Recent Posts

03 September, 2012

Musim Semi

Telah kulupakan,
Dingin yang selalu menusuk sukmaku
Telah pergi meninggalkan jejak-jejak angin
Datanglah bunga-bunga yang bermekaran
Menatap harapan di depan
Sambil tertawa bersama sang Kumbang
Ditemani oleh gemerisik air di tepi pelabuhan itu
Terima kasih Tuhan atas musim semi
Di mana harapan itu lahir kembali

24 August, 2012

Harapan

Yah..

Aku mengulurkan tanganku ke dalam lumpur itu..
Walaupun kotor tetapi akan kuterima apa adanya
Aku memang mungkin tidak dapat menjadi penolongmu
Tetapi aku akan selalu mencoba dan menanti engkau meraih tanganku.

Aku mendengar sayup-sayup suaramu, dari hati kecilmu
Aku akan menemanimu agar engkau tidak sendiri.
Di dalam lumpur itu, aku akan berikan kehangatan, terang dan harapan.

Aku mengerti...
Engkau selalu memohon untuk keluar dari kubangan itu.
Biarlah aku mencoba membawa engkau keluar dari sana...

Engkau tidah harus terjatuh kembali
Engkau tidak harus mendengarkan perkataan yang lain...
yang menjatuhkanmu..
Engkau sanggup mengatakan TIDAK!

Sebuah kata yang memang begitu singkat
Akan kubantu membuka bibirmu yang kelu...
Saat hendak mengucapkan kata itu...
Yah..engkau sanggup

Saat itu sudah berlalu...
Katakanlah TIDAK, supaya engkau tidak akan terjerembab kedua kalinya
Aku menunggumu di atas sini
Melihat ke bawah...
Dengan penuh pengharapan
Sambil mengulurkan tanganku
Untuk mencoba menolongmu

Yah, 
Semoga puisi ini sanggup untuk membangunkanmu dari lumpur penyesalan itu.

16 August, 2012

Pemudi Kesayangan Allah


Pemudi kesayangan Allah, ketika aku memperhatikanmu malam ini, aku berharap dapat memperoleh kesempatan untuk bercakap-cakap denganmu. Aku memperhatikan wajahmu yang cantik sementara engkau menyanyi dan menyembah. Engkau mengingatkanku akan diriku sendiri tujuh tahun yang lalu.

Sehabis kebaktian, aku memperhatikan bagaimana engkau masuk ke dalam mobil dengan seorang pemuda yang tak mengenal Allah. Memang benar dia berada di gereja malam ini, dia bahkan maju ke depan dan menitikkan sedikit air mata. Aku yakin engkau takkan bersedia menerima pendapat bahwa bagi dia, hal tersebut merupakan tanda diakhirinya sesuatu.

Tujuh tahun silam aku berada di dalam keadaan seperti dirimu. Aku telah mengenal Allah sejak awal masa remajaku dan bertumbuh di bawah khotbah dan pengajaran yang diurapi Allah. Aku tak kekurangan teman-teman pemuda maupun mereka yang mengajakku pergi, seperti yang seringkali terjadi di dalam gereja dimana para pemudi jumlahnya lebih banyak dari para pemuda. Beberapa pemuda yang amat baik dan penuh pengabdian mencoba mendekatiku, namun iblis yang tak pernah lalai memperhatikanku, menunggu dengan sabar untuk menjerat jiwaku, dan ia melihatku ketika aku sedang suam-suam kuku. Aku memang masih pergi ke gereja dan memainkan acordionku dan menyanyi dan melakukan semua hal-hal yang tampak benar secara lahiriah. Namun aku tak pernah lagi punya waktu-waktu khusus dengan Allah dimana kehendakNya dan kehendakku menjadi satu.

Aku berjumpa dengan pemuda itu di tempat kerjaku. Dan tak lama kemudian, tanpa ada yang mengetahuinya, aku merasa seakan-akan aku tak dapat hidup tanpa dia. Dia tahu tentang gerejaku dan ketika ia hadir bersama denganku, ia maju ke depan, menangis, dan akhirnya aku menikahinya, padahal keluargaku dan mereka yang mengasihiku menangis dan merasakan kepedihan. Baru enam bulan kemudian aku menjadi sadar bahwa jiwaku berada di dalam bahaya dan bahwa aku membutuhkan jamahan Allah. Aku berdoa dan menemukan Allah. Lalu pertikaianpun dimulai. Dia tak mau ke gereja lagi. Aku dapat menghitung dengan jari-jariku saat-saat dimana ia pergi ke gereja selama tujuh tahun terakhir ini!

Sebelum menikahinya, pemikiran untuk hidup tanpa dia sungguh tak tertahankan. "Betapa sepinya!" pikirku. Namun sekarang ini aku baru tahu apa arti kesepian yang sesungguhnya, dan aku ingin menceritakannya kepadamu.

Kesepian itu adalah ketika aku menerima berkat Allah dan pulang ke rumah kepada seorang pria yang tak dapat berbagi rasa tentang hal itu denganku. Dia tak menaruh minat; dia sedang menonton televisi.

Kesepian itu adalah ketika aku pergi ke suatu kegiatan gereja seorang diri dan memperhatikan pasangan-pasangan muda lainnya menikmati berkat Allah bersama-sama. Aku boleh memilih, pergi sendiri atau tinggal di rumah sendiri; sebab dia punya minat yang lain.

Kesepian itu adalah merasakan adanya urgensi akan kedatangan Kristus yang sudah semakin dekat dan tahu bahwa orang yang paling engkau kasihi di bumi ini belum siap, bahkan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kepedulian.

Kesepian itu adalah melihat dua anak dilahirkan dan tahu bahwa untuk dapat memiliki pengaruh yang bisa melebihi pengaruhnya merupakan suatu mujizat.

Kesepian itu adalah pergi menghadiri suatu Konperensi Umum dan melihat pasangan-pasangan muda dimana-mana yang benar-benar bersatu dan mempunyai dedikasi terhadap pekerjaan Allah dan kemudian, itu dia pemuda yang dulu mengasihimu dan berniat menikahimu. Ia sedang berkhotbah dan masih tetap belum menikah. Oh Tuhan! Tolonglah aku! Aku tak boleh memikirkannya!

Kesepian itu adalah berbaring di ranjang tanpa dapat memejamkan mata oleh karena dihantui perasaan bahwa dia telah mengkhianati kesetiaanmu. Dan kemudian datanglah kepedihan yang tak tertahankan oleh karena mengetahuinya secara pasti. Ia tak peduli kalau aku mengetahuinya. Wanita itu bahkan meneleponku. Setelah beberapa lama, ia berusaha memutuskan hubungan dengan wanita itu. Aku bersumpah bahwa aku akan melakukan apa saja yang dapat dilakukan oleh seorang manusia untuk mempertahankan pernikahan ini. Aku akan lebih banyak mengasihi dia dan lebih banyak berdoa baginya.

Kemudian, tujuh tahun telah berlalu! Sekarang ada dua anak kecil: perempuan dan laki-laki!

Kesepian itu adalah sekarang. Anak-anakku dan aku akan pulang ke apartemen yang gelap, kosong, yang akan merupakan tempat tinggalku sampai tiba saatnya pengacara memutuskan bahwa segala sesuatu telah berlalu. Aku, yang dulunya paling takut hidup sendirian, sekarang ini menyongsong datangnya ketenangan dan kesunyian itu. Ketika aku bercermin, aku melihat bahwa tujuh tahun tidaklah terlalu mengubah wajahku namun di dalam diriku aku telah menjadi tua, dan sesuatu yang dulunya hidup dan indah sekarang sudah mati.

Tentu saja ini bukanlah kisah yang tak lazim. Namun yang istimewa adalah bahwa aku masih tetap hidup bagi Allah. Aku bersyukur bagi keluargaku dan doa-doa syafaat mereka bagiku.

Oh, aku berdoa bagimu, pemudi kesayangan Allah! Percayalah kepadaku, sebaik apapun dia itu adanya, betapa penuh kasih dan kelembutan engkau takkan dapat membangun suatu kehidupan yang berbahagia di atas ketidaktaatan kepada Firman Allah. Engkau lihat, apapun yang tersedia bagiku di masa mendatang, aku telah kehilangan kehendakNya yang sempurna bagi hidupku. Aku takkan pernah berhenti membayar harganya oleh karena melanggar perintah Allah! Jangan sampai hal itu terjadi padamu!

"Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?" (II Korintus 6:14)

(Diambil dari majalah Vanguard)
I got it from Jeffrey Siauw post.

05 August, 2012

Meledak

Hari itu, aku tak dapat menahan gelora di kalbu.
Berulang kali aku mencoba mengatupkan bibirku,
Namun hati itu terus mendorongku,
Sampai bendungan hatiku hancur luluh,
meledak karena rasa di dalam relung.

29 July, 2012

Makanan Jasmani VS Makanan Rohani


Beberapa bulan ini saya diberikan kesempatan berteman dengan seseorang yang bersekolah mengenai nutrisi makanan. Sehingga kerap kali percakapan yang dibicarakan adalah  mengenai nutrisi sebuah makanan serta implikasinya dalam kesehatan tubuh kita jikalau kita mengkonsumsikannya.

