Recent Posts

29 June, 2009

Domba, Serigala, Ular dan Merpati

Matius 10:16 Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Ayat ini tentunya tidak asing lagi di telinga kita semua bukan, seringkali ayat ini dikatakan tanpa mengerti konteks yang benar yang dimaksudkan oleh Tuhan. Tuhan berbicara mengenai penderitaan dan penganiayaan -- oleh karena kebenaran Yesus Kristus yang hakiki.

Kita ini seperti domba, yang tidak punya arah tujuan sebelumnya, tapi syukur karena di dalam Kristus kita memiliki tujuan, yaitu tujuan untuk senantiasa memancarkan kemuliaan Tuhan di dalam Kristus Yesus. Tapi bukan berarti ketika kita sudah menjadi domba, kita akan selalu menikmati padang rumput yang hijau, air yang tenang -- tidak -- bahkan Tuhan mengutus kita di tengah-tengah serigala, demikianlah kita menjadi orang Kristen harus sadar bahwa ketika kita menjadi orang Kristen bukan berarti kita tidak akan mengalami penderitaan dan penganiayaan, justru semenjak kita menjadi orang Kristen, itulah waktunya kita siap menderita dan siap dianiaya untuk mempertahankan iman Kristen kita di dalam Yesus Kristus. Jadi kalau kita mungkin menjadi orang Kristen hanya karena mau diberkati oleh berkat jasmani dan berkat rohani (kerajaan Surga), baiklah kita kembali meng-intropeksi diri lagi.

Penganiayaan dan penderitaan yang kita alami mungkin bukan secara fisik, melainkan secara mentalitas kita akan dianiaya, ketika kita menyatakan iman kita, mungkin teman-teman kita akan menjauhkan kita, akan membenci kita, itu adalah salah satu contoh aniaya dan penderitaan yang bukan bersifat secara fisik. Dan kalaupun penganiayaan dan penderitaan yang kita alami secara fisik oleh karena mempertahankan kebenaran Firman Tuhan, berbahagialah juga, karena "Berbagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah empunya Kerajaan Sorga" -- Matius 5:10

Tuhan mengijinkan kita tinggal di dunia ini bersama dengan serigala-serigala, tapi Dia tidak tinggal diam, Dia yang akan senantiasa memberikan pertolongan, waktu kita membutuhkan, yah Tuhan memberikan pertolongan kepada kita pada waktu yang tepat.

Matius 10:19 Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga.

Serigala-serigala tersebut siap menerkam kita, senantiasa mencari kelemahan-kelemahan kita sebagai domba-domba Tuhan. Kita akan dibawa menghadap dunia ini, kita yang menjadi surat terbuka bagi dunia ini, menjadi satu kesaksian bagi dunia ini dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah, namun sampai sejauh manakah kita mempertahankan Kebenaran tersebut.

Saya tertarik oleh khotbah Pdt. Effendy Susanto mengenai "Roh membedakan roh" pada tanggal 14 Juni 2009. Memang benar di dunia ini makin banyak orang terima ajaran yang kelihatannya benar tapi menyesatkan. Untuk itulah kita harus peka dalam segala hal. Nah, jangankan mempertahankan kebenaran bahkan seringkali kita tidak mengacuhkan apa kebenaran sejati itu. Seringkali sifat yang malas dan tidak disiplin untuk belajar Firman Tuhan mendarah daging dalam hidup kita.

Beliau ada mengupas mengenai Joel Osteen, pendeta yang cukup besar di Amerika, kemudian saya ada menemukan video wawancara Joel Osteen dengan Larry King di youtube - Berikut transkripnya.

OSTEEN: ...essence of the Christian faith.

KING: That we live in deeds?

OSTEEN: I don't know. What do you mean by that?

KING: Because we've had ministers on who said, your record don't count. You either believe in Christ or you don't. If you believe in Christ, you are, you are going to heaven. And if you don't no matter what you've done in your life, you ain't.

OSTEEN: Yeah, I don't know. There's probably a balance between. I believe you have to know Christ. But I think that if you know Christ, if you're a believer in God, you're going to have some good works. I think it's a cop-out to say I'm a Christian but I don't ever do anything ...

KING: What if you're Jewish or Muslim, you don't accept Christ at all?

OSTEEN: You know, I'm very careful about saying who would and wouldn't go to heaven. I don't know ...

KING: If you believe you have to believe in Christ? They're wrong, aren't they?

OSTEEN: Well, I don't know if I believe they're wrong. I believe here's what the Bible teaches and from the Christian faith this is what I believe. But I just think that only God with judge a person's heart. I spent a lot of time in India with my father. I don't know all about their religion. But I know they love God. And I don't know. I've seen their sincerity. So I don't know. I know for me, and what the Bible teaches, I want to have a relationship with Jesus.

KING: The Senate apologized last week for slavery...


Osteen tidak berani mengatakan bahwa Jesus the ONLY way to go to heaven. Malah dia mengatakan ketika di India dia memang tidak tahu mengenai agama orang India, tapi dia tahu kalau mereka cinta Tuhan? Siapakah Tuhan yang dia maksudkan? Dewa Wisnu-kah, Dewa Brahma-kah? Dewa Siwa-kah? Berarti apakah dia percaya kalau kerajaan surga ada kemungkinan didapatkan melalui perbuatan baik yang dilakukan oleh manusia. Memang benar urusan masuk surga neraka ada di tangan Tuhan, tapi kita harus yakin juga bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan kebenaran dan hidup, dan bahwa tidak ada yang bisa datang kepada Bapa, karena manusia sudah rusak total, untuk itulah di dalam Kristus Yesus yang menebus kita membuat kita dilayakkan untuk menghadap Dia satu hari kelak.

Itu adalah hal yang paling mendasar, kalau hal yang paling mendasar saja tidak dicanangkan baik-baik di dalam hati, apa yang akan terjadi dengan bangunan yang dibangun di atas dasar yang tidak benar. Apa yang dipandang baik belum tentu benar, namun apa yang benar pasti baik adanya demi kemuliaan nama Tuhan.

Ketika Anda melihat video tersebut, apakah berarti Joel Osteen cerdik seperti ular ketika dia menjawab pertanyaan-pertanyaan Larry King, menurut saya pribadi tidak, karena yang dia lakukan bukanlah cerdik bagi kemuliaan Tuhan, tapi cerdik demi menyelamatkan diri dia dari pandangan-pandangan yang kritis dari orang-orang tidak percaya Tuhan, cerdik hanya untuk mempertahankan harkat dan martabat dia sebagai orang yang terkenal dan orang yang baik - tapi tidak benar.

Ular ketika menghadapi bahaya dia dengan cepat menyembunyikan dirinya di dalam batu. Ketika kita memberitahukan kebenaran Firman Tuhan yang hakiki, ketika kita mempertahankannya kemudian kita dianiaya dan menderita karena hal tersebut, biarlah penganiayaan dan penderitaan tersebut bukan menjadi "unnecessary persecution". Namun bukan berarti kita tidak usah memberitahukan dan mempertahankan kebenaran - yang dimaksudkan adalah - Korbankanlah dirimu, demi kebenaran yang sejati dalam Kristus Yesus, seperti domba, menjadi saksi yang berani, tetapi carilah cara bersaksi tanpa membuat kita terjerumus dalam penganiayaan yang terjadi karena kebodohan kita sendiri bukan karena kebenaran Firman Tuhan. Untuk itulah Tuhan ajarkan kita untuk cerdik seperti ular. Untuk segala sesuatu ada waktunya ada waktu untuk bertahan dan ada waktu untuk lari, Musa, Yeremia, Daud, Paulus, bahkan Kristus pun mengalami waktu untuk bertahan dan waktu untuk lari - karena itu Tuhan mengaruniakan hikmat kepada kita untuk bertindak. Yang paling penting adalah jangan sampai kita menjual kebenaran Kristus untuk harga diri kita, nyawa kita.

Dan tetaplah menjadi kesucian kita, menjadi tulus seperti merpati -- jangan memberikan kesempatan kepada mereka untuk menghakimi kita akan ketidak-adilan kita, kerusakan moral kita, tapi jagalah senantiasa reputasi kita untuk bersih selalu, supaya jangan sampai pelayanan kita dicela.

2 Korintus 6:3 Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela.

28 June, 2009

Harta terpendam dan Mutiara yang Indah

Matius 13:44. "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

Matius 13:45 Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.

Matius 13:46 Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."


Ketika kita melihat kerajaan Sorga, yaitu di dalam Kasih Karunia Yesus Kristus yang menebus dosa kita melalui karyaNya di atas kayu salib, kita melihat hal yang tidak ternilai, tidak bisa dinilai (priceless), karena terlalu mulia pergorbananNya. Dia begitu mengasihi kita sehingga kita menjadi berharga bukan karena kita berharga maka Dia mengasihi kita - Sola Fide (by Grace Only) -- Irresistable Grace.

Kita melihat segala sesuatu mengenai karya tersebut yang tidak ternilai dan paling terindah, maka kita akan rela menjual segala apa yg menjadi milik kita, artinya kita rela mengorbankan segala sesuatu yang mungkin menghalangi kita sehingga kita tidak melihat Kerajaan Surga tersebut, dalam hal ini kasih karunia, karena kerajaan surga adalah satu kasih karunia bagi kita di dalam Kristus Yesus. Biarlah kita rela "menjual segala milik kita" dan mengalihkan segenap hati dan memusatkan seluruh hidup kita kepada Kristus saja. Karena Dia yang senantiasa memberikan kepada kita kasih karunia demi kasih karunia. Sepatutnyalah kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, totalitas diri, satu komitmen yang benar-benar kita tujukan kepada Tuhan.

Roma 12:1. Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

25 June, 2009

Air hidup yang memuaskan

Yohanes 4:13 Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,

Yohanes 4:14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."


Kalau artikel yang saya buat sebelumnya mengenai perempuan Samaria yg berada di sumur, kedua ayat di atas masih membuat saya tertarik untuk membagikan satu topik lagi supaya dengan kasih karunia Allah ayat-ayat tersebut dapat menyentuh kedalaman hati saya dan hati Anda.

Ada 2 macam air, yang satu air secara jasmani, dan yang satu lagi air secara rohani. Dengan mulut kita, kita meminum air yang bersifat jasmani sedangkan untuk meminum air hidup itu adalah dengan hati kita, hati kita tidak akan pernah bisa menerima air hidup itu, kalau keadaan hati kita yang rusak ini tidak diperbaiki Allah.

Demikianlah yang terjadi dalam kehidupan perempuan Samaria ini, mungkin 5 kali kegagalan pernikahannya entah karena dia tidak puas dengan bekas suaminya atau suaminya tidak pernah puas dengan dia, sehingga ada luka yang dalam sekali menyayat hatinya, mengikat serta menutup mata rohaninya untuk melihat air hidup yang ditawarkan oleh Tuhan. Perempuan ini tidak mengetahui bahwa masalah hidupnya bukanlah karena faktor eksternal, tapi semuanya adalah karena faktor internal.

Perempuan ini, berharap Tuhan memuaskan dahaganya lewat air yang bersifat jasmani sedangkan Allah menawarkan air hidup untuk kehidupan rohani perempuan ini. Berapa banyak dari kita seringkali menitikberatkan dan mengantungkan hidup kita kepada air jasmani yang Yesus tahu itu tidak akan pernah memuaskan hidup kita, karena kita tidak tahu apa yang kita butuhkan -- yang kita butuhkan adalah air hidup yang mengubah hati kita.

