya dari buahnya kita menguji tapi dari hal-hal yang diajarkan - karena buah dapat menipu tapi tidak dengan pengajaran Firman yang benar oleh dorongan Roh Kudus. Saya teringat kejadian di Wahyu, di mana ada binatang yang keluar dari dalam bumi, rupanya menyerupai anak domba tapi suaranya adalah suara naga. Apakah suara itu, suara adalah pengajaran, Roh kebenaran menyertai pengajaran Firman Tuhan yang yang benar, sedangkan Roh penyesatan (naga) menyertai pengajaran yang sesat -- hanya untuk memuaskan telinga yakni dengan hal-hal yang bersifat duniawi.
Dunia akan percaya kepada nabi-nabi palsu, karena apa yang diajarkan mereka bersifat hal-hal duniawi, bersifat hanya untuk kepentingan manusia di dunia ini, tanpa ada pemberitaan mengenai salib Kristus yang menebus dosa-dosa manusia, tidak ada pemberitaan bahwa manusia selayaknya dihukum karena dosa-dosa, tidak ada pemberitaan untuk bertobat, tidak ada pemberitaan untuk memberitakan kabar keselamatan, tidak ada pemberitaan mengenai penderitaan menjadi pengikut Kristus, penyangkalan diri dan memikul salib. Yang diajarkan hanyalah untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan jasmani contohnya, hidup kaya, hidup sehat, hidup sukses.
Roh yang ada di dalam kita memampukan kita untuk membedakan roh-roh yang ada di dunia ini, karena Roh tersebut lebih besar dari roh yang menyesatkan, yaitu Roh kebenaran. Tanpa Firman Tuhan mustahil ada Roh Kudus, jadi perlu ditanyakan orang-orang yang lebih mementingkan 'roh' tanpa kebenaran Firman Tuhan, apakah benar 'roh' tersebut Roh Kudus. Sebaliknya bagaimana dengan orang-orang yang mengutamakan Firman Tuhan apakah mereka punya Roh Kudus? Tentu kalau Firman Tuhan tersebut adalah yang Firman yang benar, maka Roh Kudus menyertai pengajaran Firman Tuhan tersebut.
Ketika kita memiliki Roh kebenaran, tandanya adalah kita menjadi orang yang mau belajar, menjadi orang yang mau mendengarkan orang lain, orang lain yang hidup di dalam kebenaran Firman Tuhan tentunya. Kita akan menjadi orang yang mau dikoreksi, supaya kemuliaan Allah semakin nyata di dalam kehidupan kita.
1 Yohanes 4:6 Kami berasal dari Allah: barangsiapa mengenal Allah, ia mendengarkan kami; barangsiapa tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan.
03 July, 2009
Penyembahan berhala yang tidak berwujud
Posted by
Anton Triyanto
Berhala - adalah satu bentuk pemberontakan kita terhadap Allah, dalam perjanjian lama Tuhan berfirman jangan membuat patung yang menyerupai apapun juga, sehingga kita menyembahnya, karena Allah adalah Allah yang cemburu. Namun, ketika orang Israel membuat patung anak lembu emas, disebabkan adanya kekuatiran sebab Musa tidak turun-turun dari bukit Sinai. Adanya satu kekuatiran membuat umat Israel menurut daging memaksa Harun untuk membuat patung anak lembu emas -- ketika hari yang harusnya dirayakan sebagai hari Tuhan malah umat Israel merayakannya dengan mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan bagi patung tersebut -- hari yang sebenarnya milik Tuhan dilecehkan, dan tidak diindahkan oleh umat Israel, seolah-olah mereka mempersembahkan kepada Allah, tapi mempersembahkan kepada berhala -- membuat hati mereka menjadi jauh dari Allah, dan sama sekali mereka tidak bisa melihat kemuliaan Allah dalam patung anak lembu emas tersebut.
Nah, berhala seperti itu sampai sekarang masih ada dimana orang-orang membuat patung untuk disembah, dan kita tahu bahwa semua itu salah dan jahat di mata Tuhan, karena semuanya berwujud dan bisa dilihat oleh mata, maka kita sebagai orang Kristen tahu bahwa berhala yang berwujud patung itu adalah tidak benar. Bagaimana dengan berhala yang tidak kelihatan? Berhala yang tidak berwujud -- bagi saya definisi berhala adalah sebagai berikut.
