Recent Posts

29 December, 2009

One True Soul Mate?

The popular music and art of our society calls us to keep on doing it, to load all of the deepest needs of our hearts for significance and transcendence into romance and love. "You're nobody till somebody loves you,", went the popular song, and we are an entire culture that has taken it literallly. We maintain the fantasy that if we find our one true soul mate, everything wrong with us will be healed. But when our expectation and hopes reach that magnitude, - "the love object is God." No lover, no human being, is qualified for that role. No one can live up to that. The inevitable result is bitter disillusionment. -- Counterfeit Gods, Page 29.

Mengapa kita harus mengampuni?

Hal mengampuni memang secara teori sangat mudah sekali dibicarakan dan dianalisa, namun bagaimanakah jika kita yang dihadapkan secara realita sesuatu yang membuat kita dendam karena orang lain telah menyakiti kita sedemikian hebatnya sehingga kita tidak mudah mengampuni atau bahkan bertekad tidak akan mengampuni? Satu hal yang saya belajar bahwa, memang secara fakta saya tidak memungkiri mengampuni sangat sulit sekali, tapi yang selalu terngiang-ngiang di benak saya adalah perumpamaan tentang raja dan hamba-hambanya di dalam Matius 18:23-35.

Apa yang kita lakukan terhadap Allah, yaitu dosa jauh lebih buruk daripada apa yang orang lain lakukan kepada kita. Dengan mengerti pengetahuan tersebut dan menerima pengampunan dari Allah atas dosa-dosa kita maka kita dapat mengampuni orang lain yang telah berbuat salah kepada kita - apapun kesalahan tersebut dari yang terbesar sampai yang terkecil, masalah terbesar dalam kehidupan kristiani adalah kita tahu kita orang berdosa tapi yang kita tidak tahu adalah bahwa intensitas dan kapasitas dosa kita seberapa banyak, sehingga seolah-olah memang Allah layak untuk mengampuni kita tapi bukan karena kasih karunia.

Doa saya bagi kita semua adalah - "Jika hari ini kita tahu bahwa Allah telah mengampuni hidup kita maka ampunilah orang yang bersalah kepada kita, karena kita tahu apa yang saudara lain lakukan buruk terhadap kita tidak dapat dibandingkan dengan betapa buruknya apa yang sudah kita lakukan terhadap Allah"

28 December, 2009

Whatever controls us is our lord

"Whatever controls us is our lord. The person who seeks power is controlled by power. The person who seeks acceptance is controlled by acceptance. We do not control ourselves. We are controlled by the lord of our lives. " — Rebecca Pippert (Out of the Salt Shaker)

Do you desire God? - Paul Washer

24 December, 2009

Forgiveness is NOT unconditional

Forgiveness is NOT unconditional. It is conditional. This does not mean it can be earned. It means forgiveness is given to those who truly trust Christ. Trust is not an act by which anything can be earned. It calls attention to the worth of God's grace, not the worth of our action. But trust is not mere intellectual assent to Biblical facts. It involves hearty affirmation of the will of Christ. Therefore trusting Christ involves confessing sin as sin and taking up arms against it. ~ John Piper

23 December, 2009

Standar Kecantikan...?

"Kalau boleh pilih antara Tini dan Tina, maka saya akan pilih Tini, karena lebih cakep, hidungnya lebih mancung, bola matanya bersinar-sinar" -- Begitulah orang memilih berdasarkan apa yang kelihatan, walaupun kenapa Tini lebih bisa cantik di matanya Tono, dibanding Tina. Mengapa bisa begini? Mungkin di mata orang lain Tina lebih cantik dibanding dengan Tini, jadi yang sebenarnya cantik siapa yah? Cantik itu relatif sekali, kita sedikit banyak dipengaruhi oleh media, foto model yang pakai makeup kita akhirnya bilang itu cantik, standarnya adalah foto model di majalah.

Memang dalam teori Fibonacci, muka manusia ada perhitungannya baru dibilang mukanya memiliki unsur estetik, namun selama perhitungannya benar sekalipun tetap manusia mempunyai standar di dalam pikirannya, oh si A cantik, si B biasa aja, dan si C manis.

Jaman dahulu, wanita yang gemuk adalah wanita yang cantik, (monalisa) tapi di jaman sekarang malah kebanyakan pria mencari wanita yang kurus (walaupun tidak semua). Jadi akhirnya semua orang terkondisi dengan berubahnya jaman dan 'taste' dari orang-orang yang tinggal di jaman ini. Manusia pun berlomba-lomba untuk mempercantik dirinya, entah dari gaya rambut, gaya berpakaian, lekuk alis, warna lipstik, semuanya banyak sekali yang dapat dipakai untuk menambah nilai kecantikan luar tersebut.