Manusia selalu ingin mengejar kepuasan, manusia selalu haus akan dahaga, bukan akan air yang hidup tapi akan air yang jasmani, mungkin kita tidak pernah puas akan pekerjaan kita, selalu mau yang lebih, atau kita tidak pernah puas akan istri kita, suami kita, anak-anak kita, atau kita dahaga akan mobil, game-game yang baru, acara-acara TV yang baru dan menarik, film-film di bioskop yang baru dan keren, gaya rambul model kini, lemari baju Anda, setting-an komputer kita, software-software baru, internet, tempat kita tinggal -- hati-hatilah karena jangan sampai hal-hal tersebut yang mungkin kelihatannya hobi yang namun kerap kali hobi tersebut menghalangi kita melihat air hidup tersebut. Kalau kita tidak bisa melihatnya bagaimana mungkin kita bisa meminumnya sehingga kita tidak akan haus lagi.

Berapa banyak kita senantiasa, lebih mementingkan karir kita dibandingkan Tuhan, lebih mementingkan bagaimana kita meningkatkan untuk hidup yang layak menurut ukuran manusia dibandingkan lebih meningkatkan pengenalan kita akan Tuhan melalui kebenaran FirmanNya. Semuanya karena identitas diri kita masihlah idnetitas diri dunia, yang senantiasa ini memuaskan kehidupan manusiawi kita tanpa menyadari yang kita perlukan adalah kepuasan manusia rohani kita -- karena Tuhanlah yang memuaskan kita bukan karena kepuasan dunia, namun karena kepuasan rohani, tanpa kepuasan rohani, maka kita tidak akan pernah puas di dunia ini. Kepuasan jasmani tidak terbatas, selalu mau lebih lebih dan lebih, sedangkan kepuasan rohani terbatas atas kasih karunia Allah yang dianugerahkan kepada kita.

Berapa banyaknya pun yang kita minum di dunia ini tidak akan pernah bisa memuaskan kita sebagai manusia yang penuh dengan keinginan, Tuhan tahu bahwa manusia tidak akan pernah bisa puas akan hal yang bersifat jasmani, untuk itulah Dia memberikan air hidup itu yang berkuasa menghentikan kepuasan jasmani manusia dan bertolak kepada kepuasan rohani.

Air hidup itu sudah diberikan kepada kita melalui kasih karunia Allah untuk kita semua, minumlah air tersebut yang akan menghentikan keinginan kita untuk mengejar kepuasan jasmani. Mari datanglah kepada Yesus karena hanya Dia yang bisa memuaskan segala kehidupan kita menurut kasih karunia Allah atas saya dan Anda.

22 June, 2009

Menjadi penyembah yang benar adalah kasih karunia

Yohanes 4:23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.

Saya tertarik sekali dengan injil Yohanes pasalnya yang keempat terutama pada ayatnya yang ke-23, di mana Yesus berkata bahwa Bapa menghendaki penyembah-penyembah yang benar yaitu penyembah dalam roh dan kebenaran. Yesus menekankan bahwa penyembah yang benar tidak terpaku pada tempat, tempat bukanlah menjadi masalah, entah di gunung, entah di Yerusalem, entah di rumah, entah di mana saja kita berada, seharuslah kita menyembah, dan Tuhan menekankan yang paling penting adalah bagaimana dan kepada siapa kita menyembah itulah yang menjadi satu essensi dalam penyembahan.

Penyembahan yang berasal dari kata, proskuneo - yang berasal dari akar kata pros (kepada, ditujukan) + koo'-ohn (mencium, atau seperti anjing yang menjilat tangan majikannya) - ketika kita menyembah, adalah bahwa tindakan kita menyerahkan segala sesuatu, kepada Tuhan, menyatakan bahwa kita ini manusia yang berdosa yang tidak punya, dan tidak bisa apa-apa, tidak berdaya tanpa Allah, inilah arti menyembah. Setiap waktu di dalam hidup kita sudah selayaknya kita menyembah Tuhan, artinya bahwa kita tunduk kepada Dia, dan percaya bahwa di luar Dia tidak ada Allah lain yang seperti Dia. Tindakan inilah yang dikatakan penyembahan. Setiap hari yang kita lakukan biarlah kita senantiasa menyembah Dia, yaitu dengan selalu tahu dan sadar bahwa kalau kita bisa ada sebagaimana kita ada, dan diselamatkan semata-mata karena kasih karunia saja bukan hasil usaha kita. Ketika kita bekerja mendapatkan uang, ketika kita belajar, ketika kita memiliki keluarga, yah semuanya ini adalah harus kita jalani dengan sikap menyembah kepada Tuhan.

Saya sendiri kaget sesaat mengapa Tuhan memberitahukan tentang bagaimana menyembah Tuhan dalam roh dan kebenaran kepada seorang perempuan pendosa yang mempunyai 5 suami, dan yang sekarang tinggal bersama dia bukanlah suaminya. Kejadiannya adalah ketika Yesus sedang kembali ke Galilea Dia harus melewati Yudea disitulah Dia bertemu dengan seorang perempuan yang sedang menimba air di sumur Yakub. Dan Tuhan meminta air kepada perempuan ini. Inilah jawaban perempuan tersebut.

Yohanes 4:9 Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)

Yesus, yang tadinya haus dan meminta minum terbalik berkata kepada perempuan tersebut tentang air hidup, aneh sekali bukan. Dan dikatakan seperti ini:

Yohanes 4:10 Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup."

Benar, Tuhan datang ke dunia ini untuk memberikan kehidupan kepada kita, kita yang penuh dosa ini tidak bisa hidup tanpa Dia, tanpa keselamatan dari Allah seharusnyalah kita orang-orang yang patut dihukum. Dan semuanya ini adalah karunia Allah, jika kita tahu karunia Allah, maka Allah telah meminta kepadaNya dan Dia telah memberikan air hidup itu. Saya mengaris-bawahi kata telah, karena memang benar keselamatan itu bukan karena usaha kita, tapi karena kasih karunia Allah, dan ketika kita dipanggil dan dipilih Allah, kita telah masuk di dalam kasih karunia tersebut. Menjadi seorang penyembah yang benar adalah satu karunia, bukan karena kita bisa menyembah, bukan karena kita pintar dalam menyembah, TIDAK, semuanya adalah karena kasih karunia Allah, Allahlah yang mendorong roh kita untuk menyembah dalam menyembah Dia dalam kebenaran. Dan orang-orang yang lahirkan dari Roh adalah roh, jadi ada satu keadaan di mana roh kita tidak dikualifikasikan sebagai 'roh' yakni ketika kita tidak lahir dari Roh. Ini adalah percakapan Yesus dengan Nikodemus pasal sebelumnya.

Yohanes 3:6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.

Manusia tidak dapat menyelami pikiran Allah, demikianlah perempuan ini menjawab karena dia tidak mengerti apa yang dimaksud Tuhan dengan air hidup tersebut,

Yohanes 4:11 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?

Yohanes 4:12 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?"


3 alasan yang diutarakan kepada Yesus, yang pertama adalah --

1. Tuhan Engkau tidak punya timba
Berapa banyak dari kita seringkali meragukan Tuhan, ketika kita menyembah Tuhan kita menipu Tuhan, kita tidak menyembah Dia dalam roh dan kebenaran, karena walaupun kita menyembah Dia tapi hati kita jauh dari Dia (Matius 15:8), kita memiliki keraguan ketika kita menyembah Dia, ketika kita seharusnya menyerahkan segala kehidupan kita di dalam tangan Dia, sering kali kita berasalan dan meragukan bahwa Tuhan tidak kelihatan, bahwa Tuhan tidak memiliki timba -- sesuatu yang kelihatan oleh umat manusia untuk menanggulangi masalah manusia, manusia lebih cenderung mengandalkan apa yang dibuat oleh tangan manusia itu sendiri, satu alat yang dipercaya bisa membantu kita keluar dari masalah kita dan memberikan kesegaran dalam hidup kita. Percayalah Tuhan bisa memberikan kita air hidup dengan timba ataupun tidak dengan timba, sebab Dia Allah yang berkuasa, janganlah ragu akan Dia.

2. Sumur ini sangat dalam
Berapa banyak dari kita ketika kita menyembah Tuhan, ketika kita mau menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan, kita selalu senantiasa melihat apa yang menjadi masalah, apa yang kelihatan oleh mata manusia selalu dianggap yang paling benar, sehingga menghambat penyembahan kita. Bagaimana Tuhan bisa memberikan saya kesegaran lewat air hidup, sumur ini dalam sekali itulah yang sering kita katakan, bagaimana mungkin Tuhan bisa memberikan kesegaran, masalah saya dalam sekali, dosa saya dalam sekali. Mungkin -- dan pasti, karena kasih Allah begitu dalam sehingga Dia memberikan AnakNya yang tunggal Tuhan kita untuk menebus hidup manusia. Berapapun dalamnya dosa saudara, berapapun dalamnya masalah saudara percayalah bahwa Allah sanggup melakukan segala perkara untuk kemuliaan nama Dia. Ketika kita disanggupkan oleh Dia untuk menyembah Dia dalam roh dan kebenaran, maka tidak ada sumur yang terlalu dalam di kehidupan kita, karena kita tahu sedalam-dalamnya sumur itu, lebih dalam kasih karunia Allah bagi kita.

3. Adakah Tuhan lebih besar dari segala di dunia ini.
Adakah Tuhan lebih besar dari orang-orang yang selalu menolong kita, mungkin teman kita, pasangan hidup kita, majikan kita yang mungkin senantiasa menolong kita dalam kesusahan baik dari segi jasmani maupun rohani. Ya, Dia lebih besar dari segalanya, entah siapapun Anda, yang mungkin dipakai Tuhan secara luar biasa, dalam menyembuhkan orang, dalam mengajar, dalam memimpin orang-orang masuk di dalam kehendak Tuhan, namun tidak lebih besar dari Tuhan kita yang sanggup memberikan air hidup itu. Untuk itu, janganlah mengidolakan pendeta, jangan sampai kita mengidolakan seorang pendeta -- bukannya mengidolakan Tuhan. Kalau kita mengidolakan pendeta maka kita akan bisa haus lagi, karena kalau kita pendeta itu berbuat kesalahan maka kita akan menjadi haus lagi, karena kesegaran yang ditawarkan hanyalah kesegaran yang bersifat sementara dan kedagingan, hawa nafsu yang hanya untuk memuaskan diri manusia. Seperti perempuan ini yang berasalan bahwa Yakublah yang mendirikan sumur itu, yang memberikan keturunannya air dari dalam sumur itu, karena perempuan ini belum mengerti sama sekali tentang air hidup tersebut, yang dia tahu hanyalah air dari sumur Yakub tersebut.

Untuk itulah Tuhan Yesus menjawab supaya perempuan ini lebih mengerti tentang air hidup yang Dia maksudkan,

Yohanes 4:13 Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,

Yohanes 4:14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."


Dalam ayat 10 dikatakan tentang karunia Allah, demikianlah dengan ayat 13 dan 14 bahwa air hidup itu, yang diberikan Allah karena kasih karuniaNya akan menyegarkan kita selama-lamanya, ketika kita menerimanya maka air hidup itu menjadi mata air di dalam hidup kita yang terus menerus memancar sampai kehidupan yang kekal. Bersyukurlah bahwa Tuhan memberikan jaminan sampai hidup yang kekal, menjamin air hidup itu akan menjadi mata air dalam dirinya, yang terus memancar, semuanya karena kasih karunia Allah.