Adapun melalui percakapan-percakapan yang diperbincangkan, saya menarik kesimpulan bahwa makanan yang sehat hampir rata-rata tidaklah terasa enak di lidah kita, karena kita sudah terbiasa dengan makanan-makanan yang tidak sehat. Kita sudah terbiasa mengkonsumsi makanan yang mungkin akan membahayakan kesehatan tubuh kita baik dalam rentang waktu yang dekat maupun yang jauh.

Demikian dengan halnya makanan rohani, seringkali mungkin kita sudah terbiasa dengan makanan-makanan rohani yang kurang sehat, dalam hal ini pengajaran yang tidak sehat namun terasa manis di mulut hati kita. Makanan-makanan tersebut ketika disajikan memang membuat kita tertawa tetapi kita tidak menyadari bahwa sebenarnya kita sedang dibawa ke dalam suatu penyesatan melalui makanan-makanan tersebut.

Memang bukan berarti semua makanan rohani yang membuat kita tertawa adalah makanan yang tidak sehat. Intinya adalah janganlah makan makanan rohani yang hanya terasa enak di telinga dan di hati, kalau makanan rohani tersebut tidak enak maka kita tidak mau memakannya, padahal kita menyadari bahwa justru makanan-makanan yang "tidak enak" itulah makanan rohani yang sehat.

Namun hal ini juga menjadi tantangan bagi hamba Tuhan yang menyajikan makanan rohani tersebut, bagaimana dengan tetap setia dalam menyajikan makanan rohani yang sehat dengan cara-cara penyajian yang "menarik". Selain daripada itu jemaat sebagai pendengar juga harus belajar untuk memakan makanan rohani yang bukan hanya enak di dengar tetapi yang tidak enak di dengar juga, yang terpenting adalah apakah makanan rohani itu mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik kita di dalam kebenaran.

02 July, 2012

Menanti di dalam Kereta


Aku menghempaskan aku di sebuah bangku kereta
Sementara roda-roda kereta tertawa kecil menikmati indahnya dedaunan
Mata hatiku tidak dapat terpejam menantikan masa depan di lembaranku
Akan ku raih seluruh impian-impian indah itu dalam sanubariku
Bersabarlah, sampai kutiba di stasiun terakhir
Selangkah lebih dekat lagi akan terkabulnya harapanku.

23 June, 2012

Hamba Tuhan juga manusia

Kerap kali kita menganggap Hamba Tuhan sebagai seseorang yang patut memberi contoh, seseorang yang "lebih rohani" dibandingkan dengan orang-orang Kristen pada umumnya. Sehingga tidak jarang Hamba Tuhan selalu dituntut mengenai perbuatan moralitasnya, dia harus baik, harus pengertian, harus dapat mengasihi jemaat, harus dapat hidup sesuai dengan Firman Tuhan, tidak curang, dan masih banyak hal yang lainnya yang tidak akan cukup kalau saya paparkan di sini.

Memang baik ketika kita meninjau "hal-hal moralitas" dalam kehidupan seorang Hamba Tuhan. Namun kalau kita tidak hati-hati kita akan jatuh ke dalam dosa legalisme yang hanya menitikberatkan kepada perbuatan semata-mata. Hamba Tuhan masih seorang manusia, dia masih seorang yang bergumul dengan dosanya.

Kita akan merasa kecewa kalau kita terlalu menganggap hamba Tuhan adalah "tuhan" ataupun "penyelamat" di dalam hidup kita, apalagi setelah melihat "sisi jelek" hamba Tuhan tersebut, bisa-bisa kita akan meninggalkan apa yang kita percaya, atau mungkin sebelumnya kita memang belum percaya, yang ada hanyalah "percaya yang semu". Karena kita terlalu melihat kepada moralitas ketimbang melihat karya Kristus di dalam hidup kita dan di dalam hidup Hamba Tuhan tersebut.

"Hamba Tuhan harus pakai software yang asli, jangan pakai software yang bajakan" salah satu contoh pernyataan dari seorang Kristen. Memang tidak salah dengan pernyataan tersebut, tetapi apakah hanya Hamba Tuhan yang harus memakai software asli? Bagaimana dengan orang Kristen biasa, jadi apakah orang Kristen biasa boleh pake software bajakan?

"Hamba Tuhan harus rendah hati" Betul! Tetapi apakah hanya hamba Tuhan yang harus rendah hati, kalau kita Kristen yang "biasa-biasa" saja tidak apa-apa kalau kita tidak rendah hati.

Tetapi di lain pihak hamba Tuhan yang tidak mau ditegur akan dosanya akan berkata "Hamba Tuhan kan juga manusia jadi bisa satu ke dalam dosa". Sehingga sebutan "hanya seorang manusia" dipakai untuk melegalkan segala dosa yang kita lakukan.

Memang hamba Tuhan tetaplah manusia yang masih terus berjuang dengan dosanya sendiri, tapi kita juga tetap bisa menghormati mereka namun tidak di atas kebenaran Firman Tuhan itu sendiri.

20 June, 2012

A Prayer by Blaise Pascal

I ask you neither for health nor for sickness, for life nor for death; but that you may dispose of my health and my sickness, my life and my death, for your glory . . . .  You alone know what is expedient for me; you are the sovereign master; do with me according to your will.  Give to me or take away from me, only conform my will to yours. I know but one thing, Lord, that it is good to follow you, and bad to offend you. Apart from that, I know not what is good or bad in anything. I know not which is most profitable to me, health or sickness, wealth or poverty, nor anything else in the world. That discernment is beyond the power of men or angels, and is hidden among the secrets of your Providence, which I adore, but do not seek to fathom.

Blaise Pascal

11 June, 2012

Bumi dan hujan

Titik demi titik membasahi permukaanku
Sudah kunanti masa-masa ini
Masa di mana Engkau memberikan kehidupan
Kehidupan melalui lembutnya sapaan air

Walau dingin masuki tulang dan sumsum
Bahkan menusuk ke kalbuku
Ku tetap bersyukur untuk kehidupan yang Kau beri
Kehidupan yang penuh dengan harapan

31 May, 2012

Kemarahan adalah hasil dari cinta


Kemarahan adalah hasil dari cinta. Kemarahan adalah kekuatan untuk membela sesuatu yang Anda cintai ketika hal itu terancam. Jika Anda tidak mencintai sesuatu sama sekali, Anda tidak akan marah ketika hal itu terancam. Jika Anda mencintai sesuatu dengan sedikit, maka Anda hanya akan marah sedikit ketika hal itu terancam. Jika sesuatu yang Anda cintai adalah yang paling utama, jika hal itu adalah sesuatu yang memberikan makna dalam kehidupan Anda, maka ketika hal itu terancam Anda akan marah sampai tak terkendali.

Ketika sesuatu dalam hidup merupakan syarat mutlak untuk sebuah kebahagiaan dan sebuah harga diri, yang pada dasarnya adalah 'berhala', sesuatu yang benar-benar Anda sembah. Ketika hal itu terancam, maka kemarahan Anda adalah yang paling penting. Kemarahan Anda sebenarnya adalah cara berhala untuk membuat Anda melayani berhala tersebut, di dalam ikatan berhala tersebut.

Oleh karena itu jika Anda menemukan bahwa, meskipun semua upaya untuk memaafkan, kemarahan dan kepahitan tetap tidak bisa mereda, Anda mungkin perlu melihat lebih dalam dan bertanya, 'Apa yang saya bela? Apa yang begitu penting sehingga saya tidak bisa hidup tanpa hal tersebut” Kemungkinan besar Anda belum mengetahui dan belum melawan keinginan berhala Anda, sehingga Anda tidak dapat menguasai kemarahan Anda.

Tim Keller

17 May, 2012

Kembali ke Dasar-dasar Kekristenan

Setelah tujuh kali pertemuan, kami para pemuda-pemudi GKY Sydney telah menyelesaikan studi "Back to Basics" yang diterbitkan oleh Matthias Media dalam bahasa Inggris, di kemudian hari saya rindu ada penerbit Indonesia yang dapat menterjemahkannya.

Bagi para pemimpin-pemimpin gereja, saya secara pribadi merekomendasikan buku ini untuk kelompok kecil  ataupun persekutuan baik dari anak muda maupun sampai usia yang lebih dewasa. Buku ini sangat bermanfaat sekali, bahkan jika Anda sudah mengenal Kristus, studi ini kembali terus menguatkan iman kita di dalam Kristus Yesus. Saya akan mencoba merangkum beberapa hal dari studi tersebut.

Studi 1: Diselamatkan oleh Tuhan - Roma 5:8-9
Kasih Allah teryata dapat diukur, ukurannya adalah ketika Dia sudah mendemonstrasikan kasihNya dengan cara mengutus Kristus untuk mati buat kita, agar kita diselamatkan dari murka Allah. Tanpa hal tersebut kita akan mengalami murka Allah yang luar biasa, namun ketika kita masih belum melakukan apa yang baik yaitu ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita dan kita telah dibenarkan melalui darahNya. Tidak ada hal apapun yang dapat kita lakukan untuk melayakkan kita akan keselamatan tersebut. Maka dari itu keyakinan keselamatan kita bukan tergantung dari "perbuatan baik" kita tetapi tergantung kepada karya Kristus di atas kayu salib yang membenarkan kita. Perbuatan baik kita adalah bukti bahwa kita telah dibenarkan di dalam Kristus.

