Recent Posts
29 December, 2009
One True Soul Mate?
Posted by
Anton Triyanto
The popular music and art of our society calls us to keep on doing it, to load all of the deepest needs of our hearts for significance and transcendence into romance and love. "You're nobody till somebody loves you,", went the popular song, and we are an entire culture that has taken it literallly. We maintain the fantasy that if we find our one true soul mate, everything wrong with us will be healed. But when our expectation and hopes reach that magnitude, - "the love object is God." No lover, no human being, is qualified for that role. No one can live up to that. The inevitable result is bitter disillusionment. -- Counterfeit Gods, Page 29.
Mengapa kita harus mengampuni?
Posted by
Anton Triyanto
Hal mengampuni memang secara teori sangat mudah sekali dibicarakan dan dianalisa, namun bagaimanakah jika kita yang dihadapkan secara realita sesuatu yang membuat kita dendam karena orang lain telah menyakiti kita sedemikian hebatnya sehingga kita tidak mudah mengampuni atau bahkan bertekad tidak akan mengampuni? Satu hal yang saya belajar bahwa, memang secara fakta saya tidak memungkiri mengampuni sangat sulit sekali, tapi yang selalu terngiang-ngiang di benak saya adalah perumpamaan tentang raja dan hamba-hambanya di dalam Matius 18:23-35.
Apa yang kita lakukan terhadap Allah, yaitu dosa jauh lebih buruk daripada apa yang orang lain lakukan kepada kita. Dengan mengerti pengetahuan tersebut dan menerima pengampunan dari Allah atas dosa-dosa kita maka kita dapat mengampuni orang lain yang telah berbuat salah kepada kita - apapun kesalahan tersebut dari yang terbesar sampai yang terkecil, masalah terbesar dalam kehidupan kristiani adalah kita tahu kita orang berdosa tapi yang kita tidak tahu adalah bahwa intensitas dan kapasitas dosa kita seberapa banyak, sehingga seolah-olah memang Allah layak untuk mengampuni kita tapi bukan karena kasih karunia.
Doa saya bagi kita semua adalah - "Jika hari ini kita tahu bahwa Allah telah mengampuni hidup kita maka ampunilah orang yang bersalah kepada kita, karena kita tahu apa yang saudara lain lakukan buruk terhadap kita tidak dapat dibandingkan dengan betapa buruknya apa yang sudah kita lakukan terhadap Allah"
Apa yang kita lakukan terhadap Allah, yaitu dosa jauh lebih buruk daripada apa yang orang lain lakukan kepada kita. Dengan mengerti pengetahuan tersebut dan menerima pengampunan dari Allah atas dosa-dosa kita maka kita dapat mengampuni orang lain yang telah berbuat salah kepada kita - apapun kesalahan tersebut dari yang terbesar sampai yang terkecil, masalah terbesar dalam kehidupan kristiani adalah kita tahu kita orang berdosa tapi yang kita tidak tahu adalah bahwa intensitas dan kapasitas dosa kita seberapa banyak, sehingga seolah-olah memang Allah layak untuk mengampuni kita tapi bukan karena kasih karunia.
Doa saya bagi kita semua adalah - "Jika hari ini kita tahu bahwa Allah telah mengampuni hidup kita maka ampunilah orang yang bersalah kepada kita, karena kita tahu apa yang saudara lain lakukan buruk terhadap kita tidak dapat dibandingkan dengan betapa buruknya apa yang sudah kita lakukan terhadap Allah"
28 December, 2009
Whatever controls us is our lord
Posted by
Anton Triyanto
"Whatever controls us is our lord. The person who seeks power is controlled by power. The person who seeks acceptance is controlled by acceptance. We do not control ourselves. We are controlled by the lord of our lives. " — Rebecca Pippert (Out of the Salt Shaker)
24 December, 2009
Forgiveness is NOT unconditional
Posted by
Anton Triyanto
Forgiveness is NOT unconditional. It is conditional. This does not mean it can be earned. It means forgiveness is given to those who truly trust Christ. Trust is not an act by which anything can be earned. It calls attention to the worth of God's grace, not the worth of our action. But trust is not mere intellectual assent to Biblical facts. It involves hearty affirmation of the will of Christ. Therefore trusting Christ involves confessing sin as sin and taking up arms against it. ~ John Piper
23 December, 2009
Standar Kecantikan...?
Posted by
Anton Triyanto
"Kalau boleh pilih antara Tini dan Tina, maka saya akan pilih Tini, karena lebih cakep, hidungnya lebih mancung, bola matanya bersinar-sinar" -- Begitulah orang memilih berdasarkan apa yang kelihatan, walaupun kenapa Tini lebih bisa cantik di matanya Tono, dibanding Tina. Mengapa bisa begini? Mungkin di mata orang lain Tina lebih cantik dibanding dengan Tini, jadi yang sebenarnya cantik siapa yah? Cantik itu relatif sekali, kita sedikit banyak dipengaruhi oleh media, foto model yang pakai makeup kita akhirnya bilang itu cantik, standarnya adalah foto model di majalah.
Memang dalam teori Fibonacci, muka manusia ada perhitungannya baru dibilang mukanya memiliki unsur estetik, namun selama perhitungannya benar sekalipun tetap manusia mempunyai standar di dalam pikirannya, oh si A cantik, si B biasa aja, dan si C manis.
Jaman dahulu, wanita yang gemuk adalah wanita yang cantik, (monalisa) tapi di jaman sekarang malah kebanyakan pria mencari wanita yang kurus (walaupun tidak semua). Jadi akhirnya semua orang terkondisi dengan berubahnya jaman dan 'taste' dari orang-orang yang tinggal di jaman ini. Manusia pun berlomba-lomba untuk mempercantik dirinya, entah dari gaya rambut, gaya berpakaian, lekuk alis, warna lipstik, semuanya banyak sekali yang dapat dipakai untuk menambah nilai kecantikan luar tersebut.
Apakah ini salah? Menurut saya ini bukan persoalan salah atau tidak salah, dalam segala sesuatu yang kita lakukan harus ada tujuan dan pertanggungjawaban. Banyak akhirnya ketika kita melakukan permak sana permak sini, hanya karena pengaruh media, si Artis A itu rambutnya baru di 'highlight" ~ saya juga mau ikutan ah. Jadi kembali saya simpulkan bahwa kita tidak bisa memungkiri pengaruh media yang akhirnya membentuk 'standar kecantikan' dalam hidup kita.
1 Samuel 16:7
Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.
Akhir kata bersoleklah, tapi kita harus tahu tujuan dari bersolek tersebut apakah kita hanya mau mendapat nilai dari orang lain, akhirnya manusia cenderung lebih kuatir akan apa yang orang lain katakan dibanding dengan apa yang Tuhan mau ubahkan dalam hidup kita, yaitu hati kita.
Memang dalam teori Fibonacci, muka manusia ada perhitungannya baru dibilang mukanya memiliki unsur estetik, namun selama perhitungannya benar sekalipun tetap manusia mempunyai standar di dalam pikirannya, oh si A cantik, si B biasa aja, dan si C manis.
Jaman dahulu, wanita yang gemuk adalah wanita yang cantik, (monalisa) tapi di jaman sekarang malah kebanyakan pria mencari wanita yang kurus (walaupun tidak semua). Jadi akhirnya semua orang terkondisi dengan berubahnya jaman dan 'taste' dari orang-orang yang tinggal di jaman ini. Manusia pun berlomba-lomba untuk mempercantik dirinya, entah dari gaya rambut, gaya berpakaian, lekuk alis, warna lipstik, semuanya banyak sekali yang dapat dipakai untuk menambah nilai kecantikan luar tersebut.
Apakah ini salah? Menurut saya ini bukan persoalan salah atau tidak salah, dalam segala sesuatu yang kita lakukan harus ada tujuan dan pertanggungjawaban. Banyak akhirnya ketika kita melakukan permak sana permak sini, hanya karena pengaruh media, si Artis A itu rambutnya baru di 'highlight" ~ saya juga mau ikutan ah. Jadi kembali saya simpulkan bahwa kita tidak bisa memungkiri pengaruh media yang akhirnya membentuk 'standar kecantikan' dalam hidup kita.
1 Samuel 16:7
Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.
Akhir kata bersoleklah, tapi kita harus tahu tujuan dari bersolek tersebut apakah kita hanya mau mendapat nilai dari orang lain, akhirnya manusia cenderung lebih kuatir akan apa yang orang lain katakan dibanding dengan apa yang Tuhan mau ubahkan dalam hidup kita, yaitu hati kita.
22 December, 2009
Ajaran Tentang Kemakmuran: Mengelabui dan Mematikan
Posted by
Anton Triyanto
Ketika saya membaca tentang gereja yang mengajarkan tentang kemakmuran, respon saya adalah: Seandainya saya bukan orang Kristen, saya tidak akan ingin masuk Kristen. Dengan kata lain, seandainya ini adalah pesan Yesus, mohon maaf saya tidak mau.
Memikat orang untuk mengikut Kristus supaya kaya adalah bohong dan mematikan. Ini adalah bohong karena pada waktu Yesus sendiri memanggil kita, Ia mengatakan hal-hal seperti: “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridKu” (Lukas 14:33). Dan ini mematikan karena hasrat untuk menjadi kaya menjerumuskan “orang ke dalam keruntuhan dan kebinasaan” (1 Timotius 6:9). Jadi inilah permohonanku kepada para pemberita injil.
1. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang membuat manusia lebih sulit lagi untuk masuk surga.
Yesus berkata, “Betapa sulitnya bagi orang kaya untuk masuk ke dalam kerajaan Allah!” Murid-muridnya tercengang, sebagaimana banyak orang dalam gerakan “kemakmuran” seharusnya bereaksi. Yesus kemudian meneruskan yang membuat mereka bahkan lebih heran lagi dengan berkata, “lebih mudah seekor unta masuk ke lobang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah.” Mereka merespon dalam ketidak-percayaan: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah” (Markus 10:23-27).
Pertanyaan saya bagi para pendeta yang mengajarkan tentang kemakmuran adalah: Mengapa anda ingin mengembangkan fokus gereja yang membuat sulit bagi manusia untuk masuk surga?
2. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang mengobarkan keinginan manusia untuk bunuh diri.
Paulus berkata, “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar, sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia, dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa keluar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” Tetapi kemudian ia memperingatkan akan keinginan untuk menjadi kaya. Dan secara implisit, ia memperingatkan para pendeta yang menimbulkan keinginan untuk menjadi kaya ketimbang menolong manusia untuk menjauhkan diri darinya. Ia memperingatkan, “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat, dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan adalah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1 Timotius 6:6-10).
Jadi pertanyaan saya kepada pendeta yang mengajarkan tentang kemakmuran adalah: mengapa anda mau mengembangkan gereja yang mendorong manusia untuk menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka dan menenggelamkan dirinya ke dalam keruntuhan dan kebinasaan?
3. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang mendorong kerentanan terhadap ngengat dan karat.
Yesus memberi peringatan terhadap upaya untuk mengumpulkan harta di dunia. Yaitu, ia menyuruh kita untuk menjadi pemberi, bukan penyimpan. “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi, di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya, tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga, di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya” (Matius 6:19).
Memang, kita semua menyimpan sesuatu. Namun karena adanya kecenderungan untuk serakah dalam diri kita semua, mengapa kita menanggalkan fokus dari Yesus dan memutar-balikkannya?
4. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang menjadikan kerja keras sebagai jalan untuk mendapatkan kekayaan yang berlimpah.
Paulus berkata kita tidak boleh mencuri. Pilihannya adalah kerja keras dengan tangan kita sendiri. Tetapi tujuan utamanya bukan semata-mata untuk menimbun atau bahkan untuk memiliki. Tujuannya adalah “memiliki untuk memberi.” “tetapi baiklah ia bekerja keras, dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan” (Efesus 4:28). Ini bukanlah suatu pembenaran untuk menjadi kaya supaya dapat memberi lebih banyak lagi. Tidak ada alasan mengapa seseorang yang berpenghasilan $ 200.000 harus hidup secara berbeda daripada cara hidup orang yang berpenghasilan $ 80.000. Carilah pola hidup seperti dalam masa perang; ketatkan pengeluaran anda; dan bagikanlah sisanya kepada orang lain.
Mengapa anda harus mendorong orang untuk berpikir bahwa mereka harus memiliki kekayaan supaya bisa menjadi pemberi yang boros? Mengapa tidak mendorong mereka untuk hidup lebih sederhana dan menjadi pemberi yang lebih boros lagi? Bukankah itu akan menambah kemurahan mereka menjadi suatu kesaksian yang baik bahwa Kristuslah harta mereka, bukan benda yang mereka miliki?
5. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang mengakibatkan berkurangnya iman terhadap janji-janji Tuhan kepada kita yang tidak dapat dibeli dengan uang.
Alasan penulis kepada bangsa Ibrani mengajarkan kepada kita untuk merasa cukup dengan apa yang ada pada kita adalah karena jika tidak maka iman kita terhadap janji Tuhan akan berkurang. Ia berkata, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu, karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata, “Tuhan adalah Penolongku, aku tidak akan takut, apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Ibrani 13:5-6).
Bila Alkitab mengajarkan kepada kita untuk merasa puas dengan apa yang ada pada kita meyakini akan janji-janji Tuhan yang tidak akan pernah meninggalkan kita, mengapa kita mau mengajarkan kepada manusia untuk ingin menjadi kaya?
6. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang mengakibatkan umat anda merasa terhimpit.
Yesus mengingatkan bahwa firman Tuhan, yang ditujukan untuk memberi kita kehidupan, dapat kehilangan efektifitasnya oleh kekayaan. FirmanNya berkata bahwa ini bagaikan benih yang tumbuh di antara semak duri yang menghimpitnya sampai mati: “Orang yang telah mendengarkan firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimput dengan ….kekayaan…hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang” (Lukas 8:14).
Mangapa kita mau mendorong manusia untuk mengejar sesuatu yang Yesus katakan akan menghimpit kita?
7. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang membuat garam menjadi tawar dan meletakkan lampu di bawah gantang.
Hal apakah yang membuat orang Kristen menjadi garam dunia dan terang dunia? Bukanlah kekayaan. Hasrat akan kekayaan dan pengejaran akan kekayaan terasa dan kelihatan seperti dunia. Ini tidak memberi dunia sesuatu yang berbeda daripada apa yang telah diyakininya. Tragedi besar dari pengajaran tentang kemakmuran adalah bahwa seseorang tidak perlu dibangkitkan secara spiritual untuk memeluknya; cukuplah dengan serakah. Menjadi kaya dalam nama Yesus bukanlah garam dunia atau terang dunia. Dalam hal demikian, dunia hanya melihat suatu refleksi tentang dirinya sendiri. Dan kalau berhasil, orang akan mau.
Konteks dari perkataan Yesus menunjukkan kepada kita apa yang dimaksud dengan garam dan terang. Ini adalah kemauan secara sukacita untuk berkorban bagi Kristus. Beginilah sabda Yesus, “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu. Kamu adalah garam dunia….Kamu adalah terang dunia” (Matius 5:11-14).
Apa yang akan membuat dunia merasakan (garam) dan melihat (terang) Kristus dalam diri kita bukanlah bahwa kita mencintai kekayaan sama seperti mereka. Akan tetapi suatu kemauan dan kemampuan orang-orang Kristen untuk mengasihi sesama dalam penderitaan, sambil bersukacita karena upahnya adalah di surga bersama Yesus. Hal ini tidak dapat dimengerti oleh manusia. Ini adalah hal supernatural. Namun menarik manusia dengan janji-janji kemakmuran itu adalah hal yang natural. Ini bukanlah pesan Yesus, Ini bukan tujuan dari kematianNya.
John Piper ~ Diterjemahkan oleh: Nelce Manoppo
Memikat orang untuk mengikut Kristus supaya kaya adalah bohong dan mematikan. Ini adalah bohong karena pada waktu Yesus sendiri memanggil kita, Ia mengatakan hal-hal seperti: “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridKu” (Lukas 14:33). Dan ini mematikan karena hasrat untuk menjadi kaya menjerumuskan “orang ke dalam keruntuhan dan kebinasaan” (1 Timotius 6:9). Jadi inilah permohonanku kepada para pemberita injil.
1. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang membuat manusia lebih sulit lagi untuk masuk surga.
Yesus berkata, “Betapa sulitnya bagi orang kaya untuk masuk ke dalam kerajaan Allah!” Murid-muridnya tercengang, sebagaimana banyak orang dalam gerakan “kemakmuran” seharusnya bereaksi. Yesus kemudian meneruskan yang membuat mereka bahkan lebih heran lagi dengan berkata, “lebih mudah seekor unta masuk ke lobang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah.” Mereka merespon dalam ketidak-percayaan: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah” (Markus 10:23-27).
Pertanyaan saya bagi para pendeta yang mengajarkan tentang kemakmuran adalah: Mengapa anda ingin mengembangkan fokus gereja yang membuat sulit bagi manusia untuk masuk surga?
2. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang mengobarkan keinginan manusia untuk bunuh diri.
Paulus berkata, “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar, sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia, dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa keluar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” Tetapi kemudian ia memperingatkan akan keinginan untuk menjadi kaya. Dan secara implisit, ia memperingatkan para pendeta yang menimbulkan keinginan untuk menjadi kaya ketimbang menolong manusia untuk menjauhkan diri darinya. Ia memperingatkan, “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat, dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan adalah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1 Timotius 6:6-10).
Jadi pertanyaan saya kepada pendeta yang mengajarkan tentang kemakmuran adalah: mengapa anda mau mengembangkan gereja yang mendorong manusia untuk menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka dan menenggelamkan dirinya ke dalam keruntuhan dan kebinasaan?
3. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang mendorong kerentanan terhadap ngengat dan karat.
Yesus memberi peringatan terhadap upaya untuk mengumpulkan harta di dunia. Yaitu, ia menyuruh kita untuk menjadi pemberi, bukan penyimpan. “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi, di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya, tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga, di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya” (Matius 6:19).
Memang, kita semua menyimpan sesuatu. Namun karena adanya kecenderungan untuk serakah dalam diri kita semua, mengapa kita menanggalkan fokus dari Yesus dan memutar-balikkannya?
4. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang menjadikan kerja keras sebagai jalan untuk mendapatkan kekayaan yang berlimpah.
Paulus berkata kita tidak boleh mencuri. Pilihannya adalah kerja keras dengan tangan kita sendiri. Tetapi tujuan utamanya bukan semata-mata untuk menimbun atau bahkan untuk memiliki. Tujuannya adalah “memiliki untuk memberi.” “tetapi baiklah ia bekerja keras, dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan” (Efesus 4:28). Ini bukanlah suatu pembenaran untuk menjadi kaya supaya dapat memberi lebih banyak lagi. Tidak ada alasan mengapa seseorang yang berpenghasilan $ 200.000 harus hidup secara berbeda daripada cara hidup orang yang berpenghasilan $ 80.000. Carilah pola hidup seperti dalam masa perang; ketatkan pengeluaran anda; dan bagikanlah sisanya kepada orang lain.
Mengapa anda harus mendorong orang untuk berpikir bahwa mereka harus memiliki kekayaan supaya bisa menjadi pemberi yang boros? Mengapa tidak mendorong mereka untuk hidup lebih sederhana dan menjadi pemberi yang lebih boros lagi? Bukankah itu akan menambah kemurahan mereka menjadi suatu kesaksian yang baik bahwa Kristuslah harta mereka, bukan benda yang mereka miliki?
5. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang mengakibatkan berkurangnya iman terhadap janji-janji Tuhan kepada kita yang tidak dapat dibeli dengan uang.
Alasan penulis kepada bangsa Ibrani mengajarkan kepada kita untuk merasa cukup dengan apa yang ada pada kita adalah karena jika tidak maka iman kita terhadap janji Tuhan akan berkurang. Ia berkata, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu, karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata, “Tuhan adalah Penolongku, aku tidak akan takut, apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Ibrani 13:5-6).
Bila Alkitab mengajarkan kepada kita untuk merasa puas dengan apa yang ada pada kita meyakini akan janji-janji Tuhan yang tidak akan pernah meninggalkan kita, mengapa kita mau mengajarkan kepada manusia untuk ingin menjadi kaya?
6. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang mengakibatkan umat anda merasa terhimpit.
Yesus mengingatkan bahwa firman Tuhan, yang ditujukan untuk memberi kita kehidupan, dapat kehilangan efektifitasnya oleh kekayaan. FirmanNya berkata bahwa ini bagaikan benih yang tumbuh di antara semak duri yang menghimpitnya sampai mati: “Orang yang telah mendengarkan firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimput dengan ….kekayaan…hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang” (Lukas 8:14).
Mangapa kita mau mendorong manusia untuk mengejar sesuatu yang Yesus katakan akan menghimpit kita?
7. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang membuat garam menjadi tawar dan meletakkan lampu di bawah gantang.
Hal apakah yang membuat orang Kristen menjadi garam dunia dan terang dunia? Bukanlah kekayaan. Hasrat akan kekayaan dan pengejaran akan kekayaan terasa dan kelihatan seperti dunia. Ini tidak memberi dunia sesuatu yang berbeda daripada apa yang telah diyakininya. Tragedi besar dari pengajaran tentang kemakmuran adalah bahwa seseorang tidak perlu dibangkitkan secara spiritual untuk memeluknya; cukuplah dengan serakah. Menjadi kaya dalam nama Yesus bukanlah garam dunia atau terang dunia. Dalam hal demikian, dunia hanya melihat suatu refleksi tentang dirinya sendiri. Dan kalau berhasil, orang akan mau.
Konteks dari perkataan Yesus menunjukkan kepada kita apa yang dimaksud dengan garam dan terang. Ini adalah kemauan secara sukacita untuk berkorban bagi Kristus. Beginilah sabda Yesus, “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu. Kamu adalah garam dunia….Kamu adalah terang dunia” (Matius 5:11-14).
Apa yang akan membuat dunia merasakan (garam) dan melihat (terang) Kristus dalam diri kita bukanlah bahwa kita mencintai kekayaan sama seperti mereka. Akan tetapi suatu kemauan dan kemampuan orang-orang Kristen untuk mengasihi sesama dalam penderitaan, sambil bersukacita karena upahnya adalah di surga bersama Yesus. Hal ini tidak dapat dimengerti oleh manusia. Ini adalah hal supernatural. Namun menarik manusia dengan janji-janji kemakmuran itu adalah hal yang natural. Ini bukanlah pesan Yesus, Ini bukan tujuan dari kematianNya.
John Piper ~ Diterjemahkan oleh: Nelce Manoppo
21 December, 2009
The Stronger our desire...
Posted by
Anton Triyanto
The stronger our desire for some satisfaction, the more vulnerable we are to being deceived about what is right and wrong in the way we try to satisfy that desire ~ John Piper
20 December, 2009
Are you born again ?
Posted by
Anton Triyanto
I was struck again by this line from John Piper
"If you believe that what you are about to do is sin, and you decide to do it because God has promised to forgive sin, then probably your decision will be evidence that you are not born again, you are not a Christian but are still 'in the gall of bitterness and the bond of iniquity"
"If you believe that what you are about to do is sin, and you decide to do it because God has promised to forgive sin, then probably your decision will be evidence that you are not born again, you are not a Christian but are still 'in the gall of bitterness and the bond of iniquity"
17 December, 2009
Saya tahu asin itu tidak baik...
Posted by
Anton Triyanto
Banyak dari kita tentunya sudah sedikit tahu tentang garam, kalau kita mengkonsumsi terlalu banyak garam maka tidak baik untuk kesehatan, khususnya darah tinggi dalam hal ini, kita sudah tahu itu tidak baik tapi tentunya kita di lain pihak senang sekali makan yang ada garamnya, kalau tidak ada garamnya maka terasa hambar sekali.
Seringkali demikian dengan dosa, kita sudah tahu itu tidak baik, tapi karena kita senang, keinginan daging kita yang mengerogoti kita -- karena rasa dosa adalah lezat, namun kita tidak perduli dengan konsekuensi dosa itu sendiri.
Manusia tidak akan pernah bisa memilih untuk tidak melakukan dosa, saya sendiripun tidak perlu mengingat dosa apa yang saya lakukan satu tahun yang lalu, sebulan yang lalu, seminggu yang lalu ... yang saya harus ingat adalah dosa yang saya lakukan 5 menit yang lalu, atau bahkan sekarang, inilah kejatuhan manusia -- yang dinamakan total depravity, tanpa mengerti hal essensi seperti ini maka kita akan senantiasa melihat dosa sebagai sesuatu yang kita bisa tidak lakukan -- padahal kenyataannya tidak -- kita mau berbuat baik, kita tahu berbuat baik, tapi 'by nature' kita akan melakukan yang jahat.