Tetap yang namanya manusia sulit sekali mengetahui kasih karunia Allah, karena dosa manusia yang jahat sehingga sulit sekali, bahkan tidak mungkin kita bisa mengetahui kasih karunia Allah itu, kalau bukan Allah yang menyanggupkan. Di ayat 15 perempuan itu meminta Tuhan air yang hidup itu, supaya dia tidak haus dan dia berharap tidak usah datang ke sumur itu lagi untuk menimba air, perempuan itu sama sekali masih belum mengerti apa yang dimaksudkan Tuhan, perempuan ini masih melihat segala sesuatu secara manusiawi, secara kedagingan, karena apa yang menjadi tujuan perempuan itu adalah bahwa supaya dia tidak haus lagi -- hanya untuk memuaskan kebutuhan jasmaninya, dan supaya tidak bersusah payah lagi menimba dari sumur itu. Berapa banyak dari kita ketika kita menyembah Tuhan, kita menyembah Dia hanya untuk kebutuhan jasmani kita, hanya untuk memuaskan hawa nafsu kita, tanpa mengerti essensi penyembahan tersebut.

Barulah Tuhan memberitahukan dosa perempuan ini, yaitu dosa perzinahan. Entah dari mana, tiba-tiba Tuhan keluar jalur -- tadinya sedang membicarakan air hidup kemudian langsung ditanyakan kepada perempuan ini "Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini.", di sinilah bahwa Tuhan hendak memberitahukan dosa perempuan itu. Tapi memang manusia sudah bejat adanya, tidak mau mengaku akan dosanya, melainkan dikatakan "Aku tidak mempunyai suami", berapa banyak dari kita tidak pernah mau mengakui kesalahan kita, ketika kita berdosa, dan memang kita orang berdosa tapi tidak pernah mau mengaku dosa kita, melainkan bersilat kata dengan Tuhan. Kalau saya sebagai manusia di sana, pasti saya akan berpikir bahwa perempuan itu masih seorang diri, namun tidak di hadapan Allah, Dia mengetahui bahwa perempuan ini sudah memiliki 5 suami dan yang hidup dengan dia sekarang ini adalah bukan suaminya (kalau jaman sekarang kumpul kerbau kali yah) -- Tuhan tahu segala dosa kita, Dia tahu ketidak-berdayaan kita. Kita tidak berbeda dengan perempuan ini, berapa banyak kerap kali, kita berzinah, kita menyeleweng dari perintah Allah, semenjak kejatuhan manusia -- manusia senantiasa memberontak kepada Allah.

Lucunya manusia, yah namanya manusia kalau sudah dikasih tahu tapi malah berbicara yang lain dan tidak mau membicarakan soal dosa atau kesalahan kita. Berapa banyak dari kita ketika kita sudah salah, tapi senantiasa kita tidak mau membicarakan masalah tersebut. Inilah yang terjadi kepada perempuan Samaria tersebut mengatakan

Yohanes 4:19 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.

Yohanes 4:20 Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah."


Entah dari mana, tiba-tiba perempuan ini malah bertanya kepada Tuhan, tentang pandangan Tuhan terhadap penyembahan. Inilah tujuan utama Tuhan juga yang mau Tuhan sampaikan dari pertama kali, dari ayat-ayat sebelumnya, Tuhanlah yang mengatur segala sesuatu yang akhirnya mempimpin kepada kebenaran yang Dia mau sampaikan kepada umat manusia.

Yohanes 4:21 Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.

Yohanes 4:22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.

Yohanes 4:23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.

Yohanes 4:24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."


Perumpamaan tentang air hidup ini disebutkan lagi dalam pasal yang lain, yaitu pasal yang 7, ada hubungan yang kuat tentunya antara air yang hidup itu dengan penyembahan yang benar.

Yohanes 7:37 Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!

Yohanes 7:38 Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup."

Yohanes 7:39 Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan.


Oleh kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus yang menebus dosa-dosa kita, kita dilayakkan untuk menyembah Dia, menyembah Dia dalam roh dan kebenaran, yaitu ketika Roh Kudus (air hidup) itu memampukan, menguatkan, menyegarkan roh kita untuk menyembah Dia, berdasarkan kebenaran Tuhan yang hakiki yaitu Firman Tuhan yang hidup. Menjadi seorang penyembah yang benar adalah kasih karunia.

Bagaimana dan kepada siapa kita menyembah sangat penting sekali. Penyembahan adalah adalah penyerahan totalitas diri kita, kepada siapa kita serahkan itu sangat penting, dan bagaimana kita menyerahkan totalitas diri kita, itu pun menjadi sangat penting, menyerahkan kepada Tuhan dengan roh yang digerakkan Tuhan melalui Roh Kudus dan kebenaran FirmanNya yang menghidupkan. Namun tidak sedikit dari kita ketika menyembah mengubah obyeknya kepada kita, kita yang seharusnya menjadi subyek malah menjadi obyek, kita mengharapkan sesuatu ketika kita menyembah, ini seharusnya tidak terjadi, ketika kita menyembah kita bukanlah mengharapkan sesuatu namun ketika kita menyembah ini karena kita telah mendapatkan air hidup itu yakni Roh Kudus itu yang memampukan kita untuk menyembah, berdasarkan kasih karunia. Sesungguhnya bagi Dialah segala kemuliaan, hormat dan pujian selama-lamanya.

Penyembahan itu yang sangat nyata dalam di dalam hati kita dilandaskan akan kebenaran yang sejati akan Tuhan kita. Harus ada roh dan harus ada kebenaran. Untuk menutup artikel ini saya hendak meng-quote penyataan John Piper dalam salah satu khotbahnya.

Worshiping in spirit is the opposite of worshiping in merely external ways. It is the opposite of empty formalism and traditionalism. Worshiping in truth is the opposite of worship based on an inadequate view of God. Worship must have heart and head. Worship must engage emotions and thought.

Truth without emotion produces dead orthodoxy and a church full (or half-full) of artificial admirers (like people who write generic anniversary cards for a living). On the other hand, emotion without truth produces empty frenzy and cultivates shallow people who refuse the discipline of rigorous thought. But true worship comes from people who are deeply emotional and who love deep and sound doctrine. Strong affections for God rooted in truth are the bone and marrow of biblical worship.


Saya sebagai manusia mempunyai keterbatasan untuk menjelaskan Allah yang tidak terbatas, jadi jikalau ada masukan yang bisa membuat artikel ini menjadi lebih baik lagi sehingga memancarkan kemuliaan Tuhan lebih sungguh lagi, saya terbuka atas saran-saran dan masukan-masukan Anda sekalian. Akhir kata marilah menyembah Tuhan di segala hal, di dalam roh dan kebenaran. Tuhan memberkati.

19 June, 2009

Jangan kamu kuatir

Tuhan tahu benar-benar bahwa uang, kekayaan akan menjadi salah satu penghalang kita untuk dekat dengan Tuhan, tidak ada salah menjadi orang kaya, tapi adalah salah kalau kita menyimpan kekayaan tersebut. Kaya yang saya maksudkan di sini tidak bisa diukur dari segi kuantitas -- kaya di sini berarti Anda dan Saya merasa memiliki segala sesuatu itu, karena bagi orang kaya (orang yang punya banyak uang atau punya sedikitpun)-- karena mereka cenderung akan mencari lebih dan lebih, mencari kehidupan yang menurut manusia lebih layak, kehidupan yang lebih layak hanya ditentukan dari standar manusia mengenai berapa banyak yang bisa kita simpan, berapa banyak properti yang bisa kita investasi, berapa banyak keuntungan yang bisa saya keruk dari usaha saya, mobil yang lebih bagus, rumah yang lebih besar, pekerjaan yang lebih menguntungkan. Lebih, lebih dan lebih, manusia ingin lebih.

Untuk itu Yesus tahu, kita tidak bisa mengabdi kepada dua tuan (Matius 6:19-24) - Yesus tahu, manusia akan cenderung kuatir akan hidupnya sehingga mereka akan berusaha mengumpulkan harta di bumi, mereka takut akan hari esok, mereka lebih percaya kalau mereka bisa punya kekayaan yang lebih banyak maka hari depan mereka akan lebih terjamin -- Sama sekali salah, ini berarti kita tidak mengandalkan Tuhan. Kita lebih mementingkan untuk mengumpulkan harta di bumi ketimbang mengumpulkan harta di surga, salah salah contoh bagaimana untuk mengumpulkan harta di surga adalah dengan tidak mengumpulkan harta di bumi, lain kali akan saya lebih bahas lebih banyak lagi mengenai mengumpulkan harta di surga.

Tuhan tahu manusia senantiasa melihat obyek -- apa yang kelihatan, materi -- di Matius 6:21-22 -- secara tiba-tiba Tuhan berbicara mengenai mata, padahal dalam perikop itu Tuhan sedang membicarakan uang, jadi ada satu hubungan yang kuat antara mata ini dengan kekayaan. Jagalah mata hati kita untuk senantiasa memandang kepada kemuliaan Tuhan yang sejati.

Tidak mungkin kita bisa mengabdi kepada 2 tuan, kalau kita mulai mencintai kekayaan, uang, maka kita tidak mencintai Tuhan, demikian sebaliknya. 2 hal ini tidak dapat berjalan secara bersamaan -- ketika kita mencintai Uang, berarti kita membenci Tuhan, kalau kita setia mencari uang untuk memuaskan kita maka kita tidak akan mengindahkan Tuhan. Sekali lagi saya katakan tidak ada salah mencari uang yang banyak, yang salah adalah menyimpannya. Kalau kita bisa menghasilkan uang lebih dari orang lain yang bisa hasilkan ini bukanlah berarti kita harus menyimpannya lebih, ini hanya berarti Tuhan memberikan kepercayaan kepada Anda untuk memberikan lebih kepada orang lain yang membutuhkan.

Yesus tahu hal kekuatiran adalah sesuatu yang sangat besar sekali dalam kehidupan manusia. Mungkin hari ini Anda tidak kuatir -- namun bisa saja, entah dari mana tiba-tiba ketika Anda bangun pagi-pagi dan kuatir akan hidup ini -- dan yang paling besar mengenai hal kekuatiran ini adalah mengenai materi - apa yang kita makan dan apa yang kita pakai, karena kalau kita tidak mengumpulkan harta di bumi ini bagaimana kita bisa makan makanan yang enak, bagaimana kita bisa pakai-pakaian yang bagus-bagus. Hati-hatilah kalau apa yang kita lakukan hanya untuk memuaskan kehidupan semata-mata.

Oleh karena itu Yesus mengajarkan 8 senjata untuk kita mengenai kenapa kita tidak harus kuatir akan hidup ini. Biarlah kita memakai 8 senjata itu ketika kita mulai mengalami kekuatiran dalam hidup ini.

SENJATA 1 - Hidup ini lebih penting dari makanan dan tubuh ini lebih penting dari pakaian - Matius 6:25

Matius 6: 25 "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?"

Manusia mengkonsumsi makanan untuk hidup, bukan hidup untuk makan. Tubuh manusia memerlukan pakaian supaya mereka tidak malu karena telanjang, atau mati kedinginan. Dan memang manusia membutuhkan kedua tersebut untuk hidup dan menjaga tubuh ini -- walaupun kedua hal ini tidak ada sekalipun dalam kehidupan kita, kalaupun kita mati karena kelaparan, atau mati kedinginan karena tidak ada pakaian -- namun hidup kita ada di Surga - jaminan pasti dari Tuhan, dan tubuh rohani kita lebih penting dari makanan yang membuat hidup jasmani kita bisa hidup. Yesus secara implisit mengatakan bahwa ada kehidupan setelah kita mati dan tubuh kebangkitan setelah kita mati, untuk itulah selama kita di dunia ini janganlah kita kuatir akan apa yang ada di dunia ini -- apa yang hanya bersifat sementara, tapi biarlah kita senantiasa hari lepas hari yakin dan percaya bahwa ada satu kehidupan yang lebih baik setelah kita meninggalkan dunia ini, untuk itulah Paulus juga yakin, dan dia bahkan rindu untuk segera bertemu dengan Tuhan karena dia tahu bahwa kehidupan di atas lebih baik -- tiada bandingnya dengan kehidupan kita di dunia (Filipi 1:21-24) -- Mati adalah satu keuntungan bagi Paulus, dan kalaupun Paulus hidup di dunia ini, karena dia harus bekerja memberikan buah, ayat 24 dikatakan "tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu" berarti kita hidup bukan untuk diri kita sendiri lagi, tapi kita hidup untuk Kristus, dan Kristus bagi seluruh manusia.