Apakah ini salah? Menurut saya ini bukan persoalan salah atau tidak salah, dalam segala sesuatu yang kita lakukan harus ada tujuan dan pertanggungjawaban. Banyak akhirnya ketika kita melakukan permak sana permak sini, hanya karena pengaruh media, si Artis A itu rambutnya baru di 'highlight" ~ saya juga mau ikutan ah. Jadi kembali saya simpulkan bahwa kita tidak bisa memungkiri pengaruh media yang akhirnya membentuk 'standar kecantikan' dalam hidup kita.

1 Samuel 16:7
Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.

Akhir kata bersoleklah, tapi kita harus tahu tujuan dari bersolek tersebut apakah kita hanya mau mendapat nilai dari orang lain, akhirnya manusia cenderung lebih kuatir akan apa yang orang lain katakan dibanding dengan apa yang Tuhan mau ubahkan dalam hidup kita, yaitu hati kita.

22 December, 2009

Ajaran Tentang Kemakmuran: Mengelabui dan Mematikan

Ketika saya membaca tentang gereja yang mengajarkan tentang kemakmuran, respon saya adalah: Seandainya saya bukan orang Kristen, saya tidak akan ingin masuk Kristen. Dengan kata lain, seandainya ini adalah pesan Yesus, mohon maaf saya tidak mau.

Memikat orang untuk mengikut Kristus supaya kaya adalah bohong dan mematikan. Ini adalah bohong karena pada waktu Yesus sendiri memanggil kita, Ia mengatakan hal-hal seperti: “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridKu” (Lukas 14:33). Dan ini mematikan karena hasrat untuk menjadi kaya menjerumuskan “orang ke dalam keruntuhan dan kebinasaan” (1 Timotius 6:9). Jadi inilah permohonanku kepada para pemberita injil.

1. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang membuat manusia lebih sulit lagi untuk masuk surga.

Yesus berkata, “Betapa sulitnya bagi orang kaya untuk masuk ke dalam kerajaan Allah!” Murid-muridnya tercengang, sebagaimana banyak orang dalam gerakan “kemakmuran” seharusnya bereaksi. Yesus kemudian meneruskan yang membuat mereka bahkan lebih heran lagi dengan berkata, “lebih mudah seekor unta masuk ke lobang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah.” Mereka merespon dalam ketidak-percayaan: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah” (Markus 10:23-27).

Pertanyaan saya bagi para pendeta yang mengajarkan tentang kemakmuran adalah: Mengapa anda ingin mengembangkan fokus gereja yang membuat sulit bagi manusia untuk masuk surga?

2. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang mengobarkan keinginan manusia untuk bunuh diri.

Paulus berkata, “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar, sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia, dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa keluar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” Tetapi kemudian ia memperingatkan akan keinginan untuk menjadi kaya. Dan secara implisit, ia memperingatkan para pendeta yang menimbulkan keinginan untuk menjadi kaya ketimbang menolong manusia untuk menjauhkan diri darinya. Ia memperingatkan, “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat, dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan adalah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1 Timotius 6:6-10).

Jadi pertanyaan saya kepada pendeta yang mengajarkan tentang kemakmuran adalah: mengapa anda mau mengembangkan gereja yang mendorong manusia untuk menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka dan menenggelamkan dirinya ke dalam keruntuhan dan kebinasaan?

3. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang mendorong kerentanan terhadap ngengat dan karat.

Yesus memberi peringatan terhadap upaya untuk mengumpulkan harta di dunia. Yaitu, ia menyuruh kita untuk menjadi pemberi, bukan penyimpan. “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi, di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya, tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga, di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya” (Matius 6:19).

Memang, kita semua menyimpan sesuatu. Namun karena adanya kecenderungan untuk serakah dalam diri kita semua, mengapa kita menanggalkan fokus dari Yesus dan memutar-balikkannya?

4. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang menjadikan kerja keras sebagai jalan untuk mendapatkan kekayaan yang berlimpah.