Kalau kita disucikan kembali semata-mata hanya karena kasih karunia Allah saja yang memampukan kita untuk tidak berbuat dosa -- tidak ada sedikitpun campur tangan manusia untuk bisa tidak melakukan dosa.
Seringkali demikian dengan dosa, kita sudah tahu itu tidak baik, tapi karena kita senang, keinginan daging kita yang mengerogoti kita -- karena rasa dosa adalah lezat, namun kita tidak perduli dengan konsekuensi dosa itu sendiri.
Manusia tidak akan pernah bisa memilih untuk tidak melakukan dosa, saya sendiripun tidak perlu mengingat dosa apa yang saya lakukan satu tahun yang lalu, sebulan yang lalu, seminggu yang lalu ... yang saya harus ingat adalah dosa yang saya lakukan 5 menit yang lalu, atau bahkan sekarang, inilah kejatuhan manusia -- yang dinamakan total depravity, tanpa mengerti hal essensi seperti ini maka kita akan senantiasa melihat dosa sebagai sesuatu yang kita bisa tidak lakukan -- padahal kenyataannya tidak -- kita mau berbuat baik, kita tahu berbuat baik, tapi 'by nature' kita akan melakukan yang jahat.
Kalau kita disucikan kembali semata-mata hanya karena kasih karunia Allah saja yang memampukan kita untuk tidak berbuat dosa -- tidak ada sedikitpun campur tangan manusia untuk bisa tidak melakukan dosa.
16 December, 2009
15 December, 2009
14 December, 2009
To Love is a Decision
Posted by
Anton Triyanto
What I learnt today:
To Love is a Decision, To Be Loved is a Grace
To Love is a Decision, To Be Loved is a Grace
11 December, 2009
I'm grateful
Posted by
Anton Triyanto
I'm grateful for joy
I'm grateful for sorrow
I'm grateful for the rain
I'm grateful for the draught
In Christ I'm grateful
I'm grateful for sorrow
I'm grateful for the rain
I'm grateful for the draught
In Christ I'm grateful
09 December, 2009
Bolehkah Orang Kristen menjadi kaya?
Posted by
Anton Triyanto
Hmm...pertanyaan ini tentunya sering dipertanyakan dalam kehidupan kita, apakah boleh orang Kristen menjadi kaya (dalam hal uang dan kepemilikan barang jasmaniah). Yang paling pertama harus ditanyakan sebelum pertanyaan tersebut terbesik adalah, untuk apa kita kaya? Apakah untuk mendapatkan lebih, apakah supaya kita dipandang lebih terhormat, apakah supaya orang lain 'memuliakan' Tuhan karena melihat kita kaya (walaupun kenyataannya malah membuat orang iri hati -- tidak semua), apakah supaya kita dapat memenuhi kebutuhan jasmaniah kita, keinginan dan nafsu kita supaya kita dapat menikmati segala sesuatu dalam hidup ini? Kalau kita menjawab "Ya' dalam pertanyaan tersebut, maka kekristenan kita hanyalah menjadi topeng untuk menjadi kaya, untuk cinta akan uang.
Kesalahan fatal kita sebagai orang yang memiliki kekayaan entah berapa pun yang kita miliki adalah keinginan untuk memiliki lebih dan lebih tanpa menyadari tanggung jawab yang Tuhan berikan untuk mengelolah kekayaan tersebut demi kemuliaan Tuhan bukan kemuliaan diri sendiri. Keinginan untuk tidak memberi semakin meningkat di kalangan orang-orang kaya yang tidak mengerti konsep dasar kekayaan demi kemuliaan Tuhan, Orang yang mempunyai banyak kekayaan justru orang yang akhirnya takut kehilangan, karena kalau cinta uang itu sudah berakar dalam hati maka manusia tidak akan pernah puas dalam hal kekayaan yang mereka miliki.
Seringkali gaya hidup kita pun ditentukan oleh kekayaan kita, entah apa yang kita pakai, mobil apa yang kita kendarai, berapa properti yang kita punya, SAYA LAYAK mendapatkan semua itu!!! (legalisme diri sendiri) -- sambil berkata seperti itu dalam hati, saya sudah berusaha mati-matian untuk mendapatkan kekayaan jadi saya layak untuk menikmatinya...hmmm...benarkah hal itu, benarkah yang kita dapatkan semuanya adalah karena hasil usaha kita, atau Tuhan yang mempercayakan kita akan kekayaan tersebut, Dia mau supaya kita dapat memaksimalkan kekayaan tersebut untuk lebih banyak melakukan pekerjaan yang baik. (baca: 1 Timotius 6:18)
Jadi bolehkah orang Kristen menjadi kaya? Tentu boleh, kalau bisa kaya yah kaya, kalau memang Tuhan mengijinkan kita kaya, namun kita harus menyadari bahwa suatu tanggung jawab yang lebih besar ketika kita memiliki kekayaan tersebut, karena kekayaan tersebut bukan punya kita, dan seharusnya kekayaan ini tidak mengubah cara berpikir kita, gaya hidup, sumber entertainment kita, dan apapun itu yang kita merasa itu menjadi simbol kekayaan kalau kita sudah dapat menikmati atau memilikinya.
Pengertian 'kaya' pun mulai rancu, dan sangat relatif -- bagi A kaya itu kalau sudah punya kapal pesiar, bagi B kalau sudah bisa makan pun sudah jadi orang kaya. Namun bukan harus menjadi orang kaya atau tidak baru kita dapat melayani Tuhan, layanilah Tuhan dalam segala hal, dalam segala kondisi dalam hidup kita. Tuhan memberkati.
Kesalahan fatal kita sebagai orang yang memiliki kekayaan entah berapa pun yang kita miliki adalah keinginan untuk memiliki lebih dan lebih tanpa menyadari tanggung jawab yang Tuhan berikan untuk mengelolah kekayaan tersebut demi kemuliaan Tuhan bukan kemuliaan diri sendiri. Keinginan untuk tidak memberi semakin meningkat di kalangan orang-orang kaya yang tidak mengerti konsep dasar kekayaan demi kemuliaan Tuhan, Orang yang mempunyai banyak kekayaan justru orang yang akhirnya takut kehilangan, karena kalau cinta uang itu sudah berakar dalam hati maka manusia tidak akan pernah puas dalam hal kekayaan yang mereka miliki.
Seringkali gaya hidup kita pun ditentukan oleh kekayaan kita, entah apa yang kita pakai, mobil apa yang kita kendarai, berapa properti yang kita punya, SAYA LAYAK mendapatkan semua itu!!! (legalisme diri sendiri) -- sambil berkata seperti itu dalam hati, saya sudah berusaha mati-matian untuk mendapatkan kekayaan jadi saya layak untuk menikmatinya...hmmm...benarkah hal itu, benarkah yang kita dapatkan semuanya adalah karena hasil usaha kita, atau Tuhan yang mempercayakan kita akan kekayaan tersebut, Dia mau supaya kita dapat memaksimalkan kekayaan tersebut untuk lebih banyak melakukan pekerjaan yang baik. (baca: 1 Timotius 6:18)
Jadi bolehkah orang Kristen menjadi kaya? Tentu boleh, kalau bisa kaya yah kaya, kalau memang Tuhan mengijinkan kita kaya, namun kita harus menyadari bahwa suatu tanggung jawab yang lebih besar ketika kita memiliki kekayaan tersebut, karena kekayaan tersebut bukan punya kita, dan seharusnya kekayaan ini tidak mengubah cara berpikir kita, gaya hidup, sumber entertainment kita, dan apapun itu yang kita merasa itu menjadi simbol kekayaan kalau kita sudah dapat menikmati atau memilikinya.
Pengertian 'kaya' pun mulai rancu, dan sangat relatif -- bagi A kaya itu kalau sudah punya kapal pesiar, bagi B kalau sudah bisa makan pun sudah jadi orang kaya. Namun bukan harus menjadi orang kaya atau tidak baru kita dapat melayani Tuhan, layanilah Tuhan dalam segala hal, dalam segala kondisi dalam hidup kita. Tuhan memberkati.
08 December, 2009
Today men are consumed....
Posted by
Anton Triyanto
“Today men are consumed by desires to buy things they don’t need, with money they don’t have, to impress people they don’t like.” Pattrick Morley
Kamu Kurang Beriman !!!
Posted by
Anton Triyanto
Orang Kristen : Pak Pendeta saya butuh pekerjaan nih.
Pak Pendeta : Kamu yakin Tuhan akan memberi kamu pekerjaan?
Orang Kristen : Yakin Pak, saya beriman
Pak Pendeta : Kalau begitu dalam 14 hari ini kamu akan mendapatkan pekerjaan
Setelah lewat 14 hari, orang Kristen masih belum mendapat pekerjaan dan kembali menemui Pak Pendeta.
Orang Kristen : Pak saya koq tetap ngak dapat pekerjaan?
Pak Pendeta : Kamu udah bayar persepuluhan kamu?
Orang Kristen : Udah
Pak Pendeta : Kamu udah berbuat baik sama orang?
Orang Kristen : Udah Pak.
Pak Pendeta : Kamu udah minta ampun sama Tuhan?
Orang Kristen : Udah Pak.
Pak Pendeta : Kalau begitu kamu kurang beriman.
Percakapan seperti ini tentunya sering kita dengar di dalam lingkungan gerejawi di jaman ini, mungkin ini pernah terjadi dalam kehidupan saudara, entah Anda menjadi Pak Pendeta atau yang menjadi Orang Kristen dalam percakapan tersebut. Apa benar karena kurang iman, akhirnya kita tidak mendapatkan pekerjaan, atau ‘berkat’ dalam hal ini. Kalau dapat lalu Pak Pendeta yang dipuji wah Pendeta A ini ‘nubuatan’ nya tokcer, wah kalau pendeta si B mah kagak ada kuasanya. Tunggu-tunggu, ini kan kita lagi ngomongin Pendeta yah bukan dukun, tapi koq sekarang kebanyakan pendeta jadi kayak dukun, memang seolah-olah mereka memakai ‘kuasa’ Tuhan tapi kalau nubuatan tersebut gagal akhirnya kita yang dinubuatin yang jadi korban, dengan mengatakan kita kurang iman. Akhirnya korban seperti kita ini berpikir apa yang saya sudah lakukan salah terhadap Tuhan sehingga saya tidak mendapat ‘berkat’, apa benar ‘berkat’ tersebut tergantung dari iman kita?
"Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." Iman dapat saya katakan percaya akan segala sesuatu yang tidak kelihatan, entah itu keadaan buruk kita tetap beriman, walaupun kita tidak kelihatan bahwa Allah sedang menyertai kita, tapi kita tetap beriman karena kita tahu bahwa Allah selalu menyertai kita. Itulah iman sejati bukan berarti kita percaya sesuatu yang tidak kelihatan lalu yang tidak kelihatan itu menjadi kelihatan. Ini namanya Sulap, bim salabim – ini bukan iman. Ayo coba bayangkan kamu bakal dapat ‘Mercedes’, bayangkan kamu bakal dapat pekerjaan dalam minggu-minggu ini, pikirkan dan imajinasikan, dan ‘imani’ percaya bahwa Tuhan akan memberi, hmm...kembali saya katakan ini namanya sulap bukan iman.
Saya melihat kekristenan jaman sekarang akhirnya jatuh kepada keberhalaan pemberian Tuhan bukan kepada Tuhan, kita lebih mau pemberian – ‘berkat’ dalam hal ini daripada mau Tuhan. Akhirnya melegalkan bahwa otomatis kalau kita dekat dengan Sang Pemberi maka otomatis kita akan diberiNya pemberian-pemberian itu. Dia kan Tuhan yang kaya, tidak mungkin Dia tidak memberi. Hmm..Apa benar yah Tuhan selalu memberi apa yang kita mau? Kebanyakan akhirnya kita melegalkan segala konsep untuk mempertahankan konsep bahwa Allah adalah Allah yang menyediakan segala kebutuhan kita, sesuai dengan kehendak kita, kalau Allah sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan kita, maka saya akan tinggalkan Allah.
Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Betul sekali ayat ini, tapi berapa banyak dari kita melihat bahwa ketika Allah memberikan kita roti dan ikan, tapi kita seringkali melihatnya sebagai ular dan batu, seringkali yang kita minta kepada Allah seolah-olah adalah roti dan ikan walaupun kenyataannya adalah ular dan batu, untuk itulah Allah tidak memberi ular dan batu kepada kita karena Dia tahu yang terbaik untuk kita, walaupun kita tetap bersikeras bahwa ular dan batu itu adalah roti dan ikan bagi hidup kita.
Pak Pendeta : Kamu yakin Tuhan akan memberi kamu pekerjaan?
Orang Kristen : Yakin Pak, saya beriman
Pak Pendeta : Kalau begitu dalam 14 hari ini kamu akan mendapatkan pekerjaan
Setelah lewat 14 hari, orang Kristen masih belum mendapat pekerjaan dan kembali menemui Pak Pendeta.
Orang Kristen : Pak saya koq tetap ngak dapat pekerjaan?
Pak Pendeta : Kamu udah bayar persepuluhan kamu?
Orang Kristen : Udah
Pak Pendeta : Kamu udah berbuat baik sama orang?
Orang Kristen : Udah Pak.
Pak Pendeta : Kamu udah minta ampun sama Tuhan?
Orang Kristen : Udah Pak.
Pak Pendeta : Kalau begitu kamu kurang beriman.
Percakapan seperti ini tentunya sering kita dengar di dalam lingkungan gerejawi di jaman ini, mungkin ini pernah terjadi dalam kehidupan saudara, entah Anda menjadi Pak Pendeta atau yang menjadi Orang Kristen dalam percakapan tersebut. Apa benar karena kurang iman, akhirnya kita tidak mendapatkan pekerjaan, atau ‘berkat’ dalam hal ini. Kalau dapat lalu Pak Pendeta yang dipuji wah Pendeta A ini ‘nubuatan’ nya tokcer, wah kalau pendeta si B mah kagak ada kuasanya. Tunggu-tunggu, ini kan kita lagi ngomongin Pendeta yah bukan dukun, tapi koq sekarang kebanyakan pendeta jadi kayak dukun, memang seolah-olah mereka memakai ‘kuasa’ Tuhan tapi kalau nubuatan tersebut gagal akhirnya kita yang dinubuatin yang jadi korban, dengan mengatakan kita kurang iman. Akhirnya korban seperti kita ini berpikir apa yang saya sudah lakukan salah terhadap Tuhan sehingga saya tidak mendapat ‘berkat’, apa benar ‘berkat’ tersebut tergantung dari iman kita?
"Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." Iman dapat saya katakan percaya akan segala sesuatu yang tidak kelihatan, entah itu keadaan buruk kita tetap beriman, walaupun kita tidak kelihatan bahwa Allah sedang menyertai kita, tapi kita tetap beriman karena kita tahu bahwa Allah selalu menyertai kita. Itulah iman sejati bukan berarti kita percaya sesuatu yang tidak kelihatan lalu yang tidak kelihatan itu menjadi kelihatan. Ini namanya Sulap, bim salabim – ini bukan iman. Ayo coba bayangkan kamu bakal dapat ‘Mercedes’, bayangkan kamu bakal dapat pekerjaan dalam minggu-minggu ini, pikirkan dan imajinasikan, dan ‘imani’ percaya bahwa Tuhan akan memberi, hmm...kembali saya katakan ini namanya sulap bukan iman.
Saya melihat kekristenan jaman sekarang akhirnya jatuh kepada keberhalaan pemberian Tuhan bukan kepada Tuhan, kita lebih mau pemberian – ‘berkat’ dalam hal ini daripada mau Tuhan. Akhirnya melegalkan bahwa otomatis kalau kita dekat dengan Sang Pemberi maka otomatis kita akan diberiNya pemberian-pemberian itu. Dia kan Tuhan yang kaya, tidak mungkin Dia tidak memberi. Hmm..Apa benar yah Tuhan selalu memberi apa yang kita mau? Kebanyakan akhirnya kita melegalkan segala konsep untuk mempertahankan konsep bahwa Allah adalah Allah yang menyediakan segala kebutuhan kita, sesuai dengan kehendak kita, kalau Allah sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan kita, maka saya akan tinggalkan Allah.
Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Betul sekali ayat ini, tapi berapa banyak dari kita melihat bahwa ketika Allah memberikan kita roti dan ikan, tapi kita seringkali melihatnya sebagai ular dan batu, seringkali yang kita minta kepada Allah seolah-olah adalah roti dan ikan walaupun kenyataannya adalah ular dan batu, untuk itulah Allah tidak memberi ular dan batu kepada kita karena Dia tahu yang terbaik untuk kita, walaupun kita tetap bersikeras bahwa ular dan batu itu adalah roti dan ikan bagi hidup kita.
07 December, 2009
Mengkritisi Lagu Mengampuni Jason
Posted by
Anton Triyanto
Ketika Hatiku Tlah Disakiti
Ajarku Memberi Hati Mengampuni
Ketika Hidupku Tlah Dihakimi
Ajarku Memberi Hati Mengasihi
Reff:
Ampuni Bila Kami Tak Mampu Mengampuni
Yang Bersalah Kepada Kami
Seperti Hati Yesus Mengampuni
Mengasihi Tiada Pamrih
Dalam lagu ini mau mengajarkan kita tentang bagaimana mungkin kita telah disakiti, atau hidup kita dihakimi maka kita minta Tuhan mengajar kita supaya bisa memberi hati yang mengampuni dan memberi hati yang mengasihi, untuk bagian bait ini mungkin tidak terlalu kentara kesalahannya. Namun ketika memasuki reffrainnya, dikatakan. Ampuni bila kami tak mampu mengampuni. Hmm...apa benar ini yang Tuhan ajarkan? Bukannya Tuhan mengajarkan kalau kita tidak bisa mengampuni orang lain maka kita tidak akan diampuni ini ada di Doa Bapa Kami, akhirnya kita menjadi seenaknya karena saya tidak bisa mengampuni orang lain tapi saya mau Tuhan tetap mengampuni saya. Kemudian diteruskan seperti hati Yesus mengampuni, mengasihi tiada pamrih, hmm...maksudnya apa, maksudnya kita mau supaya dengan kita tidak mengampuni orang lain, lalu kita melegalkan dan bilang Yesus aja mengampuni tanpa pamrih, demikian saya seharusnya diampuni juga tanpa pamrih, tanpa harus mengampuni orang lain. Hmm...sangat-sangat membingungkan.
Namun lagu ini banyak diminati di dalam kalangan Kristiani, kita seringkali terjebak dengan indahnya iringan musik tanpa mengerti kebenaran di dalam lirik lagu-lagu tersebut. Kalau kedengaran enak di kuping udah pasti benar, kalau bisa menjamah hati, sudah pasti benar? Hmm...apa benar? Ini namanya keegoisan, kebanyakan lagu-lagu kontemporer akhirnya berakhir hanya kepada kepuasan diri, pokoknya selama saya puas lirik menjadi nomor dua.
Mari sama-sama kita kembali berpikir secara tajam dalam memilih lagu dan mengarang lagu, harus diperhatikan baik-baik jangan sampai akhirnya kita terjebak dalam prinsip yang salah dan bertentangan dengan iman Kristen yang sesungguhnya.
Ajarku Memberi Hati Mengampuni
Ketika Hidupku Tlah Dihakimi
Ajarku Memberi Hati Mengasihi
Reff:
Ampuni Bila Kami Tak Mampu Mengampuni
Yang Bersalah Kepada Kami
Seperti Hati Yesus Mengampuni
Mengasihi Tiada Pamrih
Dalam lagu ini mau mengajarkan kita tentang bagaimana mungkin kita telah disakiti, atau hidup kita dihakimi maka kita minta Tuhan mengajar kita supaya bisa memberi hati yang mengampuni dan memberi hati yang mengasihi, untuk bagian bait ini mungkin tidak terlalu kentara kesalahannya. Namun ketika memasuki reffrainnya, dikatakan. Ampuni bila kami tak mampu mengampuni. Hmm...apa benar ini yang Tuhan ajarkan? Bukannya Tuhan mengajarkan kalau kita tidak bisa mengampuni orang lain maka kita tidak akan diampuni ini ada di Doa Bapa Kami, akhirnya kita menjadi seenaknya karena saya tidak bisa mengampuni orang lain tapi saya mau Tuhan tetap mengampuni saya. Kemudian diteruskan seperti hati Yesus mengampuni, mengasihi tiada pamrih, hmm...maksudnya apa, maksudnya kita mau supaya dengan kita tidak mengampuni orang lain, lalu kita melegalkan dan bilang Yesus aja mengampuni tanpa pamrih, demikian saya seharusnya diampuni juga tanpa pamrih, tanpa harus mengampuni orang lain. Hmm...sangat-sangat membingungkan.
Namun lagu ini banyak diminati di dalam kalangan Kristiani, kita seringkali terjebak dengan indahnya iringan musik tanpa mengerti kebenaran di dalam lirik lagu-lagu tersebut. Kalau kedengaran enak di kuping udah pasti benar, kalau bisa menjamah hati, sudah pasti benar? Hmm...apa benar? Ini namanya keegoisan, kebanyakan lagu-lagu kontemporer akhirnya berakhir hanya kepada kepuasan diri, pokoknya selama saya puas lirik menjadi nomor dua.
Mari sama-sama kita kembali berpikir secara tajam dalam memilih lagu dan mengarang lagu, harus diperhatikan baik-baik jangan sampai akhirnya kita terjebak dalam prinsip yang salah dan bertentangan dengan iman Kristen yang sesungguhnya.
03 December, 2009
Kebohongan Kesaksian Neraka
Posted by
Anton Triyanto
Saya banyak mendengar orang bersaksi tentang perjalanan mereka ke neraka, hmm...bukannya saya tidak percaya sih, tapi buat apa percaya kepada mereka toh semuanya sudah tertulis di Alkitab, apakah Alkitab tidak menjadi otoritas tertinggi di dalam hidup kita dan di dalam pengenalan kita akan neraka. Bahkan salah satu kesaksian yang dikatakan seperti ini "Waktu saya ke neraka, neraka tuh ulatnya ngak mati-mati, jadi benar yang dikatakan Alkitab" --- Tunggu-tunggu, berarti selama ini Alkitab tidak valid, atau tidak sepenuhnya valid sampai ada orang yang perlu menyatakan bahwa Alkitab itu benar adanya karena orang tersebut sudah pergi ke neraka, jadi mana yang lebih tinggi otoritasnya? Berarti bagi mereka, kesaksian merekalah yang meneguhkan kebenaran Alkitab, ini sudah jelas pemikiran yang tidak sehat sama sekali.
Banyak orang pergi ke neraka, bolak balik, udah kayak bolak balik Sydney Jakarta kali, dengan begitu gampang mereka menceritakan kesaksian ketika mereka mengalami semua hal tersebut. Hmm...sebenarnya tujuan kesaksiannya apa sih? 1. Apakah untuk meneguhkan kebenaran Alkitab? 2. Untuk menakut-nakuti manusia untuk takut kepada neraka tapi tidak takut kepada Allah? --- Manusia pasti tidak ada yang mau masuk neraka, tapi banyak yang mau masuk surga tapi tidak mau menerima Yesus dan menjadikan Yesus sebagai harta dalam hidupnya, karena masih banyak yang mereka pegang dalam hidupnya -- kitapun kerapkali masih berada di posisi seperti itu, mau surga tapi tidak mau Tuhan.
Ujung-ujungnya orang bertobat karena supaya tidak dihukum supaya tidak masuk neraka, tapi supaya mendapatkan keselamatan itu sendiri, ini namanya egois, toh sebenarnya kita sepatutnya dihukum dan semuanya layak masuk neraka, tapi syukur dalam Kristus Yesus kita diselamatkan, namun kita diselamatkan bukan untuk diri kita, supaya kita bisa lepas dari neraka, bukan itu yang menjadi satu-satunya tujuan dalam hidup kita, tujuan hidup kita diselamatkan adalah untuk memuliakan Dia dan menjadi 'kristus-kristus' kecil di dunia ini yang berada di dalam rancangan besar Tuhan.
Jadi kalau ada orang kesaksian orang pergi ke neraka, saya akan mempertanyakannya dengan tajam dan kritis, karena akhirnya kesaksian bisa dibuat-buat, atau hanya karena emosi, atau karena pernah baca ayat-ayat Alkitab tentang neraka, kemudian mulai menghayal neraka itu seperti apa. Apakah dengan kesaksian itu maka kita akan lebih percaya neraka itu ada? Berarti kita tidak percaya bahwa apa yang dikatakan Alkitab adalah benar adanya, akhirnya kita akan terpengaruh oleh kesaksian orang lain ketimbang kesaksian Alkitab, dan kalau tidak hati-hati maka kita akan mulai mendewakan manusia yang dianggap seolah-olah memiliki otoritas tertinggi.
Banyak orang pergi ke neraka, bolak balik, udah kayak bolak balik Sydney Jakarta kali, dengan begitu gampang mereka menceritakan kesaksian ketika mereka mengalami semua hal tersebut. Hmm...sebenarnya tujuan kesaksiannya apa sih? 1. Apakah untuk meneguhkan kebenaran Alkitab? 2. Untuk menakut-nakuti manusia untuk takut kepada neraka tapi tidak takut kepada Allah? --- Manusia pasti tidak ada yang mau masuk neraka, tapi banyak yang mau masuk surga tapi tidak mau menerima Yesus dan menjadikan Yesus sebagai harta dalam hidupnya, karena masih banyak yang mereka pegang dalam hidupnya -- kitapun kerapkali masih berada di posisi seperti itu, mau surga tapi tidak mau Tuhan.
Ujung-ujungnya orang bertobat karena supaya tidak dihukum supaya tidak masuk neraka, tapi supaya mendapatkan keselamatan itu sendiri, ini namanya egois, toh sebenarnya kita sepatutnya dihukum dan semuanya layak masuk neraka, tapi syukur dalam Kristus Yesus kita diselamatkan, namun kita diselamatkan bukan untuk diri kita, supaya kita bisa lepas dari neraka, bukan itu yang menjadi satu-satunya tujuan dalam hidup kita, tujuan hidup kita diselamatkan adalah untuk memuliakan Dia dan menjadi 'kristus-kristus' kecil di dunia ini yang berada di dalam rancangan besar Tuhan.
Jadi kalau ada orang kesaksian orang pergi ke neraka, saya akan mempertanyakannya dengan tajam dan kritis, karena akhirnya kesaksian bisa dibuat-buat, atau hanya karena emosi, atau karena pernah baca ayat-ayat Alkitab tentang neraka, kemudian mulai menghayal neraka itu seperti apa. Apakah dengan kesaksian itu maka kita akan lebih percaya neraka itu ada? Berarti kita tidak percaya bahwa apa yang dikatakan Alkitab adalah benar adanya, akhirnya kita akan terpengaruh oleh kesaksian orang lain ketimbang kesaksian Alkitab, dan kalau tidak hati-hati maka kita akan mulai mendewakan manusia yang dianggap seolah-olah memiliki otoritas tertinggi.
Pujian ngak ngangkat
Posted by
Anton Triyanto
Aduh pujian hari ini koq ngak ngangkat? Emang apa sih pujian yang ngangkat itu? Kalau ditanya susah juga jawabnya, ayo coba deh jawab, pujian yang ngangkat itu definisinya apa? Pujian yang menyentuh hati? Pujian yang bisa bikin kita senang, happy, bisa bikin nangis juga? Pujian yang membuat kita 'berubah'? - at least untuk saat kita menyanyikan pujian tersebut.
Rasanya kita terlalu egois menjadi orang Kristen, kalau ada lagu yang bagus, musik yang bagus baru dah saya nyanyinya lebih bagus, kalau ada lagu baru yang irama musiknya saya senang, misalnya jazz, pop, rock, disco, dangdut baru deh itu namanya bagus karena mengikuti jaman. Akhirnya kita jatuh di dalam legalisme diri, karena saya suka rock maka saya akan pakai musik rock untuk memuji Tuhan, kalau musik himne kayaknya agak terlalu 'daggy' tidak keren dan tidak bisa bikin kita enjoy.
Kitalah yang menjadi sumber pujian tersebut bukan Tuhan, kita maunya enaknya kita saja, kalau lagunya enak dan senang dan membuat saya bahagia dan damai sejahtera itulah pujian yang ngangkat, kalau ngak berarti jangan pernah dipakai lagi lagu itu. Sebelumnya memang kita harus men-filter lagu-lagu yang dinyanyikan, apa tujuan lagu tersebut diciptakan, bagaimana liriknya, siapa yang mengarang, jenis musiknya bagaimana, semuanya harus dipertimbangkan matang-matang, jangan sampai kita memilih lagu pujian hanya karena enak didengar di telinga baik dari musik maupun liriknya.
Saya melihat banyak lagu-lagu Kristen kontemporer yang berkembang demikian pesatnya tapi tidak memiliki dasar Alkitab yang jelas, memang kedengarannya ok ok saja, tapi kalau kita telaah lebih lanjut terdapat unsur-unsur humanisme yang sangat kuat sekali, walaupun saya tidak memungkiri adanya lagu-lagu Kristen kontemporer yang mempunyai kualitas tinggi juga.
Baiklah sama-sama kita merenungkan kembali ketika kita memuji Tuhan apakah benar kita memuji Tuhan sungguh-sungguh karena Tuhan sudah lebih bekerja dalam hidup kita, atau kita hanya memuji Tuhan supaya kita 'disegarkan', supaya kita dipuaskan melalui pujian tersebut?
Rasanya kita terlalu egois menjadi orang Kristen, kalau ada lagu yang bagus, musik yang bagus baru dah saya nyanyinya lebih bagus, kalau ada lagu baru yang irama musiknya saya senang, misalnya jazz, pop, rock, disco, dangdut baru deh itu namanya bagus karena mengikuti jaman. Akhirnya kita jatuh di dalam legalisme diri, karena saya suka rock maka saya akan pakai musik rock untuk memuji Tuhan, kalau musik himne kayaknya agak terlalu 'daggy' tidak keren dan tidak bisa bikin kita enjoy.
Kitalah yang menjadi sumber pujian tersebut bukan Tuhan, kita maunya enaknya kita saja, kalau lagunya enak dan senang dan membuat saya bahagia dan damai sejahtera itulah pujian yang ngangkat, kalau ngak berarti jangan pernah dipakai lagi lagu itu. Sebelumnya memang kita harus men-filter lagu-lagu yang dinyanyikan, apa tujuan lagu tersebut diciptakan, bagaimana liriknya, siapa yang mengarang, jenis musiknya bagaimana, semuanya harus dipertimbangkan matang-matang, jangan sampai kita memilih lagu pujian hanya karena enak didengar di telinga baik dari musik maupun liriknya.
Saya melihat banyak lagu-lagu Kristen kontemporer yang berkembang demikian pesatnya tapi tidak memiliki dasar Alkitab yang jelas, memang kedengarannya ok ok saja, tapi kalau kita telaah lebih lanjut terdapat unsur-unsur humanisme yang sangat kuat sekali, walaupun saya tidak memungkiri adanya lagu-lagu Kristen kontemporer yang mempunyai kualitas tinggi juga.
Baiklah sama-sama kita merenungkan kembali ketika kita memuji Tuhan apakah benar kita memuji Tuhan sungguh-sungguh karena Tuhan sudah lebih bekerja dalam hidup kita, atau kita hanya memuji Tuhan supaya kita 'disegarkan', supaya kita dipuaskan melalui pujian tersebut?
02 December, 2009
Kehilanganku Mendapatkan-Mu
Posted by
Anton Triyanto
Waktu bayi, aku senang sekali kalau susu datang menghampiri
Beranjak anak-anak, mainanlah yang membuat hidup semarak
Namun saat dewasa, kudamba kebahagiaan dalam kesuksesan
Kupikir semua itu bisa kudapat dalam harta dan kemewahan
Sampai suatu saat, 'ku bertobat, mengenal Sang Juruselamat
Hidupku dipenuhi berkat dan acapkali 'ku takjub akan mujizat.
'Ku kerja mati-matian, manfaatkan kesempatan, keruk keuntungan.
Namun semakin banyak kudapat, semakin takut aku kehilangan.
Semakin 'ku hidup berkelimpahan, semakin takut aku 'kan kemiskinan.
Aku berusaha habis-habisan, menjaga semua yang telah kudapatkan
Aku tak tahu lagi apa yang jadi tujuan, aku hanyut oleh kelimpahan
Aku melihat kasih Tuhan, kasihNya kurasakan melalui pemberian
Tapi jujur kukatakan, aku menikmati pemberian lebih daripada Tuhan.
Sampai suatu saat, Dia berbicara dengan bahasa kehilangan.
Suatu saat, tanganNya terangkat, maka hilanglah seluruh berkat.
Namun sangat ajaib! Sang Pemberi berkat kurasa hangat mendekat.
Suatu saat tanganNya kuat menekan, maka hilanglah kesehatan.
Dan harapan pun beralih pada Sang Sumber Hidup yang maha mapan
Suatu saat aku berteriak, tapi doaku bagaikan sirna ditelan hampa
Di situlah aku belajar mempercayai Dia bukan dengan cara fana
Pada saat aku memiliki dunia, sebenarnya aku tidak merasakan DIA.
Pada saat aku kehilangan semua, barulah kusadari sepenuhnya,
Kalau sebenarnya telah kudapatkan semua, bahkan lebih dari semua
Suyanto Japara
Beranjak anak-anak, mainanlah yang membuat hidup semarak
Namun saat dewasa, kudamba kebahagiaan dalam kesuksesan
Kupikir semua itu bisa kudapat dalam harta dan kemewahan
Sampai suatu saat, 'ku bertobat, mengenal Sang Juruselamat
Hidupku dipenuhi berkat dan acapkali 'ku takjub akan mujizat.
'Ku kerja mati-matian, manfaatkan kesempatan, keruk keuntungan.
Namun semakin banyak kudapat, semakin takut aku kehilangan.
Semakin 'ku hidup berkelimpahan, semakin takut aku 'kan kemiskinan.
Aku berusaha habis-habisan, menjaga semua yang telah kudapatkan
Aku tak tahu lagi apa yang jadi tujuan, aku hanyut oleh kelimpahan
Aku melihat kasih Tuhan, kasihNya kurasakan melalui pemberian
Tapi jujur kukatakan, aku menikmati pemberian lebih daripada Tuhan.
Sampai suatu saat, Dia berbicara dengan bahasa kehilangan.
Suatu saat, tanganNya terangkat, maka hilanglah seluruh berkat.
Namun sangat ajaib! Sang Pemberi berkat kurasa hangat mendekat.
Suatu saat tanganNya kuat menekan, maka hilanglah kesehatan.
Dan harapan pun beralih pada Sang Sumber Hidup yang maha mapan
Suatu saat aku berteriak, tapi doaku bagaikan sirna ditelan hampa
Di situlah aku belajar mempercayai Dia bukan dengan cara fana
Pada saat aku memiliki dunia, sebenarnya aku tidak merasakan DIA.
Pada saat aku kehilangan semua, barulah kusadari sepenuhnya,
Kalau sebenarnya telah kudapatkan semua, bahkan lebih dari semua
Suyanto Japara
01 December, 2009
Perubahan
Posted by
Anton Triyanto
Perubahan sangat sulit dilakukan, berubah untuk menjadi lebih buruk mungkin lebih mudah dibandingkan berubah untuk menjadi lebih baik, seringkali ketika kita belajar untuk berubah kita mengandalkan kekuatan sendiri, seolah-olah kita yakin kita bisa merubah diri sendiri. Tapi pada kenyataan akhirnya bahwa hanya Tuhanlah yang dapat mengubah hidup kita ke arah kesempurnaan yang abadi.
Setiap hari, kita tahu bahwa berbuat baik itu adalah baik adanya -- namun pada kenyataannya kita malah melakukan yang buruk adanya. Karena kita masih hidup di dalam daging berarti bahwa setiap hari kita harus berperang melawan kekuatan yang datangnya dari dalam yaitu diri kita sendiri. Perubahan bukannya sesuatu keadaan tapi suatu proses, seringkali manusia cenderung menganggap perubahan itu adalah suatu posisi di mana tidak perlu lagi adanya perubahan, artinya bahwa kita sudah 'berubah' -- namun benarkah seperti itu? Sudah pasti tidak, kita senantiasa berubah, dan kita harus senatiasa berubah walaupun kerapkali usaha kita itu mungkin belum mendatangkan tanda-tanda yang signifikan, namun bukan berarti kita malah lari dari proses perubahan tersebut.
Marilah kita sama-sama berubah untuk semakin serupa Kristus, susah? Tentu susah, karena kita masih cinta akan diri kita ketimbang cinta kepada Allah. Namun hanya dengan kekuatan Roh Kuduslah yang akan memampukan kita untuk senantiasa berubah.
Setiap hari, kita tahu bahwa berbuat baik itu adalah baik adanya -- namun pada kenyataannya kita malah melakukan yang buruk adanya. Karena kita masih hidup di dalam daging berarti bahwa setiap hari kita harus berperang melawan kekuatan yang datangnya dari dalam yaitu diri kita sendiri. Perubahan bukannya sesuatu keadaan tapi suatu proses, seringkali manusia cenderung menganggap perubahan itu adalah suatu posisi di mana tidak perlu lagi adanya perubahan, artinya bahwa kita sudah 'berubah' -- namun benarkah seperti itu? Sudah pasti tidak, kita senantiasa berubah, dan kita harus senatiasa berubah walaupun kerapkali usaha kita itu mungkin belum mendatangkan tanda-tanda yang signifikan, namun bukan berarti kita malah lari dari proses perubahan tersebut.
Marilah kita sama-sama berubah untuk semakin serupa Kristus, susah? Tentu susah, karena kita masih cinta akan diri kita ketimbang cinta kepada Allah. Namun hanya dengan kekuatan Roh Kuduslah yang akan memampukan kita untuk senantiasa berubah.
29 November, 2009
Tuhan duduk di bangku terdakwa
Posted by
Anton Triyanto
"Berkatmu tergantung dari seberapa dekat engkau dengan Tuhan, tergantung dari seberapa banyak engkau melayani Tuhan" -- Sebagai orang Kristen tentu kita sering mendengar penyataan ini bukan, tentu setiap rumusan ataupun formula harus dibuktikan kebenarannya sampai sejauh mana kebenarannya. Saya teringat ketika duduk di bangku SMP dan SMA, rumusan matematika pun harus dibuktikan apakah memang berhasil rumusannya dengan melakukan memasukkan variable-variable angka ke dalam rumusan itu sendiri.
Mari kita mulai, apakah benar hidup kita, dalam hal ini 'berkat kita' tergantung dari seberapa banyak kita dekat dengan Tuhan. Ambil salah satu contoh, kalau memang benar 'berkat' yang kita terima adalah tergantung dengan seberapa dekat dan seberapa banyak kita melayani, saya jamin semua orang pasti rajin melayani dan mendekatkan diri kepada Tuhan, namun fakta berbicara lain -- bahwa belum tentu orang yang dekat dengan Tuhan dan orang yang melayani Tuhan secara giat maka orang itu akan diberkati lebih daripada orang yang tidak melakukan kedua hal tersebut.
Saya rasa, sangat mudah sekali kita membuat rumusan bagi Allah, kita bahkan akhirnya menganggap rumusan itu adalah yang paling benar, bagaimana kalau salah -- maka kita akan berkelit, yah mungkin kita yang tidak punya 'iman' atau jatuh kepada ekstrim yang lain bahwa Allah tidak peduli akan kita akhirnya kita akan senantiasa menuntut Tuhan berdasarkan atas apa yang sudah kita lakukan.
Orang-orang pun akhirnya giat untuk melayani dan mendekatkan diri kepada Tuhan seolah-olah rohani, tapi kenyataannya adalah 'Rohana' (nama orang dan tidak ada hubungannya dengan hal rohani :)) -- karena yang kita kejar adalah pemberian Tuhan bukan Tuhan itu sendiri, kalau pemberian itu sudah kita terima maka Tuhan akan otomatis menjadi yang kedua dalam hidup kita selama kita bisa menikmati pemberian Tuhan tersebut.
Baiklah kita menyadari ketika kita giat melayani dan mendekatkan diri kepada Tuhan adalah bukti bahwa Allah sendirilah yang telah menyelamatkan diri kita di dalam karya penebusan Kristus, namun manusia seringkali 'take it for granted' -- manusia juga akhirnya menganggap bahwa yah memang selayaknya saya ditebus, selayaknya saya diberkati, selayaknya saya dapat hidup dengan enak. Tanpa mengerti siapa diri kita, dan siapa Allah itu sendiri, maka seluruh konsep hidup kita yang kita jalankan hanya seperti menjaring angin, akan sia-sia belaka.
Kalau mau diperiksa lebih lanjut sebenarnya kitalah orang-orang berdosa yang patut dihukum, kitalah yang seharusnya duduk di bangku terdakwa dan Tuhan duduk di bangku hakim hendak mendakwa kita, namun seringkali kita lupa akan hal tersebut, kita lupa siapa diri kita sebenarnya sehingga kita berani untuk menuntut segala sesuatu kepada Tuhan atas semua yang sudah kita lakukan. Seringkali, atau bahkan saya dapat katakan hampir setiap kali akhirnya Tuhan yang duduk di bangku terdakwa dan kita duduk di bangku hakim, dan pertanyaan yang dilontarkan hanyalah berkisar akan diri kita "Tuhan mengapa saya sudah rajin tapi hidup masih menderita, kenapa saya sudah melayani, sudah hidup benar tapi hidup masih begini-begini saja, mengapa orang fasik lebih 'diberkati' daripada saya" -- Inilah manusia TIDAK TAHU DIRI!!!!!!, berani-beraninya kita mengusik tahta Allah dan membuat Dia duduk dibangku terdakwa dan kita senantiasa menjadi hakim.
Marilah kita renungkan kembali, ketika kita melayani bagaimana motivasi pelayanan kita, apakah hanya untuk Tuhan atau untuk pemberian Tuhan, kalau Tuhan tidak memberi apakah kita masih mau Tuhan? Baiklah kita juga harus selalu mengingat bahwa kitalah yang harus duduk di bangku terdakwa, walaupun fakta bahwa kita sudah ditebus oleh darah Kristus dan kita sudah diselamatkan ini bukan berarti kita melupakan siapa diri kita sebenarnya.
Artikel ini ditulis terinspirasi oleh buku CS. Lewis yang berjudul. "God in the Dock"
Mari kita mulai, apakah benar hidup kita, dalam hal ini 'berkat kita' tergantung dari seberapa banyak kita dekat dengan Tuhan. Ambil salah satu contoh, kalau memang benar 'berkat' yang kita terima adalah tergantung dengan seberapa dekat dan seberapa banyak kita melayani, saya jamin semua orang pasti rajin melayani dan mendekatkan diri kepada Tuhan, namun fakta berbicara lain -- bahwa belum tentu orang yang dekat dengan Tuhan dan orang yang melayani Tuhan secara giat maka orang itu akan diberkati lebih daripada orang yang tidak melakukan kedua hal tersebut.
Saya rasa, sangat mudah sekali kita membuat rumusan bagi Allah, kita bahkan akhirnya menganggap rumusan itu adalah yang paling benar, bagaimana kalau salah -- maka kita akan berkelit, yah mungkin kita yang tidak punya 'iman' atau jatuh kepada ekstrim yang lain bahwa Allah tidak peduli akan kita akhirnya kita akan senantiasa menuntut Tuhan berdasarkan atas apa yang sudah kita lakukan.
Orang-orang pun akhirnya giat untuk melayani dan mendekatkan diri kepada Tuhan seolah-olah rohani, tapi kenyataannya adalah 'Rohana' (nama orang dan tidak ada hubungannya dengan hal rohani :)) -- karena yang kita kejar adalah pemberian Tuhan bukan Tuhan itu sendiri, kalau pemberian itu sudah kita terima maka Tuhan akan otomatis menjadi yang kedua dalam hidup kita selama kita bisa menikmati pemberian Tuhan tersebut.
Baiklah kita menyadari ketika kita giat melayani dan mendekatkan diri kepada Tuhan adalah bukti bahwa Allah sendirilah yang telah menyelamatkan diri kita di dalam karya penebusan Kristus, namun manusia seringkali 'take it for granted' -- manusia juga akhirnya menganggap bahwa yah memang selayaknya saya ditebus, selayaknya saya diberkati, selayaknya saya dapat hidup dengan enak. Tanpa mengerti siapa diri kita, dan siapa Allah itu sendiri, maka seluruh konsep hidup kita yang kita jalankan hanya seperti menjaring angin, akan sia-sia belaka.
Kalau mau diperiksa lebih lanjut sebenarnya kitalah orang-orang berdosa yang patut dihukum, kitalah yang seharusnya duduk di bangku terdakwa dan Tuhan duduk di bangku hakim hendak mendakwa kita, namun seringkali kita lupa akan hal tersebut, kita lupa siapa diri kita sebenarnya sehingga kita berani untuk menuntut segala sesuatu kepada Tuhan atas semua yang sudah kita lakukan. Seringkali, atau bahkan saya dapat katakan hampir setiap kali akhirnya Tuhan yang duduk di bangku terdakwa dan kita duduk di bangku hakim, dan pertanyaan yang dilontarkan hanyalah berkisar akan diri kita "Tuhan mengapa saya sudah rajin tapi hidup masih menderita, kenapa saya sudah melayani, sudah hidup benar tapi hidup masih begini-begini saja, mengapa orang fasik lebih 'diberkati' daripada saya" -- Inilah manusia TIDAK TAHU DIRI!!!!!!, berani-beraninya kita mengusik tahta Allah dan membuat Dia duduk dibangku terdakwa dan kita senantiasa menjadi hakim.
Marilah kita renungkan kembali, ketika kita melayani bagaimana motivasi pelayanan kita, apakah hanya untuk Tuhan atau untuk pemberian Tuhan, kalau Tuhan tidak memberi apakah kita masih mau Tuhan? Baiklah kita juga harus selalu mengingat bahwa kitalah yang harus duduk di bangku terdakwa, walaupun fakta bahwa kita sudah ditebus oleh darah Kristus dan kita sudah diselamatkan ini bukan berarti kita melupakan siapa diri kita sebenarnya.
Artikel ini ditulis terinspirasi oleh buku CS. Lewis yang berjudul. "God in the Dock"
25 November, 2009
Lebih takut manusia dibanding takut akan Allah
Posted by
Anton Triyanto
Hari ini saya pakai baju apa yah? Aduh nanti orang lain anggap pakaian saya norak? Aduh rambut saya koq agak jelek yah, nanti pandangan orang bagaimana? Aduh gimana nih...aduh gimana?
Begitulah salah satu pertanda bahwa seringkali hidup kita ditentukan oleh penilaian orang lain, sehingga akhirnya kita lebih takut kepada manusia dibanding takut akan Allah, kita takut berbicara kebenaran ketika diperhadapkan oleh sesuatu yang mungkin akan mengurangi harga diri kita. Sehingga kita menjadi takut akan manusia, manusia dianggap lebih berkuasa daripada Tuhan. Apakah benar kita punya harga diri yang harus dipertahankan? Mari kita telaah lagi, bahwa kalau kita terlalu menekankan kepada harga diri yang dipertahankan maka kita akan jatuh kepada ekstrim cinta akan diri sendiri bukan cinta kepada Allah, diri sendiripun akan menjadi berhala buat hidup kita.
Takut akan Allah bukanlah sesuatu posisi di mana kita berhenti, namun takut akan Allah sebaiknya dilihat adalah sebuah proses yang senantiasa bergerak menuju kesempurnaan hidup di mana Allahlah yang menjadi tujuan dalam hidup ini, bukan manusia, bukan harga diri.
Orang yang suka membela dirinya adalah orang yang lebih takut kepada manusia dibanding kepada Allah, saya pun masih termasuk salah satu di dalamnya, saya lebih suka membela diri supaya 'harga diri' saya tidak terusik, entah pembelaan itu adalah kebenaran atau kesalahan -- hal tersebut dikesampingkan selama saya dapat mempertahankan 'harga diri' saya, supaya saya tidak malu di muka umum. Inilah salah satu tanda orang yang lebih takut manusia dibanding takut akan Allah.
Seringkali akhirnya kita melakukan segala sesuatu di hidup kita hanya karena kita takut akan manusia, takut tidak diterima di dalam komunitas kita. Kalau kita mempunyai prinsip yang benar dan bertahan di atas prinsip tersebut, walaupun orang lain melihatnya sebagai sebuah keanehan -- maka lambat laun kita akan merubah prinsip tersebut kalau kita takut akan manusia. Keputusan mayoritas pun dianggap yang paling benar bahkan dianggap adalah suara dan pimpinan Tuhan, inilah majunya gerakan humanis yang senantiasa menitikberatkan hidup pada kualitas manusia itu sendiri. Dan pada akhirnya manusialah yang menjadi 'Tuhan' bukan Tuhan sendiri.
Marilah sama-sama kita merenungkan benar-benar mempunyai integritas yang tinggi, untuk selalu belajar takut akan Allah di dalam hidup kita, entah di dalam keluarga, pekerjaan, sekolah, bergereja, atau dimanapun kita berada. Baiklah kita bisa berpegang pada prinsip kebenaran Firman Tuhan yang sejati walaupun dunia akan membenci kita.
Begitulah salah satu pertanda bahwa seringkali hidup kita ditentukan oleh penilaian orang lain, sehingga akhirnya kita lebih takut kepada manusia dibanding takut akan Allah, kita takut berbicara kebenaran ketika diperhadapkan oleh sesuatu yang mungkin akan mengurangi harga diri kita. Sehingga kita menjadi takut akan manusia, manusia dianggap lebih berkuasa daripada Tuhan. Apakah benar kita punya harga diri yang harus dipertahankan? Mari kita telaah lagi, bahwa kalau kita terlalu menekankan kepada harga diri yang dipertahankan maka kita akan jatuh kepada ekstrim cinta akan diri sendiri bukan cinta kepada Allah, diri sendiripun akan menjadi berhala buat hidup kita.
Takut akan Allah bukanlah sesuatu posisi di mana kita berhenti, namun takut akan Allah sebaiknya dilihat adalah sebuah proses yang senantiasa bergerak menuju kesempurnaan hidup di mana Allahlah yang menjadi tujuan dalam hidup ini, bukan manusia, bukan harga diri.
Orang yang suka membela dirinya adalah orang yang lebih takut kepada manusia dibanding kepada Allah, saya pun masih termasuk salah satu di dalamnya, saya lebih suka membela diri supaya 'harga diri' saya tidak terusik, entah pembelaan itu adalah kebenaran atau kesalahan -- hal tersebut dikesampingkan selama saya dapat mempertahankan 'harga diri' saya, supaya saya tidak malu di muka umum. Inilah salah satu tanda orang yang lebih takut manusia dibanding takut akan Allah.
Seringkali akhirnya kita melakukan segala sesuatu di hidup kita hanya karena kita takut akan manusia, takut tidak diterima di dalam komunitas kita. Kalau kita mempunyai prinsip yang benar dan bertahan di atas prinsip tersebut, walaupun orang lain melihatnya sebagai sebuah keanehan -- maka lambat laun kita akan merubah prinsip tersebut kalau kita takut akan manusia. Keputusan mayoritas pun dianggap yang paling benar bahkan dianggap adalah suara dan pimpinan Tuhan, inilah majunya gerakan humanis yang senantiasa menitikberatkan hidup pada kualitas manusia itu sendiri. Dan pada akhirnya manusialah yang menjadi 'Tuhan' bukan Tuhan sendiri.
Marilah sama-sama kita merenungkan benar-benar mempunyai integritas yang tinggi, untuk selalu belajar takut akan Allah di dalam hidup kita, entah di dalam keluarga, pekerjaan, sekolah, bergereja, atau dimanapun kita berada. Baiklah kita bisa berpegang pada prinsip kebenaran Firman Tuhan yang sejati walaupun dunia akan membenci kita.
22 November, 2009
Here I Stand: A Life of Martin Luther
Posted by
Anton Triyanto
Saya benar-benar takjub sekaligus takut. Saya berpikir, "Bagaimana saya dapat menyapa Raja Semesta Alam jika menghadapi raja-raja dunia ini saja manusia gemetar? Siapakah saya, hingga saya boleh mengangkat mata dan tangan saya di hadapan Yang Mahakudus? Para malaikat mengelilingi Dia. Dia berfirman dan bumi pun berguncang. Jadi, layakkah saya - manusia hina ini - menyatakan, "Saya ingin ini, saya minta itu?" Sebab saya hanyalah debu tanah yang cemar dan berdosa, dan saya sedang berbicara kepada Allah yang hidup, kekal, dan benar.
Roland Bainton. Here I Stand: A Life of Martin Luther (New York:New American Library, 1950),30.
20 November, 2009
SainganTerbesar Yesus
Posted by
Anton Triyanto
Saya mengangkat judul ini terinpirasi dengan kata-kata sahabat saya, dia bertanya siapakah saingan terbesar Yesus, saya menjawab Iblis. Lalu dia berkata "Tidak, saingan terbesar Yesus adalah Uang" -- saya termenung sejenak dan kemudian mulai memikirkan, bahwa benar adanya uang menjadi saingan terbesar Yesus, bahkan banyak dari kita hanya karena uang akhirnya melupakan Yesus, celakanya ada yang mau uang dan mau Yesus, kalau saya bisa dapat uang karena saya terima Yesus maka saya akan terima Yesus, tapi kalau saya sudah punya uang, Yesus akan menjadi yang kedua dalam hidup saya. Inilah persaingan yang sangat ketat sekali, setiap hari kita harus bergumul akan hal ini.
Apa reaksi kita, ketika mungkin kita kecurian uang yang banyak sekali, atau bahkan sesuatu yang akhirnya membuat kita mengeluarkan uang yang tadinya kita sudah simpan-simpan, terus terang pasti kita akan mengalami kekuatiran, sesuatu yang harus kita bayar tapi sebenarnya kita enggan membayarnya karena kita merasa bukan kita yang seharusnya membayarnya. Hal ini sedikit banyak akan mempengaruhi cara hidup kita, setidaknya pada hari itu ketika kejadian-kejadian tersebut berlangsung, namun baiklah kita kembali menghadap Tuhan dan percaya yakin bahwa Dialah sumber segalanya, bukan karena kita mau mendapatkan uang dari Dia, atau supaya Tuhan membantu kita menjadi uang kita supaya tidak ada kejadian yang terjadi di dalam hidup kita sehingga kita harus mengeluarkan uang. Namun supaya kita belajar bahwa hidup ini bukan untuk uang, tetapi untuk Tuhan -- Tuhanlah yang memberikan kepuasan yang abadi.
Ada satu pertanyaan yang ditanyakan kepada salah satu orang terkaya di dunia. "Kapan Bapak bisa puas dengan kekayaan Bapa?" -- Orang kaya tersebut menjawab "Ketika saya mendapatkan lebih dari apa yang saya punya" -- maka kita dapat katakan bahwa manusia tidak akan pernah puas dalam hal materi, ketika kita mengarahkan mata kita kepada hal-hal materi maka tidak akan pernah ada kepuasan di dalam hidup kita.
Arahkanlah senantiasa kepada hal-hal rohani, yaitu Yesus Kristus yang menjadi air hidup, memuaskan seluruh dahaga kita. Ini pun bukan berarti kita tidak harus bekerja, namun bekerjalah selagi bisa -- hanya janganlah menambatkan hati kita kepada harta di dunia ini yang tidak akan pernah dapat dibawa ke sorga.
Apa reaksi kita, ketika mungkin kita kecurian uang yang banyak sekali, atau bahkan sesuatu yang akhirnya membuat kita mengeluarkan uang yang tadinya kita sudah simpan-simpan, terus terang pasti kita akan mengalami kekuatiran, sesuatu yang harus kita bayar tapi sebenarnya kita enggan membayarnya karena kita merasa bukan kita yang seharusnya membayarnya. Hal ini sedikit banyak akan mempengaruhi cara hidup kita, setidaknya pada hari itu ketika kejadian-kejadian tersebut berlangsung, namun baiklah kita kembali menghadap Tuhan dan percaya yakin bahwa Dialah sumber segalanya, bukan karena kita mau mendapatkan uang dari Dia, atau supaya Tuhan membantu kita menjadi uang kita supaya tidak ada kejadian yang terjadi di dalam hidup kita sehingga kita harus mengeluarkan uang. Namun supaya kita belajar bahwa hidup ini bukan untuk uang, tetapi untuk Tuhan -- Tuhanlah yang memberikan kepuasan yang abadi.
Ada satu pertanyaan yang ditanyakan kepada salah satu orang terkaya di dunia. "Kapan Bapak bisa puas dengan kekayaan Bapa?" -- Orang kaya tersebut menjawab "Ketika saya mendapatkan lebih dari apa yang saya punya" -- maka kita dapat katakan bahwa manusia tidak akan pernah puas dalam hal materi, ketika kita mengarahkan mata kita kepada hal-hal materi maka tidak akan pernah ada kepuasan di dalam hidup kita.
Arahkanlah senantiasa kepada hal-hal rohani, yaitu Yesus Kristus yang menjadi air hidup, memuaskan seluruh dahaga kita. Ini pun bukan berarti kita tidak harus bekerja, namun bekerjalah selagi bisa -- hanya janganlah menambatkan hati kita kepada harta di dunia ini yang tidak akan pernah dapat dibawa ke sorga.
14 November, 2009
10 November, 2009
03 November, 2009
Living for Jesus
Posted by
Anton Triyanto
Entah kenapa sepanjang minggu ini selalu ingat akan lantunan lagu ini.
Words by: Thomas O. Chisholm
Music by: C. Harold Lowden
Verse 1
Living for Jesus, a life that is true,
Striving to please Him in all that I do;
Yielding allegiance, glad hearted and free,
This is the pathway of blessing for me.
Refrain
O Jesus, Lord and Savior, I give myself to Thee,
For Thou, in Thy atonement, didst give Thyself for me.
I own no other Master, my heart shall be Thy throne.
My life I give, henceforth to live, O Christ, for Thee alone.
Verse 2
Living for Jesus Who died in my place,
Bearing on Calvary my sin and disgrace;
Such love constrains me to answer His call,
Follow His leading and give Him my all.
Verse 3
Living for Jesus, wherever I am,
Doing each duty in His holy Name;
Willing to suffer affliction and loss,
Deeming each trial a part of my cross.
Verse 4
Living for Jesus through earth’s little while,
My dearest treasure, the light of His smile;
Seeking the lost ones He died to redeem,
Bringing the weary to find rest in Him.
Words by: Thomas O. Chisholm
Music by: C. Harold Lowden
Verse 1
Living for Jesus, a life that is true,
Striving to please Him in all that I do;
Yielding allegiance, glad hearted and free,
This is the pathway of blessing for me.
Refrain
O Jesus, Lord and Savior, I give myself to Thee,
For Thou, in Thy atonement, didst give Thyself for me.
I own no other Master, my heart shall be Thy throne.
My life I give, henceforth to live, O Christ, for Thee alone.
Verse 2
Living for Jesus Who died in my place,
Bearing on Calvary my sin and disgrace;
Such love constrains me to answer His call,
Follow His leading and give Him my all.
Verse 3
Living for Jesus, wherever I am,
Doing each duty in His holy Name;
Willing to suffer affliction and loss,
Deeming each trial a part of my cross.
Verse 4
Living for Jesus through earth’s little while,
My dearest treasure, the light of His smile;
Seeking the lost ones He died to redeem,
Bringing the weary to find rest in Him.
01 November, 2009
Renew a right spirit within me
Posted by
Anton Triyanto
Be much in prayer; live much upon the Word of God; kill the lusts which have driven your Lord from you; be careful to watch over the future uprisings of sin. "Renew a right spirit within me." -- C.H. Spurgeon
30 October, 2009
28 October, 2009
Saya akan berikan waktu untuk Tuhan?
Posted by
Anton Triyanto
“Hari ini saya berjanji sama Tuhan, kalau Tuhan membantu saya dalam menyelesaikan masalah yang rumit maka saya akan memberikan waktu untuk Tuhan dan melayani Dia lebih sungguh lagi”
Berapa sering kita mendengar pernyataan ini, kita berjanji dan seperti main judi bersama Tuhan bukan? kedengarannya memang ekstrim ketika saya katakan bermain judi tapi kalau dipikir lagi yah ada benarnya karena – kita mengharapkan Tuhan berbuat sesuatu untuk kita setelah kita melakukan sesuatu untuk Tuhan, seperti memancing dengan memakai umpan, seolah-olah kalau Allah mengabulkan permintaan kita berarti memang Allah mau supaya kita melayani Dia dan memberikan waktu untuk Dia maka untuk itulah Dia mengabulkan permintaan kita, seperti hubungan sebab akibat, karena Tuhan bikin A maka saya akan bikin B, kalau Tuhan ngak bikin A saya ogah bikin B. Jadi bagaimana kalau Tuhan tidak mengabulkan dan tidak menyelesaikan masalah kita yang rumit? Apakah berarti kita tidak akan memberikan waktu untuk Tuhan?
Manusia pun, khususnya saya mulai jatuh di dalam jerat pemikiran yang salah, seolah-olah ada waktu yang dipergunakan untuk Tuhan dan ada waktu yang dipergunakan untuk hidup kita sendiri, untuk itulah tidak sedikit dari kita mengatakan “Saya tidak punya waktu untuk Tuhan” – karena pemikiran dasar yang salah mengenai ‘waktu’ – kalau kita berpikir secara kritis bahwa semua waktu adalah milik Tuhan bukan milik kita maka seharusnya kita berdoa: “Tuhan berapa banyak waktu yang saya bisa pakai untuk kesenangan saya?” – dengan mengatakan semua waktu untuk Tuhan bukan berarti kita berhenti kerja dan mengurung diri di dalam gereja. Tapi dengan pemikiran dasar yang benar bahwa semua waktu adalah untuk Tuhan, maka apa yang kita lakukan senantiasa semuanya adalah untuk Tuhan. Misalnya ketika kita kerja – kita akan menyadari kalau kita kerja untuk Tuhan bukan karena uang semata, karena waktu itu diberikan kepada kita supaya kita bisa bertanggung jawab mempergunakannya. Bahkan apapun yang kita lakukan, kita akan senantiasa ‘memikirkan’ Tuhan, setiap saat.
Memang tidak bisa dipungkiri manusia cenderung untuk mementingkan diri sendiri dahulu ketimbang memikirkan apa yang menjadi kerinduan Tuhan akan hidup kita, karena pada dasarnya kita adalah orang-orang yang ‘memberontak’ siapapun kita dari tua muda, besar kecil, kaya miskin, wanita pria, semua pada hakekatnya adalah sama adanya – cenderung untuk mengelompokkan waktu untuk kesenangan pribadi dan waktu untuk Tuhan. Ironisnya persentasinya pasti lebih banyak untuk kesenangan pribadi dibanding dengan untuk Tuhan (walaupun tetap harus dimengerti semua waktu adalah punya Tuhan).
Dengan pemikiran dasar yang salah akhirnya ketika kita melayani kita bisa menuntut Allah karena waktu yang seolah-olah adalah punya kita dan kita memberikannya kepada Allah – dengan kata lain kita di kemudian hari bisa berkata “Saya sudah berkorban waktu bagi Tuhan tapi kenapa masalah masih terjadi” – walaupun tidak dikeluarkan oleh mulut kita, tapi seringkali dalam hati kecil kita akan berkata dengan terhadap diri sendiri. Dengan tuntutan seperti itulah yang menandakan manusia adalah egois semata-mata hanya mau memikirkan apa yang menjadi kesenangan, keuntungan bagi dirinya sendiri. Baiklah oleh pemikiran yang benar tentang segala sesuatu adalah dari Allah maka biarlah kita bersama-sama bisa merenungkan Kolose 3:1-17 agar semakin nyata bahwa benar kita benar-benar adalah 'manusia baru' seharusnya hidup di dalam Roh bukan di dalam daging yang hanya mau mementingkan dan memuaskan hawa nafsu kita.
Kolose 3:17
“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.”
Berapa sering kita mendengar pernyataan ini, kita berjanji dan seperti main judi bersama Tuhan bukan? kedengarannya memang ekstrim ketika saya katakan bermain judi tapi kalau dipikir lagi yah ada benarnya karena – kita mengharapkan Tuhan berbuat sesuatu untuk kita setelah kita melakukan sesuatu untuk Tuhan, seperti memancing dengan memakai umpan, seolah-olah kalau Allah mengabulkan permintaan kita berarti memang Allah mau supaya kita melayani Dia dan memberikan waktu untuk Dia maka untuk itulah Dia mengabulkan permintaan kita, seperti hubungan sebab akibat, karena Tuhan bikin A maka saya akan bikin B, kalau Tuhan ngak bikin A saya ogah bikin B. Jadi bagaimana kalau Tuhan tidak mengabulkan dan tidak menyelesaikan masalah kita yang rumit? Apakah berarti kita tidak akan memberikan waktu untuk Tuhan?
Manusia pun, khususnya saya mulai jatuh di dalam jerat pemikiran yang salah, seolah-olah ada waktu yang dipergunakan untuk Tuhan dan ada waktu yang dipergunakan untuk hidup kita sendiri, untuk itulah tidak sedikit dari kita mengatakan “Saya tidak punya waktu untuk Tuhan” – karena pemikiran dasar yang salah mengenai ‘waktu’ – kalau kita berpikir secara kritis bahwa semua waktu adalah milik Tuhan bukan milik kita maka seharusnya kita berdoa: “Tuhan berapa banyak waktu yang saya bisa pakai untuk kesenangan saya?” – dengan mengatakan semua waktu untuk Tuhan bukan berarti kita berhenti kerja dan mengurung diri di dalam gereja. Tapi dengan pemikiran dasar yang benar bahwa semua waktu adalah untuk Tuhan, maka apa yang kita lakukan senantiasa semuanya adalah untuk Tuhan. Misalnya ketika kita kerja – kita akan menyadari kalau kita kerja untuk Tuhan bukan karena uang semata, karena waktu itu diberikan kepada kita supaya kita bisa bertanggung jawab mempergunakannya. Bahkan apapun yang kita lakukan, kita akan senantiasa ‘memikirkan’ Tuhan, setiap saat.
Memang tidak bisa dipungkiri manusia cenderung untuk mementingkan diri sendiri dahulu ketimbang memikirkan apa yang menjadi kerinduan Tuhan akan hidup kita, karena pada dasarnya kita adalah orang-orang yang ‘memberontak’ siapapun kita dari tua muda, besar kecil, kaya miskin, wanita pria, semua pada hakekatnya adalah sama adanya – cenderung untuk mengelompokkan waktu untuk kesenangan pribadi dan waktu untuk Tuhan. Ironisnya persentasinya pasti lebih banyak untuk kesenangan pribadi dibanding dengan untuk Tuhan (walaupun tetap harus dimengerti semua waktu adalah punya Tuhan).
Dengan pemikiran dasar yang salah akhirnya ketika kita melayani kita bisa menuntut Allah karena waktu yang seolah-olah adalah punya kita dan kita memberikannya kepada Allah – dengan kata lain kita di kemudian hari bisa berkata “Saya sudah berkorban waktu bagi Tuhan tapi kenapa masalah masih terjadi” – walaupun tidak dikeluarkan oleh mulut kita, tapi seringkali dalam hati kecil kita akan berkata dengan terhadap diri sendiri. Dengan tuntutan seperti itulah yang menandakan manusia adalah egois semata-mata hanya mau memikirkan apa yang menjadi kesenangan, keuntungan bagi dirinya sendiri. Baiklah oleh pemikiran yang benar tentang segala sesuatu adalah dari Allah maka biarlah kita bersama-sama bisa merenungkan Kolose 3:1-17 agar semakin nyata bahwa benar kita benar-benar adalah 'manusia baru' seharusnya hidup di dalam Roh bukan di dalam daging yang hanya mau mementingkan dan memuaskan hawa nafsu kita.
Kolose 3:17
“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.”
21 October, 2009
Korelasi antara kemiskinan dan memberi
Posted by
Anton Triyanto
Torehan mengenai Teologia kemakmuran baca di sini.
20 October, 2009
Saya mau kaya dan surga
Posted by
Anton Triyanto
Ibrani 10:32-36
10:32 Ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita oleh karena kamu bertahan dalam perjuangan yang berat,
10:33 baik waktu kamu dijadikan tontonan oleh cercaan dan penderitaan, maupun waktu kamu mengambil bagian dalam penderitaan mereka yang diperlakukan sedemikian.
10:34 Memang kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang hukuman dan ketika harta kamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya.
10:35 Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya.
10:36 Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.
"Tuhan saya mau selamat dan masuk surga, tapi saya juga mau diberkati dengan kekayaan, saya mau dua-duanya Tuhan, kalau cuman satu pilihan saya akan pilih surga tapi kekayaan biar jadi 'option' yang kedua -- waiting list yah Tuhan" -- Pernyataan ini sering kita dengar, namun berapa banyak dari kita berdoa "Tuhan saya mau Engkau! Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, Gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya"
Manusia cenderung egois dan hendak memenuhi kebutuhan dia sendiri bahkan kalau bisa kebutuhan di masa ini terpenuhi dan kebutuhan di masa depan terpenuhi, tanpa ada rasa gentar bahwa hanya Tuhanlah yang seharusnya menjadi pusat dalam hidupnya bukan dia sendiri. Manusia pun mulai memaksakan kehendaknya, seolah-olah hal itu menjadi kehendak Allah, tapi kalau kita telaah lebih jauh lagi ternyata hal tersebut hanyalah untuk kepuasan diri semata hanya dilegalisasikan dengan topeng kerohanian.
Kalau bisa kita dapatkan segala janji-janji Tuhan yang enak, kalau perintah Tuhan yang tidak enak dan tidak akan menghasilkan berkat bagi diri sendiri lebih baik dihindarkan, atau dengan mengatakan "wah itu mah bukan buat saya, itu buat orang lain" manusia akhirnya hanya memilih apa yang menurut dia relevan untuk kepuasan hidupnya, dengan presuposisi seperti ini maka kebenaran Firman Tuhan tidak akan pernah terungkap secara nyata di dalam hidup manusia, karena sudah ada presuposisi yang salah mengenai Allah dan manusia, sehingga Firman Tuhan hanyalah sebatas ayat-ayat yang dipergunakan untuk mendukung presuposisi manusia yang sudah salah.
Saya tertarik dalam surat Ibrani, ayatnya yang ke 32-36, membicarakan tentang penderitaan bersama Kristus, bahkan ketika harta mereka dirampas mereka bahkan bersukacita, kalau dilihat dari kacamata dunia "gila sekali" tapi karena mereka tahu bahwa ada harta yang lebih menetap sifatnya yaitu hidup bersama dengan Allah setelah kematian, itulah yang memampukan mereka mengganggap semua harta yang mereka punya hanyalah sesuatu yang dipercayakan Tuhan untuk dipertanggungjawabkan tidak lebih, dan tidak seharusnya menjadi harta yang melebihi harta surgawi yang akan kita terima satu hari nanti.
Harta di dunia, tidak menjadi 'tuhan' bagi hidup mereka, karena mereka tahu bahwa hanya Tuhanlah yang berdaulat atas hidup mereka bukan harta tersebut, namun berapa banyak dari kita mau Tuhan dan mau harta, seolah-olah kalau bisa tidak ada kerugian di dalam hidup kita, kalau bisa minta, yah minta dua-duanya, siapa tahu Tuhan kasih, kan ngak ada salahnya. Jadi apakah motivasi kita mengikut Tuhan hanya karena ada kemungkinan Tuhan akan memberikan kita harta di surga dan harta di dunia, kan Tuhan baik pasti Dia akan memberikan buat kita -- kalau kita melakukan kehendak Allah pasti Dia akan memberikan apa yang dijanjikan itu, tanpa menyadari bahwa yang dijanjikan itu bukanlah berkat kekayaan namun yang dijanjikan adalah hidup bersama Allah di satu hari.
Biarlah kita senantiasa menikmati Allah di dalam segala keberadaan kita, baik dalam keadaan miskin maupun dalam keadaan kaya, dalam keadaan kaya pun bukanlah sesuatu yang harus dibanggakan, namun dengan keyakinan ketika Tuhan mempercayakan kepada kita harta dunia -- Dia hanya mau kita memberikan lebih dan mempergunakan lebih banyak untuk menolong orang yang kekurangan dan pekerjaan Tuhan.
Jadi janganlah kita melakukan kehendak Allah hanya karena mau apa yang kita pikir Tuhan janjikan, yaitu berkat...berkat dan berkat...akhirnya berkatlah yang menjadi 'tuhan' atas hidup kita bukan Tuhan. Marilah kita sama-sama bertekun dalam mencari dan melakukan kehendak Tuhan supaya kita terus dipelihara dalam iman kita kepada Kristus sampai bertemu dengan Tuhan dan hidup bersama Tuhan -- itulah yang dijanjikan.
10:32 Ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita oleh karena kamu bertahan dalam perjuangan yang berat,
10:33 baik waktu kamu dijadikan tontonan oleh cercaan dan penderitaan, maupun waktu kamu mengambil bagian dalam penderitaan mereka yang diperlakukan sedemikian.
10:34 Memang kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang hukuman dan ketika harta kamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya.
10:35 Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya.
10:36 Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.