SENJATA 2 - Kita jauh melebihi burung-burung yang diberi makan oleh Tuhan - Matius 6:26

6:26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?

Seluruh dunia ini diatur oleh Tuhan, dari cacing-cacing di tanah yang dihidupkan Tuhan untuk menjadi makanan bagi burung-burung. Burung-burung pun tidak pernah berpikir bagimana harus menabur untuk menghasilkan tuaian, tuaian tersebut juga tidak dikumpulkan dalam lumbung-lumbung. Sejenak saya berpikir benarkah burung-burung di udara tidak mengumpulkan makanan untuk persediaan musim dingin -- saya belum menelaah lebih jauh lagi, kalaupun ada burung-burung yang mengumpulkan makanan untuk musim dingin, ini bukan yang dimaksudkan. Yang dimaksudkan adalah, burung-burung pun tidak berusaha sekuat tenaga untuk menghasilkan makanan bagi diri mereka, namun tetap dipelihara oleh Tuhan -- tentu ini jangan dijadikan alasan kita tidak mau bekerja keras untuk makanan dan minuman, tapi tetap mau bisa makan dan minum. Burung-burung pun yang tidak ada kemampuan secara sadar untuk memuliakan Tuhan tetap dipelihara Tuhan, apalagi kita manusia yang dicipta menurut peta Teladan Allah, yang bisa memuliakan Tuhan -- Tentunya dia memelihara (inggris: cares = peduli) hidup kita. 1 Petrus 5:7 - Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. Jadi jangan kuatir.

SENJATA 3 - Kekuatiran tidak menghasilkan apa-apa - Matius 6:27

6:27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?

Ini sangat mudah sekali untuk dimengerti, kekuatiran tidak menghasilkan dan tidak menambah apa-apa di dalam kehidupan manusia. Memang manusia sendiri pun tidak bisa menambah umur mereka lebih panjang karena umur kita ditentukan oleh Tuhan. Misalnya kalau kita mengalami sakit penyakit yang tidak bisa diobati, di atas masalah penyakit itu kita menambah satu penyakit lagi yaitu kekuatiran yang tidak bisa membuat umur kita lebih panjang, jadi untuk apa kita harus kuatir. Oh, saya kuatir besok saya akan meninggal, apakah dengan kita kuatir hal itu akan menambah umur panjang kita, tentu tidak -- karena manusia pun tidak bisa menambah umur panjang, berapa banyakpun kekayaan kita, tidak pernah bisa membeli umur panjang, tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat menjamin umur panjang kita hanya karena dia punya kekayaan, apalagi hanya dengan kekuatiran. Tidak akan pernah bisa. Untuk itu janganlah kuatir.

SENJATA 4 - Kekuatiran tidak menghasilkan apa-apa - Matius 6:28-30

6:28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,
6:29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.
6:30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?


Hal ini mirip dengan illustrasi mengenai burung-burung di udara, namun tidak sepenuhnya. Kita lebih berharga dari burung-burung udara, namun kita juga hidup lebih lama dari rumput yang hari ini ada dan mungkin hidupnya cuman 1 - 2 hari, bahkan kita akan hidup dalam kekekalan. Mereka pun diberikan keindahan yang natural, keindahan yang alami, jangan kuatir akan apa yang kita pakai yang hanya menutupi tubuh kita yang kelihatan oleh manusia, bukankah keindahan yang di dalam (inner beauty) melebihi apa yang kelihatan. Manusia seringkali ditipu dengan apa yang kelihatan di luar, untuk itu dikatakan Salomo pun yang kaya, dalam segala kemegahannya yang dipandan oleh manusia karena mungkin dia memakai jubah yang bagus, pertama berlian 5 karat, ataupun mahkota emas, Salomo pun tidak berpakaian seindah dari salah satu bunga bakung -- bunga bakung tidak berpakaian, yang dimaksudkan di sini adalah keindahan yang natural -- yaitu keindahan Kristus di dalam kehidupan kita. Jangan berpaku terhadap apa yang kelihatan oleh mata ini, karena mata ini seringkali menipu, tapi latihlah mata rohani kita untuk senantiasa melihat keindahan Kristus. Dialah yang akan mendadani kita -- Dia mau mendadani hati kita, maukah kita didandani oleh Tuhan. Untuk itu janganlah kuatir akan hidup ini.

SENJATA 5 - Kekuatiran adalah duniawi - Matius 6:31-32a

6:31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?

6:32a Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah.

Kalau kita kuatir berarti kita serupa dengan dunia ini, untuk itu bertobatlah kalau kita kuatir. Semua hal kekayaan, kepuasan diri, semua dicari oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, kalau kita sudah mengenal Allah tentu kita tidak akan mencari semua hal tersebut di atas hanya untuk kepuasan diri semata-mata. Kita tidak akan mencari semua hal ini. Kita harus bekerja untuk mendapatkan tapi janganlah kita sampai 'mencari' dan terperangkap di dalam jeratnya.

SENJATA 6 - Bapa di surga tahu apa yang kita perlukan - Matius 6:32b

Matius 6:32b -Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.

Apakah yang kita mau belum tentu apa yang kita butuhkan, tapi apa yang kita butuhkan menurut Tuhan sudah pasti kita harus mau untuk menerima hal tersebut. Bapa di surga melebihi dari bapa di dunia ini, dan kita tidak bisa bandingkan Bapa di surga dengan bapa di dunia, karena perbedaannya sangat jauh sekali, Bapa di surga 1 trilliun lebih dari bapa di dunia. Kalau bapa di dunia baik di bandingkan dengan bapa yang di dunia yang jahat perbedaannya hanya akan sedikit sekali. Bapa di dunia yang baik sekalipun tahu apa yang kita butuhkan bukankah Dia melebihi segala bapa yang baik di dunia, mengenai bapa yang jahat di dunia sudah tentu tidak perlu dipertanyakan lagi. Untuk itu janganlah kuatir

SENJATA 7 - Tuhan akan menyediakan segala sesuatu yang kita perlukan untuk melakukan kehendakNya dan kebenaranNya - Matius 6:33

6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Bukan karena kita tidak mendapatkan segala sesuatu akhirnya kita tidak mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya, bukan juga berarti kalau kita sudah mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya berarti kita akan menerima segala sesuatu untuk memuaskan kehidupan kita yang bersifat sementara. Tuhan berkata bahwa kita akan mengalami aniaya, Paulus juga mengatakan bahwa kelaparan dan ketelanjangan akan datang kepada beberapa orang, tapi hal ini tidak akan memisahkan kita dari Kristus - Roma 8. Kalau ayat ini selalu ditafsirkan bahwa ketika kita sudah mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya maka semua hal tersebut - dalam hal ini makanan dan pakaian akan ditambahkan kepada kita - maka motivasi manusia akan terkontaminasi -- kalau saya sudah mencari kerajaan Allah dan kebenarannya kenapa saya masih hidup sengsara, kenapa saya masih tidak kaya, mengapa saya harus kerja keras untuk mendapatkan uang, mengapa saya sering ditekan oleh teman-teman kerja, oleh majikan saya. Motivasi seperti ini sudah salah, karena konsepnya salah, mau diputar bagaimanapun tetap salah, banyak yang bilang -- yah kita tidak boleh mengharapkan segala sesuatu itu, karena yang terpenting adalah mencari kerajaan Allah dan kebenarannya dan semuanya itu yang bersifat materi akan ditambahkan secara otomatis. Nah kalau hal tersebut tidak ditambahkan berarti ayat ini sudah tentu salah. BUKAN, yang dimaksudkan di sini adalah, bahwa Tuhan menyediakan segala sesuatu bagi kita untuk memampukan kita untuk melakukan kehendak Tuhan, bahkan kehendak Tuhan atas hidup kita mengenai kapan kita harus meninggalkan dunia ini. Tidak ada jaminan akan kehidupan fisik yang nyaman di dunia ini, tidak ada jaminan hidup di dunia ini - Jaminan hidup kita adalah di dalam Kristus Yesus. Tetap tidak ada ujian yang akan gagal - Tuhan senantiasa menyediakan segala sesuatu supaya kita bisa bertahan di atas ujian tersebut dan diselamatkan. Janganlah kita kuatir, selama kita hidup di dunia ini karena Dia selalu senantiasa menyediakan segala sesuatu untuk memampukan kita melakukan kehendak Tuhan dan kebenaranNya dalam hidup kita.

SENJATA 8 - Tuhan tidak akan menambah kesusahan kita yang maksimum dalam satu hari - Matius 6:34

6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."

Kasih setia Tuhan senantiasa baru setiap hari, karena Dia tahu bahwa kita manusia membutuhkan Dia hari lepas hari, hari ini punya kesusahannya sendiri, berarti bahwa tiap hari mempunyai kesusahan tersendiri dan Tuhan tahu itu, untuk itu jangan sampai kita memikul kesusahan hari esok di hari ini. Mintalah kekuatan Tuhan setiap hari untuk menguatkan kita dalam mengalami kesusahan tersebut, kesusahan tidak dapat dibuang, semua orang pasti akan mengalami kesusahan masing-masih setiap harinya, tapi syukur kepada Tuhan karena Dia tidak pernah memberikan apa yang lebih dari batas kekuatan kita, Dia tahu benar kapasitas kita untuk satu hari. Ketika kita menutup hari, biarlah kita bersyukur bahwa Tuhan telah memberikan kekuatan kepada kita satu hari, dan berdoalah senantiasa untuk kekuatan Tuhan setiap pagi. Untuk itu janganlah kuatir Tuhan tahu sekali kemampuan kita, Dia mau kita senantiasa bergantung kepada Dia.

15 June, 2009

Mujizat

Lakeland Revival salah satu kebangkitan rohani yang besar di Florida, hal ini sangat baru sekali dan lagi nge-trend sekali di media, menjadi sorotan dunia - banyak orang-orang yang sembuh dari penyakitnya hanya dengan melalui menonton acara Lakeland di televisi ataupun di Internet. Seperti dengan yang lain-lain sebelumnya Lakeland Revival adalah kebangkitan rohani yang menitik beratkan kepada tanda-tanda ajaib, mujizat, kerja kuasa Allah, kesembuhan ilahi.

Terus terang hati saya hancur sekali melihat akan begitu lebih banyak penyesatan yang terjadi di akhir jaman ini, manusia terus mementingkan diri sendiri, mau sembuh, mau bahagia berdasarkan standard manusia itu sendiri, tapi tidak berdasarkan Allah. Manusia lebih senang melihat, merasakan hal hal yang supranatural, hal-hal yang spektakuler, dan mulai mengacuhkan pentingnya kebenaran Firman Tuhan yang sejati, yang mungkin Anda dengar di persekutuan-persekutan Bible Study yang Anda anggap membosankan. Manusia cenderung lebih suka memuaskan telinganya dengan cerita-cerita isapan jempol, cerita-cerita lucu yang membuat kita tertawa tapi tanpa ada pengertian yang benar mengenai Allah. Tapi memang inilah yang sudah ada tercantum dalam Alkitab

2 Timotius 4:3-4

4:3 Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.
4:4 Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.