Paulus berkata kita tidak boleh mencuri. Pilihannya adalah kerja keras dengan tangan kita sendiri. Tetapi tujuan utamanya bukan semata-mata untuk menimbun atau bahkan untuk memiliki. Tujuannya adalah “memiliki untuk memberi.” “tetapi baiklah ia bekerja keras, dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan” (Efesus 4:28). Ini bukanlah suatu pembenaran untuk menjadi kaya supaya dapat memberi lebih banyak lagi. Tidak ada alasan mengapa seseorang yang berpenghasilan $ 200.000 harus hidup secara berbeda daripada cara hidup orang yang berpenghasilan $ 80.000. Carilah pola hidup seperti dalam masa perang; ketatkan pengeluaran anda; dan bagikanlah sisanya kepada orang lain.

Mengapa anda harus mendorong orang untuk berpikir bahwa mereka harus memiliki kekayaan supaya bisa menjadi pemberi yang boros? Mengapa tidak mendorong mereka untuk hidup lebih sederhana dan menjadi pemberi yang lebih boros lagi? Bukankah itu akan menambah kemurahan mereka menjadi suatu kesaksian yang baik bahwa Kristuslah harta mereka, bukan benda yang mereka miliki?

5. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang mengakibatkan berkurangnya iman terhadap janji-janji Tuhan kepada kita yang tidak dapat dibeli dengan uang.

Alasan penulis kepada bangsa Ibrani mengajarkan kepada kita untuk merasa cukup dengan apa yang ada pada kita adalah karena jika tidak maka iman kita terhadap janji Tuhan akan berkurang. Ia berkata, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu, karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata, “Tuhan adalah Penolongku, aku tidak akan takut, apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Ibrani 13:5-6).

Bila Alkitab mengajarkan kepada kita untuk merasa puas dengan apa yang ada pada kita meyakini akan janji-janji Tuhan yang tidak akan pernah meninggalkan kita, mengapa kita mau mengajarkan kepada manusia untuk ingin menjadi kaya?

6. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang mengakibatkan umat anda merasa terhimpit.

Yesus mengingatkan bahwa firman Tuhan, yang ditujukan untuk memberi kita kehidupan, dapat kehilangan efektifitasnya oleh kekayaan. FirmanNya berkata bahwa ini bagaikan benih yang tumbuh di antara semak duri yang menghimpitnya sampai mati: “Orang yang telah mendengarkan firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimput dengan ….kekayaan…hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang” (Lukas 8:14).

Mangapa kita mau mendorong manusia untuk mengejar sesuatu yang Yesus katakan akan menghimpit kita?

7. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang membuat garam menjadi tawar dan meletakkan lampu di bawah gantang.

Hal apakah yang membuat orang Kristen menjadi garam dunia dan terang dunia? Bukanlah kekayaan. Hasrat akan kekayaan dan pengejaran akan kekayaan terasa dan kelihatan seperti dunia. Ini tidak memberi dunia sesuatu yang berbeda daripada apa yang telah diyakininya. Tragedi besar dari pengajaran tentang kemakmuran adalah bahwa seseorang tidak perlu dibangkitkan secara spiritual untuk memeluknya; cukuplah dengan serakah. Menjadi kaya dalam nama Yesus bukanlah garam dunia atau terang dunia. Dalam hal demikian, dunia hanya melihat suatu refleksi tentang dirinya sendiri. Dan kalau berhasil, orang akan mau.

Konteks dari perkataan Yesus menunjukkan kepada kita apa yang dimaksud dengan garam dan terang. Ini adalah kemauan secara sukacita untuk berkorban bagi Kristus. Beginilah sabda Yesus, “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu. Kamu adalah garam dunia….Kamu adalah terang dunia” (Matius 5:11-14).

Apa yang akan membuat dunia merasakan (garam) dan melihat (terang) Kristus dalam diri kita bukanlah bahwa kita mencintai kekayaan sama seperti mereka. Akan tetapi suatu kemauan dan kemampuan orang-orang Kristen untuk mengasihi sesama dalam penderitaan, sambil bersukacita karena upahnya adalah di surga bersama Yesus. Hal ini tidak dapat dimengerti oleh manusia. Ini adalah hal supernatural. Namun menarik manusia dengan janji-janji kemakmuran itu adalah hal yang natural. Ini bukanlah pesan Yesus, Ini bukan tujuan dari kematianNya.

John Piper ~ Diterjemahkan oleh: Nelce Manoppo

21 December, 2009

The Stronger our desire...

The stronger our desire for some satisfaction, the more vulnerable we are to being deceived about what is right and wrong in the way we try to satisfy that desire ~ John Piper

20 December, 2009

Are you born again ?

I was struck again by this line from John Piper

"If you believe that what you are about to do is sin, and you decide to do it because God has promised to forgive sin, then probably your decision will be evidence that you are not born again, you are not a Christian but are still 'in the gall of bitterness and the bond of iniquity"

17 December, 2009

Saya tahu asin itu tidak baik...