Berhala adalah "Segala sesuatu yang berwujud ataupun tidak berwujud, nyata ataupun tidak nyata, baik ataupun jahat yang mengikat kita, sehingga kita tunduk kepadanya dan membuat kita lebih jauh dari Tuhan"
Ketika saya katakan segala sesuatu yang baik pun bisa menjadi berhala di dalam kehidupan kita, misalnya pelayanan -- penyembah pelayanan bukan penyembah Tuhan, kerapkali lebih mementingkan nilai-nilai pelayanan tersebut dibandingkan nilai-nilai kebenaran Allah - hati-hati ketika kita menganggap diri kita lebih rohani dari orang lain - itu adalah penyembahan berhala.
Banyak sistem kehidupan beragama yang ada di dalam dunia ini tujuannya adalah untuk mengubah apa yang baik di mata manusia menjadi apa yang benar di mata Allah menurut pandangan manusia yang adalah jahat adanya. Dengan jalan membuat aturan-aturan yang ketika manusia menaatinya, manusia menganggap dirinya lebih benar daripada orang lain, karena dia sudah melakukan aturan-aturan tersebut sehingga dia merasa punya hak untuk memandang orang lain lebih rendah daripada dia. Inilah salah satu berhala yang tidak berwujud - kesombongan.
Apapun yang kelihatannya baik, tapi jika hal itu membuat kita menjadi lebih jauh dari Tuhan, dan menjadikan kita mendua hati, itulah berhala - tidak mungkin kita bisa minum cawan Tuhan dan cawan penyembahan berhala, inilah yang dikatakan oleh Paulus, tidak mungkin kita bersekutu dengan Tuhan dan bersekutu dengan berhala - yang dimaksudkan adalah kalau kita bersekutu dengan Tuhan berarti kita tidak bersekutu dengan berhala, kalau kita bersekutu dengan berhala berarti kita tidak bersekutu dengan Tuhan dibahas didalam surat Paulus kepada jemaat Korintus - 1 Korintus 10:14-22.
Misalnya juga kekayaan kita, bisa menjadi berhala, karena ketika kita mencintai uang berarti kita membenci Tuhan, demikian sebaliknya. Tidak ada posisi seperti "Saya mengasihi Tuhan lebih dari saya mengasihi uang" berarti saya mengasihi uang juga hanya lebih sedikit dibanding mengasihi Tuhan. TIDAK! Kita tidak dapat mengabdi kepada 2 tuan, kita tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada uang.
Berhala bisa aja harga diri kita, keluarga kita, anak-anak kita, penampilan kita, sifat kita, kekayaan kita, kesuksesan kita, karir kita, aktifitas 'rohani' kita (pelayanan), gereja kita, pendeta kita, mobil kita, hobi kita, kesenangan kita, kesehatan kita dan masih banyak yang lainnya - di mana harta kita berada di situ hati kita berada -- kalau semua hal tersebut membuat kita jauh dari Tuhan dan mengasihi hal-hal tersebut dibandingkan mengasihi Tuhan disitulah hal-hal yang baik tersebut menjadi sesuatu berhala. Kita akan takut untuk kehilangan apa yang kita punya, apa yang kita punya menjadi berhala bagi hidup kita. Berhala akan menyita waktu kita, dan membuat kita lebih senang dan lebih puas menikmati dunia daripada bersekutu dengan Allah pencipta kita untuk lebih mengenal Dia secara benar melalui firmanNya. Allah itu cemburu.
1 Korintus 6:12 Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.
1 Korintus 10:23 "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.
Artikel ini saya tulis terinspirasi dari cuplikan pendek video Mark Driscoll - Idolatry
Nah, berhala seperti itu sampai sekarang masih ada dimana orang-orang membuat patung untuk disembah, dan kita tahu bahwa semua itu salah dan jahat di mata Tuhan, karena semuanya berwujud dan bisa dilihat oleh mata, maka kita sebagai orang Kristen tahu bahwa berhala yang berwujud patung itu adalah tidak benar. Bagaimana dengan berhala yang tidak kelihatan? Berhala yang tidak berwujud -- bagi saya definisi berhala adalah sebagai berikut.
Berhala adalah "Segala sesuatu yang berwujud ataupun tidak berwujud, nyata ataupun tidak nyata, baik ataupun jahat yang mengikat kita, sehingga kita tunduk kepadanya dan membuat kita lebih jauh dari Tuhan"
Ketika saya katakan segala sesuatu yang baik pun bisa menjadi berhala di dalam kehidupan kita, misalnya pelayanan -- penyembah pelayanan bukan penyembah Tuhan, kerapkali lebih mementingkan nilai-nilai pelayanan tersebut dibandingkan nilai-nilai kebenaran Allah - hati-hati ketika kita menganggap diri kita lebih rohani dari orang lain - itu adalah penyembahan berhala.