Mengenai Lakeland Revival bukanlah cerita baru, sebelumnya banyak juga gerakan-gerakan yang selalu menitik beratkan kepada mujizat dan kesembuhan ilahi.

Paulus sendiri mempunyai kelemahan yang dia sudah minta kepada Tuhan namun Tuhan tidak mengabulkan doanya - karena Tuhan tahu apa yang terbaik bagi dia supaya dia terus bersandar kepada Tuhan.

Apakah berarti saya tidak percaya mujizat? Bagi saya mujizat yang terbesar yang harus selalu kita kenang adalah mujizat ketika Tuhan menjelma menjadi manusia untuk menebus dosa umat manusia -- umat pilihanNya dalam hal ini.

Mujizat dalam bahasa inggris - any amazing or wonderful occurrence. Sesuatu yang mengagumkan tidak selalu harus ketika kita kaya, ketika kita sehat, TIDAK, sesuatu yang mengagumkan bisa saja, ketika kita di dalam kesusahan - Tuhan masih ada di samping kita meberikan kekuatan, itu adalah suatu yang mengagumkan bukan, kalau Tuhan selalu senantiasa menemani kita kapan pun, di mana pun, dalam situasi bagaimanapun. Siapakah kita ini manusia berdosa, namun karena kasih karuna Pencipta kita sendiri mau bersama-sama dengan kita. Itulah mujizat yang paling besar.

Manusia cenderung terikat dengan apa yang dipandang baik di mata manusia, pekerjaan yang baik, karir yang sukses, sehingga manusia cenderung mengkategorikan mujizat adalah hal-hal yang mengagumkan berdasarkan sesuatu yang didapatkan lebih baik. Misalnya begini, kalau kita tiap hari bisa makan nasi sama tempe saja, namun satu hari kita bisa makan nasi sama ayam goreng hal ini menjadi suatu mujizat. Apakah berarti kita tidak boleh mendapatkan yang lebih baik? Tentu boleh, tapi jangan sampai hal itu menjadi yang utama dan menjauhkan kita dari Tuhan. Jangan sampai ketika kita tidak mendapat kesembuhan, pekerjaan yang lebih baik, karir yang sukses, kekayaan yang lebih berarti kita tidak mengalami mujizat -- kita bisa hidup pun itu adalah suatu mujizat -- sesuatu yang mengagumkan bukan? Jangan kita menganggap yah memang tugasnya Sang Pencipta yang harus membuat kita hidup, siapakah kita ini yang hanyalah tanah liat di tangan seorang pejunan, berani memerintah bagaimana seorang pejunan itu melakukan segala sesuatu, kita bukan di posisi untuk memberi tahu Tuhan apa yang harus Dia kerjakan, Dia tahu apa yang harus Dia kerjakan, tahukah kita apa yang harus kita kerjakan sebagai ciptaanNya itulah yang harus kita tanyakan kepada diri masing-masing.

Akhir kata hati-hatilah terhadap jaman ini...

2 Tesalonika 9-12

2:9 Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu,
2:10 dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka.
2:11 Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta,
2:12 supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan.


Saya menulis artikel ini terinspirasi dengan blog yang saya baca di Desiring God mengenai Lakeland Revival

12 June, 2009

Juallah segala yang kita miliki

Lukas 18:18-30

18:18 Ada seorang pemimpin bertanya kepada Yesus, katanya: "Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"

18:19 Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.

18:20 Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu."

18:21 Kata orang itu: "Semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku."

18:22 Mendengar itu Yesus berkata kepadanya: "Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."

18:23 Ketika orang itu mendengar perkataan itu, ia menjadi amat sedih, sebab ia sangat kaya.

18:24 Lalu Yesus memandang dia dan berkata: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.

18:25 Sebab lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."

18:26 Dan mereka yang mendengar itu berkata: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?"

18:27 Kata Yesus: "Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah."

18:28 Petrus berkata: "Kami ini telah meninggalkan segala kepunyaan kami dan mengikut Engkau."

18:29 Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, isterinya atau saudaranya, orang tuanya atau anak-anaknya,

18:30 akan menerima kembali lipat ganda pada masa ini juga, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal."


Saya tertarik segala dengan pasal ini, ketika seseorang bertanya kepada Tuhan, bagaimana untuk mendapatkan hidup yang kekal, walaupun orang ini sudah kaya sekali dan sudah melakukan banyak hal, khususnya dalam mentaati hukum taurat. Tapi apakah hal ini cukup untuk memperoleh hidup yang kekal? Orang kaya ini sangat egois tentunya semuanya dia mau, mau kaya, mau hidup yang kekal -- mau segal-galanya untuk kepentingan diri sendiri, ketika Tuhan beritahu untuk menjual segala miliknya maka dia menjadi sedih dan tidak mau, karena hidupnya sudah terikat dengan kehidupan materialistik yang melihat segala sesuatu dipandang dari segi material.

Orang kaya ini juga sudah memiliki kedudukan yang tinggi, dikatakan bahwa orani ini adalah seorang pemimpin yang bertanya kepada Yesus, jadi memang benar semuanya dia sudah punya kekuasaan, kekayaan -- tapi satu hal yang dia masih tidak punya yaitu hidup yang kekal.

Pasal ini dibuka dengan pertanyaan dia kepada Yesus "Guru yang baik apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal" -- Yesus menjawab "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja..." -- Yesus hendak mengajarkan bahwa tidak ada seorang pun yang baik selain daripada Allah saja, hal ini bukan menjadi kontradiksi bahwa Yesus adalah baik adanya dalam keilahianNya. Hal ini diungkapkan oleh Yesus sebagai satu pesan untuk kita bahwa seluruh manusia tidak ada yang baik, karena semua telah kehilangan kemuliaan Allah.

Kemudian diteruskan pemimpin ini bertanya - apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal -- dalam diri manusia ada satu usaha untuk mencari Allah, mereka percaya bahwa di luar diri manusia ada sesuatu yang lebih besar dan dari jaman dahulu manusia berusaha untuk mencari hal tersebut, untuk itulah banyak muncul aliran dinamisme dan animalisme. Tapi semua orang tidak bisa melakukan semua itu, mereka berusaha keras untuk mencapai Allah (lihat kisah menara Babel) -- tapi Allah tahu bahwa semua usaha itu adalah sia-sia belaka, karena hanya oleh AnugrahNya saja kita diselamatkan bukan karena perbuatan kita.

Kembali saya kupas mengenai hidup yang kekal, bahwa manusia cenderung serakah, mau segala-galanya -- mau yang bersifat yang kekal tapi sungkan untuk melepaskan apa yang tidak kekal -- cinta akan dunia ini. Tidak mungkin bisa memiliki keduanya karena hal tersebut bertentangan satu sama lain. Salah satu harus dilepaskan.

Yesus bertanya, Engkau tentu tahu tentang hukum taurat - Jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu. Tanpa menjawab pertanyaan Yesus, "Yah saya tahu semuanya itu" melainkan orang ini langsung menjawab "Semuanya sudah saya lakukan semenjak masa muda" -- Berapa banyak dari kita juga sering jatuh dalam hal ini, seolah-oleh kita sudah melakukan segala sesuatu yang baik dari masa muda kita, atau kita sudah merasa menjadi Kristen bertahun-tahun, sudah melayani, sudah membuat segala sesuatu untuk Tuhan. Ini adalah kesombongan yang harus ditumpas dari kehidupan kita. Jangan pernah bermegah, bahwa apa yang kita lakukan sudah baik dan sudah paling bagus, manusia mulai mengukur manusia lain berdasarnya berapa lamanya orang menjadi kristen, berapa lama orang menjadi pelayan Tuhan di dalam gereja. Kesombongan rohani? Tidak, kesombongan adalah hal yang tidak rohani, untuk itu tidak pantas disebut kesombongan rohani.

Manusia cenderung melakukan apa yang menjadi "effect" dari pertobatan, tapi tidak mengerti "essence" mengapa ia bertobat. Saya bisa saja menipu Anda dengan apa yang saya kerjakan seolah-olah baik di hadapan manusia, tapi dalam hati ini ternyata busuk adanya dan tidak berdasarkan dari Allah. Semua hanya karena anugrah Allah, tanpa Allah maka kita tidak bisa berbuat apa-apa, namun perbuatan baik kita lakukan adalah satu "effect" ketika kita sudah menerima anugrah Allah yang menjadi "essence" - jadi perbuatan baik apa pun tidak bisa dijadikan "essence" untuk mendapatkan hidup yang kekal.

Tantangan Tuhan kepada orang tersebut adalah untuk menjual segala miliknya dan bagi-bagikanlah kepada orang-orang miskin. Tuhan mengajarkan kita untuk tidak menaruh hati kita kepada harta kita, kepada apa yang kita miliki, entah itu keluarga, pekerjaan, kekuasaan dan lain-lain -- ayat ini jangan sampai disalah artikan supaya kita menjual segala sesuatu yang kita miliki dan mengikuti Tuhan, maksudnya adalah kalau sampai harta itu menghambat kita untuk mengikuti Tuhan lebih baik kita lepaskan, karena hal inilah yang mengikat orang tersebut. Tuhan tahu bahwa orang ini tidak bisa melepaskan hartanya, mungkin ada yang tidak bisa Anda dan saya lepaskan dalam kehidupan kita sekarang ini, entah itu keegoisan kita, kesombongan kita, harga diri kita, kemalasan kita yang akhirnya membuat pertumbuhan rohani kita terhambat dan tidak maju dan hanya menfokuskan diri kita terhadap hal-hal yang bersifat duniawi -- hal ini memang sulit sekali untuk itulah Tuhan katakan memang sulit sekali manusia untuk diselamatkan, karena hal ini memang tidak mungkin bagi manusia -- untuk itulah Tuhan menjawab pada ayat 27 : Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah.

"Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam kerajaan Allah" -- paling tidak ada satu hal yang membuat manusia itu menjadi kaya atau setidak-tidaknya merasa bahwa kita memiliki sesuatu, yaitu dirinya sendiri, manusia mencintai dirinya lebih dari mencintai segalanya untuk itulah hal itu menjadi yang berharga bagi diri dan berusaha agar jangan sampai ada manusia yang lain merusak hal tersebut, yaitu ego kita. Diikuti yang lainnya yang kelihatan entah itu keluarga, pekerjaan, kekuasaan dan yang lain sebagainya. Jadi yang dikatakan Yesus sebagai orang kaya, bukan hanya orang-orang yang memiliki uang yang berlimpah-limpah, tidak... kitalah orang-orang kaya itu, seluruh manusia adalah orang kaya tersebut yang kerapkali tidak berani melepaskan segala sesuatu untuk mengikuti Yesus.

Dalam ayat 28 Petrus berkata: "Kami ini telah meninggalkan segala kepunyaan kami dan mengikut Engkau." Kemudian Yesus berkata mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, isterinya atau saudaranya, orang tuanya atau anak-anaknya, akan menerima kembali lipat ganda pada masa ini juga, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal."