"Tuhan saya mau selamat dan masuk surga, tapi saya juga mau diberkati dengan kekayaan, saya mau dua-duanya Tuhan, kalau cuman satu pilihan saya akan pilih surga tapi kekayaan biar jadi 'option' yang kedua -- waiting list yah Tuhan" -- Pernyataan ini sering kita dengar, namun berapa banyak dari kita berdoa "Tuhan saya mau Engkau! Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, Gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya"
Manusia cenderung egois dan hendak memenuhi kebutuhan dia sendiri bahkan kalau bisa kebutuhan di masa ini terpenuhi dan kebutuhan di masa depan terpenuhi, tanpa ada rasa gentar bahwa hanya Tuhanlah yang seharusnya menjadi pusat dalam hidupnya bukan dia sendiri. Manusia pun mulai memaksakan kehendaknya, seolah-olah hal itu menjadi kehendak Allah, tapi kalau kita telaah lebih jauh lagi ternyata hal tersebut hanyalah untuk kepuasan diri semata hanya dilegalisasikan dengan topeng kerohanian.
Kalau bisa kita dapatkan segala janji-janji Tuhan yang enak, kalau perintah Tuhan yang tidak enak dan tidak akan menghasilkan berkat bagi diri sendiri lebih baik dihindarkan, atau dengan mengatakan "wah itu mah bukan buat saya, itu buat orang lain" manusia akhirnya hanya memilih apa yang menurut dia relevan untuk kepuasan hidupnya, dengan presuposisi seperti ini maka kebenaran Firman Tuhan tidak akan pernah terungkap secara nyata di dalam hidup manusia, karena sudah ada presuposisi yang salah mengenai Allah dan manusia, sehingga Firman Tuhan hanyalah sebatas ayat-ayat yang dipergunakan untuk mendukung presuposisi manusia yang sudah salah.
Saya tertarik dalam surat Ibrani, ayatnya yang ke 32-36, membicarakan tentang penderitaan bersama Kristus, bahkan ketika harta mereka dirampas mereka bahkan bersukacita, kalau dilihat dari kacamata dunia "gila sekali" tapi karena mereka tahu bahwa ada harta yang lebih menetap sifatnya yaitu hidup bersama dengan Allah setelah kematian, itulah yang memampukan mereka mengganggap semua harta yang mereka punya hanyalah sesuatu yang dipercayakan Tuhan untuk dipertanggungjawabkan tidak lebih, dan tidak seharusnya menjadi harta yang melebihi harta surgawi yang akan kita terima satu hari nanti.
Harta di dunia, tidak menjadi 'tuhan' bagi hidup mereka, karena mereka tahu bahwa hanya Tuhanlah yang berdaulat atas hidup mereka bukan harta tersebut, namun berapa banyak dari kita mau Tuhan dan mau harta, seolah-olah kalau bisa tidak ada kerugian di dalam hidup kita, kalau bisa minta, yah minta dua-duanya, siapa tahu Tuhan kasih, kan ngak ada salahnya. Jadi apakah motivasi kita mengikut Tuhan hanya karena ada kemungkinan Tuhan akan memberikan kita harta di surga dan harta di dunia, kan Tuhan baik pasti Dia akan memberikan buat kita -- kalau kita melakukan kehendak Allah pasti Dia akan memberikan apa yang dijanjikan itu, tanpa menyadari bahwa yang dijanjikan itu bukanlah berkat kekayaan namun yang dijanjikan adalah hidup bersama Allah di satu hari.
Biarlah kita senantiasa menikmati Allah di dalam segala keberadaan kita, baik dalam keadaan miskin maupun dalam keadaan kaya, dalam keadaan kaya pun bukanlah sesuatu yang harus dibanggakan, namun dengan keyakinan ketika Tuhan mempercayakan kepada kita harta dunia -- Dia hanya mau kita memberikan lebih dan mempergunakan lebih banyak untuk menolong orang yang kekurangan dan pekerjaan Tuhan.
Jadi janganlah kita melakukan kehendak Allah hanya karena mau apa yang kita pikir Tuhan janjikan, yaitu berkat...berkat dan berkat...akhirnya berkatlah yang menjadi 'tuhan' atas hidup kita bukan Tuhan. Marilah kita sama-sama bertekun dalam mencari dan melakukan kehendak Tuhan supaya kita terus dipelihara dalam iman kita kepada Kristus sampai bertemu dengan Tuhan dan hidup bersama Tuhan -- itulah yang dijanjikan.
16 October, 2009
Tidak perlu memberikan 'kemuliaan' bagi Tuhan!
Posted by
Anton Triyanto
Yah seharusnya kita tidak perlu memberikan 'kemuliaan' bagi Tuhan! Tunggu tunggu, jangan marah dulu biarkan saya menjelaskan maksud saya. Untuk itulah kemuliaan saya tulis dengan ada tanda kutipnya karena seringkali kita mendengar kata-kata seperti ini: "Mari beri kemuliaan bagi Tuhan!" lalu secara serentak orang-orang bertepuk tangan. Apakah ini salah? Salah tidak salah bukan urusan saya, tapi biarlah kita lebih tajam dan kritis dalam hal ini.
Apakah Tuhan kekurangan kemuliaan sehingga kita perlu memberikan sesuatu kemuliaan untuk Dia supaya Dia lebih dimuliakan lagi? Lalu muncullah kalimat seperti ini juga: "Mari kita muliakan supaya Dia lebih ditinggikan lagi", nah kembali apakah Dia kurang tinggi sehingga kita harus meninggikan Dia? Torehan ini bukan bermaksud untuk menghentikan Anda meninggikan dan memuliakan Dia dalam hidup Anda. Namun yang saya maksud adalah kerancuan akan timbul ketika kita tepuk tangan dan menganggap itu sama dengan memuliakan Tuhan.
Jadi kalau tidak tepuk tangan tentu aneh, yang lain tepuk tangan kok saya tidak, yah daripada bengong sendiri mendingan tepuk tangan juga, jadi tepuk tangan seperti ini sudah jelas palsu dan hanya dibuat-buat karena tertular, atau merasa tidak enak di sekelilingnya. Kalau musiknya bagus, juga akhirnya lebih bisa tepuk tangan lebih keras lagi seolah-olah memberikan ‘kemuliaan bagi Tuhan’ jadi kemuliaan Tuhan akhirnya diukur dari tepuk tangan kita yang keras, dari musik kita yang bagus. Apakah benar?
Loh orang dunia kan juga tepuk tangan kalau lagi konser, masa orang dunia bisa tepuk tangan kita ngak boleh tepuk tangan buat Tuhan, justru harusnya tepuk tangan lebih keras lagi, supaya lebih beda dengan orang dunia, kita kan seharusnya lebih dari orang dunia. Apakah benar pernyataan seperti ini? Tepuk tangan, adalah simbol dari appresiasi kita, dalam hal menghormati orang lain ketika seseorang mengadakan pertunjukan kita tepuk tangan untuk memberikan nilai, kalau pertunjukan bagus tepuk tangan lebih ramai (walaupun orang Timur kurang bisa seperti ini), sedangkan kalau pertunjukan jelek, yah tepuk tangan seadanya aja lah, toh juga pertunjukannya tidak terlalu memukau, dengan konsep seperti ini arti tepuk tangan hanya menjadi pemberian hormat dan nilai kepada orang yang mengadakan pertunjukan.
Jadi tentu orang yang mengadakan pertunjukan tersebut juga terpengaruh dengan tepuk tangan penonton kalau tepuk tangannya ramai, dia pasti merasa nilai dia bertambah, rasa percaya diri semakin ada, sedangkan kalau tepuk tangan sedikit, dia pasti merasa kurang percaya diri, dan merasa berkurang nilainya. Nah apakah hal ini dapat diterapkan dalam hubungan kita dengan Tuhan, kalau kita tepuk tangan hanya karena, kita merasa bahwa Tuhan akan lebih ditinggikan dan lebih dihormati dan lebih diberi nilai, ini jelas harus perhatikan secara kritis.
Memberikan kemuliaan bagi Tuhan dengan memuliakan Tuhan sangat berbeda sekali tentunya, karena dari dalam kita tidak ada kemuliaan yang dapat kita kembalikan kepada Tuhan karena manusia adalah orang yang berdosa seutuhnya di dalam manusia tidak ada yang benar dan tidak ada yang mulia yang dapat kita berikan kepada Tuhan dengan tujuan menambah nilai Tuhan, karena Tuhan tidak pernah berkekurangan dalam segala hal. Ketika kita diubahkan semakin hari semakin serupa gambar Tuhan, maka kemuliaan yang terpancar dalam hidup kita adalah pemberian Tuhan semata-mata bukan milik kita, sehingga tidak sepatutnya kita membanggakan diri bahwa kita lebih mulia dari orang lain, karena kalau memang kemuliaan Allah benar-benar tinggal dalam hidup kita maka perlakuan untuk merendahkan orang lain tentu tidak terdapat dalam kemuliaan tersebut, sehingga kalaupun terjadi maka kemuliaan itu wajib dipertanyakan apakah benar kemuliaan Tuhan atau ‘kemuliaan’ Tuhan.
Memuliakan Tuhan artinya bahwa sudah selayaknya kita diciptakan untuk memuliakan Dia, posisi kita sebagai manusia adalah untuk memuliakan Dia, bukan karena Dia kurang kemuliaan. Semakin lama kita semakin mengenal Tuhan, semakin dalamlah kita akan mengenal siapakah diri kita sebenarnya, sehingga dengan jalan seperti ini kita dapat melihat bahwa Dia adalah mulia adanya, namun karena dosa sehingga kita tidak dapat menyadari kemuliaan tersebut. Semakin kita mengenal kita sebagai orang yang berdosa, dan benar-benar berdosa maka semakin kemuliaan Tuhan terlihat dengan jelas. Jadi kalau kita mau memuliakan Tuhan dalam hidup kita baiklah kita senantiasa mengenal Dia dengan mengenal Dia maka kita akan mengenal siapakah kita sebenarnya, mengenal Dia melalui FirmanNya yang hidup dan kekal yang berkuasa menyelamatkan kita.
Dengan jalan seperti inilah kita akan secara otomatis memuliakan Tuhan, karena kita menjadi sadar bahwa kita adalah manusia berdosa yang tidak dapat berbuat apa-apa, semakin lama kita menjadi pengikut Kristus seharusnyalah kita mengetahui dosa-dosa yang ada di dalam hati kita yang terkubur dalam-dalam dan tidak pernah kita akui dan tidak pernah kita tahu. Sehingga kita dapat berkata dari semua orang akulah orang yang paling berdosa, bukan karena kita melakukan dosa lebih banyak orang lain, tapi karena akhirnya kita menyadari dan lebih mengenal akan hidup kita sendiri yang rusak seluruhnya. Kita tidak akan pernah berkata, saya lebih baik dari dia. Ketika kita memuliakan Tuhan bukan karena Dia akan lebih dimuliakan tapi karena Tuhan tidak pernah berubah kemuliaanNya dari dahulu, sekarang dan selamanya, hanya kitalah yang menyadari, bahkan terus menyadari kalau kita ini orang yang seharusnya dihukum, untuk itulah kita lebih bisa memuliakan Tuhan, tanpa pengertian seperti ini, maka memuliakan Tuhan yang kita lakukan perlu dipertanyakan dengan tanda tanya yang besar.
Kisah 17:24-25
Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.
Apakah Tuhan kekurangan kemuliaan sehingga kita perlu memberikan sesuatu kemuliaan untuk Dia supaya Dia lebih dimuliakan lagi? Lalu muncullah kalimat seperti ini juga: "Mari kita muliakan supaya Dia lebih ditinggikan lagi", nah kembali apakah Dia kurang tinggi sehingga kita harus meninggikan Dia? Torehan ini bukan bermaksud untuk menghentikan Anda meninggikan dan memuliakan Dia dalam hidup Anda. Namun yang saya maksud adalah kerancuan akan timbul ketika kita tepuk tangan dan menganggap itu sama dengan memuliakan Tuhan.
Jadi kalau tidak tepuk tangan tentu aneh, yang lain tepuk tangan kok saya tidak, yah daripada bengong sendiri mendingan tepuk tangan juga, jadi tepuk tangan seperti ini sudah jelas palsu dan hanya dibuat-buat karena tertular, atau merasa tidak enak di sekelilingnya. Kalau musiknya bagus, juga akhirnya lebih bisa tepuk tangan lebih keras lagi seolah-olah memberikan ‘kemuliaan bagi Tuhan’ jadi kemuliaan Tuhan akhirnya diukur dari tepuk tangan kita yang keras, dari musik kita yang bagus. Apakah benar?
Loh orang dunia kan juga tepuk tangan kalau lagi konser, masa orang dunia bisa tepuk tangan kita ngak boleh tepuk tangan buat Tuhan, justru harusnya tepuk tangan lebih keras lagi, supaya lebih beda dengan orang dunia, kita kan seharusnya lebih dari orang dunia. Apakah benar pernyataan seperti ini? Tepuk tangan, adalah simbol dari appresiasi kita, dalam hal menghormati orang lain ketika seseorang mengadakan pertunjukan kita tepuk tangan untuk memberikan nilai, kalau pertunjukan bagus tepuk tangan lebih ramai (walaupun orang Timur kurang bisa seperti ini), sedangkan kalau pertunjukan jelek, yah tepuk tangan seadanya aja lah, toh juga pertunjukannya tidak terlalu memukau, dengan konsep seperti ini arti tepuk tangan hanya menjadi pemberian hormat dan nilai kepada orang yang mengadakan pertunjukan.
Jadi tentu orang yang mengadakan pertunjukan tersebut juga terpengaruh dengan tepuk tangan penonton kalau tepuk tangannya ramai, dia pasti merasa nilai dia bertambah, rasa percaya diri semakin ada, sedangkan kalau tepuk tangan sedikit, dia pasti merasa kurang percaya diri, dan merasa berkurang nilainya. Nah apakah hal ini dapat diterapkan dalam hubungan kita dengan Tuhan, kalau kita tepuk tangan hanya karena, kita merasa bahwa Tuhan akan lebih ditinggikan dan lebih dihormati dan lebih diberi nilai, ini jelas harus perhatikan secara kritis.
Memberikan kemuliaan bagi Tuhan dengan memuliakan Tuhan sangat berbeda sekali tentunya, karena dari dalam kita tidak ada kemuliaan yang dapat kita kembalikan kepada Tuhan karena manusia adalah orang yang berdosa seutuhnya di dalam manusia tidak ada yang benar dan tidak ada yang mulia yang dapat kita berikan kepada Tuhan dengan tujuan menambah nilai Tuhan, karena Tuhan tidak pernah berkekurangan dalam segala hal. Ketika kita diubahkan semakin hari semakin serupa gambar Tuhan, maka kemuliaan yang terpancar dalam hidup kita adalah pemberian Tuhan semata-mata bukan milik kita, sehingga tidak sepatutnya kita membanggakan diri bahwa kita lebih mulia dari orang lain, karena kalau memang kemuliaan Allah benar-benar tinggal dalam hidup kita maka perlakuan untuk merendahkan orang lain tentu tidak terdapat dalam kemuliaan tersebut, sehingga kalaupun terjadi maka kemuliaan itu wajib dipertanyakan apakah benar kemuliaan Tuhan atau ‘kemuliaan’ Tuhan.
Memuliakan Tuhan artinya bahwa sudah selayaknya kita diciptakan untuk memuliakan Dia, posisi kita sebagai manusia adalah untuk memuliakan Dia, bukan karena Dia kurang kemuliaan. Semakin lama kita semakin mengenal Tuhan, semakin dalamlah kita akan mengenal siapakah diri kita sebenarnya, sehingga dengan jalan seperti ini kita dapat melihat bahwa Dia adalah mulia adanya, namun karena dosa sehingga kita tidak dapat menyadari kemuliaan tersebut. Semakin kita mengenal kita sebagai orang yang berdosa, dan benar-benar berdosa maka semakin kemuliaan Tuhan terlihat dengan jelas. Jadi kalau kita mau memuliakan Tuhan dalam hidup kita baiklah kita senantiasa mengenal Dia dengan mengenal Dia maka kita akan mengenal siapakah kita sebenarnya, mengenal Dia melalui FirmanNya yang hidup dan kekal yang berkuasa menyelamatkan kita.
Dengan jalan seperti inilah kita akan secara otomatis memuliakan Tuhan, karena kita menjadi sadar bahwa kita adalah manusia berdosa yang tidak dapat berbuat apa-apa, semakin lama kita menjadi pengikut Kristus seharusnyalah kita mengetahui dosa-dosa yang ada di dalam hati kita yang terkubur dalam-dalam dan tidak pernah kita akui dan tidak pernah kita tahu. Sehingga kita dapat berkata dari semua orang akulah orang yang paling berdosa, bukan karena kita melakukan dosa lebih banyak orang lain, tapi karena akhirnya kita menyadari dan lebih mengenal akan hidup kita sendiri yang rusak seluruhnya. Kita tidak akan pernah berkata, saya lebih baik dari dia. Ketika kita memuliakan Tuhan bukan karena Dia akan lebih dimuliakan tapi karena Tuhan tidak pernah berubah kemuliaanNya dari dahulu, sekarang dan selamanya, hanya kitalah yang menyadari, bahkan terus menyadari kalau kita ini orang yang seharusnya dihukum, untuk itulah kita lebih bisa memuliakan Tuhan, tanpa pengertian seperti ini, maka memuliakan Tuhan yang kita lakukan perlu dipertanyakan dengan tanda tanya yang besar.
Kisah 17:24-25
Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.
14 October, 2009
Presuposisi
Posted by
Anton Triyanto
By: Pdt. Hendra G. Mulia
1. Setiap orang punya presuposisi
Sebenarnya ada keselarasan antara penyelidikan ilmu pengetahuan dengan penyelidikan Alkitab. Jadi bagaimana orang menyelidiki Alkitab itu secara tidak sadar dipengaruhi oleh cara penyelidikan ilmiah, baik itu Filsafat, Fisika dan lainlainnya. Yang ingin saya bahas adalah perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri sehingga kita tahu apa yang mempengaruhi kita untuk menyelidiki Alkitab itu. Di dalam penyelidikan Ilmu Pengetahuan itu dikenal suatu istilah yang dinamakan Metode Ilmiah. Semua penyelidikan yang memakai seluruh prosedur yang ditetapkan di dalam metoda ilmiah ini bisa disebutkan dan diterima sebagai suatu ilmu yang Ilmiah. Diluar itu berarti ilmunya tidak ilmiah. Ilmu-ilmu yang ilmiah dapat dibuktikan secara ilmiah. Contoh: Besi dipanaskan akan memuai.
Seorang yang bernama Francis Bacon pertama kali memulai metode ilmiah ini. Pada abad 17 metode yang dipakai adalah metode Aristoteles sejak abad 12. Metode ini di bawa oleh para sarjana Arab. Kemudian sejak itu ajaran Aristoteles ini menyebar ke seluruh Eropa. Bayangkan bahwa setelah berabad-abad filsuf Yunani ini mati, pikirannya itu bisa menyebar dan menjajah seluruh Eropa.
Seluruh ajaran Aristoteles itu menyebar, termasuk cara bagaimana mereka mengerjakan Ilmu Pengetahuan. Aristoteles mengemukakan tentang logika Deduksi. Yaitu, dimulai dari satu kebenaran yang umum, sampai kepada kebenaran yang particular, atau khusus.
Misalnya begini. “Semua ayam berkaki dua.” Kemudian kita katakan, “Si Kuning berkaki dua.” Kesimpulannya apa? “Si Kuning adalah ayam.” Logika deduksi dimulai dengan satu kebenaran umum lalu sampai kepada kebenaran yang particular atau kebenaran yang khusus. Lalu misalnya syarat-syarat di dalam deduksi ini terpenuhi, kesimpulan yang diberikan itu merupakan suatu hasil yang pasti benar. Jadi misalnya segala persyaratan yang dikendaki dalam logika deduksi ini terpenuhi, kesimpulan yang didapat dari sini merupakan suatu pengetahuan yang ilmiah.
Kalau contoh itu kita ubah, seperti ini, “Semua ayam berkaki dua. Si Kuning adalah ayam,” sehingga kesimpulannya adalah, “Si Kuning berkaki dua.” Ini suatu kesimpulan yang pasti benar. Tidak akan menyalahi peraturan apa-apa. Jadi sepanjang itu mengikuti peraturan-peraturan yang ditetapkan di dalam logika deduksi, dan selama premis yang diberikan itu merupakan suatu premis yang benar, yang dihasilkan adalah sesuatu yang pasti.
Nah hal inilah yang mereka kerjakan berdasarkan apa yang mereka ungkapkan. Dan mereka sebenarnya dikuasai oleh suatu pemikiran seperti ini. Kemudian ada satu pertanyaan, bagaimana mereka menetapkan suatu premis seperti ini? Nah, pada waktu itu ada yang berlaku yang namanya ‘otoritas’. Mereka mengatakan seperti ini, segala sesuatu yang dikemukakan oleh Aristoteles atau filsuf-filsuf lainnya, ini diakui sebagai sesuatu yang merupakan kebenaran. Misalnya, bagaimana Aristoteles tahu tentang kosmologi? Dan ini yang dipakai sebagai premis mayornya. Dan setelah itu, penyelidikan-penyelidikan didasarkan pada semua kebenaran yang pernah diungkapkan oleh ilmuwan sebelumnya. Dan mereka hanya melanjutkan penyelidikan yang sudah dilakukan atau dimulai oleh para filsuf tadi.
Akhirnya, lahirlah para ilmuwan yang hidup sebagai pembelot. Yang pertama-tama memang muncul dari si Francis Bacon tadi. Misalnya ketika mengadakan penyelidikan tentang ayam tadi. Misalkan kita akan menyelidiki tentang pertanyaan, “Ayam itu kakinya sebenarnya berapa sih?" Caranya, bukan dengan pergi ke perpustakaan dan bertanya, “Apa yang dikatakan Aristoteles tentang ‘perayaman’? Atau kira-kira Socrates atau Plato pernah ngomong-ngomong masalah ‘perayaman’ nggak, ya? O iya, katanya ayam itu pasti kakinya dua.” Menurut Francis Bacon, hal itu salah. Seharusnya, kalau memang kita mau menyelidiki masalah ayam ini, kita jangan pergi ke Aristoteles atau ke Plato atau ke Socrates, pergi ke ayam itu sendiri, dong! Yang mau diselidiki, kan ayam!
Contoh penyelidikan :
Ayam 1P Kaki : 2 (Gampang kan ngitungnya?)
Ayam 2P Kaki : 2 (Ini semua ayam kita, siapa tau ayam tetangga beda!)
Ayam 3P Kaki : 2 (Oh, kita kan tinggalnya di kampung, siapa tau ayam kota beda?)
Ayam 4P Kaki : 2..(Oh, ini semua ayam Indonesia, siapa tau ayam Singapura sudah lebih maju!)
Ayam 5P Kaki : 2 (Kalau di daerah dingin siapa tau kakinya tambah satu!)
Ayam 6P Kaki : 2 (Kemudian ada yang lain dari yang lain, yang ini nih, kakinya cuma satu. Setelah diperiksa-periksa, oh, baru kelindes mobil! Nggak jadi, deh.)
Setelah syarat-syarat seperti ‘Contohnya harus banyak’ terpenuhi harus ada kesimpulan dong! Maka kesimpulan kita adalah, “Ayam berkaki dua.”
Semua ini sebenarnya adalah Metode Ilmiah yang kalian sudah pelajari sendiri. Walaupun mungkin metode yang sekarang sudah ditambah dengan beberapa unsur-unsur yang baru.
Pada waktu mengerjakan metode induksi ini, mereka tuh sebenarnya dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Aristoteles. Jadi pada waktu mereka mengadakan penyelidikan ilmu pengetahuan, misalnya tentang “Bumi ini adalah pusat.” Mengapa bumi ini adalah pusat alam semesta? Mereka mencari jawabannya. Dan dari Aristoteles sendiri diberikan jawaban, “Bumi ini bisa dikatakan sebagai pusat, sebab di dalam dunia ini gerakan hanya terdiri dari dua macam. Ke atas dan ke bawah! Karena itulah, Aristoteles mengatakan,"Bumi ini adalah pusat alam semesta.”
Dan karena selama itu mereka menganggap bahwa apa yang dikatakan Aristoteles itu adalah sesuatu yang benar, mereka percaya. Dan jangan lupa, mereka belum tahu gravitasi kan, baru setelah ada Newton, mereka tau. Begitu ada Francis Bacon, dunia mulai sadar bahwa perlunya Ilmu Pengetahuan itu terbebas dari otoritas. Harus terbebas dari sesuatu yang mempengaruhi jalannya penyelidikan. Sebab kalau dari awal kita sudah menganggap bahwa bumi ini adalah pusat dari alam semesta, seluruh penyelidikan Ilmu Pengetahuan pun akan dipengaruhi oleh Pengetahuan yang sudah ada sebelumnya. Itu sebabnya di dalam Metode Induksi itu sebenarnya, mereka akan mengerjakannya seperti ini:
Pada waktu mereka akan mengadakan penyelidikan, harus terbebas dari segala hal yang bisa mempengaruhi pengertian kita. Segala otoritas, segala pengetahuan, yang mungkin mendikte jalannya penyelidikan pengetahuan itu, merupakan sesuatu yang akan mempengaruhi hasil dari penyelidikan itu. Itu sebabnya mereka melihat perlunya suatu keadaan penyelidikan pengetahuan terbebas dari segala macam prasangka, otoritas, prejudice, bebas dari presuposisi, bebas daripada anggapan atau asumsi sebelumnya, karena mereka harus mengadakan penyelidikan yang obyektif. Tanpa pengaruh, tanpa tekanan yang sangat mungkin mempengaruhi.
Nah, inilah yang sebenarnya terjadi di dalam Ilmu Pengetahuan. Berdasarkan metode dari Ilmu Pengetahuan ini, terjadi perkembangan metode. Sekarang begini, setelah kemudian Francis Bacon, kira-kira hampir sezaman dengan Galileo Galilei pada waktu itu. Nah, Galileo itu sebenarnya adalah seorang scientist yang merupakan tokoh yang mengembangkan sesuatu yang belakangan disebut sebagai metode Induksi ini. Bacon tadi sendiri memang merupakan seseorang yang bekerja menurut apa yang kita sebut sebagai Metode Ilmiah zaman kita sekarang ini.
Galileo juga mengadakan penyelidikan-penyelidikan. Memang pada zaman Galileo, dia ini masih kalah dengan gereja pada waktu itu. Tetapi setelah itu penyelidikan Ilmu Pengetahuan memang benar-benar mengalami revolusi. Seperti yang kita tahu ditemukannya Barometer misalnya, dll. Abad 17 dan 18 merupakan zaman revolusi Ilmu Pengetahuan. Sampai kita bisa mengatakan bahwa Ilmu Pengetahuan itu menjadi ‘jantung’ dari kehidupan kita, sebab seolah-olah, segala segi dari kehidupan kita betul-betul ditunjang oleh Ilmu Pengetahuan. Misalnya, kertas yang kita pakai, harus dipikirkan pembuatannya. Sehingga kita bisa melihat bahwa, ternyata, Metode Ilmu Pengetahuan yang dihasilkan itu memberikan dampak yang luar biasa. Karena Ilmu Pengetahuan itu membuktikan dirinya sebagai sesuatu yang benarbenar berhasil, maka pada waktu itu orang-orang mempunyai pengertian bahwa Metode Ilmu Pengetahuan ini adalah sesuatu yang betul-betul berhasil luar biasa. Kira-kira abad ke 19, ada suatu filsafat yang disebut sebagai positivisme. Logical Positivism ini membentuk suatu kelompok yang disebut Vienna-circle. Kelompok ini terdiri dari ahli matematika, filsuf, dan sebagainya yang berkumpul dan akhirnya mereka inilah yang menetapkan bahwa metode dari Induksi ini adalah metode yang disebut sebagai Metode Ilmiah. Yang mereka ungkapkan pada waktu itu adalah , apa yang mereka kenal selama ini adalah apa yang mereka kenal sebagai the Scientific Method. Perhatikan kata ‘the’ yang menunjukkan bahwa metode ini sudah tertentu. Dengan menyatakan hal ini, mereka menetapkan bahwa metode Ilmu Pengetahuan yang selama ini mereka pakai adalah metode yang pasti benar.
Kemudian di dalam perkembangan lebih lanjut, kita mulai melihat bahwa apa yang dikemukakan di dalam metode Induksi ini, sebenarnya tetap mempunyai kelemahan. Misalnya, angsa warnanya apa? Belum pernah melihat Angsa, lagi?! Ok, jadi kita bikin penyelidikan. Kesimpulannya, "Angsa dan berwarna putih." Dan memang selama sekian abad, ini merupakan pengetahuan yang benar. Tetapi sampai pada suatu saat, ternyata, ada satu bagian di dunia yang angsanya tidak putih! Di salah satu bagian di kota Perth, Australia itu, angsanya berwarna hitam! Satu-satunya di dunia dan satu-satunya di Australia, yang angsanya hitam! Saya sendiri pada waktu ke Perth sana, diajakin, "Ayo, mau lihat angsa hitam?" Sebenarnya apa bagusnya, sih, angsa hitam? Tetapi karena satu-satunya tempat, ya okelah, kita lihat angsa hitam. Kita lihat ternyata dengan hasil penemuan yang semacam ini ternyata perngetahuan yang sebelumnya langsung gugur, bukan?
Sehingga ada seorang yang bernama Sir Carol Topper dianugerahkan gelar ‘Sir’ oleh Inggris mengemukakan seperti, “Sebenarnya, teori Ilmu Pengetahuan ini hanyalah satu hal nyata, bahwa dia hanya menunggu untuk disalahkan saja.”
Tapi kita lihat begini loh, ternyata di dalam perkembangan Ilmu Pengetahuan, banyak hal terbukti menjadi sesuatu yang nantinya bisa saja digugurkan oleh teori baru yang lain, yang muncul kemudian. Jadi, di dalam Induksi ini, kita lihat bahwa sesuatu menjadi tidak kekal. Kalau mau dibilang sebenarnya, bahwa kita dapat mengadakan penyelidikan itu tanpa asumsi, ini merupakan suatu hal yang nonsense. Tidak mungkin dilakukan. Misalnya kita mau mengadakan penyelidikan, tentang AIDS. Kita bertanya, "Mengapa orang bisa kena AIDS?" Tadi dikatakan bahwa tidak boleh ada praduga berupa apapun. Jadi, kita akan mulai menyelidiki dengan teori acak,"Siapa tahu AIDS itu ada karena ketelan lalat." Jadi, dicobain, orang dikasih makan lalat. Oh, ternyata nggak kena, berarti bukan karena lalat. Terus,"Siapa tahu orang kejedug tembok jadi kena AIDS." Selidiki, dong!
Nah, kita tidak mungkin menyelidiki dengan cara demikian, karena kita akan ngawur-ngawuran dong! Segala sesuatu harus diperiksa, diselidiki, tanpa praduga apa pun. Sampai tua mungkin kita nggak temukan apa-apa. Nah, malah pada zaman sekarang ini orang-orang mulai melihat, sebenarnya penyelidikan ini justru harus ada sesuatu yang membimbing penyelidikan tersebut. Begini, loh, kalau kalian mendapat suatu metode ilmiah, di dalam prosedur penelitian itu, yang paling pertama yang harus ada, adalah apa? Harus ada Hipotesa, pasti. Jadi, suatu praduga yang kira-kira akan mempengaruhi jalannya penyelidikan kita. Misalnya ditemukan di Amerika, kenapa nih ada orang yang masuk angin, kok lama-lama mati. Masa masuk angin aja mati? Terus ada lagi orang pilek terus, mati. Kok mati, pilek aja? Begitu diperiksa, oh, kekebalannya nggak ada. Begitu. Nah, dari orang-orang yang matinya konyol-konyol begini, –orang mati tuh mestinya karena kanker kek, ini pilek aja mati– ternyata diketahui mereka ini adalah golongan orang-orang yang homoseksual. Rupanya ada sesuatu di dalam hubungan homoseksual ini yang, bisa menimbulkan AIDS ini. Jadi, selalu ada hipotesa dulu. Tetapi ternyata itu adalah suatu hipotesa yang salah, yang nantinya diperbaiki. Ternyata ini bukan sekedar didapat dari hubungan homoseksual tetapi dari hubungan seksual. Jadi, semua ini dilakukan justru harus ada suatu prejudice, atau prasangka sebelum kita adakan penyelidikan.
Saking orang-orang ini terlalu menganggap bahwa scientific method adalah the Scientific Method dan sesuatu yang ilmiah, maka semua penyelidikan yang bukan dari metode ini, tidak ilmiah. Itu sebabnya, segala ilmu akan berusaha mengikuti apa yang menjadi prosedur dari metode ilmiah ini. Nah, ketika mulai muncul Ilmu-ilmu sosial, mereka juga mencoba mengarahkan ilmu mereka ini ke metode ilmiah tadi supaya Ilmu Sosial ini jangan menjadi suatu Ilmu yang boleh-percaya-boleh-nggak. Nah, mau tidak mau, penyelidikan Alkitab pun harus dipengaruhi oleh hal ini. Apabila kita melakukan penyelidikan Alkitab, dan penyelidikan ini kita lakukan dengan cara maunya kita sendiri, mereka tidak menerima.
Nah, saudara-saudara, persoalan macam demikian ini, merupakan suatu persoalan di mana kita bisa lihat dengan jelas, bagaimana saya dapat mempertanggung jawabkan tafsiran saya dengan metode yang diberikan secara metode yang memang ilmiah. Nah, dengan pengaruh itulah, kelak, kita lihat bahwa penyelidikan Alkitab itupun mengikuti apa yang dikatakan metode penyelidikan ilmiah ini. Tanpa sadar, mereka mengikuti prosedur itu, dengan persyaratan yang diperlukan, sehingga kemudian ditetapkan bahwa, kita itu, kalau mau menafsirkan Alkitab, jangan dipengaruhi oleh apapun.
Saudara kenal, nggak Metode penyelidikan secara Induktif? Saya rasa itu salah satu metode PA yang sedikit banyak dipengaruhi oleh metode ilmiah ini. Bagaimana kita mau menyelidiki Alkitab? Ada satu dosen theologi yang mengatakan begini, mengenai Renungan Harian (sebenarnya ini merupakan terjemahan dari "Our Daily Bread" yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah edisi tahun sebelumnya), "Kalau kita mau bersaat teduh, jangan pakai Renungan Harian, itu sama saja dengan kalau kamu mau makan nasi goreng, mau nggak kamu makan nasi goreng yang sudah dikunyahin sama orang lain? Makanya, kalau mau baca Alkitab, jangan mau pakai begitu-begitu, baca sendiri! Kunyah sendiri!” Sebenarnya pernyataan seperti itu sedikit banyak mencerminkan pengaruh Metode Ilmiah tadi yang mengharapkan bahwa penyelidikan ilmiah itu sebenarnya harus bebas dari presuposisi. Itu sebabnya jangan baca Renungan Harian, karena nanti akan keburu diarahkan oleh Renungan Harian itu. Itulah yang sebenarnya terjadi, sehingga di dalam peyelidikan Alkitab kita punya pengertian seperti ini: pada saat membaca suatu perikop, kita pelajari, jangan baca commentary, jangan dengar orang, jangan apa-apa, sebab apa? Karena itu hasil kunyahan pendeta kamu, misalnya. Iih, mau digigitin! Setelah kita baca perikop, Interpretasi kita kerjakan, setelah itu akhirnya kita dapatkan hasilnya. Katakanlah Eksegesis. Kita sangka demikian, bebas dari prasangka, bebas dari prejudice, bebas dari presuposisi. Kita harus berpikir secara objektif 100 %. Itu yang mereka pikir, meniru apa yang dikatakan oleh Ilmu Pengetahuan. Sampai di sini, ternyata hal ini merupakan sesuatu yang tidak bisa dipertahankan, termasuk di dalam Metode Ilmu Pengetahuan itu sendiri hanya merupakan suatu impian dari para Positivisme yang sebenarnya sudah ditinggalkan sendiri oleh Metode Ilmu Pengetahuan itu.
Kira-kira tahun 60-an, muncul satu buku, “The Structure of Scientific Revolution,” oleh Thomas Kühn. Seharusnya di dalam Universitas diberikan, sebab ini merupakan buku filsafat Ilmu Pengetahuan. Kü hn ini tidak membahas secara filosofis, tetapi dia mengambil kesimpulan dari sejarah Ilmu Pengetahuan. Buku ini sudah diterjemahkan juga menjadi, “Peran Paradigma di dalam Revolusi Sains.” Saya mengajar Sains dan Teknologi, dan buku ini merupakan buku wajib bagi mahasiswa. Tetapi setelah baca, mereka ribut sekali, “Susah, nggak ngerti.” Dulu juga waktu pertama kali baca, dalam bahasa Inggris, memang sulit sekali, nggak ngerti apa-apa, saya frustrasi sekali, kenapa goblok begini? Giliran mahasiswa baca, “Oh, ternyata nggak goblok-goblok amat, dulunya juga sama.” Agak terhibur juga, mereka bilang sulit! Tetapi buku itu memang sangat baik sekali. Pengaruhnya tidak hanya ke dalam Ilmu Pengetahuan tetapi ke dalam segala segi, termasuk di dalam theologi.
Walaupun Thomas Kühn ini sempat sangat extreme, sampai pengikutnya juga extreme, dan saya tidak menyetujui hal itu, Tetapi ada satu segi yang menurut saya benar, yaitu bahwa di dalam melakukan penyelidikan itu justru seseorang akan melakukannya di dalam paradigmanya sendiri. Ia mengatakan bahwa seseorang akan berpikir dan tidak mungkin keluar dari paradigma yang dia punyai, setiap orang akan berpikir di dalam paradigmanya. Misalnya kalau kita lihat di dalam masalah Galileo itu sendiri. Orang-orang yang pada waktu itu melawan Galileo bukannya mempunyai alasan karena hasil penyelidikan dia bertentangan dengan Alkitab atau semacam itu, tetapi yang namanya paradigma adalah segala sesuatu yang mempengaruhi orang di dalam penyelidikan Ilmu Pengetahuan, jadi, cara menyelidiki memang sudah ditentukan oleh Aristoteles seperti itu, dan pengetahuan yang sudah mengatakan bahwa semesta itu geosentris, kenapa mendadak jadi heliosentris? Jadi pada waktu itu mereka memang terikat pada paradigma mereka dan tidak mungkin seseorang akan bisa terlepas dari paradigma itu. Dan memang paradigma itu memang terlepas baru setelah Revolusi itu.
2. Setiap orang akan menerapkan presuposisinya dalam membaca Alkitab
Sehingga, kalau Anda nanti akan membaca Alkitab, Anda tidak akan terlepas dari suatu asumsi, suatu prejudice, suatu paradigma. Pada waktu Anda membaca Alkitab, Anda sudah pasti mempunyai paradigma. Saya akan memisalkan paradigma itu sebagai kacamata. Pada waktu Anda memakai kacamata kuning, Anda melihat sekeliling menjadi semua kuning. Sebenarnya, bagaimana saya melihat dunia ini akan ditentukan oleh kacamata apa yang saya pakai. Paradigma juga hal yang seperti itu. Pengertian hal ini akan kita masukan ke dalam pengertian penafsiran Alkitab ini. Jadi, ternyata
prinsip yang dikemukakan di dalam penafsiran Alkitab ini, dengan tanpa membaca buku, jangan denger orang, pikiran kita 100% objektif, dan hasilnya akan menjadi suatu eksegesis yang murni dst. Ini sebenarnya suatu metode yang tidak tepat. Justru pada waktu orang menafsirkannya, bagaimanapun, dia itu sebenarnya memakai kacamata yang menghalangi dia untuk bisa menafsirkan Alkitab itu dengan 100% objektif. Tidak munkin bisa.
Di dalam Sekolah Theologi, waktu itu, misalnya, terbagi dua, ada theologi Calvinis, ada theologi Arminian. Di dalam suatu percakapan, ada pernyataan, seperti, “Saya mah bukan theologi Calvinis ataupun Arminian, saya mah theologi yang Alkitabiah.” Nah, sepertinya, Alkitabiah ini yang paling bagus, dong, betul nggak? Dulu pertama kali saya tidak tahu apa-apa. Memang benar ya, bagus kan Alkitabiah? Memangnya Alkitab itu Calvin? Alkitab itu kan lebih tinggi daripada Calvin! Jangan Calvinis, mesti Alkitabiah dong!
Tetapi sekarang setelah kita mempelajari hal ini, maka kita akan lihat bahwa, Alkitabiah itu justru istilah yang paling jelek. Jadi, kalau kamu dibilangin Alkitabiah, itu justru kamu jelek. Sebab begini, Alkitabiah itu seolah-olah sebagaimana yang Alkitab katakan, betul nggak? Tetapi itu tidak mungkin. Nah, sekarang saya mau tanya begini, Saksi Yehuwa itu Kristen atau non-Kristen? Non-Kristen aja? Nggak takut disembelih, ya? Itu termasuk di dalam apa yang disebut dengan bidat. Ini merupakan ajaran sesat. Kita tidak melihat mereka sebagai orang Kristen. Pertanyaan lain. Saksi Yehuwa punya buku suci lain nggak? Mormon punya. Christian Science punya. Tetapi Saksi Yehuwa punya Alkitab lain nggak? Nggak, aja deh, supaya cepat, karena kamu memang nggak tahu sih ya.
Sekarang saya mau tanya yang lain: Apa yang membedakan saya dengan seorang Saksi Yehuwa? Dia baca Alkitab, saya baca Alkitab. Tetapi apa perbedaannya? Penafsirannya! Betul, nggak? Pengertian Alkitabnya! Jadi yang namanya Alkitabiah, itu maksudnya apa? Orang Saksi Yehuwa itu paling Alkitabiah! Kamu hafal satu ayat aja lama sekali, begitu loh! Mereka tahu ayat ini di sini, ayat itu di situ, dengan detail lagi.
Tapi apa yang membedakan saya dengan Saksi Yehuwa? Satu, theologinya berbeda. Mereka membaca Alkitab dan menyimpulkan bahwa Yesus itu bukan Tuhan, tetapi saya membaca Alkitab dan menyimpulkan bahwa Yesus adalah Tuhan. Jadi itulah sebabnya apakah kamu boleh membaca Alkitab dengan pengertian orang Saksi Yehuwa? Nggak boleh! Sehingga kita bisa melihat bahwa penafsiran tanpa presuposisi adalah non-sense. Misalnya kita melihat begini, “Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah. Dan Firman itu adalah Allah.” Jadi Firman=Allah,
Allah=Allah. Misalnya kita simpulkan, let the Bible speak. Kalau kita membiarkan Alkitab berbicara sendiri, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ada dua Allah. Nanti kalau ada Roh Kudus, kita bisa mengatakan bahwa Allah itu ada tiga. Let the Bible speak! Alkitabiah! Alkitabiah! Jadi, kita punya Allah berapa? Tiga! Betul, nggak kita punya Allah tiga? Kenapa nggak betul? Karena ada theologi mengenai Allah Tritunggal. Tetapi begini, timbal balik, pada waktu Yohanes menulis hal itu, apakah Yohanes sudah mengerti Allah Tritunggal nggak? Pada waktu itu tidak merupakan suatu
pertanyaan sih. Pokoknya mereka mengerti bahwa Yesus itu Allah. Dan persisnya bagaimana hubungan Yesus dengan Allah Bapa itu, mereka tidak selesaikan. Itu baru dipikirkan kemudian. Yesus itu Allah. Bapa itu Allah. Roh Kudus itu Allah. Dan dikatakan juga bahwa Allah itu satu. Jadi bagaimana? Di satu pihak, ada keEsaan. Di pihak lain ada keTigaan. Sehingga itu kemudian diformulasikan menjadi doktrin Tritunggal.
Dan setelah itu, boleh nggak kita melihat bahwa Allah itu tidak Tritunggal? Satu-satunya yang membedakan agama Kristen dengan agama lain apa? Kalau baik, semua agama juga baik. Kalau surga, semua juga ada surganya. Satusatunya yang membedakan cuma Allah Tritunggal yang disebut dengan Swigeneris, satu-satunya dan tidak terdapat di dalam agama mana pun.
Di sini dapat dilihat tidak mungkin orang bisa menulis suatu penafsiran tanpa presuposisi, tanpa theologi. Di sini, bukan hanya sekedar theologi yang berpengaruh, Tetapi macam-macam. Misalnya gereja saudara, saudara dibesarkan di dalam gereja apa? Saudara dibaptiskan dengan cara apa? Misalnya saudara dibaptiskan dengan percik, maka saudara ketika membaca Yesus dibaptiskan, Anda akan membayangkan Yesus dipercik. Kalau Anda dibaptis dengan cara diselam, memangnya saudara akan membayangkan Tuhan Yesus diselam. Jadi kita melihat Alkitab itu bagaimana? Dengan pengalaman dan pengertian kita sendiri. Nah, yang namanya paradigma, yang namanya kacamata itu jadi begini loh: theologinya kamu itu apa? Kita nggak tahu theologinya apa, mungkin theologi ngawur, atau apa. Tetapi yang jelas saudara sedikit banyak pasti bertheologi. Lalu gerejanya apa? Pengalamannya apa? Dibesarkannya bagaimana? Pernah trauma apa? Kesenangannya apa? Dan itu semua sebenarnya akan sangat mempengaruhi. Nanti kalau kita akan masuk ke dalam aplikasi, mau tidak mau ini akan sangat berpengaruh sekali.
3. Siapa yang benar?
Nah, sekarang muncul satu masalah. Kalau saya menafsirkan Alkitab dengan kacamata saya sendiri, dia menafsirkan Alkitab dengan kacamata dia sendiri. Lalu bagaimana saya menentukan saya punya atau dia punyalah yang benar? Misalnya saya pake merah, dia pake biru. Lalu kita bilang, merah! Merah! Begini aja nggak bisa ngelihat, bodoh! Dia bilang, “Biru, goblok!” Dan seterusnya kita berantem-berantem. Akhirnya ada satu orang datang, “Udah deh, diamlah! Dua orang goblok bertengkar. Kuning, bodoh!” Dan ada orang lain bilang, “Putih! Putih!” Dan warnanya memang putih. Dan saya mau tanya bagaimana kita bisa nentuin bahwa ini putih? Apakah Alkitab ini menjadi seperti ‘bagaimana-kamu-aja’? Akhirnya tidak menjadi sesuatu yang ilmiah?
Syukurlah, kalian sudah bisa melihat beberapa point di mana kita mengatasi subjektifitas di dalam pikiran. Kita bukan sekedar menafsir secara subjektif, Tetapi betul-betul ada keobjektivitasnya supaya itu tidak menjadi sesuatu yang mistik. Jadi, memang pertama-tama seperti yang kalian kemukakan, ada doalah, ada Roh Kuduslah. Cuma kaitannya begini. Pengarang dari Alkitab ini adalah Allah sendiri. Dan misalnya kamu punya film, dan diartikan dan dimengerti oleh orang lain, seperti yang sudah kamu katakan, yang mau kita sampaikan begini, yang diterima adalah lain. Kita tidak mau mreka mempunyai pengertian yang berbeda dari apa yang kita pikirkan, bukan? Kalau kita pun seperti demikian, masa Roh Kudus juga – yang anak-anakNya diberikan Firman Tuhan oleh Dia lalu kita menafsirkan ini lain, itu lain,... semua lain-lain – di situ kita temukan satu penafsiran yang dikerjakan oleh Roh Kudus itu sendiri di dalam diri kita. Ini faktor yang saya sebutkan sebagai faktor subjektif yang objektif. Sebagai salah satu contoh, kita mau mengatakan bahwa saat teduh itu adalah satu pengalaman yang indah. Tetapi persoalannya begini, kalau mau dijelaskan secara ilmiah, saya mau tanya, “Indahnya apa?” Hal itu akan susah diutarakan, karena kita masing-masing mengalami pengalaman pribadi yang belum tentu sama.
Nah, pada waktu seseorang makan sesuatu, dia menikmati apa yang namanya enak juga. Akhirnya begini loh: Enak itu kita nggak bisa ngejelasin bagaimana, tetapi begitu dia merasakannya juga, enak-nya kita dengan enak-nya dia ketemu di dalam keobjektifannya. Walaupun yang satu enaknya karena wangi, dan yang satunya lagi enaknya karena asin, misalnya. Di sini kita bisa melihat bahwa di sini ada unsur kesubjektifan yang bisa menjadi objektif karena masingmasing bisa merasakan itu. Itu sebabnya kalau kita saat teduh, dan punya pengalaman Tuhan berbicara, kita akui.
Tetapi itu memang pengalaman subjektif. Itu sebabnya kenapa doa, pada waktu Anda mau PA itu bukan basa-basi. Sebab kita sadari paradigma kita. Sampai kita bisa mengerti betul Alkitab itu, itu hanya bisa dikerjakan oleh Roh Kudus sendiri. Ini faktor subjektif yang objektif. Semua juga punya unsur Roh Kudusnya.