Banyak dari kita tentunya sudah sedikit tahu tentang garam, kalau kita mengkonsumsi terlalu banyak garam maka tidak baik untuk kesehatan, khususnya darah tinggi dalam hal ini, kita sudah tahu itu tidak baik tapi tentunya kita di lain pihak senang sekali makan yang ada garamnya, kalau tidak ada garamnya maka terasa hambar sekali.

Seringkali demikian dengan dosa, kita sudah tahu itu tidak baik, tapi karena kita senang, keinginan daging kita yang mengerogoti kita -- karena rasa dosa adalah lezat, namun kita tidak perduli dengan konsekuensi dosa itu sendiri.

Manusia tidak akan pernah bisa memilih untuk tidak melakukan dosa, saya sendiripun tidak perlu mengingat dosa apa yang saya lakukan satu tahun yang lalu, sebulan yang lalu, seminggu yang lalu ... yang saya harus ingat adalah dosa yang saya lakukan 5 menit yang lalu, atau bahkan sekarang, inilah kejatuhan manusia -- yang dinamakan total depravity, tanpa mengerti hal essensi seperti ini maka kita akan senantiasa melihat dosa sebagai sesuatu yang kita bisa tidak lakukan -- padahal kenyataannya tidak -- kita mau berbuat baik, kita tahu berbuat baik, tapi 'by nature' kita akan melakukan yang jahat.

Kalau kita disucikan kembali semata-mata hanya karena kasih karunia Allah saja yang memampukan kita untuk tidak berbuat dosa -- tidak ada sedikitpun campur tangan manusia untuk bisa tidak melakukan dosa.

Beware Of The False Conversion - Todd Friel (Wretched)

16 December, 2009

Sexual Sin - John Piper

The Social Networking Logo



ADHD = Attention Deficit Hyperactivity Disorder

15 December, 2009

John Piper - You Love Human Praise, Not the Glory of God

14 December, 2009

To Love is a Decision

What I learnt today:

To Love is a Decision, To Be Loved is a Grace

11 December, 2009

John Piper - Why I abominate the prosperity gospel

I'm grateful

I'm grateful for joy
I'm grateful for sorrow
I'm grateful for the rain
I'm grateful for the draught
In Christ I'm grateful

09 December, 2009

Bolehkah Orang Kristen menjadi kaya?

Hmm...pertanyaan ini tentunya sering dipertanyakan dalam kehidupan kita, apakah boleh orang Kristen menjadi kaya (dalam hal uang dan kepemilikan barang jasmaniah). Yang paling pertama harus ditanyakan sebelum pertanyaan tersebut terbesik adalah, untuk apa kita kaya? Apakah untuk mendapatkan lebih, apakah supaya kita dipandang lebih terhormat, apakah supaya orang lain 'memuliakan' Tuhan karena melihat kita kaya (walaupun kenyataannya malah membuat orang iri hati -- tidak semua), apakah supaya kita dapat memenuhi kebutuhan jasmaniah kita, keinginan dan nafsu kita supaya kita dapat menikmati segala sesuatu dalam hidup ini? Kalau kita menjawab "Ya' dalam pertanyaan tersebut, maka kekristenan kita hanyalah menjadi topeng untuk menjadi kaya, untuk cinta akan uang.

Kesalahan fatal kita sebagai orang yang memiliki kekayaan entah berapa pun yang kita miliki adalah keinginan untuk memiliki lebih dan lebih tanpa menyadari tanggung jawab yang Tuhan berikan untuk mengelolah kekayaan tersebut demi kemuliaan Tuhan bukan kemuliaan diri sendiri. Keinginan untuk tidak memberi semakin meningkat di kalangan orang-orang kaya yang tidak mengerti konsep dasar kekayaan demi kemuliaan Tuhan, Orang yang mempunyai banyak kekayaan justru orang yang akhirnya takut kehilangan, karena kalau cinta uang itu sudah berakar dalam hati maka manusia tidak akan pernah puas dalam hal kekayaan yang mereka miliki.