Hal tersebut juga bukan diartikan kita menjadi gembel yang tidak punya rumah, menceraikan istri, memutus hubungan dengan saudara, orang tua dan anak-anak, kita tidak boleh menempatkan Tuhan di nomor dua, tempatkanlah Allah di nomor satu maka kita tidak akan takut kita akan kehilangan segala sesuatu di dunia ini yang bersifat sementara adanya diri kita, keluarga, kekuasaan, kekayaan dan lain-lain. Karena ada janji yang Tuhan katakan bahwa kita akan menerima kembali lipat ganda. Memang di terjemahan Indonesia hanya dikatakan lipat ganda, sedangkan dalam bahasa inggris NIV dikatakan "No one (mereka yang meninggalkan segala sesuatu) ... will fail to receive many times as much in this age" dalam leksiko Yunani, many times as much dipakai kata "pollaplasiona" dari akar kata "pol-oos" yang berarti lebih, besar -
-- artinya bagi mereka yang meninggalkan segala sesuatu tidak akan gagal untuk menerima sebanyak apa yang diterima di jaman ini, bahkan lebih, karena apa yang kita terima adalah lebih dari segala sesuatu yaitu menerima hidup yang kekal.

Karena kerajaan Allah kita meninggalkan segala sesuatu, ayat ini bukan dibalik menjadi karena kita meninggalkan segala sesuatu maka kita akan mendapat kerajaan Allah dan hidup yang kekal, karena semuanya bagi manusia adalah mustahil tapi bagi Allah segala sesuatu adalah tidak mustahil. Justru karena kebenaran Kerajaan Allah hakiki yang dituliskan dalam Firman Tuhan, hal itu membuat kita menganggap segala sesuatu itu sampah adanya. Apa yang dikatakan Paulus adalah benar adanya ketika kita mengetahui kebenaran Allah, segala sesuatu dianggap sampah - apa yang dulu dianggap berharga adalah sampah adanya.

Marilah berdoa meminta kekuatan Tuhan agar kita dapat melihat kerajaan Allah melalu kebenaran Firman Tuhan, tentulah kita bisa "menjual" segala apa yang kita miliki.

Jikalau Anda menemukan kesalahan-kesalahan di artikel ini, saya berharap bisa komentar ke saya supaya saya bisa memperbaiki di hari-hari kemudian, karena saya hanyalah manusia biasa yang penuh dengan keterbatasan untuk menjelaskan Tuhan kita yang sempurna dan berdaulat. Tuhan memberkati

09 June, 2009

Teologia Kemakmuran

Apakah kita semua pernah mendengar teologia kemakmuran? Saya rasa kurang pantas kemakmuran itu menyandang kata teologia di depannya. Teologia yang berasal dari kata theos = Allah dan logia = perkataan, konsep, atau prinsip (a). Sedangkan kemakmuran bukanlah konsep Allah, konsep Allah adalah kehidupan manusia yang sesuai kepada kehendak Allah, kembali kepada sang Penciptanya. Entah itu bahagia, sakit, miskin dan kaya -- semuanya harus berbalik kepada Allah. Sedangkan ajaran kemakmuran terlalu menekankan bahwa Tuhan mau memberkati kita -- baik berkat rohani maupun jasmani, pertanyaannya jika kita tidak mempunyai uang apakah berarti kita tidak diberkati juga?

Kekayaan seharusnya ditakutkan bisa menjadi sumber kejatuhan manusia, karena manusia adalah serakah. Namun bukan saya melarang orang menjadi kaya, tentu boleh kaya -- tapi tidak harus, untuk memberkati orang lain kita tidak harus menjadi kaya, dan mengeruk uang sebanyak-banyaknya -- mengapa tidak diajarkan agar kita bisa lebih hidup hemat dan uang lebihnya kita bagi-bagikan kepada orang-orang ketimbang kita meminta lebih untuk bisa menjadi saluran berkat. Ini namanya memberi dalam kelimpahan, sedangkan Tuhan mengajarkan kita memberi dalam hal kekurangan -- seperti janda yang menyerahkan seluruh miliknya -- artinya bahwa hidupnya seutuhnya diserahkan kepada Tuhan.

Manusia cenderung cinta uang -- melihat segala sesuatu berdasarkan materi, dan dengan memakai topeng rohani mengatakan bahwa semuanya untuk kemuliaan Tuhan -- yang sebenarnya adalah untuk kemuliaan sendiri. Beberapa hamba-hamba Tuhan di Amerika, punya mobil BMW, Mercedes dan berkata "Inilah berkat dari Tuhan" dan merasa kemuliaan Tuhan dinyatakan -- Apakah berkat dan kemuliaan Tuhan hanya diukur dari kekayaan semata-mata, dari BMW dan mercedes, tentu tidak, kemuliaan Tuhan itu jauh lebih dari segalanya, tidak ada padanannya di bumi.

Berapa banyak dari kita, selalu mengejar yang namanya berkat jasmani dan tidak pernah mengejar kebenaran Tuhan yang sejati. Yang kita kejar adalah untuk memuaskan diri pribadi ketika ada di dunia -- jadilah di bumi seperti di surga. Apakah di surga ada uang ? Kalau memang benar-benar mau merasa surga di bumi, jangan sekali-kali kita fokuskan hidup kita dari hal materi, semua yang kelihatan ini akan lenyap, kumpulkanlah harta di surga di mana ngengat tidak akan merusaknya. Bukan berarti kita tidak mau tau dengan segala kebutuhan jasmani kita, bill, mortgage dan lain lain. Kita harus bertanggung jawab dalam hal keuangan, semuanya itu dipercayakan Tuhan untuk kita mengelolahnya berdasarkan kehendak Tuhan bukan atas dasar kehendak diri sendiri.

Semuanya itu dicari oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, tapi Bapa kita di surga tahu bahwa kita membutuhkan semuanya itu -- membutuhkan -- berarti yg menjadi kebutuhan kita yang hakiki, dalam hal ini makan, minum dan pakaian. Dan semuanya itu akan ditambahkan kepada kita, kalau kita mencari kerajaan Allah dan kebenaranNya. Semuanya yang pasti diberi adalah makanan, minuman, pakaian, kalaupun ada yang lain itu adalah Allah berikan karena satu anugrah yang harus dipakai untuk memberkati orang lain, tapi bukan menjadi satu tujuan paling penting untuk dikejar dan untuk didapatkan.

Cukupkanlah dengan hal uang -- kalau secara gamblang diartikan bahwa uang itu harus dicukup-cukupkan, kalau kurang harus cukup juga kalau lebih juga harus dicukupkan -- tapi manusia cenderung memilih yang lebih.

Lukas 3:14 - Dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya: "Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?" Jawab Yohanes kepada mereka: "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu."

1 Timotius 6:8 - Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.

Ibrani 13:5 Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."

Penulis Ibrani, tahu benar kalau uang itu bisa menjadi tuan atas kehidupan manusia, ketika manusia berharap kepada uang -- merasa kalau tidak ada uang maka hidup ini akan sengsara, jelas ini adalah konsep yang salah. Jangan sampai kita cinta kepada uang karena hal itu adalah akar dari segala kejahatan.

Saya menentang secara pribadi mengenai buku "Rich Dad, Poor Dad" - Robert Kiyosaki; pada halaman pertama, bab pertama mengatakan demikian:

For example, one dad would say, "The love of money is the root of all evil." The other, "The lack of money is the root of all evil."

Robert dengan sengaja menyelewengkan, menyisipi ajaran untuk kaya, ajaran materialistik, kalau kita tidak kaya, atau kalau kita kekurangan uang maka itu adalah akar dari segala kejahatan. Jelas-jelas salah sekali, karena dengan keinginan untuk kayalah banyak orang jatuh dalam dosa. Jelas kalau kita menjadi ayah yang kedua bahwa "the lack of money is the root of all evil" -- berarti ayah ini adalah ayah yang cinta uang, karena dia pasti berlomba-lomba untuk mencari uang supaya menghindarkan dari segala kejahatan. Sedangkan belum tentu bagi ayah yang satu lagi kalau ayah tersebut tidak cinta uang - bukan berarti dia tidak memiliki uang.

Pembaca buku ini secara tidak sadar ditipu secara halus, dan akhirnya menjerat natur manusia yang pasti akan menyetujui kalau kurang uang maka hal itu menjadi akar segala kejahatan.

Marilah sama-sama kita mencukupkan dan mengucap syukur senantiasa kepada Tuhan atas apa yang telah kita punya - belajarlah untuk tidak melihat materi/objek, melainkan senantiasalah melihat Subjek yang memenuhi kebutuhan kita. Tuhan memberkati.

John Piper's view on Prosperity Gospel

I don’t know what you feel about the prosperty gospel; the health, wealth, and prosperity gospel. But I’ll tell you what I feel about it; hatred.

It is not the gospel. It is being exported from this country to Africa and Asia. Selling a bill of goods to the poorest of the poor, “Believe this message, your pigs won’t die. Your wife won’t have miscarriages. You’ll have rings on your fingers and coats on your back.” That’s comin’ out of America!

The people that out to be giving our money and our time and our lives, instead selling them a bunch of crap called “gospel.” And here’s the reason that it is so horrible. When was the last time that any American, African, Asian ever said, “Jesus is all-satisfying because you drove a BMW?” Never!

They’ll say, “Did Jesus give you that?” Yeah, “Well I’ll take Jesus!” That’s idolatry, that’s not the gospel. That’s elevating gifts above giver.

I’ll tell you what makes Jesus look beautiful. It’s when you smash your car and your little girl goes flying through the windshield and lands, like I was with a little girl on 11th Ave two weeks ago; dead on the street for three hours before the police could let her go. And you say, through the deepest possible pain…
“God is enough, God is enough.”

“He is good. He will take care of us. He will satisfy us. He will get us through this. He is our treasure”

“Whom have I in heaven but you? And on Earth there is nothing that I desire besides you. My flesh and my heart and my little girl may fail, but you are the strength of my heart and my portion forever.”

THAT makes God look glorious, as GOD, not as giver of cars or safety or health.
Oh how I pray that Birmingham would be purged of the health, wealth, and prosperity gospel, indeed America would be purged and that the Christian church…would be marked by suffering for Christ.

God is most glorified in you when you are most satisfied in Him in the midst of loss, not prosperity.


a. The term "theology" literally means the study of God, deriving from the Greek word theos, meaning 'God', and the suffix -ology from the Greek word logos meaning (in this context) "discourse", "theory", or "reasoning". Source Wikipedia

07 June, 2009

Tuhan sebagai 'entertainer'

"Hari ini saya lelah sekali, cape rasanya, bagaimana kalau saya ke gereja siapa tahu saya bisa menemukan kepuasan di sana" pertanyaan ini sering digumamkan oleh orang-orang di jaman sekarang ini -- Tuhan memang memberikan kepuasan bagi mereka yang lapar dan dahaga akan Firman Tuhan, dan tiap hari kita lapar dan haus, kita butuh Tuhan setiap hari, bukan hanya ketika kita mengalami masalah saja, manusia cenderung mencari Tuhan hanya ketika mengalami masalah, berarti selama dia tidak mengalami masalah Tuhan tidak pernah di tempatkan di atas segalanya.

Ketika kita datang beribadah dan mengharapkan agar kita dipuaskan dan dilepaskan dari masalah hidup ini, bukankah sebenarnya kita menjadi orang yang sangat egois sekali, karena selalu memikirkan diri sendiri, tanpa melihat bahwa berapa banyak orang yang mungkin membutuhkan doa kita. Jika kita pulang dari gereja namun tidak mendapatkan apa-apa, kemudian ada perasaan -- mengapa hari ini saya tidak mendapat apa-apa? rasanya ke gereja menjadi suatu yang rutinitas? atau kerap kali ke gereja cuman mencari entertainment saja, yang sekedar hanya untuk memuaskan diri, kalau diri kita puas, kita senang, kalau kita tidak puas kita menjadi stress, marah ataupun yang lainnya. Tuhan dijadikan seorang figur yang bisa entertain kita sesuai dengan kehendak kita, kita memaksakan Tuhan untuk menghibur kita di saat kita sedih. Memang Roh Kudus diberikan untuk menghibur kita, namun tidak sepatutnya kita mengatur Tuhan bagaimana cara Dia menghibur kita, atau membuat satu tolak ukur, satu standard tingkat kepuasan dalam hal beribadah.