Studi 2: Percaya di dalam Tuhan - Efesus 2:8-9
Kita telah diselamatkan dari murka Allah, dan hal ini bukanlah atas usaha kita, tetapi semata-mata karena kasih karunia Tuhan. Bahkan usaha kita untuk menerima keselamatan tersebut merupakan karunia juga dari Tuhan. Iman kita adalah menjadi bukti bahwa Allah menyelamatkan kita di dalam Kristus Yesus. Ketika kita beriman, hal itu bukan karena kita bisa dan mau, tetapi karena Allahlah sendiri yang menghidupkan kita untuk melakukannya, untuk itulah tidak ada yang dapat kita sombongkan. Jika keselamatan itu kita terima di luar dari kemauan kita maka keselamatan tersebut tidak akan hilang oleh karena kemauan kita juga.

Studi 3: Hidup sesuai jalan Tuhan -Titus 2:11-13 
Hidup di dalam Tuhan adalah hasil bahwa kita telah diselamatkan, bukan menjadi "sebab" melainkan "akibat". Senantiasa kita rindu untuk hidup sesuai dengan apa yang menjadi kehendakNya. Orang-orang yang mengatakan bahwa hidup sesuai dengan jalan Tuhan tidaklah terlalu penting karena kita sudah diselamatkan dan keselamatan tersebut tidak akan hilang, untuk mereka yang berpikir seperti itu, justru satu tanda tanya besar bahwa apakah mereka sudah benar-benar diselamatkan. Ujilah diri kita apakah kita hidup sesuai dengan jalan Tuhan yang menjadikan "akibat" bahwa kita telah diselamatkan.

Studi 4: Mendengar Tuhan - 2 Timotius 3:15-16
Seluruh Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu adalah ilham dari Allah semata-mata. Dari sanalah kita mendengar suara Tuhan, mengetahui apa yang menjadi kehendakNya. Alkitab berguna untuk mengajar, mengoreksi, menegur serta melatih kita di dalam kebenaran. Dari sanalah kita dapat membedakan mana yang berkenan dan mana yang tidak berkenan, dari sanalah kita dapat menguji hati kita, dari sanalah kita mendapatkan instruksi-instruksi tentang bagaimana kita seharusnya hidup, dan semua itulah suara Tuhan. Jika kita ingin mendengar suara Tuhan? Apakah kita sudah membaca Alkitab hari ini?

Studi 5: Berbicara kepada Tuhan - Filipi 4:6-7
Sebenarnya tidak ada yang perlu dikuatirkan, tetapi dalam segala hal seharusnya kita mengutarakannya kepada Tuhan, bahkan hal-hal yang kita merasa mampu melakukannya. Tidak ada hal yang terlalu kecil dan terlalu besar untuk Dia. Tuhan memang tidak berjanji untuk selalu memberikan apa yang menjadi kemauan kita, tetapi yang Dia janjikan adalah bahwa hati kita dan pikiran kita akan dipelihara oleh Tuhan, bahkan ketika kita tidak menerima apa yang kita minta. Kita tahu bahwa hati dan pikiran kita sangat rentan sekali, untuk itulah kita harus selalu mengingat karya yang terbesar, yaitu kematian Kristus, kalau kasih yang terbesar itu saja sudah diberikanNya untuk kita, apa lagi yang harus kita kuatirkan ketika kita tidak menerima atau belum menerima apa yang menjadi kemauan dan kebutuhan kita?

Studi 6: Bertemu keluarga Tuhan - Ibrani 10:24-25
Hubungan kita bukanlah hanya secara vertikal saja yaitu antara kita dan Allah tetapi horisontal juga antara kita dan sesama saudara seiman kita. Kita bisa saja beribadah dengan tidak pergi ke satu komunitas Kristen dan bertemu dengan orang-orang Kristen lainnya, tetapi justru bertemu dengan mereka kita dapat saling menegur dan membangun di dalam iman kita kepada Yesus Kristus. Jika Anda hanya mendekam di rumah, melihat khotbah di TV, mentransfer uang persembahan secara online, menyanyi dengan keras memakai perangkat elektronik Anda, Anda mungkin belum menjadi Kristen, kecuali memang Anda benar-benar tidak dapat datang karena penyakit yang kronis.

Studi 7: Bertemu dunia - Kolose 4:5-6
Ketika kita sudah diselamatkan tentu kita ingin dan rindu orang-orang yang tidak percaya mendengar kabar baik itu. Kita diajar untuk dapat memberitakan kabar baik itu bukan dengan cara yang ingin menjatuhkan ataupun menghakimi mereka, tetapi dengan penuh kasih dan penuh "garam" tanpa mengurangi esensi dari kabar baik itu sendiri. Siapkanlah diri kita untuk dapat menjawab ketika satu ketika kita ditanya mengenai iman kita kepada Yesus Kristus, di kesempatan seperti itulah kita akan terus mengabarkan kabar baik itu.

16 May, 2012

The Valley of Vision

Lord, high and holy, meek and lowly,
Thou hast brought me to the valley of vision,
where I live in the depths but see Thee in the heights;
hemmed in by mountains of sin I behold Thy glory.

Let me learn by paradox that the way down is the way up,
that to be low is to be high,
that the broken heart is the healed heart,
that the contrite spirit is the rejoicing spirit,
that the repenting soul is the victorious soul,
that to have nothing is to possess all,
that to bear the cross is to wear the crown,
that to give is to receive,
that the valley is the place of vision.

Lord, in the daytime stars can be seen from deepest wells,
and the deeper the wells the brighter Thy stars shine;
let me find Thy light in my darkness,
Thy life in my death,
Thy joy in my sorrow,
Thy grace in my sin,
Thy riches in my poverty,
Thy glory in my valley

This puritan prayer has been a blessing to my spiritual life, so I've decided to translate this prayer to Bahasa Indonesia, I hope it will be a blessing for you too.

Tuhan, mulia dan suci, lemah lembut dan rendah,
Engkau telah membawa aku ke lembah penglihatan,
di mana aku tinggal di kedalaman tetapi melihat-Mu dalam ketinggian;
dikelilingi oleh pegunungan dosa aku melihat kemuliaan-Mu.

Biarkan aku belajar dengan paradoks
bahwa jalan ke bawah adalah jalan ke atas,
bahwa menjadi rendah adalah untuk menjadi tinggi,
bahwa hati yang hancur adalah hati yang disembuhkan,
bahwa jiwa yang menyesal adalah jiwa penuh sukacita,
bahwa jiwa yang bertobat adalah jiwa berkemenangan,
bahwa tidak memiliki apa-apa adalah untuk memiliki semua,
bahwa memikul salib adalah untuk memakai mahkota,
bahwa memberi adalah untuk menerima,
bahwa lembah adalah tempat penglihatan.

Tuhan, di siang hari,
bintang-bintang dapat dilihat dari sumur yang terdalam,
dan semakin dalam sumur itu semakin terang bintang-Mu bersinar;
biarkan aku menemukan
Cahaya-Mu dalam kegelapanku,
Hidup-Mu dalam kematianku,
Sukacita-Mu dalam kesedihanku,
Kasih Karunia-Mu dalam dosaku,
Kekayaan-Mu dalam kemiskinanku,
Kemuliaan-Mu dalam lembahku

14 May, 2012

Hidup di masa lalu

Di dunia serba digital ini, segala perlengkapan electronik membutuhkan memori yang cukup besar khususnya jika kita berurusan dengan data-data seperti video, 3D games ataupun yang lainnya. Contoh  barang elektronik seperti iPhone, kapasitas ber-giga-giga ditawarkan oleh perusahan Apple kepada konsumen yang membutuhkannya, namun kerap kali kalaupun kita tidak terlalu membutuhkannya kita tetap selalu ingin memori yang paling tinggi.

Memori adalah tempat menyimpan data-data kita, memori mempunyai kapasitas tertentu, kalau kita meng-install aplikasi-aplikasi yang banyak dan cukup besar maka kemungkinan kita kekurangan memori akan sangat mungkin sekali.

Setiap bulan saya memeriksa iPhone saya, ternyata banyak aplikasi-aplikasi yang saya install tapi tidak pernah digunakan sehingga itu membuat kapasitas memori di iPhone saya berkurang, akhirnya saya berinisiatif untuk membuang aplikasi-aplikasi tersebut, tetapi aplikasi-aplikasi yang saya sudah hapus dari iPhone saya, masih ada membekas di iTunes store saya, sehingga di kemudian hari saya masih dapat mengaksesnya kembali.

Demikian dengan halnya masa lalu, masa lalu tidak akan pernah hilang bukan? Tetapi pertanyaannya sudahkah Anda menghapus masa lalu tersebut di hidup sehari-hari Anda, atau mungkin Anda masih membiarkan masa lalu tersebut menghidupi keseharian Anda, sehingga kapasitas pikiran Anda seringkali "berkurang" karena adanya hal-hal yang sebenarnya sudah tidak penting lagi dan tidak relevan dengan hidup Anda sekarang.

Apakah Anda masih hidup di masa lalu atau masa lalu itu telah menghidupkan Anda untuk menjadi orang yang lebih baik lagi?

02 May, 2012

God is not like an apple buyer

Last week I had a chance to do some shopping at Coles just because my sister has gone for 5 weeks holiday, kinda miss her though. I bought some apples, interestingly as normal person would do when they buy apples, they would basically pick and choose which apple is better than the other one.

I arrived at home, I was going to have a perfect looking apple, only then did I realise there was a  black spot underneath the label. I think God is like that, we as human is trying to hide our deficiencies by doing some good deeds, anything...you name them, we want to feel good because we are doing the right thing, hoping there won't be any convictions in our heart about bad stuff that we've done. But God sees underneath our skin, he sees right into the deepest of our heart. The issue is buried under our heart. That's what we call sin, sin isn't always about doing bad things, you can do the good and righteous things but before Him are still like a filthy rags.


I'm thanking God, he is not like an apple buyer, he didn't "choose" me because I'm good or perfect, he chose me just because he chose me. Can I try to be good so he can choose me based on my performance? No! He chose me because he has the right to choose on whom he would choose. He will have mercy on whom he will have mercy.

Is it my will then? Well if I can't really choose him, how can I have a will to choose him at the first place? The question is not whether I have my will or not, but whether why I will what I will?


22 April, 2012

Memberi atau Mengembalikan?

"Mari kita memberikan persembahan kita kepada Tuhan", kalimat seperti ini sering dilontarkan oleh seorang pemimpin pujian ketika kita sedang beribadah bersama-sama pada saat menjalankan persembahan, memang mungkin pemimpin pujian tersebut yang secara tidak sengaja dan tidak bermaksud lain, secara tulus mengucapkan kata-kata seperti tersebut, dan memang tidak terlalu menjadi hal penting yang perlu dibicarakan. Tetapi kalau kita bisa lebih berkata-kata lebih baik lagi, mengapa tidak?


Mari kita berpikir, persembahan itu punya siapa? Uang yang kita taruh di kantong kolekte? Punya kitakah? Atau memang uang-uang tersebut punya Tuhan? Tuhan yang memberikan kepada kita, masa kita memberikan kepada Tuhan?


Bagaimana dengan "Mari kita mengembalikan sebagian yang menjadi milik Tuhan"? Hmm...apakah ada bagian-bagian tertentu yang menjadi milik Tuhan dan bagian-bagian tertentu yang menjadi milik kita? Tentu kita percaya semua yang kita punya adalah milik Tuhan semata-mata.


Nah, saya mengusulkan untuk pemimpin pujian dengan kalimat seperti ini "Mari kita mengembalikan sebagian kecil dari milik Tuhan yang dipercayakan kepada kita"


15 April, 2012

Bayang-bayang


Didesak dari dua sisi berbeda
yang tak dikenal sepenuhnya
Entah, seraya halimun menyelimuti pagi,
demikian satu sisi tertutup dalam bayang

Bayang-bayang kekecewaan...
Bayang-bayang ketakutan..

Sampai secercah cahaya mentari menyapa
Meninggalkan bekas menjadi terang
Benar, laksana embun pagi segar
demikian sisi yang lain bertumbuh dalam bayang

Bayang-bayang pengharapan...
Bayang-bayang kesempurnaan...

11 April, 2012

Why I became a Christian

#Christ2012

I was born in the Confucian family, it is not an official religion that exists in Indonesia, so our family is often considered ourselves as Buddhist on the paper.

When I went go to primary public school, there was no Buddhist religion, only Christianity and Islam. I did try both religions, although I can hardly remember why I "chose" Christianity over Islam at that time. Having a religion is a must in our country, so in order to graduate you must have a good grade in religion class.

I was really active in the church, serving God, and doing ministry diligently just for the sake of getting a good grade in the school. I thought I didn't do too many bad things in my life, that's why I deserve God's grace, I thought I can earn God's favour by doing good deeds, only then to realise that I will never be perfect before Him, but through the atonement of Christ on the cross, from which my turning point to believe in Christ wholeheartedly, not by my will but because by the Amazing Grace of God - I was blind but now I see.

Pengharapan yang sejati


Sayup-sayup suara itu terdengar kembali,
Meraih sukmaku yang kelabu

Bibirku terkatup mengerang kesakitan
Diam seribu bahasa menatap kehampaan
Jari-jariku enggan terbuka, terkunci satu sama lain
Kakiku tak mampu menahan seluruh tubuhku
Aku menggigil di sudut lorong itu
Di antara sampah-sampah dan kegelapan yang mencekam

Sampai kulihat secercah cahaya di ujung lorong itu
Pengharapan yang sejati yang membebaskanku

07 April, 2012

Heteroseksual dan masuk surga?

Saya ingat pertama kali teman saya yang bukan orang percaya bertanya kepada saya, "Kamu Kristen?" dan kemudian dia membuat pernyataan, "Saya benci kepada orang Kristen yang extrimis dengan menghakimi orang-orang homoseksual masuk ke neraka", dengan sedikit tersenyum saya menjawabnya "Kita bisa berbuat baik, tiap hari berdoa, tiap minggu ke gereja dan pelayanan tetapi tetap masuk ke neraka"

Memang dosa homoseksual tersebut kelihatannya lebih "besar" dibanding dosa-dosa yang lainnya, tetapi bukan karena kita tidak melakukan dosa tersebut sehingga kita masuk ke surga, secara gamblang saya mengatakan "Kita masuk ke surga bukan karena kita seorang yang heteroseksual"

Kerapkali kita "menghakimi" lebih daripada Tuhan menghakimi manusia dan kita mengampuni tidak sebanyak Tuhan mengampuni orang berdosa. Kita kadang-kadang terjebak di dalam pemikiran bahwa dosa saya lebih sedikit, atau saya lebih baik secara moral daripada orang-orang tersebut. Tanpa menyadari sebenarnya tidak ada perbedaan dosa kecil dan dosa besar, pada esensinya, dosa itu sama.

Bahkan dalam suratan Paulus untuk jemaat Korintus, Paulus menempatkan dosa banci dan pemburit bersama dengan dosa kikir, penipu (1 Korintus 6:9-10). Coba ingat kapan terakhir kali kita kikir? Kapan terakhir kali kita menipu?

Mari di Jumat Agung tahun ini kita mengingat kembali, bahwa kita diselamatkan semata-mata oleh karena pengorbanan Kristus di atas kayu salib, bukan karena usaha kita, sedikitpun perbuatan baik moral kita tidak menambahi upaya Kristus menyelamatkan kita, dan sebanyak apapun perbuatan dosa kita, Kristus tetap mampu untuk menyelamatkan kita.

Untuk itulah Injil bukan hanya untuk orang homoseksual tetapi untuk orang heteroseksual juga, Injil bukanlah hanya untuk orang yang belum percaya tetapi juga untuk orang yang sudah percaya, Injil harus terus berkumandang di hati kita, agar kita tidak akan pernah dapat menyombongkan diri di hadapan Tuhan kita, Yesus Kristus.

01 April, 2012

Sama-sama makan nasi

Pernahkah Anda mendengar pernyataan seperti ini "Selama orang itu makan nasi dan saya juga, maka saya juga bisa melakukan apa yang dia lakukan", karena hal tersebut akhirnya kita juga bisa jatuh ke jebakan: Selama kita makan nasi dan orang lain juga, orang lain juga dapat sama seperti kita, melakukan apa yang bisa kita lakukan.

Seringkali dalam hal berkomunitas di dalam sebuah gereja hal ini dapat terjadi juga, ketika si A melayani lebih dari si B, maka A bisa jatuh ke jebakan merasa lebih "hebat" dari si B, karena dia bisa melakukan apa yang si B tidak bisa ataupun tidak mau lakukan, dengan pandangan si B itu malas, tidak mau melakukan, tidak berusaha atau kurang rohani, tanpa ingin mengetahui lebih jauh lagi tentang kapasitas si B yang berbeda dengan si A.

Dan sudah tentu kita tidak bisa menilai kerohanian seseorang dari banyaknya pelayanan yang mereka lakukan di dalam gereja khususnya. Dan setiap orang mempunyai kapasitas yang berbeda, bukan karena ada orang-orang tertentu tidak bisa melakukan seperti apa yang kita lakukan berarti kita bisa men-cap mereka adalah yang kurang rohani.

Mari yang melayani agak "kurang" karena keterbatasan kapasitas talenta dalam melayani, mengucap syukurlah dan tetaplah setia melayani Tuhan seberapa banyakpun yang Tuhan percayakan di dalam hidup kita, dan jangan rendah diri.

Mari yang melayani agak "banyak" karena banyaknya  kapasitas talenta dalam melayani, ingatlah bahwa segala sesuatu adalah pemberian Tuhan, siapakah kita ini, hamba yang tidak berguna. Janganlah sekali-kali menyombongkan diri.

25 March, 2012

Jemaat Banyak = Pertumbuhan Gereja?

Tidak sedikit dari kita yang selalu menilai pertumbuhan gereja melalui meningkatnya orang yang hadir setiap minggunya untuk beribadah di gereja, jemaat yang hadir di pendalaman Alkitab, di persekutuan doa, banyaknya kelompok sel yang ada, segala sesuatu dinilai dari "angka", entah itu jumlah orang yang hadir bahkan sampai jumlah persembahan yang diterima oleh sebuah gereja.