Seringkali gaya hidup kita pun ditentukan oleh kekayaan kita, entah apa yang kita pakai, mobil apa yang kita kendarai, berapa properti yang kita punya, SAYA LAYAK mendapatkan semua itu!!! (legalisme diri sendiri) -- sambil berkata seperti itu dalam hati, saya sudah berusaha mati-matian untuk mendapatkan kekayaan jadi saya layak untuk menikmatinya...hmmm...benarkah hal itu, benarkah yang kita dapatkan semuanya adalah karena hasil usaha kita, atau Tuhan yang mempercayakan kita akan kekayaan tersebut, Dia mau supaya kita dapat memaksimalkan kekayaan tersebut untuk lebih banyak melakukan pekerjaan yang baik. (baca: 1 Timotius 6:18)

Jadi bolehkah orang Kristen menjadi kaya? Tentu boleh, kalau bisa kaya yah kaya, kalau memang Tuhan mengijinkan kita kaya, namun kita harus menyadari bahwa suatu tanggung jawab yang lebih besar ketika kita memiliki kekayaan tersebut, karena kekayaan tersebut bukan punya kita, dan seharusnya kekayaan ini tidak mengubah cara berpikir kita, gaya hidup, sumber entertainment kita, dan apapun itu yang kita merasa itu menjadi simbol kekayaan kalau kita sudah dapat menikmati atau memilikinya.

Pengertian 'kaya' pun mulai rancu, dan sangat relatif -- bagi A kaya itu kalau sudah punya kapal pesiar, bagi B kalau sudah bisa makan pun sudah jadi orang kaya. Namun bukan harus menjadi orang kaya atau tidak baru kita dapat melayani Tuhan, layanilah Tuhan dalam segala hal, dalam segala kondisi dalam hidup kita. Tuhan memberkati.

08 December, 2009

Today men are consumed....

“Today men are consumed by desires to buy things they don’t need, with money they don’t have, to impress people they don’t like.” Pattrick Morley

Kamu Kurang Beriman !!!

Orang Kristen    : Pak Pendeta saya butuh pekerjaan nih.
Pak Pendeta      : Kamu yakin Tuhan akan memberi kamu pekerjaan?
Orang Kristen    : Yakin Pak, saya beriman
Pak Pendeta      : Kalau begitu dalam 14 hari ini kamu akan mendapatkan pekerjaan

Setelah lewat 14 hari, orang Kristen masih belum mendapat pekerjaan dan kembali menemui Pak Pendeta.

Orang Kristen    : Pak saya koq tetap ngak dapat pekerjaan?
Pak Pendeta      : Kamu udah bayar persepuluhan kamu?
Orang Kristen    : Udah
Pak Pendeta      : Kamu udah berbuat baik sama orang?
Orang Kristen    : Udah Pak.
Pak Pendeta      : Kamu udah minta ampun sama Tuhan?
Orang Kristen    : Udah Pak.
Pak Pendeta      : Kalau begitu kamu kurang beriman.

Percakapan seperti ini tentunya sering kita dengar di dalam lingkungan gerejawi di jaman ini, mungkin ini pernah terjadi dalam kehidupan saudara, entah Anda menjadi Pak Pendeta atau yang menjadi Orang Kristen dalam percakapan tersebut. Apa benar karena kurang iman, akhirnya kita tidak mendapatkan pekerjaan, atau ‘berkat’ dalam hal ini. Kalau dapat lalu Pak Pendeta yang dipuji wah Pendeta A ini ‘nubuatan’ nya tokcer, wah kalau pendeta si B mah kagak ada kuasanya. Tunggu-tunggu, ini kan kita lagi ngomongin Pendeta yah bukan dukun, tapi koq sekarang kebanyakan pendeta jadi kayak dukun, memang seolah-olah mereka memakai ‘kuasa’ Tuhan tapi kalau nubuatan tersebut gagal akhirnya kita yang dinubuatin yang jadi korban, dengan mengatakan kita kurang iman. Akhirnya korban seperti kita ini berpikir apa yang saya sudah lakukan salah terhadap Tuhan sehingga saya tidak mendapat ‘berkat’, apa benar ‘berkat’ tersebut tergantung dari iman kita?

"Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." Iman dapat saya katakan percaya akan segala sesuatu yang tidak kelihatan, entah itu keadaan buruk kita tetap beriman, walaupun kita tidak kelihatan bahwa Allah sedang menyertai kita, tapi kita tetap beriman karena kita tahu bahwa Allah selalu menyertai kita. Itulah iman sejati bukan berarti kita percaya sesuatu yang tidak kelihatan lalu yang tidak kelihatan itu menjadi kelihatan. Ini namanya Sulap, bim salabim – ini bukan iman. Ayo coba bayangkan kamu bakal dapat ‘Mercedes’, bayangkan kamu bakal dapat pekerjaan dalam minggu-minggu ini, pikirkan dan imajinasikan, dan ‘imani’ percaya bahwa Tuhan akan memberi, hmm...kembali saya katakan ini namanya sulap bukan iman.