Tuhan jangan pernah dijadikan seorang entertainer, dia seorang comforter bukan entertainer. Manusia membuat Tuhan menjadi sumber entertainmentnya -- seolah-olah benar, dan bagus untuk dilihat orang, karena mereka tidak melakukan kejahatan yang terlihat seperti -- mabuk-mabukkan, obat-obatan, diskotik dan yang lainnya. Tapi di dalam sama bobroknya, seperti kuburan yang dilaburi dengan bunga di luar, namun penuh dengan tulang belulang di dalam. Sekali lagi saya katakan jangan pernah jadikan Tuhan menjadi sumber entertainment-mu.

Setelah manusia dipuaskan, kecenderungan manusia akan pergi melupakan segala kebaikan Tuhan lagi, berarti terbukti ketika motivasi kita datang kepada Tuhan hanya karena mencari kepuasan diri untuk kehidupan kita maka demikian kita juga cepat lupa terhadap Tuhan ketika kita sedang di daerah aman, ketika kita tidak sedang mengalami masalah, kita tidak pernah mengingat Tuhan.

Marilah teman-teman, baiklah kita senantiasa mencari Tuhan dan kebenaranNya dengan setia tanpa mengenal lelah, di saat yang bagaimanapun baiklah kita mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh melalui FirmanNya yang ajaib. Tuhan memberkati.

Inilah salah satu pernyataan John Piper mengenai Tuhan yang dijadikan sebagai sebuah entertainment.

Today we carry in our pockets radio, television, internet, and games, and anything that would be titillating, fun! And "fun" is a word in the church today that's just rampant! It's an adjective, it's a noun, it's a verb, because we do ministry in order to fit this mentality.

I'm deeply concerned about that. I want to stand for seriousness about God, instead of making him palatable by making him "fun"! Turning him into another piece of entertainment.

Saya menulis sharing ini terinspirasi dengan artikel dari John Piper mengenai How can I break free from an addiction to entertainment?

05 June, 2009

Salah siapa? Manusia, Setan atau Allah?

Dalam perjalanan saya menuju kantor, saya bertanya kepada diri sendiri -- ketika manusia mengalami masalah, siapakah yang patut disalahkan? Manusia, Setan atau Allah?
Manusia cenderung berbuat dosa, semenjak kejatuhan manusia -- manusia rusak sepenuhnya (Total Depravity), apapun yang dilakukan essensinya adalah dosa belaka, tidak ada seorangpun yang benar inilah yang ditulis oleh Rasul Paulus - Roma 3:23 "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" - kemudian diulang lagi oleh Paulu lebih jelas lagi di dalam Roma 3:8-10, 18

3:8 Bukankah tidak benar fitnahan orang yang mengatakan, bahwa kita berkata: "Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya." Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman.
3:9 Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa,
3:10 seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.

3:18 rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu."

Nah, celakanya banyak manusia tidak menyadari hal tersebut, dan bukan terjadi di jaman-jaman sekarang saja -- coba kita renungkan ketika Adam jatuh ke dalam dosa, siapa yang disalahkan? Hawa bukan ? siapa yang Hawa salahkan Ular bukan? Jangan sampai rantai itu terus berlanjut dan akhirnya menyalahkan Allah sebagai sumber dari segala dosa, karena Dia yang menciptakan Ular.

Justru karena Allah begitu mengasihi manusia maka Dia mengutus AnakNya, yaitu Kristus sebagai penebus dosa kita, Dia tidak pernah berdosa, dan tidak akan pernah berbuat dosa, bahkan Dia yang tidak mengenal dosa dijadikan menjadi dosa karena kita, supaya kita dibenarkan oleh Allah di dalam Dia -- 2 Korintus 5:21

1Yoh. 3:5 Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa.

1Ptr. 3:18 Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh,

Setelah manusia jatuh dalam dosa, hidup ini tidak pernah lepas dari masalah -- memang ada masalah yang menjadikan kita akhirnya kembali kepada sang Pencipta kita.
Tapi tidak sedikit juga masalah yang ada di dalam diri kita yang tidak pernah kita selesaikan di hadapan Tuhan, seringkali kita membiarkan masalah itu menghimpit kehidupan rohani kita -- seringkali kita tidak sadar kalau kita memiliki masalah tersebut yang memperlambat pertumbuhan rohani kita -- kita pun akhirnya menjadi sombong karena menganggap diri yang paling benar, dengan adanya perasaan selalu benar dan tidak pernah salah hal ini menjadi racun dan tidak akan pernah membuat kita lebih belajar mengenal kehendak Tuhan bagi kehidupan kita.

Ketika kita mulai membaca Firman Tuhan, kita hanya buat Firman Tuhan itu untuk menyegarkan jiwa kita, untuk kepuasan kita semata-mata -- tentu saya pun tidak menolak bahwa Firman Tuhan itu menyegarkan jiwa, tapi kita harus sadar Firman Tuhan itu juga senantiasa menegur, supaya kita bisa hidup dalam kebenaran yang sejati dalam Kristus Yesus.

Manusia melihat Firman Tuhan dengan kacamata diri sendiri, dalam ruang lingkup yang sangat kecil sekali, yakni berpusat pada diri sendiri -- padahal Firman Tuhan itu luasnya seperti samudra, kemuliaan Tuhan bukan berpusat kepada diri sendiri, tapi berpusat kepada Tuhan.

Setan pun disalahkan ketika ada masalah, betul setan sering bikin onar, sering bikin masalah, dia giat senantiasa mau meracuni kehidupan rohani anak-anak Tuhan jaman sekarang, dengan ajaran-ajaran yang kelihatannya baik namun menuntun kita kepada kesesatan yang seutuhnya. Banyak orang yang menyangka jalan itu lurus namun berakhir kepada maut. Kita harus benar-benar kritis dalam segala sesuatu, namun jangan jadi tukang 'complain' -- menjadi seorang kritikus dan menjadi seorang tukang 'complain' adalah dua hal yang berbeda.

Namun ada banyak yang harus kita perbaiki dalam hidup ini, karakter hidup kita, kebiasaan hidup kita, gaya hidup kita, semuanya tidak bisa diperbaiki tanpa pimpinan Tuhan, dan kekuatan dari Tuhan -- biarlah kita senantiasa sadar bahwa kitalah orang-orang yang berdosa, yang sebenarnya tidak layak namun dilayakkan, semakin kita mengenal Tuhan secara benar, semakin kita menjadi kecil dan Dia menjadi besar.

Paulus pun, semakin lama dia melayani Tuhan, semakin dia merasa bahwa dia adalah 'Chief Sinner', kepala dari segala orang yang berdosa, apakah karena apa yang dia perbuat begitu kejam sehingga dia mengatakan hal ini -- bukan -- Dia menyadari bahwa manusia sudah rusak total, dan apapun yang dilakukan manusia tidak akan pernah berhasil, semakin lama semakin dia sadar bahwa dia adalah orang yang penuh dosa, semakin dia menjadi kecil dan Kristus menjadi besar. Dalam urutan secara kronologi, surat-surat Paulus ada dikatakan bahwa Paulus lebih hina daripada rasul yang lainnya, kemudian surat-surat berikutnya dikatakan bahwa dia lebih hina dari segala orang yang berdosa di muka bumi ini. Inilah membuktikan seharusnyalah kita semakin kecil dan semakin sadar akan dosa ketika kita mengerti kebenaran Firman Tuhan yang sejati itu.

Marilah saudara, sama-sama kita belajar untuk mengenal kebenaran Firman Tuhan tersebut. Marilah sama-sama membuka hati kita untuk dikoreksi, tanpa ingin mempertahankan kebenaran diri sendiri. Bagi Tuhan segala kemuliaan, hormat dan kuasa sampai selama-lamanya.

Pengetahuan vs Pengalaman

Manakah yang lebih penting Pengetahuan atau Pengalaman? Mana yang lebih dahulu Pengetahuan dahulukah dan kemudian pengalaman mengikuti dari belakang? Atau sebaliknya. Saya menulis ini hanya sekedar menoreh blog ini setelah saya membaca satu gereja membuat acara dengan tema "Pengalaman lebih berharga dari Pengetahuan" (dalam hal ini saya tidak tahu apakah yang dimaksudkan pengetahuan oleh mereka), apakah benar pengalaman itu lebih berharga dibanding dengan pengetahuan?

Yah memang benar kalau terlalu banyak pengetahuan tanpa pengalaman hasilnya juga nol besar, tapi saya percaya kalau kita mengenal Tuhan dengan pengetahuan yang benar seperti yang dirindukan Paulus kepada jemaat di Kolose - Kol. 1:10, maka pengalaman secara otomatis muncul dari pengetahuan yang benar tersebut. Kecuali pengetahuan yang kita terima tersebut bukanlah pengetahuan yang benar, yang ada hanyalah 'pengetahuan' seperti yang diungkapkan Paulus di surat lainnya 1 Timotius 6:20, yakni pengetahuan yang membawa pertentangan-pertentangan.

Banyak jaman sekarang setelah orang bertobat dan merasa dipanggil menjadi hamba Tuhan, langsung mengembalakan jemaat, tanpa ada pengetahuan yang benar, dan hanya mengandalkan pengalaman bersama Tuhan sebagai satu fondasi untuk memimpin jemaat Tuhan, saya rasa hal ini terlalu mau enaknya saja. Tentunya latihan rohani itu juga perlu -- kita perlu tahu bagaimana kita berlatih secara rohani -- tanpa pengetahuan yang benar maka latihan rohani yang kita lakukan adalah sia-sia belaka.
Dalam hal jasmani kalau kita mau punya otot yang kuat, badan yang sehat, tentunya kita akan berlatih dengan sekuat tenaga, mustahil kalau ada yang mau bangun dari tidurnya pagi-pagi dan melihat badannya yang kekar di depan cermin seketika, tentu tidak ada. Semua hal itu perlu latihan, dan pengetahuan akan bagaimana caranya treadmill, caranya memakai alat-alat Gym supaya bisa mencapai satu tujuan.

Banyak juga yang berkata, Petrus saja bisa dipakai Tuhan secara luar biasa, kan dia juga hanya seorang nelayan. Okay, bagaimana dengan Paulus, dia itu orang yang berpengetahuan sekali, bahkan hampir seluruh kitab perjanjian penulisnya adalah Paulus, mengapa Paulus tidak diperbandingkan. Saya rasa hal ini hanya menjadi alasan dari akibat kemalasan dan terjeratnya pada zona aman. Biasanya hamba Tuhan seperti ini khotbahnya muter-muter yah itu-itu saja, dan biasanya mau jadi pendeta keliling saja. Supaya tidak ketauan kalau dia pernah khotbah yang sama di satu gereja. Memang benar ada juga hamba Tuhan khusus keliling dan menginjil dan memang hal itu sudah menjadi karunianya tapi seringkali, yang diinjili adalah orang-orang Kristen yang sudah lama percaya kepada Kristus. Apakah berarti tidak boleh menginjili orang-orang seperti itu? Saya rasa untuk orang-orang percaya harus dilakukan pembinaan bukan penginjilan, untuk orang-orang percaya tidak perlu disuruh ke depan, altar call, bertobat -- toh mereka sudah tau apa yang disebut bertobat itu hanya saja tidak mau melakukannya. Seringkali altar call cuman menjadi satu luapan emosi, karena merasa ditantang oleh hamba Tuhan, betul hal ini tidak salah, namun tidak benar sepenuhnya juga. Salah-salah pertobahan ini menjadi pertobatan yang dibuat-buat karena adanya unsur manusia terlibat, merasa tidak enak dengan pendeta, ada juga yang mungkin maju ke depan hanya untuk merasa 'aneh' kalau tidak maju, atau tidak sedikit juga yang maju hanya karena mau dilihat perempuan atau laki-laki yang dia taksir di gereja. Kembali saya tekankan semuanya itu adalah kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi, ada juga orang-orang yang benar-benar bertobat setelah altar call tersebut.