Dan yang kedua: Ada esensi-nya. Dari mana kita bisa dapatkan? Ini yang mau saya bilang, penafsiran itu ad di dalam komunitas, penafsiran itu tidak dilakukan secara sendiri. Kenapa saya mengerti Allah Tritunggal? Karena saya berada di dalam penafsiran Kekristenan. Comunity ini adalah semua Bapak-bapak gereja yang dari dulu sampai sekarang. Dan paling sedikit esensinya yang ada misalnya apa? Pengakuan Iman Rasuli. Ini dirumuskan oleh gereja, untuk membatasi penafsiran. Jadi segala penafsiran harus berada di situ. Perbedaan boleh ada, asal kita berada di dalam lapangan permainan tersebut.
Yang dua lagi adalah caranya, bagaimana kita menafsirkan. Yang pertama, kenali presuposisi kamu. Yang kedua adalah yang disebut akal sehat atau common sense. Semua harus ada argumentasinya.
1. Setiap orang punya presuposisi
Sebenarnya ada keselarasan antara penyelidikan ilmu pengetahuan dengan penyelidikan Alkitab. Jadi bagaimana orang menyelidiki Alkitab itu secara tidak sadar dipengaruhi oleh cara penyelidikan ilmiah, baik itu Filsafat, Fisika dan lainlainnya. Yang ingin saya bahas adalah perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri sehingga kita tahu apa yang mempengaruhi kita untuk menyelidiki Alkitab itu. Di dalam penyelidikan Ilmu Pengetahuan itu dikenal suatu istilah yang dinamakan Metode Ilmiah. Semua penyelidikan yang memakai seluruh prosedur yang ditetapkan di dalam metoda ilmiah ini bisa disebutkan dan diterima sebagai suatu ilmu yang Ilmiah. Diluar itu berarti ilmunya tidak ilmiah. Ilmu-ilmu yang ilmiah dapat dibuktikan secara ilmiah. Contoh: Besi dipanaskan akan memuai.
Seorang yang bernama Francis Bacon pertama kali memulai metode ilmiah ini. Pada abad 17 metode yang dipakai adalah metode Aristoteles sejak abad 12. Metode ini di bawa oleh para sarjana Arab. Kemudian sejak itu ajaran Aristoteles ini menyebar ke seluruh Eropa. Bayangkan bahwa setelah berabad-abad filsuf Yunani ini mati, pikirannya itu bisa menyebar dan menjajah seluruh Eropa.
Seluruh ajaran Aristoteles itu menyebar, termasuk cara bagaimana mereka mengerjakan Ilmu Pengetahuan. Aristoteles mengemukakan tentang logika Deduksi. Yaitu, dimulai dari satu kebenaran yang umum, sampai kepada kebenaran yang particular, atau khusus.
Misalnya begini. “Semua ayam berkaki dua.” Kemudian kita katakan, “Si Kuning berkaki dua.” Kesimpulannya apa? “Si Kuning adalah ayam.” Logika deduksi dimulai dengan satu kebenaran umum lalu sampai kepada kebenaran yang particular atau kebenaran yang khusus. Lalu misalnya syarat-syarat di dalam deduksi ini terpenuhi, kesimpulan yang diberikan itu merupakan suatu hasil yang pasti benar. Jadi misalnya segala persyaratan yang dikendaki dalam logika deduksi ini terpenuhi, kesimpulan yang didapat dari sini merupakan suatu pengetahuan yang ilmiah.
Kalau contoh itu kita ubah, seperti ini, “Semua ayam berkaki dua. Si Kuning adalah ayam,” sehingga kesimpulannya adalah, “Si Kuning berkaki dua.” Ini suatu kesimpulan yang pasti benar. Tidak akan menyalahi peraturan apa-apa. Jadi sepanjang itu mengikuti peraturan-peraturan yang ditetapkan di dalam logika deduksi, dan selama premis yang diberikan itu merupakan suatu premis yang benar, yang dihasilkan adalah sesuatu yang pasti.
Nah hal inilah yang mereka kerjakan berdasarkan apa yang mereka ungkapkan. Dan mereka sebenarnya dikuasai oleh suatu pemikiran seperti ini. Kemudian ada satu pertanyaan, bagaimana mereka menetapkan suatu premis seperti ini? Nah, pada waktu itu ada yang berlaku yang namanya ‘otoritas’. Mereka mengatakan seperti ini, segala sesuatu yang dikemukakan oleh Aristoteles atau filsuf-filsuf lainnya, ini diakui sebagai sesuatu yang merupakan kebenaran. Misalnya, bagaimana Aristoteles tahu tentang kosmologi? Dan ini yang dipakai sebagai premis mayornya. Dan setelah itu, penyelidikan-penyelidikan didasarkan pada semua kebenaran yang pernah diungkapkan oleh ilmuwan sebelumnya. Dan mereka hanya melanjutkan penyelidikan yang sudah dilakukan atau dimulai oleh para filsuf tadi.
Akhirnya, lahirlah para ilmuwan yang hidup sebagai pembelot. Yang pertama-tama memang muncul dari si Francis Bacon tadi. Misalnya ketika mengadakan penyelidikan tentang ayam tadi. Misalkan kita akan menyelidiki tentang pertanyaan, “Ayam itu kakinya sebenarnya berapa sih?" Caranya, bukan dengan pergi ke perpustakaan dan bertanya, “Apa yang dikatakan Aristoteles tentang ‘perayaman’? Atau kira-kira Socrates atau Plato pernah ngomong-ngomong masalah ‘perayaman’ nggak, ya? O iya, katanya ayam itu pasti kakinya dua.” Menurut Francis Bacon, hal itu salah. Seharusnya, kalau memang kita mau menyelidiki masalah ayam ini, kita jangan pergi ke Aristoteles atau ke Plato atau ke Socrates, pergi ke ayam itu sendiri, dong! Yang mau diselidiki, kan ayam!
Contoh penyelidikan :
Ayam 1P Kaki : 2 (Gampang kan ngitungnya?)
Ayam 2P Kaki : 2 (Ini semua ayam kita, siapa tau ayam tetangga beda!)
Ayam 3P Kaki : 2 (Oh, kita kan tinggalnya di kampung, siapa tau ayam kota beda?)
Ayam 4P Kaki : 2..(Oh, ini semua ayam Indonesia, siapa tau ayam Singapura sudah lebih maju!)
Ayam 5P Kaki : 2 (Kalau di daerah dingin siapa tau kakinya tambah satu!)
Ayam 6P Kaki : 2 (Kemudian ada yang lain dari yang lain, yang ini nih, kakinya cuma satu. Setelah diperiksa-periksa, oh, baru kelindes mobil! Nggak jadi, deh.)
Setelah syarat-syarat seperti ‘Contohnya harus banyak’ terpenuhi harus ada kesimpulan dong! Maka kesimpulan kita adalah, “Ayam berkaki dua.”
Semua ini sebenarnya adalah Metode Ilmiah yang kalian sudah pelajari sendiri. Walaupun mungkin metode yang sekarang sudah ditambah dengan beberapa unsur-unsur yang baru.
Pada waktu mengerjakan metode induksi ini, mereka tuh sebenarnya dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Aristoteles. Jadi pada waktu mereka mengadakan penyelidikan ilmu pengetahuan, misalnya tentang “Bumi ini adalah pusat.” Mengapa bumi ini adalah pusat alam semesta? Mereka mencari jawabannya. Dan dari Aristoteles sendiri diberikan jawaban, “Bumi ini bisa dikatakan sebagai pusat, sebab di dalam dunia ini gerakan hanya terdiri dari dua macam. Ke atas dan ke bawah! Karena itulah, Aristoteles mengatakan,"Bumi ini adalah pusat alam semesta.”
Dan karena selama itu mereka menganggap bahwa apa yang dikatakan Aristoteles itu adalah sesuatu yang benar, mereka percaya. Dan jangan lupa, mereka belum tahu gravitasi kan, baru setelah ada Newton, mereka tau. Begitu ada Francis Bacon, dunia mulai sadar bahwa perlunya Ilmu Pengetahuan itu terbebas dari otoritas. Harus terbebas dari sesuatu yang mempengaruhi jalannya penyelidikan. Sebab kalau dari awal kita sudah menganggap bahwa bumi ini adalah pusat dari alam semesta, seluruh penyelidikan Ilmu Pengetahuan pun akan dipengaruhi oleh Pengetahuan yang sudah ada sebelumnya. Itu sebabnya di dalam Metode Induksi itu sebenarnya, mereka akan mengerjakannya seperti ini:
Pada waktu mereka akan mengadakan penyelidikan, harus terbebas dari segala hal yang bisa mempengaruhi pengertian kita. Segala otoritas, segala pengetahuan, yang mungkin mendikte jalannya penyelidikan pengetahuan itu, merupakan sesuatu yang akan mempengaruhi hasil dari penyelidikan itu. Itu sebabnya mereka melihat perlunya suatu keadaan penyelidikan pengetahuan terbebas dari segala macam prasangka, otoritas, prejudice, bebas dari presuposisi, bebas daripada anggapan atau asumsi sebelumnya, karena mereka harus mengadakan penyelidikan yang obyektif. Tanpa pengaruh, tanpa tekanan yang sangat mungkin mempengaruhi.
Nah, inilah yang sebenarnya terjadi di dalam Ilmu Pengetahuan. Berdasarkan metode dari Ilmu Pengetahuan ini, terjadi perkembangan metode. Sekarang begini, setelah kemudian Francis Bacon, kira-kira hampir sezaman dengan Galileo Galilei pada waktu itu. Nah, Galileo itu sebenarnya adalah seorang scientist yang merupakan tokoh yang mengembangkan sesuatu yang belakangan disebut sebagai metode Induksi ini. Bacon tadi sendiri memang merupakan seseorang yang bekerja menurut apa yang kita sebut sebagai Metode Ilmiah zaman kita sekarang ini.
Galileo juga mengadakan penyelidikan-penyelidikan. Memang pada zaman Galileo, dia ini masih kalah dengan gereja pada waktu itu. Tetapi setelah itu penyelidikan Ilmu Pengetahuan memang benar-benar mengalami revolusi. Seperti yang kita tahu ditemukannya Barometer misalnya, dll. Abad 17 dan 18 merupakan zaman revolusi Ilmu Pengetahuan. Sampai kita bisa mengatakan bahwa Ilmu Pengetahuan itu menjadi ‘jantung’ dari kehidupan kita, sebab seolah-olah, segala segi dari kehidupan kita betul-betul ditunjang oleh Ilmu Pengetahuan. Misalnya, kertas yang kita pakai, harus dipikirkan pembuatannya. Sehingga kita bisa melihat bahwa, ternyata, Metode Ilmu Pengetahuan yang dihasilkan itu memberikan dampak yang luar biasa. Karena Ilmu Pengetahuan itu membuktikan dirinya sebagai sesuatu yang benarbenar berhasil, maka pada waktu itu orang-orang mempunyai pengertian bahwa Metode Ilmu Pengetahuan ini adalah sesuatu yang betul-betul berhasil luar biasa. Kira-kira abad ke 19, ada suatu filsafat yang disebut sebagai positivisme. Logical Positivism ini membentuk suatu kelompok yang disebut Vienna-circle. Kelompok ini terdiri dari ahli matematika, filsuf, dan sebagainya yang berkumpul dan akhirnya mereka inilah yang menetapkan bahwa metode dari Induksi ini adalah metode yang disebut sebagai Metode Ilmiah. Yang mereka ungkapkan pada waktu itu adalah , apa yang mereka kenal selama ini adalah apa yang mereka kenal sebagai the Scientific Method. Perhatikan kata ‘the’ yang menunjukkan bahwa metode ini sudah tertentu. Dengan menyatakan hal ini, mereka menetapkan bahwa metode Ilmu Pengetahuan yang selama ini mereka pakai adalah metode yang pasti benar.
Kemudian di dalam perkembangan lebih lanjut, kita mulai melihat bahwa apa yang dikemukakan di dalam metode Induksi ini, sebenarnya tetap mempunyai kelemahan. Misalnya, angsa warnanya apa? Belum pernah melihat Angsa, lagi?! Ok, jadi kita bikin penyelidikan. Kesimpulannya, "Angsa dan berwarna putih." Dan memang selama sekian abad, ini merupakan pengetahuan yang benar. Tetapi sampai pada suatu saat, ternyata, ada satu bagian di dunia yang angsanya tidak putih! Di salah satu bagian di kota Perth, Australia itu, angsanya berwarna hitam! Satu-satunya di dunia dan satu-satunya di Australia, yang angsanya hitam! Saya sendiri pada waktu ke Perth sana, diajakin, "Ayo, mau lihat angsa hitam?" Sebenarnya apa bagusnya, sih, angsa hitam? Tetapi karena satu-satunya tempat, ya okelah, kita lihat angsa hitam. Kita lihat ternyata dengan hasil penemuan yang semacam ini ternyata perngetahuan yang sebelumnya langsung gugur, bukan?
Sehingga ada seorang yang bernama Sir Carol Topper dianugerahkan gelar ‘Sir’ oleh Inggris mengemukakan seperti, “Sebenarnya, teori Ilmu Pengetahuan ini hanyalah satu hal nyata, bahwa dia hanya menunggu untuk disalahkan saja.”
Tapi kita lihat begini loh, ternyata di dalam perkembangan Ilmu Pengetahuan, banyak hal terbukti menjadi sesuatu yang nantinya bisa saja digugurkan oleh teori baru yang lain, yang muncul kemudian. Jadi, di dalam Induksi ini, kita lihat bahwa sesuatu menjadi tidak kekal. Kalau mau dibilang sebenarnya, bahwa kita dapat mengadakan penyelidikan itu tanpa asumsi, ini merupakan suatu hal yang nonsense. Tidak mungkin dilakukan. Misalnya kita mau mengadakan penyelidikan, tentang AIDS. Kita bertanya, "Mengapa orang bisa kena AIDS?" Tadi dikatakan bahwa tidak boleh ada praduga berupa apapun. Jadi, kita akan mulai menyelidiki dengan teori acak,"Siapa tahu AIDS itu ada karena ketelan lalat." Jadi, dicobain, orang dikasih makan lalat. Oh, ternyata nggak kena, berarti bukan karena lalat. Terus,"Siapa tahu orang kejedug tembok jadi kena AIDS." Selidiki, dong!
Nah, kita tidak mungkin menyelidiki dengan cara demikian, karena kita akan ngawur-ngawuran dong! Segala sesuatu harus diperiksa, diselidiki, tanpa praduga apa pun. Sampai tua mungkin kita nggak temukan apa-apa. Nah, malah pada zaman sekarang ini orang-orang mulai melihat, sebenarnya penyelidikan ini justru harus ada sesuatu yang membimbing penyelidikan tersebut. Begini, loh, kalau kalian mendapat suatu metode ilmiah, di dalam prosedur penelitian itu, yang paling pertama yang harus ada, adalah apa? Harus ada Hipotesa, pasti. Jadi, suatu praduga yang kira-kira akan mempengaruhi jalannya penyelidikan kita. Misalnya ditemukan di Amerika, kenapa nih ada orang yang masuk angin, kok lama-lama mati. Masa masuk angin aja mati? Terus ada lagi orang pilek terus, mati. Kok mati, pilek aja? Begitu diperiksa, oh, kekebalannya nggak ada. Begitu. Nah, dari orang-orang yang matinya konyol-konyol begini, –orang mati tuh mestinya karena kanker kek, ini pilek aja mati– ternyata diketahui mereka ini adalah golongan orang-orang yang homoseksual. Rupanya ada sesuatu di dalam hubungan homoseksual ini yang, bisa menimbulkan AIDS ini. Jadi, selalu ada hipotesa dulu. Tetapi ternyata itu adalah suatu hipotesa yang salah, yang nantinya diperbaiki. Ternyata ini bukan sekedar didapat dari hubungan homoseksual tetapi dari hubungan seksual. Jadi, semua ini dilakukan justru harus ada suatu prejudice, atau prasangka sebelum kita adakan penyelidikan.
Saking orang-orang ini terlalu menganggap bahwa scientific method adalah the Scientific Method dan sesuatu yang ilmiah, maka semua penyelidikan yang bukan dari metode ini, tidak ilmiah. Itu sebabnya, segala ilmu akan berusaha mengikuti apa yang menjadi prosedur dari metode ilmiah ini. Nah, ketika mulai muncul Ilmu-ilmu sosial, mereka juga mencoba mengarahkan ilmu mereka ini ke metode ilmiah tadi supaya Ilmu Sosial ini jangan menjadi suatu Ilmu yang boleh-percaya-boleh-nggak. Nah, mau tidak mau, penyelidikan Alkitab pun harus dipengaruhi oleh hal ini. Apabila kita melakukan penyelidikan Alkitab, dan penyelidikan ini kita lakukan dengan cara maunya kita sendiri, mereka tidak menerima.
Nah, saudara-saudara, persoalan macam demikian ini, merupakan suatu persoalan di mana kita bisa lihat dengan jelas, bagaimana saya dapat mempertanggung jawabkan tafsiran saya dengan metode yang diberikan secara metode yang memang ilmiah. Nah, dengan pengaruh itulah, kelak, kita lihat bahwa penyelidikan Alkitab itupun mengikuti apa yang dikatakan metode penyelidikan ilmiah ini. Tanpa sadar, mereka mengikuti prosedur itu, dengan persyaratan yang diperlukan, sehingga kemudian ditetapkan bahwa, kita itu, kalau mau menafsirkan Alkitab, jangan dipengaruhi oleh apapun.
Saudara kenal, nggak Metode penyelidikan secara Induktif? Saya rasa itu salah satu metode PA yang sedikit banyak dipengaruhi oleh metode ilmiah ini. Bagaimana kita mau menyelidiki Alkitab? Ada satu dosen theologi yang mengatakan begini, mengenai Renungan Harian (sebenarnya ini merupakan terjemahan dari "Our Daily Bread" yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah edisi tahun sebelumnya), "Kalau kita mau bersaat teduh, jangan pakai Renungan Harian, itu sama saja dengan kalau kamu mau makan nasi goreng, mau nggak kamu makan nasi goreng yang sudah dikunyahin sama orang lain? Makanya, kalau mau baca Alkitab, jangan mau pakai begitu-begitu, baca sendiri! Kunyah sendiri!” Sebenarnya pernyataan seperti itu sedikit banyak mencerminkan pengaruh Metode Ilmiah tadi yang mengharapkan bahwa penyelidikan ilmiah itu sebenarnya harus bebas dari presuposisi. Itu sebabnya jangan baca Renungan Harian, karena nanti akan keburu diarahkan oleh Renungan Harian itu. Itulah yang sebenarnya terjadi, sehingga di dalam peyelidikan Alkitab kita punya pengertian seperti ini: pada saat membaca suatu perikop, kita pelajari, jangan baca commentary, jangan dengar orang, jangan apa-apa, sebab apa? Karena itu hasil kunyahan pendeta kamu, misalnya. Iih, mau digigitin! Setelah kita baca perikop, Interpretasi kita kerjakan, setelah itu akhirnya kita dapatkan hasilnya. Katakanlah Eksegesis. Kita sangka demikian, bebas dari prasangka, bebas dari prejudice, bebas dari presuposisi. Kita harus berpikir secara objektif 100 %. Itu yang mereka pikir, meniru apa yang dikatakan oleh Ilmu Pengetahuan. Sampai di sini, ternyata hal ini merupakan sesuatu yang tidak bisa dipertahankan, termasuk di dalam Metode Ilmu Pengetahuan itu sendiri hanya merupakan suatu impian dari para Positivisme yang sebenarnya sudah ditinggalkan sendiri oleh Metode Ilmu Pengetahuan itu.
Kira-kira tahun 60-an, muncul satu buku, “The Structure of Scientific Revolution,” oleh Thomas Kühn. Seharusnya di dalam Universitas diberikan, sebab ini merupakan buku filsafat Ilmu Pengetahuan. Kü hn ini tidak membahas secara filosofis, tetapi dia mengambil kesimpulan dari sejarah Ilmu Pengetahuan. Buku ini sudah diterjemahkan juga menjadi, “Peran Paradigma di dalam Revolusi Sains.” Saya mengajar Sains dan Teknologi, dan buku ini merupakan buku wajib bagi mahasiswa. Tetapi setelah baca, mereka ribut sekali, “Susah, nggak ngerti.” Dulu juga waktu pertama kali baca, dalam bahasa Inggris, memang sulit sekali, nggak ngerti apa-apa, saya frustrasi sekali, kenapa goblok begini? Giliran mahasiswa baca, “Oh, ternyata nggak goblok-goblok amat, dulunya juga sama.” Agak terhibur juga, mereka bilang sulit! Tetapi buku itu memang sangat baik sekali. Pengaruhnya tidak hanya ke dalam Ilmu Pengetahuan tetapi ke dalam segala segi, termasuk di dalam theologi.
Walaupun Thomas Kühn ini sempat sangat extreme, sampai pengikutnya juga extreme, dan saya tidak menyetujui hal itu, Tetapi ada satu segi yang menurut saya benar, yaitu bahwa di dalam melakukan penyelidikan itu justru seseorang akan melakukannya di dalam paradigmanya sendiri. Ia mengatakan bahwa seseorang akan berpikir dan tidak mungkin keluar dari paradigma yang dia punyai, setiap orang akan berpikir di dalam paradigmanya. Misalnya kalau kita lihat di dalam masalah Galileo itu sendiri. Orang-orang yang pada waktu itu melawan Galileo bukannya mempunyai alasan karena hasil penyelidikan dia bertentangan dengan Alkitab atau semacam itu, tetapi yang namanya paradigma adalah segala sesuatu yang mempengaruhi orang di dalam penyelidikan Ilmu Pengetahuan, jadi, cara menyelidiki memang sudah ditentukan oleh Aristoteles seperti itu, dan pengetahuan yang sudah mengatakan bahwa semesta itu geosentris, kenapa mendadak jadi heliosentris? Jadi pada waktu itu mereka memang terikat pada paradigma mereka dan tidak mungkin seseorang akan bisa terlepas dari paradigma itu. Dan memang paradigma itu memang terlepas baru setelah Revolusi itu.
2. Setiap orang akan menerapkan presuposisinya dalam membaca Alkitab
Sehingga, kalau Anda nanti akan membaca Alkitab, Anda tidak akan terlepas dari suatu asumsi, suatu prejudice, suatu paradigma. Pada waktu Anda membaca Alkitab, Anda sudah pasti mempunyai paradigma. Saya akan memisalkan paradigma itu sebagai kacamata. Pada waktu Anda memakai kacamata kuning, Anda melihat sekeliling menjadi semua kuning. Sebenarnya, bagaimana saya melihat dunia ini akan ditentukan oleh kacamata apa yang saya pakai. Paradigma juga hal yang seperti itu. Pengertian hal ini akan kita masukan ke dalam pengertian penafsiran Alkitab ini. Jadi, ternyata
prinsip yang dikemukakan di dalam penafsiran Alkitab ini, dengan tanpa membaca buku, jangan denger orang, pikiran kita 100% objektif, dan hasilnya akan menjadi suatu eksegesis yang murni dst. Ini sebenarnya suatu metode yang tidak tepat. Justru pada waktu orang menafsirkannya, bagaimanapun, dia itu sebenarnya memakai kacamata yang menghalangi dia untuk bisa menafsirkan Alkitab itu dengan 100% objektif. Tidak munkin bisa.
Di dalam Sekolah Theologi, waktu itu, misalnya, terbagi dua, ada theologi Calvinis, ada theologi Arminian. Di dalam suatu percakapan, ada pernyataan, seperti, “Saya mah bukan theologi Calvinis ataupun Arminian, saya mah theologi yang Alkitabiah.” Nah, sepertinya, Alkitabiah ini yang paling bagus, dong, betul nggak? Dulu pertama kali saya tidak tahu apa-apa. Memang benar ya, bagus kan Alkitabiah? Memangnya Alkitab itu Calvin? Alkitab itu kan lebih tinggi daripada Calvin! Jangan Calvinis, mesti Alkitabiah dong!
Tetapi sekarang setelah kita mempelajari hal ini, maka kita akan lihat bahwa, Alkitabiah itu justru istilah yang paling jelek. Jadi, kalau kamu dibilangin Alkitabiah, itu justru kamu jelek. Sebab begini, Alkitabiah itu seolah-olah sebagaimana yang Alkitab katakan, betul nggak? Tetapi itu tidak mungkin. Nah, sekarang saya mau tanya begini, Saksi Yehuwa itu Kristen atau non-Kristen? Non-Kristen aja? Nggak takut disembelih, ya? Itu termasuk di dalam apa yang disebut dengan bidat. Ini merupakan ajaran sesat. Kita tidak melihat mereka sebagai orang Kristen. Pertanyaan lain. Saksi Yehuwa punya buku suci lain nggak? Mormon punya. Christian Science punya. Tetapi Saksi Yehuwa punya Alkitab lain nggak? Nggak, aja deh, supaya cepat, karena kamu memang nggak tahu sih ya.