Saya melihat kekristenan jaman sekarang akhirnya jatuh kepada keberhalaan pemberian Tuhan bukan kepada Tuhan, kita lebih mau pemberian – ‘berkat’ dalam hal ini daripada mau Tuhan. Akhirnya melegalkan bahwa otomatis kalau kita dekat dengan Sang Pemberi maka otomatis kita akan diberiNya pemberian-pemberian itu. Dia kan Tuhan yang kaya, tidak mungkin Dia tidak memberi. Hmm..Apa benar yah Tuhan selalu memberi apa yang kita mau? Kebanyakan akhirnya kita melegalkan segala konsep untuk mempertahankan konsep bahwa Allah adalah Allah yang menyediakan segala kebutuhan kita, sesuai dengan kehendak kita, kalau Allah sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan kita, maka saya akan tinggalkan Allah.

Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Betul sekali ayat ini, tapi berapa banyak dari kita melihat bahwa ketika Allah memberikan kita roti dan ikan, tapi kita seringkali melihatnya sebagai ular dan batu, seringkali yang kita minta kepada Allah seolah-olah adalah roti dan ikan walaupun kenyataannya adalah ular dan batu, untuk itulah Allah tidak memberi ular dan batu kepada kita karena Dia tahu yang terbaik untuk kita, walaupun kita tetap bersikeras bahwa ular dan batu itu adalah roti dan ikan bagi hidup kita.

07 December, 2009

I'll Be Honest - My Space and Facebook

Mengkritisi Lagu Mengampuni Jason

Ketika Hatiku Tlah Disakiti
Ajarku Memberi Hati Mengampuni
Ketika Hidupku Tlah Dihakimi
Ajarku Memberi Hati Mengasihi

Reff:
Ampuni Bila Kami Tak Mampu Mengampuni
Yang Bersalah Kepada Kami
Seperti Hati Yesus Mengampuni
Mengasihi Tiada Pamrih


Dalam lagu ini mau mengajarkan kita tentang bagaimana mungkin kita telah disakiti, atau hidup kita dihakimi maka kita minta Tuhan mengajar kita supaya bisa memberi hati yang mengampuni dan memberi hati yang mengasihi, untuk bagian bait ini mungkin tidak terlalu kentara kesalahannya. Namun ketika memasuki reffrainnya, dikatakan. Ampuni bila kami tak mampu mengampuni. Hmm...apa benar ini yang Tuhan ajarkan? Bukannya Tuhan mengajarkan kalau kita tidak bisa mengampuni orang lain maka kita tidak akan diampuni ini ada di Doa Bapa Kami, akhirnya kita menjadi seenaknya karena saya tidak bisa mengampuni orang lain tapi saya mau Tuhan tetap mengampuni saya. Kemudian diteruskan seperti hati Yesus mengampuni, mengasihi tiada pamrih, hmm...maksudnya apa, maksudnya kita mau supaya dengan kita tidak mengampuni orang lain, lalu kita melegalkan dan bilang Yesus aja mengampuni tanpa pamrih, demikian saya seharusnya diampuni juga tanpa pamrih, tanpa harus mengampuni orang lain. Hmm...sangat-sangat membingungkan.

Namun lagu ini banyak diminati di dalam kalangan Kristiani, kita seringkali terjebak dengan indahnya iringan musik tanpa mengerti kebenaran di dalam lirik lagu-lagu tersebut. Kalau kedengaran enak di kuping udah pasti benar, kalau bisa menjamah hati, sudah pasti benar? Hmm...apa benar? Ini namanya keegoisan, kebanyakan lagu-lagu kontemporer akhirnya berakhir hanya kepada kepuasan diri, pokoknya selama saya puas lirik menjadi nomor dua.

Mari sama-sama kita kembali berpikir secara tajam dalam memilih lagu dan mengarang lagu, harus diperhatikan baik-baik jangan sampai akhirnya kita terjebak dalam prinsip yang salah dan bertentangan dengan iman Kristen yang sesungguhnya.