Banyak sistem kehidupan beragama yang ada di dalam dunia ini tujuannya adalah untuk mengubah apa yang baik di mata manusia menjadi apa yang benar di mata Allah menurut pandangan manusia yang adalah jahat adanya. Dengan jalan membuat aturan-aturan yang ketika manusia menaatinya, manusia menganggap dirinya lebih benar daripada orang lain, karena dia sudah melakukan aturan-aturan tersebut sehingga dia merasa punya hak untuk memandang orang lain lebih rendah daripada dia. Inilah salah satu berhala yang tidak berwujud - kesombongan.
Apapun yang kelihatannya baik, tapi jika hal itu membuat kita menjadi lebih jauh dari Tuhan, dan menjadikan kita mendua hati, itulah berhala - tidak mungkin kita bisa minum cawan Tuhan dan cawan penyembahan berhala, inilah yang dikatakan oleh Paulus, tidak mungkin kita bersekutu dengan Tuhan dan bersekutu dengan berhala - yang dimaksudkan adalah kalau kita bersekutu dengan Tuhan berarti kita tidak bersekutu dengan berhala, kalau kita bersekutu dengan berhala berarti kita tidak bersekutu dengan Tuhan dibahas didalam surat Paulus kepada jemaat Korintus - 1 Korintus 10:14-22.
Misalnya juga kekayaan kita, bisa menjadi berhala, karena ketika kita mencintai uang berarti kita membenci Tuhan, demikian sebaliknya. Tidak ada posisi seperti "Saya mengasihi Tuhan lebih dari saya mengasihi uang" berarti saya mengasihi uang juga hanya lebih sedikit dibanding mengasihi Tuhan. TIDAK! Kita tidak dapat mengabdi kepada 2 tuan, kita tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada uang.
Berhala bisa aja harga diri kita, keluarga kita, anak-anak kita, penampilan kita, sifat kita, kekayaan kita, kesuksesan kita, karir kita, aktifitas 'rohani' kita (pelayanan), gereja kita, pendeta kita, mobil kita, hobi kita, kesenangan kita, kesehatan kita dan masih banyak yang lainnya - di mana harta kita berada di situ hati kita berada -- kalau semua hal tersebut membuat kita jauh dari Tuhan dan mengasihi hal-hal tersebut dibandingkan mengasihi Tuhan disitulah hal-hal yang baik tersebut menjadi sesuatu berhala. Kita akan takut untuk kehilangan apa yang kita punya, apa yang kita punya menjadi berhala bagi hidup kita. Berhala akan menyita waktu kita, dan membuat kita lebih senang dan lebih puas menikmati dunia daripada bersekutu dengan Allah pencipta kita untuk lebih mengenal Dia secara benar melalui firmanNya. Allah itu cemburu.
1 Korintus 6:12 Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.
1 Korintus 10:23 "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.
Artikel ini saya tulis terinspirasi dari cuplikan pendek video Mark Driscoll - Idolatry
02 July, 2009
Siapakah yang lebih diberkati?
Posted by
Anton Triyanto
KASUS 1 - Jika A gaji seminggunya 1000 dollar sedangkan B gaji seminggunya 500 dollar ? Siapakah yang lebih diberkati? Kalau kita melihat dari segi materi maka jawabannya adalah si A yang lebih diberkati.
KASUS 2 - Nah dalam satu minggu itu si A mobilnya rusak, jadi harus masuk ke bengkel bayar 500 dollar, kemudian si A juga jatuh sakit dan harus berobat ke dokter sekitar 300 dollar, sedangkan biaya untuk hidup si A 100 dollar seminggu, jadi uang yg tersisa adalah 100 dollar, sedangkan si B hidupnya sehat-sehat saja, mobilnya juga tidak rusak dalam minggu tersebut, bahkan pada satu hari di minggu tersebut dia menemukan uang 50 dollar di jalanan waktu dia berangkat kerja. Biaya hidup si B sama dengan si A, 100 dollar seminggu - sekarang si B masih sehat memiliki uang 450 dollar. Siapakah yang lebih diberkati? Kalau kita melihat dari segi materi dan segi jasmaniah si B.
Walaupun kasus pertama is A gajinya lebih besar namun akhirnya si B yang bisa menyimpan uang lebih banyak dalam kasus yang kedua -- 2 kasus ini sama - kalau kita melihat semuanya dari segi uang atau yang bersifat jasmani dan materi jawaban di atas kedua-keduanya benar adanya, bahwa kita diberkati hanya dilihat dari segi materi.
Namun bagi saya sendiri bisa saja waktu kasus pertama walaupun gaji si B kelihatan lebih kecil dari si A, namun di minggu itu bisa saja si B, melihat kemuliaan Allah di dalam ayat-ayat Firman Tuhan yang dia selidiki di minggu tersebut yang menimbulkan rasa ucapan syukur dalam dirinya, jadi apakah berarti si A lebih diberkati? Tentu tidak karena kemuliaan Allah tidak dapat dibandingkan dengan sesuatu yang bersifat materi.