Dengan demikian banyak juga kita sering terjebak dalam "meningkatkan" jumlah orang yang hadir gereja dengan cara-cara yang menurut kita dapat berhasil meningkatkan jumlah tersebut.  Baik dari segi musik, segi komunitas maupun segi-segi lain yang kita anggap dapat lebih cepat untuk "menarik" orang-orang baru memenuhi ke gereja. Tanpa peduli apakah orang-orang tersebut sudah mempunyai tempat ibadah atau belum, atau sudah percaya atau tidak percaya

Seringkali kita "merekayasa" dengan cara mengiming-imingkan bagusnya gereja kita, baik secara langsung maupun tidak langsung.

"Ayo ke gereja saya saja, orangnya ramah-ramah"
"Ayo ke gereja saya saja, orangnya banyak yang cakep-cakep"
"Ayo ke gereja saya saja, musiknya keren banget loh"
"Ayo ke gereja saya saja, Firman Tuhannya benar-benar dahsyat"
"Ayo ke gereja saya saja, Hamba Tuhannya diurapi"

"Ayo ke gereja saya saja, ada makanannya habis selesai ibadah"
"Ayo ke gereja saya saja, kursinya empuk enak kalau buat dengar khotbah"
"Ayo ke gereja saya saja, ada kelas fotografi, kelas bahasa inggris, kelas-kelas lain"

Masih banyak lagi contoh-contoh seperti di atas. Kita merasa dengan kita melakukan A sampai Z, maka secara otomatis jumlah itu akan bertambah, tidak peduli apakah bertambah itu benar-benar bertambah orang-orang yang tadinya bukan orang Kristen ataupun orang yang hanya berpindah dari satu gereja ke gereja yang lain.

Sistem dan metode pun diterapkan dengan harapan untuk meningkatkan jumlah orang yang hadir dalam sebuah gereja yang menjadi satu bukti apakah gereja itu bertumbuh atau tidak. Definisi pertumbuhan gereja pun sudah menjadi rancu, karena hanya terbatas di dalam kuantitas yang hadir tanpa melihat faktor-faktor lain yang mungkin menjadi salah satu indikasi pertumbuhan gereja tersebut.

Sistem dan metode tersebut tidak sedikit ditiru dari gereja-gereja yang sudah banyak kuantitas jemaatnya, jika gereja besar, katakan Gereja A, bertambah 10% setiap tahunnya dalam hal jumlah orang yang hadir karena mereka melakukan Program B, maka gereja C mulai dan mempelajari serta menerapkan Program B dengan satu harapan akan berhasil di gereja C, sedangkan kita tahu pada kenyataannya tidak selalu hasilnya sama, karena hasil kembali hanya dari Tuhan saja yang memberikan, tidak ada yang mutlak dalam hal sistem dan metode tersebut, walaupun tidak berarti kita tidak usah memikirkan sistem dan metode.

Jadi bagaimana menilai pertumbuhan gereja? Apakah semata-mata hanya melalui kuantitas saja? Jika kuantitas apakah hanya kuantitas orang-orang Kristen yang baru percaya atau dicampur-adukkan dengan orang-orang Kristen pindahan gereja lain?

17 March, 2012

Menunggu tetapi pasti

Hari Jumat 16 Maret 2012, jam 6 pagi saya ikutan dalam mengantri di Apple Store untuk membeli iPad yang baru. Setiba saya di sana mungkin sudah sekitar 100 orang berkumpul untuk membeli iPad yang baru.

Walaupun toko dibuka pada jam 8 pagi, tetapi barisan antrian tidak maju-maju, sampai sekitar 10 - 15 menit baru maju. Sampai sekitar 8.30 saya masih belum masuk ke dalam Apple Store, jadi saya memutuskan memberikan Kartu Stock saya kepada teman saya, dan saya langsung berangkat ke kantor.

Kartu stock ini dibagikan sebelumnya, untuk memberitahu Apple, jenis iPad apa yang ingin kita ambil, setelah kartu stock itu habis berarti tidak ada iPad yang tersedia lagi. Semua orang yang mengantri tetap sabar dan percaya kalau mereka sudah mempunyai kartu stock itu maka mereka akan mendapatkan iPad yang baru, dan juga karena reputasi Apple dari kejadian-kejadian masa lampau di mana Apple selalu menepati janjinya.

Demikian dengan perjalanan kekristenan kita, seringkali kita menunggu dan menunggu pertolongan Tuhan, tetapi kita tidak pernah tahu kapan kita akan menerima pertolongan itu. Tetapi kita tahu Tuhan akan menolong kita tepat pada waktunya, karena Dia sudah pernah menolong kita di masa yang lampau, bahkan karena Dia sudah pernah mati untuk kita sebelum kita lahir.

Dia Allah yang tidak pernah lalai dan Dia Allah yang selalu menepati janjiNya bagi kita umatNya. Menunggulah terus dan lihatlah karya Tuhan di dalam hidupmu.

14 March, 2012

TUHAN yang memberi dan mengambil

Manusia memang tidak pernah puas, kita terus harus bergumul untuk hal ini. Jangan sampai kita tidak mengucap syukur atas apa yang Tuhan sudah berikan dalam hidup kita. Walaupun kita sudah puas pun, kita tetap harus mengingat bahwa apa yang kita miliki hanyalah titipan Tuhan dalam kehidupan kita, tidak sepatutnya kita membanggakan diri.

Pergumulan di dalam dunia berkisar antara 2 hal:

1. Sesuatu yang belum kita miliki tetapi kita ingin sekali memilikinya hanya untuk memuaskan diri kita sendiri.
2. Sesuatu yang sudah kita miliki dan menganggapnya sebagai hasil kerja keras kita semata-mata sehingga kita menjadi sombong.


For all that is in the world—the desires of the flesh and the desires of the eyes and pride in possessions—is not from the Father but is from the world.
1 John 2:16 ESV

Biarlah kita belajar dari Ayub yang mengatakan dengan telanjang aku keluar dari rahim ibuku, dengan telanjang juga aku kembali. TUHAN yang memberi dan TUHAN yang mengambil. Jikalau kita belum menerima apa yang kita belum miliki baiklah kita percaya TUHAN yang memberikan pada waktunya (ataupun tidak), dan biarlah ketika kita memiliki sesuatu ingatlah bahwa satu saat TUHAN akan "mengambilnya".

And he said, “Naked I came from my mother’s womb, and naked shall I return. The LORD gave, and the LORD has taken away; blessed be the name of the LORD.”
Job 1:21

10 March, 2012

Terima kasih


Terima kasih untuk rasa kehilangan,
Supaya kami dapat bersuka ketika mendapatkan

Terima kasih untuk beratnya satu pekerjaan
Supaya kami menikmati apa itu istirahat

Terima kasih untuk sakit
Supaya kami merasakan apa itu sembuh

Terima kasih untuk satu kehancuran
Supaya kami mengerti apa itu membangun

Terima kasih untuk tangisan air mata
Supaya kami dapat bersenda dengan tawa

Terima kasih untuk satu ratapan
Supaya kami belajar bagaimana kami menari
Terinspirasi dari Pengkhotbah 3:1-4

05 March, 2012

Displin oh...Disiplin

Saya belum pernah menyelesaikan pembacaan Alkitab secara keseluruhan. Salah satu resolusi tahun ini adalah menyelesaikannya. Saya meng-install aplikasi YouVersion di iPhone saya, aplikasi tersebut mempunyai fitur untuk membaca Alkitab selama setahun dengan reminder setiap harinya kalau-kalau saya lupa ataupun sedang “malas”.

Saya sudah memasuki hari ke 58. Namun sudah sekitar 3 hari saya terlambat karena tidak membacanya, disebabkan oleh kesibukan-kesibukan di dalam pekerjaan, pelayanan, sekolah. Saya mulai “membenarkan diri” melalui hal-hal tersebut, seraya berkata “Ah tidak apa-apa, nanti saya kejar”, yang menjadi hal yang terpenting adalah bukan hanya untuk menyelesaikan pembacaan tersebut, tetapi displin, saya harus lebih belajar mendisplinkan diri dalam mengikuti jadual yang telah ditentukan.

Kerapkali saya jatuh di dalam jebakan sesuatu hal yang penting tidak saya kerjakan atau saya tunda, sedangkan hal yang kurang penting malahan saya kerjakan lebih dahulu. Selain daripada itu seringkali membaca Alkitab di iPhone lebih sulit dibandingkan membaca di Alkitab biasa karena keinginan untuk bermain games, menjelajah situs, melihat facebook lebih tinggi ketika iPhone di depan mata.

Tuhan tolong beri kekuatan untuk saya mendisiplinkan diri.

28 February, 2012

Mencari tempat ibadah

Alasan-alasan dalam hal pencarian tempat beribadah zaman ini semakin memburuk, hal-hal yang tidak terlalu penting di dipenting-pentingkan, sedangkan hal yang sangat penting sekali dikesampingkan. Muncul satu fenomena di mana mencari tempat ibadah yang penting banyak orangnya, komunitas yang baik, yang musiknya bagus, yang pelayanan dari pendetanya memuaskan kita.