03 December, 2009

Kebohongan Kesaksian Neraka

Saya banyak mendengar orang bersaksi tentang perjalanan mereka ke neraka, hmm...bukannya saya tidak percaya sih, tapi buat apa percaya kepada mereka toh semuanya sudah tertulis di Alkitab, apakah Alkitab tidak menjadi otoritas tertinggi di dalam hidup kita dan di dalam pengenalan kita akan neraka. Bahkan salah satu kesaksian yang dikatakan seperti ini "Waktu saya ke neraka, neraka tuh ulatnya ngak mati-mati, jadi benar yang dikatakan Alkitab" --- Tunggu-tunggu, berarti selama ini Alkitab tidak valid, atau tidak sepenuhnya valid sampai ada orang yang perlu menyatakan bahwa Alkitab itu benar adanya karena orang tersebut sudah pergi ke neraka, jadi mana yang lebih tinggi otoritasnya? Berarti bagi mereka, kesaksian merekalah yang meneguhkan kebenaran Alkitab, ini sudah jelas pemikiran yang tidak sehat sama sekali.

Banyak orang pergi ke neraka, bolak balik, udah kayak bolak balik Sydney Jakarta kali, dengan begitu gampang mereka menceritakan kesaksian ketika mereka mengalami semua hal tersebut. Hmm...sebenarnya tujuan kesaksiannya apa sih? 1. Apakah untuk meneguhkan kebenaran Alkitab? 2. Untuk menakut-nakuti manusia untuk takut kepada neraka tapi tidak takut kepada Allah? --- Manusia pasti tidak ada yang mau masuk neraka, tapi banyak yang mau masuk surga tapi tidak mau menerima Yesus dan menjadikan Yesus sebagai harta dalam hidupnya, karena masih banyak yang mereka pegang dalam hidupnya -- kitapun kerapkali masih berada di posisi seperti itu, mau surga tapi tidak mau Tuhan.

Ujung-ujungnya orang bertobat karena supaya tidak dihukum supaya tidak masuk neraka, tapi supaya mendapatkan keselamatan itu sendiri, ini namanya egois, toh sebenarnya kita sepatutnya dihukum dan semuanya layak masuk neraka, tapi syukur dalam Kristus Yesus kita diselamatkan, namun kita diselamatkan bukan untuk diri kita, supaya kita bisa lepas dari neraka, bukan itu yang menjadi satu-satunya tujuan dalam hidup kita, tujuan hidup kita diselamatkan adalah untuk memuliakan Dia dan menjadi 'kristus-kristus' kecil di dunia ini yang berada di dalam rancangan besar Tuhan.

Jadi kalau ada orang kesaksian orang pergi ke neraka, saya akan mempertanyakannya dengan tajam dan kritis, karena akhirnya kesaksian bisa dibuat-buat, atau hanya karena emosi, atau karena pernah baca ayat-ayat Alkitab tentang neraka, kemudian mulai menghayal neraka itu seperti apa. Apakah dengan kesaksian itu maka kita akan lebih percaya neraka itu ada? Berarti kita tidak percaya bahwa apa yang dikatakan Alkitab adalah benar adanya, akhirnya kita akan terpengaruh oleh kesaksian orang lain ketimbang kesaksian Alkitab, dan kalau tidak hati-hati maka kita akan mulai mendewakan manusia yang dianggap seolah-olah memiliki otoritas tertinggi.

Pujian ngak ngangkat

Aduh pujian hari ini koq ngak ngangkat? Emang apa sih pujian yang ngangkat itu? Kalau ditanya susah juga jawabnya, ayo coba deh jawab, pujian yang ngangkat itu definisinya apa? Pujian yang menyentuh hati? Pujian yang bisa bikin kita senang, happy, bisa bikin nangis juga? Pujian yang membuat kita 'berubah'? - at least untuk saat kita menyanyikan pujian tersebut.

Rasanya kita terlalu egois menjadi orang Kristen, kalau ada lagu yang bagus, musik yang bagus baru dah saya nyanyinya lebih bagus, kalau ada lagu baru yang irama musiknya saya senang, misalnya jazz, pop, rock, disco, dangdut baru deh itu namanya bagus karena mengikuti jaman. Akhirnya kita jatuh di dalam legalisme diri, karena saya suka rock maka saya akan pakai musik rock untuk memuji Tuhan, kalau musik himne kayaknya agak terlalu 'daggy' tidak keren dan tidak bisa bikin kita enjoy.

Kitalah yang menjadi sumber pujian tersebut bukan Tuhan, kita maunya enaknya kita saja, kalau lagunya enak dan senang dan membuat saya bahagia dan damai sejahtera itulah pujian yang ngangkat, kalau ngak berarti jangan pernah dipakai lagi lagu itu. Sebelumnya memang kita harus men-filter lagu-lagu yang dinyanyikan, apa tujuan lagu tersebut diciptakan, bagaimana liriknya, siapa yang mengarang, jenis musiknya bagaimana, semuanya harus dipertimbangkan matang-matang, jangan sampai kita memilih lagu pujian hanya karena enak didengar di telinga baik dari musik maupun liriknya.