Sekarang saya mau tanya yang lain: Apa yang membedakan saya dengan seorang Saksi Yehuwa? Dia baca Alkitab, saya baca Alkitab. Tetapi apa perbedaannya? Penafsirannya! Betul, nggak? Pengertian Alkitabnya! Jadi yang namanya Alkitabiah, itu maksudnya apa? Orang Saksi Yehuwa itu paling Alkitabiah! Kamu hafal satu ayat aja lama sekali, begitu loh! Mereka tahu ayat ini di sini, ayat itu di situ, dengan detail lagi.
Tapi apa yang membedakan saya dengan Saksi Yehuwa? Satu, theologinya berbeda. Mereka membaca Alkitab dan menyimpulkan bahwa Yesus itu bukan Tuhan, tetapi saya membaca Alkitab dan menyimpulkan bahwa Yesus adalah Tuhan. Jadi itulah sebabnya apakah kamu boleh membaca Alkitab dengan pengertian orang Saksi Yehuwa? Nggak boleh! Sehingga kita bisa melihat bahwa penafsiran tanpa presuposisi adalah non-sense. Misalnya kita melihat begini, “Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah. Dan Firman itu adalah Allah.” Jadi Firman=Allah,
Allah=Allah. Misalnya kita simpulkan, let the Bible speak. Kalau kita membiarkan Alkitab berbicara sendiri, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ada dua Allah. Nanti kalau ada Roh Kudus, kita bisa mengatakan bahwa Allah itu ada tiga. Let the Bible speak! Alkitabiah! Alkitabiah! Jadi, kita punya Allah berapa? Tiga! Betul, nggak kita punya Allah tiga? Kenapa nggak betul? Karena ada theologi mengenai Allah Tritunggal. Tetapi begini, timbal balik, pada waktu Yohanes menulis hal itu, apakah Yohanes sudah mengerti Allah Tritunggal nggak? Pada waktu itu tidak merupakan suatu
pertanyaan sih. Pokoknya mereka mengerti bahwa Yesus itu Allah. Dan persisnya bagaimana hubungan Yesus dengan Allah Bapa itu, mereka tidak selesaikan. Itu baru dipikirkan kemudian. Yesus itu Allah. Bapa itu Allah. Roh Kudus itu Allah. Dan dikatakan juga bahwa Allah itu satu. Jadi bagaimana? Di satu pihak, ada keEsaan. Di pihak lain ada keTigaan. Sehingga itu kemudian diformulasikan menjadi doktrin Tritunggal.
Dan setelah itu, boleh nggak kita melihat bahwa Allah itu tidak Tritunggal? Satu-satunya yang membedakan agama Kristen dengan agama lain apa? Kalau baik, semua agama juga baik. Kalau surga, semua juga ada surganya. Satusatunya yang membedakan cuma Allah Tritunggal yang disebut dengan Swigeneris, satu-satunya dan tidak terdapat di dalam agama mana pun.
Di sini dapat dilihat tidak mungkin orang bisa menulis suatu penafsiran tanpa presuposisi, tanpa theologi. Di sini, bukan hanya sekedar theologi yang berpengaruh, Tetapi macam-macam. Misalnya gereja saudara, saudara dibesarkan di dalam gereja apa? Saudara dibaptiskan dengan cara apa? Misalnya saudara dibaptiskan dengan percik, maka saudara ketika membaca Yesus dibaptiskan, Anda akan membayangkan Yesus dipercik. Kalau Anda dibaptis dengan cara diselam, memangnya saudara akan membayangkan Tuhan Yesus diselam. Jadi kita melihat Alkitab itu bagaimana? Dengan pengalaman dan pengertian kita sendiri. Nah, yang namanya paradigma, yang namanya kacamata itu jadi begini loh: theologinya kamu itu apa? Kita nggak tahu theologinya apa, mungkin theologi ngawur, atau apa. Tetapi yang jelas saudara sedikit banyak pasti bertheologi. Lalu gerejanya apa? Pengalamannya apa? Dibesarkannya bagaimana? Pernah trauma apa? Kesenangannya apa? Dan itu semua sebenarnya akan sangat mempengaruhi. Nanti kalau kita akan masuk ke dalam aplikasi, mau tidak mau ini akan sangat berpengaruh sekali.
3. Siapa yang benar?
Nah, sekarang muncul satu masalah. Kalau saya menafsirkan Alkitab dengan kacamata saya sendiri, dia menafsirkan Alkitab dengan kacamata dia sendiri. Lalu bagaimana saya menentukan saya punya atau dia punyalah yang benar? Misalnya saya pake merah, dia pake biru. Lalu kita bilang, merah! Merah! Begini aja nggak bisa ngelihat, bodoh! Dia bilang, “Biru, goblok!” Dan seterusnya kita berantem-berantem. Akhirnya ada satu orang datang, “Udah deh, diamlah! Dua orang goblok bertengkar. Kuning, bodoh!” Dan ada orang lain bilang, “Putih! Putih!” Dan warnanya memang putih. Dan saya mau tanya bagaimana kita bisa nentuin bahwa ini putih? Apakah Alkitab ini menjadi seperti ‘bagaimana-kamu-aja’? Akhirnya tidak menjadi sesuatu yang ilmiah?
Syukurlah, kalian sudah bisa melihat beberapa point di mana kita mengatasi subjektifitas di dalam pikiran. Kita bukan sekedar menafsir secara subjektif, Tetapi betul-betul ada keobjektivitasnya supaya itu tidak menjadi sesuatu yang mistik. Jadi, memang pertama-tama seperti yang kalian kemukakan, ada doalah, ada Roh Kuduslah. Cuma kaitannya begini. Pengarang dari Alkitab ini adalah Allah sendiri. Dan misalnya kamu punya film, dan diartikan dan dimengerti oleh orang lain, seperti yang sudah kamu katakan, yang mau kita sampaikan begini, yang diterima adalah lain. Kita tidak mau mreka mempunyai pengertian yang berbeda dari apa yang kita pikirkan, bukan? Kalau kita pun seperti demikian, masa Roh Kudus juga – yang anak-anakNya diberikan Firman Tuhan oleh Dia lalu kita menafsirkan ini lain, itu lain,... semua lain-lain – di situ kita temukan satu penafsiran yang dikerjakan oleh Roh Kudus itu sendiri di dalam diri kita. Ini faktor yang saya sebutkan sebagai faktor subjektif yang objektif. Sebagai salah satu contoh, kita mau mengatakan bahwa saat teduh itu adalah satu pengalaman yang indah. Tetapi persoalannya begini, kalau mau dijelaskan secara ilmiah, saya mau tanya, “Indahnya apa?” Hal itu akan susah diutarakan, karena kita masing-masing mengalami pengalaman pribadi yang belum tentu sama.
Nah, pada waktu seseorang makan sesuatu, dia menikmati apa yang namanya enak juga. Akhirnya begini loh: Enak itu kita nggak bisa ngejelasin bagaimana, tetapi begitu dia merasakannya juga, enak-nya kita dengan enak-nya dia ketemu di dalam keobjektifannya. Walaupun yang satu enaknya karena wangi, dan yang satunya lagi enaknya karena asin, misalnya. Di sini kita bisa melihat bahwa di sini ada unsur kesubjektifan yang bisa menjadi objektif karena masingmasing bisa merasakan itu. Itu sebabnya kalau kita saat teduh, dan punya pengalaman Tuhan berbicara, kita akui.
Tetapi itu memang pengalaman subjektif. Itu sebabnya kenapa doa, pada waktu Anda mau PA itu bukan basa-basi. Sebab kita sadari paradigma kita. Sampai kita bisa mengerti betul Alkitab itu, itu hanya bisa dikerjakan oleh Roh Kudus sendiri. Ini faktor subjektif yang objektif. Semua juga punya unsur Roh Kudusnya.
Dan yang kedua: Ada esensi-nya. Dari mana kita bisa dapatkan? Ini yang mau saya bilang, penafsiran itu ad di dalam komunitas, penafsiran itu tidak dilakukan secara sendiri. Kenapa saya mengerti Allah Tritunggal? Karena saya berada di dalam penafsiran Kekristenan. Comunity ini adalah semua Bapak-bapak gereja yang dari dulu sampai sekarang. Dan paling sedikit esensinya yang ada misalnya apa? Pengakuan Iman Rasuli. Ini dirumuskan oleh gereja, untuk membatasi penafsiran. Jadi segala penafsiran harus berada di situ. Perbedaan boleh ada, asal kita berada di dalam lapangan permainan tersebut.
Yang dua lagi adalah caranya, bagaimana kita menafsirkan. Yang pertama, kenali presuposisi kamu. Yang kedua adalah yang disebut akal sehat atau common sense. Semua harus ada argumentasinya.
11 October, 2009
Aborsi
Posted by
Anton Triyanto
Tanggapan John Piper terhadap President Barrack Obama mengenai aborsi
10 October, 2009
08 October, 2009
Masa depan internet
Posted by
Anton Triyanto
Saya berkempatan mengunjungi Web Direction di Sydney hari ini. Web direction adalah satu konferensi yang dilangsungkan setiap tahun di berbagai negara, Australia adalah salah satunya. Konferensi ini adalah ajang tukar pikiran antara pakar-pakar dalam hal internet dari segala penjuru dunia.
Ketika memasuki 'foyer' ada satu pameran kreasi Yiying Lu, designer muda yang cukup handal dan terkenal, dia membuat satu postcard di mana kalau kita dekatkan kepada webcam pada alamat website tertentu maka akan timbul 'tweet' terakhir dari pada orang tersebut. Teknologi yang mirip seperti ini sudah diperlihatkan tahun lalu oleh Microsoft Surface (lihat di sini), bahkan lebih mengerikan hal-hal apa saja bisa kita akses dan bisa kita bagikan di dalam internet, baik interaksi secara langsung ataupun tidak langsung, contohnya adalah seperti ini di mana kita secara otomatis dapat melihat Facebook, twitter, atau apapun juga yang dibagikan oleh orang lain dan dibuka untuk dunia internet -- hanya dengan mengarahkan iphone kita kepada orang tersebut (lihat di sini). Sangat mengerikan tentunya kalau tidak hati-hati maka kita pun akan menjadi sombong hanya dengan menaruh apa saja yang bagus dan menurut kita memberikan satu nilai tambah buat hidup yang akhirnya membuat kita seperti 'tuhan' adanya.
Teknologi yang tadinya dirancang untuk benar-benar dipakai secara efisien dalam mempermudah hidup kita, lama-kelamaan bahkan akan mempersulit hidup kita, bahkan menyita waktu kita -- kita akan tiap hari main facebook, tweet, apalagi dengan presentasi Google wave yang saya lihat akan berpotensi menyambar market internet dan mengubah bagaimana orang-orang mengunakan internet pada umumnya (lihat di sini).
Makin lama masa depan internet akan mendarah daging dalam kehidupan kita, internet dapat berpotensi atau bahkan sudah menjadi berhala dalam kehidupan kita, sampai sekarang pun kalau ditanya kepada diri kita sendiri, apakah yang akan kita lakukan tanpa internet? Bahkan dengan berkembangnya produk-produk baru yang keluar yang secara teori akan mempermudah hidup kita malah akhirnya dapat merusak hidup kita, jadi saya kembalikan kepada pembaca bagaimana kita mengunakan internet pada masa kini, ataupun masa depan? Apakah kita bertanggung jawab dalam mempergunakannya? Apakah kita melihat semuanya berguna bagi hidup kita ataupun hanya sebagian saja yang berguna, walaupun kebanyakan dari kita akhirnya menyita waktu kita untuk sesuatu hal yang tidak berguna di internet. Dengan cepatnya proses pertukaran informasi di internet, dan informasi yang saya katakan bukanlah informasi yang sedikit tapi dalam jumlah yang sangat besar sekali, untuk itulah Google dinamakan yang diambil dari akar kata Googol, yang berarti
10000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000, kalau Anda ada waktu silahkan hitung '0' di bilangan tersebut, jumlahnya adalah 100 nol.
Bagaimana kita menanggapinya sebagai anak-anak Tuhan? Marilah sama-sama kita memikirkan bagaimana hal ini akan ber-efek dalam kehidupan kita di masa kini dan masa yang akan datang, bagaimana kita memaksimalkan teknologi tersebut untuk menambah pengetahuan kita di dalam kebenaran Firman Tuhan, memberitakan kabar baik bagi mereka yang tersesat atau untuk saling menguatkan di dalam iman bukan hanya membuang waktu dengan percuma. Tentunya lebih mudah dengan memberitakan kasih Kristus di internet dibandingkan harus pergi ke pedalaman. Tapi sudahkah kita lakukan?
Ketika memasuki 'foyer' ada satu pameran kreasi Yiying Lu, designer muda yang cukup handal dan terkenal, dia membuat satu postcard di mana kalau kita dekatkan kepada webcam pada alamat website tertentu maka akan timbul 'tweet' terakhir dari pada orang tersebut. Teknologi yang mirip seperti ini sudah diperlihatkan tahun lalu oleh Microsoft Surface (lihat di sini), bahkan lebih mengerikan hal-hal apa saja bisa kita akses dan bisa kita bagikan di dalam internet, baik interaksi secara langsung ataupun tidak langsung, contohnya adalah seperti ini di mana kita secara otomatis dapat melihat Facebook, twitter, atau apapun juga yang dibagikan oleh orang lain dan dibuka untuk dunia internet -- hanya dengan mengarahkan iphone kita kepada orang tersebut (lihat di sini). Sangat mengerikan tentunya kalau tidak hati-hati maka kita pun akan menjadi sombong hanya dengan menaruh apa saja yang bagus dan menurut kita memberikan satu nilai tambah buat hidup yang akhirnya membuat kita seperti 'tuhan' adanya.
Teknologi yang tadinya dirancang untuk benar-benar dipakai secara efisien dalam mempermudah hidup kita, lama-kelamaan bahkan akan mempersulit hidup kita, bahkan menyita waktu kita -- kita akan tiap hari main facebook, tweet, apalagi dengan presentasi Google wave yang saya lihat akan berpotensi menyambar market internet dan mengubah bagaimana orang-orang mengunakan internet pada umumnya (lihat di sini).
Makin lama masa depan internet akan mendarah daging dalam kehidupan kita, internet dapat berpotensi atau bahkan sudah menjadi berhala dalam kehidupan kita, sampai sekarang pun kalau ditanya kepada diri kita sendiri, apakah yang akan kita lakukan tanpa internet? Bahkan dengan berkembangnya produk-produk baru yang keluar yang secara teori akan mempermudah hidup kita malah akhirnya dapat merusak hidup kita, jadi saya kembalikan kepada pembaca bagaimana kita mengunakan internet pada masa kini, ataupun masa depan? Apakah kita bertanggung jawab dalam mempergunakannya? Apakah kita melihat semuanya berguna bagi hidup kita ataupun hanya sebagian saja yang berguna, walaupun kebanyakan dari kita akhirnya menyita waktu kita untuk sesuatu hal yang tidak berguna di internet. Dengan cepatnya proses pertukaran informasi di internet, dan informasi yang saya katakan bukanlah informasi yang sedikit tapi dalam jumlah yang sangat besar sekali, untuk itulah Google dinamakan yang diambil dari akar kata Googol, yang berarti
10000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000, kalau Anda ada waktu silahkan hitung '0' di bilangan tersebut, jumlahnya adalah 100 nol.
Bagaimana kita menanggapinya sebagai anak-anak Tuhan? Marilah sama-sama kita memikirkan bagaimana hal ini akan ber-efek dalam kehidupan kita di masa kini dan masa yang akan datang, bagaimana kita memaksimalkan teknologi tersebut untuk menambah pengetahuan kita di dalam kebenaran Firman Tuhan, memberitakan kabar baik bagi mereka yang tersesat atau untuk saling menguatkan di dalam iman bukan hanya membuang waktu dengan percuma. Tentunya lebih mudah dengan memberitakan kasih Kristus di internet dibandingkan harus pergi ke pedalaman. Tapi sudahkah kita lakukan?
07 October, 2009
Segala sesuatu mendatangkan kebaikan
Posted by
Anton Triyanto
Roma 8:28-32
8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
8:29 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.
8:30 Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.
Ayat 28 tentunya sudah tidak asing lagi di telinga kita, khususnya ayat ini seringkali mengingatkan kita kembali akan janji Allah ketika kita mengalami penderitaan dan kesusahan yang berat sehingga menjadi jaminan kalau semua hal tersebut kita percaya dan yakin akan membawa kebaikan kepada kita, walaupun seringkali kelihatannya 'buruk' di mata jasmani kita. Kita seringkali tidak mampu melihat apa yang Tuhan mau kerjakan di dalam hidup kita, tentu ada hal-hal tertentu yang Tuhan ungkapkan melalui pengalaman-pengalaman kita, namun saya percaya ada juga yang tidak akan pernah Tuhan ungkapkan dalam hidup kita, yang kita harus pegang dan percaya adalah bahwa Dia mendatangkan kebaikan bagi hidup kita menurut kacamata Allah.
Namun janji ini tidak berlaku bagi setiap orang, kalau kita melihat akhir dari ayat 28 dan seterusnya tentu kita akan mengerti kalau janji ini hanyalah untuk orang-orang pilihan Allah dan Allah sudah menetapkannya. Demikianlah kita dipilih Allah sehingga kita dapat mengasihi Allah sebagaimana Allah mau kita mengasihi Dia, kasih kita kepada Allah sangat berbeda dengan kasih terhadap sesama. Maka bukanlah berarti kalau kita kadang kurang mengasihi Dia atau tidak mengasihi Dia, berarti ada kalanya waktu kasih kita kepada Dia berkurang maka segala sesuatu 'mungkin' tidak akan selalu mendatangkan kebaikan bagi hidup kita.
Mengasihi Tuhan bukanlah untuk memenuhi kebutuhan Dia, karena Dia Allah yang tidak mempunyai kebutuhan, jikalau Dia adalah sumber dari segala sesuatu bagaimana mungkin Dia masih kekurangan sesuatu sehingga memerlukan manusia untuk memenuhi kekuranganNya? Hal ini dibahas dalam Kisah 17:25. Allah tidak akan pernah mengalami kekurangan dalam diriNya sehingga membutuhkan manusia untuk mencukupinya. Kita tidak bisa mengasihi Allah dengan memenuhi kebutuhanNya. Dia tidak mempunyai kebutuhan. Jadi kasih kita kepada Allah sudah tentu adalah perihal kita dalam hal menerima. Karena Allah mengasihi kita terlebih dahulu, maka kita akan dapat mengasihi Allah.
Mengasihi Tuhan bukanlah mengasihi akan pemberianNya. Pemberian seperti damai sejahtera, pengampunan, keselamatan, kebangkitan, kesembuhan, berkat dan lain-lain. Justru karena kita mengasihi Allah, kita tahu bersyukur karena tanpa Allah maka semuanya itu tidak ada. PemberianNya adalah sangat berharga namun hanya sebatas membawa kita dekat kepada Allah dan memperlihatkan lebih lagi mengenai Allah. Ketika kita mengasihi Tuhan, Tuhanlah yang menjadi pusat dari segala sesuatu bukan pemberianNya.
Mengasihi Tuhan bukanlah berarti taat akan Firman Tuhan. Taat akan Firman Tuhan adalah bukti dari kasih itu sendiri. Tuhan berkata "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku." inipun bukan berarti essensi dari kasih akan Tuhan adalah ketika kita menuruti serta menjalankan perintahNya. Mengasihi Tuhan adalah memiliki hati yang mendorong kita untuk melakukan serta menaati perintahNya. Ketika Petrus ditanya Tuhan, apakah engkau mengasihi Aku, Petrus menjawab 'ya', dan Tuhan membalas dengan "Gembalakan domba-dombaKu" -- Tuhan tidak berkata "Taatilah firmanKu", karena Tuhan mau ketika kita berkata mengasihi Allah, maka Tuhan mau kita melakukannya bukan hanya di kata-kata belaka. Mengembalakan domba-domba Tuhanpun menjadi salah satu bukti dari kasih tapi bukan menjadi essensi dari kasih.
Essensi kasih kita kepada Allah adalah karena kita telah dikasihi oleh Allah, yang seharusnya mendapatkan hukuman namun terlebih Yesus mati menebus dosa kita, sehingga memampukan kita mengasihi Dia, bukan supaya kita mendapatkan segala kebaikan dalam kehidupan kita, namun karena untuk menikmati Allah sendiri.
8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
8:29 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.
8:30 Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.
Ayat 28 tentunya sudah tidak asing lagi di telinga kita, khususnya ayat ini seringkali mengingatkan kita kembali akan janji Allah ketika kita mengalami penderitaan dan kesusahan yang berat sehingga menjadi jaminan kalau semua hal tersebut kita percaya dan yakin akan membawa kebaikan kepada kita, walaupun seringkali kelihatannya 'buruk' di mata jasmani kita. Kita seringkali tidak mampu melihat apa yang Tuhan mau kerjakan di dalam hidup kita, tentu ada hal-hal tertentu yang Tuhan ungkapkan melalui pengalaman-pengalaman kita, namun saya percaya ada juga yang tidak akan pernah Tuhan ungkapkan dalam hidup kita, yang kita harus pegang dan percaya adalah bahwa Dia mendatangkan kebaikan bagi hidup kita menurut kacamata Allah.
Namun janji ini tidak berlaku bagi setiap orang, kalau kita melihat akhir dari ayat 28 dan seterusnya tentu kita akan mengerti kalau janji ini hanyalah untuk orang-orang pilihan Allah dan Allah sudah menetapkannya. Demikianlah kita dipilih Allah sehingga kita dapat mengasihi Allah sebagaimana Allah mau kita mengasihi Dia, kasih kita kepada Allah sangat berbeda dengan kasih terhadap sesama. Maka bukanlah berarti kalau kita kadang kurang mengasihi Dia atau tidak mengasihi Dia, berarti ada kalanya waktu kasih kita kepada Dia berkurang maka segala sesuatu 'mungkin' tidak akan selalu mendatangkan kebaikan bagi hidup kita.
Mengasihi Tuhan bukanlah untuk memenuhi kebutuhan Dia, karena Dia Allah yang tidak mempunyai kebutuhan, jikalau Dia adalah sumber dari segala sesuatu bagaimana mungkin Dia masih kekurangan sesuatu sehingga memerlukan manusia untuk memenuhi kekuranganNya? Hal ini dibahas dalam Kisah 17:25. Allah tidak akan pernah mengalami kekurangan dalam diriNya sehingga membutuhkan manusia untuk mencukupinya. Kita tidak bisa mengasihi Allah dengan memenuhi kebutuhanNya. Dia tidak mempunyai kebutuhan. Jadi kasih kita kepada Allah sudah tentu adalah perihal kita dalam hal menerima. Karena Allah mengasihi kita terlebih dahulu, maka kita akan dapat mengasihi Allah.
Mengasihi Tuhan bukanlah mengasihi akan pemberianNya. Pemberian seperti damai sejahtera, pengampunan, keselamatan, kebangkitan, kesembuhan, berkat dan lain-lain. Justru karena kita mengasihi Allah, kita tahu bersyukur karena tanpa Allah maka semuanya itu tidak ada. PemberianNya adalah sangat berharga namun hanya sebatas membawa kita dekat kepada Allah dan memperlihatkan lebih lagi mengenai Allah. Ketika kita mengasihi Tuhan, Tuhanlah yang menjadi pusat dari segala sesuatu bukan pemberianNya.
Mengasihi Tuhan bukanlah berarti taat akan Firman Tuhan. Taat akan Firman Tuhan adalah bukti dari kasih itu sendiri. Tuhan berkata "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku." inipun bukan berarti essensi dari kasih akan Tuhan adalah ketika kita menuruti serta menjalankan perintahNya. Mengasihi Tuhan adalah memiliki hati yang mendorong kita untuk melakukan serta menaati perintahNya. Ketika Petrus ditanya Tuhan, apakah engkau mengasihi Aku, Petrus menjawab 'ya', dan Tuhan membalas dengan "Gembalakan domba-dombaKu" -- Tuhan tidak berkata "Taatilah firmanKu", karena Tuhan mau ketika kita berkata mengasihi Allah, maka Tuhan mau kita melakukannya bukan hanya di kata-kata belaka. Mengembalakan domba-domba Tuhanpun menjadi salah satu bukti dari kasih tapi bukan menjadi essensi dari kasih.
Essensi kasih kita kepada Allah adalah karena kita telah dikasihi oleh Allah, yang seharusnya mendapatkan hukuman namun terlebih Yesus mati menebus dosa kita, sehingga memampukan kita mengasihi Dia, bukan supaya kita mendapatkan segala kebaikan dalam kehidupan kita, namun karena untuk menikmati Allah sendiri.