Banyak dari kita jatuh ke dalam jebakan gereja adalah sebuah produk dan kita adalah konsumer, selama kita puas dengan produk tersebut kita akan terus di dalam produk tersebut, ketika sudah tidak puas maka kita mencari produk yang baru – gereja dalam hal ini.

Gereja pun bisa jatuh ke jebakan, untuk meningkatkan jumlah jemaat, maka apapun dapat dilakukan untuk mencapai hal tersebut, bahkan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan tetapi dikompromikan hanya untuk membuat orang lebih tertarik akan apa yang gereja dapat sajikan untuk mereka.

Latar belakang teologia pendeta tidak menjadi hal yang penting, apakah gereja mengajarkan Firman Tuhan secara alkitabiah pun sudah bukan menjadi hal yang utama dalam hal memilih gereja. Kerap kali akhirnya orang-orang yang datang hanya untuk satu kepuasan untuk dirinya sendiri tidak pernah menyelidiki Firman Tuhan seperti orang-orang di Berea. Mereka hanya percaya dengan apa yang dikatakan pendeta di gereja tersebut, seolah-olah hal itu sudah menjadi yang paling benar.

Kebanyakan alasan yang kita utarakan selalu berpusat kepada diri sendiri - apakah saya akan dipuaskan, apakah saya akan mendapatkan komunitas yang baik, apakah saya akan diterima, apakah musiknya baik, apakah tempatnya enak, dan lain sebagainya - memang hal-hal tersebut sedikit banyak menjadi bahan pertimbangan tetapi bukan menjadi hal yang paling utama, seharusnya yang kita tanyakan adalah apakah gereja tersebut mengajar Firman Tuhan secara bertanggung jawab, dan juga di manakah Tuhan mau kita melayani Dia dengan baik sehingga nama Tuhan dipermuliakan.

Kalau alasan ke gereja untuk kepuasan diri sendiri, maka tidaklah susah payah pergi ke gereja, kita akan bisa mendapatkan di tempat lain, walaupun sering kali akhirnya kita tetap datang ke gereja karena kita tidak mau dipersalahkan juga jikalau kita mencari kepuasan di tempat lain. Seolah-olah jikalau mendapatkan kepuasan di gereja, hal itu menjadi hal yang lebih rohani dan benar.

Mari pikirkan lebih jauh apa yang perlu kita perhatikan dalam mencari tempat beribadah, pikirkan apa yang sebenarnya menjadi hal yang penting dan yang kurang penting dalam hal memilih tempat ibadah.

22 February, 2012

Lent 2012

Ash Wednesday is starting today 22 February 2012. Lent season is 40 days from Ash Wednesday to Easter Sunday to remember the death and resurrection of Christ. Personally, I think the death and resurrection of Christ need to be remembered all the time, not just during the lent season, but it's good to have those dates so we can discipline our life and check stuff that have became or will potentially become our idol. So for the next 40 days, here are the list that I'm going to do:

Food
No Cha Time (Asian buble tea, this is like easyway 2.0, but it's more addictive)
No Coffee

Internet
No buying or updating apps
No Internet connection on desktop PC and netbook after work
No Instagram and Safari on iPhone
No visiting macrumors and ozbargain sites

Reading
Finish reading the Gospel

Lent 2011

19 February, 2012

Pembajak Kristen

Tono: “Asyik saya sudah ada koleksi MP3, artis rohani Kristen A yang terbaru”
Tini: “Kamu dapatnya dari mana”
Tono: “Saya dapat dari internet”
Tini: “Wah itu kan illegal”
Tono: “Gak apa-apa kan saya pakai untuk pelayanan”

Berapa sering kita mendengar percakapan seperti di atas, ini adalah pembenaran diri dari sesuatu yang salah dengan mengungkapkan hal yang rohani untuk menutupi kesalahan tersebut, sehingga kesalahan tersebut  bukan menjadi kesalahan lagi.

Berapa banyak entah itu software, MP3 atau film mudah sekali untuk didapatkan di internet, seringkali kita tidak tahu juga apakah itu melanggar hukum atau tidak, ketika kita mengunduh semua itu. Seringkali kita mengatakan karena semua orang sudah banyak melakukan maka hal tersebut bukan menjadi satu kejahatan lagi, atau karena sangsi yang diberikan kepada pelaku, walaupun kelihatan besar namun sangat sulit sekali untuk pihak yang berwajib mengenakan sangsi kepada si pelaku. Melalui pandangan seperti itu kita mulai membenarkan diri untuk melakukan hal tersebut, tidak ada pemikiran lebih jauh lagi tentang mengapa kita melakukan hal tersebut.

Tentu di lain pihak, banyak orang-orang Kristen yang tidak memiliki software, MP3 dan film bajakan dapat jatuh kepada perangkap legalisme, dengan berpandangan karena saya tidak mengunduh software dan MP3 bajakan, maka saya lebih benar dari pada orang-orang yang mengunduhnya, tentu ini hal yang salah. Tetapi bukan karena kita takut akan bahaya legalisme, itu menjadi alasan kalau mengunduh software, film dan MP3 bajakan tidak apa-apa.

Dahulu saya berpikir karena saya tidak mempunyai uang yang cukup untuk membeli software, MP3 dan film bajakan, tetapi walaupun saya sudah memiliki uangpun, sangat sulit bagi saya untuk membeli software asli, karena kita merasa uang yang dipakai itu dapat dipakai untuk hal yang lain, atau kita merasa tidak adil karena orang lain bisa mendapatkan secara “gratis” mengapa saya harus membayar. Ternyata masalah utamanya bukanlah karena kita kekurangan uang, tetapi kita lebih mencintai uang daripada melakukan apa yang benar, yaitu membeli  software, MP3 dan film yang asli.

Memang di Negara-negara yang sedang berkembang, perusahaan software membiayai harga yang terlalu tinggi untuk masyarakat, sehingga masyarakat lebih memilih bajakan dibandingkan yang asli. Tetapi kembali pertanyaannya apakah memang software itu diperlukan, adakah software open source (free) yang dapat dipakai dan sama fungsinya dengan software asli?

Dengan menulis artikel ini bukan berarti saya sudah bebas dari pembajakan software dan pengunduhan film maupun MP3 di dunia Internet, tetapi saya mengajak kita semua berpikir bahwa bukan karena kita sudah melakukan atau semua orang melakukannya maka pembajakan tersebut adalah menjadi sesuatu yang benar di hadapan Tuhan, bahkan ketika alasan tersebut kedengarannya sangat rohani sekali.

Saran saya, sebisa-bisanya mulailah berhenti mengunduh software, film dan MP3 bajakan dari Internet dan mulailah untuk menghapus file-file tersebut sebisa mungkin. Atau setidaknya berpikirlah bahwa hal itu adalah yang salah, jangan sampai karena kita tidak mau dianggap salah maka kita mulai merasionalisasikan pemikiran kita bahwa hal itu tidak apa-apa.

Sampai saat ini saya masih mempunyai software, film dan MP3 bajakan di samping yang asli, yang mulai saya beli. Tetapi saya masih berhutang untuk menghapus bajakan tersebut di kemudian hari. Bagaimana menurut Anda?

11 February, 2012

Menikah hanya sekali

Seringkali kita mendengar pernyataan ini bukan, bahwa menikah hanya satu kali. Saya akan mengecewakan Anda sebagai pembaca, karena yang akan saya bahas di sini bukanlah mengenai prinsip-prinsip menikah hanya sekali - maafkan saya.

Jika Anda sudah menikah atau akan menikah, tentu Anda ingat atau sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan hari pernikahan Anda, entah itu dari baju, kue pernikahan, bunga, restoran, acara, bahkan sampai ke hal-hal kecil seperti buku tamu yang akan dipakai untuk mencatat tamu-tamu Anda.

Ketika Anda sedang memilih kue contohnya, penjaga toko tahu Anda sedang mencari kue pernikahan, dan kue-kue yang ditawarkan tentu yang mahal-mahal karena penjaga toko itu mungkin akan mendapatkan komisi lebih tinggi, kata-kata yang dilontarkan adalah seperti ini: “Wah, pilih yang ini aja yang paling bagus, kan kamu menikah hanya sekali”, tentu tidak ada salahnya untuk memilih yang terbaik di hari pernikahan kita, tetapi sadar atau tidak sadar hal itu setidaknya mempengaruhi kita dalam hal memilih segala sesuatu yang berhubungan dengan pernikahan kita “Pilih yang paling bagus karena menikah hanya satu kali”, walaupun kita tidak sanggup, kita berusaha untuk mendapatkan yang terbaik itu, tetapi walaupun kita sanggup bukan berarti garis antara kebutuhan dan kemauan sudah tidak ada.

Seringkali kita tidak adil dengan hidup kita, kita dapat memakai satu pernyataan hanya untuk membenarkan diri kita ketika kita melakukan sesuatu yang akan “menguntungkan” kita, dalam hal pernikahan setidaknya mungkin orang yang akan datang ke pernikahan kita akan membandingkan dengan pernikahan yang mereka sudah datangi di bulan yang lalu.

Tetapi di lain pihak kita tidak mau memakai pernyataan itu ketika hal itu tidak “menguntungkan” kita.  

Renungkan hal ini: Bayangkan Anda terbang menggunakan pesawat terbang, lalu ada seorang asing duduk di samping kita, bukankah kita hanya akan bertemu orang asing itu satu kali dan mungkin tidak akan bertemu lagi, tetapi bisakah kita mengatakan “Bertemu orang asing ini hanya satu kali, sebaiknya saya mengabarkan sesuatu yang terbaik untuk orang ini, yaitu Injil Tuhan.”, terlepas mungkin karakter manusia berbeda satu sama lain.

Yesus tidak membawa damai

Matius 10:34-39
34 "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. 35 Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, 36 dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. 37 Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. 38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. 39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.


Perikop Alkitab di atas tentu sudah tidak asing di telinga Anda bukan? Tetapi bukankah Yesus justru datang untuk membawa damai? Mengapa Yesus datang untuk memisahkan kita dari keluarga kita? Apa? Yesus mau kita mengasihi Dia lebih daripada kita mengasihi keluarga kita?

Damai yang di bawa ke dalam dunia, adalah damai antara kita dengan Allah, melalui Yesus kita diperdamaikan dengan Allah. Sedangkan “tidak membawa damai” di sini lebih ke arah adanya satu pemisahan antara orang-orang percaya dan bukan, antara pengikut Kristus atau bukan. Pemisahan ini lebih dimaksudkan mengenai ketika kita mengikuti Yesus mungkin kita akan mengalami penyangkalan terhadap keluarga kita sendiri, kita mungkin harus “membenci” keluarga kita sendiri.

Hubungan dengan Yesus harus menjadi sesuatu yang utama di atas hubungan yang lain, bahkan hubungan keluarga sekalipun. Walaupun demikian ketika kita mengasihi Tuhan maka kita akan mengasihi sesama kita juga, termasuk keluarga kita, namun bukan sebaliknya, kita bisa mengasihi keluarga kita lebih daripada kita mengasihi Tuhan, jikalau seperti hal itu terjadi maka keluarga telah menjadi “berhala”. Segala sesuatu ataupun seseorang yang kita cintai lebih daripada Tuhan adalah “berhala”.

Jadi bisa kita katakan memikul salib kita dan mengikuti Yesus adalah mengasihi Dia lebih dari segala sesuatu ataupun seseorang di dunia ini.

08 February, 2012

The Monkey Story

I find this article very intriguing especially when I apply to my Christian life, we sometimes have fallen into a trap doing "spiritual activities" without really knowing why are we doing it and without any eagerness to know why is that. We are doing them maybe just because our parent told us it's good to do them, just because churches says it's good to do so, or just because every Christians are doing them so that's why I need to do them as well.

The experiment involved 5 monkeys, a cage, a banana, a ladder and, crucially, a water hose.


The 5 monkeys would be locked in a cage, after which a banana was hung from the ceiling with, fortunately for the monkeys (or so it seemed…), a ladder placed right underneath it.

Of course, immediately, one of the monkeys would race towards the ladder, intending to climb it and grab the banana. However, as soon as he would start to climb, the sadist (euphemistically called “scientist”) would spray the monkey with ice-cold water. In addition, however, he would also spray the other four monkeys…

When a second monkey was about to climb the ladder, the sadist would, again, spray the monkey with ice-cold water, and apply the same treatment to its four fellow inmates; likewise for the third climber and, if they were particularly persistent (or dumb), the fourth one. Then they would have learned their lesson: they were not going to climb the ladder again – banana or no banana.

In order to gain further pleasure or, I guess, prolong the experiment, the sadist outside the cage would then replace one of the monkeys with a new one. As can be expected, the new guy would spot the banana, think “why don’t these idiots go get it?!” and start climbing the ladder. Then, however, it got interesting: the other four monkeys, familiar with the cold-water treatment, would run towards the new guy – and beat him up. The new guy, blissfully unaware of the cold-water history, would get the message: no climbing up the ladder in this cage – banana or no banana.

When the beast outside the cage would replace a second monkey with a new one, the events would repeat themselves – monkey runs towards the ladder; other monkeys beat him up; new monkey does not attempt to climb again – with one notable detail: the first new monkey, who had never received the cold-water treatment himself (and didn’t even know anything about it), would, with equal vigour and enthusiasm, join in the beating of the new guy on the block.

When the researcher replaced a third monkey, the same thing happened; likewise for the fourth until, eventually, all the monkeys had been replaced and none of the ones in the cage had any experience or knowledge of the cold-water treatment.

Then, a new monkey was introduced into the cage. It ran toward the ladder only to get beaten up by the others. Yet, this monkey turned around and asked “why do you beat me up when I try to get the banana?” The other four monkeys stopped, looked at each other slightly puzzled and, finally, shrugged their shoulders: “Don’t know. But that’s the way we do things around here”…

Source: Costas Markides

05 February, 2012

Sekali selamat tetap selamat VS Keselamatan itu bisa hilang

Pertanyaan ini sering muncul di kalangan orang-orang Kristen mengenai kedua pandangan yang berbeda di bawah ini.

1.    Keselamatan itu tidak bisa hilang, sekali selamat tetap selamat.
2.    Keselamatan itu bisa hilang, untuk itu kita harus mengerjakan keselamatan

Seringkali kita ditanya oleh orang lain, posisi mana yang kita pegang apakah kita pegang entah itu posisi pertama ataupun kedua, dan memang ada baiknya kita terus ditanya dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, walaupun tidak selalu semua pertanyaan-pertanyaan dapat dijawab dengan logis, tetapi kita tidak dapat mengenyampingkan logika kalau memang sesuatu hal itu dapat dijelaskan secara logis walaupun pada batas tertentu juga.

Saya percaya kedua hal tersebut bahwa sekali selamat tetap selamat, dan kita tetap harus mengerjakan keselamatan.

Kita diselamatkan untuk terus mengerjakan keselamatan tersebut sebagai bukti bahwa kita sudah diselamatkan bukan karena kita mengerjakan keselamatan maka keselamatan tersebut tidak akan hilang. Mengerjakan keselamatan bukanlah suatu jaminan tetapi suatu bukti. (Baca: Filipi 2:12 – Work out your salvation not work out for your salvation)

Kalau kita menganggap kita sudah diselamatkan tetapi kita tidak mengerjakan keselamatan tersebut, keselamatan itu tidak hilang atau mungkin keselamatan itu seolah-olah hilang, tetapi kita memang tidak pernah mendapatkan keselamatan tersebut dari semula, keselamatan yang seperti itu adalah keselamatan yang semu. Ketika kita tidak mengerjakan keselamatan tersebut, hal itu menjadi bukti bahwa kita tidak pernah diselamatkan (Baca: 1 Yohanes 2:19)

31 January, 2012

Saya (tidak) akan doakan

Tono: "Ko, saya butuh kerjaan nih!"
Komuda: "Ok, nanti saya doain"

Setelah berjalan 1 minggu...
Tono: "Ko, terima kasih yah saya dapat pekerjaannya, terima kasih buat doanya yah"
Komuda: "Puji Tuhan, iya ngak apa-apa"
Komuda (dalam hati):" Padahal saya ngak mendoakan kamu loh"

Berapa banyak sering kali kita menawarkan untuk mendoakan orang lain ketika mungkin orang tersebut sedang membutuhkan sesuatu atau menginginkan sesuatu, tidak sedikit juga yang secara blak-blakan mereka meminta kita untuk mendoakan mereka. Seringkali mulut ini tidak dapat mengatup dan otak tidak berpikir sejenak, seolah-olah yang menjadi jawaban atas permintaan tersebut selalu "Yah nanti saya akan doakan".

Pada kenyataannya kita tidak mendoakan orang tersebut. Jadi apakah tawaran untuk mendoakan hanya untuk basa-basi? Hanya untuk terlihat lebih rohanikah? Atau apa? Tentu kita berhutang bukan ketika kita berjanji akan mendoakan tetapi tidak mendoakannya.

Tidak sedikit dari kita jatuh ke jebakan seperti ini, bahkan ada saat di mana hal ini terjadi dalam hidup saya. Jebakan tersebut hanya untuk kelihatan lebih rohani maka semua hal yang dapat orang nilai secara rohani melalui mata mereka, kita lebih rela melakukannya dibandingkan untuk mempertanggunjawabkan hal tersebut di hadapan Tuhan yang melihat kedalaman relung hati kita. Kita rela menipu mereka dan menipu Tuhan hanya untuk sebuah status, yaitu status harga diri sebagai orang yang kelihatan lebih rohani.

Mari, jangan cepat-cepat menawarkan doa jika kita tidak dapat melakukannya, jangan hanya untuk kelihatan lebih rohani. Tetapi kalau memang kita diminta mendoakan, mari kita mendisiplinkan diri untuk mendoakan kebutuhan-kebutuhan mereka, terutama kebutuhan rohani mereka.

28 January, 2012

Hari Orientasi di sekolah teologi

Entah saya mau memulai dari mana, hari orientasi yang saya takutkan akhirnya berakhir juga pada jam 5 sore ini, yang tadinya saya berkeinginan untuk tidak datang, setelah selesai hari orientasi hari ini, saya malah berpikir akan menyesal kalau tidak datang. Saya diberkati sekali dan memberikan kembali semangat terus untuk melakukan studi ini.

Saya akan merangkum secara singkat kejadian dan pengalaman apa saja yang terjadi dan yang saya dapat di hari orientasi hari ini namun tidak secara kronological.