Saya melihat banyak lagu-lagu Kristen kontemporer yang berkembang demikian pesatnya tapi tidak memiliki dasar Alkitab yang jelas, memang kedengarannya ok ok saja, tapi kalau kita telaah lebih lanjut terdapat unsur-unsur humanisme yang sangat kuat sekali, walaupun saya tidak memungkiri adanya lagu-lagu Kristen kontemporer yang mempunyai kualitas tinggi juga.

Baiklah sama-sama kita merenungkan kembali ketika kita memuji Tuhan apakah benar kita memuji Tuhan sungguh-sungguh karena Tuhan sudah lebih bekerja dalam hidup kita, atau kita hanya memuji Tuhan supaya kita 'disegarkan', supaya kita dipuaskan melalui pujian tersebut?

It Will Cost you Everything

02 December, 2009

Kehilanganku Mendapatkan-Mu

Waktu bayi, aku senang sekali kalau susu datang menghampiri
Beranjak anak-anak, mainanlah yang membuat hidup semarak
Namun saat dewasa, kudamba kebahagiaan dalam kesuksesan
Kupikir semua itu bisa kudapat dalam harta dan kemewahan

Sampai suatu saat, 'ku bertobat, mengenal Sang Juruselamat
Hidupku dipenuhi berkat dan acapkali 'ku takjub akan mujizat.

'Ku kerja mati-matian, manfaatkan kesempatan, keruk keuntungan.
Namun semakin banyak kudapat, semakin takut aku kehilangan.
Semakin 'ku hidup berkelimpahan, semakin takut aku 'kan kemiskinan.
Aku berusaha habis-habisan, menjaga semua yang telah kudapatkan

Aku tak tahu lagi apa yang jadi tujuan, aku hanyut oleh kelimpahan
Aku melihat kasih Tuhan, kasihNya kurasakan melalui pemberian
Tapi jujur kukatakan, aku menikmati pemberian lebih daripada Tuhan.
Sampai suatu saat, Dia berbicara dengan bahasa kehilangan.

Suatu saat, tanganNya terangkat, maka hilanglah seluruh berkat.
Namun sangat ajaib! Sang Pemberi berkat kurasa hangat mendekat.
Suatu saat tanganNya kuat menekan, maka hilanglah kesehatan.
Dan harapan pun beralih pada Sang Sumber Hidup yang maha mapan
Suatu saat aku berteriak, tapi doaku bagaikan sirna ditelan hampa
Di situlah aku belajar mempercayai Dia bukan dengan cara fana

Pada saat aku memiliki dunia, sebenarnya aku tidak merasakan DIA.
Pada saat aku kehilangan semua, barulah kusadari sepenuhnya,
Kalau sebenarnya telah kudapatkan semua, bahkan lebih dari semua

Suyanto Japara

01 December, 2009

Adolescence – Mark Driscoll

Perubahan

Perubahan sangat sulit dilakukan, berubah untuk menjadi lebih buruk mungkin lebih mudah dibandingkan berubah untuk menjadi lebih baik, seringkali ketika kita belajar untuk berubah kita mengandalkan kekuatan sendiri, seolah-olah kita yakin kita bisa merubah diri sendiri. Tapi pada kenyataan akhirnya bahwa hanya Tuhanlah yang dapat mengubah hidup kita ke arah kesempurnaan yang abadi.

Setiap hari, kita tahu bahwa berbuat baik itu adalah baik adanya -- namun pada kenyataannya kita malah melakukan yang buruk adanya. Karena kita masih hidup di dalam daging berarti bahwa setiap hari kita harus berperang melawan kekuatan yang datangnya dari dalam yaitu diri kita sendiri. Perubahan bukannya sesuatu keadaan tapi suatu proses, seringkali manusia cenderung menganggap perubahan itu adalah suatu posisi di mana tidak perlu lagi adanya perubahan, artinya bahwa kita sudah 'berubah' -- namun benarkah seperti itu? Sudah pasti tidak, kita senantiasa berubah, dan kita harus senatiasa berubah walaupun kerapkali usaha kita itu mungkin belum mendatangkan tanda-tanda yang signifikan, namun bukan berarti kita malah lari dari proses perubahan tersebut.

Marilah kita sama-sama berubah untuk semakin serupa Kristus, susah? Tentu susah, karena kita masih cinta akan diri kita ketimbang cinta kepada Allah. Namun hanya dengan kekuatan Roh Kuduslah yang akan memampukan kita untuk senantiasa berubah.