Nah pengalaman seperti itu memang berharga, tapi apakah yang men-trigger hal tersebut, bukankah adanya pengetahuan (Firman Tuhan) yang ditaburkan, dan ketika kita mendengar Firman tersebut iman kita bertumbuh dan hati kita bergejolak dan disadarkan kembali. Jadi ditanyakan kembali ke saudara manakah yang lebih berharga? kalau tidak ada pengetahuan tentunya tidak ada pengalaman bukan? Bukankah kita harus menginjak bangku sekolah untuk mengetahui segala sesuatu, sebelum kita mengalaminya? Semua pengalaman adalah berasal dari pengetahuan entah pengetahuan yang didapat dari bangku sekolah ataupun dari luar bangku sekolah, tapi intinya harus ada pengetahuan. Demikian dengan pengalaman hidup kita sebagai orang Kristen, pengetahuan akan Firman Tuhan itu berharga sekali, seringkali memang Tuhan bisa menegur kita dari pengalaman yang terjadi dalam kehidupan kita, tapi hal tersebut janganlah dijadikan confirmative, confirmative haruslah didasarkan Firman Tuhan. Sedangkan pengalaman itu bersifat affirmative, sifatnya mendukung, sedangkan yang nomor satu adalah yang bersifat confirmative tersebut.

Memang tidak sedikit juga orang yang mementingkan 'pengetahuan' dan mengabaikan 'pengalaman', tapi masalahnya bukanlah mana yang lebih dahulu Ayam atau Telur, atau sebaliknya. Masalahnya bukan pada ayamnya kalau telur tidak ada, atau masalahnya bukan pada telur kalau ayamnya tidak ada. Firman Tuhan itu seperti benih, kalau ditanam dengan baik, di hati yang mau dirubah, secara otomatis akan berubah pengalaman yang manis bersama Tuhan. Baiklah kita sama-sama mau membuka hati terhadap kebenaran Firman Tuhan, tanpa menegakkan kebenaran kita sendiri, pastilah kita semua akan mengalami betapa senangnya jadi Anak Tuhan.

ps: Sedikit trivia untuk penutup -- ada 3 jenis manusia di dunia ini.
1. Saya tahu kalau saya harus tahu
2. Saya tidak tahu kalau saya harus tahu
3. Saya tidak mau tahu apa-apa

Anda tergolong yang mana?

04 June, 2009

Doa untuk diri sendiri dan orang lain

Berapa banyak kita berdoa hanya untuk memenuhi kebutuhan kita, ataupun kalaupun kita berdoa untuk orang lain, kita cenderung mendoakan apa yang ada di sekelilingnya, entah itu pekerjaan, pasangan hidup, berkat, namun kita tidak pernah mendoakan pribadinya, supaya kehendak Tuhan boleh terus nyata di dalam kehidupan orang tersebut.

Bolehkah kita berdoa untuk diri sendiri? Tentu saja, namun janganlah sampai doa tersebut hanya menodong Tuhan untuk melakukan sesuatu demi kepentingan diri sendiri, ini namanya egois maunya yang dia mau tanpa memperdulikan apa yang Tuhan mau. Kalau Tuhan tidak menjawab doa kita maka kita akan marah, atau pasang muka cemberut. Seringkali kita juga berdoa hanya untuk kemuliaan kita, seolah-olah untuk kemuliaan Tuhan namun secara tidak disadari kita hanya berdoa untuk kepuasan diri kita sendiri. Misalnya kita berdoa "Tuhan, rubahlah saya untuk menjadi serupa dengan Tuhan Yesus" -- saya lagi saya lagi, benar sekali Tuhan mau kita menjadi serupa Tuhan Yesus, tapi harus kita harus menyelediki hati kita apakah kita berdoa hanya untuk supaya kita bisa diterima di satu komunitas, terlihat orang kudus, lebih daripada yang lain, lebih tinggi maupun lebih rohani atau kita benar-benar berdoa karena kita sadar bahwa dengan kekuatan kita sendiri kita tidak mampu untuk menjadi serupa dengan Kristus maka dari itulah kita menaikkan doa kita memohon kekuatan dari Dia yang menjadi sumber dari segala sesuatu untuk menolong dan memampukan kita -- untuk kemuliaan Dia semata-mata. Kita berdoa menyerahkan segala sesuatu tanpa harus memberitahukan Tuhan caranya bagaimana -- karena Dia lebih tau dari kita. Tidak seharusnya kita memerintah Tuhan dan  memberitahukan Dia bagaimana caranya mengatur dunia ini, manusia khususnya. Dia yang tahu bagaimana menyelesaikan masalah kita, maka dari itu serahkanlah segala sesuatu di bawah tangan Tuhan yang kuat.

Bolehkah kita berdoa untuk apa yang ada di sekeliling pasangan kita, teman kita, pacar kita, saudara kita, orang tua kita -- tentu saja boleh, namun hal itu bukanlah yang utama, bukan menjadi sesuatu yang hakiki. Kalau kita bisa belajar untuk berdoa lebih sungguh mengenai pribadinya orang tersebut, makan secara otomatis semua hal yang disekitarnya akan ikut dengan sendirinya. Kalau kita berdoa misalnya untuk pekerjaan -- setelah seseorang tersebut mendapat pekerjaan mungkin saja sukacita yang semu bisa terjadi dengan sesaat saja terhadap orang tersebut, akan berbeda kalau kita mendoakan pribadinya bagaimana orang tersebut bisa lebih mengenal Tuhan secara benar, atau supaya orang tersebut bisa lebih mengerti kehendak Tuhan dan panggilanNya, maka kalaupun dia dapat atau tidak dapat pekerjaan pun, orang tersebut sudah mengerti.

Saya mengutip surat Paulus untuk jemaat Efesus, Paulus berdoa untuk jemaat Efesus, semoga membangun kita dan menghentikan keegoisan kita mengenai doa...

Efesus 1:15-23

1:15 Karena itu, setelah aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus,
1:16 akupun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku,
1:17 dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.
1:18 Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus,
1:19 dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya,
1:20 yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga,
1:21 jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang.
1:22 Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.
1:23 Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.

03 June, 2009

Seputar Facebook dan Social Networking

Tentu Facebook sudah tidak asing di telinga kita, terutama untuk orang-orang generasi Y dan Z, sedangkan untuk generasi X dan Baby Boomers, mungkin beberapa persen dari mereka tidak pernah mendengar kata ini, walaupun pernah rasanya mungkin mereka tidak ada account sama sekali, terutama generasi Baby Boomers, yang lahir setelah perang dunia kedua berakhir.

Namun bagi anak-anak muda sekarang, Facebook menjadi sesuatu yang harus, sepertinya di top of their list. Sepertinya tanpa Facebook sulit rasanya satu sama lain bersosialisasi, demikian halnya dengan social networking yang lainnya seperti Friendster, Twitter, MySpace dan masih banyak yang lainnya.

Tujuan dari website tersebut adalah supaya satu sama lain tetap berhubungan dan saling memberitahu apa yang sedang terjadi, entah itu baru pulang holiday, makan di restoran mewah, pakai pakaian yang bagus, baru punya anak -- tentu saya tidak melarang semua orang punya Facebook, namun larut makin larut Facebook bisa menjadi ajang untuk menonjolkan diri sendiri, "ini loh saya baru pulang dari Hongkong" misalnya. Seolah-olah memberitahukan ke dunia mengenai kehidupannya, tentu ini tidak salah juga tapi jangan sampai motivasi kita menjadi terkontaminasi dengan hal-hal yang mau menonjolkan diri, saya teringat bahwa di dalam Alkitab pun, tertulis di jaman-jaman akhir ini orang mulai mencintai dirinya sendiri.

Saya rasa, tidak ada orang yang mau taruh foto mereka yang jelek di facebook, pasti dikasih yang bagus bagus -- walaupun ada mungkin persentasinya kecil sekali. Mereka berlomba-lomba menaruh foto-foto yang bagus, dan setiap foto baru dipasang, semua teman, teman lama, teman yang baru ketemu, yang ada di facebook diberitahu. "Halo halo si Unyil pasang foto baru -- klik di sini kalau mau liat"

Belum lagi adanya rasa iri hati akan timbul seperti "aduh sih Unyil koq pergi ke Eropa yah, koq saya ngak bisa yah, aduh kenapa saya ngak bisa pergi yah, aduh si Unyil beruntung sekali, I wish I can go there one day" kembali tidak semua akan berpikiran seperti ini, ini hanyalah salah satu contoh yang bisa terjadi.

Pokoknya ujung-ujungnya membahas mengenai manusia, apa yang mereka makan, apa yang bagus dipakai "Eh si Melanie (pacarnya Unyil) pakai gaun bagus loh baru beli di Eropa, wah rasanya saya bisa cocok juga kalau pakai itu", yang akhirnya adalah semuanya hanya untuk memuaskan diri pribadi, memenuhi keinginan manusia untuk menjadi lebih daripada yang lain.

Namun tidak sedikit juga penginjilan memakai Facebook, sampai sekarang saya sendiri belum menganalisa secara lebih jauh lagi apakah penginjilan seperti ini efektif atau tidak. Mungkin bisa efektif juga, tapi mudah-mudahan tidak sampai merusak motivasi yg sejati yaitu mengabarkan kebenaran Injil yang sejati itu.

Saya ingat dengan khotbah John Piper (Pendeta Gereja Baptis di Amerika), kalau kita lagi jaman perang tidak mungkin dong kita perang tapi pakai ember, lempar batu, ataupun bambu runcing sedangkan yang lain sudah pakai senjata UZI dan kaliber yang tinggi. Nah demikian dengan teknologi jaman sekarang, baiklah kita memakai segala sesuatu yang sifatnya membantu namun bukan menjadi yang utama untuk memberitakan Injil Kristus.

Saya takut banyak Gereja yang mulai melihat seperti ini -- "wah itu gereja keren yah ada Twitter, Facebook, ayo kita bikin juga" kalau motivasi dari awal seperti ini tentunya teknologi disalah gunakan hanya untuk menambah "keren"nya satu gereja, apakah gereja hanya ditentukan dari hal-hal yang seperti itu. Tentu saya tidak melarang gereja punya website, facebook, twitter, podcast dan yang lainnya, intinya adalah motivasinya. Harus ada strong line antara memakai teknologi tersebut untuk kemuliaan Tuhan atau memakai teknologi tersebut untuk kepuasan diri sendiri, hal ini sering tidak disadari. Seolah-olah untuk kemuliaan Tuhan tapi ternyata untuk kepuasan diri sendiri. Saya pikir benar-benar harus dibikin garis pemisah yang benar-benar tebal antara keduanya supaya tidak ada kerancuan.

Nah akhir kata, silahkan berfacebook ria dan twitter ria ataupun sosialisasi melalui internet, tapi hati-hatilah akan motivasi kita, jangan sampai kita hanya melakukan semua hal tersebut supaya kita dipandang hebat dan baik, nantinya bakal jatuh ke dalam jerat humanisme.

Sharing ini saya tulis karena terinspirasi dari artikel yang saya baca mengenai "Corat Coret Seputar Facebook" oleh Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S, Ph.D. (Cand)