1. Pengalaman yang tidak pernah saya alami masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi oleh murid-murid baru yang ingin belajar Alkitab baik itu 1, 3 ataupun 4 tahun, mungkin sekitar 100 orang lebih, tetapi yang lebih uniknya 90% dari mereka adalah orang Australia, atau mungkin tidak semua dari 90% itu adalah orang Australia, setidaknya mereka orang bule. Sebelumnya ada satu stereotype kepada orang bule bahwa mereka ateis, tetapi ternyata tidak semua orang bule adalah ateis, ini adalah pengalaman yang menarik.

2. Berlanjut dari pengalaman yang pertama, murid-murid baru ini berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, saya akan mencoba mengingat siapa saja mereka.
•    Ada pengacara
•    Ada direktur
•    Ada yang tidak pernah kuliah di Universitas
•    Ada engineer
•    Ada pendeta
•    Ada businessman
•    Ada petani
•    Ada guru
•    Ada politician
•    Ada yang bekeluarga
•    Ada yang bekeluarga tetapi hanya salah satu yang studi
•    Ada yang bercerai
•    Ada yang punya anak
•    Ada yang single
Ternyata tidak ada batasan dan kriteria tertentu untuk studi mengenai Tuhan, Anda bisa menjadi siapa saja, kalau Tuhan “memanggil” dalam keadaan apapun dan pekerjaan apapun, Tuhan dapat dan akan melakukan kehendakNya di dalam hidup Anda.

3. Pengalaman berikutnya adalah bertemu dengan satu pendeta yang tidak begitu lancar dalam berbahasa inggris, tetapi kerinduan dia untuk mengambil studi di Moore College membuat saya mengangkat jempol, tadinya saya berpikir inggris saya pas-pasan, Tuhan membukakan mata saya bahwa yang terpenting bukanlah hal tersebut.

4. Saya sempat ngobrol dengan beberapa orang, kebanyakan dari mereka orang-orang pintar, tetapi kepala sekolah dari sekolah tersebut membuat satu pernyataan bahwa studi di Moore College bukanlah satu kompetisi, mendapatkan nilai yang paling baik bukanlah segalanya, kita mungkin bisa mendapatkan nilai yang baik tetapi tidak benar-benar mengenal Tuhan.

5. Delapan hal yang penting yang John Woodhouse (Principal of Moore College) utarakan kepada murid-murid baru yang harus diperhatikan:

a. Mengenal Tuhan, rencanaNya dan tujuanNya di dalam hidup kita. Hati-hati terhadap bahaya pragmatis. Mengenal dan mengasihi Tuhan adalah tujuan.

b. Mengenal Tuhan adalah ideNya Tuhan bukan kita. Mengenal Tuhan dimulai dari tahu bahwa Tuhan yang mengenal kita terlebih dahulu.

c. Mengenal Tuhan bukan hanya mengetahui fakta-fakta. Mengenal Tuhan terkait erat sekali dengan kesalehan kita. Kita bisa baik dari segi akademis tetapi tidak benar-benar mengenal Tuhan

d. Mengenal Tuhan melibatkan intelektual

e. Di Moore College, kami diminta untuk belajar dengan sunguh-sungguh kerja keras, bukan hanya di pikiran semata tetapi menjalankannya di kehidupan sehari-hari.

f. Maksud point yang diatas ini adalah bahwa Moore College sama seperti gereja bukan universitas

g. Murid-murid yang sudah berkeluarga adalah penting, Moore College menyediakan satu komunitas di mana membantu murid-murid yang sudah bekeluarga untuk saling menopang satu sama lain.

h. Bertanggung jawab di dalam satu komunitas.

6. Menarik ketika John Woodhouse menerangkan hal terakhir (Bertanggung jawab di dalam satu komunitas) lebih mendalam lagi, berikut penjelasannya:

20 tahun yang lalu ada tembok pemisah ketika kita harus pergi ke toko untuk mengambil majalah porno sedangkan di dunia internet tidak ada, tembok pemisahnya hanyalah satu klik mouse. Untuk inilah Moore College menyediakan satu piranti lunak bernama Covenant Eyes untuk membantu murid-murid menciptakan tembok pemisah menuju internet pornografi, dengan cara memilih teman-teman yang dimana kita bisa percaya dan bertanggung jawab untuk memantau situs-situs yang kita lihat. Menggunakan program ini bukanlah sesuatu yang diharuskan tetapi dianjurkan, dan bukan hanya orang yang pernah bergumul akan masalah pornografi, tetapi juga orang yang sedang bahkan orang yang tidak pernah sama sekali jatuh dalam dosa pornografi di internet khususnya.

7. Ada dua lagu yang membuat saya meneteskan air mata sedikit ketika kami bersama-sama menyembah Tuhan. Amazing Grace (My Chains are gone) dan How deep the Father’s love for us.






Ketujuh hal tersebut di atas sangat mendorong saya, menyemangati  dan mengingatkan kembali akan keputusan yang saya ambil ini untuk di kemudian hari menjadi pelayan Tuhan penuh waktu.

Tuhan memberkati Moore College, dosen-dosen pengajar, murid-murid yang baru, murid-murid yang masih belajar, dan murid-murid yang sudah lulus.

27 January, 2012

Mitos tentang Pendeta

Pendeta tidak berdosa (baca: dosanya dikit)
Pendeta lebih kudus
Pendeta doanya lebih ampuh
Pendeta adalah penyembuh
Pendeta harus kaya
Pendeta tidak boleh kaya
Pendeta harus lebih rohani
Pendeta tidak gampang marah
Pendeta lepas dari dosa seksual
Pendeta lebih dekat dengan Tuhan
Pendeta bisa menjadi pengantara ke Tuhan
Pendeta terlalu serius
Pendeta ...

Saya memulai sekolah teologi

Selama bertahun-tahun saya mempunyai satu kerinduan untuk belajar lebih dalam mengenai Tuhan dan melayani Tuhan lebih baik lagi khususnya dalam mengajarkan Firman Tuhan kepada Jemaat Tuhan, sampai pada akhirnya tahun kemarin saya memutuskan untuk melihat-lihat sekolah teologi yang ada di kota Sydney, ada 3 tempat yang saya incar: SMBC, Moore College dan PTC, saya hanya datang ke Open Day di SMBC dan di Moore College tidak sempat pergi mengunjungi PTC. Ketiga sekolah ini mengajarkan alkitab secara alkitabiah.

Setelah berdoa dan berdiskusi dengan beberapa orang-orang dekat saya, saya akhirnya memutuskan mendaftar di Moore College, untuk alasan mengapa, saya akan jelaskan di lain waktu. Rencana saya, jika Tuhan berkehendak, saya akan kuliah 5 tahun part-time kemudian 3 tahun full-time, jadi jika tidak ada halangan saya akan lulus tahun 2020 dengan gelar BD (Bachelor of Divinity)

Minggu lalu saya sudah bertemu dengan wakil kepala sekolahnya, dan setelah melalui proses wawancara akhirnya saya diterima di tahun ini, saya akan memulai kelas saya di bulan Februari 2012, pelajaran pertama adalah Bahasa Yunani 1A.

Saya excited sekali, tetapi di satu pihak ada rasa ketakutan juga, karena saya tidak pernah menulis essay ketika saya mengambil sekolah komputer, dan memiliki Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua saya,tidak akan menjadi hal yang gampang juga untuk sekolah teologi dalam Bahasa Inggris. Masih banyak ketakutan-ketakutan yang lain akan saya sharing-kan di lain waktu.

Jika Anda bertanya mengapa saya memutuskan untuk mengambil sekolah teologi dan rindu melayani Tuhan secara fulltime, inilah tandanya: Lukas 10:2 Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.

Saya berharap setelah lulus atau bahkan selama saya di sekolah teologi, saya rindu untuk memberitahukan kabar Injil itu lebih efektif lagi kepada orang-orang yang belum pernah mendengar kabar Injil tersebut dan untuk orang-orang skeptis yang selalu mencela Firman Tuhan.

Saya meminta dengan sangat siapapun Anda untuk dapat mendoakan saya di dalam menyelesaikan studi ini.

23 January, 2012

We really have to know what we really believe

I was asking one of my friends about why he became a Christian, ironically he answered: "Because, I've always been in a Christian family, I went to a Christian school, of course I'm a Christian". I don't deny that living in a Christian family or going to a Christian school can help us to become a Christian, to some extend - God can use both of institutions to awaken spiritually death people,. Having said that, there will be no guarantee, if you happen to have strong Christianity values surround you, will ever make you a true Christian.

There are parents, if not many, are sending their kids to Christian school with a hope, they can be a morally good person but not a true Christian, well not to overstated the statement, maybe if they can be good, becoming a true Christian is a bonus, it's kind of like, if you are buying something and you will get some freebies - sort of like icing on the cake.

When someone ever ask you, why you became a Christian, or why you became an atheist, or why you became such and such, we really have to know what is really the foundation of our belief, we have to dig deep down of what we really believe in. We shouldn't just swallow of what our parent, our friends, our society, our school been teaching us. Yes, they have been a very good help in our life to know what we really believe in - but in the end, we really have to know what we really believe not what they believe. Let's keep finding what we really believe in!