Sedangkan di kasus yang kedua, kelihatannya si B yang lebih diberkati karena dia lebih menyimpan banyak uang dan hidup lebih sehat dari si A -- Belum tentu, bisa saja setelah kejadian mobil rusak, dan jatuh sakit si A tetap bertekun di dalam Firman Tuhan, bahkan si A lebih mengerti lagi akan apakah yang namanya bersandar penuh kepada Tuhan, iman si A teruji dan kemuliaan Tuhan terpancar di dalam kehidupannya.
Nah jadi mana yang lebih diberkati? Berkat bukanlah bergantung kepada kesehatan dan uang kita. Berkat hanya bergantung kepada Allah, yaitu oleh kemuliaan Allah yang dinyatakan di dalam hidup kita sehari-hari -- untuk kemuliaan Allah.
Ucapan bahagia Tuhan Yesus di atas bukit, di dalam bahasa inggrisnya dikatakan "blessed" Indonesianya berarti - "diberkatilah" -- untuk lebih memudahkan membaca, ucapan-ucapan tersebut saya parafrase - supaya lebih mudah dimengerti ketika dibaca dan berhubungan dengan artikel ini.
Matius 5:3-11
"Diberkatilah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Diberkatilah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
Diberkatilah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Diberkatilah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Diberkatilah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
Diberkatilah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
Diberkatilah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Diberkatilah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Diberkatilah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat."
KASUS 2 - Nah dalam satu minggu itu si A mobilnya rusak, jadi harus masuk ke bengkel bayar 500 dollar, kemudian si A juga jatuh sakit dan harus berobat ke dokter sekitar 300 dollar, sedangkan biaya untuk hidup si A 100 dollar seminggu, jadi uang yg tersisa adalah 100 dollar, sedangkan si B hidupnya sehat-sehat saja, mobilnya juga tidak rusak dalam minggu tersebut, bahkan pada satu hari di minggu tersebut dia menemukan uang 50 dollar di jalanan waktu dia berangkat kerja. Biaya hidup si B sama dengan si A, 100 dollar seminggu - sekarang si B masih sehat memiliki uang 450 dollar. Siapakah yang lebih diberkati? Kalau kita melihat dari segi materi dan segi jasmaniah si B.
Walaupun kasus pertama is A gajinya lebih besar namun akhirnya si B yang bisa menyimpan uang lebih banyak dalam kasus yang kedua -- 2 kasus ini sama - kalau kita melihat semuanya dari segi uang atau yang bersifat jasmani dan materi jawaban di atas kedua-keduanya benar adanya, bahwa kita diberkati hanya dilihat dari segi materi.
Namun bagi saya sendiri bisa saja waktu kasus pertama walaupun gaji si B kelihatan lebih kecil dari si A, namun di minggu itu bisa saja si B, melihat kemuliaan Allah di dalam ayat-ayat Firman Tuhan yang dia selidiki di minggu tersebut yang menimbulkan rasa ucapan syukur dalam dirinya, jadi apakah berarti si A lebih diberkati? Tentu tidak karena kemuliaan Allah tidak dapat dibandingkan dengan sesuatu yang bersifat materi.
Sedangkan di kasus yang kedua, kelihatannya si B yang lebih diberkati karena dia lebih menyimpan banyak uang dan hidup lebih sehat dari si A -- Belum tentu, bisa saja setelah kejadian mobil rusak, dan jatuh sakit si A tetap bertekun di dalam Firman Tuhan, bahkan si A lebih mengerti lagi akan apakah yang namanya bersandar penuh kepada Tuhan, iman si A teruji dan kemuliaan Tuhan terpancar di dalam kehidupannya.
Nah jadi mana yang lebih diberkati? Berkat bukanlah bergantung kepada kesehatan dan uang kita. Berkat hanya bergantung kepada Allah, yaitu oleh kemuliaan Allah yang dinyatakan di dalam hidup kita sehari-hari -- untuk kemuliaan Allah.
Ucapan bahagia Tuhan Yesus di atas bukit, di dalam bahasa inggrisnya dikatakan "blessed" Indonesianya berarti - "diberkatilah" -- untuk lebih memudahkan membaca, ucapan-ucapan tersebut saya parafrase - supaya lebih mudah dimengerti ketika dibaca dan berhubungan dengan artikel ini.
Matius 5:3-11
"Diberkatilah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Diberkatilah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
Diberkatilah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Diberkatilah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Diberkatilah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
Diberkatilah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
Diberkatilah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Diberkatilah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Diberkatilah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat."